Senin, 17 November 2008

BEM Unismuh Angkat Citra Perempuan


Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) ingin mengangkat citra perempuan di media massa. Ini menjadi tema dalam pelatihan jurnalistik perempuan yang dilakukan oleh BEM Unismuh, di Aula Al Amin, kampus Unismuh, Makassar, Sabtu (25/10/2008). Menteri Pemberdayaan Mahasiswa BEM Unismuh, Neny, mengatakan acara ini sengaja dilakukan untuk memberikan pemahaman jurnalistik kepada perempuan. (int)

Kamis, 13 November 2008

PSM, Ada Apa Denganmu



PSM, Ada Apa Denganmu

Oleh : Asnawin


Nama Persela Lamongan tentu belum banyak dikenal. Bandingkan dengan PSM Makassar yang sudah begitu lekat di benak para penggemar sepakbola Tanah Air sejak puluhan tahun lalu. Tetapi Persela kini bertengger di papan atas Indonesia Super League (ISL), sementara PSM terpuruk di papan bawah.
Di bawah pelatih bertangan dingin yang juga mantan pelatih PSM dan mantan pelatih Timnas PSSI, M Basri, Persela kini menjelma menjadi kesebelasan papan atas dan mulai ditakuti, sedangkan PSM yang kini dilatih pelatih asal Malaysia, Raja Isa Bin Raja Akram Shah, berubah menjadi tim lemah dan gampang kalah.
Persela malah mampu menundukkan sekaligus mempermalukan PSM dengan skor 3-1 saat bertanding di Stadion Mattoanging Andi Mattalatta, September lalu.
Di tangan Raja Isa yang pernah melatih Persipura dan Selangor FC (Malaysia), PSM baru menang dua kali, yakni saat menjamu Persija (2-1) dan ketika bertandang ke kandang Persita (2-1). Selebihnya dua kali seri (1-1 vs Persik, di Kediri, dan 1-1 vs PSMS, di Makassar), serta menelan empat kekalahan, yakni saat menjamu Persela di Makassar (1-3), saat menjamu Sriwijaya FC di Makassar (1-2), saat tandang ke kandang Persijap, Jepara (3-1), dan saat menghadapi PSIS di Semarang (1-0).
Bukan hanya hasil yang buruk, PSM juga harus malu besar karena dua kali kalah dan satu seri di kandang. Bukan ingin menengok ke belakang, tetapi sekadar mengingatkan bahwa PSM dan tim-tim mantan Perserikatan selama puluhan tahun sebenarnya tabu kalah di kandang.
Bagi para suporter PSM dan masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya, kekalahan PSM di Stadion Mattoanging adalah sebuah aib. Pantang bagi PSM untuk kalah di kandang sendiri.
Di zaman kejayaan Ramang (almarhum), Ronny Pattinasarani (almarhum), M Basri (kini pelatih Persela), Anwar Ramang, Iriantosyah Kasim DM, Sumirlan, Ali Baba, Bahar Muharram, PSM pantang untuk kalah di Stadion Mattoanging.
Itulah sebabnya Stadion Mattoanging dianggap sebagai “stadion keramat” bagi lawan-lawan PSM. Jangankan mengalahkan PSM, meraih hasil seri pun sudah merupakan hasil yang sangat lumayan.
Lalu mengapa sekarang PSM dapat dengan mudah kalah di kandang? Mengapa justru ketika ditangani pelatih asing dan dihuni sejumlah pemain asing, PSM mengalami keterpurukan? PSM, ada apa denganmu?
Ketika pertanyaan itu diajukan kepada Raja Isa, sang pelatih, jawaban yang meluncur justru tantangan untuk membeberkan kondisi PSM dewasa ini dan kesiapannya mengundurkan diri.
Sebagai pelatih kepala, Raja Isa memang merasa bertanggung jawab atas hasil buruk yang diraih PSM selama berada dalam polesannya, namun pria warga Negara Malaysia itu enggan mengakui kekurangannya.
Ia justru menuding faktor-faktor nonteknis sebagai penyebab hasil buruk tersebut, antara lain masalah politik (menjelang Pemilihan Walikota Makassar) dan krisis financial.
Alasan tersebut diaminkan oleh Manajer Tim PSM, Ishlah Idrus. Ia malah menambahkan bahwa faktor nonteknis lain yang turut memengaruhi penampilan para pemain PSM yaitu isu suap dan masalah kepemimpinan wasit.
Tentang faktor teknis, Raja Isa menilai para pemain PSM saat ini masih harus diasah karena rata-rata masih muda dan butuh jam terbang lebih banyak. Di matanya, para pemain PSM saat ini belum mampu meraih juara ISL.
Jawaban dan pernyataan Raja Isa secara tidak langsung merupakan pembelaan dan sekaligus permintaan agar dirinya tetap dipertahankan sebagai pelatih PSM.
Apakah Raja Isa akan dipertahankan atau bakal terdepak seperti Radoy Hrostov Minskovski? Kita lihat saja nanti.
Yang pasti, hasil yang dirah Radoy masih lebih bagus dibanding Raja Isa. Dari enam partai yang dijalani PSM di bawah pelatih Radoy, tiga kemenangan berhasil diraih dan satu di antaranya direbut saat bermain di kandang lawan. Selebihnya dua kali seri dan hanya sekali kalah dan itu pun saat bermain di luar kandang. Artinya, PSM tidak pernah dipermalukan di kandang sendiri.
Semoga PSM dapat bangkit pada pertandingan-pertandingan berikutnya. Memang tidak mudah meraih juara, tetapi untuk bertengger kembali di papan atas, tampaknya cukup realistis sebagai target saat ini.
Sekadar usul, kalau memang masih dipertahankan sebagai pelatih PSM, Raja Isa sebaiknya belajar memahami kultur masyarakat Sulsel yang mudah marah, apalagi kalau merasa dipermalukan.
Motivasi pemain juga harus dijaga dan mental juaranya harus ditumbuhkan, karena pada dasarnya para pemain PSM secara turun temurun sudah memiliki mental juara.
Kepada para pengelola PSM, tetap jaga sikap profesionalisme, tetapi jangan lupa bangun kebersamaan dan hubungan persaudaraan dengan seluruh unsur yang ada di PSM. (asnawin) – copyright@Tabloid Demos, Makassar, Minggu III-IV September 2008

