Selasa, 25 Agustus 2009

PKS Pastikan Anis Matta Jadi Wakil Ketua DPR RI

Harian Fajar (www.fajar.co.id)
Selasa, 25-08-09 | 10:04 | 69 View


PKS Pastikan Anis Matta Jadi Wakil Ketua DPR RI

JAKARTA -- Sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta dipastikan akan menempati kursi Wakil Ketua DPR RI periode 2009-2014. Hal tersebut dipertegas langsung oleh dari Presiden PKS Tifatul Sembiring. "Pak Anis dipastikan akan menjadi Wakil Ketua DPR," ujar Tifatul kepada media, 24 Agustus, malam tadi.

Menurut Tif, panggilan akrabnya, Anis Matta telah dipilih secara bulat oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKS yang diputuskan minggu lalu. Politisi asal Bukit Tinggi itu menyatakan Anis memiliki kriteria yang berpengalaman di dalam parlemen. "DPP sudah memilihnya. Pemilihan itu didasari atas pengalamannya," ujarnya.

Tifatul menyatakan bahwa pengesahan atas pemilihan Anis Matta itu akan diumumkan sesudah lebaran atau di bulan September mendatang. "Pelantikannya bulan September, tapi DPP sudah pasti memilihnya," ungkapnya menambahkan.

Berdasarkan UU MPR, DPR, dan DPRD, pimpinan DPR akan diisi wakil dari lima partai peraih suara tertinggi dalam Pemilu 2009. Kursi Ketua DPR akan menjadi 'jatah' partai pemenang pemilu, sementara wakil dari empat partai lain akan menduduki kursi wakil ketua DPR. Karena PKS menempati posisi partai terbesar keempat di Pileg 2009, maka PKS akan mendapatkan 1 jatah wakil ketua DPR.

Anis Matta ketika dihubungi membantah sudah ada keputusan partainya. Menurutnya, keputusan mengenai hal itu baru akan diambil setelah Lebaran. ''Belum ada tuh. Belum ada rapat juga. Banyak yang sedang umrah,'' ujar Anis merendah.

Sebelumnya, ada tiga nama disebut sebagai calon wakil ketua DPR dari PKS. Yaitu Ketua Fraksi PKS Mahfudz Siddiq, Sekjen PKS, Anis Matta, dan Ketua Komisi X DPR Irwan Prayitno. (dil)

Senin, 24 Agustus 2009

Pesan Ramadhan Presiden Obama



Pesan Ramadhan Presiden Obama

Yayat Suratmo
Published 08/22/2009 - 5:38 a.m. GMT
Email: Info@KabariNews.com
www.kabarinews.com

Washington,KabariNewscom,- Presiden Barack Obama menyampaikan pidato menyambut datangnya bulan suci Ramadhan bagi umat Islam dunia.

Berikut petikannya seperti diterima redaksi,

Bahasa Indonesia:

Atas nama rakyat Amerika - termasuk masyarakat Muslim di semua lima puluh negara bagian - saya ingin mengucapkan selamat kepada warga Muslim di Amerika dan seluruh dunia. Ramadan Kareem.

Ramadan adalah bulan di mana umat Muslim meyakini bahwa Al Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad, dimulai dengan sebuah kata sederhana – iqra. Oleh sebab itu Ramadan merupakan saat di mana warga Muslim merenungkan kebajikan dan bimbingan yang datang seiring bersama iman serta tanggung jawab yang dimiliki manusia terhadap satu sama lain dan kepada Allah.

Sebagaimana rakyat dari pemeluk keyakinan lain yang menyaksikan Ramadan lewat masyarakat dan keluarga kami, saya tahu bahwa ini merupakan saat yang bahagia – saat di mana keluarga berkumpul dan makan bersama. Tetapi saya juga tahu bahwa Ramadan merupakan masa untuk pengabdian dan perenungan – saat warga Muslim berpuasa sepanjang hari dan melakukan shalat tarawih di malam hari, membaca dan mendengarkan ayat-ayat suci Al Qur'an selama satu bulan.

Tradisi ini mengingatkan kita pada prinsip-prinsip yang kita yakini bersama, serta peran Islam dalam memajukan keadilan, toleransi dan harga diri semua umat manusia.

Misalnya, puasa adalah konsep yang dianut oleh banyak agama – termasuk agama saya sendiri, Kristen – sebagai cara untuk mendekatkan manusia pada Allah, dan pada mereka di antara kita yang belum tentu bisa menikmati santapan berikutnya. Dan dukungan yang diberikan warga Muslim kepada warga lainnya, mengingatkan kita pada tanggung jawab untuk memajukan kesempatan dan kemakmuran bagi rakyat di mana saja. Karena kita semua harus ingat bahwa dunia yang ingin kita bangun – serta perubahan yang ingin kita laksanakan – harus dimulai dari dalam hati sanubari dan masyarakat kita sendiri.

Musim panas ini, rakyat di seluruh Amerika telah melakukan pengabdian dalam masyarakat mereka – mendidik anak-anak, merawat yang sakit dan mengulurkan tangan kepada mereka yang mengalami kesulitan. Organisasi berbasis agama, termasuk banyak organisasi Islam, berada di garis depan dalam pengabdian musim panas ini. Dan di masa penuh tantangan ini, inilah semangat tanggung jawab yang harus kita pertahankan dalam bulan-bulan serta tahun-tahun mendatang.

Di luar perbatasan Amerika, kami juga bertekad menepati tanggung jawab kami untuk membangun sebuah dunia yang lebih damai dan aman. Itulah sebabnya kami secara bertanggung jawab mengakhiri perang di Irak. Itulah sebabnya kami mengucilkan kelompok garis keras yang mempergunakan kekerasan sambil memberdayakan rakyat di Afghanistan dan Pakistan. Itulah sebabnya kami dengan kuat dan secara aktif mendukung solusi dua negara yang mengakui hak-hak warga Israel dan Palestina agar bisa hidup dalam perdamaian dan keamanan. Itulah sebabnya Amerika akan senantiasa membela hak-hak universal dari semua orang untuk mengungkapkan pendapat, mempraktekkan agama mereka, menyumbang sepenuhnya pada masyarakat mereka dan memiliki kepercayaan pada aturan hukum.

Semua usaha ini merupakan bagian dari komitmen Amerika untuk melibatkan warga Muslim dan negara yang mayoritas penduduknya Muslim berdasarkan kepentingan bersama dan saling menghormati. Pada masa pembaharuan ini, saya ingin menegaskan kembali komitmen saya bagi permulaan yang baru di antara Amerika dan Muslim di seluruh dunia.

Sebagaimana saya katakan di Kairo, Pengejawantahan dari permulaan yang baru ini harus berupa upaya yang berkesinambungan untuk saling mendengarkan, untuk saling belajar, untuk saling menghormati, dan untuk mencari kesepahaman bersama. Saya yakin sebuah bagian penting dari usaha ini adalah mendengarkan dan dalam dua bulan terakhir ini, kedutaan-kedutaan besar Amerika di seluruh dunia telah mengulurkan tangan tidak saja kepada pemerintahannya, tetapi langsung kepada rakyat di negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Dan dari seluruh dunia, kami telah menerima berbagai masukan tentang bagaimana Amerika bisa menjadi mitra mewakili aspirasi rakyat.

Kami telah mendengarkan. Dan seperti Anda, kami memusatkan perhatian pada tindakan nyata yang akan membawa perubahan seiring waktu – baik dari segi isu politik dan keamanan yang telah saya bahas, maupun dalam bidang-bidang yang telah Anda katakan akan membawa perubahan terbesar dalam kehidupan manusia.

Konsultasi ini membantu kami menyelenggarakan kemitraan yang saya serukan di Kairo – memperluas program pertukaran pendidikan; membina kewirausahawan dan menciptakan lapangan pekerjaan; serta meningkatkan kerjasama ilmu pengetahuan dan teknologi, serta juga mendukung pemberantasan buta huruf dan meningkatkan pendidikan kejuruan.

Kami juga bergerak maju dalam bermitra dengan Organisasi Konferensi Islam atau OKI dan negara anggota OKI, guna memberantas polio, sambil bekerja sama secara erat dengan masyarakat internasional untuk memerangi tantangan kesehatan seperti virus H1N1 - yang saya sadari merupakan keprihatinan khusus bagi banyak warga Muslim yang bersiap-siap melakukan ibadah haji.

Semua usaha ini diarahkan pada usaha memajukan aspirasi kita bersama – untuk hidup dalam perdamaian dan keamanan; untuk memperoleh pendidikan dan bekerja secara terhormat; mencintai keluarga kita, masyarakat kita, dan agama kita. Hal ini membutuhkan waktu dan kesabaran. Kita tidak bisa mengubah hal-hal ini dalam sekejap, tetapi kita bisa secara jujur bertekad melakukan hal-hal yang harus dilaksanakan, sambil bergerak menuju arah yang baru – mencapai cita-cita yang kita perjuangkan untuk diri kita sendiri dan anak-anak kita. Itulah perjalanan yang harus kita lewati bersama.

Saya ingin meneruskan dialog yang sangat penting ini dan menjabarkannya ke dalam tindakan nyata. Dan pada hari ini, saya mengucapkan kepada Muslim di seluruh Amerika dan di seluruh dunia semoga bulan puasa ini diberkati, seiring Anda menyambut permulaan Ramadan. Semoga damai Tuhan bersama Anda.

Washington, 21 Agustus 2009

Bahasa Inggris :

On behalf of the American people – including Muslim communities in all fifty states – I want to extend best wishes to Muslims in America and around the world. Ramadan Kareem.

Ramadan is the month in which Muslims believe the Koran was revealed to the Prophet Muhammad, beginning with a simple word – iqra. It is therefore a time when Muslims reflect upon the wisdom and guidance that comes with faith, and the responsibility that human beings have to one another, and to God.

Like many people of different faiths who have known Ramadan through our communities and families, I know this to be a festive time – a time when families gather, friends host iftars, and meals are shared. But I also know that Ramadan is a time of intense devotion and reflection – a time when Muslims fast during the day and perform tarawih prayers at night, reciting and listening to the entire Koran over the course of the month.

These rituals remind us of the principles that we hold in common, and Islam’s role in advancing justice, progress, tolerance, and the dignity of all human beings.

For instance, fasting is a concept shared by many faiths – including my own Christian faith – as a way to bring people closer to God, and to those among us who cannot take their next meal for granted. And the support that Muslims provide to others recalls our responsibility to advance opportunity and prosperity for people everywhere. For all of us must remember that the world we want to build – and the changes that we want to make – must begin in our own hearts, and our own communities.

