Selasa, 22 Desember 2009

Lovely December 2009 di Toraja Ibarat Magnet



Lovely December 2009 di Toraja Ibarat Magnet

Oleh: Asnawin
Makassar, 22 Desember 2009

Lovely December atau Desember Kasih Sayang adalah program atau kegiatan pariwisata Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bersama Pemerintah Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara yang bertujuan menarik sebanyak-banyaknya wisatawan lokal (wislok), wisatawan nusantara (wisnus), dan wisatawan mancanegara (wisman), terutama orang-orang Toraja yang berada di perantauan, untuk berkunjung ke Toraja pada akhir bulan Desember.

Kegiatan pariwisata itu dilaksanakan pertama kali pada Desember 2008 dan tahun 2009 ini kembali dilaksanakan dengan mengadakan berbagai kegiatan.

Agenda kegiatan Lovely December 2009, meliputi : Kontes Dodo' Pandin (semacam acara Dara dan Daeng di Makassar atau Abang dan None Jakarta (5 Desember), pertandingan bridge (5-6 Desember).

Selain itu, juga diadakan lomba fox hunting wisata (12-13 Desember), pementasan hiburan rakyat dan tari-tarian dari IKAT (Ikatan Keluarga Toraja), festival musik band (12-18 Desember), lomba tracking (19 Desember), atraksi permainan rakyat silaga ulu (adu kepala) (24 Desember), fun rafting (lomba arung jeram) SYL Cup (24 Desember), serta panggung gembira yang diramaikan artis-artis ibukota Jakarta (25 Desember).

Pada puncak acara 26 Desember 2009, diadakan berbagai kegiatan yakni Natal Oikumene, Pencanangan Sapta Pesona oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI, atraksi mangngarak lettoan-memanggul rumah adat mini yang di dalamnya ada babi hidup), festival budaya ma'lambuk (tumbuk padi), atraksi budaya ma'bugik (sejumlah perempuan berdansa sambil berpegangan tangan membentuk lingkaran diiringin musik tradisional Toraja), dan rambu tuka' (pesta syukuran) peresmian rumah jabatan Bupati Tana Toraja.

Dalam bincang-bincang dengan Ketua Panitia Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan yang juga Kasubdin Kerjasama dan Peran Serta Masyarakat), Bruno S. Rantetana, serta Humas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel Muslimin Dolo, di Makassar, Senin, 21 Desember 2009, juga terungkap bahwa selain acara yang terdaftar dan resmi diadakan oleh panitia, juga masih ada kegiatan lain yang diadakan oleh masyarakat.

Persekutuan Gereja Kibaid Indonesia juga akan mengadakan acara Natal Umum dari seluruh umat Kibaid se-Indonesia yang diperkirakan bakal dihadiri ribuan anggota jemaatnya.

Selain itu, juga ada acara touring chevrolet dari Jawa dan Makassar menuju Toraja. Touring Chevrolet ini akan diikuti sejumlah pejabat dan semuanya wajib memakai mobil chevrolet. Mereka akan dijamu makan malam (Kamis malam, 24 Desember) oleh Walikota Parepare, Zain Katoe, dan makan siang (Jumat siang, 25 Desember) oleh Bupati Sidrap, Rusdi Masse.

Pejabat yang diundang antara lain enam menteri Kabinet Indonesia Bersatu II (Menbudpar, Menteri PU, Menteri Perhubungan, Menteri Keuangan, Menko Kesra, Menpora, serta Menteri Pemberdayaan Perempuan & Perlindungan Anak), sejumlah Duta Besar, sejumlah gubernur, serta seluruh bupati dan walikota se-Sulawesi Selatan.

Dengan banyaknya kegiatan dan berbagai upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, ditambah dengan banyaknya konfirmasi kehadiran wisnus dan wisman mancanegara, Tana Toraja dan Toraja Utara pada akhir Desember 2009 ini bakal mendapat tamu wisatawan ratusan ribu orang.

Boleh jadi seluruh 1.548 kamar dari 81 hotel, penginapan, wisma, dan home stay di Tana oraja dan Toraja Utara, bakal terisi seluruhnya.

Jika prediksi itu benar, maka tak dapat disangkal lagi bahwa Lovely December 2009 telah menjelma menjadi magnet, yang mampu menarik puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu wisatawan ke Toraja.



Lovely December 2008

Sebagai wartawan, saya sudah banyak kali berkunjung ke Tana Toraja (kini sudah dimekarkan menjadi dua kabupaten, yakni Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara).

Tahun 2008 lalu, saya sebagai wartawan dan sebagai dosen turut menghadiri Lovely December 2008 di Toraja. Ketika itu, saya membawa puluhan mahasiswa semester lima, jurusan Jurnalistik, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Mereka adalah mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Praktek Penulisan Berita yang saya ajarkan.

Sebelum berangkat ke Toraja, saya antara lain telah membekali mereka cara dan teknik meliput acara-acara seremoni, acara seni budaya, dan acara-acara pariwisata. Kemudian saya membagi tugas peliputan dan mewajibkan mereka membuat laporannya dalam bentuk berita (straight news atau feature news), lengkap dengan foto-fotonya.

Kami secara khusus berterima kasih kepada Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan ketika itu, Ama Saing, serta Bupati Enrekang La Tinro La Tunrung yang banyak membantu kami.

Perjalanan dan praktek peliputan berita Lovely December 2008 di Toraja, sangat berkesan bagi kami, khususnya bagi mahasiswa saya yang hampir semuanya belum pernah berkunjung ke Toraja. Salah satu yang sulit mereka lupakan yaitu ketika bersama Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo dan para undangan dijamu makan siang oleh pengusaha dan pemuka masyarakat Toraja, Haji Murad.

Selain jarak yang jauh dan kondisi jalanan yang kurang bagus menuju rumah Haji Murad yang berada di atas ketinggian, kami juga agak kaget dan khawatir setelah berkumpul bersama para undangan lainnya, khususnya masyarakat setempat.

Kaget dan khawatir karena ternyata makanan yang disajikan terbagi dua, satu bagian untuk umat Kristiani dengan hidangan atau makanan khas daging babi (daging babi diharamkan bagi umat Islam), sedangkan satu bagian lainnya makanan untuk umum.

Sebagian besar warga setempat akhirnya pulang dengan membawa daging babi yang tersimpan dalam sepotong bambu besar berukuran panjang antara 50 sentimeter hingga satu meter. Namun dengan membaca basmalah disertai permohonan ampun dan lindungan Allah SWT, kami pun turut makan bersama dengan para undangan lainnya.

Yang juga berkesan tahun lalu, karena hampir sepanjang perjalanan dari Makassar ke Toraja, selama di Toraja, dan dalam perjalanan pulang dari Toraja ke Makassar, hujan terus menerus turun, kadang rintik-rintik dan kadang-kadang deras.

Itulah sedikit informasi tentang kegiatan pariwisata Lovely December di Toraja dan kesan perjalanan saya menghadiri kegiatan tersebut tahun 2008. Semoga artikel ini bermanfaat. Terima kasih.

Senin, 07 Desember 2009

Suparwono Manusia Tertinggi di Indonesia


Photo copyright by EPA/MAST IRHAM

Harian Jawa Pos, Surabaya
[ Kamis, 03 Desember 2009 ]

Suparwono Manusia Tertinggi di Indonesia
- Diukur Muri, Tak Layak Masuk Guinness Book of World Records

JAKARTA - Harapan Suparwono, 24, supaya namanya bisa dicatat sebagai manusia tertinggi di dunia dalam Guinness Book of World Records tidak akan pernah kesampaian. Sebab, buruh tani warga SP 8, Desa Tri Tunggal Jaya, Gunung Agung, Tulang Bawang, Lampung, itu ternyata lima sentimeter lebih pendek bika dibandingkan dengan pemegang rekor manusia tertinggi di dunia saat ini, yakni Sultan Kosen.

Warga Turki itu memiliki tinggi tubuh 2,47 meter. Kosen masuk Guinness Book of World Records sejak September lalu setelah ''mengalahkan' ' Bao Xishun, warga Tiongkok, yang setinggi 236,1 cm.

Sebelumnya, Suparwono diklaim setinggi 270 cm atau lebih tinggi ketimbang Kosen. Ada pula yang menyebutkan, tinggi mantan pemain salah satu klub basket di Surabaya itu 271 cm.

Hasil pengukuran resmi yang dilakukan Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) kemarin (2/12) sama sekali berbeda. Muri mengukur tinggi Suparwono ''hanya'' 2,42 meter. Acara pengukuran di Jakarta itu juga dihadiri pendiri Muri yang juga bos Pabrik Jamu Jago Jaya Suprana.

Jadi, Suparwono tidak memenuhi kualifikasi untuk masuk Guinness Book of World Records. Tetapi, pengukuran tersebut sudah cukup menjadikan dia sebagai manusia tertinggi di Indonesia.

''Tim kami dari Muri telah mengukur Suparwono dalam posisi berbaring maupun berdiri. Hasilnya, dia memiliki tinggi tubuh 2,42 meter,'' terang Direktur Muri Ngadri, seperti dikutip AFP. ''Kami menerima banyak laporan pagi ini, termasuk hasil pengukuran dari rumah sakit, yang menyebutkan bahwa dia setinggi 2,71 meter. Tetapi, kami tetap berpegang pada pengukuran kami,'' tegasnya.

Nama Suparwono menjadi sangat populer pekan ini setelah salah seorang kerabatnya di Lampung mengundang para tetangga untuk berfoto bersama dengannya. Beberapa hari terakhir, dia muncul di acara talk show televisi di Jakarta sebagai ''Raksasa asal Lampung''. Tetapi, Suparwono justru lebih suka disebut sebagai ''manusia gajah''.

Sebelum ke Jakarta kemarin, Suparwono sempat diundang ke Kantor Gubernur Lampung dan dijamu. Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. dan staf terlihat antusias menyaksikan pria kelahiran Banyumas, Pringsewu, 4 November 1983, tersebut makan.