Pemilu dan Pilkada Bukan Pesta

Pemilu dan Pilkada Bukan Pesta

Selama ini masyarakat Indonesia selalu ”dininabobokkan” dengan kalimat bahwa Pemilihan Umum (Pemilu), termasuk juga Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) adalah pesta.
Sebutannya pun beragam. Ada yang menyebutnya pesta rakyat, ada yang mengatakan pesta demokrasi. Tetapi benarkah Pemilu, Pilpres, dan Pilkada adalah pesta? Kalau iya, lalu siapa yang berpesta? Apakah rakyat, pemerintah, atau para kandidat (presiden, gubernur, walikota, bupati)?
Jawabnya tentu juga beragam, tetapi pakar politik Prof Indria Samego dan Ketua KPU Sulsel Dr Jayadi Nas, tidak setuju dengan istilah Pemilu adalah pesta.
Keduanya secara tegas menyatakan ketidaksetujuannya terhadap istilah atau kalimat Pemilu adalah pesta, saat tampil bersama pada acara Temu Pakar/Dialog Publik Peran Media dalam Peningkatan Partisipasi Masyarakat pada Pemilu dan Pilkada, di Hotel Horison Makassar, Rabu (21/10/2008).
Dalam acara yang diselenggarakan oleh Badan Informasi Publik Depkominfo bekerja sama Badan Informasi, Komunikasi dan Pengolahan Data Elektronik Provinsi Sulsel dan dipandu oleh Johansyah Mansyur dari BIK-PDE Provinsi Sulsel itu, juga tampil Dr AM Iqbal Sultan MSi (pakar ilmu komunikasi dari Universitas Hasanuddin Makassar) sebagai pembicara.
”Saya tidak setuju dengan istilah pesta, karena pesta itu hanya sekali lalu setelah kita lupakan,” kata Indria Samego, Profesor Riset Bidang Perbandingan Politik dan Pemikiran Pembangunan LIPI.
Menurutnya, pesta itu istilah yang dimunculkan oleh pemerintah Orde Baru untuk mendorong atau memotivasi rakyat dalam menggunakan hak pilihnya.
Belakangan, karena rakyat semakin cerdas, maka partisipasi mereka dalam Pemilu semakin menurun, sehingga jumlah rakyat yang tidak menggunakan hak pilihnya alias Golongan Putih (Golput) semakin bertambah. Tak heran kalau kemudian Golput sering menjadi pemenang Pilkada.
Itu terjadi karena rakyat semakin menyadari bahwa mereka hanya dijadikan penonton dan pemberi suara dalam setiap pemilihan umum. Setelah hasil pemilu diperoleh, kekuasaan dan penyelenggaraan Negara kembali diserahkan kepada para elite, baik di legislatif maupun eksekutif.
”Saya juga tidak setuju dengan istilah Pemilu adalah pesta,” tandas Ketua Komisi Pemilihan Umum Sulsel, Jayadi Nas.
Dosen Fakultas Ilmu-ilmu Sosial dan Politik Unhas itu punya usul tersendiri, yakni Pemilu adalah instrumen untuk melakukan yang terbaik bagi bangsa dan negara.
Tentang banyak rakyat yang Golput dalam Pemilu, Jayadi mengatakan itu terjadi karena sebenarnya rakyat menginginkan Pemilu sukses dan tidak ada orang yang menginginkan Pemilu gagal.
”Saya yakin ke depan tingkat partisipasi masyarakat pada Pemilu makin tinggi,” tegasnya.