This summer, people across America have served in their communities – educating children, caring for the sick, and extending a hand to those who have fallen on hard times. Faith-based organizations, including many Islamic organizations, have been at the forefront in participating in this summer of service. And in these challenging times, this is a spirit of responsibility that we must sustain in the months and years to come.

Beyond America’s borders, we are also committed to keeping our responsibility to build a world that is more peaceful and secure. That is why we are responsibly ending the war in Iraq. That is why we are isolating violent extremists while empowering the people in places like Afghanistan and Pakistan. That is why we are unyielding in our support for a two-state solution that recognizes the rights of Israelis and Palestinians to live in peace and security. And that is why America will always stand for the universal rights of all people to speak their mind, practice their religion, contribute fully to society and have confidence in the rule of law.

All of these efforts are a part of America’s commitment to engage Muslims and Muslim-majority nations on the basis of mutual interest and mutual respect. And at this time of renewal, I want to reiterate my commitment to a new beginning between America and Muslims around the world.

As I said in Cairo, this new beginning must be borne out in a sustained effort to listen to each other, to learn from each other, to respect one another, and to seek common ground. I believe an important part of this is listening, and in the last two months, American embassies around the world have reached out not just to governments, but directly to people in Muslim-majority countries. From around the world, we have received an outpouring of feedback about how America can be a partner on behalf of peoples’ aspirations.

We have listened. We have heard you. And like you, we are focused on pursuing concrete actions that will make a difference over time – both in terms of the political and security issues that I have discussed, and in the areas that you have told us will make the most difference in peoples’ lives.

These consultations are helping us implement the partnerships that I called for in Cairo – to expand education exchange programs; to foster entrepreneurship and create jobs; and to increase collaboration on science and technology, while supporting literacy and vocational learning. We are also moving forward in partnering with the OIC and OIC member states to eradicate polio, while working closely with the international community to confront common health challenges like H1N1 – which I know is of particular to concern to many Muslims preparing for the upcoming hajj.

All of these efforts are aimed at advancing our common aspirations – to live in peace and security; to get an education and to work with dignity; to love our families, our communities, and our God. It will take time and patient effort. We cannot change things over night, but we can honestly resolve to do what must be done, while setting off in a new direction – toward the destination that we seek for ourselves, and for our children. That is the journey that we must travel together.

I look forward to continuing this critically important dialogue and turning it into action. And today, I want to join with the 1.5 billion Muslims around the world – and your families and friends – in welcoming the beginning of Ramadan, and wishing you a blessed month. May God’s peace be upon you.

Washington, 21 Agustus 2009

Minggu, 23 Agustus 2009

Yao Defen (233 cm), Wanita Tertinggi di Dunia Tahun 2009



Yao Defen (233 cm), Wanita Tertinggi di Dunia Tahun 2009

Yao Defen saat ini dianggap sebagai wanita tertinggi di dunia dengan tinggi mencapai 233 cm. Beratnya 200 kg dan kakinya berukuran 78 (EU) atau 26 (UK). Gejala gigantisme yang dideritanya disebabkan karena adanya sebuah tumor di kelenjar bagian bawah otaknya.

sumber berita:
- http://maubaca.com/

Heather Greene, Wanita Tertinggi No. 10 di Dunia Tahun 2009



Heather Greene, Wanita Tertinggi No. 10 di Dunia Tahun 2009

Heather Greene adalah wanita tertinggi No. 10 di dunia pada tahun 2009. Dia tinggal di Las Vegas, Amerika Serikat. Tingginya "cuma" 196 cm.

sumber berita :
- http://maubaca.com/

Wanita Tertinggi No. 8 di Dunia Tahun 2009



Caroline Welz, Wanita Tertinggi No. 8 di Dunia Tahun 2009

Caroline Welz (20 tahun) merupakan wanita tertinggi di Jerman, dengan tinggi badan 206 cm.




sumber berita:
- http://maubaca.com/

Trijntje Kever, Wanita Tertinggi Sepanjang Sejarah (255 cm)



Trijntje Kever, Wanita Tertinggi Sepanjang Sejarah (255 cm)

Dalam catatan sejarah manusia, wanita tertinggi di dunia adalah Trijntje Kever, dengan tinggi mencapai 255 cm dan hidup di Hague (Belanda) pada tahun 1616-1633.

Trijntje Keever adalah anak perempuan dari Cornelis Keever Anna Pouwels, seorang berpangkat kapten.

Tahun 1625, wanita ini pertama tiba di Hague bersama rombongan sirkus. Saat itu tingginya baru sekitar 2 meter. Selanjutnya tiap tahun dia mengunjungi Hague hingga meninggal pada usia 17 tahun di tahun 1633. Saat itu tingginya sudah mencapai 255 cm.

Trijntje Keever meninggal karena penyakit kanker yang dideritanya.




Heather Greene, tinggal di Las Vegas, tingginya "cuma" 196 cm.

sumber berita :
1. http://maubaca.com/
2. http://pesatnews.com/

Rabu, 19 Agustus 2009

Sepuluh Kelebihan Wanita Dibanding Pria



Sepuluh Kelebihan Wanita Dibanding Pria

Gena Gerina

13/08/2009 11:23 | Penelitian
http://gayahidup.liputan6.com/berita
Direkam pada Rabu, 19 Agustus 2009

Liputan6.com, New York: Kebanyakan wanita tentunya mengagumi kaum lelaki. Tetapi beberapa penelitian menunjukkan bahwa ternyata wanita memiliki beberapa kelebihan yang mengagumkan dibandingkan dengan laki-laki. Hal tersebut dirangkum Cosmopolitan, dan berikut hasilnya:

1. Perempuan berevolusi menjadi semakin cantik.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa wanita berevolusi menjadi lebih cantik, sementara laki-laki begitu-begitu saja. Dalam penelitian terhadap lebih dari dua ribu orang selama empat dekade, disimpulkan bahwa perempuan berpenampilan menarik memiliki anak 16 persen lebih banyak daripada yang berpenampilan biasa-biasa saja. Lebih lanjut lagi, ternyata kemungkinan wanita-wanita cantik tersebut memiliki anak perempuan sebagai anak pertama lebih besar 36 persen dari yang lainnya.

2. Perempuan lebih sering selamat dari kecelakaan mobil.
Hal ini menyedihkan, namun begitulah kenyataannya. Berdasarkan penelitian oleh Universitas Carnegie Mellon, di Pittsburgh, Amerika Serikat, laki-laki 77 persen lebih berisiko meninggal dalam kecelakaan mobil dibanding perempuan. Seharusnya, para pria berterimakasih pada wanita yang cerewet menyuruhnya mengenakan sabuk pengaman.

3. Perempuan lebih mudah merasa nyaman.
Berdasarkan survei pada dua ribu orang, ternyata wanita jauh lebih mudah membicarakan masalahnya dibandingkan laki-laki. Sebanyak 53 persen wanita membicarakan masalahnya pada teman-teman mereka, sementara laki-laki yang menceritakan masalahnya hanya 29 persen.

4. Wanita lebih tahan resesi.
Menurut sebuah Biro Statistik Tenaga Kerja, sebanyak 80 persen orang yang kehilangan pekerjaan, sejak Desember 2007, adalah laki-laki. Hal ini kemungkinan disebabkan karena lapangan pekerjaan yang didominasi prialah yang paling keras terkena dampak resesi global. Memang menyebalkan, tetapi mungkin sudah waktunya kaum Adam beralih pekerjaan menjadi perawat atau guru.

5. Wanita lebih sering lulus perguruan tinggi.
Seperti kita ketahui, wanita lebih banyak terdaftar di perguruan tinggi dibandingkan laki-laki. Sebuah statistik mengungkapkan bahwa laki-laki yang lulus dan mendapatkan gelar sarjana juga ternyata lebih sedikit daripada wanita. Kebanyakan laki-laki ternyata membutuhkan waktu lebih lama dari lima tahun untuk menyelesaikan kuliah mereka.

6. Wanita makan lebih sehat.
Penelitian pada sekitar 14 ribu orang yang dilakukan oleh University of Minnesota, AS, menunjukkan bahwa wanita lebih banyak memilih makanan sehat dibanding pria. Ketika pria lebih suka makan makanan beku atau cepat saji seperti daging merah dan pizza, para wanita justru menaruh sejumlah buah dan sayuran dalam piring mereka. Memang terdengar sehat, namun wanita juga harus mengobati kecanduannya pada coklat yang sulit dihilangkan.

7. Kekebalan tubuh wanita lebih kuat.
Tak heran bila laki-laki bertingkah layaknya seorang bayi ketika mereka terserang flu. Kenyataannya, wanita memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat dibanding laki-laki. Ketika terjadi pertempuran dalam tubuh, wanita memiliki senjata rahasia yakni hormon estrogen. Penelitian dari McGill University, Kanada, menunjukkan bahwa estrogen dapat mengatasi enzim yang mengganggu pertahanan tubuh terhadap bakteri dan virus.

8. Wanita berumur lebih panjang.
Di antara populasi dunia, sebanyak 85 persen orang yang berusia lebih dari 100 tahun adalah wanita. Menurut penelitian New England Centenarian, umumnya wanita hidup lima hingga 10 tahun lebih lama dibanding pria.

9. Wanita dapat menjadi bos yang lebih baik.
Hal ini mungkin sedikit kontroversial. Beberapa ahli dengan yakin berpendapat bahwa kaum wanita dapat menjadi bos yang lebih hebat daripada laki-laki. Hal ini disebabkan karena wanita adalah pendengar dan mentor yang lebih baik. Selain itu, wanita juga dapat menyelesaikan masalah dengan lebih baik, dan mengerjakan dua hingga tiga pekerjaan sekaligus. Dalam sebuah artikel Daily News, baru-baru ini, seorang ahli mengatakan bahwa saat ini perekonomian lebih berorientasi pada pelayanan, sehingga karyawan yang bisa menjadi penyemangat lebih diperlukan. Wanita dinilai sebagai penghubung yang lebih baik dibanding pria, serta lebih lihai dalam memberikan semangat kepada para pekerja.