Suparwono mengatakan terkadang merasa ''bangga'' dengan tinggi tubuhnya. ''Tetapi, (ukuran tubuh yang tinggi) itu juga menimbulkan masalah karena saya tak bisa hidup seperti orang yang normal,'' katanya.

Dia mencontohkan kesulitannya masuk bus umum atau mencari ukuran pakaian dan sepatu yang sesuai. Saat pamit ke gubernur Lampung, dia tanpa alas kaki karena tidak menemukan sepatu atau sandal berukuran 64.

Di sela acara wawancara televisi, Suparwono juga bercerita pengalamannya menjadi manusia tertinggi. ''Saya baru menyadari tinggi tubuh saya yang luar biasa ketika berusia 10 tahun. Saat itu saya sudah menjadi siswa tertinggi di sekolah dan desa saya,'' katanya.

Saat ini Suparwono tinggal bersama orang tuanya dan menjadi buruh tani. Dia kadang bekerja secara serabutan untuk mendapatkan penghasilan. ''Dalam sehari, saya menghabiskan tiga kilogram beras dan sedikitnya 15 butir telur,'' tuturnya. (AFP/dwi)

PSM vs Pelita Jaya 0-0



Harian Fajar (www.fajar.co.id)
Minggu, 06-12-09 | 22:17 | 330 View

Bermain Dikandang, PSM Gagal Raih Poin Penuh
- PSM vs Pelita Jaya 0-0

MAKASSAR -- Meskipun bermain di kandang sendiri, stadion Andi Mattalatta, PSM Makassar gagal meraih poin penuh. Anak-anak Makassar hanya mampu bermain imbang 0-0 melawan tamunya, Pelita Jaya, dalam laga lanjutan Superliga Indonesia, 6 Desember 2009, pukul 19.30 Wita, malam tadi.

Pada pertandingan tadi malam, PSM yang tampil tanpa Striker Christian Carrasco dan Daryoush sebenarnya bermain bagus sejak kick off babak pertama dimulai.

Serangan-serangan pemain PSM beberapa kali mengancam gawang Pelita Jaya. Hanya saja, penyelesaian akhir yang kurang bagus dari anak asuh Hanafing ini, sehingga gawang Pelita tetap aman hingga akhir babak pertama.

Memasuki babak kedua, tensi permainan PSM mulai menurun. Terlebih lagi, kapten tim PSM, Syamsul Chaeruddin menerima kartu kuning kedua sehingga harus meninggalkan lapangan pertandingan. PSM pun memasukkan Aditya Putra Dewa untuk menambah daya serang PSM.

Masuknya Putra Dewa, sempat menghidupkan lagi alur serangan anak-anak Makassar, terhitung ada 3 peluang yang tercipta dari kaki pemain muda ini. Tapi begitulah, hanya masalah penyelesaian akhir saja yang kurang bagus sehingga skor tidak berubah, tetap 0-0 hingga pertandingan usai.

Dengan hasil imbang yang diraih "Pasukan Ramang" julukn PSM, posisi mereka di daftar klasemen sementara naik ke posisi 14 dengan 9 poin di bawah Bontang FC. Sedang bagi Pelita Jaya, hasil seri ini tidak merubah posisi mereka di dasar klasemen dengan poin 3. (riz)

Rabu, 02 Desember 2009

Sistem Keras Pendidikan di Zaman Perang



Sistem Keras Pendidikan di Zaman Perang

Oleh : Ali Soekardi

VICE Consul pada Konsulat Jenderal Jepang di Medan, Aya Kumakura, berdecak heran ketika kepadanya saya tunjukkan buku pelajaran bahasa Jepang untuk Sekolah Dasar (masa pendudukan Jepang namanya SRO = Sekolah Rendah Oemoem).

Buku itu berjudul Tadasii Nippongo (Kitab Peladjaran Bahasa Nippon), disusun oleh 1st Lieut. Y.Sakamoto (Letnan Satu) bersama Basir Nasoetion (Goeroe Kepala Langkat, Nippon Syogakko, Pangkalan Berandan)

Buku itu diterbitkan tahun 1942, masa awal pendudukan Jepang (1942-1945), dan dipergunakan di sekolah-sekolah dasar. Isinya sangat sederhana, semacam sistem cepat untuk mempelajari bahasa Jepang ketika itu. Buku tersebut terdiri dari tiga jilid, termasuk pelajaran aksara Jepang. Pada jilid I yang diajarkan aksara Katakana, Jilid II Hirakana, dan Jilid III Kanji dan inilah yang tersulit.

Barangkali sesuai dengan zamannya, yakni zaman perang, pemerintah pendudukan Jepang masa itu, ingin segala-galanya berlangsung serba cepat dan dapat. Termasuk dalam sistem pendidikan yang diterapkan serba agak keras di sekolah-sekolah. Itu sebabnya mata pelajaran di sekolah-sekolah (maksud saya tingkat SD) tidaklah banyak. Hanya beberapa mata pelajaran, seperti bahasa Nippon (Jepang), berhitung, ilmu bumi, sejarah diutamakan sejarah Jepang, juga bernyanyi.

Tapi yang menarik adalah main perang-perangan. Ini mengasyikkan karena sambil belajar juga bisa bermain-main. Selalu dibagi dua, satu kelompok jadi “pasukan Jepang” dan satu kelompok lagi “pasukan teki (musuh, yang ketika itu adalah Belanda, Inggris, Amerika)”. Sampai ada semacam semboyan “Amerika kita setrika, Inggris kita linggis”. Tapi ada peraturan yang aneh, yang menjadi “pasukan musuh” harus tetap kalah. Namun ketika menjelang akhir pendudukan, ketika Jepang mulai terdesak kalah, anak-anak sekolah diajarkan teori dan praktek cara-cara bersembunyi di lobang perlindungan, saat ada pesawat “musuh” yang datang dan menyerang.

Namun satu hal yang sangat penting jika diamalkan sampai sekarang, yaitu setiap pagi setelah lonceng tanda masuk dibunyikan, para murid tidak harus langsung masuk kelas, tapi berkumpul dulu di halaman sekolah (dulu umumnya sekolah mempunyai halaman yang luas) untuk melakukan senam (razio taiso). Lalu ada satu lagi pelajaran yang unik, yaitu bertani dan membuat barang keperluan sehari-hari. Kebetulan di samping sekolah kami, yang terletak di depan kantor polisi, di sampingnya ada tanah kosong yang luas.

Tanah dipetak-petak dan dibagikan kepada murid-murid yang diwajibkan bercocok tanam palawija (sebelum dipraktekkan, teori menanam diajarkan di kelas masing-masing), seperti kacang-kacangan misalnya kedelai, kacang tanah, kacang panjang, kacang hijau, juga sayur-sayuran. Dan satu lagi yang terkenang saya, kepada kami murid-murid diajarkan menanam jarak. Katanya, buah jarak dapat menghasilkan minyak. Katanya lagi, minyak yang dihasilkan bisa untuk pesawat terbang. Entahlah, wallahi’alam. Tapi sekarang ada juga upaya menanam jarak, untuk memproduksi minyak juga.

Sistem Keras

Tapi satu hal yang tak dapat dilupakan, sistem pendidikan ala Jepang ketika itu (zaman perang) memang keras. Terutama pelajaran bahasa Jepang ditekankan harus segera bisa “ber-nippongo”. Misalnya hari ini diberikan sepuluh kata-kata yang harus dihafalkan dan bersama artinya, maka esok harinya sudah harus tahu luar kepala mengulangnya.

Jika tak dapat harus tahan diri menerima hukuman dari sensai (guru). Paling ringan telinga dijewer, atau kena tampar, yang paling berat jika sama sekali “bodoh”, hukumannya lari (kakiyas) keliling halaman sekolah yang cukup luas sampai tujuh kali. Sistem pendidikan seperti ini tentu tidak cocok, bahkan tidak ada lagi di zaman sekarang. Sistem kekerasan memang tak diinginkan.

Tapi aneh, hasil sistem pendidikan yang keras di masa itu memang memberi hasil. Murid-murid yang “tahan banting”, tak kenal kapok meskipun mengalami tindak kekerasan, mereka jadi berhasil. Mereka cepat mampu berbahasa Jepang sederhana, karena mungkin agar tidak mendapat hukuman yang keras, di rumah jadi belajar giat.

Tapi sebaliknya murid yang lemah, yang lembek semangatnya dan selalu ketakutan pada hukuman, mereka jadi yang tidak berhasil. Mereka lebih senang tidak sekolah, dan merasa lebih baik bekerja membantu orangtuanya mencari nafkah. Pada masa pendudukan militer Jepang itu, akibat kurangnya bahan makanan, banyak penduduk yang menjadi petani, menanam padi atau jagung di ladang atau sawah.

Anak-anak mereka dikerahkan membantu. Pada masa itu Gunseibu Nippon (pemerintahan Jepang) melarang semua jenis penerbitan media massa. Kecuali ada yang diizinkannya boleh terbit, yang tentu saja di bawah kontrol ketat. Dan di Medan ada harian Kita Sumatora Shimbun. Setiap hari koran ini dipajang di semacam papantulis di depan sekolah.

Murid-murid diwajibkan membacanya, terutama berita-berita peperangan, yang tentu saja tentara Dai Nippon tidak pernah kalah. Menang terus, padahal yang terjadi adalah sebaliknya, tentara Jepang terdesak terus. Banyak pasukan Heiho (tentara yang terdiri pemuda Indonesia yang diperbantukan pada pasukan Jepang) yang tewas. Itulah kelihaian Sendenbu (Dinas Propaganda) memutar-balikkan berita.

Dukasusi dan Melati

Koran Kita Sumatora Shimbun ini mempunyai ruangan kanak-kanak yang disediakan untuk anak-anak murid sekolah belajar mengarang. Namanya Dukasusi (Dunia Kanak-kanak Sumatora Shimbun. Bagus juga, karena melalui ruangan ini, anak-anak sekolah yang punya minat dan bakat, mulai coba-coba mengarang. Ada puisi, ada ceritapendek, dan yang paling banyak adalah lelucon singkat-singkat. Saya pun pernah coba-coba mengirim karangan pendek, ya leluconlah. Ada yang dimuat, tapi lebih banyak yang tidak.

