Sabtu, 30 Juni 2007

Kota Terjorok di Negeri Liliput


Asnawin

Kota Terjorok di Negeri Liliput


Oleh Asnawin
------------------
email:
asnawin@hotmail.com

KONON, Kota Teduh Bersinar, di Negeri Liliput, dulu sangat subur, teduh, dan bersih. Penduduknya ramah dan terbilang religius. Keamanan pun terjamin.
Seiring perkembangan zaman dan banyaknya 'pengaruh luar', baik karena kedatangan 'orang luar' maupun karena arus informasi dan komunikasi, Kota Teduh Bersinar perlahan-lahan mulai berubah.
Banyak pohon yang ditebang, termasuk pohon yang tumbuh berjejer di pinggir jalan. Banyak orang yang membuang sampah sembarangan.
Tingkat keramahan penduduk juga perlahan-lahan berkurang. Kalau dulu masjid selalu penuh dan ramai, kini mulai sepi jemaahnya. Peristiwa kriminal pun mulai banyak.
Karena jumlah penduduk semakin banyak, arus lalu lintas pun kian padat dan tak jarang terjadi kemacetan arus lalu lintas.
Tempat prostitusi berkedok tempat hiburan malam (THM), hotel, wisma, panti pijat, dan salon, juga makin 'menjamur.'
Sungai dan kanal dalam kota yang dulunya berair bersih dan bening, kini sudah dipenuhi sampah dan sebagian menimbulkan bau tak sedap.
Pedagang kaki lima sejak dulu memang sudah ada, tetapi jumlahnya tidak banyak. Sekarang, pedagang kaki lima bukan cuma ada di sekitar pasar, melainkan sudah ada di mana-mana.
Belasan tahun lalu, Kota Teduh Bersinar masih tergolong bersih, tertib, dan teduh. Atas prestasinya itu, Raja Negeri Liliput kemudian memberikan Piala Adipura. Saking gembiranya, Wali Kota Teduh Bersinar ketika itu langsung membuat Tugu Piala Adipura.

Malu dan Sedih

Kini, tugu itu masih ada, tetapi justru karena keberadaannya itulah, Aladin yang menjabat Wali Kota Teduh Bersinar, jadi malu.
Malu kepada Raja Negeri Liliput, malu kepada Gubernur Suka Bersih, malu kepada rekan-rekannya sesama wali kota dan bupati, serta malu kepada rakyatnya.
Pria berusia sekitar 40 tahun itu malu karena Kementerian Lingkungan Hidup memberikan angka terendah dalam penilaian Piala Kebersihan tahun ini.
Ketua salah satu partai politik itu malu karena kotanya dicap sebagai 'Kota Terjorok' di Negeri Liliput.
Semua media cetak memberitakan dengan judul besar 'Teduh Bersinar Kota Terjorok'. Media elektronik meramaikannya dengan berbagai komentar dari berbagai kalangan, termasuk dari mantan wali kota.
Karena merasa malu, Aladin kemudian memutuskan meninggalkan kota selama beberapa hari. Kepada wakil wali kota (wawali) dan sekretaris kota (sekkot), ia mengatakan akan menemui kedua orangtuanya yang hidup bertani di salah satu kabupaten.
Kepada orangtuanya, Aladin mengemukakan bahwa ia merasa malu karena kota yang dipimpinnya dicap sebagai Kota Terjorok di Negeri Liliput.
Dengan sedih Aladin mengatakan bahwa dirinya sudah banyak berbuat dan bahkan meraih beberapa penghargaan atas berbagai prestasinya sebagai wali kota, tetapi cap sebagai kota terjorok meruntuhkan segalanya.
Mendengar keluhan dan melihat kesedihan anaknya, ayah Aladin yang juga pernah menjadi bupati, mengingatkan agar dia tidak larut dalam kesedihan.
Ia menyarankan kepada Aladin agar menata hati untuk bisa menerima apa yang tengah dihadapi, karena itu jauh lebih berarti dibanding berlarut-larut dalam kesedihan yang bisa membuat jatuh dalam keputusasaan.
''Kalau seseorang telah jatuh dalam keputusasaan, pikiran bisa menjadi kosong, dan hidup terasa hampa seolah-olah kita tak berguna lagi,'' katanya.
Aladin juga diingatkan agar memerhatikan dengan seksama orang-orang yang ada di sekelilingnya.
''Boleh jadi kamu membenci seseorang, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai seseorang, padahal ia amat buruk bagimu,'' ujar sang ayah.
Dia juga mengingatkan bahwa Tuhan tidak mungkin menimpakan cobaan di luar kesanggupan hamba-hambaNya.
Sebuah cobaan, kata ayahnya, mungkin terasa berat di awalnya, tetapi mungkin saja ada hikmah yang terkandung di dalamnya.
''Kalau kita mampu menarik hikmah dari cobaan yang kita hadapi, mungkin hikmah itulah nanti yang akan menyelamatkan kita. Kembalilah ke kota dan optimislah, doa kami selalu menyertaimu. Mudah-mudahan penduduk Kota Teduh Bersinar bisa kembali bersimpati dan percaya akan kemampuanmu,'' tutur ayah Aladin.

Makassar, 10 Juni 2007
(Dimuat di Pedoman Rakyat, 11 Juni 2007)

Berhentilah Bermimpi




Berhentilah Bermimpi


Oleh Asnawin
email: asnawin@hotmail.com

BENCANA itu akhirnya datang juga. Linangan air mata akhirnya tak bisa dibendung. Apa yang dikhawatirkan banyak orang selama ini, akhirnya terbukti.
Ratusan ribu siswa SMA dan SMP di Negeri Ajaib tidak lulus dalam Ujian Nasional (UN). Ratusan ribu siswa di Negeri Ajaib terpaksa menangis.
Di beberapa daerah, siswa yang tidak lulus bukannya menangis, melainkan marah dan melakukan tindakan anarkis. Ada yang memorak-porandakan seluruh bangku dan meja, ada yang memecahkan kaca, dan ada pula yang membakar gedung sekolahnya.
Banyak di antara mereka yang sebenarnya pintar dan bagus nilai rata-rata ujiannya. Banyak di antara mereka yang sebenarnya berbakat dan bagus prestasinya. Tetapi mereka akhirnya tidak lulus hanya gara-gara satu mata pelajaran dalam UN yang nilainya rendah.
''Saya tidak mengerti. Bagaimana bisa ada anak pintar tetapi tidak lulus UN?'' tanya seorang anggota DPRD kepada adik sepupunya yang seorang guru.
''Ada beberapa penyebab atau faktor yang memengaruhi,'' kata sang guru.
Dia kemudian menjelaskan bahwa ada anak yang sangat menyukai mata pelajaran tertentu, tetapi tidak suka kepada mata pelajaran lain.
Ada anak yang menyukai mata pelajaran non-eksak, tetapi sebaliknya tidak suka mata pelajaran eksak. Ada juga anak yang sebenarnya menyukai semua mata pelajaran, tetapi kemampuannya untuk menguasai salah satu atau beberapa mata pelajaran tertentu, memang rendah.
''Dan celakanya, biar pun nilai ulangan hariannya bagus, tetapi nilai UN-nya di bawah standar, tetap tidak bisa diluluskan. Anak yang bagus nilai UN-nya pun belum tentu lulus, apalagi kalau memang nilai UN-nya di bawah standar,'' tutur sang guru.
''Maksudnya?'' tanya si anggota DPRD.
''Selain nilai UN, masih ada penilaian lain seperti ulangan harian, tingkah laku, dan kedisiplinan,'' jelas sang guru.
Mendengar penjelasan sepupunya, politisi yang mantan pengacara itu hanya manggut-manggut, namun tak lama kemudian ia kembali bertanya.
''Tetapi mengapa sampai begitu banyak siswa yang tidak lulus, bahkan ada beberapa daerah yang persentase ketidaklulusannya agak tinggi,'' tanyanya.
''Itu memang selalu dipertanyakan orang,'' kata sang guru.
''Ada yang curiga bahwa mungkin beredar kunci jawaban palsu,'' kata si anggota dewan.
''Terlepas dari ada tidaknya kunci jawaban palsu, terus terang kami para guru memang selalu berupaya membantu siswa, karena kami tahu kemampuan mereka dan kami juga malu kalau banyak siswa kami yang tidak lulus, apalagi secara tidak langsung memang ada instruksi dari atas untuk membantu siswa,'' tutur sang guru.
''Begitukah?'' tanya si anggota dewan.
''Ah, kakanda ini serius atau pura-pura tidak tahu,'' tanya kata sang guru.
''Saya pernah dengar sepintas, tetapi tidak pernah mendengar pengakuan langsung dari guru dan kepala sekolah,'' ungkap si anggota dewan.

Terlalu Dipaksakan

Terus terang, kata sang guru, pelaksanaan UN sebenarnya terlalu dipaksakan dan secara tidak langsung merebut hak guru untuk mengevaluasi anak didiknya.
Dipaksakan karena kondisi sekolah, fasilitas, sarana, dan prasarana antara sekolah di kota besar dengan sekolah di pelosok desa sangat jauh berbeda. Kemampuan dan fasilitas yang dimiliki guru di kota dan di desa juga jauh berbeda.
Sekolah di kota bagus dan lengkap fasilitasnya, sedangkan sekolah di desa banyak rusak dan fasilitasnya sangat minim.
Anak-anak di kota bisa dengan bebas memilih lembaga kursus dan lembaga bimbingan belajar yang ingin dimasuki untuk menambah pengetahuan dan melatih keterampilan mereka. Di kota juga banyak warung internet (warnet), banyak perpustakaan, banyak toko buku, serta banyak koran dan majalah.
Bandingkan dengan anak di desa yang mungkin menyentuh komputer pun tidak pernah. Bandingkan dengan anak di desa yang mungkin memegang handphone pun tidak pernah.
Para guru di kota memiliki banyak kesempatan mengikuti seminar, diskusi, workshop, dan pelatihan, sehingga wawasan, pengetahuan, dan pengalaman mereka cukup banyak. Dalam mengajar pun, guru di kota mungkin sudah melakukan berbagai metode, mulai dari metode diskusi, simulasi, dan belajar di alam terbuka.
Bandingkan dengan guru di desa yang hampir tidak punya peluang mengikuti seminar, diskusi, workshop, dan pelatihan. Bandingkan dengan guru di desa yang karena berbagai kendala, hanya melakukan satu metode mengajar yakni metode ceramah.
''Kalau begitu, UN memang terlalu dipaksakan ya?'' tanya si anggota dewan.
''Sebenarnya tujuannya bagus untuk memacu semangat belajar siswa dan itu cukup berhasil, tetapi mimpi pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan cara mengadakan UN, terlalu tinggi,'' kata sang guru.
Yang terjadi, katanya, anak-anak memang bersemangat belajar, guru, kepala sekolah, dan para orangtua pun sibuk membantu, tetapi semangat dan bantuan itu semata-mata untuk membuat siswa lulus, bukan untuk pintar.
Lembaga bimbingan belajar pun hanya mengajarkan berbagai simulasi pengerjaan soal-soal yang bertujuan agar siswa lulus dalam ujian. Soal-soal yang diberikan hanya yang sering muncul dalam UN dan dalam Seleksi Masuk Perguruan Tinggi (SPMB).
Banyak materi pelajaran dalam kurikulum yang diabaikan oleh lembaga bimbingan belajar, karena UN juga mengabaikannya.
''Seandainya diberi kesempatan bertemu dengan Wapres dan Mendiknas, saya akan bilang berhentilah bermimpi. Bangunlah dan lihatlah kenyataan yang ada di lapangan. Lihatlah betapa mimpi bapak-bapak telah menelan begitu banyak korban. Lihatlah betapa mimpi bapak-bapak telah merusak proses pendidikan di sekolah dan di luar sekolah,'' ujar sang guru.
''Tetapi bukankah bagi siswa yang tidak lulus di sekolah, masih bisa ikut ujian kesetaraan?'' kata si anggota dewan.
''Ujian Paket C setara SMA dan ujian Paket B setara SMP itu dulu sebenarnya diperuntukkan bagi orang yang mau cari pekerjaan, bukan untuk lanjut sekolah, tetapi karena negeri kita Negeri Ajaib, maka pemerintah bisa dengan mudah mengubah kebijakannya,'' tutur sang guru.
Yang lucu, lanjut sang guru, siswa SMK juga boleh ikut ujian Paket C, padahal Paket C itu setara SMA, bukan setara SMK.
''Kasihan anak-anak kita. Tiga tahun belajar di SMA, SMK, atau MA, tetapi akhirnya mendapatkan ijazah Paket C yang dikeluarkan Dinas Pendidikan. Jadi mereka bukan alumni sekolah tertentu, melainkan alumni Dinas Pendidikan,'' papar sang guru.
Mendengar penuturan adik sepupunya, si anggota dewan tidak lagi bertanya.

