Jumat, 17 Desember 2010

Bertemu Mantan Rekan Kerja



Ketika mengikuti Edukasi dan Sosialisasi Pasar Modal Syariah Indonesia yang diadakan oleh Pusat Informasi Permodalan Makassar (PIPM) di Hotel Mercure, Makassar, saya di sebelah kanan (Asnawin) bertemu Yusuf Sirajang (pakai kacamata). Kami dulu sama-sama karyawan harian Pedoman Rakyat. Saya karyawan di bagian redaksi, sedangkan Yusuf Sirajang karyawav di bagian tata usaha. Yusuf Sirajang sekarang bekerja sebagai wartawan mingguan Semangat Pagi, Makassar.


[Blog http://pedomanrakyat.blogspot.com/ berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Kamis, 09 Desember 2010

Fenomena Ilham dan Syahrul di Sulsel

Fenomena Ilham dan Syahrul di Sulsel




Oleh Asnawin
Mahasiswa S2 Ilmu Komunikasi Universitas Satria, Makassar

(Artikel ini dimuat harian Tribun Timur, Makassar, pada Selasa, 7 Desember 2010, http://www.tribun-timur.com/read/artikel/139980/Fenomena_Ilham_dan_Syahrul_di_Sulsel)

Ada dua nama yang cukup fenomenal di Sulawesi Selatan pada tahun 2010, yaitu Ilham Arief Sirajuddin dan Syahrul Yasin Limpo. Keduanya begitu populer pada tahun 2010. Mereka berdua adalah newsmaker, pembuat berita. Hampir tiada hari tanpa berita tentang Ilham dan Syahrul pada koran-koran harian di Sulawesi Selatan sepanjang tahun 2010.

Terlepas dari berbagai efek yang ditimbulkan, Ilham dan Syahrul telah sukses menjadi komunikator yang baik. Mereka berdua sudah berhasil mengirim pesan yang begitu kuat, baik pesan tersurat dan maupun pesan tersirat kepada masyarakat Sulsel selaku khalayak, bahwa mereka adalah dua putra terbaik Sulsel saat ini dalam bidang politik.

Ilham dan Syahrul mampu menyusun dengan baik isi pesan yang akan disampaikan kepada khalayak, sehingga pesan tersebut mudah dimengerti oleh khalayak. Mereka berdua juga paham betul mana media yang paling tepat untuk mengirimkan pesan kepada khalayak dan tahu bagaimana cara mengantisipasi gangguan yang akan muncul pada proses pengiriman pesan tersebut.

Di penghujung tahun 2010, Ilham Arief Sirajuddin yang tidak lain Walikota Makassar terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Partai Demokrat Sulsel. Setahun lalu, tepatnya pada November 2010, Ilham kalah dari Syahrul dalam pemilihan Ketua Partai Golkar Sulsel. Syahrul yang menjabat Gubernur Sulsel ketika itu juga terpilih secara aklamasi.

Dengan keberhasilan itu, Ilham Arief Sirajuddin telah mencatatkan dirinya sebagai orang pertama yang pernah memimpin dua partai politik besar di Sulawesi Selatan, yaitu Partai Golkar dan Partai Demokrat. Sebelum kalah dari Syahrul, Ilham tercatat sebagai Ketua Partai Golkar Sulsel pengganti antarwaktu menggantikan Amin Syam.

Prestasi Ilham Arief Sirajuddin tersebut dapat dikatakan cukup fenomenal. Tidak banyak orang yang mampu berjuang dan akhirnya berhasil terpilih sebagai ketua umum pada dua partai politik besar di tingkat provinsi.

Sebelumnya, Ilham juga telah mencatat beberapa prestasi yang cukup fenomenal, antara lain berhasil menjadi Walikota Makassar (2004-2009) pada usia 39 tahun (lahir 16 September 1965),  kemudian terpilih kembali sebagai Walikota Makassar periode 2009-2014. Pada usia 36 tahun (2001), dia terpilih sebagai Ketua Partai Golkar Kota Makassar. Dua tahun sebelumnya, Ilham terpilih sebagai anggota DPRD Sulsel dalam usia 34 tahun (1999).

Syahrul Yasin Limpo juga tampil fenomenal sepanjang tahun 2010, baik sebagai Gubernur Sulsel maupun sebagai Ketua Partai Golkar Sulsel. Sebagai Gubernur Sulsel, Syahrul berhasil mengkomunikasikan berbagai kebijakannya melalui berbagai media, sehingga dapat diterima dengan baik oleh berbagai elemen masyarakat.

Kebijakannya yang cukup fenomenal yaitu program pendidikan dan kesehatan gratis. Sebagai Ketua Partai Golkar Sulsel, Syahrul juga sukses memenangkan 70 persen pelaksanaan  pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) pada 10 kabupaten se-Sulsel pada 2010.

Golkar memenangi pemilukada pada tujuh dari 10 kabupaten di Sulsel, yaitu di Selayar (Syahrir Wahab), Gowa (Ichsan Yasin Limpo), Pangkep (Syamsuddin Batara Hamid), Barru (Andi Idris Syukur), Luwu Timur (Andi Hatta Marakarma), Tana Toraja (Theofilus Allolerung), dan Luwu Utara (Arifin Djunaid).

Catatan prestasi Syahrul tentu akan lebih panjang kalau kita membuka lembaran catatan kariernya dalam beberapa tahun sebelumnya, antara lain dia berhasil menjadi Bupati Gowa dua periode berturut-turut, menjadi Wagub Sulsel, dan kemudian menjadi Gubernur Sulsel periode 2008-2013.

Prestasi yang dicatat Ilham dan Syahrul hingga di akhir tahun 2010 ini, sekali lagi, merupakan pesan yang sangat kuat kepada masyarakat Sulsel bahwa mereka berdua adalah dua putra terbaik Sulsel saat ini dalam bidang politik, apalagi keduanya juga adalah "kosong satu" di pemerintahan.

Dua Kubu

Dengan berbagai keberhasilan keduanya di partai politik dan di pemerintahan, mungkin tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Ilham dan Syahrul Yasin Limpo bukanlah manusia standar. Mereka berdua berada di atas standar atau di atas rata-rata orang Sulawesi Selatan pada umumnya dalam bidang yang digelutinya.

Sebagai ketua umum partai politik, Ilham dan Syahrul tentu banyak berpengaruh  terhadap perilaku Partai Demokrat Sulsel dan Partai Golkar Sulsel dalam menyikapi berbagai situasi dan kondisi untuk menyukseskan program-program organisasi dan agenda yang telah disusun, termasuk situasi dan kondisi yang di luar perkiraan.

Ilham dan Syahrul tentu tidak sendirian dalam mengurus dan membesarkan partainya masing. Di sana banyak individu dan juga ada faksi atau kelompok-kelompok. Bagaimana perilaku individu-individu dan faksi-faksi tersebut, sangat memengaruhi perilaku organisasi Partai Demokrat Sulsel dan Partai Golkar Sulsel ke depan.

Di sinilah kelak akan dilihat bagaimana kemampuan Ilham dalam memimpin Partai Demokrat Sulsel dan Syahrul dalam memimpin Partai Golkar Sulsel, dalam melakukan komunikasi internal, dalam berkomunikasi dengan petinggi parpol lainnya, serta dalam mengatur perilaku organisasi partai politik yang dipimpinnya masing-masing.

Yang pasti, Ilham dan Syahrul selama ini sudah menunjukkan kemampuan dan prestasinya masing-masing. Mereka berdua sukses dalam melakukan komunikasi politik dan komunikasi massa, yang di dalamnya terkandung pesan terselubung yang sangat kuat.

Keberhasilan keduanya mengirim pesan yang kuat tersebut, telah menimbulkan efek yang luar biasa. Masyarakat Sulsel selaku khalayak akhirnya melihat Ilham dan Syahrul sebagai dua kubu yang akan saling berhadap-hadapan dalam Pemilukada Sulsel pada 2013 mendatang.

Kini masyarakat Sulsel telah melihat fenomena Ilham dan Syahrul dalam pemilihan Gubernur Sulsel mendatang.

Bisa Berpasangan

Fenomena berasal dari kata Yunani, phainomenon, yang berarti apa yang terlihat. Kata turunan fenomena, yaitu fenomenal, berarti "sesuatu yang luar biasa". Dalam kamus besar bahasa Indonesia, fenomena dibagi dalam tiga arti.

Pertama, fenomena diartikan sebagai hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindera dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah, seperti fenomena alam atau gejala. Kedua, fenomena juga berarti sesuatu yang luar biasa, keajaiban. Ketiga, fenomena diartikan sebagai fakta.

Ilham dan Syahrul adalah fenomena. Keduanya terlihat apa adanya. Mereka adalah orang-orang yang luar biasa. Mereka dapat menjadi bahan kajian dan bahan penelitian. Mereka adalah selebritis di panggung politik dan pemerintahan lokal Sulsel. Mereka begitu fenomenal. Itulah faktanya.

Itu pula yang membuat wartawan dan media massa, terutama di daerah ini, tidak pernah kehabisan bahan berita, baik berita politik dan pemerintahan, maupun berita-berita ringan, karena Ilham dan Syahrul adalah newsmaker. Apapun yang mereka lakukan, selalu bisa dan layak diberitakan. Masyarakat pun selalu ingin mengetahui apa yang terjadi dan apa yang dilakukan oleh keduanya.

Besar kemungkinan Ilham Arief Sirajuddin dan Syahrul Yasin Limpo akan bersaing memperebutkan kursi "kosong satu" Sulsel, tetapi bukan tidak mungkin keduanya akan berpasangan sebagai calon Gubernur dan Wakil gubernur pada 2013 mendatang. Semua bisa saja terjadi, karena tidak ada lawan abadi dan juga tidak ada kawan abadi dalam politik.***

[Blog http://pedomanrakyat.blogspot.com/ berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Minggu, 05 Desember 2010

Pemilik Djarum Jadi Orang Terkaya Indonesia

Pemilik Djarum Jadi Orang Terkaya Indonesia

Ekonomi - Jumat, 3 Desember 2010
http://ekonomi.inilah.com/read/detail/1027142/pemilik-djarum-jadi-orang-terkaya-indonesia

INILAH.COM, Jakarta - Pemilik Grup Djarum, R Budi dan Michael Hartono tercatat menjadi orang terkaya Indonesia 2010 berdasarkan data Forbes Indonesia yang dilansir Jumat (3/12) ini.

Total kekayaan Budi dan Michael Hartono ini tercatat sebesar US$11 miliar atau naik dibanding tahun 2009 sebesar US$8 miliar.

Dari data Forbes terlihat kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia yang dilansir hari ini mengalami kenaikan tajam dibanding tahun 2009 lalu. Adapun total jumlah kekayaan 40 orang terkaya Indonesia ini mencapai US$71 miliar atau naik US$29 miliar dibanding tahun lalu senilai US$42 miliar.

Dalam rilisnya, Forbes Indonesia menyatakan bertambahnya kekayaan 40 orang terkaya Indonesia ini disebabkan naiknya harga komoditas, seperti hasil tambang batubara dan minyak sawit. KOndisi ini menyebabkan masuknya pengusaha tambang batubara Kiki Barki ke dalam daftar baru 40 orang terkaya Indonesia. Pemilik PT Harum Energy Tbk ini langsung menduduki posisi ke-11 dalam daftar orang terkaya Indonesia dengan total kekayaan US$1,7 miliar.

Inilah daftar lengkap 40 orang terkaya Indonesia 2010:
1. R Budi & Michael Hartono US$11 miliar
2. Susilo Wonowidjojo US$8 miliar
3. Eka Tjipta Widjaja US$6 miliar
4. Martua Sitorus US$3,2 miliar
5. Anthoni Salim US$3 miliar
6. Sri Prakash Lohia US$2,65 miliar
7. Low Tuck Kwong US$2,6 miliar
8. Peter Sondakh US$2,4 miliar
9. Putra Sampoerna US$2,3 miliar
10. Aburizal Bakrie US$2,1 miliar
11. Kiki Barki US$1,7 miliar
12. Eddy William Katuari US$1,65 miliar
13. Edwin Soeryadjaya US$1,6 miliar
14. Boenjamin Setiawan US$1,5 miliar
15. Garibaldi Thohir US$1,45 miliar
16. Sukanto Tanoto US$1,4 miliar
17. Theodore Rachmat US$1,35 miliar
18. Chairul Tanjung US$1,25 miliar
19. Murdaya Poo US$1,15 miliar
20. Ciliandra Fangiono US$1,1 miliar
21. Benny Subianto US$1,05 miliar
22. Arifin dan Hilmi Panigoro US$985 juta
23. Sjamsul Nursalim US$850 juta
24. Agus Lasmono Suwikatmono US$845 juta
25. Kartini Muljadi US$840 juta
26. Tahir US$805 juta
27. Sandiaga Uno US$795 juta
28. Mochtar Riady US$730 juta
29. Ciputra US$725 juta
30. Hashim Djojohadikusumo US$680 juta
31. Harjo Sutanto US$650 juta
32. Trihatma Haliman US$600 juta
33. Hary Tanoesudibjo US$595 juta
34. Kusnan dan Rusdi Kirana 580 juta dollar AS
35. Wiwoho Basuki Tjokronegoro US$575 juta
36. Engki Wibowo dan Jenny Quantero US$560 juta
37. Husain Djojonegoro US$545 juta
38. Eka Tjandranegara US$525 juta
39. Sutanto Djuhar US$490 juta
40. Prajogo Pangestu US$455 juta [cms]


[Blog http://pedomanrakyat.blogspot.com/ berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Sehari, Syahrul Terima Dua Penghargaan

Sehari, Syahrul Terima Dua Penghargaan
- Apresiasi Atas Ketahanan Pangan dan Program Kesehatan


Harian Fajar, Makassar
Sabtu, 4 Desember 2010
http://metronews.fajar.co.id/read/111189/10/sehari-syahrul-terima-dua-penghargaan


 
SELAMAT. Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo jabat tangan dengan Wapres RI Budiono usai menerima dua penghargaan di Jakarta, Jumat, 3 Desember. (FOTO ANITA/FAJAR)
 
JAKARTA -- Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, menerima dua penghargaan berbeda dari pemerintah pusat di Jakarta, Jumat, 3 Desember. Penghargaan pertama di bidang Ketahanan Pangan yang diserahkan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, di istana presiden.

