Selasa, 26 Agustus 2008

Irwan Akib : Kampus adalah Rumah Kedua



Yang pertama terucap dari mulut anak saya ketika itu adalah “musibah”. Kenapa mereka berucap begitu, karena anak saya tahu bagaimana bapaknya ketika diberi amanah. Dia mengatakan belum rektor saja, bapak sudah jarang cepat pulang ke rumah, apalagi kalau bapak sudah jadi rektor, pasti kampus menjadi rumahnya. Karena bagi saya, kampus adalah rumah kedua.

Pemuda Muhammadiyah Bukukan Biografi Athirah Kalla



Pemuda Muhammadiyah Bukukan Biografi Athirah Kalla

Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan akan meluncurkan buku biografi Ibu Athirah Kalla pada Pembukaan Tanwir Pemuda Muhammadiyah di Makassar, 24 Agustus 2008.
Sekretaris Pemuda Muhammadiyah Sulsel, Panca Nurwahidin, kepada “Demos” mengatakan, pihaknya hanya punya waktu sekitar satu bulan untuk menyusun dan menyelesaikan buku tersebut
“Tetapi berkat kerja keras dari tim penyusun, kami optimis buku tersebut dapat diluncurkan pada pembukaan Tanwir Pemuda Muhammadiyah,” tandasnya.
Dia mengatakan, nama Ibu Athirah mungkin tidak banyak dikenal orang. Jangankan orang Indonesia pada umumnya, orang Sulawesi Selatan pun mungkin tidak banyak yang mengenalnya.
“Padahal, Ibu Athirah sesungguhnya salah seorang ibu teladan dan patut diteladani oleh perempuan-perempuan masa kini,” katanya.
Ibu Athirah yang lahir di sebuah kampung bernama Bukaka, di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, adalah isteri dari seorang pengusaha sukses bernama Hadji Kalla (NV. Hadji Kalla).
Dari pernikahan mereka pada tahun 1937, lahir 10 anak dan salah seorang di antaranya bernama Muhammad Jusuf Kalla, seorang pengusaha dan politisi yang kini menjabat Wakil Presiden Republik Indonesia berpasangan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Banyak teladan yang bisa dipetik dari Ibu Athirah Kalla dan sebagian di antaranya tertuang dalam buku biografi yang kini tengah dirampungkan Pemuda Muhammadiyah Sulsel.
Tim penyusun buku tersebut terdiri atas Basti Tetteng (dosen), Asnawin (dosen/wartawan), Muhammad Yahya Mustafa (dosen/wartawan), Ilham Hamid (pegawai Depag Maros/pengurus Pemuda Muhammadiyah Sulsel), Ahmad M. Siddik (wartawan), dan Nur Ihsan (mahasiswa).
Koordinator Tim Penyusun Buku Biografi Hadjah Athirah Kalla, Basti Tetteng, menambahkan, ide penulisan buku tersebut sudah lama muncul di kalangan angkatan muda Muhammadiyah, terutama dari kalangan Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan. Namun ide tersebut baru mengkristal menjelang pelaksanaan Tanwir II Pemuda Muhammadiyah di Makassar, 24-26 Agustus 2008.
Dia mengatakan, kader-kader angkatan muda Muhammadiyah merasa prihatin dengan kurangnya sosok perempuan di Sulawesi Selatan yang dapat dijadikan teladan, baik dalam kehidupan rumah tangga maupun dalam berbagai aktivitas di luar rumah.
“Dari beberapa kali diskusi ringan, kami menyimpulkan pasti banyak perempuan Sulawesi Selatan yang bisa dijadikan contoh teladan, tetapi mereka seolah-olah “bersembunyi” atau “tenggelam” oleh hiruk-pikuk politik dan berbagai gejolak yang terjadi di tanah air, termasuk di Sulawesi Selatan,” tutur Basti yang sehari-hari dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM).
Lalu mengemukalah beberapa nama yang dianggap dapat dijadikan teladan.
Di kancah politik nasional dewasa ini, Sulawesi Selatan punya beberapa perempuan yang berkiprah di tingkat nasional, antara lain Marwah Daud Ibrahim dan Nurhayati Yasin Limpo (anggota DPR RI dari Partai Golkar), serta Yuliani Paris (anggota DPR RI dari Partai Amanat Nasional).
Di pentas politik tingkat provinsi Sulawesi Selatan, sudah sejak lama perempuan berkiprah. Begitupun dengan di DPRD kabupaten dan kota.
Di eksekutif tingkat provinsi dan kabupaten/kota, perempuan Sulawesi Selatan sudah banyak yang menjadi kepala dinas, bahkan kini sudah ada yang menjadi wakil bupati. Ke depan, bukan tidak mungkin akan ada yang menjadi bupati dan atau gubernur.
Menengok lebih jauh ke belakang, kata Basti, Sulawesi Selatan pernah memiliki perempuan pahlawan, antara lain Andi Ninnong, Opu Dg. Risadju, dan Batari Todjang.
“Tetapi teman-teman angkatan muda Muhammadiyah ingin mencari sosok lain yang bukan pejabat, bukan politisi, dan bukan pahlawan pejuang kemerdekaan, tetapi punya peran besar dalam keluarga dan dapat diteladani,” paparnya.
Lalu muncullah nama Athirah, seorang ibu rumah tangga yang terbilang sukses mendampingi suami sehingga bisa tampil sebagai pengusaha menengah dan sekaligus tokoh Nahdlatul (NU) Sulawesi Selatan, serta seorang ibu yang juga sukses mendidik dan membesarkan anak-anaknya sehingga menjadi orang-orang yang berpendidikan dan berpengaruh.
“Ibu Hj. Athirah juga seorang perempuan pengusaha dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan,” papar Basti.
Meskipun tergolong orang berada dan punya banyak peluang untuk menjadi ketua organisasi atau terjun ke dunia politik, Ibu Athirah ternyata bukan perempuan yang suka pamer dan menonjolkan diri, apalagi untuk merebut jabatan dan kekuasaan.
“Sosok Ibu Athirah kami anggap dapat mewakili perempuan teladan. Teladan bagi kaum ibu rumah tangga, teladan bagi perempuan karier, dan juga teladan bagi perempuan-perempuan muda,” katanya. (asnawin)-- Tabloid Demos, Agustus 2008

