Selasa, 31 Juli 2007

Mimpi-mimpi dan Upaya Ibu Ani Yudhoyono


Sungguh mengharukan dan menggembirakan pemaparan Ibu Negara RI, Ani Yudhoyono, saat presentasi di Sidang Unesco bertajuk "Unesco Regional Conferences In Support of Global Literacy", di Ruang Konferensi Diaoyutai State Guest House Villa No.17, Beijing, Republik Rakyat Tiongkok (RRT), Selasa (31/7) pagi.
Dikutip dari www.presidensby.info, Selasa (31/7), Ibu Ani memimpikan pada suatu hari nanti semua rumah di Indonesia akan menjadi rumah pintar, dan setiap anak Indonesia menjadi pintar.
"Dan Indonesia menjadi negara paling makmur di dunia," katanya.
Pada kesempatan ini, Ibu Ani mempresentasikan program Mobil Pintar, Motor Pintar, dan Rumah Pintar yang telah digagasnya sejak tahun 2005, bekerja sama dengan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB).

Buta Aksara

Ibu Ani memaparkan latar belakang gagasannya, bahwa angka buta aksara di Indonesia pada tahun 1945, mencapai 97 persen dari total penduduk Indonesia dan terus mengalami penurunan sehingga pada tahun 2006 tinggal 8,7 persen atau setara dengan 12,8 juta orang.
"Pendidikan di Indonesia adalah tanggung jawab pemerintah, komunitas masyarakat, dan individu --termasuk LSM-- yang telah memainkan peran yang penting dalam melayani dan melakukan program pemberantasan buta aksara," ujarnya.
Dijelaskan oleh Ibu Ani bahwa Presiden RI telah mengeluarkan Inpres No.5 Tahun 2006 mengenai gerakan nasional wajib belajar 9 tahun dan pemberantasan buta aksara.
Gerakan itu melibatkan berbagai segmen komunitas masyarakat untuk melakukan program pemberantasan buta aksara sesuai dengan tugas, fungsi, dan kewajiban masing-masing.
"Dengan semua upaya yang telah dilakukan, kami masih menghadapi kendala dalam program pemberantasan buta aksara ini yang berkaitan dengan populasi, kendala geografis, kemiskinan, kompleksitas kebutuhan bebas buta huruf di era global ini, serta kendala sumber daya manusia, dan juga dana," Ibu Negara menambahkan.
Untuk mendukung program pemerintah, maka pada tahun 2005, Ibu Ani menggagas Program Preventif Pendidikan Untuk Pemberantasan Buta Aksara untuk anak usia 4-15 tahun, untuk memotivasi anak-anak belajar dan menggunakan bakat dan potensi yang dimiliki.
Program ini dinyatakan dengan menyediakan berbagai sarana belajar bagi anak-anak usia 4-15. Mereka dipandu oleh para tutor.
"Saya menyertakan anak-anak usia 4-6 tahun, karena saya percaya bahwa pendidikan anak usia dini akan bisa mencegah mereka untuk 'drop out' dari sekolah dasar. Sedangkan anak usia 7-15 tahun harus mengakses berbagai sarana belajar yang menarik buat mereka untuk memotivasi mereka untuk belajar," jelas Ibu Ani.

Mobil Pintar

Untuk mencapai masyarakat yang menjadi target itulah, Ibu Ani memutuskan untuk menggunakan kendaraan yang mudah bergerak, yang disebutnya Mobil Pintar.
Mobil Pintar ini membawa berbagai sarana belajar, seperti buku-buku, CD interaktif, komputer,dan permainan-permainan yang mendidik.

Motor Pintar

Pada perkembangannya, dengan moto `Menjangkau yang Tak Terjangkau`, untuk menghadapi kendala dalam menjangkau daerah yang terpencil, maka di daerah tersebut disediakan Motor Pintar.
"Mobil Pintar dan Motor Pintar mempunyai jingle untuk dikenali oleh anak-anak yang menjadi target. Sehingga pada saat jingle itu berbunyi, akan menarik anak-anak untuk segera datang untuk membaca dan membuka wawasan mereka akan dunia," kata Bu Ani sambil memperdengarkan jingle tersebut kepada hadirin.

Rumah Pintar

Setelah enam bulan, Rumah Pintar dibangun untuk melanjutkan proses belajar masyarakat setempat. Orang dewasa juga termasuk target dari Rumah Pintar, di daerah-daerah dimana masih ada masyarakat berusia dewasa yang masih buta aksara, untuk meningkatkan pendapatan mereka bila mereka telah bebas buta aksara.
Dia menjelaskan, penyandang buta aksara kebanyakan adalah perempuan. Karena itu dirinya mendorong partisipasi organisasi perempuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan rumah pintar.
"Dalam melakukan program pemberantasan buta aksara ini, kami menghubungkan mereka dengan komunitas masyarakat yang melibatkan mitra-mitra komunitas. Kami berharap bahwa inisiatif ini bisa menjadi contoh yang baik untuk bisa diadopsi oleh masyarakat," paparnya.
Untuk mendukung program ini, yaitu memotivasi kebiasaan membaca dan menambah jumlah buku-buku, Ibu Ani meluncurkan program lanjutan yaitu Book Donation Program atau program donasi buku.
"Saya baru saja meluncurkan program donasi buku dengan mendorong masyarakat untuk turut berkontribusi memberikan buku sebagai donasi dan membuat buku -buku tersedia di tempat umum, dan dikirimkan kepada yang membutuhkan," katanya.
Ibu Ani mengaku ingin memastikan bahwa kita harus melanjutkan pekerjaan ini dengan setiap individu dan organisasi di berbagai negara, seperti komitmen untuk belajar dan memenuhi visi kita untuk menjadi katalisator bagi proses belajar yang terus-menerus, dan melahirkan para pembelajar yang terus-menerus.
''Saya berharap dengan mensinergikan segala upaya kita ini, kita bisa membangun lebih banyak Rumah Pintar di Indonesia dan untuk membentuk masyarakat yang pintar di dunia, dalam rangka membangun dunia yang lebih baik, " kata Ibu Ani mengakhiri presentasinya.


Senin, 30 Juli 2007

Presiden, Aib, dan Sanksi Sosial

Presiden, Aib, dan Sanksi Sosial


Oleh : Asnawin
email: asnawin@hotmail.com

WARUNG kopi di pojok jalan milik seorang keturunan Tionghoa itu, selalu ramai setiap hari. Tetapi Sabtu pagi hingga siang adalah puncaknya. Ada beberapa pejabat, pengusaha, mantan pejabat, serta beberapa orang tua keturunan Tionghoa yang hampir tidak pernah absen pada Sabtu pagi hingga siang.
Mereka selalu ceria bertemu pada hari Sabtu. Bahan obrolan mereka seolah-olah tidak pernah habis.
Pada Sabtu pekan lalu, beberapa di antara 'pengunjung tetap' itu kembali berkumpul. Mereka hanya memakai celana pendek, baju kaos, dan sepatu olahraga. Ada juga di antara mereka yang membawa handuk putih. Rupanya mereka baru saja pulang dari olahraga senam di pinggir pantai.
Seperti biasa, begitu mereka duduk, penjual koran langsung datang menawarkan koran. Mereka pun menyambutnya. Biasanya hanya satu dua orang yang membeli koran dan kemudian dijadikan bahan diskusi.
''Rupa-rupanya Presiden kita sudah marah,'' kata lelaki tua A, yang pemilik toko emas.
''Tetapi wajar juga beliau marah, karena si Fulan sudah keterlaluan membuka aib pribadi Presiden,'' timpal lelaki tua B, yang pengusaha garmen.
''Kalau si Fulan memang berjiwa besar, seharusnya dia tidak begitu,'' ujar lelaki tua C, yang pemilik toko bahan campuran.
Sebagai anggota DPR RI yang sudah dipecat oleh partainya, kata lelaki tua C, si Fulan seharusnya berbesar hati mengundurkan diri dan menerima Surat Keputusan (SK) pengganti antar-waktu yang ditandatangani Presiden.
''Ini malah sebaliknya. Setelah Presiden menandatangani SK penggantian dirinya, si Fulan malah balik membuka aib Presiden. Kalau pun benar Presiden kita itu pernah menikah sebelum masuk Akademi Militer, tidak sepantasnyalah aib itu dibeberkan, apalagi belum tentu benar,'' tutur lelaki tua C.
''Selain itu, ini kan tidak ada hubungannya dengan kepentingan publik. Sampai sekarang juga belum pernah ada perempuan yang mengadukan Presiden kita karena diceraikan atau ditelantarkan misalnya,'' celutuk lelaki tua D, yang pemilik toko olahraga.
Setelah menyeruput susu putihnya, dia melanjutkan ucapannya, bahwa Presiden Indonesia adalah kepala negara sekaligus kepala pemerintahan.
Sebagai kepala negara, katanya, Presiden adalah simbol resmi negara Indonesia di dunia, sedangkan sebagai kepala pemerintahan, Presiden dibantu oleh menteri-menteri dalam kabinet, memegang kekuasaan eksekutif untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan sehari-hari.
''Sebagai Presiden dan simbol negara, siapa pun rakyat Indonesia, tidak boleh dan tidak sepantasnya membuka aib apalagi dengan maksud ingin 'menjatuhkan' Presiden,'' paparnya.
''Agama juga melarang kita membuka aib orang lain,'' ujar lelaki tua B, seraya mengulurkan tangannya mengambil bakpao di atas piring dan langsung mengunyahnya.
Lelaki tua A yang sedari tadi diam, mengungkapkan rasa salutnya kepada media massa di AS dan Eropa.
Di Amerika, katanya, saat berkampanye untuk mencalonkan diri kedua kalinya, Presiden Franklin D Roesevelt terjatuh berguling-guling dari
kursi rodanya.
''Besoknya, tidak ada satu pun koran di sana yang menulis kejadian itu. Media massa setempat hanya mengulas pidato Presiden,'' ungkapnya.
Presiden Perancis, Francois Mitterand, pernah diisukan memiliki anak di luar nikah, tetapi media-media yang sudah punya nama dan besar pengaruhnya, tidak ada yang menulis apalagi mengupas tuntas masalah pribadi seperti itu.
''Itu karena media massa di sana sudah dewasa dan menghormati lembaga Presiden. Sebaliknya, media massa akan berlomba-lomba menyoroti kalau Presiden berbohong, korupsi, atau mengeluarkan kebijakan yang merugikan rakyat, negara, atau negara lain,'' papar lelaki tua A.