Makassar, 17 Juni 2007
(Dimuat di Pedoman Rakyat, 18 Juni 2007)

Merasa Mampu

Merasa Mampu


(Oleh: Asnawin)

NEGERI Antah-berantah sedang punya hajatan. Beberapa bulan ke depan, rakyat akan memilih Pemimpin Negeri. Ada lima pasangan kandidat pemimpin.
Dari 10 kandidat tersebut, hanya satu yang berkelamin perempuan. Namanya, La Becce dan ia akan maju sebagai kandidat 01. Walaupun berkelamin perempuan, ia merasa mampu memimpin negeri dongeng tersebut. Ia diusung Partai Demokrasi Antah-berantah. Pasangannya seorang kiyai yang memimpin sebuah organisasi keagamaan.
Kandidat kedua adalah Pemimpin Negeri yang sedang berkuasa, sedangkan pasangannya seorang profesor. Sang pemimpin usianya sudah agak uzur, tetapi ia merasa masih mampu memimpin lima tahun ke depan. Pasangan ini diusung Partai Manjulang Langit yang merupakan partai terbesar di Negeri Antah-berantah.
Kandidat ketiga seorang ustaz muda. Ia mantan aktivis mahasiswa dan kini menjadi anggota Parlemen Rakyat Antah-berantah mewakili Anak Negeri Suka Wangsit. Meskipun tidak punya pengalaman di bidang pemerintahan dan usianya baru sekitar 40 tahun, ia merasa mampu menjadi Pemimpin Negeri dan bertekad memberantas korupsi. Pasangannya seorang pengusaha. Mereka berdua diusung dua partai berbasis agama dan beberapa partai non-kursi.
Kandidat keempat mantan Kepala Staf Panglima Perang yang tentu saja lebih banyak berada di belakang meja. Badannya tinggi besar tapi berpembawaan tenang. Sangat jauh dari kesan sangar, angker, atau semacamnya sebagaimana umumnya mantan anggota pasukan keamanan.
Dengan berbekal pengalaman di bidang keamanan negeri dan pernah kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta, ia sudah merasa mampu menjadi Pemimpin Negeri. Ia berpasangan dengan seorang pengusaha yang tinggi badannya hanya sekitar 160 cm (tinggi badan rata-rata rakyat Negeri Antah-berantah berdasarkan hasil survey yaitu 172 cm).
Pasangan ini diusung Partai Demonstrasi untuk Rakyat, sebuah partai baru yang pada pemilu raya lalu keluar sebagai peraih suara terbanyak kedua.
Kandidat kelima yaitu Wakil Pemimpin Negeri yang memilih 'bercerai' untuk berlawanan dengan Pemimpin Negeri pada pemilu raya nanti. Sebagai mantan Pemimpin Anak Negeri Suka Wangsit selama hampir dua periode, tentu saja ia merasa mampu menjadi Pemimpin Negeri.
Ia memilih berpasangan dengan Ketua Parlemen Rakyat Antah-berantah. Mereka diusung tiga partai yang kursinya cukup banyak di parlemen.
Karena pemilu raya sudah dekat, suasana negeri pun menjadi lebih ramai dari biasanya. Baliho, poster, dan umbul-umbul para pasangan kandidat menghiasai berbagai jalan, lorong, perumahan, warung kopi, dan berbagai tempat lainnya. Berbagai jargon politik dan janji dari para kandidat juga tidak ketinggalan.
Pembicaraan mengenai pemilu raya pun begitu ramai, mulai dari kantor-kantor pemerintahan, kantor bank, kampus, hingga di pasar tradisional. Di warung kopi apalagi, karena orang bisa ngobrol berjam-jam sambil memandang foto para kandidat Pemimpin Negeri di dinding.
Di sebuah warkop, empat orang yang berbeda usia dan latar belakang sedang asyik ngobrol ngalor-ngidul, tetapi seperti biasa pembicaraan tentang politik dan pemilu raya lebih dominan.
''Kita seharusnya bersyukur karena lima kandidat Pemimpin Negeri bersama wakilnya masing-masing, adalah orang-orang hebat. Ada ustaz, ada mantan Pemimpin Anak Negeri, ada perempuan, ada mantan wakil panglima perang, dan juga masih ada Pemimpin Negeri kita yang akan berpasangan dengan seorang profesor,'' tutur orang pertama yang wartawan sebuah koran harian.
''Mereka memang orang-orang hebat, tetapi belum tentu bisa mengubah keadaan. Belum tentu bisa mengurangi pengangguran. Belum tentu bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat. Belum tentu bisa meringankan biaya pendidikan,'' ujar orang kedua yang pensiunan pejabat di pemerintahan.
''Kalau tidak bisa mengubah keadaan, itu berarti mereka hanya merasa mampu, tetapi sebenarnya tidak punya kemampuan untuk menjadi pemimpin,'' kata orang ketiga yang dosen di sebuah perguruan tinggi swasta.