Sulsel Targetkan 350.000 Wisatawan


Sulsel Targetkan 350.000 Wisman

Program Lovely December yang dicanangkan Pemprov Sulsel bertujuan mempercepat pertumbuhan pariwisata Toraja sebagai Lokomotif Pariwisata Sulsel melalui multi event budaya dan pariwisata.
Tujuan lain, menata dan menguatkan dukungan pembangunan pariwisata Toraja dan sekitarnya dengan model trickledown effect yang mampu menggerakkan semua lini, karena melalui pariwisata diyakini mampu mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah.
“Program ini juga ingin menjadikan Toraja sebagai the cheapest destination in the world untuk menarik minat wisatawan datang berkunjung, dimana pemerintah berperan memberikan subsidi sehingga paket wisata Toraja bisa bersaing,” tutur Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel, Ama Saing, kepada “Demos”, medio Agustus 2008.
Yang tak kalah pentingnya, program Lovely December bertujuan menciptakan kalenderisasi event pariwisata 2008-2013 Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, sehingga memudahkan dalam penyiapan pembiayaan dan promosi serta pelaksanaannya.
Sasaran awal 2008 yang ingin dicapai adalah 30.000 wisatawan mancanegara ke Tana Toraja dengan lama tinggal rata-rata 3 hari dan pengeluaran Rp 200.000 per hari per orang.
Sedangkan sasaran akhir adalah share Sulawesi Selatan dalam menerima kedatangan wisatawan mancanegara sebesar 5% dari total target nasional tahun 2008. Target nasional sebesar 7 juta orang, sedangkan Pemprov Sulsel menargetkan 350.000 orang wisman yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2013 dengan lama tinggal rata-rata 4 hari dan pengeluaran sebesar US $ 85 per hari per orang.
“Melalui ‘Toraja Plus’, distribusi kunjungan wisatawan akan merata ke semua kabupaten dan kota se Sulawesi Selatan, sehingga mampu memacu pertumbuhan ekonomi di daerah ini,” papar Ama.
Motto program Lovely December yaitu “Warmness, Hospitality, Beauty, Safety, Attractive, Unforgettable”, sedangkan temanya “Lovely December”. Sub tema meliputi Lovely Toraja from the Highland dengan Cluster I Toraja dan sekitarnya (budaya dan Ecotourism), Glittering Makassar in the centre, dengan Cluster II Makassar dan sekitarnya (MICE dan Ecotourism), Beautiful Selayar to the South, dengan Cluster III Selayar dan sekitarnya (Marine dan Ecotourism Product), serta Lake & Ecotourism, dengan cluster khusus Luwu Timur. (asnawin)-- Tabloid Demos, Agustus 2008