Menyinggung hal Pemilu 2004, hasil Pilpres 2004, serta hasil-hasil Pilkada di sejumlah daerah dalam beberapa tahun terakhir, Indria Samego mengatakan, sulitnya menduga-duga hasil Pemilu, Pilpres, dan Pilkada karena terjadinya anomali (ketidaknormalan) dan banyaknya pemilih yang irrasional, merupakan harga dari sebuah pemilihan umum.
”Rakyat yang berdaulat telah menentukan suaranya secara luber dan jurdil.,” katanya.
Persoalannya tinggal, apakah hak politik tersebut didukung oleh pertimbangan rasional pemilih, dan komitmen pihak terpilih terhadap rakyatnya atau tidak.
Bila ia, berarti indikasi yang baik bagi masa depan konsolidasi demokrasi kita. Bila sebaliknya, mau apa lagi, masa transisi politik menuju konsolidasi demokrasi memang harus diperpanjang lagi.
Demokrasi memang sebuah proses politik yang berpretensi menghargai suara rakyat. Siapa pun dia, apa pun latar belakang politiknya, semuanya harus diberi tempat dan diperlakukan secara adil.
Voxpopuli vox del (Suara Rakyat Suara Tuhan) telah menjadi dasar bagi pentingnya prinsip keadilan dalam membangun demokrasi. Apalagi buat Indonesia yang untuk sekian lama mereduksi demokrasinya hanya kepada para elite, terutama di MPR, tibalah saatnya kini untuk sungguh-sungguh menguji kedaulatan rakyat dengan menyerahkannya secara langsung kepada pemiliknya, yakni seluruh rakyat Indonesia yang telah memiliki hak politik.
”Oleh karena itu pula kita bertekad, bahwa sejak era reformasi politik diterapkan, tidak ada lagi pelarangan pembentukan partai politik dan hak partai politik untuk memperoleh dukungan,” kata Indria.
Sistem demokrasi terbatas sebagaimana berlaku di masa Orde Baru, dianggap bertentangan dengan Pasal 28 UUD 1945, yang mengatur tentang kebebasan berserikat dan berkumpul, serta menyatakan pendapat.
Pemilihan Umumpun dilaksanakan dengan prinsip-prinsip dasar yang menghargai kesetaraan, yakni “satu orang, satu suara dan satu nilai (One Person, one vote, one value —OPOVOV). Sebagai konsekuensinya, setiap pemilu harus berlangsung secara langsung, umum, bebas, dan rahasia (luber)’ serta ‘jujur dan adil (Jurdil).
”Dengan menganut prinsip demokrasi dan pemilu seperti itu, secara hipotetis dan teoritis, iklim kepolitikan Indonesia akan berjalan semakin baik. Lewat cara-cara yang demokratis tersebut, semua warga negara memperoleh kesempatan yang sama, baik untuk memilih maupun dipilih,” ujarnya. win-- copyright@Tabloid Demos, Makassar, Minggu III-IV September 2008

Banyak Orang Pintar Salah Gunakan Kepintarannya



keterangan gambar: Doddy Amiruddin

Doddy Amiruddin:
Banyak Orang Pintar Salah Gunakan Kepintarannya


Meskipun sudah terlepas dari cengkeraman pemerintahan otoriter ala Orde Baru dan sudah berada di era reformasi selama 10 tahun, Indonesia ternyata belum mampu bangkit dari keterpurukan dan berbagai masalah.
Untuk bangkit dan mampu mengatasi berbagai masalah, Indonesia tidak butuh banyak orang pintar, karena ternyata banyak orang pintar yang menyalahgunakan kepintarannya.
”Indonesia tidak perlu banyak orang pintar. Yang dibutuhkan adalah orang jujur,” kata anggota DPRD Sulsel, Doddy Amiruddin, kepada Demos, di Makassar, belum lama ini.
Para calon presiden dan calon legislator (caleg) juga tak harus bergelar profesor atau harus tinggi pendidikannya, yang penting dia jujur dan punya komitmen untuk perubahan dan perbaikan.
Syarat utama menjadi caleg, kata Doddy, yaitu punya pengalaman organisasi dan sosial, mampu menyerap aspirasi yang benar dari masyarakat, serta punya komitmen untuk memperjuangkan aspirasi dan kepentingan masyarakat.
Sayangnya, di mata Doddy banyak caleg yang latah alias hanya ikut-ikutan karena ada kesempatan.
”Banyak yang latah. Itu fenomena yang sudah biasa di Indonesia,” kata anak kandung mantan Gubernur Sulsel, Prof Dr Ahmad Amiruddin itu.
Tentang keinginannya maju kembali sebagai caleg DPRD Sulsel dari daerah pemilihan Bone, Soppeng, dan Wajo (Bosowa), pria yang pernah kuliah di Amerika Serikat itu mengatakan masih banyak yang ingin dilakukannya.
”Memang sudah banyak yang saya lakukan dan perjuangkan, terutama untuk pembangunan dan kepentingan masyarakat di Bone, Soppeng dan Wajo, tetapi perlu ada kesinambungan, sehingga saya merasa perlu maju kembali sebagai caleg dari Bosowa,” ungkapnya.
Hasil perjuangannya di DPRD Sulsel selama empat tahun ini antara lain pembangunan infrastruktur jalanan, termasuk jalanan yang jarang dilalui sehingga membuka akses baru bagi masyarakat.
”Saya juga berhasil mengubah peruntukan APBD dari program turin yang berulang setiap tahun ke pembangunan yang sama sekali baru, sehingga tidak lagi copy-paste dari tahun ke tahun seperti yang terjadi selama ini,” papar pria kelahiran 28 September 1964 itu.