Dukasusi ini kemudian menjadi lembaran sendiri. Semacam koran kecil-lah. Lantas berobah nama menjadi Melati (Mempertinggi Latihan Timur). Para remaja penulis dan pengasuh Melati kemudian setelah Jepang kalah dan Indonesia merdeka, banyak yang menjadi wartawan bahkan pemimpin redaksi, misalnya H.A.Dahlan, Usman Siregar (keduanya sudah almarhum). Bahkan ada yang menjadi ilmuwan, bahkan menjadi Rektor USU, yaitu Prof.Dr.A.P.Parlindungan.

Zaman penjajahan memang tidak enak. Terutama penjajahan yang dilakukan secara keras, bahkan kejam, seperti pada masa penjajahan Jepang, karena yang berkuasa adalah kaum militer maka mereka bertindak secara militer dan memakai hukum militer . Namun bagaimana pun juga sang militer adalah manusia biasa juga. Sekejam-kejamnya seorang militer, adakalanya timbul rasa kemanusiaannya.

Rasa Hati

Saya masih ingat, bahwa di dekat kampung saya di Tebing Tinggi (Kampung Turi atau sekarang Kampung Persiakan) ada asrama tentara Jepang. Hampir setiap hari ada saja di antara mereka yang masuk ke kampung kami, atau sekadar melintas. Dan di antara mereka ada yang menyayangi anak-anak.

Mereka selalu bersikap dan berbuat manis terhadap anak-anak. Kami yang bersekolah adakalanya diberinya pensil dan buku. Mungkin dia teringat pada anaknya di negerinya, karena mereka ada yang suatu saat pernah menunjukkan poteret anaknya, yang katanya ketika ditinggalkannya pergi perang, masih sebesar atau seusia kami, usia anak murid SD.

Ya, manusia tetaplah manusia yang punya rasa dan hati. Dia bisa kejam tapi kelembutan pasti masih ada di dalam hatinya, walaupun mungkin kadarnya minim sekali. Atau sebaliknya manusia yang lembut, adakalanya berlaku kejam atau katakanlah kasar, manakala emosinya sedang meninggi yang tak tertahankannya, meskipun kekasarannya itu berkadar minim dan biasanya merasa menyesal. Dalam zaman perang hal itu selalu terlihat dan terasa. Tapi yang sebaik-baiknya jangan ada lagi perang !***

Keterangan: artikel ini saya kutip dari www.analisadaily.com, pada Rabu, 2 Desember 2009.

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa



Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sabagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

Guru PNS Dapatkan Tambahan Penghasilan

Guru PNS Dapatkan Tambahan Penghasilan

By Republika Newsroom (http://www.republika.co.id/)
Selasa, 01 Desember 2009 pukul 17:15:00

JAKARTA - Guru PNS seluruh Indonesia mendapatkan tambahan penghasilan sebesar Rp 250 ribu per bulan. Tambahan penghasilan tersebut terhitung mulai 1 Januari 2009. Penetapan itu dituangkan dalam Peraturan presiden (perpres) No 52/2009 tentang tambahan penghasilan bagi guru PNS.

''Pada hari guru tahun ini, saya ingin menyampaikan berita baik kepada saudara-saudara semua, terutama bagi guru yang belum mendapatkan tunjangan profesi. Ditetapkan tambahan penghasilan bagi guru PNS yang belum mendapatkan tunjangan profesi sebesar Rp 250 ribu setiap bulan. Tambahan penghasilan itu diberikan terhitung mulai 1 januari 2009,'' kata Presiden dalam peringatan Hari Guru dan HUT PGRI ke-64 di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Selasa (01/12) sore.

Dikatakannya, saat ini masih ada sekitar 2,1 juta guru di Depdiknas dan sekitar 400 ribu guru di lingkungan Depag yang belum mendapatkan tunjangan profesi. Karena itulah, sambungnya, sebagai penghargaan pemerintah terhadap profesi guru, Presiden telah tantatangani Perpres No 52/2009 tentang tambahan penghasilan bagi guru PNS.

''Kalau terima rapel, ingat ketua umum PGRI, ingat Mendiknas,'' selorohnya. Dengan keluarnya Perpres itu, kata SBY, penghasilan guru terendah, dapat mencapai sekurang-kurangnya mencapai Rp 2juta/bulan.

Presiden menegaskan, langkah tersebut diambil sebagai wujud nyata dari komitmen pemerintah dalam mengembangkan profesinalisme guru. Anggaran yang besar untuk pendidikan juga dialokasikan untuk mengurangi kesenjangan, ketersediaan guru, dan dosen antar daerah dari segi jumlah, mutu, kualifikasi akademi, dan kompetensi.

Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan guru, sambungnya, pemerintah memberikan berbagai tunjangan pada para guru. Pemerintah telah membayar satu kali tunjangan profesi.

Pada tahun 2009, kata SBY, pemerintah meningkatkan sasaran pemberian subsidir tunjangan profesional kepada 478 ribu orang guru, bukan PNS. Pemerintah juga telah memberikan bantuan kesejahteraan kepada lebih dari 30 ribu orang guru yag bertugas di daerah terpencil. Pemerintah juga bertekad untuk meningkatkan pengembangan profesi guru. Tujuannya, agar dapat meningkatkan empat dimensi pendidikan, berdimensi keilmuan, ketrampilan, dan pengembangan kepribadian.

Selain itu, pemerintah juga berupaya meningkatkan kualifikasi para guru setara S1 dan D4 dengan cara memberikan beasiswa. ''Dalam kurun waktu yang tidak lama, guru-guru kita semua memenuhi sertifikasi pendidik sesuai dengna peraturan UU.''

Untuk itu, Presiden meminta para guru dan dosen agar terus bekerja keras, berpikir cerdas dan senantiasa meningkatkan pembinaan profesinya. ''Jadilah teladan bagi anak didik di manapun saudara bertugas dan berada.''

Kepada Mendiknas, pihaknya berpesan agar terus berikan perhatian pada pembinaan guru dan dosen. ''Percepat upaya peningkatan kualifikasi guru melalui pengakuan atas pengalaman kerja dan hasil belajar.''

Sementara itu, kepada pimpinan PGRI, Presiden mengajak untuk terus tingkatkan kualitas dan profesionalisme para guru. ''Berikan dukungan pada upaya pemajuan profesi, pembinaan karir, perluasan wawasan, perlindungan profesi, dan peningkatan kesejahteraan guru.''

Tak hanya itu, Presiden juga berpesan pada pemerintahan di daerah guna melanjutkan semua upaya yang mendukung pengembangan profesi guru. ''Terapkan peningkatan kualitas guru yang semakin terstruktur dan sistematis. Berikan bantuan kepada guru seluas-luasnya dalam program sertifikasi, dan lain-lain.'' dewi mardiani/pur

Ethos, Pathos, dan Logos Presiden SBY



Opini Harian Fajar, Makassar
Edisi Kamis, 26 November 2009

Ethos, Pathos, dan Logos Presiden SBY

Oleh: Asnawin
(Mahasiswa S2 Ilmu Komunikasi Universitas Satria Makassar)

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memang selalu menjadi berita karena beliau seorang presiden. Apalagi sejak merebaknya kasus Bank Century dan isu kriminalisasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sayangnya, pemberitaan tentang SBY akhir-akhir ini cenderung kurang bagus. Sikapnya yang dianggap tidak tegas dalam menangani kasus Bank Century dan isu kriminalisasi KPK, dan lebih khusus lagi dalam menanggapi rekomendasi Tim Pencari Fakta (Tim Delapan) yang dipimpin Adnan Buyung Nasution, membuat banyak pihak mulai meragukan ethos SBY.

Akibatnya, kredibilitas SBY pun mulai menurun. Tulisan ini bukan membahas kasus Bank Century dan isu kriminalisasi KPK, melainkan mencoba melihat kemampuan berkomunikasi SBY sebagai seorang presiden dan dampak yang ditimbulkannya.

Sebelum menjadi Presiden RI pada periode pertama (2004-2009), masyarakat Indonesia menyanjung dan mengelu-elukan SBY. Sebagian besar rakyat Indonesia memuji habis-habisan SBY sebagai tokoh humanis, religius, dan berwibawa. Pendek kata, SBY begitu memesona. Hasilnya, SBY yang berpasangan dengan Jusuf Kalla terpilih menjadi Presiden. Padahal ketika itu, SBY harus "bertarung melawan" tokoh sekaliber Amien Rais, dan juga ada Megawati Soekarnoputri, Wiranto, serta Hamzah Haz.

Saat maju kembali sebagai calon presiden untuk kedua kalinya (2009-2014), SBY juga masih mampu memesona sebagian besar rakyat Indonesia. Hasilnya, SBY yang kali ini berpasangan dengan Boediono, kembali terpilih menjadi presiden.

Mengapa SBY mampu menarik simpati dan begitu memesona di mata sebagian besar rakyat Indonesia? Mengapa sebagian besar rakyat Indonesia tidak terpesona dan tidak bersimpati kepada Jusuf Kalla dan Megawati Soekarnoputri sebagai calon Presiden RI pada Pemilu 2009?

Dalam ilmu komunikasi, SBY dapat dikategorikan sebagai seorang komunikator yang berhasil. SBY mampu mengirim pesan kepada khalayak (rakyat) bahwa dirinya adalah orang yang punya kemampuan dalam memimpin negara, sopan, bermoral, dan dirinya bersih dari KKN.

Sebagai seorang komunikator, SBY mampu mengenal dirinya, mengetahui kemampuan yang dimilikinya, mengetahui keinginan sebagian besar rakyat Indonesia, serta mampu mempertemukan keinginan dirinya dan keinginan sebagian besar rakyat Indonesia.