Toraja Dipadati Wisatawan : "Lovely December" Diluncurkan


Toraja Dipadati Wisatawan
- Lovely December Diluncurkan

Sejak pertengahan Agustus dan diperkirakan hingga September 2008, Kabupaten Tana Toraja dipadati wisatawan, baik wisatawan domestik, maupun wisatawan mancanegara.
“Semua kamar hotel dan penginapan di Tana Toraja kini sudah penuh. Sebagian sudah diboking jauh-jauh hari oleh para wisatawan sebelum mereka dating,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulsel, Ama Saing, kepada “Demos” di ruang kerjanya, pertengahan Agustus lalu.
Banyaknya wisatawan tersebut terutama disebabkan adanya banyaknya kegiatan yang berkaitan dengan program kunjungan wisata ke Toraja. Pemprov Sulsel juga secara resmi telah meluncurkan (launching) program Lovely December, di Tana Toraja, 22 Agustus 2008.
Program tersebut diharapkan menjadi titik balik untuk mengembalikan Tana Toraja sebagai andalan dan unggulan sektor pariwisata Sulawesi Selatan.
Lovely December diharapkan mampu memberi kontribusi terhadap perkembangan dan kemajuan Kabupaten Tana Toraja sebagai main destination, serta kabupaten dan kota lain di Propinsi Sulawesi Selatan yang menjadi hinterland dan buffer (penyangga) yang juga memiliki obyek dan daya tarik wisata melengkapi Tana Toraja.
“Launcing Program Lovely December hanya seri awal dari berbagai rangkaian kegiatan paket kunjungan wisata di Toraja. Malahan launching tersebut bertepatan bersamaan dengan Toraja Festival hingga bulan Januari 2009,” jelas Ama.
Selanjutnya, Pemprov Sulsel mencanangkan paket Lovely Destination 2009-2013
dengan Highlight “Malino Summit” 09-09-09 atau 9 September 2009 yang menyatukan tanah dan air dari seluruh Provinsi se-Indonesia, diikuti dengan supporting event festival seni Kecapi, Gendang, dan layang-layang serta musik Bambu se Nusantara, juga event wisata petualangan tingkat nasional dan internasional ( Rafting/arung jeram, Mountain Bike) di Toraja.
Kemudian dilanjutkan dengan program Phinisi Expo 10-10-10 (10 Oktober 2010) mengangkat kembali kejayaan bahari khususnya kebanggaan Sulawesi Selatan yaitu perahu phinisi didukung dengan festival internasional perahu tradisional.
Setelah itu diadakan Marine Festival 11-11-11 (11 November 2011), sebuah festival yang menampilkan produk bahari dari yang paling tradisional hingga yang paling modern disertai berbagai lomba kebaharian.
Tahun 2012 akan diadakan Barn for All Festival 12-12-12 (12 Desember 2012), sebuah festival untuk terwujudnya target lumbung pangan 2 juta ton padi produk Sulawesi Selatan dengan menampilkan pameran dan seminar, dan konferensi mengenai pangan internasional.
Untuk melengkapi program jangka tersebut, kata Ama Saing, Pemprov Sulsel akan mengadakan program South Sulawesi Big Sale 07-07-13 (7 Juli 2013) atau year round discount untuk semua produk wisata yang diikuti dengan berbagai acara menarik termasuk South Sulawesi Cycling (bersepeda mengelilingi sejumlah kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan).
Rangkaian terakhir dari program jangka panjang bidang pariwisata di Sulsel ditutup dengan mengadakan Best Natural Carnival 01-01 s/d 03-03 2013, di mana produk Sulawesi Selatan sudah berlabel “eco labeling” (ramah lingkungan) pangan, sandang, dan papan. (asnawin)-- Tabloid Demos, Agustus 2008

MALINO "KOTA BUNGA"


MALINO “KOTA BUNGA”

Kalau Bandung terkenal dengan julukan “Kota Kembang”, maka Malino dapat disebut sebagai “Kota Bunga”. Karena ratusan bahkan mungkin ribuan species bunga tumbuh di Malino.
Sedikitnya 60 species bunga yang tumbuh di negeri Belanda juga ditemukan tumbuh di sekitar pegunungan Bawakaraeng dan kawasan wisata alam Malino.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Penanaman Modal Daerah Kabupaten Gowa, Abdul Kahar Atjo, mengungkapkan bahwa pihaknya mengetahui banyak species bunga itu dari hasil penelitian “Programme Uitzending Managers” (PUM), sebuah lembaga penelitian asal Belanda dengan peneliti utamanya Gerard Van Went.
Gerard, peneliti asal Negeri Kincir Angin itu melakukan survei di Kecamatan Tinggi Moncong atau di Kawasan Taman Wisata Malino selama beberapa bulan dan menemukan kenyataan bahwa sekitar 60 persen bunga yang tumbuh di Belanda juga terdapat di Gowa.
Salah satu di antaranya adalah bunga peninggalan Belanda di jaman penjajahan yaksi edelweiss yang hingga kini masih bisa ditemukan di pegunungan Bawakaraeng dan Malino.
Bunga jenis edelweiss menjadi salah satu ciri khas dan sering dijadikan oleh-oleh dari pendaki Gunung Bawakaraeng atau pengunjung wisata alam Malino.
Kalau anda tidak punya waktu untuk mencari bunga tersebut di pegunungan, maka anda cukup ke pasar Malino, karena di sana banyak dijajakan bunga edelweiss.
Terkait hasil penelitian lembaga asal Belanda itu, Kahar Atjo mengatakan, PUM kini mendorong agar Malino menjadi "Kota Bunga".
Karena itulah, dinas yang dipimpinnya maupun Dinas Lingkungan Hidup Gowa telah berkoordinasi dengan Bupati Gowa untuk menindaklanjuti usulan tersebut. PUM juga telah bersedia menjadi konsultan dalam menata Malino menjadi kawasan wisata andalan di Sulsel dengan bunga sebagai ciri khas barunya.
Di Malino juga terdapat pohon turi yang bunganya berwarna orange, serta jenis bunga masamba yang dapat berubah warnanya tiap bulan dari hijau, kuning hingga menjadi putih. (asnawin/dari berbagai sumber)-- Tabloid Demos, Juli 2008