Tidak Khawatir

Menyinggun meningkatkan persaingan antar-caleg pada Pemilu 2009, karena jumlah partai politik yang lebih dari 40, Doddy mengaku tidak khawatir.
“Dibanding Pemilu 2004, sekarang (menghadapi Pemilu 2009, red) lebih ringan. Saya lebih percaya diri, karena selama menjadi anggota dewan, sudah banyak yang saya lakukan. Saya tidak pernah berpikir ada saingan,” tandasnya.
Tentang persaingan dengan sesama caleg di PAN yang menerapkan aturan suara terbanyak, Doddy mengatakan secara pribadi dia selalu optimistis.
”Saya selalu yakin, karena selama menjadi anggota dewan, saya tetap menjaga komunikasi yang baik dengan masyarakat, baik di daerah Bone, Soppeng, dan Wajo, maupun dengan masyarakat pada seluruh daerah di Sulsel,” katanya. (asnawin) – Tabloid Demos, edisi Minggu III-IV September 2008

Caleg DPRD Sulsel Jadi Purek IV

Caleg DPRD Sulsel Jadi Purek IV

Samhi Muawan Djamal, pengurus Partai Amanat Nasional (PAN) Sulsel yang terdaftar sebagai calon legislator (caleg) DPRD Sulsel dari daerah pemilihan III (Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, Selayar) terpilih menjadi Pembantu Rektor IV Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.
Dalam Rapat Senat yang dipimpin Rektor Unismuh, Drs M Irwan Akib MPd, belum lama ini, Drs Samhi Muawan Djamal MAg meraih 13 suara, sedangkan dua saingannya, Drs HM Ali Hakka dan Mustakim Muhallim SAg masing-masing mendapatkan 8 suara dan 1 suara.
Samhi Muawan akan menggantikan Drs H Darwis Muhdina MAg yang pada rapat tersebut terpilih sebagai Purek III menggantikan Drs Kamaruddin Moha MPd.
H Abdul Rahman Rahim SE MM tetap sebagai Pembantu Rektor (Purek) I. Purek II yang sebelumnya dijabat Ikram Idrus akan diisi oleh Dra Hj Rosleny B Msi.
Rahman Rahim mendapatkan 16 suara pada pemilihan Purek I, sementara dua saingannya yakni Abdul Rahim Nanda ST MT dan HM Rusydi R SE MSi masing-masing mendapatkan 4 dan 1 suara.
Pada pemilihan Purek II, Rosleny mendapatkan 15 suara, Nenny T. Karim ST MT 4 suara, dan Dra Hj Budisetiawati MSi memperoleh 3 suara.
Drs H Darwis Muhdina MAg meraih 12 suara pada pemilihan calon Purek III, sementara Usman Lonta Sag MpdI 6 suara, dan Dahlan Lamabawa SAg MAg 4 suara.
Kepala Humas dan Penerbitan Unismuh, H Wahab Saleh SE MSi, didampingi Sekretaris Senat Unismuh, Drs H Ansyari Mone MPd, kepada Demos, menjelaskan, HM Ikram Idrus SE MSi (Purek II) dan Drs Kamaruddin Moha MPd (Purek III) tidak lagi maju dalam pemilihan Pembantu Rektor karena sudah dua periode menjabat Purek.
”Hasil pemilihan selanjutnya akan dikirim ke Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan dan selanjutnya diteruskan ke Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk mendapatkan surat keputusan,” jelas Wahab Saleh. (win) @copyright Tabloid Demos, Makassar, Minggu III-IV September 2008

Banyak Mahasiswa Asing Kuliah di Makassar

Banyak Mahasiswa Asing Kuliah di Makassar

Kota Makassar tampaknya punya daya tarik tersendiri bagi mahasiswa mancanegara. Buktinya, kini banyak mahasiswa asing yang memilih kuliah pada berbagai perguruan tinggi di Kota Makassar.
Unismuh Makassar tahun ini menerima tujuh mahasiswa asing sebagai bagian dari program Darmasiswa Depdiknas.
Dalam situs resmi darmasiswa.diknas.go.id, disebutkan bahwa ke-7 mahasiswa asing itu berasal dari Malaysia, Thailand, Jepang, Slovenia, Austria, dan Czech yang kesemuanya mengambil jurusan Bahasa Indonesia dan Budaya.
Program darmasiswa Depdiknas RI adalah program beasiswa yang diperuntukkan bagi mahasiswa luar negeri untuk mengenal Indonesia secara langsung sekaligus mempelajari beberapa hal-hal yang spesifik seperti Bahasa, Budaya dan Kesenian di Indonesia.
Tahun ini Diknas menerima lebih dari 400 mahasiswa baik untuk program reguler maupun kursus singkat.