Sedangkan penghargaan di bidang kesehatan, Ksatria Bakti Khusada Kartika, diserahkan oleh Wakil Presiden, Budiono kepada gubernur, yang diwakili Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, Dr Rahmat Latief di istana wapres, di hari yang sama.

Seusai menerima penghargaan dari Presiden, Gubernur Sulsel masih sempat bertemu dengan Budiono di acara penyerahan penghargaan kesehatan yang dirangkaian dalam acara peringatan Hari Kesehatan dan Hari AIDS Se-Dunia.

Penghargaan di Bidang Ketahanan Pangan, disematkan ke Pemprov Sulsel untuk yang ketiga kalinya selama tiga tahun berturut-turut. Sedangkan penghargaan kesehatan diberikan untuk yang kedua kalinya. Di tahun sebelumnya, Syahrul menerima lencana Ksatria Bakti Khusada Jenis Arutala atas program kesehatan gratis bagi rakyat Sulsel.

Mendapat dua penghargaan itu, Syahrul mengaku gembira sekaligus mendapat tantangan. Tantangan berat yang dihadapi adalah pemerintah Sulsel harus semakin bekerja keras untuk bisa mempertahankan prestasinya.

"Jelas bahwa pekerjaan yang telah kami lakukan, bermuara pada hasil yang bermanfaat bagi rakyat. Tentu ini kebanggaan karena dinilai dengan prestasi tertinggi secara nasional. Tapi kita tidak boleh puas," tandas Syahrul usai bertemu wapres, kemarin.

Menurut Syahrul, ini akan menjadi motivasi bagi pemprov dan jajarannya untuk terus meningkatkan kinerja. Dia menegaskan bahwa apa yang telah dilakukan oleh jajarannya di bidang kesehatan dan ketahanan pangan, ini menunjukkan kerja di dalam jalur yang tepat.

Syahrul yakin, Sulsel bisa menjadi lokomotif penyedia pangan secara nasional dan mengembangkan program kesehatan secara menyeluruh.

Program di bidang ketahanan pangan pemprov Sulsel, yaitu over stock gabah 2 juta ton. Tahun ini, hasil panen malah melonjak hingga 4,8 juta ton. Keberhasilan dalam Ketahanan pangan tak lain karena strategi pemprov menggerakkan institusi TNI dan Polri untuk terlibat dalam penanaman padi. Tentu saja ini bersinergi dengan kelompok tani lainnya yang ada di Sulsel.

Menurut Syahrul, terobosannya untuk menggerakan dua institusi itu, karena organisasi tersebut memiliki tingkat Disiplin yang sangat kuat.

Menanggapi kebijakan pemerintah pusat yang tetap melakukan impor beras dari negara lain, Syahrul menegaskan bahwa dia yakin itu adalah strategi nasional untuk menjaga keamanan pangan dan kemungkinan kekurangan beras secara nasional. Namun dia menjamin, bahwa hingga kini Sulsel tidak terpengaruh dengan kebijakan tersebut.

Harga gabah yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp2640. Di Sulsel, harga gabah petani masih dibeli dengan kisaran Rp2640 hingga Rp2700-an. Artinya bila harga itu masih di atas HPP, maka petani masih memiliki untung.

Kesehatan

Di bidang kesehatan, Syahrul menerima penghargaan kedua kalinya, karena program kesehatan gratis yang dicanangkannya sejak memerintah Sulsel hingga kini masih berjalan bahkan dinilai bertambah baik. Dia kembali menekannya bahwa penghargaan tersebut akumulasi kerja keras dari semua jajaran pemerintahan yang ada.

Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya mengatakan penghargaan yang diberikan negara kepada sejumlah kepala daerah termasuk Sulsel, adalah apresiasi atas kerja keras yang dilakukan penerima dari berbagai pihak itu, terhadap upaya ketahanan pangan nasional.

Memang selain kepala daerah, penghargaan juga diberikan kepada perorangan dan kepala-kepala desa yang dinilai berhasil menjaga ketahanan pangan daerahnya masing-masing.

SBY mengingatkan kembali komitmen pemerintah melalui Dewan Ketahanan Pangan yang telah melakukan Konferensi Ketahanan Pangan pada Mei 2010, dimana semua gubernur menjadi Ketua Dewan Ketahanan pangan di provinsinya masing-masing.(*)

[Blog http://pedomanrakyat.blogspot.com/ berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Sabtu, 04 Desember 2010

Ilham Menang Aklamasi pada Musda Demokrat Sulsel

Ilham Menang Aklamasi
- Pimpin Demokrat Sulsel


Harian Ujungpandang Ekspres, Makassar
Sabtu, 04-12-2010
http://www.ujungpandangekspres.com/index.php?option=read&newsid=57408

MAKASSAR, UPEKS—Ilham Arief Sirajuddin melenggang tanpa tanding pada pemilihan Ketua DPD Partai Demokrat Sulsel. Pada tahapan pemilihan bakal calon dalam Musyawarah Daerah II DPD Demokrat Sulsel di Hotel Singgasana, Jumat malam, 3 Desember 2010, ia memperoleh suara mayoritas 23 suara dari 26 suara yang diperebutkan.

Sisanya satu suara direbut Andi Nawir Pasinringi, satu suara milik A Reza Ali, dan satu lainnya dinyatakan tidak sah. Dengan demikian Ilham, yang saat ini menjabat Walikota Makassar, dinyatakan menang secara aklamasi.

Pada musda itu juga telah ditetapkan tim formatur, yaitu Ketua Ilham Arief Sirajuddin, Sekretaris Ir Muh Jafar Hafsah (mewakili unsur DPP), Anggota Syamsul Mappareppa (Plt Ketua DPD Sulsel), dan Andi Janwar Jaury Darwis (DPC Makassar), Hamid (DPC Wajo), dan Andi Rahman Rahim (DPC Bone) .

Sementara itu, sebelum proses pemilihan kandidat ketua lainnya, Andry Arief Bulu menerima tawaran koalisi dari Ilham. Ia ditawari posisi sekretaris.

Kubu Andi Nawir Walk Out

Sementara, kandidat ketua lainnya Andi Nawir Pasinringi beserta pendukungnya sempat melakukan walk out. Pasalnya, pada pembahasan tata tertib Musyawarah Daerah (Musda), tiga kabupaten yang memiliki kepengurusan ganda tidak boleh diikutkan. Padahal, pengurus yang tidak diakui oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) itu diklaim sebagai pendukungnya. Sedangkan, pengurus yang diakui DPP berpihak sebagai pendukung Ilham. Tiga kabupaten dengan dualisme kepengurusan itu, antara lain, DPC Gowa, Luwu Timur, dan Toraja.

Kubu Andi Nawir yang walk out, antara lain, DPC Takalar, Bantaeng, Bulukumba, Selayar, Barru, Pinrang, Palopo, Sinjai, Soppeng, Toraja Utara dan Bone. Sehingga, pembahasan tata tertib hanya diikuti oleh 13 DPC yakni Sinjai, Toraja, Sidrap, Lutra, Luwu, Gowa, Pangkep, Wajo, Makassar, Lutim, Maros, Parepare, dan Jeneponto. Disamping itu, adapula DPP dan DPD.

Meskipun 11 DPC kubu Andi Nawir walk out, sidang pembahasan rapat komisi tetap dilanjutkan. Rapat masih kuorum karena telah dihadiri 13 DPC ditambah DPD dan DPP. Sehingga, Musda tetap sah untuk dilanjutkan.

15 pengurus yang tetap mengikuti sidang diklaim sebagai pendukung Ilham. Sedangkan, persyaratan agar calon bisa aklamasi yakni harus mengantongi 14 suara dari 26 suara yang diperebutkan. Sehingga, bisa dipastikan jika Ilham akan memimpin Partai Demokrat.

Ketua DPC Pangkep Luthfi Hanafi, mengatakan, jika Andi Nawir tidak datang hingga pendaftaran kandidat, tentunya hanya Ilham saja yang maju sebagai calon. Andry Arief Bulu tidak akan ikut bertarung karena telah memutuskan untuk berkoalisi dengan Ilham.

“Kalau tidak ada kandidat lain yang maju, tentunya pak Ilham menjadi calon tunggal. Ditambah lagi dukungan sekira 15 suara dari 13 DPC ditambah DPD dan DPP itu sudah memenuhi syarat untuk aklamasi,” ujarnya.
Sementara, Andry mengatakan, ia memiliki visi dan misi yang sama dengan Ilham untuk membesarkan Partai Demokrat. Sehingga, ia memutuskan untuk bekerja secara bersama-sama mewujudkan hasil Kongres Demokrat untuk mencapai 30% perolehan suara di pemilu mendatang.

“Saya rasa sah-sah saja. Yang terpenting di Demokrat bukan siapa menang atau kalah, tapi bagaimana kita mengabdi untuk rakyat,” ujarnya.

Anas Arahkan Mufakat

Sebelumnya, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, mengisyaratkan kepada semua peserta Musyawarah Daerah (Musda) II Demokrat, agar dalam memilih ketua, mengutamakan musyawarah mufakat. Setelah tidak ada kesepakatan untuk aklamasi penuh, barulah mekanisme kedua digunakan. Yakni, masing-masing kandidat maju bertarung.

“Semua kandidat kita ajak bertemu dan diskusi untuk kepentingan partai. Tentunya, harapan kita musyawarah mufakat,” ujarnya usai membuka Musda II DPD Partai Demokrat Sulsel di Hotel Singgasana, Jumat (3/12).

Anas mengungkapkan, sebagai Ketua Umum ia tidak akan mengintervensi proses pemilihan. Ia hanya sekadar memberi masukan, opsi mana yang akan dipilih oleh masing-masing kandidat. Yang terpenting, siapapun yang terpilih nantinya, tidak akan menimbulkan perpecahan di internal partai.

“Masing-masing kandidat silahkan bertemu untuk melakukan pembicaraan khusus, apakah tetap mau opsi satu atau opsi kedua. Kedua opsi itu tetap jalur yang benar dalam proses musda,” terangnya.

Anas berharap, siapapun yang terpilih, harus bisa membawa kepentingan demokrat dan kepentingan bangsa. Sehingga, musda kedua menjadi momentum yang kokoh bagi Partai Demokrat di Sulsel untuk menyongsong masa depan yang makin menjanjikan.

“Sampai saat ini tiga kandidat yang cukup serius untuk maju. Klaim dukungan mereka laporannya sampai ke DPP. Tetapi, kami harapkan bagaimana kolaborasinya sehingga diakhir menyatu dalam tim besar. Saling mendukung dan menopang seperti yang kita harapkan,” urainya.

Menurutnya, Sulsel merupakan daerah yang sangat penting bukan hanya di Kawasan Timur Indonesia (KTI), tapi sangat strategis di seluruh Indonesia. Demokrat di Sulsel mengambil prakarsa, peran, dan tanggungjawab yang makin besar bagi kemajuan daerah.

“Yang terpenting bagaimana kesejahteraan rakyat. Sehingga, Pemilu nanti mendapat tambahan energi berupa dukungan dan kepercayaan rakyat. Itu saya sebut sebagai prestasi awal yang akan menjadi landasan yg kokoh bagi Partai Demokrat,” ungkapnya.

Di samping itu, hasil musda mengambil pilihan yang memastikan Partai Demokrat bisa berperan dan mengambil tanggung jawab serius. Menjaga sungguh-sungguh soliditas internal partai, menampilkan diri sebagai partai yang maju, modern, kuat, dan dicintai rakyat di Sulsel.

“Kami di DPP memang dengan seksama memantau perkembangan persiapan musda. Melihat, musda mendapat perhatian luas dari masyarakat. Rakyat di Sulsel menaruh harapan besar bagi keluarga partai Demokrat untuk memberi warna pembangunan, jalan pemerintah, jalan setiap ikhtiar martabat hidup di Sulsel,” pungkasnya. (mg09-mg2/aka-dul/E)


[Blog http://pedomanrakyat.blogspot.com/ berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Jumat, 26 November 2010

Penularan HIV AIDS di Sulsel Memprihatinkan

Penularan HIV AIDS di Sulsel Memprihatinkan

Laporan Elvianus Kawengian
(Peserta Workshop Mewakili PWI Sulsel)

PERKEMBANGAN dan penularan HIV dan AIDS di Sulsel mengalami perkembangan yang semakin memprihatinkan, dimana jumlah kasus HIV dan AIDS terus meningkat dan wilayah penularannyapun semakin meluas.

''Sulsel kini mengalami epidemi ganda HIV AIDS yang kini mencapai 3200 lebih penderita. Sulsel sudah mengalahkan Bali, sedangkan untuk penderita HIV AIDS di Indonesia mencapai 116.000 orang,'' kata Kepala Biro Bina Napza dan HIV-AIDS Propinsi Sulsel, Dr dr Dwidjoko Purnomo, MPH pada acara Workshop Penyusunan Strategi Daerah Penanggulangan HIV dan AIDS Sulsel tahun 2011-2015 di Hotel Denpasar, Makassar.

Workshop dibuka Asisten III Bidang Kesra, Andi Yaksan Hamzah, diikuti peserta dari sejumlah instansi dan lembaga terkait, perguruan tinggi, LSM dan media, berlangsung dua hari, 24-25 Nopember 2010.

Untuk membangun mekanisme kerja dalam sistem pencegahan dan penangulangan HIV dan AIDS di Sulsel, menurut Dwidjoko Purnomo, diperlukan konsolidasi dan koordinasi integrasi program secara kelembagaan dan fungsional.

Kebijakan pencegahan dan penanggulangan selama ini dilaksanakan secara terpadu melalui upaya peningkatan perilaku hidup sehat yang dapat mencegah penularan, memberikan pengobatan, perawatan, dan dukungan serta penghormatan terhadap hak azazsi manusia kepada orang yang mengidap HIV dan AIDS.

''Disini kita harapkan keluarga penderita secara keseluruhan dapat meminimalisir dampak epidemik dan mencegah diskriminasi serta stigmatisasi,'' ujar Dwidjoko.

Dia mengaku program-program penanggulangan semakin digalakkan namun belum optimal karena anggaran masih terbatas. Karena itu penanggulangan HIV dan AIDS Sulsel lima tahun ke depan perlu disusun kegiatan strategi daerah yang diprioritaskan.

''Intinya bagaimana menekan laju perkembangan populasi AIDS di Sulsel yang kian meningkat. Selama ini kampanye penggunaan kondom di tempat-tempat prostitusi dan lokasi rawan epidemi masih dianggap sebagai primadona pencegahan HIV AIDS yang efektif,'' tambahnya.

Sementara itu Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) Sulsel, H Muh Saleh Rajab mengungkapkan, Sulsel rawan HIV AIDS karena berada diantara kawasan Timur dan Barat, sehingga menjadi daerah lintasan rawan AIDS.

''Umumnya orang transit di bandara Makassar, demikian di pelabuhan Makassar juga begitu. Sehingga tidak heran kalau Makassar menjadi kota transito sekaligus transito AIDS,'' tutur Saleh Rajab.

Menurut dia, kasus baru ditemukan di Sulsel setiap hari ada dua orang terinveksi HIV AIDS, sehingga kedepan semua pihak terkait harus mencermasti apa yang harus dilakukan untuk menekan laju perkembangan AIDS.

Rajab berharap pemerintah melalui DPRD memberi dukungan dana APBD yang cukup untuk penanggulangannya, karena daerah selama ini seperti tidak peduli lagi dengan AIDS. Buktinya ada yang anggarannya hanya Rp 100 juta, bahkan ada daerah yang tidak memberi porsi anggaran untuk penanggulangan AIDS.

Keluhan yang sama diakui Kepala Biro Bina Napza dan HIV-AIDS Propinsi Sulsel, Dwidjoko Purnomo. Biro ini termasuk yang paling sedikit anggarannya. ''Mungkin dianggap biro baru, padahal negara-negara donor juga sudah berhentikan bantuannya,'' katanya.

Dengan kendala masih terbatasnya dukungan finasial ini juga diakui cukup membawa implikasi dari implementasi progmam yang dilaksanakan, sehingga terkesan hanya bersifat sektoral dan belum terwujud secara optimal meskipun ketentuan dan peraturannya sudah ada.

''Pusat rehabilitasi narkoba terbesar di Indonesia Timur akan dibangun di Makassar. Kita juga ada pemikiran bagaimana korban-korban narkoba diberdayakan dengan kegiatan-kegiatan berguna dan menghasilkan secara ekonomi dalam satu tempat,'' tandasnya. (*)


[Blog http://pedomanrakyat.blogspot.com/ berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Harga Styrofoam Kembali Melonjak

Harga Styrofoam Kembali Melonjak
-Eksportir Ikan Mengeluh


Frans Thioris


HARGA styrofoam (box gabus untuk pengemasan ikan ekspor) di Makassar, kembali melonjak naik. Harga gabus box AG 120 T dari Rp 40 ribuan naik sampai Rp 64.000 per box. Kenaikan bahkan tidak menentu karena hanya berselang beberapa hari, PT Kemasan Cipta Nusantara menaikkan harga lagi menjadi Rp 68.500 per box.

''Jadi rata-rata naik Rp 4500 per box. Ini membuat biaya operasional kami sebagai eksportir ikan menjadi tinggi sehingga dikuatirkan dapat mengganggu kestabilan harga lainnya,'' kata salah seorang pelaku ekspor ikan segar, Frans Thioris di Makassar, kemarin.

Sementara pihak PT Kemasan Cipta Nusantara sebagai pabrik tyrofoam satu-satunya di Makassar beralasan produksi styrofoam masih terbatas.

Menurut Frans, bila kondisi ini tidak segera diatasi maka bisa menghambat ekspor yang tentunya berdampak kurang menguntungkan bagi nelayan. Padahal, eksportir harus didukung oleh pemerintah untuk menciptakan devisa bagi negara. Karena itu dia berharap agar pemerintah memperhatikan masalah ini.

Keluhan yang sama juga dikemukakan eksportir lainnya, Hj Wiya Said dan Hendrik. Harga styrofoam yang naik setiap bulan membuat mereka mengalami kesulitan mendapatkan styrofoam. Kelangkaan itu pula membuat harganya seakan dipermainkan oleh pihak pabrikan.

Hj Wiya mengaku dia membutuhkan 100 box gabus perhari untuk packing ikan hidup dalam memenuhi kebutuhan ekspor buyernya di luar negeri. Karena ketatnya suplai styrofoam, Wiya juga mengaku pihak pabrik enggan mengantarkan orderannya bila pembayaran tidak segera dilunasi. Bahkan jatah yang dipesan hingga 200 box untuk persiapan stok tiap hari tidak bisa dipenuhi pabrik lantaran dibatasi.

Styrofoam yang produksinya terbatas antara lain ukuran AG 150 T, AG 120 T dan AG 50 ceper. Bagi eksportir yang masih punya stok lama kemungkinan kegiatan ekspor mereka masih bisa teratasi, namun bila produksi pabrik masih terbatas maka kemungkinan pula ke depan masih mengalami kesulitan.

''Kita berharap di Makassar ada lagi pabrik gabus agar kebutuhan styrofoam bisa teratasi dan tidak langka lagi. Dengan demikian harga juga bisa stabil, tidak seperti sekarang ini tiap bulan harganya naik dengan alasan stok pabrik terbatas,'' keluh Hj Wiya.

Apalagi PT Garuda Nusantara sudah tidak mempermasalahkan logo Garuda pada styrofoam sepanjang gabus memenuhi standarisasi Internasional sesuai berat dan ketebalan styrofoam yang telah ditentukan.

Sebelumnya di Makassar ada perusahaan styrofoam PT Calvindo, namun perusahaan ini sudah tidak berproduksi lagi. (elvianus kawengian)


[Blog http://pedomanrakyat.blogspot.com/ berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Kamis, 11 November 2010

Karya Tulis Wartawan Sangat Bermanfaat

Karya Tulis Wartawan Sangat Bermanfaat


Keterangan gambar: Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo (kiri) menyalami Ketua Seksi Pendidikan PWI Sulsel, Asnawin, pada acara penyerahan hadiah juara Lomba Karya Tulis Jurnalistik HUT ke-341 Provinsi Sulawesi Selatan, di Kantor Gubernur Sulsel, Makassar, Kamis, 11 November 2010. (foto: m nasir/humas pemprov sulsel)


Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengatakan, karya tulis dan karya foto wartawan akan sangat bermanfaat dan menjadi sebuah memori dari tahun ke tahun yang kita lewati bersama.

Pernyataan tersebut diungkapkan Syahrul pada penyerahan hadiah kepada para juara Lomba Karya Tulis Jurnalistik dan Lomba Foto Jurnalistik dalam rangka HUT ke-341 Provinsi Sulawesi Selatan, di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Gubernur Sulsel, Kamis, 11 November 2010.

Penyerahan hadiah dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel Patabai Pabokori, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel dr Abdul Latief, Kepala Biro Humas dan Protokol Agus Sumantri, serta sejumlah pejabat dan undangan.

''Media adalah segalanya. Sekarang ini era media. Uni Sovyet kalah dari Amerika bukan karena letusan senjata, tetapi karena pencitraan. Jadi sekarang ini adalah eranya perang pencitraan,'' katanya.

Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Sulsel Agus Sumantri mengatakan, lomba tersebut bertujuan memberikan motivasi kepada para jurnalis dan fotografer.

''Insya Allah lomba ini akan dijadikan kalender tahunan yang dirangkaikan dengan Hari Ulang Provinsi Sulawesi Selatan,'' katanya.

Agus menambahkan, lomba Karya Tulis dengan tema ''Peranan Pendidikan dan Kesehatan Gratis dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Masyarakat Sulawesi Selatan'' diikuti 20 peserta, sedangkan lomba Foto Jurnalistik HUT dengan tema ''Potensi-potensi Positif Provinsi Sulawesi Selatan'' diikuti 41 peserta (205 karya foto).

Kabag Humas Biro Humas dan Protokol Setprov Sulsel Lukmanuddin mengatakan, lomba karya tulis jurnalistik dalam rangka Hari Jadi ke-341 Sulawesi Selatan, dengan topik ''Sulsel Menulis untuk Hari Jadi ke-341'', terbuka untuk umum.

''Lomba karya tulis jurnalistik dan lomba foto ini terbuka untuk umum, tetapi karya yang diikutkan lomba harus sudah pernah termuat di media cetak,'' jelasnya.

Khusus lomba fotografi Bidik Sulsel, syaratnya karya foto belum pernah dipublikasikan dan juga belum pernah diikutkan lomba. Peserta diberi kebebasan dalam memilih objek yang memiliki potensi positif pada 24 kabupaten dan kota se-Sulsel. Setiap peserta dapat mengirim maksimal lima foto dalam bentuk cetak 5R dan soft copy.

Para Juara

Juara pertama lomba karya tulis jurnalistik direbut Ahmad M Sidik (wartawan harian Berita Kota Makassar). Tulisannya yang berjudul ''Pendidikan-Kesehatan Gratis Solusi Masa Depan Sulsel'', dimuat di harian Berita Kota Makassar, pada hari Rabu, 20 Oktober 2010.

Juara kedua Buyung Maksum (wartawan harian Fajar) dengan judul tulisan ''Saya Sulsel dan Saya Bangga, -Refleksi 18 Bulan Perda Gratis'' yang dimuat di harian Fajar, pada hari Selasa, 19 Oktober 2010.

Wartawan harian Tribun Timur, Tasman Banto, keluar sebagai juara ketiga dengan judul tulisan ''Pendidikan Gratis, Belum semua Gratis'', yang dimuat harian Tribun Timur pada hari Senin, 18 Oktober 2010.

Staf pengajar Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Makassar, Andi Muhammad Irawan, keluar sebagai juara harapan I. Tulisannya yang berjudul ''Pendidikan Gratis di Ultah ke-341 Sulsel, termuat di harian Tribun Timur pada hari Selasa, 19 Oktober 2010.

Juara harapan II direbut Asnawin, Ketua Seksi Pendidikan PWI Sulsel. Tulisannya berjudul ''Kuncinya Political Will dan Komitmen, -Catatan Atas Program Pendidikan dan Kesehatan Gratis di Sulsel'', dimuat harian Fajar, Rabu, 20 Oktober 2010.

Aktivis hak anak, Rusdin Tompo, keluar sebagai juara harapan III dengan tulisan berjudul ''Sekolah Gratis yang Membebaskan'' yang dimuat harian Fajar, Kamis, 14 Oktober 2010.


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

[Blog http://pedomanrakyat.blogspot.com/ berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Rabu, 10 November 2010

Wartawan Senior Pedoman Rakyat Meninggal Dunia


Sesungguhnya kita berasal dari Allah dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya. Salah seorang mantan wartawan harian Pedoman Rakyat, Abdul Djabbar Pattisahusiwa atau lebih akrab dipanggil Abu Pattisahusiwa, meninggal dunia dalam usia 73 tahun di Makassar, Senin malam, 8 November 2010, dan dimakamkan keesokan harinya di Pemakaman Islam Sudiang, Makassar.

Jumat, 05 November 2010

Sistem Jaminan Sosial Belum Memasyarakat


Berita halaman 4, harian Tribun Timur, Makassar, hari Jumat, 5 November 2010.


Sistem Jaminan Sosial Belum Memasyarakat

Sistem jaminan sosial nasional yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 sampai sekarang belum memasyarakat, bahkan pejabat Pemprov Sulsel dan beberapa pejabat dari kabupaten dan kota se-Sulsel pun mengaku masih bingung.

Pengakuan itu terungkap pada kegiatan Fasilitasi Peningkatan Pelayanan Jaminan Sosial Sulawesi Selatan, yang diselenggarakan oleh Biro Bina Kesejahteraan Setda Provinsi Sulsel dan dibuka oleh Gubernur Sulsel diwakili Staf Ahli Pemprov Sulsel H Arifin Daud, di Hotel Denpasar, Makassar, Rabu, 3-4 November 2010.

''Sebenarnya saya juga masih bingung ketika kemarin diminta menjadi pembicara pada kegiatan ini dengan materi Pembahasan Masalah Pelayanan Jaminan Sosial, karena masalah pelayanan jaminan sosial ini sangat luas,'' ungkap Kepala Biro Hukum dan HAM Pemprov Sulsel Simon Lopang.