Profesor dan Orang Gila

Orang keempat yang pemimpin umum sebuah tabloid mingguan mengingatkan bahwa orang pintar belum tentu pandai. Orang pandai belum tentu mampu menjadi pemimpin.
Dia kemudian menceritakan tentang pertemuan seorang profesor dengan seorang gila yang sama-sama memancing di pinggir kali, tetapi sang profesor tidak tahu kalau orang yang ada di sampingnya adalah orang gila. Kebetulan di dekat mereka ada seekor katak yang cukup besar.
"Berapa lompatan yang diperlukan katak itu untuk sampai ke seberang kali?" tanya si gila.
Sang profesor memperkirakan lebar kali kurang lebih 1.250 meter, sedangkan katak besar itu dia perkirakan mampu melompat sejauh 50 cm, maka ia menyimpulkan bahwa katak itu butuh 2.500 lompatan.
Orang gila di sampingnya tertawa-tawa mendengarkan jawaban sang profesor. Dia mengatakan, katak itu hanya butuh dua kali lompatan untuk sampai di seberang kali.
Sang profesor tentu saja heran dan mulai curiga bahwa orang di sampingnya itu tidak waras.
''Lompatan pertama ke air. Setelah itu katak akan berenang. Sampai di ujung, katak baru akan melompat lagi ke darat,'' jelas si gila lalu tertawa lebih keras lagi.
Mendengar cerita tersebut, tiga rekan minum kopinya tak bisa menahan tawa. Suasana warung kopi pun menjadi ramai oleh tawa mereka.
Setelah tawa mereka agak reda, orang kedua yang pensiunan pejabat di pemerintahan, kemudian berkata; ''Dan kita semua bisa seperti profesor itu.''
Warung kopi lagi-lagi dipenuhi tawa keempat orang itu.
Orang kedua melanjutkan; ''Mudah-mudahan para kandidat Pemimpin Negeri kita tidak cuma pandai tetapi juga mampu melihat realita yang ada.''
Sepulang dari warung kopi, orang ketiga yang dosen di sebuah perguruan tinggi swasta merasa mendapatkan bahan cerita untuk dibagikan kepada mahasiswanya. Ia juga menyadari bahwa orang yang pandai dalam logika, bisa saja bodoh terhadap realita.
Orang pandai, orang yang pernah memimpin perguruan tinggi, orang yangberpengalaman di birokrat, orang yang ahli strategi perang di militer, orang yang menguasai ilmu agama, orang yang sudah malang-melintang di dunia politik, orang yang aktif di LSM, orang yang sukses di dunia usaha, mungkin banyak yang merasa mampu menjadi pemimpin.
Seperti orang kedua di warung kopi yang pensiunan pejabat pemerintahan, sang dosen pun berharap para kandidat Pemimpin Negeri tidak cuma pandai tetapi juga mampu melihat realita yang ada.