Dari China

Di Lembaga Bahasa Arab dan Studi Islam, Ma’had Al Birr Unismuh Makassar kini juga ada dua mahasiswa dari China yang tengah menimba ilmu, yakni Licheng Gang dan Li Ting Zhung.
Licheng Gang yang kelahiran 5 Mei 1987 itu mempunyai nama Islam, Abu Bakar. Ia sudah delapan bulan di Makassar dan menetap di asrama mahasiswa Ma’had Al-Birr kampus Unismuh di Jl Sultan Alauddin.
"Ini pertama kali saya ke Indonesia. Sebelumnya saya hanya mendengar mengenai Indonesia dari teman-teman di sana," papar Licheng seperti diterjemahkan oleh Sulaiman Gosalam, pria keturunan China yang juga muallaf dan kini menjabat Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sulsel.
Licheng Gang alias Abu Bakar datang ke Indonesia untuk mendalami ajaran Islam sekaligus mempermantap bahasa Arabnya dan memilih kuliah di Ma’had Al-Birr.
Pria jangkung lulusan Universitas Shitan China itu lahir dan dibesarkan dari keluarga muslim yang taat dan bercita-cita jadi ustaz. Untuk itulah ia rela merantau hingga ke Makassar.
"Teman saya yang mengajak ke sini. Sekalian kenal Indonesia," ungkapnya.
Dalam acara buka puasa bersama pengurus PITI Sulsel, di show room Kawasaki Motor Jl. AP Pettarani Makassar, beberapa waktu lalu, Licheng Gang sempat bersalam-salaman dengan beberapa wartawan, termasuk dengan Demos. (asnawin) – Tabloid Demos, edisi Minggu III-IV September 2008

Pantai Bira Bulukumba: Pasir Putih, Hutan, Bukit, dan Terumbu Karang


SEJUK. Pantai Bira, di Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan, bukan sekadar pantai sebagaimana pantai lain di berbagai tempat, melainkan pantai yang berpasir putih dan airnya sejuk meskipun matahari sedang bersinar terik di siang hari. Selain keunikan pasir dan airnya, Pantai Bira juga memiliki batu karang yang berbukit-bukit, gua, sungai, danau, dan hutan suaka. (int)

Objek-objek Wisata di Bulukumba

Objek-objek Wisata di Bulukumba

Selain Pantai Pasir Putih Tanjung Bira, Kabupaten Bulukumba juga memiliki sejumlah objek wisata, antara lain Tempat Pembuatan Perahu Phinisi (di Tana Beru, Kecamatan Bontobahari), Makam Dato Tiro (di Hila-hila, Kecamatan Bontotiro), Kawasan Adat Amma Toa (di Desa Tana Toa, Kecamatan Kajang), serta Areal Perkebunan Karet (di Tanete, Kecamatan Bulukumpa dan di Pallangisang, Kecamatan Rilau Ale).

Pembuatan Perahu Phinisi

Salah satu yang diingat orang tentang Bulukumba yaitu perahu tradisional Phinisi. Tak heran kalau banyak duplikat perahu Phinisi dalam berbagai ukuran yang sering dijadikan suvenir.
Keahlian orang Bulukumba, khususnya yang berasal dari Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, dalam membuat perahu Phinisi didapatkan secara turun-temurun.
Tempat pembuatan perahu Phinisi terletak di pesisir pantai Kelurahan Tana Beru, Kecamatan Bontobahari, sekitar 24 km dari ibukota Bulukumba. Perahu-perahu tersebut dibuat tepat di bibir pantai yang banyak ditumbuhi pohon kelapa dan beberapa jenis pohon lainnya.
Jika berkunjung kesana pada siang hari, maka anda pasti akan menyaksikan kesibukan para pekerja dalam menyelesaikan berbagai bentuk dan model Perahu Phinisi.
Perahu Phinisi bukan hanya digemari oleh para pengusaha di Bulukumba, melainkan juga pengusaha dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan tak jarang pesanan datang dari luar negeri.
Beberapa pemesan bahkan rela mengutus orangnya atau datang langsung dan menetap selama beberapa hari di Bulukumba hanya untuk menyaksikan proses pembuatan perahu Phinisi.
Setiap pembuatan perahu ditandai dengan upacara ritual khusus. Proses pembuatannya memadukan keterampilan teknis dan kekuatan magis. Setiap bagian kapal konon sarat dengan falsafah.
Perahu Phinisi sudah terkenal sejak lama, namun menjadi lebih terkenal lagi ketika awal tahun 90-an, Perahu Phinisi Nusantara mengarungi Samudra Pasifik sampai ke Vancouver Kanada.
Juga ketika Perahu Phinisi Ammanagappa berlayar sampai ke Madagaskar, serta Perahu Phinisi Hati Marege dan Damar Sagara yang masing-masing berlayar ke Australia dan Negeri Sakura Jepang.