Sanksi Sosial

Setelah menghabiskan kopi susunya dan meminum sedikit air putih, lelaki tua B menimpali, akan sangat wajar kalau Presiden yang korupsi, yang mengeluarkan kebijakan merugikan rakyat atau negara lain, yang di kemudian hari diketahui ternyata berbohong, serta yang melakukan praktik kolusi dan nepotisme, mendapat sorotan dari media massa dan mendapat sanksi sosial dari masyarakat.
''Sanksi sosial jauh lebih berat dibanding sanksi hukum dan perundang-undangan, karena masyarakat akan menghujat, mencaci, memaki, dan mengutuk. Sulit sekali mengembalikan nama baik kalau masyarakat sudah menjatuhkan sanksi sosial,'' tuturnya.
Setelah berbicara, ia berdiri dan berjalan menuju kasir untuk membayar semua minuman dan kue yang diminum dan dimakan bersama tiga sahabatnya. Setelah itu, mereka meninggalkan warung kopi dan kembali berjalan santai sambil ngobrol menuju rumah masing-masing. Kebetulan rumah mereka memang tidak terlalu berjauhan, karena berada di kawasan pertokoan.

Makassar, 29 Juli 2007

(Dimuat di harian Pedoman Rakyat,
Makassar, Senin, 30 Juli 2007,
Halaman 4/Opini, rubrik 'lanskap')


Kamis, 26 Juli 2007

Website dan Blog Lokal Sulsel


Media massa, instansi, perusahaan, organisasi, dan bahkan perorangan, sudah banyak yang memiliki website atau blog di internet. Website atau blog tersebut dimanfaatkan untuk menyampaikan berbagai macam informasi kepada khalayak luas, agar terjalin komunikasi timbal-balik antara media massa, instansi, perusahaan, organisasi, maupun pribadi dengan khalayak. (ist)

Senin, 23 Juli 2007

Wapres Tersinggung


Wapres Tersinggung


Makassar, (PR).
Wakil Presiden (Wapres), HM Jusuf Kalla, mengakui bahwa dirinya merasa tersinggung terhadap adanya penerapan Peraturan Daerah (Perda) Syariat Islam karena akan membuat masyarakat taat menjalankan syariatnya hanya karena perda yang dibuat pemerintah setempat.
"Kita diperintahkan untuk menjalankan Syariat Islam, taat kepada Allah dan RasulNya sementara Perda Syariat Islam seolah-olah memerintahkan kita untuk taat menjalani Syariat Islam berdasarkan perintah pemerintah," ujarnya saat membuka Muktamar I Wahdah Islamiyah di Mesjid Al-Markaz Al Islami Jenderal M Jusuf Makassar, Minggu (22/7).
Wapres Kalla mengatakan, Perda Syariat Islam membuat masyarakat menjadi khawatir bahkan takut ditahan atau diberikan hukuman karena tidak menjalani atau salah menerapkan Syariat Islam sebagaimana ketentuan Perda tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari, kata pendiri dan Ketua Yayasan Al-Markaz Al Islami Jenderal M Jusuf itu, manusia telah diwajibkan untuk menjalankan ajaran agamanya dan diperintahkan untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dalam pembukaan Muktamar I Wahdah Islamiyah itu, Kalla beberapa kali menekankan pentingnya pendidikan terhadap seluruh anak bangsa sebab tanpa pendidikan bangsa ini akan ketinggalan, demikian pula halnya dengan umat Islam akan tergilas dengan waktu sebab penduduk Indonesia mayoritas beragama Islam.
Di bagian lain sambutannya, Wapres Kalla juga mengaku bangga dengan adanya beberapa kelompok jamaah Islam di beberapa daerah seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, As`Adiyah, Al-Khaerat maupun Darul Dakwah Islamiyah (DDI) yang aktif berdakwa.
Hal itu, menurut dia, menunjukkan kekuatan orientasi dakwah dan menambah jaringan lembaga dakwah di seluruh Indonesia. Selain itu, sejumlah kelompok jamaah Islam ini juga, merupakan dasar keummatan dalam membentuk moral/perilaku generasi bangsa yang diharapkan bisa memajukan dan menjadikan Indonesia sebagai bangsa dan negara yang kuat.
Seusai membuka Muktamar I Wahdah Islamiyah yang akan merintis sekolah/pesantren penghafal Alquran pada tahun 2011 ini, Wapres Kalla sempat mengunjungi Kantor Yayasan Al Markaz Al Islam Jenderal M Jusuf selama 15 menit untuk selanjutnya menuju ke rumah jabatan Gubernur Sulsel, HM Amin Syam guna meresmikan Kongres I Bahasa Daerah Sulsel. (ant)

(Dimuat di harian Pedoman Rakyat,
Makassar, Selasa, 23 Juli 2007,
headline di Halaman I)

Minggu, 22 Juli 2007

Area Politik





Area Politik


Oleh : Asnawin
email:
asnawin@hotmail.com

GOGO Putih sedang berbincang santai dengan cucunya, Musa Hitam, di dangau. Diiringi suara jangkrik dan burung-burung, serta ditemani ubi rebus hangat dan kopi tubruk, kedua lelaki berbeda usia cukup jauh itu, berbincang-bincang tentang berbagai hal, mulai masalah keluarga hingga pemilihan kepala daerah (pilkada).
Ketika berbincang tentang pilkada, Musa Hitam mengungkapkan uneg-unegnya.
''Kek, saya sebenarnya tidak setuju kalau ulama dan profesor maju sebagai calon gubernur atau calon wakil gubernur,'' katanya.
Mendengar pernyataan cucunya itu, Gogo Putih tidak langsung bertanya, tetapi tangan kanannya bergerak mengangkat cangkir yang ada di depannya dan menyeruput kopi tubruknya yang sudah agak dingin.
''Mengapa kamu tidak setuju?'' tanya sang kakek setelah menurunkan kembali cangkirnya.
''Ulama itu 'kan pemuka agama yang bertugas mengayomi, membina, dan membimbing umat Islam, baik dalam masalah-masalah agama, maupum masalah sehari-hari yang diperlukan, baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan,'' jawab Musa Hitam.
''Lalu, bagaimana dengan profesor?'' tanya sang kakek.
''Profesor itu 'kan guru besar, sebuah jabatan akademik di perguruan tinggi. Mereka adalah pakar dalam salah satu atau beberapa bidang ilmu. Selain mengajar, profesor juga wajib melakukan penelitian, melakukan pengabdian kepada masyarakat, serta membimbing para dosen muda dan mahasiswa supaya kelak bisa menjadi asisten profesor atau menjadi profesor,'' papar Musa Hitam.
''Apa masalahnya kalau ulama dan profesor ingin menjadi gubernur?'' tanya sang kakek.
''Masalahnya, pilkada dan jabatan gubernur itu area politik, areanya para politisi, bukan areanya para ulama dan profesor,'' kata Musa Hitam.
Dia kemudian mengemukakan pendapatnya bahwa ulama dan profesor belum tentu cocok 'hidup' di area politik, dan bisa dipastikan mereka tidak akan mampu menjalankan tugas dan fungsinya secara optimal sebagai ulama atau sebagai profesor.
Ulama dan profesor, kata Musa Hitam, selalu berbicara hal-hal yang ideal, sedangkan di dunia politik, apalagi seseorang yang menjabat gubernur, banyak masalah yang harus dihadapi dan tidak semua bisa diatasi secara ideal.
''Ketika seseorang sudah masuk ke area politik, termasuk dengan menjadi kandidat gubernur atau kandidat wagub, maka ia pasti berhadapan dengan banyak hal yang tidak ideal,'' tandas Musa Hitam.
''Jadi, kamu tidak setuju kalau ulama atau profesor menjadi gubernur?'' tanya sang kakek.
''Ya,'' tegas Musa Hitam.

Profesor dan Nelayan

''Saya bukan setuju atau tidak setuju. Saya menghargai niat baik ulama atau profesor yang ingin menjadi gubernur. Mudah-mudahan kalau terpilih nanti, mereka tetap konsisten dengan keulamaan atau keprofesorannya. Saya cuma khawatir kalau mereka sudah melakukan pelanggaran moral dan melawan kata hatinya dalam proses pilkada, tetapi ternyata mereka juga akhirnya tidak terpilih,'' ujar sang kakek.
Sambil menyimak penuturan kakeknya, Musa Hitam mengambil ubi rebus dan langsung memakannya.
Sang kakek kemudian menuturkan sebuah cerita pertemuan antara seorang profesor dan seorang nelayan.
Suatu hari, kata sang kakek, seorang profesor menyewa sebuah perahu untuk memancing di sebuah pulau.
Dalam perjalanan, sang profesor bertanya; "Bapak nelayan, apakah bapak punya pengetahuan tentang ilmu geografi?"
"Ilmu geografi yang saya ketahui adalah jika laut sudah mulai sering terjadi gelombang pasang, maka musim hujan segera tiba," jawab si nelayan.
Mendengar jawaban si nelayan, sang profesor mengatakan; ''Sayang sekali ilmu bapak sangat minim. Dengan tidak menguasai ilmu geografi, bapak sesungguhnya sudah kehilangan seperempat dari kehidupan bapak.''
Tak lama kemudian, sang profesor kembali bertanya.
''Apakah bapak punya pengetahuan tentang biologi dan sains?'' tanyanya.
''Pengetahuan saya tentang biologi hanya jenis ikan apa yang dapat dimakan dan ikan apa yang tidak boleh dimakan,'' jawab si nelayan.
Mendengar jawaban si nelayan, sang profesor mengatakan; ''Sayang sekali ilmu bapak sangat minim. Dengan tidak menguasai ilmu biologi dan sains, bapak sesungguhnya sudah kehilangan seperempat dari kehidupan bapak.''
Beberapa lama kemudian, sang profesor lagi-lagi bertanya.
''Apakah bapak pernah belajar matematika?'' tanyanya.
''Matematika yang saya ketahui hanya cara menimbang hasil tangkapan ikan, menghitung biaya yang sudah saya keluarkan, dan menjual hasil tangkapan ikan agar dapat menghasilkan keuntungan yang cukup bagi keluarga saya,'' tutur si nelayan.
Mendengar jawaban si nelayan, sang profesor mengatakan; ''Sayang sekali ilmu bapak sangat minim. Dengan tidak menguasai matematika, bapak sesungguhnya sudah kehilangan seperempat dari kehidupan bapak.''
Tetapi tak lama kemudian, awan tampak hitam.
"Apa artinya awan hitam yang menggantung di langit?" tanya sang profesor.
"Itu artinya badai dan topan akan segera datang. Apakah bapak bisa berenang?" tanya si nelayan.
''Saya tidak bisa,'' jawab sang profesor.
Mendengar jawaban sang profesor, si nelayan mengatakan; ''Sayang sekali bapak tidak bisa berenang. Saya bisa saja kehilangan tiga perempat kehidupan saya, tetapi bapak akan kehilangan seluruh kehidupan yang bapak miliki.''
Setelah berkata demikian, si nelayan langsung melompat ke laut dan berenang ke pulau terdekat, sedangkan sang profesor hanya bisa termangu dan mulai ketakutan karena air laut mulai mengombang-ambingkan perahu.
Mendengar cerita sang kakek, Musa Hitam tak bisa menahan tawanya, lalu keduanya pun tartawa-tawa di tengah sawah.

Makassar, 22 Juli 2007

(Dimuat di harian Pedoman Rakyat,
Makassar, Senin, 23 Juli 2007,
Halaman 4/Opini, rubrik ''lanskap'')


Jumat, 20 Juli 2007

Pengabdian Tanpa Pamrih

Arief Djasar

Pengabdian Tanpa Pamrih

Bersyukurlah pimpinan, wartawan, dan karyawan harian Pedoman Rakyat, karena memiliki seorang Muhammad Arief Djasar. Pria kelahiran Selayar, 23 September 1963, ini, adalah salah seorang dari beberapa wartawan harian Pedoman Rakyat yang tetap setia menongkrongi redaksi.
Beberapa rekan seangkatannya, sudah lama meninggalkan harian yang terbit di Makassar sejak 1 Maret 1947 ini. Ada yang pindah ke koran terbitan Jakarta, ada yang menjadi pegawai negeri sipil (PNS), dan ada pula yang beralih ke profesi lain.
Wartawan adik angkatannya sudah puluhan yang 'pergi' meninggalkan Pedoman Rakyat.
Kesetiaannya mengawaki redaksi Pedoman Rakyat merupakan bukti pengabdian tanpa pamrih, padahal harian ini dalam beberapa tahun terakhir mengalami pasang surut, bahkan pernah tidak terbit selama kurang lebih 40 hari antara Februari hingga awal April 2007.

Wartawan Olahraga

Di redaksi, Arief Djasar yang juga kerap memakai nama samaran Mardjas Lupus (konon singkatan dari M Arief Djasar Lupa Pulang Selayar) cukup lama menjadi wartawan olahraga di bawah binaan Verdy R Baso (wartawan senior yang cukup fasih berbahasa Inggris dan bahasa Mandarin).
Mantan wartawan harian Bina Baru (sekarang Berita Kota Makassar) 1982-1988, juga pernah menjadi Redaktur Desk Daerah, dan Koordinator Liputan (Korlip). Kini ia menjabat Redaktur Pelaksana (Redpel).

PSM dan PSSI

Sebagai wartawan olahraga, Arief Djasar tentu saja banyak berteman dengan atlet, pelatih, pembina, dan pengurus organisasi olahraga. Tak heran kalau kemudian ia dilibatkan sebagai pengurus beberapa organisasi olahraga.
''Tetapi sejak 1990 sampai sekarang, saya tetap sebagai Humas PSM (Persatuan Sepakbola Makassar). Saya juga pernah dipercaya menjadi Manajer Tim PSM U-15 untuk Liga Sepakbola Remaja Indonesia beberapa tahun silam,'' ungkapnya.
Di Pengda PSSI Sulsel, Arief Djasar kini menjabat Ketua Bidang Alih Status.

Keluarga

Arief Djasar menghabiskan masa kecilnya di Kabupaten Selayar, dan tamat di SD Negeri 2 Benteng Selayar, dan SMP Negeri 1 Benteng Selayar. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 1 Makassar, lalu kuliah di Fakultas Pertanian jurusan Sosek Ekonomi, Universitas Hasanuddin (Unhas).
''Tetapi saya tidak selesai, karena sudah larut dalam dunia kewartawanan,'' paparnya.
Dari hasil perkawinannya dengan Hj Mardiana SE, ia telah dikarunia empat anak, masing-masing Ade Faizal Maisar (lahir di Makassar, 12-12-1993), Muhammad Idul Adhar, Mehdi Mehdi Mahdifikia Triputra, dan Muhammad Audi Faulandy.

Makassar, 20 Juli 2007
-asnawin


Selasa, 17 Juli 2007

Chichen Itza, Pusat Kebudayaan Suku Maya (Keajaiban Dunia-7)


CANDI Chichen Itza merupakan peninggalan arkeologi suku Maya yang paling lengkap serta masih terawat dengan baik. Situs peradaban Maya di Meksiko ini, pada 7 Juli 2007, terpilih sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia hasil pilihan 100 juta orang via email dan sms (layanan pesan singkat) yang diadakan oleh Swiss Foundation. (int)

Senin, 16 Juli 2007

'Musim Panen' di Sekolah

'Musim Panen' di Sekolah

Oleh Asnawin
email:
asnawin@hotmail.com

Para dewa dan dewi di Negeri Awan tiba-tiba sibuk membicarakan masalah pendidikan di Bumi Nusantara. Para dewa heran karena rakyat di Bumi Nusantara tak pernah berhenti mengeluh soal pendidikan.
Rakyat mengeluhkan pelaksanaan ujian nasional (UN) yang terlalu dipaksakan, dijadikan penentu kelulusan, dan memaksa siswa belajar untuk lulus dan bukan untuk pintar.
Rakyat mengeluhkan berbagai macam pungutan yang dilakukan pihak sekolah pada proses pendaftaran siswa baru, serta tidak transparannya hasil tes dan pengumuman kelulusan.
Rakyat mengeluhkan adanya 'permainan' dalam pengaturan nilai rapor dan nilai hasil ujian akhir SMP dan SMA.
''Apa sebenarnya yang terjadi di Bumi Nusantara? Mengapa rakyat di sana terus menerus mengeluh soal pendidikan?'' tanya Dewa Hujan.
''Padahal di negeri tetangganya, Bumi Melayu, pendidikan tidak lagi dikeluhkan,'' timpal Dewa Cinta.
''Bukankah dulu Bumi Melayu mendatangkan guru dan dosen dari Bumi Nusantara untuk mengajar di berbagai sekolah dan perguruan tinggi di Bumi Melayu?'' tanya Dewi Kasih Sayang.
''Sekarang orang Bumi Melayu malah lebih pintar dibanding orang Bumi Nusantara,'' kata Dewa Angin.
''Lalu, apa masalahnya sampai pendidikan di Bumi Nusantara lambat kemajuannya, bahkan selalu muncul keluhan seputar pendidikan?'' tanya Dewa Hujan lagi.
Dewa Angin kemudian mengemukakan hasil pengamatannya bahwa pemerintah di Bumi Nusantara tidak serius menangani masalah pendidikan.
Alokasi anggaran pendidikan terlalu kecil, kurikulum kerap berganti-ganti, dan banyak kebijakan yang merepotkan pengelola perguruan tinggi dan sekolah.
Akibat rendahnya anggaran pendidikan, banyak sekolah rusak yang tidak bisa diperbaiki, serta banyak guru yang tidak bisa diikutkan pelatihan, wokshop, penataran, dan sebagainya.
Perguruan tinggi negeri dan sekolah negeri juga berlomba-lomba mencari tambahan dana dari masyarakat untuk memenuhi berbagai kebutuhan.
Dana tersebut antara lain melalui Sumbangan Pembangunan Pendidikan (SPP), sumbangan pembangunan, dan uang pendaftaran mahasiswa atau siswa baru.
Di sekolah masih banyak pungutan lain, seperti uang buku, uang pramuka, uang OSIS, uang LKS (lembaran kerja siswa), uang semester, uang ujian, dan uang perpisahan.
''Tetapi bulan Juli adalah musim panen di sekolah, karena pada saat itulah berlangsung pendaftaran siswa baru,'' papar Dewa Angin.
''Maksudnya?'' tanya Dewa Hujan.
''Pendaftaran siswa baru biasanya dimanfaatkan oleh sekolah untuk mencari uang sebanyak-banyaknya, baik untuk kepentingan sekolah, maupun untuk kepentingan pribadi kepala sekolah dan guru,'' jelas Dewa Angin.
Dia menambahkan bahwa pada pendaftaran siswa baru, sekolah biasanya menetapkan uang pendaftaran, uang seragam sekolah, uang buku, uang bangku, uang pembangunan, dan lain-lain.
Selain itu, kepala sekolah dan guru juga biasanya 'bermain' dalam penentuan kelulusan calon siswa baru.
Akibatnya, para orangtua calon siswa terpaksa mengeluarkan biaya ekstra pada sekitar bulan Juli, baik untuk segala macam biaya dan pungutan dalam proses pendaftaran siswa baru, maupun untuk menyiapkan berbagai perlengkapan sekolah yang baru bagi anak-anaknya yang naik atau tinggal kelas.
''Tapi bagaimana dengan orangtua yang pendapatannya pas-pasan?'' tanya Dewi Cinta.
''Itulah salah satu jawaban mengapa rakyat di Bumi Nusantara terus menerus mengeluh soal pendidikan,'' kata Dewa Angin.

Makassar, 15 Juli 2007

(Dimuat di harian Pedoman Rakyat,
Makassar, Senin, 16 Juli 2007,
Halaman 4/Opini, rubrik Lanskap)


Taj Mahal, Simbol Cinta dan Sayang (Keajaiban Dunia-6)



TAJ MAHAL adalah sebuah monumen yang terletak di Agra, India. Dibangun atas keinginan Kaisar Mughal Shah Jahan, anak Jahangir, sebagai sebuah musoleum untuk istri Persianya, Arjumand Banu Begum. Arjumand juga dikenal dengan nama Mumtaz-ul-Zamani atau Mumtaz Mahal. Pembangunannya menghabiskan waktu 23 tahun (1630-1653) dan merupakan sebuah adi karya dari arsitektur Mughal. (int)

Machu Picchu, Kota Berlapis Emas (Keajaiban Dunia-5)


MACHU PICCHU. Rakyat Peru kini mungkin masih bergembira karena peninggalan sejarahnya, Machu Picchu (Gunung Tua), ditetapkan sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia versi Swiss Foundation yang mengadakan polling lewat internet dan layanan pesan singkat (SMS) yang diikuti sekitar 100 juta orang di seluruh dunia, pada 7 Juli 2007. (Foto: David Evans)

Jumat, 13 Juli 2007

Christ Redeemer, Simbol Penerimaan dan Keterbukaan (Keajaiban Dunia-4)


KEAJAIBAN DUNIA. Berbanggalah umat Kristiani di seluruh dunia, karena patung Christ Redeemer, di Brasil, terpilih sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia baru hasil pilihan 100 juta orang di seluruh dunia lewat internet dan layanan pesan singkat (SMS), pada 7 Juli 2007. Christ Redeemer atau Patung Kristus Penebus, masuk tujuh besar peraih suara terbanyak dari 21 finalis seperti hasil polling yang dilansir new7wonders.com dan dikutip detikcom, Senin (9/7/2007). (int)

Kamis, 12 Juli 2007

Petra, Kota di Dinding Batu (Keajaiban Dunia-3)





PETRA. Salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang baru adalah Petra. Penetapan tujuh keajaiban dunia itu merupakan pilihan dari 100 juta orang di seluruh dunia lewat situs internet dan pesan singkat (SMS) telepon selular, yang diadakan oleh Swiss Foundation, serta diumumkan di Lisbon, Portugal, pada 07-07-07 alias 7 Juli 2007. Petra adalah kota yang didirikan dengan memahat dinding-dinding batu di Yordania. (int)

Colosseum, Arena Pertarungan Tahanan vs Binatang (Keajaiban Dunia-2)


COLOSSEUM adalah sebuah peninggalan sejarah berupa gedung pertunjukan yang besar (amphitheatre) yang termasuk salah satu dari “Tujuh Keajaiban Dunia Pertengahan”. Colosseum terletak di Ibukota Negara Italia, Roma, bernama asli “Flavian Amphitheatre” dan didirikan oleh Raja Vespasian, tetapi diselesaikan oleh anaknya, Titus. (int)

Tembok Besar China (Keajaiban Dunia-1)

Tembok Besar China (Great Wall of China) diumumkan sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia baru. Enam keajaiban dunia lainnya yaitu Taj Mahal di India, Petra di Yordania, Patung Crist Redeemer di Brazil, Machu Picchu di Peru, Pyramida Chichen Itza di Brazil, dan Colosseum di Italia. (Foto: Int)
-------


Tujuh Keajaiban Dunia (1):

Tembok Besar China


Tembok Besar China (Great Wall of China) diumumkan sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia baru. Enam keajaiban dunia lainnya yaitu Taj Mahal di India, Petra di Yordania, Patung Crist Redeemer di Brazil, Machu Picchu di Peru, Pyramida Chichen Itza di Brazil, dan Colosseum di Italia.

Penetapan status tujuh keajaiban baru dunia itu merupakan pilihan dari 100 juta orang di seluruh dunia lewat situs internet dan pesan singkat (SMS) telepon selular, yang diadakan oleh Swiss Foundation, suatu yayasan swasta nirlaba.

Pengumuman tujuh keajaiban dunia itu dibacakan aktor Inggris, Ben Kingsley, dan aktris AS Hillary Swank, sebagai pembawa acara dalam acara penetapan itu di Stadium of Light, Lisabon, Portugal, Minggu (8/7/2007).

Sejarah Pembuatannya

Tembok Besar China atau Tembok Raksasa China, juga dikenal di China (Tiongkok) dengan nama Tembok Raksasa Sepanjang 10.000 Li, merupakan bangunan terpanjang yang pernah dibuat oleh manusia, terletak di Republik Rakyat Tiongkok.

Panjangnya adalah 6.350 kilometer dan tingginya 8 meter. Lebar bagian atasnya 5 m, sedangkan lebar bagian bawahnya 8 m. Setiap 180-270 m dibuat semacam menara pengintai. Tinggi menara pengintai tersebut 11-12 m.

Untuk membuat tembok raksasa ini, diperlukan waktu ratusan tahun di zaman berbagai kaisar. Konon, ribuan orang tewas dalam proses pembuatannya.

Semula, diperkirakan Qin Shi-huang yang memulai pembangunan tembok itu, namun menurut penelitian dan catatan literatur sejarah, tembok itu telah dibuat sebelum Dinasti Qin berdiri, tepatnya dibangun pertama kali pada Zaman Negara-negara Berperang.

Kaisar Qin Shi-huang meneruskan pembangunan dan pengokohan tembok yang telah dibangun sebelumnya.

Sepeninggal Qin Shi-huang, pembuatan tembok ini sempat terhenti dan baru dilanjutkan kembali di zaman Dinasti Sui, terakhir dilanjutkan lagi di zaman Dinasti Ming.

Bentuk Tembok Raksasa yang sekarang kita lihat adalah hasil pembangunan dari zaman Ming. Bagian dalam tembok berisi tanah yang bercampur dengan bata dan batu-batuan. Bagian atasnya dibuat jalan utama untuk pasukan berkuda Tiongkok.

Lambang Bangsa China

China merupakan sebuah negara yang mempunyai sejarah lama, kebudayaan yang cemerlang, dan kaya dengan obyek-obyek wisata.

Sedikitnya 29 warisan alam dan warisan budaya dunia ada di China. Itu menunjukkan kecerdikan dan kerajinan rakyat China. Jumlah warisan dunia yang ada di China itu menempati urutan ke-3 di dunia.

Tembok Besar atau Great Wall China dianggap sebagai salah satu antara "7 keajaiban dunia". Tembok Besar China merupakan projek pertahanan militer zaman purba yang masa pembuatannya paling panjang dan proyeknya paling besar di dunia.

Tembok Besar China konon dibuat pertama kali pada abad ke-9 sebelum Masehi. Demi menghalangi penyerangan suku kaum di bahagian utara, pemerintah di tengah China pada waktu itu telah membuat tembok yang menyambungkan kubu-kubu pertahanan di kawasan sempadan, itulah Tembok Besar yang paling awal.

Tembok Besar China yang termasyhur itu mengandung semangat dan perasaan bangsa China dan kini telah menjadi lambang bangsa China. (asnawin/pr, dari berbagai sumber)

(Dimuat di Harian Pedoman Rakyat,
Makassar, Rabu, 11 Juli 2007,
Halaman 17/Humaniora)

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://pedomanrakyat.blogspot.com/]

Minggu, 08 Juli 2007

Kita Belum Merdeka, Kita Masih Terjajah

Kita Belum Merdeka


Oleh Asnawin
email:
asnawin@hotmail.com

BENARKAH negara Indonesia sudah merdeka? Benarkah rakyat Indonesia sudah merdeka? Benarkah negara Indonesia tidak terjajah lagi? Bernarkah rakyat Indonesia tidak terjajah lagi?
Pertanyaan ini memang terlalu dini dibicarakan, karena 17 Agustus masih sebulan lebih lagi dari sekarang.
Tetapi melihat banyaknya orangtua yang pusing menghadapi pendaftaran siswa baru dan pendaftaran mahasiswa baru, terutama karena besarnya uang yang harus disiapkan untuk pendaftaran, biaya lain-lain, termasuk biaya-biaya siluman, tiba-tiba muncul pertanyaan, benarkah rakyat Indonesia sudah merdeka?
Ketika melihat kenyataan banyaknya anak usia sekolah yang putus sekolah (drop out) dan menganggur, tiba-tiba muncul pertanyaan, benarkah rakyat Indonesia sudah merdeka?
Secara konstitusional, Indonesia memang sudah merdeka. Indonesia sudah memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.
Presiden Soekarno didampingi Wapres Moh Hatta, waktu itu dengan lantang membacakan naskah proklamasi, di sekitar Tugu Proklamasi depan halaman Gedung Proklamasi jalan Peganggasaan Timur 56 Jakarta.
''Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja. Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05. Atas nama bangsa Indonesia. Soekarno, Hatta,'' kata Soekarno.
Alangkah senang dan bangganya para pemimpin bangsa, para pemuda, para pejuang, dan rakyat Indonesia ketika itu. Tetapi apakah para pemimpin bangsa, para pemuda, para pejuang, dan rakyat Indonesia saat ini juga senang dan bangga?
Indonesia memang sudah merdeka dan diakui kedaulatannya, tetapi dalam hubungan luar negeri, ternyata Indonesia masih terjajah.
Ketika Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi no. 1474 tentang perluasan sanksi terhadap Iran, ternyata Indonesia tak kuasa menolaknya.
Ketika segelintir orang yang tinggal di Portugis bersama segelintir orang yang tinggal di Timor Timur ingin memisahkan Timor Timur dari Indonesia, ternyata Indonesia tak mampu mempertahankannya.
Ketika pulau Sipadan dan Ligitan direbut Malaysia, ternyata Indonesia juga tak berdaya mempertahankannya.
Jadi benarkah Indonesia sudah merdeka? Benarkah Indonesia sudah berdaulat?

Masih Terjajah

Di sisi lain, rakyat Indonesia ternyata juga masih terjajah.
Kalau rakyat melapor ke kantor polisi karena kehilangan, kecurian, teraniaya, dan lain-lain, biasanya harus ada uang melapor.
Kalau rakyat Indonesia sakit dan harus berobat ke rumah sakit, biasanya harus ada uang untuk pemeriksaan, perawatan, pembeli obat, dan uang lain-lain.
Kalau rakyat Indonesia mau membuat Kartu Keluarga, KTP, dan urusan lain di kantor lurah, kantor kecamatan, kantor bupati/walikota, biasanya harus ada uang administrasi, uang terima kasih, dan uang lain-lain.
Kalau rakyat Indonesia mau sekolah, mau pintar, biasanya harus ada uang buku, uang pendaftaran, uang pembangunan, uang Komite Sekolah, dan uang lain-lain.
Kalau rakyat Indonesia mau jadi tentara, polisi, atau pegawai negeri sipil, biasanya harus ada uang pendaftaran, uang pelicin, uang terima kasih, dan uang lain-lain.
Itu semua menunjukkan betapa rakyat Indonesia masih terjajah.

Pendidikan

Dalam hal pendidikan misalnya. UUD 45 yang asli pada BAB XIII Pendidikan, Pasal 31, ayat (1), mengatakan; ''Tiap-tiap Warga Negara berhak mendapat pengajaran.''
UUD 45 hasil amandemen pada BAB XIII Pendidikan dan Kebudayaan, Pasal 31, ayat (1), mengatakan; ''Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Ayat (2) berbunyi; ''Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.''
Kenyataannya, pemerintah membiarkan saja sekolah memungut berbagai macam biaya kepada para siswa.
Kenyataannya, pemerintah seperti tidak peduli kalau ada anak yang terpaksa tidak sekolah atau putus sekolah, karena orangtua mereka tak mampu membiayai.
Kenyataan-kenyataan yang dialami bangsa dan rakyat Indonesia, hingga di usia kemerdekaan yang sudah hampir 62 tahun ini, menunjukkan betapa kita ternyata belum merdeka, kita masih terjajah.

Makassar, 07-07-07

(Dimuat di Harian Pedoman Rakyat,
Makassar, Senin, 9 Juli 2007,
Halaman 4/Opini, rubrik Lanskap)

Jumat, 06 Juli 2007

Sekolah Swasta Lebih Murah dan Berkualitas


Makassar, (PR).
Sekolah-sekolah swasta, baik SMP, SMA, maupun SMK, umumnya juga berkualitas dan lebih murah biayanya dibanding sekolah negeri. Buktinya, banyak sekolah swasta yang siswanya lulus 100 persen pada Ujian Nasional (UN) 2007, sedangkan sekolah negeri banyak siswanya yang tidak lulus dalam UN.
''Sebagai contoh, hasil UN di SMP, SMA, dan SMK PGRI di Sulsel tahun ini cukup menggembirakan. Banyak yang lulus 100 persen,'' kata Sekretaris YPLP PGRI Sulsel, H Burhanuddin, kepada wartawan di Makassar, Kamis (5/7).
PGRI Sulsel dewasa ini membina 52 SMP, SMA, dan SMK, serta 50 Taman Kanak-kanak (TK). Sekolah Dasar (SD) tidak dibuka oleh PGRI.
Menyinggung biaya pendidikan di sekolah swasta, Burhanuddin yang pernah menjabat Kepala SMP Negeri 3 Makassar, mengatakan, sekolah negeri umumnya lebih pembayarannya dibanding sekolah negeri.
''Sekolah swasta hanya memungut biaya pendaftaran bagi siswa baru dan uang SPP setiap bulan, sedangkan sekolah negeri membebani orangtua siswa uang pendaftaran, uang Komite Sekolah yang besarnya bervariasi, serta berbagai macam pungutan lainnya,'' ungkapnya.
Di Makassar, katanya, malah ada sekolah negeri yang membebani orangtua siswa iuran Komite Sekolah sebesar Rp 165.000 per bulan, sedangkan sekolah lain umumnya berkisar Rp 50.000/bulan hingga Rp 100.000/bulan.
''Kalau mau jujur, sebenarnya sekolah negeri itu lebih mahal dibanding sekolah swasta, padahal sekolah negeri seharusnya gratis, apalagi sudah ada dana BOS (Biaya Operasional Sekolah),'' tutur Burhanuddin yang juga menjabat Sekretaris Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BSMP) Sulsel.

Tak Perlu UN di SMK

Ketua YPLP PGRI Sulsel, Drs H Hanafi Mappasomba MPd, meminta kepada pemerintah agar tidak perlu memberikan UN kepada siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
''Kalau banyak siswa SMK tidak lulus dalam UN itu wajar, karena siswa lebih fokus kepada pelajaran bidang keahlian, sedangkan UN mengujikan mata pelajaran bahasa Indonesia, matematika, dan bahasa Inggris,'' katanya.
Karena itu, ia meminta agar mulai tahun ajaran 2007/2008, pemerintah tidak lagi mengadakan UN untuk siswa SMK.
Khusus menyangkut siswa SMP dan SMA/SMK yang akan ikut ujian kesetaraan Paket B (setara SMP) dan Paket C (setara SMA) setelah tidak lulus dalam UN, dia juga meminta kebijakan dari pemerintah agar mereka tidak lagi mengikuti ujian pada mata pelajaran yang telah dilulusi dalam UN.
''Kalau seorang siswa misalnya tidak lulus matematika, tetapi sudah lulus bahasa Indonesia dan bahasa Inggrisnya, maka dalam ujian kesetaraan mereka cukup mengikuti ujian matematika ditambah tiga mata pelajaran lainnya. Jadi jangan disamakan dengan peserta reguler yang memang murni warga belajar, bukan siswa yang tidak lulus dalam UN,'' tuturnya.

(Dimuat di Harian Pedoman Rakyat,
Makassar, 6 Juli 2007,
Halaman 17/Humaniora)

Banyak Sekolah 'Menyiksa' Siswanya


-Terima Siswa Melebihi Kapasitas

MAKASSAR, (PR).
Sekolah seharusnya menyenangkan sehingga siswa bisa belajar dengan baik dan nyaman, tetapi pada praktiknya banyak sekolah yang 'menyiksa' siswanya.
'Penyiksaan' itu antara lain dengan menumpuk siswa lebih dari 40 orang dalam satu kelas, atau memindahkan jam belajar siswa dari pagi ke siang hari, sehingga suasana belajar tidak nyaman dan tidak menyenangkan.
''Di Makassar banyak sekolah (SMA dan SMP) yang siswa kelas satunya masuk siang, sedangkan kelas dua dan kelas tiga masuk pagi,'' kata Ketua YPLP PGRI Sulsel, Drs H Hanafi Mappasomba MPd, didampingi Sekretaris H Burhanuddin, kepada wartawan di Makassar, Kamis (5/7).
Suasana proses belajar mengajar (PBM) yang dimulai pada siang hari, katanya, tentu berbeda dibanding suasana PBM yang dimulai pada pagi hari.
''Belajar pada pagi hingga siang pasti berbeda suasananya dibanding belajar yang dimulai siang hingga sore hari. Biasanya siang hari itu panas dan hampir semua sekolah di Indonesia ruang belajarnya tidak ber-AC. Selain pengaruh panas, kesegaran fisik, kesegaran otak, dan daya tangkap anak juga pasti tidak maksimal, apalagi kalau guru yang mengajar juga sudah terkuras tenaga dan pikirannya setelah mengajar pada pagi hingga siang hari,'' papar Hanafi.
Ia berharap Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel, Patabai Pabokori, serta para Kepala Dinas Pendidikan kabupaten dan kota di Sulsel memperhatikan masalah tersebut dan mengupayakan agar tidak ada lagi sekolah yang melaksanakan belajar pagi dan sore hari, tetapi cukup pada pagi hari saja.
Kalau ruangan belajar yang ada hanya 21 kelas, sekolah cukup menerima siswa baru untuk tujuh kelas, sehingga semua siswa bisa masuk pagi.
''Kasihan siswa kalau ditampung sebanyak-banyaknya dan dipaksa belajar pada siang hingga sore hari,'' tandas Hanafi.

Berlakukan Aturan

Dalam Rapat Koordinasi (Rakor) para Kepala Sekolah SMP, SMA, dan SMK PGRI se-Sulsel, di Kantor PGRI Sulsel Jl Amanagappa Makassar, belum lama ini, para peserta sepakat agar YPLP PGRI Sulsel mengeluarkan imbauan kepada seluruh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota se-Sulsel.
Kadis Pendidikan diminta mengeluarkan surat peringatan kepada para kepala sekolah agar menjalankan aturan dalam penerimaan siswa baru (PSB), yang antara lain membatasi jumlah siswa maksimal 40 orang per kelas, sedangkan khusus sekolah unggulan, sekolah standar nasional (SSN), dan sekolah berstandar internasional (SBI) maksimal 30 orang per kelas.
Hanafi Mappasomba yang memimpin Rakor tersebut mengatakan, ada kesalahan persepsi selama ini di kalangan pemerintah, khususnya Dinas Pendidikan.
Sekolah Tipe A diartikan sebagai rombongan belajar (rombel) 9 kelas dikalikan 40 siswa, padahal sebenarnya sekolah Tipe A artinya sekolah yang memiliki ruang belajar sebanyak 27 kelas.
''Kalau ruang belajarnya hanya 21 kelas, itu berarti sekolah tersebut masuk Tipe A2, yakni hanya bisa menerima siswa baru maksimal tujuh kelas atau 280 siswa,'' jelas Hanafi. (an)

(Dimuat di Harian Pedoman Rakyat,
Makassar, Jumat, 6 Juli 2007,
Halaman 17/Humaniora)

Kamis, 05 Juli 2007

Harian Pedoman Rakyat


Harian Pedoman Rakyat adalah surat kabar Indonesia yang terbit di Makassar sejak 1 Maret 1947. Pendirinya adalah Soegardo (1916-1955) dan Henk Rondonuwu (1910-1974).
---------


Harian Pedoman Rakyat

Oleh: Asnawin
(Wartawan harian Pedoman Rakyat)

Harian Pedoman Rakyat adalah surat kabar Indonesia yang terbit di Makassar sejak 1 Maret 1947. Pendirinya adalah Soegardo (1916-1955) dan Henk Rondonuwu (1910-1974).