Beberapa peserta yang mewakili Pemkab dan Pemkot se-Sulsel, serta peserta dari instansi terkait tingkat provinsi Sulsel, juga mengaku belum pernah membaca UU nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional.

''Kalau bisa panitia memfotokopi undang-undang itu lalu dibagikan kepada peserta, supaya diskusinya lebih hidup,'' usul salah seorang peserta.

Dalam kegiatan itu juga terungkap bahwa banyak pejabat yang baru mengetahui prosedur pelayanan kesehatan dasar gratis yang merupakan program kesehatan gratis Pemprov Sulsel dan Pemkab/Pemkot se-Sulsel, setelah Kadis Kesehatan Pinrang dr H Rusman Achmad MKes, yang hadir sebagai peserta memberikan penjelasan.

Terlepas dari beberapa fakta yang terungkap tersebut, beberapa peserta menilai program fasilitasi yang diselenggarakan Biro Bina Kesejahteraan Pempro Sulsel di bawah pimpinan Dra Andi Murlina itu sangat bermanfaat, bahkan mereka meminta Pemprov Sulsel mengadakannya secara rutin setiap tahun untuk memaksimalkan pelayanan jaminan sosial di daerah ini.

‘’Penilaian teman-teman peserta menunjukkan bahwa fungsi koordinasi sudah jalan. Buktinya, panitia berhasil menghadirkan peserta dari unsur lembaga penyelenggara jaminan sosial, antara lain PT Jamsostek, PT Askes, Dinas Sosial, Dinas Tenaga Kerja, Dinas Pendidikan, Rumah Sakit, Bagian Kesra, bahkan beberapa peserta yang hadir adalah pimpinan SKPD,’’ kata Kasubag Jaminan Sosial Biro Bina Kesejahteraan Pemprov Sulsel, Subrawati SSos.

Kegiatan yang diikuti sekitar 50 peserta se-Sulsel itu berlangsung selama dua hari dengan materi Kebijakan Pemprov Sulsel tentang Program Jaminan Sosial, Mekanisme Pelaksanaan Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Kadis Kesehatan), Manajemen Pelayanan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (PT. Jamsostek Makassar), Pengelolaan dan Penyaluran Jaminan Sosial bagi Masyarakat Miskin (Kadis Kesehatan Sulsel), serta Evaluasi dan Teknik Pelaporan Pelaksanaan Jaminan Sosial (Kepala Biro Kesejahteraan Setda Pemprov Sulsel).

[Blog http://pedomanrakyat.blogspot.com/ berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Rabu, 03 November 2010

Burhanuddin Mampo: Kami Tetap Cinta PWI Sulsel

Burhanuddin Mampo: Kami Tetap Cinta PWI Sulsel

Oleh Asnawin

Konferensi Cabang (Konfercab) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan telah selesai dan juga telah terpilih pengurus harian, serta pengurus Dewan Kehormatan Daerah (DKD) PWI Sulsel periode 2010-2015.

Di kepengurusan PWI Sulsel, trio Zulkifli Gani Ottoh, Mappiar HS, dan Nurhayana Kamar tetap menduduki jabatan sebelumnya yakni ketua, sekretaris, dan bendahara. Tidak ada perubahan.

Sementara jabatan Ketua DKD PWI Sulsel diduduki Ronald Ngantung dari harian Tribun Timur, Makassar. Laode Arumahi yang menjadi saingannya dalam pemilihan Ketua DKD dan semula diprediksi menjadi Sekretaris DKD, ternyata dijadikan sebagai salah seorang di antara sebelas penasehat PWI Sulsel.

Berbeda dengan kepengurusan PWI Sulsel yang mempertahankan trio Zulkifli, Mappiar, dan Nurhayana sebagai ketua, sekretaris, dan bendahara, dalam kepengurusan DKD PWI Sulsel tak satu pun pengurus lama yang dipertahankan, semuanya ''orang baru.''

Menanggapi komposisi kepengurusan PWI Sulsel dan DKD PWI Sulsel, mantan Bendahara PWI Sulsel Burhanuddin Mampo mengatakan, sebagai anggota PWI Sulsel dirinya bersama anggota PWI Sulsel yang tidak masuk dalam kepengurusan tetap mencintai PWI Sulsel.

''Meskipun tidak masuk dalam kepengurusan, kami tetap cinta PWI Sulsel. Jangan ragukan ke-PWI-an kami,'' katanya dalam bincang-bincang dengan pendiri dan pengelola blog pwi-sulsel.blogspot.com, di Makassar, Rabu, 3 November 2010.

Mantan Kepala Stasiun RRI Tual, Maluku Utara, berharap pengurus baru dapat bekerja lebih baik dibandingkan pengurus lama, dengan membuat program kerja yang benar-benar sesuai kebutuhan.

Pengurus baru diharapkan tetap mengutamakan program pendidikan untuk peningkatan kualitas anggota PWI Sulsel, serta berupaya membina hubungan dan kerjasama yang baik dengan media massa, khususnya media cetak mingguan dan majalah yangterbit di Sulsel.

''Kami siap membantu untuk pembinaan dan peningkatan kualitas anggota PWI Sulsel, serta pembinaan dan kerjasama dengan media cetak mingguan dan majalah, baik melalui PWI Sulsel maupun melalui forum atau lembaga lain,'' tandas Burhanuddin Mampo.

[Blog http://pedomanrakyat.blogspot.com/ berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Minggu, 31 Oktober 2010

Asyik Minum, Belalai Gajah Digigit Buaya



Asyik Minum, Belalai Gajah Digigit Buaya

Harian Kompas, Jakarta
Kompas - Jumat, 29 Oktober
http://id.news.yahoo.com/kmps/20101029/twl-asyik-minum

KOMPAS.com — Selama ini sering terdengar betapa ganasnya macan atau singa Afrika memburu mangsa, seperti kuda, sapi, banteng, kerbau, dan rusa. Atau buaya yang mengintai hewan-hewan sedang minum dekat rawa persembunyiannya.

Tetapi, ada kejadian langka yang tertangkap kamera fotografer amatir bernama Johan Opperman (38) ketika mengunjungi Taman Nasional Kruger di Afrika Selatan. Foto ini dipublikaskan harian The Sun, 28 Oktober 2010.

Dalam foto itu tampak anak gajah sedang asyik meminum air rawa dengan belalainya. Tiba-tiba, muncul buaya besar dari dalam rawa dan langsung menjepit belalai itu dengan gerahamnya yang kuat dan bergigi tajam.

Tarik-menarik antara anak gajah dan buaya berlangsung beberapa saat. Anak gajah pun memiliki tenaga kuat sehingga mampu menarik buaya itu hingga ke daratan batas rawa.

Anak gajah meraung memanggil keluarganya dan tak berapa lama rombongan gajah datang membantu.

Para gajah itu berusaha menyelamatkan anak dengan meraung dan kakinya menginjak badan buaya. Adegan ini mirip seperti pertarungan antara gajah dan buaya.

Karena buaya dikeroyok kawanan gajah dan nyawanya terancam, akhirnya mangsa yang sudah di depan mata itu pun dilepaskannya.

Johan mengatakan, kejadian itu di siang hari dan tidak biasanya buaya berani main-main dengan hewan raksasa ini. Sudah bisa ditebak, buaya gagal makan siang. "Saya anggap ini hal sangat langka dan, setahu saya, buaya tidak biasanya mencoba untuk menangkap gajah," ujar Johan. (Widodo)



[Blog http://pedomanrakyat.blogspot.com/ berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Konfercab PWI Sulsel Berakhir Pukul 03.30 Wita

Konfercab PWI Sulsel Berakhir Pukul 03.30 Wita
- Laporan Pertanggungjawaban Nyaris Ditolak


Oleh Asnawin
Makassar, 31 Oktober 2010.

Konferensi Cabang (Konfercab) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan yang dibuka Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Sabtu, 30 Oktober 2010 sekitar pukul 10.00 Wita dan dihadiri Ketua PWI Pusat Margiono, serta sekitar 500 peserta dan panitia, dijadwalkan berakhir sekitar pukul 18.00 Wita, tetapi ternyata molor dan terpaksa baru berakhir pada Ahad, 31 Oktober 2010, sekitar pukul 03.30 Wita.

Dengan demikian, Konfercab PWI Sulsel berlangsung selama 17 jam dan 30 menit. Molornya pelaksanaan Konfercab tersebut disebabkan alotnya pembahasan tata tertib Konfercab dan laporan pertanggungjawaban pengurus PWI Sulsel periode 2006-2010.

Pembahasan tata tertib yang dipimpin panitia pengarah (steering committe) HL Arumahi, Nurhayana Kamar, dan Asnawin berlangsung hingga tiga jam lebih, mulai pukul 13.30 Wita sampai dengan pukul 16.30 Wita.

Selanjutnya, sidang untuk mendengarkan Laporan Pertanggungjawaban (LPj) pengurus yang dipimpin Asnawin, dibacakan berturut-turut oleh Ketua PWI Sulsel Zulkifli Gani Ottoh, Wakil Ketua Bidang Organisasi HL Arumahi, Wakil Ketua Bidang Pendidikan Hasan Kuba, Wakil Ketua Bidang Pembelaan Wartawan Andi Syahrir Makkuradde, Wakil Ketua Bidang Kesejahteraan Andi Pasamangi Wawo, Bendahara Nurhayana Kamar, Ketua Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) Piet Heriyadi Sanggelorang, dan Tim Verifikasi Keuangan Mufti Hendrawan.

Setelah pembacaan LPj, beberapa peserta sidang langsung berdiri untuk mengajukan pertanyaan, tetapi hampir semua pertanyaan hanya seputar pertanggungjawaban keuangan.

Para peserta Konfercab antara lain mempertanyakan tidak adanya dalam laporan keuangan mengenai sewa gedung serbaguna PWI Sulsel, sewa Wisma PWI, hasil sewa Press Club yang hanya sekitar Rp 1 juta pertahun dalam dua tahun terakhir, laporan keuangan Porwarda PWI Sulsel di Maros 2009, laporan keuangan Porwanas di Palembang 2010, serta terteranya beberapa nama yang disebutkan berutang kepada PWI Sulsel.

Sekretaris Dewan Kehormatan Daerah (DKD) PWI Sulsel Burhanuddin Amin yang memakai jas dan songkok hitam, bahkan langsung melakukan interupsi setelah namanya disebut berutang sebesar Rp 1,2 juta kepada bendahara PWI Sulsel.

''Ini adalah upaya pembunuhan karakter kepada saya. Kalau memang saya berutang saya akan bayar sekarang, tetapi saya perlu luruskan bahwa ketika itu saya meminta uang kepada bendahara karena disuruh oleh Pak Ancu (H Syamsu Nur) selaku Ketua DKD PWI Sulsel, jadi bukan saya yang berutang dan harus mempertanggungjawabkannya melainkan Pak Ancu,'' kata Burhanuddin sambil berjalan ke depan podium pimpinan sidang didampingi sejumlah peserta yang juga langsung mengeluarkan uang lalu menyerahkannya kepada bendahara PWI Sulsel Nurhayana Kamar.

Suasana sidang kemudian menjadi gaduh oleh teriakan beberapa peserta yang memaki bendahara PWI Sulsel dan Ketua PWI Sulsel. Setelah pimpinan sidang meminta peserta tenang dan duduk kembali di kursi masing-masing, sidang kemudian diskorsing selama satu jam karena sudah memasuki waktu salat magrib.

Beberapa saat setelah sidang dilanjutkan, sejumlah peserta kembali mempertanyakan masalah laporan keuangan pengurus PWI Sulsel periode 2006-2010 dan suasana kembali menjadi gaduh. Beberapa peserta bahkan meminta agar LPj pengurus ditolak oleh peserta Konfercab, karena dianggap gagal menunjukkan kinerja yang baik.

Suasana lagi-lagi menjadi gaduh setelah HL Arumahi yang diserahi kembali palu sidang, menawarkan kepada peserta Konfercab agar laporan LPj pengurus diterima dengan beberapa catatan. Mendengar tawaran tersebut, sejumlah peserta langsung mengacungkan tangan dan beberapa di antara mereka mengatakan LPj harus ditolak, karena banyak item dalam laporan keuangan yang tidak jelas.

Dalam suasana gaduh itu dan atas usul peserta Konfercab, utusan PWI Pusat Atal Depari kemudian memberikan wejangan yang cukup panjang dan akhirnya LPj dapat diterima dengan beberapa catatan yang menjadi tugas pengurus lama untuk disampaikan kepada pengurus baru.

Pemilihan yang Melelahkan

Setelah Lpj pengurus PWI Sulsel periode 2006-2010 diterima, pimpinan sidang kemudian diserahkan oleh panitia pengarah kepada utusan PWI Pusat untuk memilih lima pimpinan sidang pemilihan pengurus PWI Sulsel periode 2010-2015 dan pemilihan pengurus DKD PWI Sulsel periode 2010-2015.

Dalam memilih pimpinan sidang tersebut, kembali terjadi kegaduhan. Sejumlah peserta mengajukan beberapa nama untuk mendampingi utusan PWI Pusat, antara lain Ketua PWI Perwakilan Parepare Ibrahim Manisi, Nur Syamsu Sultan (Kepala Stasiun TVRI Sulsel) mewakili unsur media elektronik, Andi Tenri mewakili unsur gender (perempuan), serta Lutfi Qadir, Nurzaman Razak, dan Anwar Sanusi mewakili peserta Konfercab.