Selain mampu menciptakan komunikasi yang baik dengan khalayak, SBY juga memiliki kepercayaan (credibility), daya tarik (attractive), dan kekuatan (power). Kepercayaan atau kredibilitas adalah seperangkat persepsi tentang kelebihan-kelebihan yang dimiliki seseorang komunikator, sehingga diterima atau diikuti oleh khalayak.

Kredibilitas menurut Aristoteles (filsuf Yunani), bisa diperoleh jika seorang komunikator memiliki ethos (karakter/pembawaan), pathos (ikatan emosional), dan logos (logis/masuk akal).

Ethos adalah kekuatan yang dimiliki komunikator (pembicara) dari karakter pribadinya, sehingga ucapan-ucapannya dapat dipercaya. Pathos adalah kekuatan yang dimiliki seorang komunikator dalam mengendalikan emosi pendengarnya (penerima pesan), sedangkan logos adalah kekuatan yang dimiliki komunikator melalui argumentasinya (Hafied Cangara, 2009).

Menurut Aristoteles, yang paling besar dan kuat pengaruhnya adalah ethos yang dilatarbelakangi track record, catatan perilaku, dan suri teladan. Ada pula yang mengatakan bahwa ethos terdiri atas pikiran baik, akhlak yang baik, dan maksud yang baik.

SBY tampaknya mampu menampilkan dirinya (mengirim pesan kepada sebagian besar rakyat Indonesia melalui berbagai media) sebagai seorang yang memiliki ethos atau karakter pribadi yang baik, sehingga sebagian besar rakyat Indonesia (penerima pesan) yang terdiri atas berbagai suku, agama, ras, dan golongan, terpesona dan bersimpati kepadanya (efek).

Pada kampanye Pemilu 2009, SBY juga mampu menciptakan pathos atau ikatan emosional yang baik dengan sebagian besar rakyat Indonesia. SBY dan Boediono menampilkan diri sebagai pasangan capres dan cawapres yang berasal dari rakyat, bukan dari kalangan istana (Megawati) dan bukan dari kalangan orang kaya atau pengusaha (Jusuf Kalla).

Argumentasi yang disampaikan SBY dalam berbagai sesi tanya jawab saat kampanye Pemilu 2009, oleh sebagian besar rakyat Indonesia juga dianggap masuk akal (logos atau logis). SBY seolah-olah ingin menyampaikan pesan kepada rakyat Indonesia bahwa dalam memilih calon pemimpin negara, jangan hanya mendengar apa yang disampaikan atau diucapkan seseorang, tetapi lihat juga latar belakang dan pembawaannya.

Karena telanjur mendapatkan simpati dan memesona sebagian besar rakyat Indonesia, SBY akhirnya mampu mengalahkan Jusuf Kalla dan Megawati pada Pemilu 2009. Sebaliknya, Jusuf Kalla dan Megawati yang sudah berupaya secara maksimal, gagal menarik simpati dan memesona sebagian besar rakyat Indonesia, karena ethos, pathos, dan logos mereka tidak sesempurna SBY.

Ujian Berat

Keberhasilan SBY dalam berkomunikasi dengan rakyat Indonesia pada Pemilu 2009 yang membuat dirinya terpilih kembali sebagai Presiden RI, kini mendapat ujian berat dengan merebaknya kasus Bank Century dan isu kriminalisasi KPK.

Mampukah SBY mengkomunikasikan masalah-masalah tersebut dengan para pembantu dekatnya dan para menterinya, serta dengan rakyat yang dipimpinnya? Mampukah SBY mengambil keputusan yang tepat agar kredibilitasnya tetap terjaga dan komunikasinya dengan rakyat Indonesia tetap terjalin dengan baik? Kita lihat saja nanti.

Yang pasti, anggota DPR RI yang konon sebagian besar "berada di bawah kendalinya", kini sudah hampir pasti akan menggunakan hak angket. Artinya, ada komunikasi yang tidak mengena alias tidak bagus antara SBY dengan "anggota-anggotanya".

Selain itu, kini juga sudah mulai terbentuk opini publik bahwa SBY secara tidak langsung terlibat dalam kasus Bank Century dan dalam kasus upaya mengkriminalkan anggota KPK. Di sisi lain, akibat tidak terciptanya komunikasi yang baik, ormas-ormas besar pun sudah mulai "menyerang" dengan berbagai cara, kepemimpinan dan berbagai langkah SBY.

Bagaimana masa depan kepemimpinan SBY, sangat menarik kita tunggu bersama. Kita berharap SBY mampu mengambil langkah dan kebijakan yang tepat, serta mampu berkomunikasi secara baik dengan berbagai pihak agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. (**)

Rahasia Penulis Cerita Anak



Rahasia Penulis Cerita Anak

oleh : Yons Achmad*

Bagaimana menulis cerita anak? Jawabnya mungkin gampang-gampang susah. Mengenai teknisnya mungkin bisa dipelajari dan dilatih terus menerus. Tapi, yang kadang susah saya kira menemukan ide ceritanya. Menulis cerita anak mengharuskan kita menyelami dunia anak-anak, menulis yang sekiranya bisa dimengerti oleh mereka. Dan tentunya, seperti banyak pakar kepenulisan bilang, jangan terlalu menggurui.

Mengenai ide cerita, saya mendapatkan sedikit pencerahan setelah membaca novel Perahu Kertas karya Dewi “Dee” Lestari yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Memang novel itu tidak sepesifik bercerita mengenai kepenulisan cerita anak. Namun, melalui salah satu tokohnya, kita bisa belajar mengenai hal itu.

Dalam novel itu, ada tokoh bernama Kugy, cewek yang punya mimpi menjadi juru dongeng alias penulis cerita anak. Dia bereksperimen mengunjungi salah satu sekolah alam “Sakola Alit” di pedalaman. Dan mencoba mendongengi mereka dengan kisah Teddy Bear, Snow White, Peter Pan, Red Riding Hood dll. Hasilnya, murid-murid sekolah itu hanya terbengong-bengong karena tak mengerti. Cerita itu tak dipahami mereka. Sebab dunia mereka memang tidak dekat dengan tokoh-tokoh yang diceritakan Kugy.

Akhirnya, dia menciptakan tokoh-tokoh berkharakter sesuai dengan lingkungan mereka. Lantas, dia menemuka ide cerita Jenderal Pilik dan Pasukan Alit. Tokoh-tokohnya Hogi Si Ayam Pelung Keramat, Palmo si Kambing Nekad, Gogog si Anjing Jago Renang, Somad Sang Pendekar Tanpa Tanda Tanda dll.

Hasilnya, seperti ada kejaiban. Setelah Kugy membuat sesuatu dari dunia mereka, sesuatu yang mereka kenal, mendadak seperti ada sesuatu yang dihidupkan dalam diri mereka (anak-anak itu). Lantas, mereka kemudian sangat girang, seperti ada harapan, kebanggaan dan semangat. Itulah sebagian penggalan cerita dalam novel karya Dee yang laris manis itu. Sebuah pelajaran yang bisa kita ambil ketika akan menulis cerita anak-anak.

Memang benar adanya bahwa tokoh menjadi begitu penting dalam cerita anak. Kadang cerita sebagus apapun (dalam kacamata orang dewasa) tak begitu menarik anak-anak yang membacanya jika tokohnya tidak mereka sukai. Disinilah rasanya penting menciptakaan tokoh yang bisa menjadi kebanggaan, dapat menjadi teman, bahkan idola mereka. Dalam memunculkan tokoh itu juga ada strateginya, kalau bisa jangan menciptakan tokoh yang terlalu banyak dalam cerita sebab akan membuat bingung anak-anak. Mereka akan kesusahan dalam mengidentifikasi tokoh-tokoh yang ada.

Dalam novel tersebut, ada satu kebiasaan yang dilakukan oleh Kugy, yaitu selalu mencatat apa-apa yang dialaminya bersama anak-anak sekolah alam itu. Selain mencatat, juga membuat sketsa-sketsa. Buku itu semacam “Buku Sakti” yang kelak akan menjadi pertimbangan dan rujukan ketika akan menulis cerita anak. Seperti kebanyakan penulis, tak terkecuali penulis cerita anak, memang kebanyakan mempunyai buku kecil yang digunakan untuk mencatat kejadian, peristiwa menarik yang ditemuinya, atau mencatat ide-ide yang muncul agar tidak hilang begitu saja.

Ini sebagian rahasia bagaimana menjadi seorang penulis cerita anak dalam novel best seller ini. Menang belum sepenuhnya rahasia itu dimunculkan oleh pengarangnya. Tapi setidaknya memberikan gambaran bagaimana seorang penulis cerita anak itu perlu menyelami kehidupan sosial mereka. Agar bisa menuliskan cerita yang mudah dipahami, mudah dimengerti, dekat dengan dunia mereka. Yang akhirnya menjadi bacaan menyenangkan dan mengasyikkan bagi anak-anak.

Begitulah Dee, baik sadar atau tidak sadar telah mengajarkan kita menemukan rahasia bagaimana bisa berkarya menjadi penulis cerita anak. Setelah bisa menyelami dunia-anak-anak dan menemukan ide cerita, hanya satu agenda kita sekarang yaitu MENULISKANNYA. So, Selamat bekerja, semoga berhasil ya :-).