10. Wanita berinvestasi lebih baik.
Penelitian pada 100 ribu portofolio menunjukkan bahwa investasi wanita lebih menghasilkan dibanding investasi pria. Perbandingannya adalah 18 persen dibanding 11 persen. Hal ini mungkin disebabkan karena wanita lebih berhati-hati dengan keputusan investasinya dan berpikir untuk jangka panjang. (LUC)

Kamis, 13 Agustus 2009

Novel Asdar Muis Diluncurkan



Novel Asdar Muis Diluncurkan
-Eksekusi Menjelang Subuh-

Oleh: Asnawin
(penikmati seni dan sastra)

Puluhan seniman, budayawan, wartawan, dan pecinta seni-sastra menghadiri peluncuran novel berjudul "Eksekusi Menjelang Subuh" karya Asdar Muis RMS, di ruang pertemuan Dewan Kesenian Makassar (DKM) Benteng Rotterdam, Makassar, Kamis, 13 Agustus 2009.

Selain meluncurkan novel, Asdar Muis RMS yang mantan Direktur Pemberitaan Harian Pedoman Rakyat, juga merayakan ulang tahunnya yang ke-46. Esais dan monolog itu lahir di Pangkep, 13 Agustus 1963.

Tak heran kalau kemudian Asdar Muis menerima ucapan selamat yang "bertubi-tubi", baik ucapan selamat atas terbitnya novelnya, maupun atas hari ulang tahunnya.

Di antara seniman dan budayawan yang hadir, tampak Ishak Ngeljaratan, AM Mochtar, Syahrial Tato, Nur Alim Djalil, Aslan Abidin, Anil Hukma, dan Anis Kamah.

Acara yang didahului dengan penampilan monolog Asdar Muis tersebut dipandu oleh Dahlan Abubakar (dosen Unhas, penulis buku, wartawan senior) dan menampilkan Ahyar Anwar (dosen Universitas Negeri Makassar, budayawan)sebagai pembedah buku.

Asdar Muis menjelaskan bahwa novel berjudul "Eksekusi Menjelang Subuh" itu murni dongeng, tetapi mengambil tempat kejadian yang nyata (benar-benar ada) yakni di Ternate dan Makassar (Sulawesi Selatan).

Novel tersebut mulanya berupa cerita bersambung yang pernah dimuat di Harian Berita Yudha, Jakarta. Ceritanya diilhami oleh perjalanan Kacong Laranu-seorang pria tereksekusi mati di Palu, tahun 1995-karena membantai keluarga yang menampung hidupnya di hari tua.

"Ini murni karya sastra! Dan, telah diupaya-maksimalkan meletakkan validitas informasi lewat interpretasi dari bahan yang dikumpulkan. Nama-nama yang tidak terkait sejarah, murni imajinasi!" kata Asdar dalam catatan penulis di novel tersebut.

Kisah Cinta

Kisah dalam novel tersebut "dipenggal" dalam 19 bagian, dimulai dari kisah cinta "sembunyi-sembunyi" pemuda Kinau dengan gadis Maemunah di sebuah pulau di Ternate.

Jalinan cinta mereka rupanya tak mendapat restu dari orangtua Kinau dan itu memaksa Kinau nekad mengajak Maemunah pergi meninggalkan pulau tempat tinggal mereka. Sayangnya, Maemunah batal berangkat karena tidak muncul di pantai dan Kinau pun berangkat sendirian.

Kinau terdampar di Makassar dan di sinilah cerita sesungguhnya bermula. Ia tinggal di tengah keluarga Daeng Towa, orang Makassar yang menyelamatkannya dari kematian setelah perahunya diombang-ambingkan ombak di tengah laut saat ia meninggalkan kampung halamannya. Ia kemudian sekolah dan menjadi tentara di Makassar.

Belasan tahun kemudian, saat cuti pulang kampung di Ternate, ternyata ibu dan bapaknya sudah tewas ditembak tentara, karena keduanya dituding sebagai bagian dari pasukan Republik Maluku Selatan (RMS).

Kinau sebenarnya juga rindu dan mencari-cari Maemunah, tetapi kerinduan itu tenggelam setelah mengetahui kabar kematian kedua orangtuanya. Kinau kemudian kembali ke Makassar dalam keadaan sedih dan dendam.

Sebagai lelaki normal, Kinau tentu punya rasa cinta, tetapi cintanya kepada Maemunah terlalu besar, sehingga ia tetap membujang hingga di usia kepala empat. Ia baru menikah saat dipindahtugaskan ke Buton.

Ketika anaknya masih kanak-kanak, Kinau dipindahtugaskan lagi. Kali ini ke Donggala, Sulawesi Tengah. Ia berat menerima tugas tersebut, tetapi sebagai prajurit sejati, perasaan tersebut harus dilawan. Ia pun akhirnya terpaksa berangkat sendirian ke Donggala, karena isterinya tak mau ikut.

Kinau bertugas di Donggala hingga pensiun. Saat pensiun, ia tetap tinggal di Donggala dan ditampung oleh salah satu keluarga petani yang sangat baik.

Kinau senang, tetapi hatinya sunyi. Ia rindu kepada isteri dan anaknya di Buton. Ia juga teringat dengan ibu dan ayahnya yang dibunuh tentara karena fitnah, teringat kepada perempuan cantik bernama Basse di Makassar yang ia tembak mati karena menjadi bagian dari pasukan gerombolan Qahhar Muzakkar, teringat kepada Daeng Towa yang dibunuh oleh tentara Belanda, serta teringat kepada keluarga Daeng Towa yang ditinggalkannya di Makassar karena dipindahtugaskan ke Buton.

Perasaan sunyi, rindu, dan dendam kemudian membangkitkan emosinya. Kinau juga menyesali dirinya karena meninggalkan kedua orangtuanya di Ternate. Tanpa ia sadari, Kinau merasa berada di masa perang. Ia marah dan kemudian mengasah parangnya. Ia mengamuk dan memburu semua musuhnya.

Kinau heran ketika tiba-tiba ia ditangkap polisi, karena dituding membantai sebuah keluarga yang selama ini menampungnya. Kisah ini kemudian berakhir dengan eksekusi menjelang subuh, setelah Kinau menjalani masa tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Petobo, Palu, selama beberapa tahun.