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Pemerintah Belanda di bawah pimpinan Dr Van Mook, berupaya menegakkan kembali kekuasaannya di Indonesia dengan politik memecah-belah, lewat pembentukan negara bagian.

Rakyat Indonesia ketika itu terpecah menjadi dua golongan, yakni Golongan Republikein yang konsekuen mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Golongan Federalis yang termakan pengaruh Van Mook.

Bagian timur Indonesia waktu itu disiapkan sebagai satu negara bagian diberi nama Negara Indonesia Timur (NIT). Karena berbagai reaksi menentang rencana itu, Belanda melarang kegiatan politik lewat partai-partai politik.

Kaum Republikein tetap konsisten tidak mau bekerja sama dengan Belanda. Salah satu jalan untuk tetap memperjuangkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, adalah melalui surat kabar. Maka, pada hari Sabtu, 1 Maret 1947 diterbitkanlah Majalah Tengah Boelanan: Pedoman.

Intimidasi Belanda

Kehadiran Pedoman tidak disenangi Pemerintah Belanda dalam NIT. Pertengahan tahun 1947, Pemerintah Belanda mengeluarkan keputusan mengusir Pimpinan Umum/Redaksi Pedoman, Soegardo dari wilayah NIT.

Pedoman kemudian diteruskan pengasuhnya di bawah pimpinan Henk Rondonuwu sebagai Pemimpin Umum/Redaksi dan dibantu oleh beberapa reporter muda yang penuh vitalitas, antara lain LE Manuhua (almarhum). Pada saat itu, Pedoman yang semula terbit tengah bulanan meningkat menjadi minggoean.

Berkat dukungan positif dari masyarakat daerah ini, pada 17 Agustus 1948, selain Minggoean Pedoman, juga diterbitkan sebuah surat kabar harian diberi nama Pedoman Harian. Karena waktu itu Pemerintah Belanda tidak membolehkan percetakan untuk mencetak surat kabar, maka Pedoman Minggoean dan Pedoman Harian terbit stensilan.

Oktober 1948, Percetakan Drukkery Macasser membuka kesempatan kepada Minggoean Pedoman. Karena biaya cetak cukup tinggi, Pedoman hanya mampu cetak beberapa kali di percetakan tersebut.

Langkah berikutnya, Pemerintah Belanda kembali melancarkan intimidasi terhadap pers Republikein di daerah ini. Dengan alat judikatif, Belanda menuntut sejumlah penanggung jawab surat kabar, dengan tuduhan menghina Ratu Belanda. Henk Rondonuwu sebagai penanggung jawab redaksi Pedoman dan Pedoman Harian dihukum penjara tiga bulan. Minggoean Pedoman berhenti terbit untuk sementara, sedangkan Pedoman Harian tetap terbit.

Pedoman Nusantara

Tahun 1949, selain Pedoman Harian tetap terbit, diterbitkan pula Mingguan Pedoman Nusantara yang merupakan hasil merger (gabungan) dari Pedoman, Mingguan Nusantara, serta Mingguan Pedoman Wirawan sebagai gabungan dari Rubrik Pemuda pada Mingguan Pedoman dengan Majalah Pemuda Wirawan. Semua penerbitan itu diterbitkan Badan Penerbit Nasional Pedoman.

Harian Pedoman Rakyat

Fase perjuangan nasional terus meningkat. Pedoman dan Pedoman Harian tetap terbit karena dua media ini kebetulan tidak dilarang Pemerintah Belanda.

Suasana politik berubah ketika penyerahan kedaulatan tahun 1950. Para pengasuh Pedoman dan Pedoman Harian sudah menganggap bukan waktunya lagi meneruskan penerbitan ini dalam bentuk stensilan, apalagi Percetakan Drukkery Macasser memberi kesempatan cetak lagi bagi Pedoman dan Pedoman Minggoean.

Mulai November 1950 diterbitkanlah harian Pedoman Rakyat sebagai gabungan semua penerbitan sejak Tengah Boelanan Pedoman 1 Maret 1947.

Seiring dengan pemakaian nama baru, juga berubah bentuk menjadi surat kabar umum (broadsheet) dengan cetak offset. Rencana penerbitan itu memiliki percetakan sendiri sejak 1948 baru terwujud pada 1952/1953. Pemerintah prafederal saat itu memberikan bantuan lima unit mesin percetakan pers didatangkan dari luar negeri.

Pada mulanya lisensi satu unit percetakan itu diberikan kepada Badan Penerbit Nasional Pedoman, tetapi ada perubahan suasana politik. Pemerintah mengubah keputusan menyerahkan kepada tiga penerbit nasional di Makassar, yakni tiga harian, masing-masing Pedoman Rakyat, Marhaen, dan Sulawesi Bergolak.

Percetakan Sulawesi

Tiga harian ini kemudian membentuk PT Penerbitan dan Percetakan Sulawesi, diresmikan 17 Agustus 1953. Setelah pengresmian, Sulawesi Bergolak berhenti terbit, sehingga pengelolaan percetakan dan penerbitan tersebut dilanjutkan oleh Pedoman Rakyat dan Marhaen.

April 1959, status PT Percetakan Sulawesi dialihkan secara sewa beli kepada Pedoman Rakyat dan Marhaen. Percetakan milik pemerintah itu menjadi milik sepenuhnya PT Percetakan Sulawesi tahun 1970. Badan Penerbit Marhaen kemudian melepaskan hak turut sertanya tanggal 1 Mei 1972, dengan menjual sahamnya kepada Pedoman Rakyat (Firma Perak).

Perkembangan Pedoman Rakyat

Pascakepemimpinan LE Manuhua, sekitar pertengahan 1990-an, harian ini memasuki babak baru dengan dibentuknya struktur jabatan direksi.

Sebelumnya, Pedoman Rakyat di bawah kendali Pemimpin Umum/Redaksi LE Manuhua, namun setelah itu dibentuk struktur baru dengan Direktur Utama yang pertama JB Pinontoan yang dibantu Hasanuddin Tahir alias Tatang sebagai Direktur I.

Beberapa tahun kemudian dilakukan pergantian direksi. Ventje S Manuhua, yang tidak lain anak kandung LE Manuhua dipercaya menjabat Direktur Utama PT Media Pedoman Jaya. Ventje dibantu Direktur I Luthfi Qadir, dan Direktur II Ardhy Basir.

Setelah itu, Peter Gozal yang pengusaha perhotelan masuk menjadi direktur utama. Ia didampingi tiga direktur, yakni Direktur Pemberitaan dan Pengembangan Asdar Muis RMS, Direktur SDM Luthfi Qadir, dan Direktur Keuangan Badaruddin.

Ketika Peter Gozal mundur sebagai direktur utama, harian Pedoman Rakyat sempat tidak terbit selama kurang lebih 40 hari antara Februari hingga awal April 2007, namun kini diterbitkan oleh wartawan dan karyawan Pedoman Rakyat.

Rubrik

Harian Pedoman Rakyat hingga kini tetap eksis dan berkantor di gedung berlantai empat Jl Arief Rate No 29, Makassar.

Terbit 20 halaman setiap hari (edisi Minggu untuk sementara tidak ada), Pedoman Rakyat menawarkan sejumlah rubrik halaman, yakni Metropolitan (berita-berita kota dan kriminal), Opini (artikel, tajuk rencana, Surat Pembaca, dan rubrik lanskap setiap edisi Senin), Politik & Hukum, Otomotif (hal 6 edisi Senin), Teknologi Informasi (hal 6 edisi Selasa), Properti (hal 6 edisi Rabu), Polisi Kita (hal 6 edisi Kamis), Mimbar Jumat (hal 6 edisi Jumat), dan Renungan (hal 6 edisi Sabtu).

Selain itu juga ada rubrik Ragam (aneka berita/sambungan dari halaman 1), Juku Eja (PSM dan sepakbola nasional), Sports (hal posteral/olahraga umum), Sport (olahraga umum), Bola (sepakbola internasional), Bisnis (berita-berita ekonomi), Sulsel (berita-berita daerah se-Sulawesi Selatan), Dunia (berita-berita internasional).

Selanjutnya ada rubrik halaman Humaniora (pendidikan, kesehatan, agama, sosial, seni, budaya), Indonesia Timur (berita-berita kawasan timur Indonesia), Layanan Umum, dan Infotainment (dunia artis dan hiburan).