*Penulis, Publisis, Penikmat Sastra & Pengelola http://komunikata. net
--
==========
yons achmad
penulis | publisis| konsultan media
founder http://komunikata. net
blog : http://penakayu. blogspot. com

LOMBA KISAH KASIH IBU

LOMBA KISAH KASIH IBU
Word Smart Center dan Penerbit Mizan


Kasih ibu
kepada beta
tak terhingga
sepanjang masa

hanya memberi
tak harap kembali
bagai sang surya
menyinari dunia

* * *

"...dengan setinggi-tingginja budi dan semulia-mulianja tenaga mendjalankan kewadjiban "keperempuanannja" mendidik putera-puteranja, dengan keinsjafan dan keridlaan-niat jang tertentu, sebenarnja mendidik putera-puteranja natie:--Hendaklah mereka terutama terhadap pada kewajiban keperempuannja mendidik anak-anaknja, dengan insjaf seinsjaf-insjafnja, bahwa selamat-tjelakanja bangsa sebenar-benarnja adalah di dalam genggaman mereka itu. Hendaklah mereka oleh karenanja, semuanya bertabiat sebagai ibu jang besar...." (Kongres Kaum Ibu --"suluh Indonesia Muda", 1928-- dalam buku Dibawah Bendera Revolusi, Ir. Soekarno [1959])

* * *

Lebih dari 75 negara di belahan dunia, seperti Amerika, Kanada, Jerman, Italia, Belanda, Jepang, Taiwan, Hongkong, Malaysia, Singapura, Australia dan seterus, merayakan Hari Ibu atau Mother's Day pada hari Minggu di pekan kedua bulan Mei untuk mengenang aktivis sosial Julia Ward Howe (1870) mencanangkan pentingnya perempuan bersatu melawan perang saudara. Beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Ibu diperingati setiap bulan Maret untuk memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronus, dan ibu para dewa dalam sejarah Yunani Kuno. Sedangkan di Indonesia berdasarkan keputusan Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938 dan dikukuh oleh Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu Indonesia untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa.

Sebagai seorang anak, kita berkewajiban agar ibu kita selalu berbahagia. Kita merayakan mereka, bukan karena sebagaimana termaktub di atas. Bukan karena mereka berani mengangkat senjata seperti Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain. Bukan karena mereka bangkit memperjuangkan hak-hak perempuan seperti yang dilakukan oleh Kowani (Kongres Wanita Indonesia). Bukan pula karena mereka menjadi pemimpin bangsa sebagaimana dilakukan oleh Maria Ulfah yang menjadi menteri wanita pertama kali tahun 1950.

Kita persembahkan Hari Ibu/Mother's Day karena selama sembilan bulan kita bersemayam dalam rahim ibu kita; karena mereka berteriak dan berdarah-darah saat melahirkan ke dunia ini; karena mereka selama dua tahun memberi kita ASI penuh dengan kesulitan dan kurang tidur; karena mereka mengantarkan kita ke masa balita penuh dengan rasa cemas; karena mereka menyekolahkan kita dengan banting tulang dan rintihan do'a, karena mereka membimbing kita akan mendapatkan pekerjaan; dan karena tetap menyanyangi kita hingga akhir hayat.

Yang paling utama adalah, kita melakukannya, karena perintah Allah Swt: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. . Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Israa[17] : 23) Dan tentu saja untuk berbuat baik itu tidak harus menunggu tanggal 22 Desember setiap tahun sekali, melainkan tiap hari, bahkan tiap detak jantung kita.

Dan salah satu cara kita berbuat baik terhadap mereka adalah mengabadikan kasih sayang mereka itu dalam bentuk tulisan. Sebab, dengan menuliskan perjuangan mereka membesarkan kita, kejujuran mereka dalam menasehati kita, kedisiplinan dan keadilan mereka dalam membentuk karakter kita, dan masih banyak prinsip-prinsip atau pun nilai-nilai yang mereka berikan kepada kita, merupakan sebuah sarana agar mereka menjadi buah tutur yang baik sebagaimana Nabi Ibarahim Alaihis salam pinta: "Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." (QS. Asy-Syu'ara [26]: 84)


Oleh sebab itu, WORD SMART CENTER sebagai komunitas dunia kepenulisan dan perbukuan --bervisi Menuju Indonesia Mulia, Cerdas, Mandiri, dan Kreatif-- bekerjasama dengan Penerbit Mizan menyelenggarakan acara LOMBA KISAH KASIH IBU sebagai kado cinta kepada kaum ibu.

T E M A

Lomba ini bertemakan:

"Kasih Ibu Sepanjang Masa, Selalu Memberi Tak Harap Kembali"

K A T A G O R I L O M B A

Katagori lomba adalah nonfiksi dalam bentuk esai, memoar, biografi singkat, atau tulisan seperti dalam buku Chicken Soup.

K R I T E R I A C E R I T A dan I S I T U L I S A N

1. Cerita harus berdasarkan kisah nyata (real story) atau berdasarkan fakta dan bisa dipertanggungjawabk an kebenarannya, baik dialami oleh penulis sendiri, atau orang lain;
2. Isi cerita tidak boleh melanggar SARA, bernuansa pornografi, atau bertentangan dengan prinsip dan nilai kebenaran;
3. Cerita atau isi tulisan harus memberikan motivasi, inspirasi, dan pelajaran berharga bagi para pembaca.


K R I T E R I A N A S K A H

1. Berupa naskah tertulis dan disajikan secara sistimatis, sinkron, dan tuntas (tidak bersambung);
2. Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar;
3. Naskah belum pernah diikutkan dalam lomba menulis, tidak sedang diikutkan dalam lomba menulis lainnya, atau disertakan dalam pembuatan buku antologi;
4. Naskah asli (karya sendiri) dan belum pernah diterbitkan dan atau dipublikasikan di media massa;
5. Naskah lomba minimal 5 halaman dan maksimal 15 halaman, ukuran kertas A4, spasi 1,5, jenis huruf Times New Roman, ukuran huruf 12;
6. Menyertakan biodata singkat atau identitas lengkap (file terpisah dari naskah lomba), meliputi: nama lengkap, TTL, pendidikan, alamat lengkap, nomor telepon/HP, email, no. rekening, plus fotokopi/scan (dengan resolusi secukupnya, tidak perlu terlalu tinggi/besar) kartu identitas diri (KTP/Pasport/ SIM/dsb).
7. Bersedia menerima sangsi hukum apabila naskah terbukti hasil plagiasi dan atau terjemahan.

P E N G I R I M A N N A S K A H

- Naskah diterima panitia paling lambat tanggal 10 Desember 2009;
- Naskah diberikan dalam bentuk soft copy (file) yang dikirim ke e-mail kisahkasihibu@ yahoo.com dan dicckan ke wordsmartcenter@ gmail.com;
- Semua naskah tidak dikembalikan dan menjadi hak milik panitia.

K R I T E R I A P E S E R T A

1. Peserta lomba terdiri atas pelajar, mahasiswa, karyawan, ibu rumah tangga, dan masyarakat umum WNI (tanpa batasan usia), baik berdomisili di Indonesia maupun di luar negeri;
2. Setiap peserta boleh mengirim lebih dari satu naskah, sebanyak-banyaknya tanpa batas;
3. Peserta bukan tim penilai/juri;
4. Panitia lomba boleh mengikuti lomba;
5. Peserta terdaftar sebagai member milis wordsmartcenter@ yahoogroups. com (bagi yang belum terdaftar silahkan mendaftarkan diri ke alamat ini: http://groups. yahoo.com/ group/wordsmartc enter/, atau mengirim e-mail kosong ke: wordsmartcenter- subcribe@ yahoogroups. com atau wordsmartcenter@ yahoo.com)

P E N G U M U M A N P E M E N A NG

- Pemenang lomba akan diumumkan pada tanggal 22 Desember 2009 bertepatan dengan HARI IBU (Mother's Day) di milis wordsmartcenter@ yahoogroups. com.
- Pemenang akan dihubungi panitia lewat e-mail/SMS untuk menerima hadiah.

H A D I A H

- Juara pertama sebesar USD 200 (Dua ratus Dolar Amerika)
- Juara kedua sebesar USD 150 (Seratus Lima Puluh Dolar Amerika)
- Juara ketiga sebesar USD 100 (Seratus Dolar Amerika)
- 3 juara harapan mendapatkan paket hadiah buku senilai Rp. 200.000,- dari Penerbit Mizan.
- 4 juara hiburan mendapatkan hadiah buku senilai Rp. 100.000,- dari Penerbit Mizan.
- Biaya pengiriman hadiah untuk juara I, II, dan III ditanggung oleh para pemenang.

H A K C I P T A

- Hak cipta ada pada penulis naskah;
- Hak terbit ada pada Word Smart Center untuk satu kali penerbitan;
- Royalti akan dihibahkan untuk kegiatan dan program Word Smart Center;
- Setiapkali buku terbit para penulis akan mendapatkan 3 eksemplar dari penerbit.

Didukung oleh:
www.radioppidunia. com dan www.matadunia. com

Keterangan lebih lanjut hubungi:
Udo Yamin Majdi (+20108158391) atau Rashid Satari (+20100120381) atau kirim e-mail ke: kisahkasihibu@yahoo.com

9 Saran untuk Menghadapi "Media Baru"

Flag this message
[mediacare] 9 Saran untuk Menghadapi "Media Baru"
Sunday, November 29, 2009 8:51 PM
From:
"AG. Eka Wenats Wuryanta"
Add sender to Contacts
To:
mediacare@yahoogroups.com

oleh Enda Nasution (http://enda.goblogmedia.com)