Makam Dato Tiro

Dato Tiro adalah orang yang disebut-sebut sebagai salah seorang pembawa agama Islam ke Sulawesi Selatan. Dato Tiro kemudian wafat dan dimakamkan di Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba.
Konon, agama Islam dibawa ke Sulawesi Selatan oleh tiga ulama (wali) dari Sumatera, yakni Dato Tiro yang menyebarkan agama Islam di Kabupaten Bulukumba, Sinjai, dan Bantaeng (1596 Masehi), Dato Ribandang (di Makassar dan sekitarnya), serta Dato Patimang (di Luwu dan sekitarnya).
Cerita tentang kesaktian Dato Tiro masih sangat kuat di tengah masyarakat setempat. Konon Dato Tiro selalu membawa tongkat dan dengan tongkat itulah ia membuat sumur panjang yang airnya sangat jernih dan terletak tak jauh dari makamnya.
Makamnya terletak di Kampung Hilla-hila, Kelurahan Eka Tiro, Kecamatan Bontotiro, yang berjarak sekitar 34 km dari ibu kota Kabupaten Bulukumba.

Kawasan Adat Amma Toa

Kawasan Adat Amma Toa memiliki keunikan sehingga selalu menarik untuk dikunjungi, baik untuk sekadar berwisata, maupun untuk kepentingan penelitian.
Kawasan tersebut terletak di Desa Tana Toa, Kecamatan Kajang yang berjarak sekitar 55 km dari ibukota Bulukumba.
Masyarakat yang bermukim di kawasan tersebut masih memegang teguh adat istiadat dan pesan-pesan leluhur yang disebut "Pasanga ri Kajang".
Keaslian adat dan alamnya masih terjaga. Masyarakatnya sangat patuh pada peraturan adat dengan pola hidup yang bersahaja dan senantiasa mengenakan pakaian serba hitam.
Bangunan tempat tinggalnya pun seragam dan menghadap ke utara. Pengunjung yang masuk ke kawasan ini diharuskan berjalan kaki.
Kawasan adat ini dipimpin oleh seorang pemimpin adat yang bergelar Amma Toa. Sebagai pemimpin adat spiritual, ia dianggap sebagai ”orang suci” dan kepemimpinannya berlaku seumur hidup. Amma Toa hanya diganti bila ia telah meninggal dunia dan proses penggantiannya pun bukan dengan cara pemilihan, melainkan melalui proses ritual.
Masyarakatnya sangat menjaga kelestarian hutan. Bagi mereka, merusak hutan merupakan pantangan yang telah dipatuhi secara turun-temurun. Jika ada yang melanggar pantangan tersebut dan merusak hutan, maka ia akan dikenakan sanksi yang diputuskan melalui musyawarah adat yaitu Adat Lima Karaeng Tallu.
Kalau ada kunjungan khusus dari pejabat atau rombongan tamu khusus, masyarakat setempat biasanya mengadakan upacara penyambutan. (asnawin) – Tabloid Demos, edisi Minggu III-IV September 2008