Referensi:
- Brosur HUT ke-50 Pedoman Rakyat Tahun 1997
- Pengalaman Pribadi sebagai Wartawan Harian Pedoman Rakyat sejak 1992

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://pedomanrakyat.blogspot.com/]

Rabu, 04 Juli 2007

Museum Mendatangi Pengunjung


PENGUNJUNG museum ada dua macam. Pertama yaitu para kolektor, seniman, para perancang, ilmiawan, dan mahasiswa, yang karena latar belakang sosialnya seakan-akan ada hubungan tertentu dengan koleksi museum, dan bahwa kunjungan mereka ke museum itu sudah direncanakan semula dengan motivasi yang jelas. (Foto: museumku.wordpress.com)

Kurator adalah Jiwanya Museum


KOLEKSI adalah benda mati, tetapi benda itu akan hidup bila dikelola dengan baik oleh kuratornya. Benda itu akan berbicara tentang dirinya dan tentang manusia pendukungnya. Para pencinta museum sering mengatakan bahwa kurator adalah jiwa atau jantung museum, preparasi dan konservasi adalah anggota tubuhnya, sedangkan edukator adalah wajahnya. (Foto: thesukarnocenter.com)

Koleksi Museum Harus Dirawat dan Diteliti


BENDI ini merupakan salah satu koleksi yang ada di Museum La Galigo, Benteng Ujungpandang, Makassar. Koleksi adalah benda mati, tetapi benda itu akan hidup bila dikelola dengan baik oleh kuratornya. Benda itu akan berbicara tentang dirinya dan tentang manusia pendukungnya. (int)

Museum, Pintu Masuk Pertama Wisatawan


SARANA PEMBELAJARAN. Museum La Galigo yang terdapat di Kompleks Benteng Rotterdam Makassar, tidak lagi hanya memamerkan warisan budaya, sejarah, serta spesimen flora dan fauna, melainkan sudah dikembangkan menjadi instrumen pendidikan yang sangat berkesan atau menjadi sarana pembelajaran kepada masyarakat, termasuk pelajar dan mahasiswa. (dok pribadi)

Selasa, 03 Juli 2007

Perselingkuhan Politik

Perselingkuhan Politik


(Oleh: Asnawin)

Hampir setiap hari, Gogo Putih ke warkop. Sebagai seorang pengusaha yang juga terjun ke dunia politik, dia merasa perlu bahkan hampir mewajibkan dirinya ke warkop setiap hari. Kalau ada hari yang terlewatkan, itu pasti karena dirinya sedang sibuk.
Suatu pagi, dia berangkat dari rumah menuju kantornya. Dia memang selalu ke kantor terlebih dahulu untuk memberikan pengarahan atau sekadar menyapa karyawannya, sebelum ke warkop. Kalau ada urusan penting, ke warkopnya bisa lebih siang atau lebih sore lagi. Yang pasti, dia selalu meluangkan waktu ke warkop.
Di tengah perjalanan menuju kantornya, Gogo Putih merasakan ada keanehan. Dia merasa jalanan yang di tempuhnya agak berbeda dari biasanya, malahan terlalu asing baginya. Model rumah, model kantor, dan orang-orang yang ditemuinya semuanya begitu berbeda.
Di depan sebuah kafe, dia menghentikan mobilnya dan kemudian masuk. Seorang perempuan pelayan kafe datang menyodorkan daftar menu, tetapi tanpa membaca daftar menu, dia langsung memesan kopi susu, roti bakar kaya, dan telur ayam kampung setengah masak dua butir. Si pelayan tampak heran, tetapi ia segera meninggalkan Gogo Putih yang tampak tenang-tenang saja meskipun diliputi keheranan.
Sebelum pesanannya datang, seseorang berpakaian safari yang di belakangnya menyusul beberapa orang berpakaian hitam-hitam, mendatanginya dan langsung menyapa dengan akrab.
''Sudah lama saya ingin bertemu dengan anda. Apa kabar,'' kata pria bersafari dan memakai kaca mata itu sambil menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Gogo Putih.
Gogo Putih memperkirakan usia pria tanpa kumis itu sekitar 50 tahun dan kuat dugaannya bahwa orang itu adalah pejabat di pemerintahan, karena di kantongnya terpasang pin bundar berwarna kuning keemasan. Dia kemudian melirik ke meja sebelah dan menghitung ada lima pria berpakaian hitam yang mengawal si pejabat.
Meskipun tidak mengenal pria itu, Gogo Putih tetap tenang dan sambil tersenyum menyambut uluran tangan si pejabat dan mereka pun bersalaman erat sambil tersenyum.
''Saya baik-baik saja, tetapi saya heran karena tiba-tiba saja saya sudah berada di kota ini,'' ujar Gogo Putih.
Seorang wanita pelayan datang sambil membawa kopi susu, roti bakar kaya, dan telur setengah matang pesanan Gogo Putih, sekaligus membawa jus durian untuk sang pejabat. Gogo Putih dan si pejabat bersamaan mengucapkan terima kasih sambil tersenyum kepada si pelayan yang kebetulan berwajah manis.
Si pejabat kemudian membuka pembicaraan tentang calon pasangannya dalam pemilihan gubernur (pilgub) beberapa bulan mendatang. Calon pasangannya itu seorang pria yang usianya lebih muda lima tahun, tetapi sudah menjabat ketua dewan perwakilan rakyat dan menduduki jabatan strategis di partainya.
''Banyak yang mendukung kami dan mereka optimis kami akan menang dalam pilgub nanti,'' ujar si pejabat.
''Bagaimana dengan partai pendukung anda?'' tanya Gogo Putih.
''Dari empat parpol pendukung, ada dua yang bersandiwara di media,'' kata si pejabat.
''Bersandiwara bagaimana?'' tanya Gogo Putih lagi.
''Ketuanya bilang tidak bisa menerima calon pasangan saya, karena berasal dari partai lain yang tidak mendukung saya. Tetapi saya yakin keduanya kemungkinan besar akan menerima siapapun yang akan saya pilih untuk menjadi calon wakil saya,'' tutur si pejabat.
''Kelihatannya anda begitu yakin?'' ujar Gogo Putih.
''Karena saya sudah beberapa kali membantu mereka, baik kepada pribadi ketuanya, maupun kepada partainya,'' ungkap si pejabat.
''Saya kira itu belum cukup,'' kata Gogo Putih.
''Kami juga sudah ada 'deal-deal' politik, baik untuk menghadapi Pemilu mendatang, maupun dalam pilkada beberapa kabupaten dan kota,'' papar si pejabat.
''Saya kira itu belum cukup untuk memenangkan pilgub nanti. Anda juga harus menjalin komunikasi yang baik dengan orang-orang KPU, serta para bupati dan walikota,'' kata Gogo Putih.
''Saya bersama tim saya sudah berupaya. Mudah-mudahan ada kesepahaman di antara kami nanti,'' kata si pejabat.
Tiba-tiba ponsel si pejabat berdering.
''Maaf, saya terima telepon dulu,'' kata si pejabat lalu berbicara dengan seseorang di balik telepon.
''Maaf, saya sudah dari tadi ditunggu untuk menghadiri suatu acara. Saya tinggal dulu, nanti kita ketemu lagi,'' kata si pejabat lalu bersalaman dengan Gogo Putih dan kemudian pergi bersama lima pengawalnya.
Tak lama kemudian, ponsel Gogo Putih juga bergetar. Sebelum getarannya hilang dan berubah menjadi bunyi, dia langsung mengangkatnya.
''Warkop menunggu kehadiran anda, teman-teman sudah menunggu,'' terdengar suara seorang pria dari balik telepon.
''Saya memang mau ke warkop, tetapi sekarang saya berada di sebuah kota yang sangat asing,'' kata Gogo Putih.
''Jangan-jangan anda kesasar ke Negeri Antah-berantah,'' kata pria itu sambil tertawa.
''Saya tidak tahu, tetapi saya benar-benar ingin pulang,'' kata Gogo Putih.
''Saran saya, tenangkan diri sejenak lalu berdoa, kemudian anda naik ke mobil dan membawanya dengan santai,'' kata pria itu lagi.
Gogo Putih kemudian mengikuti saran itu dan entah bagaimana tiba-tiba dia sudah berada di jalan menuju warkop tempat pria yang menelepon tadi sedang ngopi dengan beberapa rekannya.

Makassar, 29 April 2007
(Dimuat di Harian Pedoman Rakyat
Makassar, 30 April 2007)

Kafilah Terpaksa Singgah

Kafilah Terpaksa Singgah

(Oleh Asnawin)


DUA setengah tahun menjabat Presiden Negeri Antah-berantah, tiada putus-putusnya masalah yang dihadapi Pak Sulit Bakambang. Baik masalah bencana alam, konflik di daerah, hingga masalah politik.
Meskipun demikian, Pak Sulit Bakambang bersama wakilnya, Pak Judes Kata, tetap kelihatan tegar menghadapi segalanya.
Ketika ada bencana alam, Pak Sulit Bakambang dan Pak Judes Kata berupaya terjun langsung ke lokasi untuk membawa bantuan dan memberikan semangat kepada warga yang tertimpa musibah.
Saat ada konflik di daerah, keduanya juga berupaya mengamankan situasi dengan berbagai pendekatan.
Sewaktu para politisi dan sebagian elemen masyarakat menginginkan pergantian kabinet, Pak Sulit dan Pak Judes meresponnya dengan mengganti dan menggeser posisi beberapa menteri.
Semua masalah diatasi dengan 'sebaik-baiknya'. Tak ada masalah yang dihadapi dengan marah, termasuk berbagai kritik pedas.
Pak Sulit Bakambang yang memang selalu tampil tenang dan berwibawa, menghadapi berbagai kritikan dan isu secara bijak.
Pak Sulit memang berlatar-belakang militer dan mantan Kepala Staf Panglima Perang, tetapi ia sama sekali tidak sangar dan tidak angker, malahan ia tampak lebih sipil dibanding orang sipil murni.
Meskipun tampak senantiasa memberikan respon dan menghadapi berbagai masalah, kritikan, dan isu dengan tenang, tetap saja orang mengkritisinya, tetap ada orang mengungkapkan isu-isu negatif. Malahan ada yang menyebut dirinya ibarat 'kafilah yang tetap berlalu, meskipun anjing menggonggong.''
Pak Sulit misalnya tidak terlalu merespon teriakan rakyat tentang semakin mahalnya biaya pendidikan, minimnya alokasi anggaran pendidikan dalam APBN, serta banyaknya siswa SMA dan SMP tidak lulus akibat kebijakan pelaksanaan Ujian Nasional (UN) yang menentukan kelulusan.
Pak Sulit juga tidak terlalu merespon teriakan rakyat tentang tingginya kenaikan harga BBM yang menyebabkan melonjaknya harga barang-barang kebutuhan sehari-hari.
Pak Sulit memang merespon ketika sebagian elemen rakyat menginginkan pergantian beberapa menteri, tetapi ada menteri yang tetap dipertahankan dan hanya digeser posisinya, padahal menteri itulah yang sebenarnya diinginkan rakyat untuk diganti.
Yang pasti, semua kritikan dihadapi dengan tenang dan dirinya tetap berupaya tampil berwibawa.
Namun ketika muncul isu bahwa semua pasangan calon presiden dan wakil presiden pada pemilu dua tahun lalu, turut menerima sumbangan dana non-budgeter salah satu departemen, Pak Sulit tampaknya tidak tahan juga untuk tidak memberikan reaksi. Apalagi, ada isu tambahan bahwa salah satu pasangan capres dan cawapres menerima sumbangan dari pihak asing yang jumlahnya cukup besar.
Reaksi Pak Sulit malah agak berlebihan, karena ia mengancam akan menuntut orang dan pihak-pihak lain yang dianggap telah memfitnahnya terkait aliran dana non-budgeter maupun dana asing untuk dirinya bersama Pak Judes saat kampanye Pamilu lalu.
Ia bahkan mengadakan konferensi pers khusus di halaman Kompleks Istana Kepresidenan, dan menegaskan bahwa opini yang berkembang telah menyinggung harga dirinya.
Pak Sulit menandaskan bahwa opini maupun isu yang diembuskan orang atau pihak-pihak tertentu selama ini soal dana non-budgeter maupun dana asing adalah fitnah yang kejam dan keji.
''Itu artinya kafilah terpaksa singgah. Presiden bersama kafilahnya terpaksa singgah, karena anjing bukan cuma menggonggong, melainkan juga sudah pandai dan berani bicara,'' ujar seorang seniman kepada rekannya seusai pentas pada perayaan acara Hari Kebangkitan Nasional tingkat kelurahan.
''Padahal Presiden kita itu sebenarnya bukan pemarah dan juga bukan orang tamak,'' kata rekannya.
''Kelihatannya memang begitu,'' ujar si seniman.
''Tetapi bagaimana dengan orang-orang sekitarnya? Siapa yang bisa menjamin bahwa presiden kita itu tidak dikelilingi orang-orang pemarah dan orang tamak.'' kata rekannya.
''Kalaupun orang-orang di sekitarnya ada yang pemarah dan tamak, kita berharap presiden kita sadar dan mau menyadarkan orang-orang itu, seperti sadarnya seorang Sultan ketika tidak dihormati seorang rakyatnya saat melakukan parade keliling kota,'' ungkap si seniman.