Sawerigading Gagap Pulang Kampung



Sawerigading Gagap Pulang Kampung

Oleh : Asdar Muis RMS


INI bukan legenda. Bukan parodi. Ini imajinasi! Murni suatu geliat dari kegelisahaan terhadap penghargaan nilai-nilai kultur dan akar sejarah keberadaan kita sebagai manusia Bugis, sebagai manusia berbudaya!
Sebab, kita selalu lupa dari mana muasal kita lalu merasa bagian dari masa silam. Padahal, kita sudah lama tidak berjiwa Bugis, karena kita tersergap oleh budaya asing yang tidak sekadar terjadi transformasi, tapi tertelan. Pun kita gagap merasa masih memiliki jati diri, namun pada dasarnya: kita bukan lagi siapa-siapa – dan selalu merasa saja sebagai apa!
Tersebutlah Sawerigading yang Agung, pulang kampung setelah melewati waktu lebih dari seribu dua ratus tahun lalu. Ia pulang hanya didampingi seorang pengawal. Ketika tiba di Malili, Tana Batara Guru, ia kebingungan. Tidak ada yang mengenalnya. Ia kemudian seakan tiada henti mengenalkan dirinya sebagai orang penting yang membangun tonggak tanah leluhurnya. Akan tetapi, tak ada yang peduli.
Sawerigading pun memanggil dan mencari PatotoE, Batara Guru, dan ayahnya Batara Lattu, juga memanggil saudara kembarnya We Tenri Abeng. Ia protes mengapa ia tidak dikenal. Pun PatotoE dan Batara Lattu memintanya bersabar sebagai orang yang sudah pergi jauh demi memburu cinta kepada I We Cudai di negeri Cina.
PatotoE dan Batara Lattu berujar; “Kamu mestinya bahagia, karena walau kau pergi jauh, tapi namamu dikenang. Tidak seperti kami. Kamu diabadikan di berbagai tempat, sebagai nama kampus, sebagai nama jalan, juga sebagai simbol di sebuah kabupaten dengan menyebutmu Bumi Sawerigading di Belopa. Yang lain pun begitu. Ada Bumi Batara Guru di Malili. Ada Bumi La Galigo di Masamba. Kami di mana?”
Sawerigading gamang. Ia gagap melihat kondisi tanah leluhurnya. Ia tidak tahu harus protes kepada siapa. Ia kemudian mengritik mengapa kehidupannya yang sudah diakui di dunia sebagai epik terpanjang sesuai karya La Galigo, melebihi Mahabrata, kok tidak diajarkan di generasi pelanjutnya.
Namun, ia masih bisa bahagia karena masih ada Bissu yang memelihara kebudayaan masa silam miliknya. Pun ia mencoba kemampuan Bissu “maggirik” dan memainkan lalu menusukkan keris ke tubuh. Ia bersyukur, masih ada sedikit budaya yang tersisa.
Walau masyarakat langit juga mengikuti modernitas, tapi Sawerigading menegaskan bahwa tidak ada nilai-nilai tua yang agung itu yang terbuang.
“Kami boleh maju, tapi kami berlandas pada nilai-nilai kami sendiri,” tegasnya.
Itu sebabnya, ia mengaku kecewa karena nilai-nilai yang diturunkan dewa, yang dibawa Batara Guru, telah terbuang begitu saja. Dan anehnya, nama mereka masih digunakan tapi roh mereka telah lama hilang.
Protes Sawerigading makin menjadi-jadi. Ia tidak mau mengerti kenapa ada pelacuran, ada perzinahan, ada kejahatan, juga ada pencurian uang milik rakyat di berbagai tempat. Dan ia bingung seperti apa bentuk korupsi itu. Pun ketika ia dijelaskan seperti apa itu korupsi, Sawerigading makin marah.
Di zamannya, tidak ada korupsi. Saat ditanya mengapa tak ada korupsi di masanya, ia menjawab singkat, “Karena di zaman kami belum ada uang.”
Sawerigading pun kembali bertanya, “Mengapa orang di kekinian lebih mencintai uang daripada yang lain?” Dan ia mendapat jawaban: “Uang jauh lebih cantik dari cinta. Apa saja dapat dibeli dengan uang!”
Mulut Sawerigading melongo. “Kalau begitu, saya akan pasang gambar wajah saya di lembaran uang kertas seperti halnya Soekarno-Hatta, Pattimura.”
La Galigo kemudian dipanggil. Bissu diminta oleh Batara Guru untuk memanggil putra Sawerigading dari istrinya, We Cudai.
Kala asyik membakar menyan dan dupa, Sawerigading protes. “Memangnya di langit tidak modern seperti di bumi. Ayo cepat panggil pakai handphone! Masak kita berdekatan dengan satelit tapi kita tidak memanfaatkannya.”
Kala La Galigo datang, Sawerigading protes. “Mengapa kau tidak mengajarkan tentang diri saya, tentang dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah kepada mereka?”
Pun La Galigo menjawab, “Saya sudah melakukan semuanya. Saya bikin 12 bagian, tapi mereka baru membuatnya dua jilid. Itu pun tidak jelas lagi kapan ada jilid ketiganya. Dan mengapa mereka kesulitan membuatnya? Itu karena mereka suka mengubah-ubah bahasa nenek moyangnya. Dulu mereka mengenal bahasa kita, kini tidak lagi. Ah, bahasa negaranya saja yang Indonesia itu masih belepotan, eh mereka sudah mau sok jagoan pakai bahasa Inggris. Lantas kapan mereka mau tahu bahasa Galigo yang sudah kutitipkan dari zaman ke zaman?”
Sawerigading bingung, tidak mengerti. “Mengapa semua itu terjadi?”
La Galigo ikut bingung. “Ya, untunglah ada perempuan hebat bernama Colliq PujiE yang menyatukan serpihan-serpihan catatan saya di abad 19 masehi. Hanya saja, ia harus mengorbankan dirinya terbuang di kerajaannya di Tanete karena dicurigai kumpul kebo dengan BF Matthes.”
“Eh, kamu bicara apa, Galigo?” Sawerigading makin bingung.
“Saya membicarakan sejarah!”
“Sepertinya kamu menyinggung ayahandamu ini!”
“Tidak, ayah! Tidak, papi!”
Sawerigading mencibir. “Kamu masih suka menyinggungku tentang perempuan. Saya tidak suka kumpul dengan kerbau. Saya memang suka perempuan cantik. Tapi, lelaki manakah yang tidak suka perempuan cantik?”
“Dan, papi terusir dari negeri ini karena memaksakan kehendak untuk menikahi tanteku yang merupakan saudara kembarmu sendiri kan?” serbu La Galigo.
“Hei, kamu tidak akan ada jika saya tidak menikahi We Cudai ibumu. Ingat itu!”
“Aha, Papi memang suka memburu perempuan. Ya, kan?”
Sawerigading diam.
“Kan terbukti, papi pulang kampung tanpa membawa mami, tidak membawa We Cudai. Apa alasan papi?”
Sawerigading tertawa. “Kan sudah biasa toh jika laki-laki jalan sendiri. Ya, siapa tahu ada yang masih mau ke papi yang tetap tampak muda ini. Ya, kan, Go?”
La Galigo meradang. “Papi memang genit. Tidak pernah cukup satu perempuan. Kegenitan dijadikan alasan atas nama cinta. Cinta... cinta....! Padahal, cinta itu palsu. Bukan cinta suci yang direstui Dewa. Tapi cinta yang dapat diucapkan beribu-ribu kali tanpa bekas.”
Sawerigading marah! Ia angkat pedangnya. Ia ingin menebas apa saja seperti ketika menebang pohon Walenreng.
PatotoE turun tangan dan meminta kedua ayah-anak itu berhenti bertengkar.
Batara Guru ikut menyela. “Sudahlah!”
Lalu matanya memandang Sawerigading. “Apalagi yang kau masalahkan? Kau tetap yang terhebat. Paling hebat. Tahu kenapa? Karena anakmu yang menuliskan kisah hidupmu. Andaikata kau tidak pergi dan kau menuliskan cerita hidupku atau pun cerita tentang ayahmu Batara Lattu, kan bisa jadi saya Batara Guru ini atau Batara Lattu akan jauh lebih hebat daripada kamu!”
Sawerigading mendelik. “Kan, Batara Guru sendiri yang mengusirku.”
Batara Guru menunduk haru. Ada anak sungai mengalir di pipinya. Ia terisak.
“Kami menyesal membuatmu terusir. Kami tidak punya maksud demikian. Tapi, ambil saja hikmahnya. Toh kamu kan sudah terbiasa keliling dunia. Malah, cerita kehidupanmu saja dibawa keliling dunia. Dan, kamu tentu ikut keliling dunia.”
Sawerigading sedih. Ia menangis.
“Untuk apa saya hebat. Untuk apa saya tetap jaya. Semua tiada guna. Saya cuma ingin dikenal, dimengerti, diketahui, diterima, dicintai, disayangi oleh keturunanku. Saya ingin jiwaku tetap ada di mana mereka hidup, ya di mana saja. Sebab, bumi ini, dunia tengah ini, adalah tempat menuju dunia atas, menuju langit pembebasan dari segala beban kehidupan!”
Semua diam. Beku. Dan tiba-tiba Sawerigading berteriak lagi, “Adakah yang masih mengenal saya?” Dan semua orang menggeleng. Pun Sawerigading menangis. Menjauh. Pergi. Lalu menghilang ke langit. Dan La Galigo serta semua yang datang dari langit, ikut terbang dan hilang!
Memang hanya cerita imajinasi. Tapi adakah kita tidak merasa malu jika ternyata kita lebih mencintai dan menghormati, malah menyembah-nyembah kebudayaan orang lain. Dan lebih gila lagi, kita lebih menyembah uang dari pada keluarga kita. Jauh lebih gila lagi, kita mengatasnamakan demi anak-istri-suami, lalu kita memburu uang, menge-jar materi. Padahal, kita memburu mimpi kita sendiri, mengejar keserakahan kita sendiri.
Dan kita akan berhenti jadi gila jika mau merenungi hidup bahwa betapa lebih nikmatnya hidup di masa silam di dunia yang tidak mengenal uang! Dan mereka hanya mengenal cinta. Dan cintalah yang memberi mereka semangat hidup. Cinta yang telah diajarkan Sawerigading kepada kita sebagai keturunannya! *

Makassar, Januari 2008

Biodata penulis:
Asdar Muis RMS – Lelaki tambun kelahiran Pangkep, 13 Agustus 1963, putra ketiga dari enam bersaudara dari pasangan Abdul Muis Ali – Siti Rachmatiah Muis Sanusi ini, dikenal sebagai esais. Tulisannya pernah aktif dimuat di harian Pedoman Rakyat dan di Harian Fajar.
Bila menulis karya sastra, suami Herlina ini kerap memakai berbagai nama samaran, antara lain Linaku Nunung Rosita.
Sejak awal 1984, ia menambahkan RMS pada namanya, singkatan dari “Rachmatiah Muis Sanusi”.
Direktur Berita Radio Suara Celebes FM 90,9 Mhz dan staf pengajar Universitas Fajar Makassar ini menulis buku antara lain “Sepatu Tuhan” dan “HZB Palaguna : Jangan Mati Dalam Kemiskinan”.
Ia terlibat pula dalam penulisan beberapa buku yang terbit di Jakarta dan Makassar.
Di dunia jurnalistik, ia pernah menjadi Pemred Tabloid Harian Suaka Metro Jakarta, Redpel Manado Post, Redpel Tabloid Anak Wanita “Gita” Jakarta, redaktur Harian Berita Yudha, bekerja di Harian Fajar, koresponden MBM Tempo, Kepala Biro Harian Nusa-Bali di Jakarta, Direktur Pemberitaan Harian Pedoman Rakyat, dan beberapa media lainnya di Sulawesi dan Kalimantan.
Ia dikenal sebagai seniman dan mendirikan “Komunitas Sapi Berbunyi” di Makassar.
Jebolan Asdrafi (Akademi Seni Drama Indonesia) Yogyakarta dan alumnus Fisipol Unhas ini suaranya kerap terdengar di radio lewat “Kolom Udara” yang berisi kritikan sosial dan politik. Bila ditanya apa pekerjaannya, mahasiswa sosiologi Pascasarjana Program Magister Universitas Hasanuddin ini menjawab secara serius: berpikir! *

-keterangan tambahan:
Esai ini telah dimuat di Tabloid CERDAS (diterbitkan Kopertis IX Sulawesi)
No. 31, Vol IV, April 2009

MENUJU PTS BERDAYA SAING



MENUJU PTS BERDAYA SAING

Oleh: Ibrahim Saman


Fokus pengembangan pendidikan tinggi bertumpu pada HELTS 2005–2009, dengan tiga issu strategis (Daya Saing Bangsa, Kesehatan Organisasi, dan Otonomi Pengelolaan) dalam mewujudkan visi Departemen Pendidikan Nasional “Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif.”

Pertumbuhan perguruan tinggi di Indonesia dewasa ini mengalami peningkatan yang cukup pesat. Itu dapat dilihat dari jumlah 82 PTN dengan 3.372 prodi, dan di 12 Kopertis seluruh Indonesai tercatat 2.777 PTS, dengan 12.068 prodi.

Dari data tersebut perguruan tinggi swasta di Sulawesi sebagai wilayah Kopertis IX, tercatat 326 PTS (11,16%) dengan 1.040 prodi (8,62%).

Gambaran data ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi negeri terbatas.Kondisi itu memberi peluang perguruan tinggi swasta untuk berperan banyak dalam merekrut jumlah mahasiswa maupun peluang lain dalam membangun pendidikan, serta menciptakan insan cerdas dan kompetitif.

Dalam situasi kompetitif, pengelola perguruan tinggi harus berupaya keras meningkatkan kualitasnya dalam memberikan kualitas pelayanan jasa yang dapat memenuhi kebutuhan para pelanggannya.

Pelanggan perguruan tinggi yaitu pelanggan primer (mahasiswa), pelanggan skunder (pengelola, pemerintah, orangtua mahasiswa, masyarakat, organisasi/lembaga, dan lain-lain), pelanggan tersier (dunia kerja).

Kualitas pelayanan jasa yang diberikan perguruan tinggi kepada langganan sangat ditentukan sejauhmana perguruan tinggi itu ditata kelola dengan baik yang menyebabkan Sehatnya Organisasi.

Oleh karena itu salah satu topik dalam tulisan ini adalah strategis yang dilakukan Kopertis Wilayah IX, dalam melakukan WASDALBIN (pengawasan, pengendalian, pengawasan), yaitu pemberdayaan (empowering) sumberdaya manusia.

Kondisi Objektif PTS

Kopertis Wilayah IX Sulawesi yang meliputi enam provinsi, membina 326 PTS dengan 1.040 program studi. Prodi-prodi tersebar di Sulawesi Selatan 185 PTS (59,87%), Sulawesi Utara 44 PTS (14,24%), Sulawesi Tengah 25 PTS (8,09%), Sulawesi Tenggara 30 PTS (9,71%), Sulawesi Barat 15 PTS (4,85%), dan Gorontalo 9 PTS (3,24%).

