Senin, 01 Desember 2008

Menertawai Kita


KRITIK bisa dilakukan lewat berbagai medium. Hal ini juga kemudian menggoda Mustam Arif, seorang jurnalis dan pengelola lembaga swadaya masyarakat di Makassar. Alasannya sederhana.Selain ingin memanfaatkan pantun sebagai ‘alat’ melakukan kritik sosial, juga melestarikan tradisi nusantara tersebut di tengah-tengah berkembangnya kesusastraan modern.








---------


Menertawai Kita


(Harian Fajar, 25 Nov 2007)

Judul Buku: Indonesia dalam Pantun, Penulis: Mustam Arif, Penerbit: Pustaka Refleksi Makassar (Oktober 2007), Tebal: 95 halaman,

KRITIK bisa dilakukan lewat berbagai medium. Hal ini juga kemudian menggoda Mustam Arif, seorang jurnalis dan pengelola lembaga swadaya masyarakat di Makassar. Alasannya sederhana.Selain ingin memanfaatkan pantun sebagai ‘alat’ melakukan kritik sosial, juga melestarikan tradisi nusantara tersebut di tengah-tengah berkembangnya kesusastraan modern.

Atas dorongan itu pula, Mustam Arif menuangkan pantun-pantun yang menurutnya karya tersebut kebanyakan dibuat secara spontan. Maksudnya, tiba masa deadline mengisi sebuah kolom kecil yang pernah ada di salah satu koran lokal di Sulsel, barulah berkutat dengan merangkai kata-kata.

Kadang rumit memang, karena harus mencari kesamaan huruf di akhir kata untuk membentuk persajakan. Di samping masih harus mencari hubungan makna simbolik antara sampiran dan isi, agar bisa mempertahankan persyaratannya sebagai pantun.

Kerja spontan itu melahirkan sejumlah pantun, yang kemudian diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Refleksi, sebagai sebuah buku, dengan judul "Indonesia dalam Pantun". Pantun-pantun dalam buku ini memotret kondisi sosial, politik, budaya, dan lain-lain, yang pernah terjadi di negeri ini.

Ada kejadian-kejadian lokal Sulawesi Selatan dan Makassar, ada juga peristiwa nasional, bahkan masalah internasional pun ikut disinggung. Mustam mengakui, pantun adalah puisi lama yang sakral di tengah-tengah masyarakat pada masanya, yang ketika disampaikan harus lewat tatakrama kesantunan.

Namun, menurut Mustam sendiri, yang ada dalam buku ini adalah pantun yang menyesuaikan diri dengan situasi masa kini, yang segala sesuatunya harus dikatakan secara terus terang.

Karena itu, Mustam menyebut karyanya sebagai pantun 'metal' yang blak-blakan, genit, dan nakal. Pada catatan di buku ini, Mustam meminta maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersentuh dengan pantun-pantun yang dibuatnya.

"Bukan maksud melukai sesama, tetapi ikhlas saling mengingatkan, karena di segala ruang dan waktu, kritik adalah kebutuhan,' tulis Mustam.

Dalam buku ini, memuat sekitar 76 judul. Dimana pada setiap judul menyorot satu masalah dengan memuat tujuh hingga delapan pantun. Pantun dalam buku ini memotret aneka masalah yang pernah terjadi di tengah-tengah kita, hingga April 2007, yang dirangkainya seperti dalam bentuk liputan peristiwa.

Contoh, "Daun kelapa dianyam janur/Janur dipasang di pinggir jembatan/Gubernur dan Wagub, calon gubernur/Kantor berpindah ke rumah jabatan/…Kalau tidur di atas kasur/ Janganlah bantal diselip jarum/Gubernur dan Wagub calon gubernur/Duduk berdampingan kehilangan senyum/," ungkapan yang melukiskan suasana Pilkada di Sulsel.

Atau "Kalau ingin mendaki gunung/Janganlah sampai sakit punggung/Lantang bersuara menolak poligami/Apalah daya belum mengalami/…Itik bertelur di sembarang tempat/Telurnya jatuh di bawah pantat/Suami berjanji tidak akan poligami/Rutin berhubungan dengan mami-mami/," ungkapan yang menyindir soal poligami.

Atau pada judul "Mabuk Senayan", Mustam berpantun antara lain, "Ada candu di buah kecubung/Jangan sampai dimakan itik/Sama-sama dilanda mabuk panggung/Panggung hiburan dan panggung politik/…Jika ingin bersarung batik/Jangan sampai terlilit panjang/Pangggung hiburan dan panggung politik/Dari kursi lompat ke ranjang/.

Tentang Makassar, Mustam menyentil "Duduk-duduk di Karebosi/Mengalun merdu musik perkusi/Kota Makassar kota bersejarah/Dikepung ruko berbagai arah/…Nonton orkes di Ballaparang/Anak muda membawa parang/Kota Makassar kota bersejarah/Berita di televisi berdarah-darah/.

Jenaka dan menggelitik. Karena itu, Mustam mendedikasikan pantun-pantun ini sebagai "teman" minum kopi. Kita kadang tertawa, dan kemudian menyadari bahwa kita menertawai diri kita.

Abdul Haris Boegies
Pemerhati Masalah Sosial-Budaya Sulsel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar