Senin, 30 Agustus 2010

Barack Obama: Saya Tidak Khawatir Dikira Penganut Muslim



Barack Obama: Saya Tidak Khawatir Dikira Penganut Muslim

Tribunnews.com - Senin, 30 Agustus 2010

TRIBUNNEWS.COM, NEW ORLEANS – Presiden Barack Obama menyatakan dirinya tidak khawatir jika semua orang beranggapan dirinya seorang Muslim. Terutama setelah sejumlah jajak pendapat menyatakan satu dari lima orang yakin ia penganut Muslim. Demikian dilansir AP, Senin (30/8/2010).

"Kenyataan adalah kenyataan," kata Obama yang merupakan penganut Kristen. Dalam sebuah wawancara yang disiarkan NBC, Nightly News, ia menyalahkan kebingungan masalah keyakinan yang dianutnya dalam pemberitaan begitu cepat menyebar karena media.

Dalam sebuah jajak pendapat terkini yang dirilis oleh lembaga non-partisan Pew Research Center menunjukkan 18 persen warga Amerika Serikat (AS) percaya jika Obama seorang Muslim. Jumlah ini naik dari 11 persen yang menyatakan pendapat yang sama pada Maret 2009. Hanya 34 persen responden yang yakin jika Obama penganut Kristen, turun dari 48 persen yang menyatakan hal yang sama.

"Saya tidak akan khawatir mengenai rumor yang beredar di luar sana. Jika saya menghabiskan waktu memikirkan itu maka tak ada yang akan saya selesaikan," ujar Obama. Saat dimintai komentarnya mengenai dugaan jika ia tidak lahir di AS, sang presiden memberikan jawaban. "Saya tidak akan menghabiskan waktu dengan menempelkan akte kelahiran di dahi saya," katanya.

Penulis : widyabuana
Editor : widyabuana


[Blog ini berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Marzuki Wadeng Ketua ISORI Sulawesi Selatan 2010-2014

Marzuki Wadeng Ketua ISORI Sulawesi Selatan 2010-2014

Makassar, 21 Agustus 2010.
Oleh: Asnawin

Marzuki Wadeng terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum Ikatan Sarjana Olah
Raga Indonesia (ISORI) Sulawesi Selatan periode 2010-2014, pada acara Musyawarah
Provinsi ISORI Sulsel, di Hotel Santika Makassar, Sabtu, 21 Agustus 2010.

Dalam acara yang dirangkaikan dengan seminar olahraga dan buka puasa bersama
itu, seluruh peserta sepakat memilih kembali Marzuki Wadeng sebagai ketua
periode empat tahun ke depan. Mantan anggota DPRD Sulsel itu telah menjabat
sebagai Ketua Umum ISORI Sulsel periode 2003-2007, dan berlanjut hingga 2010.

Selain memilih ketua umum, peserta musprov juga memilih empat orang sebagai
formatur mendampingi ketua umum terpilih, terdiri atas seorang pengurus lama
ISORI Sulsel (Herman Hading), serta tiga orang dari ISORI Kabupaten/Kota
se-Sulsel.

Marzuki Wadeng mengatakan pengurus baru akan diumumkan pada acara halal bihalal,
yang dirangkaikan dengan acara seminar atau semacamnya, pada September
mendatang.

Peserta musprov juga berhasil menyusun program kerja, serta membuat rekomendasi
dari hasil seminar olahraga yang akan disusun kembali oleh tim perumus.

Pada acara seminar olahraga, panitia menampilkan tiga pembicara, yakni Dr
Nukhrawi Nawir MKes (Peran Sarjana Olahraga dalam Implementasi UU No. 3 Tahun
2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional di Sulawesi Selatan), Drs H Ilham
A.Gazaling MSi (Kebijakan Pemprov dalam Pembinaan Keolahragaan di Sulsel), serta
Prof Dr Najib Bustan MKes yang menggantikan sekaligus membawakan materi yang
ditulis oleh Drs Arifuddin Usman MKes (Pemberdayaan ISORI untuk Mendukung
Pembangunan Olahraga).


[Blog ini berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

IPK Bukan Penentu Keberhasilan



IPK Bukan Penentu Keberhasilan

Makassar, 30 Agustus 2010

Keberhasilan seseorang ditentukan banyak hal, terutama soft skill. Indeks prestasi kumulatif (IPK) bukanlah penentu keberhasilan, bahkan salah satu hasil penelitian internasional menunjukkan bahwa IPK hanya menempati urutan ke-17 dari 20 faktor penentu keberhasilan.

Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa keberhasilan seseorang hanya 15 persen ditentukan oleh kompetensi dan kemampuan akademik (IPK), sedangkan 40 persen ditentukan oleh soft skill (kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan, pekerjaan, dan orang lain), 30 persen ditentukan oleh networking, 10 persen ditentukan finansial, serta lima persen ditentukan oleh faktor lain-lain.

‘’Saya diangkat menjadi konsultan oleh tiga perusahaan asing di Amerika, mereka tidak pernah tanya berapa IPK saya,’’ ungkap Koordinator Kopertis Wilayah IX Sulawesi, Prof Dr HM Basri Wello MA, pada kuliah umum program pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Satria, Makassar, Minggu, 29 Agustus 2010.

Kuliah umum yang dilanjutkan buka puasa bersama itu dihadiri Rektor Universitas Satria Rosmawaty N. Bachtiar, Direktur PPs Unsat Prof Dr HM Tahir Malik MSi, serta ratusan mahasiswa program pascasarjana Unsat Makassar.

Dia mengatakan, faktor utama yang menentukan keberhasilan seseorang adalah soft skill yang meliputi kemampuan berkomunikasi dengan baik, kemampuan mengelola emosi, kedisiplinan, kejujuran, dan integritas.

Basri Wello mengemukakan bahwa untuk mencapai sukses, maka kita harus berpikir tentang masa depan, memiliki fokus tentang sasaran yang ingin dicapai, berupaya menjadi yang terbaik, berupaya melakukan yang terbaik, berbuat lebih banyak dan lebih baik dibanding orang lain, berpikir tentang pertumbuhan, serta bertindak.

‘’Jadi jangan NATO, no action talk only, hanya bicara tidak pernah berbuat. Salah satu ciri orang professional yaitu integritas, satunya kata dan perbuatan. Jangan berbicara tentang sesuatu bidang ilmu kalau anda bukan ahlinya,’’ kata mantan Pembantu Rektor III dan Pembantu Rektor IV Universitas Negeri Makassar itu.

[Blog ini berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Senin, 23 Agustus 2010

Warga Amerika Curiga Obama Beragama Islam




Gedung Putih: Obama Seorang Nasrani

By Renne R.A Kawilarang - Jumat, 20 Agustus

VIVAnews - Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Obama, adalah seorang Nasrani. Pernyataan Gedung Putih ini menepis anggapan warga AS yang menduga keras Obama seorang muslim.

"Presiden jelasnya adalah seorang Nasrani. Dia berdoa setiap hari," kata juru bicara Gedung Putih, Bill Burton, Kamis 19 Agustus 2010.

Makin bertambahnya warga AS yang merasa bahwa Obama bukanlah seorang Nasrani diketahui dari hasil survei.

Menurut survei dari Pew Research Center dan Pew Forum on Religion & Public Life, jumlah responden yang menilai Obama adalah muslim kini sebanyak 18 persen dari total partisipan. Jumlah itu meningkat tujuh persen dari hasil survei Maret 2009.

Pada survei yang sama, jumlah respoden yang yakin bahwa Obama adalah umat Kristen kini hanya 34 persen, padahal tahun lalu sebesar 48 persen. Menariknya lagi, sebanyak 43 persen responden saat ini mengaku tidak tahu agama apa yang dianut Obama.

Survei Majalah Time/ABT SRBI, yang berlangsung 16-17 Agustus lalu, mengungkapkan bahwa 47 persen responden menganggap Obama adalah Nasrani, sedangkan 24 persen percaya dia Muslim, sedangkan 24 persen mengaku tidak tahu atau tidak memberi jawaban.

Menurut kalangan media massa di AS, pandangan respoden atas keyakinan Obama itu terkait dengan dukungannya atas pembangunan suatu masjid di kawasan Manhattan, New York. Saat mengadakan acara buka puasa di Gedung Putih, Jumat 13 Agustus 2010, Obama menyatakan bahwa Islam merupakan bagian dari Amerika dan umat Muslim berhak mendirikan tempat ibadah di manapun, termasuk di Manhattan.

Namun, kendati juga didukung oleh walikota New York, pembangunan masjid itu ditentang oleh sebagian publik dan kalangan politisi dari Partai Republik. Menurut mereka, pembangunan itu dibenarkan karena dekat dengan kawasan "Ground Zero."

Lokasi itu dulunya adalah kompleks menara kembar World Trade Center, yang hancur akibat serangan teroris al-Qaida pada Tragedi 11 September 2010, yang menewaskan sekitar 3.000 jiwa.