Dosen terdiri atas Dosen Negeri Dipekerjakan 1.055 orang, Yayasan 4.907 orang, dan Luar Biasa 4.703 orang.

Kualifikasi Akademik terdiri Diploma IV 88 orang, Sarjana 3.652 orang, Magister 2.352 orang, dan Doktor 213 orang.

Jenjang jabatan Fungsional Asisten Ahli 2.484 orang (38,22%), Lektor 1.395 orang(21,46 %), Lektor Kepala 635 orang (9,76%), dan Guru Besar 61 orang (0,99 %) dan Tenaga Pengajar 1.923 orang (29,57%).

Jumlah mahasiswa tahun 2007 sebanyak 137.339 orang, terdiri atas mahasiswa eksakta sebanyak 56.778 orang (41,34%), dan non-eksakta sebanyak 70.561 orang (58,66 %).

Fasilitas yg dapat mendukung pemberdayaan adalah Growth Center, e–Learning Center Kopertis Wil.IX, dan Vicon Mini Inherent.

Berdasarkan kondisi objektif di atas maka gambaran perguruan tinggi swasta Kopertis Wilayah IX Sulawesi bila dilihat dari potensi sumberdaya manusia dengan sarana dan prasarana yang tersedia, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, menjadi kendala dalam peningkatan daya saing.

Gambaran kondisi sebagai berikut. Pertama, para dosen yang berkualitas tinggi dan terbatas lebih banyak tinggal di perguruan tinggi swasta yang besar dan berada di kota.

Kedua, ketimpangan mutu pendidikan antara lulusan perguruan tinggi swasta yang ada di kota dan daerah.

Ketiga, rendahnya citra perguruan tinggi swasta secara umum, disebabkan karena PTS berjalan sendiri-sendiri, tidak berkembangnya pemberdayaan antar-PTS dengan baik.

Keempat, terbatasnya sarana penunjang akademik, untuk mendukung proses pembelajaran secara baik, pada umumnya SDM di PTS hanya menunggu perintah, petunjuk, atau pengarahan dari pimpinan, sehingga prakarsa, inovasi, dan kreativitas tidak berkembang, yang berkembang adalah kebergantungan.

Strategi Pembinaan

Berdasarkan wilayah dan potensi sumberdaya, serta kendala yang dihadapi PTS, maka strategi Wasdalbin Kopertis Wilayah IX Sulawesi, tergambar dalam langkah strategis Penguatan Tatakelola dengan penekanan yaitu: (1) Peningkatan Kualitas, (2) Penegakan Hukum, dan (3) Pemberdayaan.

Dalam tulisan ini, penulis menitikberatkan pembahasan mengenai strategi Pemberdayaan (Empower-ment), mengingat kondisi perguruan tinggi swasta dalam wilayah Kopertis IX, tersebar di enam wilayah provinsi, yang masih memiliki keterbatasan dan kelemahan manajemen. Sehingga untuk mendukung peningkatan kualitas, dan penegakan hukum diperlukan strategi pemberdayaan (Empowering).

Aileen Mitchell Stewart, dalam bukunya Empowering People (1998:110), mengemukakan Teori E (Empowerment) bahwa orang sebenarnya mampu menyumbangkan lebih banyak dari pada yang dimungkinkan oleh kebanyakan organisasi selama ini, bahwa orang mau dan akan bekerja baik jika kita memberi kemungkinan.

Dalam teori ini juga dipercaya bahwa para pemimpin lebih efektif berperan sebagai fasilitator dari pada sebagai pemimpin, dan bahwa mereka harus melimpahkan kekuasaan, bukan hanya tanggung jawab kepada individu-individu atau kelompok.

Gietsch & Davis (1997: 174) dalam buku Perguruan Tinggi Bermutu (2001: 169), menyatukan pengertian pemberdayaan dengan partisipasi (involvement) dengan menggunakan istilah Total Employee Involvement and Empowerment, yang berarti bahwa pemberdayaan para karyawan terjadi hanya apabila mereka berpartisipasi aktif sepenuhnya dalam proses pemikiran dan kegiatan pada semua tingkatan organisasi.

Dalam partisipasi itu setiap karyawan diberi kesempatan luas dan difasilitasi untuk memberikan sumbangan pemikiran, mengadakan inovasi atau kreativitas, sehingga dapat mengembangkan dirinya.

Pemberdayaan dapat diartikan sebagai penciptaan dan pengembangan situasi di dalam organisasi perguruan tinggi, sehingga semua orang baik kedudukannya sebagai penyelenggara maupun pengelola dan seluruh civitas akademika memiliki kemampuan dan kesempatan berkinerja, berkreasi, berinovasi, serta mengembangkan diri.

Penerapan konsep pemberdayaan (empowering) dalam manajemen pada organisasi, bukan hal yang gampang, oleh karena menuntut kecakapan dan kecerdasan seorang pemimpin.
Aileen M.Stewart (1998:77) mengemukakan seperangkat kecakapan yang perlu dimiliki yaitu: (1) membuat mampu (enabling), (2) memperlancar (fasilitating), (3) berkonsultasi (consulting), (4) bekerjasama (collaborating), (5) membimbing (mentoring), dan (6) mendukung (supporting).
Pembentukan unit-unit pengembangan, forum, dan assosiai di Kopertis Wilayah IX Sulawesi adalah upaya strategis mewujudkan kebersamaan dan pemberdayaan sumberdaya PTS dalam mendukung penguatan or-ganisasi Kopertis dalam pelaksanaan tupoksi sebagai pengawas, pengendali dan pembina untuk mewujudkan PTS yang berdaya saing.

Butir-Butir Pemberdayaan

Dalam menciptakan daya saing PTS, diperlukan otonomi pengelolaan dengan tata kelola yang akuntabel yang diperkuat dengan sehatnya organisasi perguruan tinggi yang bersangkutan, untuk membangun organisasi yang sehat, salah satu strategis yaitu pemberdayaan sumberdaya manusia, baik secara internal maupun eksternal.

Beberapa butir-butir pemberdayaan yang perlu dibangun adalah, pertama membangun visi bersama.

Pentingnya visi bersama agar seluruh personil mengetahui kemana organisasi kita arahkan, seluruh personil yang terlibat memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang dikehendaki dan mengapa.

Jika setiap personil jelas mengenai tujuan organisasi, maka sebagian besar kegiatan akan terkoordinasi dengan sendirinya. Kebanyakan permasalahan dalam organisasi diakibatkan oleh tujuan yang tidak jelas, oleh karena itu diperlukan visi bersama.

Kedua, pembinaan. Dalam kaitan dengan pembinaan diperlukan pendidikan dan pelatihan bagi personil yang terlibat, untuk menstandarkan perilaku secara konsisten dan dapat diandalkan, pembinaan ini juga diharapkan pada suatu saat mereka diberi kesempatan untuk berpikir dan mengambil keputusan sendiri tentang apa yang harus dikerjakan.

Ketiga, Mengatasi Kendala. Seorang pimpinan yang memberdayakan, selalu berusaha menghilangkan kendala, dengan memastikan bahwa segala sistem dan prosedur sejalan dengan tujuan, sehingga dengan pemberdayaan merupakan proses mencapai tujuan.

Keempat, Kejelasan. Betapapun pentingnya pemberdayaan, kita tidak dapat mengharapkan apabila personil yang terlibat tidak memahami dengan baik apa itu pemberdayaan, dan apa manfaat yang didatangkan. Tidak ada pemberdayaan yang baik bilamana personil yang terlibat masih ragu apa yang sebenarnya kita kehendaki, pikirkan, dan percayai.

Kelima, Menyemangati. Pimpinan harus dapat menciptakan kegairahan dan semangat akan program pemberdayaan, jika tidak tampak bersemangat, jangan harap orang lainpun akan bergairah.

Pemberdayaan sering menciutkan hati meskipun kebaikan dan keuntungan yang ditimbulkan amat besar bagi setiap personil maupun organisasi PTS.

Keenam, Menilai. Pemberdayaan adalah merupakan suatu proses, oleh karena itu pentingnya melakukan memantaua atau penilaian secara terus menerus, untuk melihat seberapa efektif sasaran dan tujuan tercapai. Dalam penilaian ini diperlukan in-formasi balik dari para personal yang terlibat untuk memberikan komentar atas kinerja yang memberdayakan.

Kepelayanan Bermutu

Kopertis Wilayah IX Sulawesi dalam misinya menyatakan “Memberikan Pelayanan Terbaik Kepada PTS, Stakeholders dan Menjadi Pengawas, Pengendali, dan Pembina yang Profesional.”

Implikasi yang sangat mendasar dari kata Pelayanan dalam misi yang diemban Kopertis IX, sangat mulia, karena tersirat makna (1) Ada pihak yang melayani disebut pelayan, (2) Ada pihak yang dilayani, disebut pe-langgan, dan (3) Terjadinya proses melayani dan dilayani.

Ketiga hal tersebut sangat mendasar, karena sesungguhnya itulah yang dialami dalam kehidupan manusia.

Prinsip dasar seorang pelayan yang bermutu ialah “Melayani, bukan Dilayani”. Berkaitan dengan Tri Konsep Strategi yang dikembangkan oleh Kopertis Wilayah IX yaitu Peningkatan Kualitas, Penegakan Hukum, dan Pemberdayaan, pada hakekatnya adalah komitmen pelayanan yang diberikan kepada PTS di Wilayah IX, untuk menjadi PTS berdaya Saing.

Pelimpahan beberapa kewenangan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi ke Kopertis Wilayah sejak Januari 2009, adalah merupakan pemberdayaan Kopertis dalam rangka percepatan pelayanan untuk mewujudkan perguruan tinggi bermutu dan berdaya saing.

Beberapa kewenangan yang dilimpahkan adalah: (1) perpanjangan ijin penyelenggaraan, (2) Angka kredit Lektor ke bawah, (3) penilaian proposal penelitian dosen muda dan kajian wanita, (4) penyaluran peserta BPPS kepada dosen tetap PTS untuk studi lanjut (S2), serta (5) pembagian kuota sertifikasi dosen.