Dalam dua minggu kebelakang ini media massa diributkan atas peristiwa diajukannya somasi oleh harian nasional KOMPAS dan wartawannya Sidik Pramono pada Basuki Suhardiman, yang kemudian berbuntut dilaporkannya Basuki Suhardiman dengan tuntutan mencemarkan nama baik pada hari Jumat, 6 Mei lalu ke Kepolisian Mapolda Metro Jaya.
Somasi dan pelaporan terhadap Basuki Suhardiman, Sekretaris Tim Ahli Teknologi Informasi (TI) KPU ini dipicu oleh email anonim yang beratas nama "Satria Kepencet" yang di-forward oleh Basuki ke milis internal ITB, dimana Basuki merupakan salah satu anggota yang biasa berdiskusi di milis tersebut.
Tindakan pengajuan somasi dan kemudian pelaporan yang dilakukan KOMPAS dan Sidik Pramono ini menimbulkan reaksi keras di kalangan miliser [mereka yang biasa bermilis] dan para blogger [para pemilik blog] yang menganggap apa yang dilakukan KOMPAS salah alamat dan overacting bahkan menunjukkan ketidakmengertian KOMPAS terhadap dinamika perseliweran informasi di Internet.
KOMPAS kemudian dalam dua kesempatan menurunkan kolom opini pada tanggal 2 Mei "Tendangan Milis" dan kolom 8@9 dengan judul "Media Baru" yang makin menunjukkan ketidakmengertianny a pada apa yang mereka sebut "Media Baru" ini, sebuah hal yang tidak mengherankan sekaligus menyedihkan, karena KOMPAS (berarti sebagai "Media Lama"?) yang sehari-hari bergelut dengan informasi, ternyata bisa sedemikian tertinggal pengetahuannya tentang "Media Baru"
Bukan itu saja, reaksi balasan dari KOMPAS ataupun pribadi yang mengatasnamakan KOMPAS juga muncul, berupa email pribadi dan komentar-komentar anonim (setiap blog memberikan fasilitas feedback dimana pembaca dapat memberikan komentar) yang sama sekali tidak membantu dan bersifat emosionil.
Seluruh tindakan KOMPAS ini baik yang resmi berupa somasi dan pelaporan pada pihak kepolisian maupun kolom opini dan respon pada penulis blog bukan saja justru memberikan kredibilitas berlebih pada kritik yang asalnya bahkan oleh masyarakat Internet dan anggota milis ITB diacuhkan sebelumnya tapi juga tidak menyelesaikan masalah.
Tidak perlu ada yang merasa nama baiknya “dicemarkan” jika Sidik Pramono dan KOMPAS serta media lainnya mau sedikit memahami dan mengetahui bagaimana dinamika “Media Baru” dan apa yang sudah, tengah dan biasa terjadi disana.
Posting Priyadi, seorang blogger yang alamatnya berada di Priyadi.net, salah seorang aktifis blogger Indonesia , dengan judul "KOMPAS dan Intenet" (http://priyadi. net/archives/ 2005/05/10/ KOMPAS-dan- internet/) memberikan tanggapan, kesimpulan dan juga saran agar siapapun untuk jangan malas mempelajari "Media Baru" ini sebelum bereaksi lebih jauh.
Keluar dari permasalahan diatas, ketidakmengertian KOMPAS dan kemungkinan besar banyak pihak terhadap dinamika "Media Baru" baik itu milis, forum maupun blog dapat mudah dimengerti. Internet baru baru berjalan kurang lebih 10 tahun tahun, blog hadir lebih baru lagi, baru sekitar 4-5 tahun dikenal oleh masyarakat Indonesia .
Hal diatas dan keterkejutan banyak pihak melihat begitu mudahnya masyarakat Internet memiliki "media" dan menyebarkan informasi di Internet karenanya adalah wajar, dan bukannya tanpa solusi.
Apa yang dialami KOMPAS diatas, datangnya kritik tajam, dapat terjadi pada siapa saja, baik itu individu, nama perusahaan, nama media, nama merek atau apa saja.
Menangkal ini dengan menabur somasi, seperti pada kasus KOMPAS, pada para pengguna "Media Baru" bukan saja tindakan yang tidak strategis dan menunjukkan ketidaktahuan tapi juga justru memberikan kredibilitas pada kritik yang dimaksud dan menimbulkan kecurigaan.
Setiap "dunia" memiliki mata uang-nya (currency) sendiri-sendiri. Apa yang berlaku di satu negara sudah pasti tidak berlaku di negara lain. Memaksakan cara-cara dunia nyata dan media lama pada media baru dapat dianalogikan seperti mencoba membeli hamburger di tengah kota New York dengan uang Rupiah, Anda akan ditertawakan karena Rupiah tidak berlaku di New York , Amerika Serikat.
Satu-satunya mata uang yang laku di "Media Baru" adalah informasi. Penyampaian informasi dengan gaya yang dimengerti oleh para pengguna "Media Baru" dan nilai informasi itu sendiri, itulah yang akan berpengaruh pada dialog yang terjadi di Internet.
Lalu apa yang harus dilakukan jika nama Anda, merek yang perusahaan Anda bangun dengan investasi ratusan juta rupiah menabur kritikan tajam di "Media Baru"?
9 tips dibawah ini mungkin dapat membantu :
1. Sadari bahwa apa yang Anda hadapi adalah "Media Baru" dan "mata uang" Anda di dunia lama bisa jadi tidak bernilai apa-apa disini. Investasikan waktu untuk mempelajari apa yang bisa dan jangan dilakukan di "Media Baru" atau pekerjakan orang yang tahu.
2. Identifikasi para "pemimpin" komunitas di Internet, baik itu milis ataupun blogger. Tidak ada cap "pemimpin" khusus disini, ataupun jabatan ketua. Mereka ini adalah orang-orang yang setiap harinya berkecimpung di Internet, luwes dan mengerti bagaimana cara menyampaikan informasi di Internet, tahu informasi apa yang berharga dan tidak berharga untuk diteruskan dan punya kegemaran khusus mengendus ketidakakuratan dan ketidakadilan di dunia luar.
3. Jelaskan informasi dari pihak Anda dengan jelas, lengkap, jujur adil, tidak emosional dan tidak overacting. Jangan memyembunyikan apa-apa, karena jika ada informasi yang Anda sembunyikan atau sengaja Anda hilangkan dan informasi itu tersebar, maka kredibilitas Anda di Internet hancur seketika.
4. Akui kesalahan Anda jika memang itu telah dilakukan, terangkan apa alasannya jika memang ada alasan dan sebabnya. Mohon maaf bila perlu. Cantumkan ini pada pernyataan dan penjelasan informasi dari pihak Anda diatas.
5. Dukung keterangan dan informasi Anda diatas dengan referensi berupa link-link ke website-website lain yang bisa Anda temukan. Cantumkan link ini pada pernyataan Anda diatas.
6. Pasang pernyataan Anda diatas pada sebuah alamat web, karena dengan cara ini pernyataan Anda akan mudah di-link dan akan menjadi bagian dari dialog di Internet. Cantumkan di website perusahaan Anda, website merek atau website pribadi Anda. Buat website tersebut jika belum ada, membuat website sekarang mudah, murah dan cepat. Jangan lupa cantumkan juga alamat email yang dapat dihubungi.
7. Informasikan pertanyaan Anda diatas pada para "pemimpin komunitas" tadi lewat email. Jangan sembunyikan apapun, beritahukan dengan jelas siapa Anda dan dari pihak mana Anda serta apa latar belakang dari pertanyaan tadi. Jangan menganggap rendah dan mengasumsikan bahwa para blogger atau miliser ini tidak akan mengecek informasi yang Anda berikan dan mudah dipengaruhi.
8. Jika nilai nama yang dipertaruhkan terlalu tinggi, nama merek dengan investasi milyaran rupiah maka sewa tenaga profesional. Cari kantor PR yang mengerti, memahami dan biasa menangani dinamika "Media Baru" ini. Periksa dengan seksama apa mereka memang mengerti dan ahli di bidang "Media Baru" dan bukan mengaku-ngaku. Kantor Online PR yang bermutu tidak hanya dapat merespon kritik yang datang di Internet tapi juga akan melakukan online media monitoring pada nama atau merek Anda di Internet.
9. Miliki blog dan pekerjakan seorang blogger. Apakah Anda ini seorang individu, perusahaan, merek ataupun media. Makin banyak sekarang organisasi yang memiliki fitur blog selain website resminya. Blog adalah website dengan sentuhan pribadi yang sering diupdate dan bersifat interaktif. Banyak manfaat memilik blog bagi Anda selain dari merespon kritikan di Internet, dengan blog organisasi Anda akan memiliki sentuhan pribadi, menerima masukan lebih banyak serta lebih lancar berkomunikasi dengan klien, pelanggan maupun mitrausaha Anda. Microsoft memiliki blog, General Motors memiliki blog, BusinessWeek memiliki blog. Sudah saatnya Anda dan organisasi Anda juga memiliki blog.
Enda Nasution, seorang blogger sejak September 2001, tinggal di Bangkok, Thailand.
Posted By AG. Eka Wenats Wuryanta to Kritisisme Media: AG. Eka Wenats Wuryanta at 11/29/2009 09:40:00 PM

Internet dan Revolusi Media

Flag this message
[mediacare]

Internet dan Revolusi Media

Sunday, November 29, 2009 8:56 PM
From:
"AG. Eka Wenats Wuryanta"
Add sender to Contacts
To:
mediacare@yahoogroups.com


Oleh: Onno W. Purbo

Media konvensional terutama media cetak sangat terasa nuasa pengiriman informasi satu arah yang sangat lambat. Media radio & TV di integrasikan dengan kemampuan live talkshow yang didukung FAX & telepon menjadikan media radio & TV lebih bersifat dua arah daripada media cetak. Ciri khas media konvensional ini, selain lebih bernuasa satu arah, peralatan di sisi pemirsa-nya (jika dibutuhkan) relatif murah terutama media cetak & radio. Kekuatan ini akan terus menjadi penunjang media konvensional Indonesia sampai pada titik dimana seluruh bangsa Indonesia tersambung ke Internet. Entah kapan ..

Dalam media baru, seperti Internet, sangat kontradiktif dengan media konvensional maka kemampuan interaksi & customisasi menjadi sangat tinggi sekali. Bagi anda yang hidup 80-90% di Internet, terutama aktif di berbagai mailing list tempat diskusi di Internet yang sangat interaktif – maka hampir pasti anda jarang membaca detail koran & majalah yang ada, paling cukup melihat judul artikel & sedikit browsing untuk melihat keakuratan beritanya. Mengapa hal ini terjadi? Para pengguna aktif Internet, biasanya sudah memperoleh inside information dari berbagai diskusi di mailing list tersebut, informasi yang ada di majalah & media konvensional biasanya sudah “basi” untuk mereka.