Sultan dan Rakyat Biasa

Si seniman kemudian bercerita bahwa konon ratusan tahun silam ada seorang Sultan yang sangat dihormati dan ditakuti rakyatnya. Sesekali ia berparade di jalan-jalan untuk melihat keadaan rakyatnya dan untuk melihat apakah rakyat masih menghormati dan takut kepadanya.
Suatu hari sang Sultan bersama para pengawal dan tentaranya melakukan parade. Semua orang memberikan hormat ketika Sultan lewat, kecuali seorang rakyat biasa.
Sang Sultan marah dan segera memerintahkan tentaranya untuk memanggil si rakyat yang tidak mau memberi hormat itu.
Setelah diperhadapkan dan ditanyai mengapa dirinya tidak menunduk dan memberi hormat kepada Sultan, rakyat biasa itu mengatakan; "Biarlah semua orang menghormat kepada Sultan. Mereka mungkin takut dan sebagian dari mereka mungkin menginginkan sesuatu dari Sultan, misalnya harta, kedudukan, dan atau kekuasaan. Tetapi itu semua tidak berarti bagi hamba. Untuk apa hamba menghormat kepada Sultan apabila hamba punya dua budak yang merupakan tuan-tuan Sultan?''
Meskipun tutur kata si rakyat biasa itu sopan, Sultan dan semua orang yang mendengarnya menjadi ternganga. Sultan menjadi marah dan wajahnya memerah.
"Apa maksudmu wahai rakyat jelata?" bentaknya.
"Kedua budakku yang menjadi tuanmu adalah amarah dan ketamakan," jawab si rakyat jelata dengan tenang.
Sultan akhirnya sadar dan kemarahannya perlahan-lahan sirna. Saat itu juga ia mengucapkan terima kasih dan memberi penghormatan kepada si rakyat jelata.
Mendengar cerita itu, rekan si seniman tampak tersenyum dan manggut-manggut.
''Seharusnya presiden kita itu tidak perlu marah menghadapi berbagai kritikan dan isu, apalagi kalau memang tidak benar, karena reaksi dan kemarahannya bisa menjadi diskusi panjang, serta merembet masalah-masalah lain,'' katanya.
''Kewibawaannya juga bisa menurun bahkan bisa runtuh kalau kemudian terbukti bahwa ia menerima dana non-budgeter dan dana asing pada Pemilu lalu,'' timpal si seniman.

Makassar, 27 Mei 2007

(Dimuat di Harian Pedoman Rakyat
Makassar, 28 Mei 2007)

Minggu, 01 Juli 2007

Dulu Berwibawa, Aman, dan Damai

Dulu Berwibawa, Aman, dan Damai


Oleh Asnawin
---------------------
email:
asnawin@hotmail.com

MANTAN Raja Negeri Angin, Suka Batuk, sedang nonton tivi sambil tidur-tiduran. Di usianya yang sudah lebih 80 tahun, ia banyak menghabiskan waktu dengan membaca koran, nonton tivi, dan beribadah. Sesekali ia bercanda dengan cucu-cucu dan cicitnya.
Ketika asyik nonton tivi, tiba-tiba ada berita sekilas info bahwa sejumlah penari 'liar' tampil di luar agenda acara peringatan Hari Keluarga Kerajaan Negeri Angin.
Mereka bukan hanya tampil menari, melainkan juga mengibarkan bendera Republik Negeri Angin Selatan (RNAS) di depan Raja Negeri Angin, Pangeran Suka Baca, sejumlah pejabat kerajaan, dan sejumlah Duta Besar kerajaan-kerajaan sahabat.
Mantan Raja Negeri Angin, Suka Batuk, langsung terbatuk-batuk dan mencak-mencak melihat berita sekilas info itu.
''Seharusnya ini tidak terjadi,'' katanya.
Pada malam hari, Suka Batuk kemudian melihat berita selengkapnya tentang kejadian pengibaran bendera RNAS di hadapan Raja Negeri Angin.
Kehadiran lebih 20 orang penari 'liar' itu mengagetkan semua orang, terutama karena tiba-tiba mereka mengibarkan bendera RNAS.
Raja Negeri Angin, Pangeran Suka Baca, yang jarang bicara, jarang menanggapi berbagai kritikan terhadap dirinya, dan juga jarang marah, kali ini langsung murka.
Pangeran Suka Baca sangat murka. Mukanya merah. Matanya merah. Tangannya gemetar. Tetapi meskipun murka, Pangeran Suka Baca ternyata masih mampu mengendalikan diri.
Setelah aparat keamanan menggiring para penari 'liar' itu keluar dari lapangan upacara, Raja Suka Baca kemudian tampil ke podium memberikan sambutan.
Semua orang tegang dan menunggu apa yang akan dititahkan Raja, namun Raja Suka Baca hanya mengatakan bisa memahami kejadian tersebut dan memerintahkan agar insiden itu diusut tuntas.
"Kasus ini harus diinvestigasi. Jangan sampai orang lain yang bikin, semua kena getahnya," tandasnya sebelum membacakan naskah sambutannya.

Bungkam, Tangkap, Tembak

Setelah melihat tayangan berita tersebut, Suka Batuk yang nonton tivi bersama beberapa anak, menantu, dan cucu-cicitnya, hanya batuk-batuk kecil. Di bibirnya tersungging senyuman, tetapi dadanya berdebar menahan amarah.
Ketika masih menjabat sebagai Raja, tidak ada orang atau pihak yang berani melakukan hal-hal yang bisa membuat dirinya malu apalagi marah.
Kalau ada yang berani, mereka pasti 'dihabisi'. Ada yang ditembak, ada yang diculik, dan ada yang hilang entah kemana.
Kalau Raja batuk sambil menutup mulut, maka itu berarti perintah untuk 'bungkam orang itu'. Kalau Raja batuk tanpa menutup mulut, maka itu berarti 'tangkap orang itu'. Kalau Raja batuk sambil memegang dada, maka itu berarti 'tembak orang itu.'
Jangankan rakyat biasa, anggota parlemen pun 'dihabisi' kalau mencoba melawan atau mengeritik dirinya. Seorang anggota parlemen yang agak vokal, pernah merasakan akibatnya dengan di-'recall' dari kursi parlemen ketika mengeritik Sang Raja.
Suka Batuk yang mantan Panglima Keamanan Kerajaan Negeri Angin, memang bertangan besi, tetapi wibawa kerajaan dan wibawa Raja menjadi terjaga. Kerajaan lain pun hormat kepada Suka Batuk.
Rakyat memang banyak yang tidak puas atas kepemimpinannya yang bertangan besi, tetapi di sisi lain rakyat bisa menghirup udara bebas dan aman di Negeri Angin.
Tidak ada aksi unjuk rasa yang memacetkan jalanan. Tidak ada isu terorisme. Tidak ada perang antaretnis atau antarkelompok. Tidak ada pembantaian besar-besaran. Tidak ada bom yang meledak di tengah keramaian dan menewaskan orang banyak. Tidak ada orang atau pihak yang berani mengibarkan bendera selain bendera kerajaan di depan Raja.
Rakyat memang banyak yang tidak puas atas kepemimpinan Raja Suka Batuk yang konon korup dan menganakemaskan militer, tetapi di sisi lain rakyat bisa bernafas lega karena harga barang-barang kebutuhan sehari-hari tetap terjangkau, biaya sekolah tidak terlalu mahal, dan biaya pengobatan pun masih normal.
''Saya memang melakukan banyak kesalahan selama kurang lebih 30 tahun menjadi raja, tetapi semua orang kini mengenang masa-masa damai dan aman ketika saya menjadi raja,'' kata Suka Batuk dalam hatinya.

Makassar, 1 Juli 2007

(Dimuat di Harian Pedoman Rakyat
Makassar, 2 Juli 2007)

Dijatuhi Cahaya, Punya Ilmu Kebal




''Tak lama kemudian tiba-tiba ada cahaya dari atas dan langsung menerpa tubuh saya hingga saya terbanting. Saya langsung terbangun dan mendapati tubuh saya basah oleh keringat. Saya tidak tahu apa makna mimpi itu, tetapi sampai sekarang mimpi itu tak pernah saya lupakan,'' tutur Prof Dr Idris Arief MS.