Banyak Media yang Responsif Gender


keterangan gambar: Asnawin

Banyak Media yang Responsif Gender

Media massa sesungguhnya banyak yang sangat responsif gender. Itu dibuktikan dengan banyaknya acara atau rubrik yang mengekspos keterampilan dan kepiawaian perempuan, antara lain perempuan yang terampil memasak, perempuan ustadza, perempuan yang hebat sebagai politisi, perempuan yang aktivis, dan perempuan yang sukses menjadi pejabat publik.
Selain itu, perempuan juga sejak dulu banyak yang tampil dengan gagasan dan tulisan yang cemerlang. Mereka melawan kekuasaan laki-laki dengan berbicara.
Itulah yang dilakukan perempuan pengarang novel populer era 1970-an. Mereka bukan lagi "subjek dari pernyataan", melainkan menjadi "subjek yang berbicara."
Sebut saja Ike Soepomo, Mira W, Titie Said, La Rose, Marga T, serta sederet nama lainnya.
”Mereka mencoba bersikap dinamis dan mengembangkan idealisme sebagai perempuan bebas dan mandiri,” kata Direktur Perpustakaan Pers PWI Sulsel, Asnawin.
Hal tersebut diungkapkan saat tampil membawakan materi pada Pelatihan Jurnalisme Perempuan yang diadakan oleh Kementrian Pemberdayaan Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah (Unismuh) bekerja sama Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Makassar.
Novelis tahun 60-an, Nh. Dini, pernah mengakui gairah menulis itu menyeruak karena suatu alasan. Bila dulu menulis cuma energi laten, kini mereka menemukan "pelataran aspirasi", yang tersedia seiring munculnya majalah-majalah wanita, seperti Femina, Kartini, Famili, dan Sarinah.
Para pengarang novel pop itu mulai belajar mengarang dalam rubrik cerpen di majalah perempuan yang tengah tumbuh subur.
Tak cuma mengekspresikan gaya hidup, majalah-majalah itu memang telah mencetak para penulis wanita. Disadari atau tidak, mereka mencoba merebut kekuasaan sekaligus menolak untuk dikuasai. Para perempuan novelis itu memecah "kebisuan teks" dengan berbicara dan menulis.
”Mungkin mereka terinspirasi keampuhan medium epistolaire alias surat-menyurat RA Kartini. Sampai sekarang juga masih banyak perempuan yang sering tampil dengan tulisan-tulisan dan gagasan-gagasannya di media massa,” kata Asnawin.
Perempuan Indonesia di era reformasi ini, sungguh telah memperoleh ruang yang begitu besar dan luas. Perempuan kini bisa memilih dan melakukan apa saja. Perempuan bisa memilih menjadi ibu rumah tangga, bisa memilih menjadi wanita karier, sastrawan, politisi, artis, dan berbagai macam profesi lainnya.
Dengan pilihannya tersebut, perempuan kini dapat membuat dirinya dilihat dan “dinikmati” semua orang, dielu-elukan, dihormati, atau dicaci-maki.
Sebagian perempuan memilih menjadi bagian dari yang tidak terpisahkan dari media massa dan industri hiburan.
Ada yang menjadi artis sinetron, ada yang menjadi model dan pragawati, ada yang menjadi Putri Indonesia, ada yang menjadi penyanyi, dan ada yang menjadi bintang iklan.
Sayangnya, kata Asnawin, sebagian dari mereka lebih sering dijadikan atau digambarkan dalam bentuk komoditas atau pelaris produk atau pun pendongkrak penjualan produksi barang-barang tertentu.
Tidak lengkap dan menarik suatu acara, berita, atau pun iklan tanpa menampilkan daya tarik perempuan. Ironisnya, banyak iklan yang sangat tidak mendidik dan sebenarnya tidak ada hubungan langsung antara produk yang diiklankan dengan perempuan yang ditampilkan.
Apa hubungan antara mie pedas dengan pinggul seorang perempuan, apa pula hubungan antara handphone mungil dengan lekuk tubuh perempuan, dan apa hubungan minuman dengan getaran dada Ratu Gergaji dan goyangan pantat Ratu ngebor, kalau tidak untuk mengeksposenya sebagai komoditas iklan murahan.
Perkembangan perekonomian menjadikan perempuan sebagai ujung tombak promosi, pemanis cover majalah, penarik pembeli pastagigi, deodorant, minuman, makanan, kompor, alat elektronik, mobil, rokok, rumah bahkan traktor pun menggunakan perempuan sebagai daya tarik jual.
Ada perempuan mengkomersilkan traktor berpose dengan pusar dan payudara setengah kelihatan, paha pun demikian. Ketika mengendarai mobil ia tidak tahu menjalankannya dan mogok. Dengan bermodal kaki, paha yang setengah terbuka sambil membusungkan dada yang menantang, maka serombongan laki-laki beramai-ramai membantunya.
Film dan sinetron juga selalu menampilkan perempuan yang cantik dan seksi, serta tak jarang mengumbar kemolekan dan keindahan tubuh mereka.
”Mengapa media massa menampilkan iklan dan sinetron yang mengekspos kecantikan dan kemolekan tubuh perempuan?” tanya Asnawin.
Menurut dia, itu terjadi karena media massa antara lain memang memiliki fungsi menghibur. Selain itu, media massa kini telah menjelma menjadi industri yang berorientasi kepada keuntungan finansial.
”Sayangnya, sebagian media massa kerap melanggar fungsinya yang lain yakni mendidik. Selain menghibur dan mendidik, media massa juga berfungsi memberikan informasi (yang benar) dan berfungsi melakukan kontrol sosial,” katanya. (asnawin) – Tabloid Demos, edisi Minggu III-IV September 2008

Jumat, 07 November 2008

Jangan Ada Kampanye Hitam



Iskandar Tompo:
Jangan Ada Kampanye Hitam

Meskipun bersaing untuk memperebutkan empat kursi dari Sulawesi Selatan, para calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) diharapkan menjalin kerja sama dengan cara tidak saling menjelek-jelekkan satu sama lain.
Apapun hasilnya harus dihormati semua phak. Calon yang tidak terpilih diharapkan kebesaran hatinya menerima hasil pemilu, sedangkan yang terpilih menerima hasil pemilu sebagai suatu amanah dari umat dan masyarakat.
”Marilah kita saling menghormati dan tidak saling menjelek-jelekkan. Jangan ada kampanye hitam,” tandas salah seorang calon anggota DPD, Andi Iskandar Tompo, kepada Demos di Makassar, belum lama ini.
Dia mengatakan, para calon anggota DPD pada dasarnya punya tujuan yang sama yakni membawa aspirasi masyarakat dan pemerintah Sulawesi Selatan, sehingga tidaklah pantas jika ada calon anggota DPD yang berupaya atau sengaja menciptakan suasana persaingan.
”Saya berharap tidak tercipta suasana persaingan, melainkan suasana yang sejuk,” ujar Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulsel itu.
Tentang dukungan, mantan anggota DPRD Sulsel dan DPRD Kota Makassar itu mengatakan dirinya mendapat dukungan penuh dari kalangan Muhammadiyah, yang dibuktikan dengan adanya rekomendasi dari PWM Sulsel.
Dalam kunjungannya ke berbagai daerah di Sulsel, Andi Iskandar Tompo mengaku mendapatkan dukungan moril, terutama dari kalangan pengurus dan simpatisan Muhammadiyah.
”Selain adanya rekomendasi dari PWM Sulsel, saya juga ingin melanjutkan perjuangan Muhammadiyah setelah saya melakukannya di DPRD Sulsel dan DPRD Kota Makassar. Bagi saya, menjadi anggota DPD adalah sebuah perjuangan ideologi,” katanya.
Perjuangan Muhammadiyah dimaksud yakni terciptanya masyarakat yang adil dan makmur yang diridahi oleh Allah SWT.
Di Muhammadiyah Sulsel, Andi Iskandar Tompo kini menjabat Wakil Ketua. Pria kelahiran Makassar, 8 Januari 1949 itu pernah menjabat Ketua Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara, Ketua Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan. (asnawin) - dimuat di tabloid Demos Makassar, edisi Minggu III-IV September 2008