Menurut pengamat, mereka yang tidak senang dengan dukungan Obama atas pembangunan masjid itu lalu mencoba menciptakan opini di kalangan masyarakat untuk mempertanyakan identitas dan latar belakang Obama.

"Situasi ini mencerminkan makin intensifnya pandangan negatif atas Obama dari kalangan pengritik," kata Andrew Cohut, direktur Pew Research Center.

Presiden AS sejak 20 Januari 2009 ini memiliki latar belakang yang "warna-warni." Bernama lengkap Barack Hussein Obama, ayahnya adalah seorang Muslim asal Kenya dan ibunya adalah Nasrani Amerika.

Sejak kecil, Obama dibesarkan oleh ibunya, Ann Dunham, dan orang tua dari ibunya. Pada umur 6 hingga 10 tahun, Obama tinggal di Indonesia bersama dengan ibu dan ayah tirinya, Lolo Soetoro. (Associated Press)



[Blog ini berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Selasa, 17 Agustus 2010

Pengurus PWI Sulsel Buka Puasa Bersama di Rumah Alwi Hamu



BUKA PUASA. Komisaris Utama Harian Fajar HM Alwi Hamu, memberikan sambutansebelum shalat Taraweh bersama dengan para keluarga dan karyawan PT Media Fajar Sabtu 14 Agustus. (FOTO NURADI/FAJAR)

Pengurus PWI Sulsel Buka Puasa Bersama di Rumah Alwi Hamu

Pengurus PWI Sulsel menghadiri acara buka puasa bersama di rumah mantan Ketua PWI Sulsel, HM Alwi Hamu, Sabtu, 14 Agustus 2010.

Pada acara buka puasa yang dirangkaikan salat tarwih itu, tampak hadir komisaris PT Media Fajar, Andi Syafiuddin Makka, Komisaris PT Media Fajar yang juga Ketua PWI Sulsel Zulkifli Gani Ottoh, Direktur Utama PT Media Fajar Syamsu Nur, Wakil Direktur Utama, Agus Salim Alwi, Direktur Produksi dan SDM, Sukriansyah S Latief, Rektor Unifa, Prof Halide, para pimpinan dalam lingkup Fajar Grup, serta sejumlah undangan.

Ceramah tarwih dibawakan oleh Dr H Abdul Rahman Qayyum. Acara buka puasa dan salat tarawih tersebut kata Manager Personalia, Irwan Zainuddin, merupakan bagian dari kagiatan amaliah Ramadan yang digelar Fajar Grup. (asnawin)

[Blog ini berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Sabtu, 07 Agustus 2010

Pejabat Arogan




Pejabat Arogan


Oleh Asnawin

Tabloid ''Lintas'', Makassar
Edisi nomor 15, Minggu III-IV Juli 2010

Tak banyak orang yang mendapatkan keberuntungan seperti Fulan. Ketika masih kecil, ayahnya kebetulan sudah menjadi pejabat pada salah satu kadipaten di Negeri Angin. Yah, namanya juga anak pejabat, hidupnya pasti enak.

Fulan kecil bisa memperoleh apa saja yang diinginkannya. Ia bisa memilih sekolah favorit, ia bisa memakai baju bagus, ia bisa memamerkan sepatu mahalnya, ia diantar-jemput ke sekolah, ia bisa berlibur kemana saja, dan seterusnya.

Di usia remaja, Fulan tetap beruntung karena orangtuanya masih menjadi pejabat. Ia masih bisa mendapatkan hampir semua yang diinginkan, termasuk memacari beberapa wanita cantik, memiliki sepeda motor dan sesekali bisa memakai mobil pribadi atau mobil dinas orangtuanya.

Fulan sebenarnya bukan anak cerdas. Angka-angkanya di buku rapor sekolah biasa-biasa saja. Ketika kuliah pun, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK)-nya hanya berada di garis rata-rata. Tetapi karena uangnya banyak, pandai bergaul, suka berorganisasi, dan pandai memanfaatkan situasi, maka ia pun kadang-kadang dianggap cerdas.

Bakat bawaannya sebagai keturunan pejabat juga sudah terlihat sejak masih sekolah hingga dudukdi bangku kuliah. Ia selalu mampu memainkan situasi sehingga dirinya pun sering menjadi ketua atau unsure ketua organisasi.

Pergaulannya yang luas membuat dirinya memiliki banyak teman, termasuk mereka yang sudah menduduki jabatan penting.