Bagi Perguruan Tinggi Swasta, kepelayanan bermutu sangat penting artinya dalam mengemban Tridharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
PTS mempunyai pelanggan yaitu: mahasiswa, orangtua, pemerintah, masyarakat, dan dunia kerja. PTS membutuhkan pelanggan, begitu juga pelanggan membutuhkan PTS.

Pada dasarnya keduanya saling membutuhkan, tidak ada yang dapat berjalan sendiri-sendiri. Tetapi pada akhirnya stakeholders-lah yang menentukan apakah lulusan perguruan tinggi bermutu atau tidak.

Sifat dan sikap inilah yang harus disikapi oleh perguruan tinggi, agar senantiasa memiliki akuntabilitas.

Tuntutan dalam perkembangan organisasi perguruan tinggi baik negeri maupun swasta saat ini meliputi transparansi dan akuntabilitas, mengharuskan perguruan tinggi memerlukan tata kelola yang baik, dan menyangkut kepentingan masyarakat luas, maka perlu pula dipertanggungjawabkan secara baik dan benar.

John. J.Carson dalam bukunya: Governance of College and Universities (New York :1960), termuat dalam buku Manajemen Perguruan Tinggi Modern, oleh: R.Eko Indrajit & R.Djokopranoto, memberikan definisi: Governance is a decision- making proces for making rules and regulation which govern the conduct of and relationship between the various members of the colleges or university community.”

Carson mengemukakan bahwa dalam perguruan tinggi, kita menyaksikan suatu proses atau seni dimana para cendekiawan, mahasiswa, pengajar, administrator, dan pimpinan bergabung bersama di kolege atau universitas, serta melaksanakan peraturan dan ketentuan yang bertujuan meminimalkan konflik, meningkatkan kerjasama, dan menjamin kebebasan individu tertentu.

Akuntabilitas suatu lembaga pendidikan tinggi dapat diartikan sejauh mana perguruan tinggi tersebut mempunyai makna dari para stakeholders-nya, dapat tidaknya kinerja (produk), prilaku pengelola dapat dipertanggung-jawabkan secara hukum, etika akademik, agama, dan nilai budaya.

Daulat P.Tampubolong, dalam bukunya Perguruan Tinggi Bermutu(2001:123), mengatakan, akuntabilitas perguruan tinggi dapat dilihat yaitu: (a) apakah peraturan yang ditetapkan oleh perguruan tinggi dapat dipertanggung jawabkan secara undang-undang?

(b) Apakah materi kuliah yang diberikan dosen dapat dipertanggung-jawabkan secara kurikuler dan etika akademik?, (c) apakah nilai hasil ujian ( IP/IPK) yang diperoleh mahasiswa terpercaya?

(d) Apakah prilaku (sikap) kepelayanan para pengelola perguruan tinggi dapat dipertanggung-jawabkan secara hukum, etika, agama, dan nilai budaya?, (e) apakah penelitian yang dilakukan dan hasilnya tidak bertentangan dengan agama dan atau undang-undang?, serta (f) apakah perguruan tinggi mempunyai kode etik?

Bahwa kondisi objektif perguruan tinggi swasta di Kopertis Wilayah IX, masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan, SDM yang berkualitas tersebar di berbagai PTS, fasilitas pendukung proses pembelajaran masih sangat memadai dan hanya berada pada PTS tertentu.

Manajemen PTS masih lemah, berimplikasi terhadap tidak sehatnya organisasi PTS, sehingga sumberdaya manusia tidak bersinergi untuk mengangkat citra PTS Kopertis Wilayah IX Sulawesi dengan tugas pokok dan fungsinya sebagai pengawas, pengendali dan pembina, dengan melihat kondisi objektif PTS, mengambil langkah strategis yaitu peningkatan kualitas, penegakan hukum dan pemberdayaan (empowering).

Upaya strategis pemberdayaan SDM yang dilakukan oleh Kopertis Wilayah IX, telah dibentuk berbagai unit pengembangan, forum, asosiasi, penyediaan fasilitas e-learning center, dan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak dengan satu simpul pemberdayaan.

Berbagai upaya dan unit tersebut diharapkan dapat menunjang pelaksanaan wasdalbin, mewujudkan otonomi pengelolaan PTS, kesehatan organiasi, sehingga dapat memberikan pelayanan bermutu, dengan tetap berkomitmen terhadap kualitas, dan ketaatan azas (penegakan hukum), dengan demikian PTS akan berdaya saing.***

Drs. H. Ibrahim Saman MM adalah Sekretaris Pelaksana Kopertis Wilayah IX Sulawesi.

Nb: artikel ini telah dimuat pada Tabloid "Cerdas" edisi April 2009. Tabloid Cerdas diterbitkan oleh Humas Kopertis IX Sulawesi.

Profil Kopertis Wilayah IX Sulawesi



Profil Kopertis Wilayah IX Sulawesi

Oleh: Asnawin
(Humas Kopertis Wilayah IX Sulawesi)

Kantor Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah IX Sulawesi adalah lembaga yang mengkoordinasi perguruan tinggi swasta (PTS) yang ada dalam wilayah: Provinsi Sulawesi Selatan, Provinsi Sulawesi Barat, Provinsi Sulawesi Tenggara, Provinsi Sulawesi Tengah, Provinsi Sulawesi Utara, dan Provinsi Gorontalo.

Tujuan Pembentukan Kopertis

Dasar dibentuknya Koordinator Kopertis Wilayah IX adalah untuk membantu Direktur Jenderal Perguruan Tinggi dalam mengemban otoritas, wewenang, dan tanggung jawab terhadap Universitas / Institusi dan Sekolah Tinggi sebagai pelaksana program pembinaan terhadap perguruan tinggi dalam rangka pelaksanaan Undang-undang nomor 22 tahun 1961 dan produk perundang-undangan lainnya.

Kedudukan, tugas, dan wewenang Koordinator Perguruan Tinggi ditetapkan dengan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 170b/ 1967, tanggal 10 Oktober 1967 walaupun wilayah kerjanya akan ditetapkan kemudian.

Untuk melaksanakan tugas dan wewenang, diterbitkan pula keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 1/PK/1968 tanggal 17 Pebruari 1968 tentang Kantor Koordinator Perguruan Tinggi sekaligus menetapkan wilayah kerjanya.

Dalam Diktum pertama Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini, ditetapkan pembukaan Kantor Koordinasi Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Direktur Perguruan Tinggi di :

1. Jakarta dengan wilayah kerjanya meliputi Jakarta Raya dan sekitarnya.
2. Bandung dengan wilayah kerjanya meliputi daerah Jawa Barat.
3. Semarang dengan wilayah kerjanya meliputi Jawa Tengah bagian utara termasuk Banyumas.
4. Yogyakarta dengan wilayah kerjanya meliputi daerah Jawa Tengah bagian selatan termasuk Kedu.
5. Surabaya dengan wilayah kerjanya meliputi daerah Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Koordinator Kopertis IX

Dari Diktum tersebut ternyata bahwa untuk wilayah Indonesia Bagian Timur belum mencakup kelima Koordinator yang sudah dibentuk. Namun demikian untuk pembentukannya sudah ada.

Oleh karena itu, dengan keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 4/ PK/1968, tanggal 5 Desember 1968, diangkatlah Lektor Dr. Muhammad Natsir Said, SH, Rektor Universitas Hasanuddin sebagai Koordinator Perguruan Tinggi Daerah Sulawesi dan Maluku.

Sejak pembentukannya hingga sekarang, Kantor Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta telah beberapa kali mengalami perubahan nama maupun pergantian pejabat. Proses perubahan dan pergantian pejabat dalam lingkungan Kantor Kopertis Wilayah IX Sulawesi dapat dilihat sebagai berikut :

1. Periode 1972 - 1976

Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 054/1972, tanggal 25 Maret 1972 dan terhitung mulai Maret 1972 dilakukan perubahan nama menjadi Koordinasi Perguruan Tinggi Wilayah VII dengan perluasan wilayah kerja meliputi Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya.

Dalam periode itu pula terjadi pergantian pejabat berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 14440/ C/1/1972, tanggal 31 Mei 1972 dimana terhitung mulai tanggal 1 Juni 1972, Lektor Dr. Muh. Natsir Said, SH digantikan oleh Prof. Dr. Zaenal Abidin Farid, SH.

2. Periode Tahun 1976

Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 44 dan Nomor 45 tahun 1974, Menteri Pendidikan Nasional dengan Keputusan Nomor 079/0/1975, tanggal 17 Pebruari 1974 Jo. Nomor 094/0/1975, dilakukan lagi perubahan nama menjadi Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (KOPERTIS).

Berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 84266/C/1/1976 tanggal 12 Maret 1976, Prof. Dr. Zainal Abidin Farid, SH, diberhentikan dengan hormat dari jabatannya dan digantikan oleh Prof. Dr. Ahmad Amiruddin.

Dengan perubahan ini ternyata tugas dan wewenang yang diberikan pada awal pembentukannya dipersempit sebatas perguruan tinggi swasta.

3. Periode 1976-1980

Pada periode 1976-1980, Koordinator dijabat oleh Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. H. Ahmad Amiruddin. Tiga tahun kemudian, atau tepatnya tahun 1983, Prof. Dr. H. Ahmad Amiruddin terpilih menjadi Gubernur Sulawesi Selatan. Jabatan itu diemban selama dua periode (1983-2003.

4. Periode Tahun 1980-an

Pada periode 1980-an, Koordinator Kopertis Wilayah VII berubah menjadi Koordinator Kopertis Wilayah IX, dengan wilayah kerja yang tetap yaitu Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya. Koordinator pada periode ini dijabat oleh Ridwan Saleh Mattayang, SH.

5. Periode 1990-1995

Pada periode 1990-an, wilayah kerja Koordintor Perguruan Tinggi Swasta Wilayah IX berubah meliputi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara.

Perubahan wilayah kerja ini berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 0135/0/1990, tanggal 15 Maret 1990 tentang organisasi dan tata kerja Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah IX Sulawesi dan Koordinator dijabat oleh Prof. Dr. H. A. Rahman Rahim sampai tahun 1995.

6. Periode 1995-1999

Pada periode tahun 1995 sampai 1999, Koordinator Kopertis Wilayah IX Sulawesi dijabat oleh Prof. Drs. H. Ahmad R. Hafidz, MS, dengan wilayah kerja yang tetap yaitu meliputi Sulawesi.

7. Periode 1999-2004

Pada tahun 1999 sampai dengan tahun 2004 dengan wilayah kerja yang tetap, Koordinator dijabat oleh DR. H. Abd. Rauf Patong.