Wisata Alam Malino : Sejuk dan Indah


Wisata Alam Malino
SEJUK DAN INDAH


Sepintas lalu, nama Malino mirip dengan salah satu kota yang ada di Italia, yakni Milano, tetapi Malino bukanlah Milano.
Malino adalah kawasan wisata pegunungan yang indah dan berada di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Letaknya sekitar 90 kilometer dari Kota Makassar. Perjalanan dari kota Makassar menuju daerah ini memakan waktu sekitar dua jam.
Malino akrab dengan nuansa pegunungan yang indah, hawa udara yang sejuk, dan barisan pohon pinus yang rindang. Penduduknya pun ramah. Kawasan kecil ini selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal, wisatawan nusantara, dan wisatawan mancanegara, terutama pada hari-hari libur.
Selain pemandangan yang indah, di Malino juga ada Air Terjun Seribu Tangga, Air Terjun Takapala, Kebun Teh Nittoh, Lembah Biru, dan Gunung Bawakaraeng.
Di kawasan berketinggian sekitar 1.500 meter di atas permuakaan laut itu, terdapat sejumlah buah-buahan yang tumbuh subur, antara lain buah markisa, jeruk, dan apel, serta buah tomat dan berbagai macam jenis sayur-sayuran.
Kawasan tersebut terkenal sebagai kawasan rekreasi dan wisata sejak zaman penjajahan Belanda. Banyak pengunjung yang datang baik dari Kota Makassar maupun dari daerah-daerah lain di Sulawesi Selatan untuk mendapatkan tempat rekreasi dan refreshing yang nyaman, terutama pada saat weekend atau liburan.
Adapun objek wisata yang ada di sana antara lain Air Terjun Takapala yang terletak di daerah Bulutana, Air Terjun Lembanna yang kira-kira 8 km dari Kota Malino, Hutan Wisata Malino yang lebih dikenal dengan sebutan Hutan Pinus.
Hutan Wisata Malino atau yang lebih dikenal dengan sebutan Hutan Pinus terdiri dari deretan pohon pinus yang tumbuh sumbur, kokoh dan rindang.
Di Malino, terdapat Permandian Lembah Biru. Objek-objek wisata itu tidak pernah sepi oleh pengunjung, apalagi di hari-hari libur.
Dalam taman wisata alam Malino ditemui berbagai jenis fauna seperti burung nuri (Trichaglossus flavoridis), kera hitam (Macaca maura), biawak (Varanus salvator), jalak kerbau (Acridatheres sp), raja udang (Halcyon sp), dan burung gelatik (Padda oryzofora).
Flora yang dimiliki mulai dari pohon pinus (Pinus merkusi) yang merupakan flora yang mendominasi Taman Wisata Alam Malino dan umurnya sudah cukup tua.
Selain itu, terdapat pula jenis floran lain seperti akasia (Acasia auriculiformis) jabon (Anthocepthalus cadamba), beringin (Ficus benjamina), ekaliptus (Eucalyptus sp), edelweis (Edelwesy sp), rotan (Calamus sp), kenanga (Cananga ordorata) dan beberapa jenis perdu.
Keindahan alam Malino yang dikenal sejak zaman kolonial Belanda juga menyimpan tumbuhan peninggalan Belanda yang sampai sekarang bisa ditemukan, namun terbilang langka, yaitu termasuk edelweis dan pohon turi yang bunganya berwarna oranye. Saat mekar, bunga-bunga ini terlihat indah, apalagi jika dilihat dari udara atau kejauhan.
Pemandangan seperti ini jarang ditemukan di tempat lain. Karena itulah, Malino juga dijuluki sebagai Kota Kembang-nya Sulawesi Selatan.Sedikit ke daerah atas terlihat dengan jelas hamparan sayur-mayur yang hijau. Tanaman hortikultura seperti kol, vetsai, bawang prei, kentang dan tomat, digarap oleh para petani desa setempat. Tepatnya terletak di daerah Kanrepia.
Kalau kita ke daerah Pattapang, terdapat perkebunan teh milik Nittoh asal jepang yang juga menjadi salah satu objek wisata Malino yang digemari karena hamparan hijaunya yang cantik dan memukau.
Di Malino juga terdapat perkebunan Markisa yang terkenal menghasilkan buah markisa yang manis, yang dapat diperoleh di pasar-pasar tradisonal di Malino. Minuman dari buah markisa juga sudah banyak dijual dalam bentuk botol dan sering dijadikan sebagai oleh-oleh atau cinderamata. Minuman yang kemudian dikenal dengan nama jus markisa itu berasal dari perkebunan markisa yang banyak tumbuh di Malino.

Akomodasi, dan Fasilitas

Kawasan wisata Malino terletak sekitar 70 km dari Kota Sungguminasa (Gowa) atau 90 km dari Kota Makassar. Dari Kota Sungguminasa, perjalanan dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum dalam waktu sekitar 2-3 jam.
Bagi pengunjung yang ingin lebih lama menikmati keindahan alam Malino tidak perlu merasa khawatir, karena di kawasan ini tersedia hotel dan villa untuk menginap. Sebagian penduduk juga menyiapkan rumahnya sebagai tempat penginapan, sehingga wisawatan bias menyatu dengan masyarakat di sana.
Di lokasi wisata air terjun, tersedia penginapan dengan tarif Rp. 50.000,- per malam. Tersedia pula kuda sewaan untuk mencapai air terjun Takapala yang berada sekitar 4 km di sebelah timur kota Malino. (asnawin/dari berbagai sumber)-- Tabloid Demos, Juli 2008

Ama Saing : Pariwisata adalah "Jembatan"

Dari Semiloka di Hotel Clarion Makassar
Ama Saing : Pariwisata adalah "Jembatan"