Kalla Terbitkan Buku Tentang Ibunya

Harian Tribun Timur, Jumat, 07-11-2008

Kalla Terbitkan Buku Tentang Ibunya

Makassar, Tribun - Wakil Presiden Jusuf Kalla akan meluncurkan buku yang bercerita tentang almarhumah ibunya, Athirah Kalla. Buku berjudul Hj Athirah Kalla Melangkah dengan Payung itu dibuat oleh tim dari Pemuda Muhammadiyah Sulsel.

Saat sesi wawancara dengan tim penyusun buku di Istana Wapres, Jakarta, Rabu (5/11), Kalla tampak terharu menceritakan kisah perjalanan hidup ibunya. Beberapa kali ia terlihat terdiam dan menatap plafon sebelum menjawab pertanyaan dari tim penyusun buku.

Buku itu disusun oleh Basti Tetteng, Asnawin. Saat sesi wawancara, tim penyusun buku didampingi oleh Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Pusat Izzul Muslimin, Sekum Gunawan, serta Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulsel Abdul Rachmat Noer.

Rencananya, buku itu akan dibagikan pada acara Muktamar Nasyiatul Aisyiah yang akan berlangsung di Makassar 19 November mendatang.

Kalla memulai ceritanya dengan memujinya. "Ibu saya itu tidak pernah mengeluh," ungkap Kalla kepada tim penyusun buku.

Dalam kisah Kalla, Athirah Kalla membesarkan 10 anak-anaknya dengan sabar di rumahnya yang luas di Jl Andalas No 2 Makassar. Di rumah yang berdekatan dengan Masjid Raya, Makassar itu, juga banyak keluarganya yang menetap untuk disekolahkan.

Rumahnya pun selalu menjadi tempat rapat pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Sulsel, pengurus Aisyiyah Sulsel, pengurus Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), dan pengurus Senat Fisipol Unhas.

"Jadi rumah saya itu ganti-ganti orang rapat di sana. Hari ini NU, besok Aisyiyah. Kalau HMI tiap hari. Tapi ibu tak pernah mengeluh. Tiap malam ratusan orang yang datang. Ibu saya masak lalu pergi tidur di kamarnya. Teman-teman kalau mau makan langsung saja ke dapur ambil sendiri. Tapi ibu tidak merasa terganggu," papar Kalla.

Aktivis HMI Pusat, seperti Nurcholis Madjid (almarhum) dan Fahmi Idris (sekarang Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi), juga selalu menginap di rumah Kalla setiap kali datang ke Makassar. Mereka semua mengenal Athirah karena selalu mendapat pelayanan yang baik dan ikhlas.

Muktamar Nasyiah

Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Sulsel, Rachmat Noer mengatakan, buku biografi Ibu Athirah Kalla rencananya akan dibagikan pada acara Muktamar Nasyiatul Aisyiyah di Makassar, 19-21 November ini.

Ketua Nasyiatul Aisyiyah Sulsel, St Chaerani Djaya, yang dihubungi terpisah mengatakan, muktamar akan dihadiri sekitar 2.000 peserta dan penggembira.

"Peserta muktamar kurang lebih 800 orang dari seluruh Indonesia, tetapi banyak penggembira dan juga banyak agenda kegiatan lainnya," jelasnya.

Muktamar akan diawali dengan Lomba Jalan Santai (16 November), lalu seminar (17-18 November), tanwir (18 November), serta pembukaan muktamar (19 November di Celebes Convention Centre).

Pemuda Muhammadiyah Sulsel Temui Kalla



Buku biografi Hj Athirah dibuat oleh 6 tim penulis yang dibentuk oleh Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulsel, masing-masing Basti Teteng, Asnawin, Muh Yahya, Ilham Hamid, Muh Ihsan dan A Baetal Mukaddas. Buku biografi tersebut dilaunching pertama kali di acara Sidang Tanwir Pemuda Muhammadiyah bulan Agustus lalu di Makassar. (int)