Dulu, Demonstrasi Mahasiswa Didukung Rakyat



keterangan gambar: Prof H Halide (tengah). (foto: www.fajar.co.id)

Prof Dr Halide:
Dulu, Demonstrasi Mahasiswa Didukung Rakyat

Oleh: Asnawin


Ada perbedaan antara mahasiswa pada era Orde Lama dan Orde Baru dengan mahasiswa era reformasi dalam hal melakukan aksi demonstrasi.
Mahasiswa yang melakukan demonstrasi pada zaman Orde Lama dan Orde Baru memang murni aksi demonstrasi, yakni turun ke jalan untuk menyalurkan aspirasi dan aksi tersebut mendapat dukungan masyarakat memprotes kebijakan pemerintah.
Sekarang, mahasiswa bukan melakukan aksi demonstrasi, melainkan melakukan tekanan (pressure) kepada pemerintah. Sayangnya, tekanan yang dilakukan mahasiswa juga “salah-salah” karena tidak berhasil.
Lebih ironis lagi, mahasiswa sekarang selalu mengatasnamakan rakyat dan mengaku memperjuangkan hak-hak rakyat, tetapi aksi mereka saat turun ke jalan justru tidak mendapat simpati dan dukungan rakyat, karena mereka mengganggu kepentingan dan hak rakyat.
“Mahasiswa menggugat pemerintah, tetapi masyarakat juga menggugat anda,” kata Rektor Universitas Fajar (Unifa), Prof Dr H Halide, saat tampil sebagai moderator pada dialog “Coffee Morning” Kapolda Sulselbar, Irjen Pol Drs H Sisno Adiwonoto MM, dengan aktivis mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, di Hotel Clarion Makassar, beberapa waktu lalu.
Aksi demonstrasi mahasiswa pada era Orde Lama dan Orde Baru, kata Halide, antara lain berhasil membubarkan rencana pendirian Negara Indonesia Timur (NIT) dan membubarkan Orde Lama.
“Kami yang masih hidup di era reformasi, juga turut menumbangkan era Orde Baru, karena kami juga turun ke jalan. Ikut lagi kita. Kita demo, jalan kaki dari Kampus Unhas di Tamalanrea ke kota,” paparnya.
Mahasiswa di zaman Orde Lama dan Orde Baru memegang prinsip “to kill or not to kill”, dan dengan prinsip tersebut mereka berhasil mencapai tujuannya.
Sekarang, mahasiswa kadang-kadang berunjukrasa turun ke jalan hanya berjumlah 10 orang, tetapi tidak ada yang mendengarkan, bahkan masyarakat merasa terganggu karena mahasiswa kadang-kadang membakar ban di jalan raya dan menyebabkan terjadinya kemacetan arus lalu lintas.
“Akhirnya tidak ada gunanya. Seharusnya, identifikasi masalah, cari akar masalahnya, lalu tawarkan solusinya. Kalau aspirasinya betul dan bagus, kita akan bantu perjuangkan aspirasi anda,” tandas Halide.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Kode Etik Jurnalistik PWI (Persatuan Wartawan Indonesia)

Mengenang Tiga Tahun Wafatnya Pedoman Rakyat