Ketika nama Lutfi Qadir disebutkan, pimpinan sidang Atal Depari langsung mengetuk palu, tetapi sejumlah peserta sidang lainnya langsung melakukan protes, karena Lutfi Qadir adalah pengurus harian DPD I Golkar Sulsel. Tetapi peserta lain mengatakan palu yang sudah diketuk oleh pimpinan sidang tidak bisa lagi ditarik.

Melihat suasana yang gaduh itu, Kepala Stasiun TVRI Sulsel Nur Syamsu Sultan langsung berdiri dan menyatakan mengundurkan diri sebagai calon pimpinan sidang. Dalam suasana yang masih agak gaduh itu, Ibrahim Manisi, Andi Tenri, dan Nurzaman Razak, sudah langsung naik ke kursi pimpinan sidang mendampingi Atal Depari.

Dengan demikian, sisa satu calon pimpinan sidang yang diperebutkan. Tarik menarik kembali terjadi untuk calon pimpinan sidang kelima antara Lutfi Qadir atau Anwar Sanusi, tetapi setelah pimpinan sidang diingatkan bahwa dirinya telah mengetuk palu ketika nama Lutfi Qadir disebutkan, maka pimpinan sidang terpaksa memutuskan bahwa Lutfi Qadir ditetapkan sebagai salah satu di antara lima pimpinan sidang.

Setelah itu pimpinan sidang kembali membacakan tata tertib pemilihan Ketua PWI Cabang dan pemilihan Ketua DKD PWI Cabang, yaitu setiap peserta (Anggota Biasa PWI) akan diberi dua lembar kertas suara, masing-masing berwarna putih untuk pemilihan Ketua PWI Cabang dan kertas berwarna merah untuk pemilihan Ketua DKD PWI Cabang.

Untuk pemilihan Ketua PWI, para peserta berhak menulis di kertas putih sebanyak-banyaknya tiga nama, sedangkan untuk pemilihan calon Ketua DKD, para peserta hanya diperbolehkan menulis satu nama.

Pemilihan yang diikuti 440 peserta itu dimulai sekitar pukul 21.30 Wita dan baru berakhir sekitar pukul 01.35 Wita, sedangkan perhitungan suara berlangsung sekitar 90 menit.

''Ini betul-betul pemilihan yang melelahkan,'' kata Nurdin Mangkana, salah seorang wartawan senior yang juga mantan anggota DPRD Sulsel dari Partai Golkar.

Zugito dan Ronald

Hasil perhitungan suara calon Ketua PWI Sulsel periode 2010-2015, yaitu Zulkifli Gani Ottoh (Fajar Group) memperoleh 271 suara, disusul Burhanuddin Amin (pemilik group media Indonesia Pos) 222 suara, Mappiar (Fajar Group) 218 suara, Hasan Kuba (Tabloid Lintas) 207 suara, Burhanuddin Mampo (RRI) 206 suara, dan Syafruddin Tang (SKU Pedoman) 202 suara. Masih ada beberapa nama lain yang mendapatkan suara, tetapi jumlahnya tidak signifikan.

Sementara hasil perhitungan suara calon Ketua DKD PWI Sulsel periode 2010-2015, Ronald Ngantung (harian Tribun Timur) 234 suara dan HL Arumahi 165 suara. Beberapa nama lain juga mendapatkan suara, tetapi jumlahnya tidak signifikan.

Sebenarnya pemilihan Ketua PWI Cabang Sulsel masih bisa dilanjutkan ke putaran kedua, karena ada dua nama yang mendapatkan suara lebih dari 50 persen, yakni Zulkifli Gani Ottoh (Zugito) dan Burhanuddin Amin, tetapi para pendukung Burhanuddin Amin tidak mempersoalkannya, sehingga Zulkifli Gani Ottoh kemudian ditetapkan sebagai Ketua PWI Sulsel periode 2010-2015 dan Ronald Ngantung sebagai Ketua DKD PWI Sulsel periode 2010-2015. Setelah menerima ucapan selamat dari sejumlah peserta sidang, Zulkifli kemudian mendatangi Burhanuddin Amin dan mereka bersalaman lalu berpelukan.

Beberapa saat kemudian, Zulkifli didampingi dua formatur dan Ronald Ngantung mengadakan rapat formatur selama sekitar tujuh menit. Setelah itu, Zulkifli mengumumkan pengurus harian yakni dirinya tetap didampingi oleh Mappiar selaku sekretaris dan Nurhayana Kamar sebagai bendahara.

Zulkifli juga mengumumkan bahwa Ronald Ngantung sebagai Ketua DKD didampingi oleh Andi Pasamangi Wawo sebagai sekretaris merangkap anggota, Yonathan Mandiangan, Piet Heriyadi Sanggeloran, dan Andi Syahrir Makkuradde.

HL Arumahi ditempatkan sebagai salah seorang Penasehat PWI Sulsel bersama sejumlah nama lainnya yang secara keseluruhan berjumlah 11 orang dan dipimpin oleh H Syamsu Nur.


[Blog http://pedomanrakyat.blogspot.com/ berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Sabtu, 30 Oktober 2010

Serba-serbi Safari Jurnalistik PWI-Pemprov Sulsel (2-habis)



RUJAB BUPATI. Rombongan Safari Jurnalistik PWI - Pemprov Sulsel diterima di Rumah Jabatan Bupati Tana Toraja. Safari Jurnalistik tersebut untuk memantau pelaksanaan Pendidikan dan Kesehatan Gratis pada beberapa kabupaten dan kota se-Sulsel. (Arsip foto Ani Hasan)

Jumat, 29 Oktober 2010

Pendidikan dan Kesehatan Gratis di Sulsel (3-habis)

Pendidikan dan Kesehatan Gratis di Sulsel (3-habis):
Bupati pun Digratiskan

Dari Palopo, rombongan Safari Jurnalistik PWI Sulsel – Pemprov Sulsel melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Toraja Utara dan Kabupaten Tana Toraja.

Di Makale Tana Toraja, rombongan makan malam dan berdialog dengan pemerintah setempat di rumah jabatan bupati. Dialog yang dihadiri beberapa pejabat dibuka oleh Sekkab Tana Toraja Enos Karoma, selanjutnya dipandu oleh Ketua PWI Sulsel.

Kadis Kesehatan Tana Toraja dr Zadrak Tombeg Sp.A, mengatakan pihaknya telah memerintahkan agar setiap ada pasien yang datang berobat harus segera dilayani, meskipun pasien tersebut tidak membawa identitas.

‘’Saya tidak peduli ada KTP atau tidak, kalau ada pasien yang datang berobat layani dulu, KTP belakangan. Semuanya gratis, bahkan bupati pun digratiskan kalau berobat dan mau tidur di kelas tiga,’’ katanya.

Plt Kadis Pendidikan Tana Toraja Yohanis Titting SPd MMin, mengungkapkan bahwa untuk melayani pendidikan gratis di daerah pelosok, pihaknya telah membangun Sekolah Satu Atap SD dan SMP di daerah terpencil.

‘’Mudah-mudahan tahun depan bisa ditingkatkan menjadi satu atap SD, SMP, dan SMA,’’ kata Yohanis.

Usai pertemuan dan dialog dengan Pemkab Tana Toraja, rombongan Safari Jurnalistik PWI Sulsel – Pemprov Sulsel langsung menuju ke Rantepao Toraja Utara untuk berdialog dengan pemerintah setempat.

Dialog dilangsungkan di penginapan dan restoran Toraja Lodge mulai pukul 22.00 Wita sampai pukul 23.30 Wita yang dipimpin Sekkab Toraja Utara Lewaran Rantelabi, didampingi Kadis Pendidikan Gagah Sumule, Kadis Kesehatan dr Henderik Kala' Timang, serta dua Asisten Sekda.

‘’Program pendidikan dan kesehatan gratis pada tahun 2009, Toraja Utara masih berada di bawah koordinasi Tana Toraja. Barulah pada tahun 2010 ini kami melaksanakannya secara mandiri,’’ ungkap Lewaran.

Dia menambahkan, saat ini pihaknya belum bisa mengukur kinerja SKPD, termasuk program pendidikan dan kesehatan gratis, tetapi Pemkab Toraja Utara berupaya membuat evaluasi kinerja pada akhir 2010.

Kadis Kesehatan Henderik Kala’ Timang mengatakan Toraja Utara kini memiliki 22 Puskesmas, 24 Puskesmas Pembantu (Pustu), serta 34 Pusat Kesehatan Desa (Puskesdes).
‘’Saat ini sedang dibangun 12 Puskesdes tambahan,’’ ungkapnya.

Jumat malam, 8 Oktober 2010, rombongan Safari Jurnalistik menginap di penginapan dan restoran Toraja Lodge. Keesokan harinya, perjalanan dilanjutkan ke Kabupaten Enrekang. Rombongan diterima oleh Sekretaris Kabupaten Enrekang M Amiruddin bersama beberapa pejabat terkait dan dialog dilangsungkan di Ruang Pola Kantor Bupati Enrekang.

Dalam dialog tersebut, Amiruddin mengatakan bahwa Pemkab Enrekang sudah melaksanakan program pendidikan dan kesehatan gratis beberapa tahun (2004) sebelum dicanangkan oleh Pemprov Sulsel. Untuk pendidikan gratis, Pemkab Enrekang bukan hanya menggratiskan pendidikan pada jenjang SD dan SLTP, melainkan juga jenjang SLTA.

Di bidang kesehatan, Pemkab Enrekang juga membuat program pelayanan gratis kepada masyarakatnya, mulai lahir sampai meninggal dunia. Sejak adanya program tersebut, maka jumlah warga Enrekang yang dilaporkan meninggal dunia jauh lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Kadis Kesehatan Enrekang Arfah Rauf mengatakan, di Enrekang juga ada desa percontohan kawasan bebas asap rokok, yaitu Desa Bone-bone, Kecamatan Anggeraja.

Di bidang pendidikan, timpal Kadis Pendidikan Arfah Rauf, bukan hanya pendidikan dasar yang digratiskan, Pemkab Enrekang juga memberikan bantuan beasiswa kepada guru-guru yang ingin melanjutkan kuliah ke jenjang sarjana. Selain itu, pemerintah setempat juga membuat program buku bersubsidi untuk memudahkan para pelajar memiliki buku-buku paket mata pelajaran.

Namun sehubungan dengan program pendidikan dan gratis yang dicanangkan oleh Pemprov sulsel sejak 2008, Pemkab Enrekang berharap pembagian atau struktur anggarannya ditinjau ulang. Kalau selama ini pembagian dananya 40% dari APBD I Sulsel dan 60% disiapkan oleh APBD II Enrekang, pihaknya berharap dibalik menjadi 60:40 atau 50:50.

‘’Kami menyambut baik program pendidikan dan kesehatan gratis ini, tetapi perlu ada penyempurnaan, terutama dalam perhitungan biaya, sehingga program ini dapat berjalan sebagaimana mestinya,’’ tutur Amiruddin.

Seusai berdialog dengan Pemkab Enrekang, rombongan Safari Jurnalistik PWI-Pemprov Sulsel melanjutkan perjalanan ke Kota Parepare, tetapi di kota tersebut rombongan hanya mandi sore dan ganti baju. Seusai salat magrib, rombongan berangkat ke Pinrang untuk berdialog dengan pemerintah setempat.

Rombongan diterima di Ruang Pola Kantor Bupati Pinrang oleh Sekretaris Kabupaten Drs H Syarifuddin Side SH MH MSi bersama beberapa pejabat terkait. Acara didahului makan malam, sebelum pemaparan program dan realisasi pelaksanaan pendidikan dan kesehatan gratis di Pinrang.

Kadis Kesehatan Pinrang dr H Rusman Achmad MKes mengatakan, semua penduduk Pinrang bebas berobat di Puskesmas atau di kelas tiga rumah sakit umum jika memiliki Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Pinrang.

‘’Tetapi kalau KTP-nya baru berusia dua hari, kami telusuri dulu. Jangan sampai orangnya dari provinsi lain yang hanya datang ke Pinrang untuk menikmati pelayan kesehatan gratis, misalnya harus dioperasi, lalu setelah itu pulang lagi ke kampungnya,’’ ungkap Rusman.

Dia berharap tahun anggaran 2011 pembagian biaya kesehatan gratis dibalik menjadi 60% ditanggung oleh Pemprov Sulsel dan 40% ditanggung oleh Pemda Tk. II. Selain itu, ia mengusulkan agar Pemprov Sulsel membuat Perda khusus yang berlaku secara umum untuk semua RSUD se-Sulsel, terutama untuk pelayanan kesehatan dasar yang ditanggung oleh program kesehatan gratis.

Direktur RSUD Lasinrang Pinrang, drg St Hasnah, mengatakan hasil sensus penduduk tahun 2010, jumlah penduduk Pinrang tercatat sebanyak 345.911 jiwa. Dari jumlah tersebut, 240.550 jiwa terdaftar sebagai peserta Jamkesda, tetapibaru 112.000 lebih yang punya kartu.

Di Pinrang, katanya, terdapat 15 Puskesmas yang tersebar pada 12 kecamatan. Sampai dengan Juni 2010, sudah tercatat sebanyak 26.616 rawat jalan, 271 rawat inap, dan 214 persalinan.

‘’Estimasi biaya pengobatan gratis pada 2010 ini yaitu Rp 9,6 miliar,’’ sebut Hasnah.
Kadisdikpora Pinrang Andi Mappanyukki mengatakan, program pendidikan gratis di Pinrang memang hanya untuk siswa SD dan SMP, tetapi pemerintah mengalokasikan anggaran khusus untuk siswa SMA.

‘’Kami tidak memakai istilah pendidikan gratis, tetapi ada anggaran khusus dari Pemda,’’ ungkapnya.