Beruntung sekali hanya ada 1% bangsa Indonesia yang terkait ke Internet pada hari ini & naga-naganya masih akan lama sebelum kita melihat 100% bangsa Indonesia di Internet. Kondisi ini menjadi peluang bagi media konvensional untuk berkiprah, di luar tantangan adanya proses lokalisasi media yang menjadi ancaman langsung bagi media nasional. Dalam dunia media cetak, kita kenal koran daerah, majalah daerah dll. Memang dalam dunia radio & TV ancamannya belum separah media cetak, bayangkan jika konsep community broadcasting di setujui oleh DPR untuk menjamin Hak Azasi bangsa Indonesia akan akses ke informasi seperti yang dijamin oleh Amandemen ke dua UUD 45 pasal 28F. Urusan pasti akan berabe bagi dunia radio & TV.

Jaringan / networking antar radio, TV, media cetak maupun media internet menjadi kunci keberhasilan seorang kampiun media di masa datang. Sialnya banyak media melihat / berfikir bahwa internet untuk memindahkan siarannya / tayangannya. Saya pikir pola fikir / pendapat ini amat sangat salah. Pada hari ini, memindahkan siaran, tulisan & tayangan ke Internet tidak akan menimbulkan keuntungan yang maksimal untuk media konvensional – mengapa? Karena pemirsa di Internet memerlukan peralatan yang jauh lebih mahal & jauh lebih kompleks daripada media konvensional biasa. Akibatnya, tidak akan dapat kita menjangkau banyak pemirsa di Internet. Anda masih lebih baik memfokuskan pada pemirsa di dataran konvensional yang ada saja.

Beruntung sekali mitra usaha, nara sumber, mitra media lainnya pada saat ini sudah banyak yang berada di internet. Effisiensi networking antar media & nara sumbernya menjadi sangat memungkinkan & jauh lebih effisien melalui Internet. Contoh, liputan berita PRSSNI dapat dengan mudah di sebarluaskan melalui mailing list antar radio. Pendapat para nara sumber yang kadang terkesan ekstrim akan dapat dengan mudah di tap & di monitor di berberapa mailing list di Internet khususnya di bidang teknologi informasi yang nara sumber-nya biasanya agak vokal & berani berteriak di mailing list.

Teknologi informasi akan sangat terasa baik untuk effisiensi dalam pembangunan jaringan antar media, misalnya pencetakan jarak jauh, telepon internet yang harga SLJJ-nya 1/8 SLJJ normal, maupun networking antar media & nara sumber-nya. Di samping itu, teknologi informasi juga akan memudahkan media mengeffisiensikan proses internal mereka misalnya penggunaan MP3 di radio, komputerisasi siaran, belum termasuk database berita untuk membangun sumber pengetahuan bagi jurnalist yang sedang membuat laporan.

Dalam bahasa sederhana, media konvensional akan tetap berjaya selama bangsa Indonesia masih bodo & gaptek. Teknologi informasi akan membantu terbentuknya jaringan media & peningkatan kualitas media tersebut.


--
Posted By AG. Eka Wenats Wuryanta to Kritisisme Media: AG. Eka Wenats Wuryanta at 11/29/2009 09:52:00 PM

Muslim AS datang Sebelum Columbus Tiba



Muslim AS datang Sebelum Columbus Tiba

Saturday, 28 November 2009 20:46
Muslim tiba di Amerika bahkan sebelum Christopher Columbus tiba pada 1492. Mereka juga berjuang membela kemerdekaan Amerika

Hidayatullah. com—Umat Islam Amerika akan menggaruk-garukkan kepalanya jika ditanya, siapa orang Islam yang datang pertama kali ke negara itu, apakah petinju Muhammad Ali atau mungkin Malcolm X.

Namun, kemarin, mitos cerita itu terpecahkan setelah di Negara bagian North Carolina, AS, menggelar pameran 'Muslims in America'. Pameran yang diadakan di sebuah masjid di Shaw University untuk memamerkan warisan orang muslim pada masa-masa awal dan kontribusinya dalam membangun Amerika.

Dalam pameran ini dipajang berbagai potret, surat-menyurat dan batu nisan yang menunjukkan orang Muslim tiba di Amerika bahkan sebelum Christopher Columbus tiba pada 1492.

Pameran, "Muslims in America," menunjukkan bahwa penjelajah Muslim mungkin telah mendahului Christopher Columbus dan umat Islam telah berjuang dalam setiap perang dalam sejarah Amerika sejak Perang Revolusi pada 1775-1783. Catatan sensus menunjukkan lebih 300 orang dengan nama keluarga dari daerah-daerah Muslim ikut bertempur dalam Perang Kemerdekaan.

Sekitar 200 orang dewasa dan anak-anak menatap fotokopi surat, potret dan batu nisan dan memperhatikan bahwa North Carolina sebagai bukti salah satu tempat budak Muslim paling cendekia, Omar Ibn Sayyid Fayetteville.

"Saya belajar ini di perguruan tetapi saya tidak mengetahui peran North Carolina," ujar Jamaal Albany, seorang guru di Al-Iman, sekolah Muslim hari Minggu di Raleigh, yang juga membawa serta ketujuh muridnya mengunjungi pameran. "Mengherankan, " ujarnya.

Pameran ini digagas Amir Muhammad, seorang ahli sejarah di Washington yang awalnya pergi mencari akar keluarganya sendiri di Georgia belasan tahun yang lalu dan tersandung pada jejak Muslim masa lalu yang terlupakan. Mereka terdiri dari Muslim Afrika Barat yang dibawa ke negara ini sebagai budak.

Muhammad telah membawa pameran ini dari Maine ke California, berhenti di setiap kota selama beberapa jam. Selain potret asli dan beberapa artefak langka ia pamerkan untuk menunjukkan keterlibatan kaum Muslim di Negara itu.

Sumbangan North Carolina sampai sejarah Muslim Amerika sudah dimulai oleh Sayyid, seorang pria yang dilahirkan di Senegal pada 1770. Ia asalah seorang sarjana Muslim yang dapat membaca dan menulis bahasa Arab, namun diperbudak pada usia 37 dan tiba di Charleston, S.C., pada 1807.

Empat tahun kemudian, ia melarikan diri ke Fayetteville dan setelah beberapa saat di penjara, mendorong James Owen, seorang jenderal di negara milisi, untuk membeli dia. Sayyid menulis biografinya dalam bahasa Arab, dan menjelang akhir hidupnya meminta sebuah Alkitab dalam bahasa Arab. (Alkitab berbahasa Arab yang sekarang bertempat di Davidson College)

"Ini adalah saudara laki-laki kami yang tidak pernah mengetahui sejarah," ujar Haji Ali Abdul Malik dari Raleigh, yang ikut menghadiri melihat pameran. "Sekarang mereka sedang melihat cahaya."

Meskipun sejarawan dapat berdalih bahwa kebanyakan budak bukan Muslim, jelas bahwa para pemimpin Amerika di masa awal sangat terbuka dan menghormati Islam. Mereka juga memperlakukan dengan penuh hormat. Fitur-fitur menunjukkan surat yang ditulis oleh George Washington kepada Raja Maroko dan perjanjian damai ditandatangani oleh John Adams dan Thomas Jefferson antara AS dan Maroko.

Dalam presentasi dalam bentuk Power Point, di Masjid Shaw, Muhammad menunjukkan catatan Sensus berisi 584 prajurit dengan nama terakhir Muhammad (33 dieja cara yang berbeda) yang ikut berperang dalam Perang Dunia I.

"Kami bagian dari masyarakat Amerika," kata Muhammad. "Itu tidak dimulai dengan Nation of Islam, dan itu tidak datang dengan gelombang imigran pada 1960-an." [newsobserver/cha/www.hidayatullah.com

Cerita Jusuf Kalla tentang Bank Century

Thursday, November 26, 2009

Cerita Jusuf Kalla tentang Bank Century

Ask the Tribun Timur Editor
Sumber: http://www.tribun-timur.com/read/artikel/59796
Cerita Jusuf Kalla tentang Bank Century
Catatan Dahlan, wartawan Tribun
Rabu, 25 November 2009 | 01:02 WITA

13 November 2008. Pagi. Bank Century kolaps, bangkrut. Bank itu kalah kliring. Sore harinya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama rombongan, termasuk Menteri Keuangan Sri Mulyani, terbang menuju Washington, Amerika Serikat, untuk menghadiri pertemuan G-20.

Sri Mulyani melaporkan kondisi Bank Century kepada SBY, 14 November. Hari itu juga, Sri Mulyani kembali ke Tanah Air. Tiba 17 November. Keadaan gawat. Sejumlah tindakan genting harus diambil.
Sejumlah rapat dengan Gubernur Bank Indonesia ketika itu, Boediono, harus segera digelar.

***

PUKUL 03.30 waktu Jakarta, Rabu, 26 November 2008. Udara terasa dingin. Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, sepi. Pesawat Airbus A330-341 mendarat dengan mulus.
Setelah melewati penerbangan meletihkan 30 jam dari Lima, Peru, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan rombongan turun dari pesawat.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyambut SBY dan rombongan di tangga pesawat. Kalla bukan hanya siap menyambut, melainkan juga siap melaporkan perkembangan di Tanah Air selama presiden ke luar negeri.

Selama SBY melakukan misi 16 hari di luar negeri (ke Amerika Serikat, Meksiko, Brasil, dan Peru), Kalla memimpin negara dan pemerintahan. Karena itu, ia segera melaporkan perkembangan di Tanah Air begitu pemberi mandat tiba.

Banyak yang dilaporkan. Salah satunya soal Bank Century. Ia melaporkan bagaimana Sri Mulyani dan Boediono menangani Bank Century.

Kalla juga melaporkan, "Saya sudah memerintahkan Kapolri untuk menangkap Robert Tantular (pemilik Bank Century). Ini perampokan."

"Baik, baik ...," begitu reaksi presiden seperti dikutip Kalla ketika menceritakan kisah tersebut di Studio Trans Kalla, Tanjung Bunga, Makassar, Selasa (24/11).

Kalla terlihat lebih gemuk. Berat badannya naik dua kilo sejak lepas dari kesibukan sebagai wakil presiden, 20 Oktober lalu.

Dengan air muka yang cerah, Kalla berkata: "Sekarang tanggal 24 (November). Besok tanggal 25, persis setahun ketika Ani (Sri Mulyani) dan Boediono melaporkan Bank Century di kantor saya."