Makassar, 6 Mei 2007
(Dimuat di Pedoman Rakyat, 7 Mei 2007)

Nabi Juga Dipenjara

Nabi Juga Dipenjara


(oleh Asnawin)

NABI adalah orang mulia, karena mereka adalah utusan Sang Khalik. Presiden adalah orang mulia, karena mereka adalah orang yang diberikan amanat untuk memimpin dan mengatur negara.
Bupati di era otonomi ini juga orang mulia, karena mereka dipilih dan mendapat amanat dari rakyat untuk mengelola pemerintahan kabupaten.
Profesor pasti juga orang mulia, karena mereka adalah Guru Besar, suatu jabatan akademik tertinggi di perguruan tinggi.
Apakah kemuliaan seorang nabi, seorang presiden, seorang bupati, atau seorang profesor akan luntur kalau mereka dijebloskan ke dalam penjara? Apakah seorang nabi, seorang presiden, seorang bupati, atau seorang profesor akan menjadi hina dina kalau mereka dijebloskan ke dalam penjara?
''Belum tentu,'' jawab seorang pimpinan bank swasta atas pertanyaan yang diajukan seorang pengusaha saat keduanya ngobrol di sebuah kafe.
Pimpinan bank yang berusia sekitar 50 tahun itu, mengatakan, banyak orang tidak bersalah masuk penjara, dan sebaliknya tidak sedikit orang bersalah yang lolos dari jerat hukum.
Kalau ada menteri yang diduga terlibat korupsi, tidak bisa dijerat hukum, itu bisa dimaklumi, karena aturan di negara kita tidak memungkinkan seorang menteri menjadi tersangka dan diadili tanpa seizin presiden.
''Itu sih semua orang tahu, tapi bagaimana pun, seorang menteri tetap akan tercoreng namanya kalau sudah terbentuk opini publik bahwa dia terlibat korupsi,'' kata sang pengusaha.
''Kita ini bicara seolah-olah kita orang bersih, padahal kita juga kadang-kadang mencuri dan menyogok,'' kata si pimpinan bank sambil tersenyum.
''Tapi kita bukan koruptor, karena kita tidak mencuri uang negara dan kita bukan pejabat,'' timpal si pengusaha juga sambil tertawa.
''Jadi, kita tidak mungkin masuk penjara,'' ujar si pimpinan bank sambil memegang perutnya yang terasa agak sakit.