Sekkab Pinrang Syarifuddin Side mengatakan realisasi program pendidikan dan kesehatan gratis di Pinrang di atas 100% persen, sehingga pemerintah setempat terpaksa menutupi kekurangan dananya melalui APBD perubahan pada tahun berjalan.

Tahun 2011, katanya, pihaknya akan bekerjasama dengan PT. Askes untuk program kesehatan gratis, sehingga Dinas Kesehatan bisa berkonsentrasi pada pelayanan kesehatan, sedangkan pengelolaan keuangan dan pertanggungjawabannya diserahkan kepada PT. Askes.

Tidak Tepat Sasaran

Keesokan harinya atau Ahad, 10 Oktober 2010, tepat pukul 08.30 Wita, rombongan Safari Jurnalistik PWI Sulsel – Pemprov Sulsel berdialog dengan Pemkot Parepare di rumah jabatan Walikota Parepare, dipimpin Sekretaris Kota Hatta Buroncong.

Yang menarik di Parepare adalah pemerintah setempat membantu pakaian seragam sekolah, pakaian olahraga, dan sepatu kepada siswa dari keluarga kurang mampu.

Kadis Pendidikan Parepare, Mustafa Mappangara, juga meminta agar Peraturan Gubernur Sulsel tentang program pendidikan gratis ditinjau ulang, karena program tersebut banyak yang tidak tepat sasaran dan tidak jelas tujuan yang ingin dicapai.

Program pendidikan gratis juga diharapkan diimbangi dengan peningkatan mutu, terutama mutu proses belajar mengajar agar output atau luaran pendidikan formal benar-benar berkualitas.

‘’Untuk apa pendidikan gratis kalau outputnya tidak memuaskan dan anak-anak tidak lulus ujian nasional,’’ tutur Mustafa.

Mengenai pelayanan kesehatan gratis, Kadis Kesehatan Parepare dr Jamaluddin Sahil mengatakan, pihaknya telah memberikan instruksi agar mengutamakan pelayanan dibanding mempersoalkan kartu identitas.

‘’Kalau ada pasien yang datang berobat, layani dulu, kartu identitas belakangan. Kalau mereka tidak membawa kartu identitas, kita beri waktu dua kali 24 jam untuk mengurus dan menunjukkannya. Kalau mereka tidak mampu menunjukkan identitasnya sebagai penduduk Parepare, maka mereka akan dikenakan biaya sesuai aturan yang berlaku,’’ tutur Jamaluddin.

Seusai berdialog dengan Pemkot Parepare, rombongan Safari Jurnalistik PWI Sulsel – Pemprov Sulsel melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Pangkep. Rombongan diterima Wakil Bupati Pangkep Drs Abdul Rahman Assegaf bersama beberapa pejabat terkait di ruang pertemuan objek wisata Dunia Fantasi, pada Ahad, 10 Oktober 2010, sekitar pukul 13.00 Wita.

‘’Tantangan kita dewasa ini adalah tantangan sosial, karena sudah terjadi euphoria gratis, tidak ada lagi yang mau dibayar oleh masyarakat. Maka tugas terberat kita sekarang adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa tidak semua (pendidikan dan kesehatan) gratis dan juga tetap dibolehkan menyumbang atau berpartisipasi,’’ tutur Abdul Rahman Assegaf.

Hal senada juga diungkapkan Wakil Bupati Maros Drs HA Harmil Matotorang MM saat menerima rombongan Safari Jurnalistik PWI Sulsel – Pemprov Sulsel, di ruang rapat Bupati Maros, Ahad, 10 Oktober 2010 sekitar pukul 17.00 Wita.

‘’Masyarakat menganggap seluruh pembiayaan sudah digratiskan, padahal tetap dibutuhkan partisipasi masyarakat,’’ kata Harmil.

Selain itu, Pemkab Maros juga meminta agar pembiayaan program pendidikan dan kesehatan gratis dibalik menjadi 60% ditanggung oleh Pemprov Sulsel dan 40% ditanggung oleh pemerintah kabupaten/kota. (asnawin)

Keterangan: Reportase ini dimuat di halaman 4-5 Tabloid ''Koran PWI'', edisi 15-30 Oktober 2010. Tabloid ''Koran PWI'' diterbitkan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PW) Cabang Sulawesi Selatan.


[Blog http://pedomanrakyat.blogspot.com/ berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Pendidikan dan Kesehatan Gratis di Sulsel (bagian-2)

Pendidikan dan Kesehatan Gratis di Sulsel (bagian-2)
Pemkab Sinjai Klaim Pertama di Indonesia

Selanjutnya rombongan menuju Kabupaten Sinjai dengan melewati Kabupaten Bulukumba. Rombongan yang tiba di Sinjai sekitar pukul 20.00 Wita, diterima oleh Asisten II Drs H Mukhlis Isma MSi, didampingi beberapa pejabat terkait, di Rumah Makan Nikmat. Dialog berlangsung dalam suasana santai.

Pemkab Sinjai mengklaim bahwa mereka adalah kabupaten pertama di Indonesia yang melaksanakan program pendidikan dan kesehatan gratis, yakni sejak tahun 2004. Aturan mengenai pelaksanaan program pendidikan gratis dituangkan dalam Perda No. 6 Tahun.

Berbeda dengan daerah lain, pelaksanaan kesehatan gratis di Sinjai dilaksanakan bekerja sama dengan PT. Askes, dengan premi Rp 10.000 per Kepala Keluarga dan berlaku untuk semua warga Sinjai, baik warga kurang mampu maupun pegawai negeri sipil, pejabat, dan pengusaha.

Menyinggung santernya pemberitaan mengenai penolakan Pemkab Sinjai atas dana program pendidikan dan kesehatan gratis dari Pemprov Sulsel, Asisten II Sekda Sinjai Mukhlis Isma mengatakan, pihaknya bukan menolak, melainkan meminta penyesuaian untuk penggunaannya, karena aturan mengenai kedua program tersebut sudah terlebih dahulu ada di Sinjai sebelum diprogramkan oleh Pemprov Sulsel.

‘’Kami takut terjadi tumpang-tindih. Kalau boleh kami meminta dananya digelontorkan saja ke Sinjai tanpa embel-embel program pendidikan dan kesehatan gratis agar kami dapat menggunakan dana tersebut sesuai dengan kebutuhan, sehingga mudah mempertanggung-jawabkannya,’’ papar Mukhlis.

Setelah berdialog dengan Pemkab Sinjai, rombongan Safari Jurnalistik melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Bone yang berbatasan langsung dengan Sinjai. Rombongan tiba di Bone, Kamis dini hari, 7 Oktober 2010, sekitar pukul 00.30 Wita.

Dialog dengan Pemkab Bone baru dilangsungkan sekitar pukul 10.00, di Ruang Rapat Bupati Bone. Rombongan Safari Jurnalistik diterime oleh Wakil Bupati Bone Said Pabokori.

Wabup Bone mengemukakan bahwa program pendidikan dan kesehatan gratis telah dilaksanakan sejak Januari 2008, atau enam bulan sebelum dicanangkan oleh Pemprov Sulsel. Dana yang dibutuhkan jauh lebih besar dibandingkan daerah lain di Sulsel, karena penduduk Bone berkisar 700.000 orang yang tersebar pada 27 kecamatan, 333 desa, serta 39 kelurahan.

Yang menarik di Bone adalah adanya program Sekolah Satu Atap (SD dan SMP) atas bantuan dan kerjasama dari Pemerintah Australia. Selain itu, di Bone juga disebut kelas akselerasi atau kelas percepatan, yaitu kelas yang terdiri atas siswa cerdas dengan IQ di atas rata-rata dengan lama belajar hanya dua tahun, baik untuk tingkat SMP maupun SMA.

Dari Bone, rombongan Safari Jurnalistik melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Wajo dan tiba sekitar pukul 15.00 Wita. Rombongan terlebih dahulu dijamu di sebuah rumah makan sebelum dilakukan dialog di Ruang Pola Kantor Bupati Wajo.

Seperti di Bone, Pemkab Wajo juga membuka kelas akselerasi, tetapi Wajo juga mamadukannya dengan membuka kelas bilingual (kelas dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di kelas).

‘’Program Prima Pendidikan ini merupakan hasil kerjasama dengan JICA (Japan International Cooperation Agency),’’ kata Sekkab Wajo Nasir Taufik yang didampingi Kadis Pendidikan Bustamin Betta, Kadis Kesehatan dr Abdul Azis, Direktur RSUD Lamaddukelleng Wajo dr H Baso Rahmanuddin, serta Ketua PWI Perwakilan Wajo Muhammad Baru.

Setelah berdialog dengan Pemkab Wajo, rombongan Safari Jurnalistik melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Luwu. Rombongan tiba sekitar pukul 21.00 Wita dan disambut langsung Bupati Luwu Andi Mudzakkar.

Bupati Luwu mengatakan, selain pendidikan gratis, pihaknya juga memberikan beasiswa kepada 800 guru yang belum sarjana untuk melanjutkan pendidikan. Sementara untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, Pemkab Luwu akan membangun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) satu buah pada setiap kecamatan (Luwu terdiri atas 21 kecamatan).

Di bidang kesehatan, Pemkab Luwu akan berupaya meningkatkan status Puskesmas biasa menjadi Puskesmas plus (ada fasilitas rawat inap) dari 21 Puskesmas yang tersebar pada 21 kecamatan.

Dialog diakhiri dengan foto bersama wartawan dengan Bupati Luwu. Setelah itu,
rombongan berangkat ke Kota Palopo dan bermalam di kota tersebut. Keesokan harinya, Jumat, 8 Oktober 2010, barulah dilangsungkan pertemuan dan dialog dengan Pemkab setempat.

Pertemuan dilangsungkan di Ruang Rapat Walikota Parepare yang dipimpin Sekretaris Kota HM Jaya didampingi Ketua PWI Sulsel, Zulkifli Gani Ottoh.

‘’Jauh sebelum program pendidikan gratis diluncurkan Pemprov Sulsel, kami di Palopo sudah terlebih dahulu melaksanakannya, bahkan ini menjadi grand strategi Pemkot Palopo,’’ kata HM Jaya, seraya menambahkan bahwa Palopo bertekad menjadi kota pendidikan.

Kadis Pendidikan Palopo dr Andi Thamrin mengatakan, penduduk Palopo secara keseluruhan berjumlah 63.000 orang. Dana Jamkesda yang mereka kelola Rp 1.566.528.000, terdiri atas Rp 626.611.200 dari APBD Tk. I Sulsel dan Rp 939.916.800 dari APBD Tk II Palopo.

‘’Di Palopo ada 10 Puskesmas. Data terakhir, sudah tercatat sebanyak 79.518 kunjungan,’’ sebut Andi Thamrin.

Sekretaris Dinas Pendidikan Palopo Muhammad Yamin mengatakan di Palopo terdapat beberapa perguruan tinggi dan ratusan sekolah. Jumlah mahasiswa berkisar 30 orang, sedangkan pelajar juga puluhan ribu, termasuk sekitar 27.000 murid SD. (asnawin/bersambung)


[Blog http://pedomanrakyat.blogspot.com/ berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Kamis, 28 Oktober 2010

Pendidikan dan Kesehatan Gratis di Sulsel



Pendidikan dan Kesehatan Gratis di Sulsel:

Daerah Minta Pemprov Menanggung 60 Persen


Pengantar :
Pemprov Sulsel bersama seluruh Pemkab dan Pemkot se-Sulsel telah menandatangani perjanjian tentang pelaksanaan program pendidikan dan kesehatan gratis di Sulawesi Selatan, pada Juni 2008. Untuk mengetahui bagaimana penerapannya di daerah, apa saja kendala yang dihadapi, dan bagaimana menyukseskan program tersebut, Pemprov Sulsel bekerja sama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulsel mengadakan Safari Jurnalistik dengan mengunjungi 14 kabupaten dan kota, 6-10 Oktober 2010. Berikut hasil kunjungan Safari Jurnalistik PWI Sulsel – Pemprov Sulsel yang ditulis Ketua Seksi Pendidikan PWI Sulsel, Asnawin.

Serba-serbi Safari Jurnalistik PWI-Pemprov Sulsel (bagian-1)



SERBA-SERBI. Banyak pengalaman menarik selama perjalanan lima hari, 6-10 Oktober 2010, dalam Safari Jurnalistik PWI Sulsel – Pemprov Sulsel, ke sejumlah kabupaten dan kota se-Sulsel. Ada yang merasa ngeri tidur di losmen tua, ada yang berulang tahun, ada yang sakit, ada yang berduka, dan ada pula beberapa wartawan yang terpaksa mendorong mobil di siang bolong karena bus yang mereka tumpangi macet. Berikut serba-serbi perjalanan yang ditulis Ketua Seksi Pendidikan PWI Sulsel, Asnawin.

Senin, 25 Oktober 2010

Pedoman Rakyat Terbit Kembali



Harian Pedoman Rakyat edisi Jumat, 11 Februari 2006.
Setelah melihat model dan isinya, saya langsung menelepon Ardhy Basir dan mengucapkan selamat atas terbitnya kembali 'PR'. Ardhy bercerita bahwa dirinya menerbitkan kembali 'PR' karena ingin menunjukkan kepada masyarakat, khususnya masyarakat Sulsel, bahwa jiwa dan roh 'PR' tidak pernah mati.

''Koran harian Pedoman Rakyat boleh mati alias tidak terbit lagi, tetapi semangat dan keinginan untuk membangkitkan kembali kebersamaan dan persaudaraan di antara para mantan wartawan dan karyawan Pedoman Rakyat, tidak pernah hilang,'' katanya.