***

ISTANA Wakil Presiden RI, Jakarta, pukul 16.00 WIB, Selasa, 25 November 2008. Kalla ingat persis tanggal ini, lengkap dengan harinya.

Ketika itu, ditemani stafnya masing-masing, Sri Mulyani dan Boediono melapor kepadanya mengenai Bank Century. Mereka harus melapor ke wapres karena presiden sedang di luar negeri. Pemilu presiden masih setahun lagi dan hubungan SBY-Kalla masih mesra.

"Apa? Bantuan? Kenapa harus dibantu. Ini perampokan," kata Kalla dengan suara keras ketika Sri Mulyani dan Boediono melaporkan "upaya penyelamatan" Bank Century.

Belum ada yang menduga bahwa kelak Boediono akan berpasangan dengan SBY, dan menang. Kalla adalah bos ketika itu.

Menurut Kalla, kedua pejabat itu melaporkan bahwa Bank Century menghadapi masalah besar. Masalah muncul karena krisis ekonomi global. Karena itu, Bank Century harus dibantu pemerintah dengan cara mengucurkan dana bailout (talangan).

Bila tidak dibantu, demikian kedua pejabat itu meyakinkan Kalla, masalah Bank Century akan berimbas ke bank-bank lainnya. Pada akhirnya, perekonomian nasional akan oleng.

"Saya tidak setuju dengan pandangan itu. Krisis itu menghantam banyak orang. Masak ada badai cuma satu rumah yang kena. Tidak. Bila hanya Bank Century yang kena, itu bukan krisis. Yang bermasalah adalah Bank Century dan itu bukan karena krisis melainkan karena uang bank itu dirampok pemiliknya sendiri. Ini perampokan!" Kalla berteriak dengan keras.

"Lapor ke polisi," perintah Kalla kepada Sri Mulyani dan Boediono. "Sangat jelas, ini perampokan. Jangan berikan dana talangan."

Sri Mulyani dan Boediono tidak berani. Bahkan mereka sempat bertanya, pasal apa yang akan dikenakan.

"Itu urusan polisi. Pokoknya ini perampokan," teriak Kalla lagi.

Karena melihat Sri Mulyani dan Boediono tidak menunjukkan gelagat akan memproses kasus ini secara hukum, Kalla lalu mengambil handphone-nya, menelepon Kapolri Bambang Hendarso Danuri.

"Tangkap Robert Tantular...," teriaknya kepada Kapolri. Setelah menjelaskan secara singkat latar belakangan masalah, Kalla memerintahkan, "Tangkap secepatnya".

"Saya tidak tahu pasal apa yang harus dikenakan. Ini perampokan, tangkap. Soal pasal urusan polisi," cerita Kalla sambil tertawa.

Dua jam kemudian, Kapolri menelepon. Robert Tantular telah ditangkap oleh tim yang dipimpin Kabareskrim Susno Duaji.

Mengingat kecepatan polisi bertindak, dengan nada berkelakar, Kalla mengatakan, polisi itu baik asal diperintah untuk tujuan kebaikan.

***

DI ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, 3 September 2009, Robert Tantular diadili. Ketika membacakan duplik, pengacaranya, Bambang Hartono, memprotes Kalla.
Ia menilai Kalla telah mengintervensi hukum karena memerintahkan Kapolri untuk menangkap kliennya.

"Tindakan tersebut bertentangan dengan hak asasi manusia," protes sang pengacara.

Menurut Bambang, penangkapan Robert Tantular tidak memiliki dasar hukum. Ia mengutip Boediono: "Pak Boediono selaku Gubernur BI mengatakan bahwa tidak bisa dilakukan penangkapan karena tidak ada dasar hukumnya."

Mendengar protes pengacara itu, Kalla memberikan reaksi keras. Bahkan terus terang ia mengaku sangat marah.

Kata Kalla, "Saya marah karena saya disebut mengintervensi. Tidak. Saya tidak intervensi. Yang benar, saya memerintahkan polisi agar Robert Tantular ditangkap. Ini perampokan," katanya sambil tertawa.

Robert telah merugikan Bank Century, yang tentu saja ditanggung nasabahnya, sebesar Rp 2,8 triliun.

Bank yang "dirampok" pemiliknya sendiri itu justru mendapatkan bantuan pemerintah, melalui tangan Sri Mulyani dan Boediono, sebesar Rp 6,7 triliun.

Pengadilan memvonis Robert penjara empat tahun dan denda Rp 50 miliar/subsider lima bulan penjara.

***

24 November 2009. Kalla kini bernapas lega karena apa yang diyakininya sebagai perampokan di Bank Century pelan-pelan terkuak.

Hari Selasa kemarin, ia bangun pagi seperti biasa, membersihkan taman di depan rumahnya di Jl Haji Bau, Makassar. Enam anggota Paspampres (tiga dari Bugis), yang akan mengawalnya sepanjang hayat, juga ikut santai.

Satu demi satu ranting pohon dibersihkan. Sebuah pohon kira-kira setinggi dua meter yang bibitnya didatangkan dari Pretoria, Afrika Selatan, ikut dipangkas.

Nyonya Mufidah, istrinya, protes. "Aduh, Bapak ini tidak ngerti seni," komentar wanita Minang ini tentang pohon-pohon yang dipangkas.

Kalla membela diri. "Kalau daunnya banyak, pohon ini tidak bisa lekas besar karena makannya dibagi ke banyak daun. Kalau daunnya sedikit, makanannya dibagi ke sedikit daun. Pasti lebih cepat tumbuh."

Kalla berada di Makassar sepekan terakhir setelah pulang dari liburan di Eropa usai melepas jabatan. Di Makassar ia menghabiskan waktu dengan berdiskusi dengan kolega-koleganya, bermain dengan cucu, dan menikmati makanan kesukaannya, ikan.

Di belakang rumahnya, ia menikmati pohon yang buahnya delapan jenis. Kemarin ia makan siang di sebuah restoran sea food, lalu ke Studio Trans Kalla. Warga yang melihatnya spontan berteriak dan minta foto bersama. Paspampres lebih longgar dari biasanya.

Kalla ingin menikmati hidup sebagai rakyat biasa dan menghindari komentar tentang politik. Tapi kasus Bank Century, yang menguras kas negara Rp 6,7 triliun, terus menggodanya untuk berbicara.

"Saya tidak ingin rakyat terus menerus dikorbankan," katanya berapi-api tapi dengan banyak sekali komentar off the record (tidak untuk dipublikasikan).

***

KALLA ingat persis peristiwa tanggal 25 November 2008 itu. Hari itu Selasa sore. Sri Mulyani dan Boediono sama sekali tidak melaporkan berapa dana yang telah dikucurkan ke Bank Century.

Belakangan ia tahu, sesuatu yang aneh telah terjadi. Sri Mulyani dan Boediono telah membahas rencana pengucuran dana talangan ke Bank Century melalui rapat pada 20 dan 21 November.

Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) mengucurkan dana Rp 2,7 triliun (dari total keseluruhan Rp 6,7 tiliun) ke Bank Century pada 22 November.

Tanggal itu merupakan tanggal merah karena hari Minggu. Sepertinya ada yang begitu mendesak sehingga LPS mengucurkan dana pada hari libur, hari Minggu. Tidak sembarang orang bisa memaksa transaksi sebegitu besar, apalagi pada hari libur.

Sri Mulyani dan Boediono melapor ke Kalla pada 25 November setelah dana mengucur, bukan sebelumnya.

Hasil audit investigatif BPK juga menemukan beberapa keanehan. Misalnya, BI yang dikomandoi Boediono melanggar aturan yang dibuat sendiri demi Bank Century.

Kalla belum mau bercerita mengenai keanehan-keanehan itu. Yang kelihatannya masih samar-samar adalah ini: ada kekuatan besar di balik Boediono dan Sri Mulyani.(dahlan)

Wartawan Senior Said Budairy Tutup Usia

Wartawan Senior Said Budairy Tutup Usia

Antara - Selasa, 1 Desember

Jakarta (ANTARA) - Wartawan senior M Said Budairi (73) tutup usia sekitar pukul 11.00 WIB di Rumah Sakit Islam, Cempaka Putih, Jakarta, Senin.

Menurut cucu Said, Muhammad Al Kindy Susetyo, jenazah Said dimakamkan di Karawang, Jawa Barat, setelah sebelumnya disemayamkan di rumah duka Jalan Mampang Prapatan II Nomor 74 Jakarta Selatan.

Said Budairy yang lahir di Singosari Malang, Jawa Timur, pada 12 Maret l936, sempat menjabat Ketua Departemen Pendidikan/Agama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, dan Staf Khusus Hubungan Pers Wakil Presiden RI pada 2001 - 2004.

Said yang juga menjabat sebagai Ketua Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) tercatat pernah pula menjadi anggota DPR/MPR RI.

Selama berkarir di bidang jurnalistik, Said pernah menjabat Wakil Pemimpin Redaksi Harian Duta Masyarakat (l961-l971), bergabung di Harian Pedoman dan Pelita Jakarta, menjadi kolomnis tetap di Harian Republika, dan ombudsman Majalah PANTAU.

Said juga dikenal sebagai aktivis Nahdlatul Ulama (NU). Memulai karir organisasi sebagai anggota Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Said tercatat pernah menduduki jabatan Sekretaris Jendral PB PMII, dan Wakil Sekjen GP Ansor, direktur Lajnah Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam), dan Wakil Bendahara PBNU.

Pada tahun 1980-an ia ikut aktif dalam gerakan mengembalikan NU ke Khittah 1926 bersama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan aktivis NU lainnya.

Di usia senjanya, Said tetap aktif menjalin komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk melalui dunia maya.

"Sisa usia yang mudah-mudahan masih agak banyak, melalui blog ini ingin bisa bermanfaat dengan bertukar pengalaman, informasi, kelakar, dan apa sajalah. Jika berkenan, senang sekali disapa yang muda-muda," tulis Said dalam Blog-nya.