Peningkatan kerjasama antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Afrika Selatan, khususnya kerjasama pariwisata antara Pemprov Sulsel dengan Western Cape (Afrika Selatan) terus menerus diupayakan.
Bidang kerjasama yang telah disepakati antara lain kebudayaan, pendidikan dan latihan (training), pariwisata, serta perdagangan dan industri.
Khusus kerjasama bidang pariwisata, meliputi meliputi empat hal, yakni promosi bersama, paket wisata, pertukaran training, serta kunjungan wisata.
Kegiatan yang telah dilaksanakan yaitu berpartisipasi pada TIME 2006 di Makassar, serta kunjungan wisata ke Sulawesi Selatan oleh rombongan delegasi Western Cape sebanyak tiga kali, sedangkan kegiatan yang akan dilaksanakan yakni pertukaran training, menempati outlet promosi wisata bersama, saler mission, serta farm trip.
Hal tersebut diungkapkan Ir H Tan Malaka Guntur MSi, yang mewakili Gubernur Sulsel, saat tampil sebagai salah seorang pemakalah pada Semiloka Pemanfaatan Kemitraan Strategis RI-Afsel Bagi Provinsi Sulawesi Selatan, di Hotel Clarion, Makassar, Rabu, 9 Juli 2008.
Semiloka diadakan oleh Direktorat Afrika Departemen Luar Negeri RI bekerja sama Pemprov Sulsel dan Universitas Hasanuddin Makassar.
Tan Malaka yang membawakan makalah berjudul “Potensi dan Peluang Investasi Sulawesi Selatan dalam kerangka kerja sama RI Afsel” mengatakan, Sulsel memiliki berbagai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan.
Potensi tersebut meliputi potensi geografis (Sulawesi Selatan merupakan pintu gerbang Kawasan Indonesia Timur, pusat lalu lintas udara dan laut antara kawasan barat Indonesia dengan kawasan timur Indonesia-red), potensi sumberdaya manusia (Sulsel pada 2006 berpenduduk 7.629.138 jiwa, penduduk usia kerja 5.257.238 orang, angkatan kerja 3.005.723 orang, serta tenaga kerja 2.738.732 orang.
Selain itu, Sulsel juga memiliki potensi sumberdaya alam, dalam bidang pertanian, perkebunan dan kehutanan, perikanan dan kelautan, pertambangan, serta pariwisata.
Potensi sumberdaya infrastruktur yang dimiliki Sulsel terutama Bandar Udara Hasanuddin yang bertaraf internasional di Makassar, dan beberapa bandara perintis di kabupaten.
Sementara potensi pariwisata yang dimiliki dan banyak dikunjungi wisatawa mancanegara, antara lain Benteng Ujungpandang (Fort Rotterdam) di Makassar, obyek wisata budaya di Tana Toraja, serta pembuatan kapal tradisional perahu Phinisi, pantai pasir putih Tanjung Bira, dan wilayah adat Ammatoa Kajang di Bulukumba.
Tan Malaka juga menjelaskan tentang empat bidang kerja sama yang telah terjalin antara pemerintah Afrika Selatan dengan Pemprov Sulsel.
Kerjasama bidang kebudayaan yang telah dilakukan yaitu pengembangan Makam Syech Yusuf dan Museum, sedangkan kegiatan yang telah dilaksanakan yaitu renovasi Makam Syech Yusuf.
“Kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu inventarisasi peninggalan sejarah Syech Yusuf, perluasan kawasan makam Syech Yusuf, tukar menukar koleksi, pameran bersama, penelitian jejak kaki Syech Yusuf di Afrika Selatan, serta membentuk tim kerja,” paparnya.
Kegiatan yang akan dilaksanakan pada Tahun 2008, adalah Culture in Tourism, pembuatan replika benda-benda bersejarah/kerajaan untuk Perpustakaan Balla Lompoa di Cape Town, sedangkan kegiatan untuk Sulsel yaitu kegiatan misi budaya oleh Persatuan Kebudayaan Melayu Afrika Selatan ke Makassar.
Kerja sama bidang pendidikan & pelatihan yang akan dilaksanakan yaitu pelatihan santri di Pesantren IMMIM Makassar dan pertukaran tenaga pengajar dan pelajar antardua provinsi, serta pembentukan Asia Afrika Center.
Kerjasama Perdagangan dan Perindustrian yang akan dilakukan meliputi eksport & tukar informasi di bidang perdagangan, serta mendorong keikutsertaan pada pameran di masing-masing provinsi/negara.
Kegiatan yang telah dilaksanakan yaitu eksport beras, semen, kakao powder, kayu olahan, marmer, batatex, dan dammar, sedangkan kegiatan yang akan dilaksanakan yakni promosi ekspor dan memanfaatkan event promosi dengan membawa Tim Kesenian Sulawesi Selatan untuk Promosi Seni dan Budaya Sulawesi Selatan.
“Pembangunan Sulawesi Selatan harus dipercepat dalam mengejar ketertinggalan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kerja sama Sulawesi Selatan – Western Cape Afrika Selatan harus lebih ditingkatkan dan menguntungkan kedua provinsi dan negara,” tegas Tan Malaka.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulsel, Ama Saing, kepada “Demos” seusai seminar mengatakan, sesuai misinya, pariwisata adalah jembatan untuk berbagai kegiatan kemitraan antarnegara.
“Jadi jembatannya itu adalah pariwisata,” katanya.
Sekretaris PHRI Sulsel yang juga dosen Akademi Pariwisata (Akpar) Makassar, Farid Said, mengharapkan adanya hasil nyata dari upaya peningkatan kerja sama kedua Negara, khususnya antara Pemprov Sulsel dengan pemprov Wertern Cape.
“Hasil nyata itu misalnya terjadinya kunjungan wisata orang-orang Afrika Selatan ke Sulsel dalam jumlah besar, termasuk mengupayakan agar orang-orang kulit putihnya mau mengalihkan kunjungannya dari Eropa ke Sulawesi Selatan, karena mereka itu selalu berlibur ke Eropa pada musim liburan Natal dan Paskah,” sebut Farid.