Foto Lama Saat Meliput di Samarinda


Senin siang, 25 Oktober 2010, saya membuka facebook dan ternyata seorang teman mengirimi saya sebuah foto saat saya berada di Samarinda, belasan tahun silam. Saya lupa tahunnya, tetapi mungkin sekitar tahun 1996 - 1997. Waktu itu, saya ''berstatus'' wartawan olahraga di harian Pedoman Rakyat, Makassar, dan meliput pertandingan sepakbola antara PSM versus Putra Samarinda.

Minggu, 24 Oktober 2010

Ipar Tony Blair Masuk Islam


Lauren Booth


Ipar Tony Blair Masuk Islam Setelah Mendapat Pengalaman Suci di Iran

Nurul Hidayati - detikNews

Minggu, 24/10/2010 13:36 WIB
http://www.detiknews.com/read/2010/10/24/133635/1473468/10/ipar-tony-blair

London - Adik ipar perempuan mantan PM Inggris Tony Blair, Lauren Booth, memutuskan masuk Islam setelah mendapatkan 'pengalaman suci' di Iran. Penyiar dan jurnalis berusia 43 tahun itu menyatakan, sekarang dia mengenakan jilbab ketika keluar rumah, salat 5 waktu sehari dan mengunjungi masjid bila ada kesempatan.

Dia memutuskan menjadi Muslimah 6 minggu lalu setelah mengunjungi Masjid Fatima al-Masumeh di Kota Qom, Iran.

"Saat itu Selasa petang dan saya duduk dan merasakan suntikan semangat spiritual, hanya kebahagiaan mutlak dan sukacita," katanya seperti dilansir media Inggris, The Mail, Minggu (24/10/2010). Setelah dia kembali ke Inggris, dia memutuskan pindah keyakinan.

"Sekarang saya tidak makan daging babi dan saya membaca Alquran setiap hari. Sekarang saya sampai di halaman 60," ujarnya.

"Saya juga belum minum (minuman beralkohol) selama 45 hari, periode terpanjang selama 25 tahun. Hal yang aneh adalah bahwa sejak saya memutuskan untuk pindah agama, saya tidak ingin menyentuh alkohol, padahal saya adalah seorang yang mendambakan segelas atau dua gelas anggur di akhir hari," bebernya.

Apakah nantinya dia akan mengenakan burka? "Siapa yang tahu di mana perjalanan rohani saya akan membawa saya?" jawabnya.

Sebelum mendapat pencerahan di Iran, Lauren telah 'bersimpati' pada Islam dan menghabiskan banyak waktu untuk bekerja di Palestina. "Saya selalu terkesan dengan kekuatan dan kenyamanan yang diberikan, " katanya soal agama Islam.

Lauren, yang bekerja untuk Press TV, televisi siaran Iran berbahasa Inggris, merupakan penentang vokal perang Irak. Pada Agustus 2008 dia pergi ke Gaza dengan kapal dari Siprus bersama 46 aktivis lainnya, untuk menyoroti blokade Israel atas Gaza. Dia kemudian ditolak masuk Israel dan Mesir.

Pada 2006, dia merupakan kontestan reality show 'I'am A Celebrity... Get Me Out Of Here!' di ITV dan mendonasikan fee-nya ke lembaga amal Palestina. Lauren berharap, perpindahan kepercayaan yang dianutnya bisa membantu Tony Blair, yang memperistri kakak tirinya, Cherrie, mengubah praduganya tentang Islam. Tony Blair adalah pendukung George Bush dalam perang Irak.

(nrl/anw)


[Blog ini berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Rabu, 20 Oktober 2010

Catatan Atas Program Pendidikan dan Kesehatan Gratis di Sulsel




Kuncinya Political Will dan Komitmen
- Catatan Atas Program Pendidikan dan Kesehatan Gratis di Sulsel


Oleh : Asnawin
(Ketua Seksi Pendidikan PWI Sulsel)

Harian Fajar, Makassar
Rabu, 20 Oktober 2010
http://www.fajar.co.id/koran/12875081264.pdf

Terlepas dari berbagai kekurangan atau kontroversi yang berkembang mengenai program pendidikan dan kesehatan gratis di Sulsel, kita harus memberi apresiasi positif kepada Pemprov Sulsel, serta seluruh pemerintah kabupaten dan kota di daerah ini atas dilaksanakannya program pendidikan dan kesehatan gratis tersebut.

Banyak pertanyaan dan keraguan seputar program pendidikan dan kesehatan gratis di Sulawesi Selatan (Sulsel). Benarkah program tersebut sudah berjalan? Benarkah tidak ada lagi pungutan di Puskesmas, di Rumah Sakit, atau di sekolah, khususnya item-item yang digratiskan? Apakah pendidikan dan kesehatan gratis hanya diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu atau berlaku untuk semua?

Pertanyaan-pertanyaan itu wajar dikemukakan, karena masyarakat atau rakyat Indonesia sudah terlalu sering diberi angin surga, tetapi hampir tidak ada realisasinya, atau kalau pun ada, biasanya tidak sesuai yang diharapkan.

Kampanye wajib belajar misalnya, sudah didengungkan oleh pemerintah (pusat) sejak 1984, mulai dari wajib belajar enam tahun hingga wajib belajar sembilan tahun, tetapi sampai sekarang belum jelas apakah program tersebut sudah dilaksanakan atau belum.

Maka ketika duet Syahrul Yasin Limpo–Agus Arifin Nu’mang alias duet SAYANG menjadikan pendidikan dan kesehatan gratis sebagai jualan politiknya saat kampanye pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur beberapa tahun silam, banyak yang ragu dan curiga, bahkan tidak sedikit yang mencibir.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai program dan realisasi program pendidikan dan kesehatan gratis di Sulsel, ada baiknya kita pahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan pendidikan dan kesehatan gratis.

Pendidikan gratis adalah penyelenggaraan pendidikan tanpa mengikutsertakan masyarakat (orang tua) dalam pembiayaan, khususnya untuk keperluan operasional sekolah. Dalam pengertian seperti itu, konsekuensi kebijakan pendidikan gratis sangat bergantung pada perhitungan tentang biaya satuan (unit cost) di sekolah. Biaya satuan memberikan gambaran berapa sebenarnya rata-rata biaya yang diperlukan oleh sekolah untuk melayani satu murid.

Pendidikan gratis juga dapat dimaknai sebagai upaya membebaskan biaya pendidikan bagi peserta didik di sekolah, sebagai perwujudan dari upaya membuka akses yang luas bagi masyarakat, untuk memperoleh pendidikan yang merupakan hak dari setiap warga negara sebagaima amanat UUD 1945 pasal 31. Hal ini diharapkan menjadi salah satu instrument untuk menuntaskan wajib belajar sembilan tahun. Khusus di Sulsel, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota telah menandatangani perjanjian untuk membebaskan beberapa item pembayaran di sekolah dasar (SD) dan SLTP.

Sementara pengertian kesehatan gratis atau pelayanan kesehatan gratis, yaitu semua pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya, serta pelayanan kesehatan rujukan di kelas tiga Rumah Sakit atau Balai Kesehatan milik pemerintah (pusat dan daerah) tidak dipungut biaya dan obat yang diberikan menggunakan obat generik (formularium).

Semangat yang terkandung dalam program pendidikan gratis adalah tidak boleh lagi ada masyarakat (anak usia sekolah 7-15 tahun) Sulsel yang tidak bersekolah atau putus sekolah, hanya karena tidak punya biaya atau kesulitan ekonomi.

Begitu pula semangat yang ada dalam program kesehatan gratis, yakni tidak boleh ada masyarakat Sulsel yang tidak berobat kalau sakit, hanya gara-gara tidak punya uang.

Maka beruntunglah masyarakat Sulsel yang dapat memperoleh pendidikan dasar dan pelayanan kesehatan dasar secara gratis, terutama bagi masyarakat kurang mampu, karena pemerintah provinsi serta seluruh pemerintah kabupaten dan kota sudah melaksanakan program pendidikan dan kesehatan gratis. Itu berarti, seluruh anak usia sekolah di Sulsel sudah dapat bersekolah tanpa bayar alias gratis, khususnya pada tingkat pendidikan dasar (SD dan SMP).

Begitu pun dengan masyarakat umum yang ingin berobat di Puskesmas atau rumah sakit dengan fasilitas sampai dengan kelas tiga. Jangankan rakyat biasa atau orang miskin, bupati dan orang kaya pun dapat berobat secara gratis.

Meskipun pendidikan dan kesehatan gratis merupakan perintah UUD 1945 dan beberapa UU, tetapi tampaknya tak mudah merealisasikannya. Maka bisa dimaklumi kalau penerapannya di lapangan juga harus bertahap alias tidak langsung gratis seluruhnya, serta butuh penyesuaian di sana-sini.

Yang perlu digarisbawahi di sini adalah adanya political will atau kemauan politik dari Pemprov Sulsel untuk memberikan akses pendidikan dasar dan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat Sulsel, khususnya bagi kalangan kurang mampu.

Dalam kunjungan Safari Jurnalistik PWI Sulsel–Pemprov Sulsel ke sejumlah kabupaten dan kota se-Sulsel, 6-10 Oktober 2010, yang diikuti puluhan wartawan, terungkap fakta bahwa sesungguhnya sudah ada kemauan politik dan komitmen dari Pemkab dan Pemkot di daerah ini.

Program pendidikan dan kesehatan gratis bahkan sudah dilaksanakan oleh beberapa kabupaten di Sulsel sejak beberapa tahun silam atau sebelum duet Syahrul Yasin Limpo–Agus Arifin Nu’mang menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel periode 2008–2013. Beberapa daerah malah memberikan pendidikan gratis 12 tahun alias mulai dari SD, SLTP, hingga SLTA. Juga ada yang memberikan subsidi bagi peserta didik pada tingkat Taman Kanak-kanak (TK).

Dalam program kesehatan gratis, juga ada daerah yang memberikan pelayanan kesehatan dasar gratis kepada seluruh masyarakat yang ber-KTP setempat, tanpa melihat status dan kondisi ekonominya. Ada lagi yang agak ekstrem, yaitu ada daerah yang memberikan sanksi kepada orang tua atau kepada wali anak yang tidak menyekolahkan anak-anak mereka, serta ada daerah yang menolak menerima dana dari Pemprov Sulsel (APBD Provinsi) untuk program pendidikan dan kesehatan gratis.

Masalah lain yang ditemukan yaitu soal pembiayaan program pendidikan dan kesehatan gratis. Berdasarkan perjanjian yang telah disepakati, Pemprov Sulsel menanggung 40 persen dana pendidikan dan kesehatan gratis, sedangkan Pemkab/Pemkot menanggung 60 persen.

Kenyataannya, beberapa daerah merasa kewalahan dengan pembagian persentase tersebut. Umumnya mereka meminta persentasenya di balik menjadi 60 persen ditanggung oleh Pemprov Sulsel dan 40 persen ditanggung oleh pemkab/pemkot.

Temuan lain yaitu kata gratis benar-benar dimaknai sebagai gratis secara keseluruhan oleh sebagian masyarakat. Mereka menganggap semua gratis, baik pendidikan maupun kesehatan, sehingga banyak masyarakat yang tidak mau lagi membayar atau berpartisipasi. Padahal, item pendidikan dan kesehatan yang digratiskan sudah jelas, serta tidak tertutup kemungkinan bagi masyarakat untuk berpartisipasi, misalnya menyumbang sesuatu (dana atau barang) untuk keperluan sekolah.

Mengakhiri tulisan ini, penulis menyimpulkan bahwa kunci sukses keberhasilan program pendidikan dan kesehatan gratis adalah adanya political will atau kemauan politik dari para pengambil kebijakan, serta komitmen dari seluruh pemangku kepentingan (stakeholder), terutama untuk menghilangkan seluruh rintangan bagi masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar serta untuk menempuh pendidikan dasar.

Selanjutnya, program tersebut hendaknya dibarengi dengan peningkatan kualitas pendidikan dan pelayanan kesehatan dasar, karena pendidikan dan kesehatan gratis tidak berarti hanya bertujuan untuk meningkatkan aksesibilitas pendidikan dan kesehatan semata, melainkan perlu ditunjang perbaikan mutu yang terus menerus, sehingga tercipta masyarakat Indonesia yang cerdas, sehat, dan berdaya-saing.


[Blog ini berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Senin, 04 Oktober 2010

Gubernur Sulsel Belum Berpikir Dua Periode




Gubernur Sulsel Belum Berpikir Dua Periode

Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengaku belum memikirkan menjadi gubernur selama dua periode. Dia mengaku masih fokus melaksanakan program pemerintah provinsi Sulsel hingga 2013 mendatang.

''Saya tidak pernah pikirkan dua periode. Saya hanya pikirkan kerja untuk Sulsel. Satu periode saja belum baik. Saya profesional pamong praja,'' kata Syahrul dalam sambutannya pada acara pelepasan Safari Jurnalistik PWI Sulsel, di Baruga Sangiaseri Gubernuran, Makassar, Senin, 4 Oktober 2010.

Akhir-akhir ini pemberitaan mengenai persaingan antara Syahrul Yasin Limpo dengan Ilham Arif Sirajuddin (Walikota Makassar) sebagai calon gubernur Sulsel periode 2013-2018, cukup santer di media massa Sulsel.