8. Periode 2004-2008

Pada tahun 2004 sampai dengan tahun 2008, dengan wilayah kerja yang tetap, Koordinator Kopertis Wilayah IX dijabat oleh Prof. Dr. H. Aminuddin Salle, SH.MH.

9. Periode 2008-2012

Pada tahun 2008, Prof. Dr. H. Muhammad Basri Wello, MA, diangkat menjadi Koordinator Kopertis Wilayah IX Sulawesi, dengan masa jabatan empat tahun.

Jumlah Perguruan Tinggi Swasta

Dari kata Pengantar Koordinator Prof. Dr. H. Muhammad Basri Wello, MA, dalam Panduan dan Profil Perguruan Tinggi Swasta Sulawesi, pada April 2009, disebutkan bahwa jumlah Perguruan Tinggi Swasta dalam wilayah Kopertis Wilayah IX Sulawesi hingga Maret 2009, yaitu 320 buah.

Ke-320 Perguruan Tinggi Swasta tersebut tersebar di Sulawesi Selatan sebanyak 190 PTS (59,35%), Sulawesi Tenggara 31 PTS (9,76%), Sulawesi tengah 26 PTS (8,54%), SUlawesi Utara 46 PTS (15,45%), Gorontalo 11 PTS (3,65%), dan Sulawesi Barat 17 PTS (3,25%).

Jumlah perguruan tinggi swasta di wilayah Kopertis IX Sulawesi dapat dipastikan masih akan terus bertambah. Ke-320 PTS yang terdaftar hingga Maret 2009 itu hanya PTS yang izinnya masih berlaku, serta PTS yang masih dalam proses perpanjangan dan atau telah memperoleh izin penyelenggaraan.

Makassar, 13 Agustus 2009

Rabu, 12 Agustus 2009

Journalistik Training 2009 di Unismuh Makassar

Journalistik Training 2009 di Unismuh Makassar

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, di Auditorium Al-Amien, pada 23 Juli 2009 mengadakan pelatihan jurnalistik yang diberi nama "Journalistic Training 2009."

Ketua Panitia Jayanti menjelaskan bahwa pelatihan tersebut diikuti 236 orang dari berbagai jurusan/prodi.

Saya selaku salah seorang dosen dan juga praktisi media massa, diundang membawakan materi.

"Terserah kakak saja, mau bawakan materi apa," kata Ketua HMJ Pendidikan Bahasa Inggris Ismail S.

Saya kemudian memilih materi Teknik Mencari dan Menulis Berita. Saya pun menyiapkan materi dalam bentuk power point, tetapi ternyata panitia tidak menyiapkan peralatannya, akhirnya saya hanya berbicara lepas.

Saya mengatakan bahwa manusia sebagai makhluk sosial memiliki dua sifat dasar. Pertama, selalu ingin tahu keadaan alam sekitarnya, dan kedua, selalu ingin memberitahukan keadaan dirinya, terutama pengalamannya yang baru dan sangat berkesan.

Mungkin itulah yang mendasari hasrat manusia untuk menyatu dengan manusia lain yang berada di sekelilingnya, serta untuk menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya. Saling menyampaikan informasi baru merupakan salah satu upaya yang dilakukan manusia untuk berinteraksi dengan sesamanya.

Manusia diharapkan tidak hanya menjadi pengisi dan penghias bumi, tetapi juga diberi tugas menjadi penguasa di muka bumi dengan cara hidup bermasyarakat. Antara manusia satu dengan lainnya diharapkan saling memberi kabar atau nasihat, saling menolong, serta saling mengenal.

Penyampaian kabar atau berita tersebut dapat dilakukan secara lisan dan dapat pula secara tertulis. Untuk memudahkan penyampaian berita atau informasi secara luas, manusia kemudian menciptakan media massa cetak dan elektronik.

Media massa cetak antara lain koran, tabloid, majalah, dan bulletin, sedangkan media massa elektronik antara lain radio dan televisi.

Kini malah sudah dikenal media massa lainnya yang dapat memadukan media cetak dan media elektronik, yaitu media internet atau media online yang dapat diakses kapan saja dan dimana saja.

"Cara atau seni penyampaian berita atau informasi melalui media massa itulah yang disebut jurnalistik," kata saya.

Saya juga menjelaskan bahwa definisi berita atau “news” banyak sekali, tetapi intinya berita adalah informasi yang disampaikan melalui media massa.

Mencari Berita

Bagaimana cara menyajikan informasi atau berita di media massa? Tentu saja harus dicari, yang didahului dengan perencanaan di dapur redaksi. Berita yang dicari itu umumnya adalah peristiwa.

Selain peristiwa, berita juga dapat dicari dengan cara melakukan wawancara, dan melakukan penelitian dokumen, press release atau siaran pers, hak jawab, serta konferensi pers atau jumpa wartawan.

Kriteria Berita Yang Baik

Kepada peserta yang semuanya mahasiswa Unismuh Makassar, saya menjelaskan bahwa ada beberapa kriteria berita yang baik, antara lain aktual, penting, berdampak, kedekatan, luar biasa, konflik, ketegangan/dramatis, tragis, ketokohan, seks, dan humor.

Berbagai informasi yang telah dikumpulkan itu kemudian diolah dan diramu dalam rangkaian kalimat yang mengandung unsur 5W + 1H. Lima W dimaksud yaitu “what” (apa), “who” (siapa), “when” (kapan), “where” (dimana), dan “why” (mengapa), sedangkan satu H dimaksud yaitu “how” (bagaimana).

Ada banyak model berita, tetapi pada dasarnya berita dibagi dua model, yakni berita langsung (straight news) dan berita tidak langsung (feature news).

Berita langsung atau “straight news” adalah berita yang langsung mengemukakan unsur 5W + 1H pada paragraf awal (alinea pertama hingga alinea kedua), sedangkan berita tidak langsung atau “feature news” biasanya diawali dengan kata-kata atau kalimat yang menarik pada paragraf awal, sedangkan unsur 5W + 1H terurai dalam paragraf-paragraf berikutnya.

Konstruksi Berita

Bangunan atau konstruksi berita terdiri atas tiga unsur, yakni judul berita (headline), teras berita (lead), serta kelengkapan atau penjelasan berita (body). Berita langsung (straight news) biasanya menggunakan bangunan seperti piramida terbalik.

Saya kemudian meminta para peserta membuat berita. Setelah itu, beberapa peserta saya minta membacakan beritanya dan kemudian berita tersebut dibahas. Materi saya diakhiri dengan tanya jawab.

Senin, 10 Agustus 2009

Jupriadi Asmaradhana Menerima Anugerah Udin Award 2009



Jupriadi Asmaradhana Menerima Anugerah Udin Award 2009

Jakarta, 6 Agustus 2009. Koordinator Koalisi Jurnalis Tolak Kriminalisasi Pers Makassar, Jupriadi Asmaradhana, ditetapkan sebagai penerima anugerah Udin Award 2009.

Dewan Juri menilai Jupriadi Asmaradhana layak mendapat anugerah tersebut karena mengalami kekerasan yaitu jeratan pasal-pasal pencemaran nama, akibat aktivitasnya dalam membela kebebasan pers di Makassar.

Jupriadi menentang kriminalisasi pers dengan membentuk Koalisi Jurnalis Tolak Kriminalisasi Pers, yang terdiri dari Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Makassar, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar, dan Perhimpunan Jurnalis Indonesia (PJI) Makassar.

Salah satu aktivitas koaliasi adalah memprotes pernyataan Irjen Polisi Sisno Adiwinoto, Kepala Polda Sulawesi Selatan dan Barat waktu itu, yang menganjurkan agar pejabat setempat tidak ragu-ragu mempidanakan jurnalis yang mereka nilai salah.

Sebagai respon atas pernyataan itu, koalisi melakukan unjuk rasa dan mengadukan Irjen Sisno ke Markas Besar Kepolisian. Namun, tindakan itu justru dihadapi dengan jeratan hukum terhadap Jupriadi Asmaradhana, koordinator koalisi.

Selama menjalani proses hukum, Jupriadi terus mempertahankan pendapatnya yang menentang kriminalisasi terhadap pers. Koalisi yang ia pimpin terus aktif mencari dukungan publik guna menghapuskan kriminaliasi pers.

Saat ini, Jupriadi telah menjalani persidangan di Pengadilan Makassar dan tengah menunggu vonis.

Jupriadi Asmaradhana, akrab dipanggil Upi Asmaradhana, lahir di Makassar pada 1 Juli 1974. Saat ini ia bekerja sebagai kontributor Astro TV, sebuah perusahaan televisi berbayar. Sebelumnya, alumni jurusan Ilmu Jurnalistik Universitas Hasanuddin, Makassar, ini pernah menjadi kontributor Metro TV.

Dewan Juri Udin Award 2009 terdiri dari Imam Wahyudi (Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia), Ezky Suyanto (Aliansi Jurnalis Independen) dan Bayu Wicaksono (Lembaga Bantuan Hukum Pers). Dewan juri bekerja berdasarkan masukan publik dan melakukan penelusuran latar belakang calon penerima.

Anugerah Udin Award adalah penghargaan tahunan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia. Penghargaan khusus bagi jurnalis ini untuk menghormati Muhammad Fuad Safruddin alias Udin, jurnalis harian Bernas, Yogyakarta, yang dibunuh akibat laporannya mengenai korupsi pada tahun 1996.

Ada tiga kriteria bagi jurnalis untuk mendapat penghargaan ini, yaitu : (1) jurnalis tersebut menjadi korban kekerasan terkait pekerjaannya, (2) memiliki komitmen dan integritas untuk membela kebebasan pers, dan (3) terbukti telah mendedikasikan dirinya untuk tugas-tugas jurnalistik secara profesional dan menjunjung kode etik.

Anggota Dewan Dituding Membangkang

Harian Fajar
Senin, 10-08-2009

Anggota Dewan Dituding Membangkang

BULUKUMBA -- Penolakan anggota DPRD Bulukumba mengembalikan tunjangan komunikasi intensif (TKI) dan operasional pimpinan dewan sebesar Rp 2 miliar mendapat kecaman Komite Pemantau Legislatif (Kopel). Penolakan itu dituding sebagai pembangkangan terhadap Peraturan Pemerintah (PP) No. 21/2007 tentang susunan dan kedudukan keuangan anggota DPRD.