Kariernya sebagai pegawai negeri pun melejit bagaikan anak panah. Di usia yang masih tergolong muda, Fulan sudah menduduki beberapa jabatan strategis. Pada usia 40-an, ia sudah menjadi pejabat yang cukup berpengaruh di kantor gubernur.

Sejak saat itulah namanya ‘’berkibar’’. Ia sering diwawancarai wartawan. Fotonya sering tampil di koran, tabloid, dan majalah.

Ia selalu tampil ceria dan ramah kepada semua orang. Tak heran kalau kemudian banyak yang mengusulkan dan mengharapkannya memimpin salah satu kadipaten di Negeri Angin.

Atas desakan berbagai pihak, Raja Negeri Angin pun kemudian mengangkat Fulan sebagai bupati pada salah satu kadipaten. Upacara pelantikannya sebagai bupati dihadiri ribuan orang dan rakyat setempat menyambutnya dengan tangan terbuka.

Rakyat setempat berharap ia dapat memimpin dengan baik dan sukses. Harapan besar pun diberikan kepadanya.

Saat menjabat bupati, Fulan mulai berubah. Ia tidak lagi ramah dan ceria seperti dulu. Ia sudah mulai sering terlihat susah. Jidatnya kerap berkerut saat tampil di muka publik.

Perubahan itu membuat banyak relasi dan kawan lamanya prihatin. Ada yang kemudian malas menghubunginya, ada yang menjauh, tetapi ada juga yang mencoba menasehatinya.
Mendapat nasehat dan menyadari perubahan dirinya, Fulan pun mencoba mengembalikan kepercayaan dirinya dan mencoba ‘’mengembalikan’’ dirinya yang dulu. Upaya itu berhasil dan Fulan pun kembali menjadi orang yang disenangi.

Atas berbagai prestasi yang diraih dan karena hubungannya yang cukup bagus dengan raja, maka Fulan tetap dipercaya menjadi bupati selama dua periode berturut-turut.

Pengangkatannya sebagai bupati dua periode berturut-turut sebenarnya tidaklah pantas. Sesungguhnya ia tidak bisa dikatakan berhasil. Tak banyak perubahan yang dilakukannya selama satu periode sebagai bupati. Kebetulan saja ia mampu meyakinkan banyak pihak bahwa dirinya berhasil dan selalu tampil di media massa setiap kali ada sesuatu yang dilakukan atau ketika mendapat penghargaan.

Ketika menjabat bupati pada periode kedua, ia juga tidak banyak berbuat. Ia lebih banyak berupaya agar dirinya dapat tetap menjadi pejabat setelah jabatannya habis sebagai bupati. Ia pun lebih banyak ‘’bermain’’ agar kelak raja tetap menjadikan dirinya sebagai pejabat di Kerajaan Negeri Angin.

Alhasil, setelah habis jabatannya sebagai bupati dua periode, Fulan ditarik menjadi pejabat kerajaan. Ia menjadi salah satu menteri kerajaan.

Fulan benar-benar beruntung, karena sejak kecil ia tak pernah mengalami kesulitan ekonomi, bahkan boleh dikata ia selalu hidup berlebihan. Ia juga pandai membentuk opini publik sebagai pejabat yang bersih, menarik, dan disenangi.

Tak banyak yang tahu bahwa ia kerap bersikap arogan kepada bawahannya. Tak banyak yang tahu bahwa ia sering memandang enteng orang lain. Tak banyak yang tahu bahwa ia juga sesekali ‘’jajan’’. Tak banyak yang tahu bahwa beberapa anaknya sering mengonsumsi minuman keras dan mengalami ketergantungan obat-obatan terlarang.

Ketika ada orang yang berkunjung ke rumah atau ke kantornya, biasanya ia tidak mau menerima dengan alasan sibuk, sedang istirahat, sedang ada tamu, atau sedang keluar, terutama kalau orang yang datang itu ‘’bukan siapa-siapa’’ atau dianggap hanya akan meminta sesuatu.

‘’Bilang saja saya ada tamu,’’ pesan Fulan kepada sekretarisnya kalau ada orang yang datang dan ia enggan menerimanya. Pada hari lain ia berpesan; ‘’Kalau ada tamu, bilang saya sedang keluar kantor.’’

Begitulah. Di mata publik, Fulan adalah pejabat yang ramah, tetapi sesungguhnya ia adalah pejabat arogan dan sering menganggap remeh orang lain. ***



[Blog ini berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]