Ilham Arif Sirajuddin adalah mantan Ketua Umum Partai Golkar Kota Makassar dan juga mantan Ketua Umum DPD I Partai Golkar Sulsel. Jabatan tersebut kini diduduki Syahrul Yasin Limpo. Ilham kini disebut-sebut sebagai calon Ketua Umum Partai Demokrat Sulsel.

''Saat ini saya hanya pikirkan kerja untuk Sulsel, walaupun 2013 tidak lama lagi,'' kata Syahrul seraya tersenyum. (asnawin)


[Blog ini berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Gubernur Sulsel Lepas Rombongan Safari Jurnalistik PWI

Gubernur Sulsel Lepas Rombongan Safari Jurnalistik PWI

Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, melepas secara resmi rombongan Safari Jurnalistik PWI Sulsel, di Baruga Sangiaseri Gubernuran, Makassar, Senin, 4 Oktober 2010.

Pelepasan ditandai pemasangan jaket kepada Ketua Rombongan Hasan Kuba dan Sekretaris PWI Sulsel Mappiar, disaksikan Ketua PWI Sulsel Zulkifli Gani Ottoh, Kadis Pendidikan Patabai Pabokori, Kadis Kesehatan Rachmat, Kepala Biro Humas dan Protokol Agus Sumantri, serta pengurus PWI Sulsel dan peserta Safari Jurnalistik.

Seperti diberitakan sebelumnya, Safari Jurnalistik itu merupakan hasil kerja sama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sulawesi Selatan dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.

Safari Jurnalistik itu bertujuan memantau pelaksanaan program Pemprov Sulsel, yakni Pendidikan dan Kesehatan Gratis, pada 16 kabupaten dan kota se-Sulsel.

Ke-16 kabupaten dan kota yang akan dikunjungi yaitu Gowa, Bantaeng, Sinjai, Bone, Wajo, Luwu, Palopo, Sidrap, Enrekang, Toraja Utara, Toraja, Pinrang, Parepare, Barru, Pangkep, dan Maros.

Dalam sambutannya, Gubernur Syahrul Yasin Limpo mengatakan program pendidikan dan kesehatan gratis hanya simbol dan bukan kemauan pribadi Syahrul Yasin Limpo, melainkan perintah Undang-Undang.

Khusus program pendidikan gratis, Syahrul mengatakan ada 14 item yang digratiskan pada seluruh Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri dan swasta se-Sulsel.

''Yang harus dicek di lapangan dalam Safari Jurnalistik ini yaitu berapa persen alokasi anggaran pendidikan dalam APBD kabupaten dan kota se-Sulsel,'' katanya.

Dia mengingatkan para peserta safari bahwa Safari Jurnalistik tersebut bukan untuk mengevaluasi pelaksanaan program pendidikan dan kesehatan gratis di daerah, melainkan untuk mengkristalisasi kedua program tersebut.

Ketua PWI Sulsel, Zulkifli Gani Ottoh menjelaskan, para peserta safari diharapkan membuat laporan dari perjalanan ke beberapa daerah. Selanjutnya laporan tersebut diikutkan dalam lomba karya jurnalistik.

''Panitia akan memilih tiga karya jurnalistik terbaik dalam dua kategori, yaitu kategori pendidikan gratis dan kategori kesehatan gratis. Masing-masing akan dipilih tiga pemenang,'' jelasnya. (asnawin)


[Blog ini berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Kamis, 30 September 2010

PWI Sulsel-Pemprov Sulsel Gelar Safari Jurnalistik

PWI Sulsel-Pemprov Sulsel Gelar Safari Jurnalistik

Makassar, 30 September 2010

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Sulawesi Selatan bekerja-sama Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan akan menggelar Safari Jurnalistik pada 16 kabupaten dan kota se-Sulawesi Selatan, 4 s/d 10 Oktober 2010.

Sekretaris Panitia, Hasan Kuba, didampingi wakil sekretaris M Razak Kasim, kepada pengelola blog http://pwi-sulsel.blogspot.com/, Asnawin, Rabu, 29 September 2010, menjelaskan, Safari Jurnalistik itu bertujuan memantau pelaksanaan program Pemprov Sulsel, yakni Pendidikan dan Kesehatan Gratis, pada 16 kabupaten dan kota se-Sulsel.

Ke-16 kabupaten dan kota yang akan dikunjungi yaitu Gowa, Bantaeng, Sinjai, Bone, Wajo, Luwu, Palopo, Sidrap, Enrekang, Toraja Utara, Toraja, Pinrang, Parepare, Barru, Pangkep, dan Maros.

Pelepasan peserta Safari Jurnalistik yang terdiri atas wartawan media cetak dan elektronik se-Sulsel akan dilakukan Gubernur Sulsel Dr H Syahrul Yasin Limpo SH MH MSi, di Baruga Sangiaseri Gubernuran Makassar, Senin, 4 Oktober 2010.

''Acara pelepasan akan diisi dengan penjelasan dan pemaparan oleh Gubernur Sulsel mengenai program pendidikan dan kesehatan gratis di Sulsel yang sudah berjalan selama dua tahun terakhir,'' tutur Hasan Kuba.

Para peserta nantinya diharapkan membuat laporan dari hasil perjalanan tersebut melalui media masing-masing. Selanjutnya, sebuah tim khusus yang dibentuk panitia akan menilai berita dan atau laporan para peserta untuk memilih enam karya jurnalistik terbaik.

''Enam karya terbaik akan diberikan penghargaan oleh Gubernur Sulsel,'' tambah Hasan.

Lomba Karya Jurnalistik

Beberapa bulan lalu, PWI Sulsel bekerjasama Pemerintah Kabupaten Enrekang mengadakan Lomba Karya Jurnalistik bidang pariwisata yang diikuti puluhan wartawan. Para peserta mengunjungi sejumlah objek wisata di Enrekang kemudian menuliskan laporannya di media masing-masing. Selanjutnya sebuah tim khusus menilai karya jurnalistik para peserta untuk memilih enam karya terbaik.

Hasil penilaian panitia, tulisan karya Fahmy Miala (mantan wartawan Kompas yang kini Pemimpin Redaksi Tabloid Demos yang terbit di Makassar) ditetapkan sebagai karya terbaik pertama.

Karya terbaik kedua berjudul "Geliat Pariwisata Enrekang Menanti Wisatawan" atas nama Syarifuddin May dari LKBN ANTARA Biro Utama Sulawesi Selatan. Karya terbaik ketiga atas nama Ahmadi Haruna dari surat kabar mingguan Tegas, Makassar.

Karya terbaik keempat atau pemenang harapan I diraih Jurlan dari surat kabar Perintis Nusantatra, harapan II Syaifudidn Kadir dari surat kabar Harian Fajar Makassar, dan harapan III Mamat Irmansyah dari surat kabar Mingguan Indonesia Pos.

Hadiah kepada para pemenang lomba karya jurnalistik dalam rangka HUT ke-50 Kabupaten Enrekang diserahkan oleh Bupati Enrekang Ir H Latinro Latunrung pada resepsi peringatan HUT ke-50 Kabupaten Enrekang, di Enrekang, Sabtu, 20 Februari 2010.

Lomba karya tulis jurnalistik kerja sama PWI Sulsel dengan Pemkab Enrekang diikuti 75 wartawan dari berbagai media nasional dan lokal dengan melibatkan tim juri dari akademisi, Humas, dan wartawan senior.

Tim juri masing-masing Prof Dr H Faizal Abdullah SH MH (Unhas) sebagai ketua, sekretaris Ronald Ngantung (Wakil Pemimpin Redaksi Harian Tribun Timur Makassar), anggota Kepala Biro Humas Pemprov Sulsel Drs H Agus Sumantri, Kepala Humas Unhas, Drs HM Dahlan Abubakar MHum, dan dosen ilmu komunikasi Fisip Unhas yang juga Ketua KPID Sulsel Dr Aswan Hasan MSi. (asnawin)

[Blog ini berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Minggu, 26 September 2010

Enam Kabupaten Super Kaya di Indonesia

Enam Kabupaten Super Kaya di Indonesia

Arinto Tri Wibowo
(VIVAnew/Ist)
Kamis, 23 September 2010
http://bisnis.vivanews.com/news/read/179026-kabupaten-di-indonesia-paling-makmur

VIVAnews - Beroperasinya perusahaan skala besar di suatu wilayah berkontribusi besar terhadap pendapatan asli daerah itu. Tak terkecuali bagi sejumlah wilayah kabupaten/kota di beberapa daerah di Indonesia.

Enam kabupaten/kota di Indonesia tercatat memiliki pendapatan per kapita tertinggi. Pendapatan per kapita itu merefleksikan produk domestik bruto (PDB) per kapita masing-masing kabupaten/kota tersebut.

Enam kabupaten/kota dengan pendapatan per kapita terbesar itu rata-rata mencatat PDB per kapita di atas Rp 100 juta. Kabupaten itu sebagian merupakan wilayah yang memiliki tambang, seperti emas, tembaga, batu bara, minyak dan gas. Namun, sebagian lagi menjadi pusat jasa, juga industri rokok yang menjadi urat nadi perekonomian wilayah tersebut.

PDB adalah nilai semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara/daerah pada periode tertentu. PDB merupakan salah satu metode untuk menghitung pendapatan nasional/daerah.

Berdasarkan data yang dihimpun VIVAnews dari Badan Pusat Statistik (BPS) edisi Agustus 2010, Kota Bontang di Kalimantan Timur pada 2009 membukukan PDB per kapita tertinggi.

1. Kota Bontang, Kaltim



Tambang batu bara PDB per kapita Kota Bontang tercatat sebesar Rp368,05 juta. Bontang yang terletak sekitar 120 kilometer dari Samarinda itu berbatasan langsung dengan Kabupaten Kutai Timur di utara dan barat, Kabupaten Kutai Kartanegara di selatan, dan Selat Makassar di timur. Kaltim merupakan propinsi yang memberikan gaji atau upah tertinggi kedua secara nasional kepada karyawan atau buruh, yakni Rp2,15 juta per bulan.

Sejumlah perusahaan besar beroperasi di kota ini, di antaranya Badak NGL (gas alam), Pupuk Kalimantan Timur (pupuk dan amoniak), dan Indominco Mandiri (batu bara). Bontang juga memiliki kawasan industri petrokimia dan merupakan kota yang berorientasi di bidang industri, jasa serta perdagangan.

2. Kabupaten Mimika, Papua



Kabupaten Mimika di Papua selama 2009 membukukan PDB per kapita Rp295,05 juta. Di Kabupaten Mimika yang beribukota Timika itu beroperasi salah satu tambang emas terbesar dunia, PT Freeport Indonesia. Gaji atau upah rata-rata yang diterima pegawai atau buruh di Papua juga tertinggi di Indonesia, yakni Rp2,16 juta per bulan.
Kegiatan penambangan di lapangan tambang emas milik Freeport, di Papua.
Berdasarkan data Hasil Audit Badan Pemeriksa Keuangan terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Pusat 2009, Kabupaten Mimika mencatat dana bagi hasil Rp424,33 miliar. Namun, perolehan dana bagi hasil itu masih lebih rendah dibanding Bontang yang mencapai Rp476,83 miliar.

3. Jakarta Pusat, DKI Jakarta



PDB per kapita tertinggi ketiga adalah Jakarta Pusat yang mencapai Rp224,41 juta. Sebagai daerah pusat ibukota pemerintahan, Jakarta Pusat diuntungkan dengan berkembangnya transaksi bisnis dan jasa. Upah atau gaji rata-rata yang diterima pegawai, pekerja atau buruh di Jakarta, tergolong tinggi, yakni Rp1,92 juta per bulan. Macet Jakarta

4. Kota Kediri, Jawa Timur



Suharti (57) menunjukkan produk rokok Gudang Garam di Pasar Pahing, Kediri. Sementara itu, Kota Kediri di Jawa Timur mencatatkan PDB per kapita Rp202,33 juta, atau menempati urutan keempat terbesar. Di kota kretek itu beroperasi pabrik rokok besar, PT Gudang Garam Tbk yang tahun lalu mencatatkan pendapatan Rp32,97 triliun.

5. Kabupaten Siak, Riau



kilang minyak offshore Di urutan berikutnya, Kabupaten Siak di Riau membukukan PDB per kapita Rp156,35 juta. Tidak ada perusahaan yang menonjol di daerah tersebut, meski potensi unggulan daerah ini adalah sektor pertambangan minyak bumi.

Kabupaten Siak juga memiliki potensi strategis mengingat daerahnya berada di wilayah segi tiga pertumbuhan ekonomi "Sijori" Singapura-Johor-Riau dan IMG-GT (Indonesia Malaysia Thailand Growth Triangle).

Dengan jarak hanya 150 kilometer dari Singapura, Siak diuntungkan sebagai persinggahan alternatif bagi kapal pedagang di Selat Malaka dan bahkan berpotensi besar menjadi relokasi industri dan layanan perdagangan internasional.

Namun, untuk dana bagi hasil, Siak menempati peringkat keempat terbesar atau mencapai Rp993,2 miliar. Penerimaan dana bagi hasil Kabupaten Siak ini hanya kalah dari Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur sebesar Rp2,56 triliun, Bengkalis (Riau) Rp1,51 triliun, dan Kutai Timur (Kaltim) Rp1,05 triliun.

6. Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat



Konsentrator Batu Hijau, Sumbawa, milik PT Newmont Nusa Tenggara Kabupaten lainnya yang mampu membukukan PDB di atas Rp100 juta adalah Kabupaten Sumbawa Barat di Nusa Tenggara Barat (NTB). PDB per kapita kabupaten yang di daerahnya beroperasi perusahaan tambang besar, PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) itu mencapai Rp128,26 juta. (hs)

[Blog ini berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]