Asisten Kopel Bulukumba, Musafir menjelaskan, pada peraturan itu sangat jelas diatur keharusan anggota dewan untuk mengembalikan TKI dan operasional pimpinan dewan ke kas daerah, paling lambat satu bulan sebelum masa jabatan berakhir. "Sikap anggota dewan yang menolak mengembalikan TKI itu menunjukkan bentuk pembangkangan terhadap PP No. 21/2007," ujar Musafir, Minggu 9 Agustus.

Terkait masalah TKI itu, anggota DPRD terkesan tidak memiliki sikap yang jelas. Sebelumnya, wakil rakyat itu berjanji mengembalikan TKI dan tunjangan operasional mereka setelah jadwal pelantikan legislator baru ditetapkan.

Bukannya mengembalikan TKI setelah jadwal ada, mereka menegaskan tidak akan mengembalikan TKI tersebut, dengan alasan dana itu diterima secara legal. Mereka juga mengaku menunggu judicial review yang diajukan Asosiasi DPRD Seluruh Indonesia (Adeksi).

Musafir juga mengecam pernyataan Ketua Komisi I DPRD Bulukumba, A Muhtiar Mappamadeng yang menyebutkan suatu peraturan tidak berlaku surut. Pernyataan itu dinilai sebagai bentuk penggunaan standar ganda dalam memaknai produk hukum.

Pasalnya kata dia, PP No. 37/2006 yang mengatur pemberian TKI dan tunjangan operasional pimpinan dewan ditetapkan September 2006. Tapi pada kenyataannya TKI yang diterima anggota dewan terhitung mulai Januari 2006. "Itu kan namanya berlaku surut.

Jadi anggota dewan kalau menyangkut kepentingan pribadi, istilah berlaku surut berlaku, tapi kalau diminta mengembalikan, istilah itu tidak berlaku lagi," jelas Musafir. Sebagaimana dilansir sebelumnya, dua anggota DPRD Bulukumba, Muhtiar dan Fahidin HDK dengan tegas menolak mengembalikan TKI sebesar Rp 64 juta yang telah diterimanya.

Mereka berdalih menunggu putusan mengenai judicial review yang diajukan Adeksi. Sebelum ada keputusan menyangkut hal itu, dia berkeras tidak akan mengembalikan TKI. Dari 35 anggota DPRD Bulukumba periode 2004-2009, setidaknya baru dua yang sudah mengembalikan TKI, sementara 33 lainnya hingga saat ini masih menolak mengembalikannya. (sah)

Rabu, 05 Agustus 2009

5 Agustus

5 Agustus

Oleh: Asnawin


Bagi sebagian orang, 5 Agustus mungkin tidak terlalu istimewa. Namun, sejarah telah mencatat beberapa peristiwa dan orang-orang yang cukup terkenal pada 5 Agustus.

Dalam kalender masehi atau kalender Gregorian, 5 Agustus adalah hari ke-217. Pada tahun kabisat, 5 Agustus adalah hari ke-218.

Situs wikipedia.org mencatat beberapa peristiwa bersejarah pada 5 Agustus, antara lain Henry I diresmikan sebagai Raja Inggris (5 Agustus 1100), tim yang dipimpin Cyrus Field menyelesaikan proyek kabel telegrafi trans-Atlantik yang pertama di dunia (5 Agustus 1858), dan negara Burkina Faso menyatakan kemerdekaannya (5 Agustus 1960).

Pada 5 Agustus 1962, Presiden RI Soekarno meresmikan Hotel Indonesia yang merupakan hotel berbintang pertama yang dibangun di Jakarta, Indonesia, dan dibangun antara lain untuk menyambut pekan olahraga Asia, Asian Games IV, tahun 1962.

Tepat 41 (4+1=5) tahun kemudian atau 5 Agustus 2003, hotel internasional ternama di Jakarta, Hotel JW Marriott, dibom oleh teroris yang menewaskan 12 orang dan mencederai 150 orang lainnya.

Perdana Menteri ke-17 (1967) Australia, Harold Holt, lahir pada 5 Agustus 1908. Presiden Singapura (2005), Devan Nair, lahir pada 5 Agustus 1923.

Sjuman Djaya, seorang penulis dan sutradara terkenal asal Indonesia, lahir pada 5 Agustus 1934. Anwar Nasution, mantan Deputi Senior Bank Indonesia (1999-2004) dan kemudian menjabat Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (mulai 2004) Republik Indonesia, lahir pada 5 Agustus 1942.

Hastomo Arbi, pebulutangkis Indonesia yang menjadi penentu kemenangan Indonesia atas China (RRC) pada final perebutan Piala Thomas tahun 1984, lahir di Kudus, Jawa Tengah pada 5 Agustus 1958.

Raja Henry I

Raja Henry I dari Inggris lahir pada tahun 1068 atau 1069 dan meninggal dunia pada 1 Desember 1135. Ia diangkat menjadi Raja Inggris pada 5 Agustus 1100 dan menduduki tahta tersebut hingga kematiannya pada tahun 1135.

Henry diperkirakan lahir di Selby, Yorkshire. Ia adalah anak ketiga William I “Sang Penakluk” dan Ratu Mathilda dari Flandria. Ia menjadi raja saat saudaranya William II tewas di sebuah perburuan.

Sebagai raja, Henry I mencoba membuat reformasi sosial. Ia mengeluarkan Piagam Kebebasan yang dianggap sebagai pendahulu Magna Carta. Ia mengembalikan beberapa hukum Eadweard sang Pengaku Iman.

Dari permaisurinya, Henry I memiliki 2 anak, yaitu Matilda dan William Adelin. Namun sebagai raja ketika itu, Henry juga memiliki banyak selir. Dari para selirnya itulah, Henry diperkirakan memiliki anak sekitar 20 sampai dengan 25 orang. Henry meninggal pada tahun 1135 saat mengunjungi puteri dan cucunya di Normandia.

Kabel Telegrafi Trans-Atlantik

Kabel telegrafi trans-Atlantic adalah kabel telegraf yang menyeberangi samudera Atlantik dari pulau Valentia, di barat Irlandia menuju Trinity Bay, di timur Newfoundland, Kanada. Proyek ini rampung dikerjakan pada 5 Agustus 1858.

Kabel trans-Atlantic yang menjembatani Amerika Utara dengan benua Eropa ini telah mempercepat hubungan komunikasi antar kedua benua.

Selama delapan tahun pengerjaan proyek ini, tiga kali upaya telah dilakukan yakni pada tahun 1858, 1865, dan 1866. Tambahan berupa delapan buah kabel yang dibentangkan mulai tahun 1866 hingga pergantian abad.

Di penghujung abad ke-19, kabel yang menghubungkan Irlandia dan Newfoundland telah mampu menghubungkan secara langsung antara Amerika Serikat dengan Perancis.

Cyrus Field merupakan tokoh di balik proyek pemasangan kabel telegrafi trans-Atlantik antara Amerika Utara dan Eropa yang rampung pada tanggal 5 Agustus 1858.

Meski tidak terlalu sukses karena tidak mampu bertahan lama, proyek kabel telegrafi trans-Atlantik ini tercatat sebagai proyek perdana dengan hasil yang baik.

Telegram pertama yang dikirimkan antar kedua benua adalah sebuah surat ucapan selamat dari Ratu Victoria kepada Presiden Amerika Serikat James Buchanan pada tanggal 16 Agustus 1858.

Angka 5

Selain 5 Agustus, angka 5 juga memiliki makna tersendiri bagi umat muslim dan bangsa Indonesia.

Orang Islam diwajibkan salat 5 kali sehari semalam (Isa, Subuh, Lohor, Ashar, Magrib) dan Rukun Islam juga terdiri atas 5 hal, yakni (1) Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat, (2) Melaksanakan Salat, (3) Berpuasa pada Bulan Ramadhan, (4) Mengeluarkan Zakat, dan (5) Naik Haji bagi Orang yang Mampu.

Orang Indonesia pasti akan selalu mengenang dan mensakralkan angka 5, karena Dasar Negara Indonesia yang bernama Pancasila, terdiri atas 5 pasal, yakni (1) Ke-Tuhan-an Yang Maha Esa, (2) Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, (3) Persatuan Indonesia), (4) Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, (5) Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Penulis (Asnawin Aminuddin) juga sangat akrab dengan angka 5, karena penulis lahir pada 5 Agustus 1967, anak ke-5 dari 12 bersaudara, menikah pada 5 Januari 1996, dan sampai tulisan ini dibuat telah dikaruniai 5 anak dari perkawinannya dengan Ahriyanti Hamid.

Makassar, 5 Agusus 2009

Selasa, 04 Agustus 2009

Selamat Jalan Bapak H Yasin Limpo

Selamat Jalan Bapak H Yasin Limpo

Inna lillalhi wa inna ilaihi rajiun. Ucapan itu langsung terlontar saat mendengar berita kematian Bapak H Yasin Limpo, ayahanda Syahrul Yasin Limpo (Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan), pada Selasa siang, 4 Agustus 2009.

Sebagai orang yang pernah dididik di Pramuka dan juga merasa dekat dengan keluarga besar Yasin Limpo, saya tentu saja merasa kehilangan atas berpulangnya almarhum.

Secara pribadi, saya beberapa kali bertemu langsung dengan beliau. Saya pernah berdampingan salat berjamaah di kediamannya, di Jl. Haji Bau, Makassar. Saya juga berbincang-bincang dengan almarhum saat mewawancarai Ibu Hj. Nurhayati (isteri almarhum) untuk pembuatan buku "Hj. Athirah, Melangkah dengan Payung", pada tahun 2008.

Di mata saya, beliau orang hebat di masanya dan telah mendidik anak-anaknya dengan baik sehingga menjadi orang-orang hebat. Ada Andi Tenriolle (Ketua DPRD Kabupaten Gowa yang kemudian lolos sebagai anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan 2009-2014), ada Syahrul Yasin Limpo (mantan Bupati Gowa yang kemudian menjadi Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan), ada Ichsan Yasin Limpo (Bupati Gowa 2005-2010), ada Haris Yasin Limpo (anggota DPRD Kota Makassar, mantan Ketua KNPI Sulsel), Irman Yasin Limpo (salah seorang pejabat teras di jajaran Pemprov Sulsel), dan ada Dewi Yasin Limpo (Ketua Umum Partai Hanura Sulsel).

Semoga amal baktinya mendapat apresiasi dari masyarakat Sulsel dan penduduk Indonesia, dan semoga arwahnya diterima dengan baik dan mendapat tempat yang mulia di sisi Allah SWT. Aamiin....

Makassar, 4 Agustus 2009
Wassalam: Asnawin