Yusuf dan Sulaeha

Seusai makan malam, si pengusaha bersama isteri, anak perempuannya yang kelas tiga SMP, serta mertua laki-lakinya, santai di ruang tengah.
Si anak mengatakan bahwa gurunya tadi pagi di sekolah mengaku sedih karena ada berita profesor masuk penjara.
''Ayah juga sedih, karena seharusnya mereka menjadi teladan,'' kata si pengusaha.
''Ayah, apakah profesor itu benar-benar korupsi?'' tanya si anak.
''Mudah-mudahan tidak. Bisa saja karena difitnah. Nabi Yusuf juga dipenjara, tetapi beliau tidak bersalah,'' potong mertua si pengusaha.
Kakek yang baru beberapa hari datang dari kampung itu kemudian menuturkan kisah Nabi Yusuf dan Sulaeha.
''Nabi Yusuf sebenarnya dibeli sebagai budak oleh keluarga Sulaeha, sejak ia masih remaja, tetapi ternyata ia tumbuh besar dengan perawakan bagus dan wajah sangat tampan,'' cerita si kakek.
Sulaeha yang juga cantik dan awet muda kemudian jatuh cinta kepada Nabi Yusuf, tetapi cintanya ditolak karena Nabi Yusuf sangat menghormati majikannya, Futhifar, suami Sulaeha. Futhifar sehari-hari adalah pejabat kerajaan.
Suatu hari ketika si suami tidak ada di rumah, Sulaeha memanggil Yusuf ke kamar tidurnya untuk memijat punggungnya. Tiba-tiba Sulaeha mengunci pintu dan meminta Yusuf melepaskan rindunya serta memuaskan nafsu syahwatnya. Namun, Yusuf menolak.
Sulaeha marah. Yusuf yang ketakutan kemudian berlari dan membuka pintu, tetapi Sulaeha berhasil mengejarnya dan menarik baju Yusuf kuat-kuat hingga robek.
Saat itulah datang Futhifar dan melihat adanya ketidakberesan.
Tanpa memberi kesempatan Yusuf membuka mulut, berkatalah Sulaeha cepat-cepat kepada suaminya bahwa Yusuf telah berani secara kurang ajar masuk ke kamar tidurnya dan ingin memerkosanya. Ia kemudian meminta suaminya agar memenjarakan dan menyiksa Yusuf.
Futhifar tidak langsung percaya dan meminta pendapat kepada iparnya, saudara Sulaeha.
''Kalau baju Yusuf terkoyak di bagian belakangnya, maka dialah yang benar dan isterimu yang dusta. Sebaliknya, kalau baju Yusuf terkoyak di bagian depan, maka dialah yang berdusta dan isterimu yang berkata benar," kata iparnya yang dikenal pandai dan bijaksana.
Mendengar pertimbangan tersebut dan melihat bahwa baju Yusuf robek di bagian belakang, Futhifar kemudian meminta isterinya bertobat. Ia meminta Yusuf dan seluruh penghuni rumah merahasiakan kejadian tersebut dan menganggap masalah sudah selesai.
Nabi Yusuf yang takut akan terulang bujukan Sulaeha, kemudian mengadu kepada Sang Khalik bahwa dirinya lebih baik dipenjara dari pada harus memperturutkan hawa nafsu majikannya.
Secara kebetulan, kejadian antara Yusuf dan Sulaeha juga sudah bocor dan menjadi pembicaraan umum. Untuk menutupi malu, Sulaeha meminta suaminya memenjarakan Yusuf dan permintaan itu terpaksa dipenuhi Futhifar.
''Begitulah kisahnya sehingga Nabi Yusuf dipenjara,'' tutur si kakek menutup ceritanya.

Makassar, 20 Mei 2007
(Artikel ini dimuat di Pedoman Rakyat, 21 Mei 2007)

Bermimpi Diuji Dosen


"Herannya, semua pertanyaannya dan semua jawaban saya dalam ujian itu persis sama dengan yang terjadi dalam mimpi saya. Akhirnya ujian pun berjalan lancar dan saya langsung dinyatakan lulus. Dosen saya itu bilang, inilah pertama kali ada mahasiswa yang langsung lulus pada ujian pertama." (Prof Rabihatun Idris)

Penguasa atau Penghibur


"Penguasa, Raja, Presiden, Perdana Menteri, kadang-kadang harus mengambil keputusan yang tidak populer dan mungkin tidak bisa menyenangkan semua orang. Sebaliknya, seorang penghibur harus meraih popularitas. Kian banyak pujian dan tepuk tangan karena peran yang dibawakannya, semakin berhasillah ia sebagai penghibur.''

Jumat, 29 Juni 2007

'Perceraian' Pemimpin


Akankah 'perceraian' itu kelak terjadi? Kita lihat saja nanti. Yang pasti, sudah banyak terjadi 'perceraian' antara pasangan gubernur dan wakil gubernur, sudah banyak terjadi 'perceraian' antara pasangan walikota dan wakil walikota, dan sudah banyak terjadi 'perceraian' antara bupati dengan wakil bupati.

Harian Pedoman Rakyat


Sebagai salah seorang awak redaksi harian Pedoman Rakyat, saya merasa berkewajiban memperkenalkan dan mempromosikan Surat Kabar "Pedoman Rakyat" kepada dunia internasional. Karena itulah saya membuat blog pribadi dengan nama "Pedoman Rakyat". Sebagai blog pribadi, tentu saja berita dan artikel saya menjadi dominan di blog ini. Sebagian berita dan artikel lain yang diterbitkan di harian Pedoman Rakyat juga saya muat ulang di blog ini. (dok. pribadi)