Hubungan Historis

Mahendra Siregar, Deputi Menko Perekonomian, yang membahas latar belakang
Joint Declaration on Strategic Partnership Indonesia-South Africa; mengungkapkan adanya hubungan historis dan budaya yang kuat antara Sulsel dan Afrika Selatan serta sudah banyak bidang kerja sama yang telah terbina.
“Populasi keturunan orang Sulsel di Afsel lebih dari satu juta orang,” ungkapnya.
Sasaran-sasaran utama pengembangan di Afrika Selatan antara lain pembangunan Rumah Makassar di Afsel yang juga menampung trade center, pusat kesenian dan budaya; peningkatan hubungan antara pemerintah, bisnis, akademik, pemuda, dan sebagainya; serta peningkatan ekspor Makassar ke Afsel sebesar 15 persen per tahun.
Sementara pengembangan di Sulsel antara lain mengembangkan angkutan kargo udara dan laut internasional langsung ke Makassar, pengembangan kemitraan yang sinergis dengan berbagai stakeholders; Kadin dan Kadin Sulsel; perbankan yang sudah berpengalaman di Afrika; perusahaan-perusahaan Indonesia yang sudah berhasil di Afsel;
KBRI/KJRI dan Kedutaan Besar Afsel.
Untuk pengembengan lebih lanjut, kata Mahendra perlu dirumuskan konsep rencana aksi dengan kerangka waktu dan penanggung jawab setiap kegiatan yang jelas;
membentuk tim pemantau; serta melakukan kerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam implementasi rencana aksi.

Romantisme Masa Lalu

Deddy T Tikson, dari Fisip Universitas Hasanuddin, mengatakan romantisme (hubungan sejarah dan budaya) masa lalu, hendaknya menjadi dasar optimisme masa depan kedua bangsa, khususnya masyarakat Sulawesi Selatan dan Afrika Selatan.
“Hubungan kedua bangsa perlu dibuat lebih produktif yang dirumuskan melalui forward looking policy, untuk mencapai kesejahteraan,” tandasnya.
Menurut dia, perlu kerjasama masyarakat Afsel dan Sulsel untuk perumusan kebijakan hubungan masa depan yang produktif dan penguatan komitmen dalam berbagai bidang.
Kerjasama dapat diwujudkan dalam bidang ekonomi (terutama perdagangan), sosial-budaya, pendidikan, dan Ipteks.
Deddy Tikson juga menyebut bidang-bidang khusus, antara lain pembuatan sekretariat bersama untuk mendukung realisasi dan penguatan kerja sama; pengembangan data-base bersama untuk potensi dan produksi; pengembangan pusat informasi bersama tentang perdagangan, ilmu pengetahuan, budaya dan seni; serta pengembangan organisasi bersama: pemerintah, bisnis dan civil society untuk memajukan kesejahteraan umum kedua bangsa. (asnawin)-- Tabloid Demos, Juli 2008


Semiloka Hasilkan 8 Poin Rumusan

Seminar dan Lokakarya dengan tema “Pemanfaatan Kemitraan Strategis Indonesia-Afrika Selatan Bagi Provinsi Sulawesi Selatan” yang diselenggarakan oleh Direktorat Afrika Departemen Luar Negeri RI bekerjasama Pemprov Sulsel dan Universitas Hasanuddin Makassar, di Hotel Clarion Makassar, 9 Juli 2008, menghasilkan delapan poin rumusan.
Ke-8 point rumusan tersebut adalah :
1. Memanfaatkan hubungan emosional antara Sulsel dan Afrika Selatan bagi pertumbuhan ekonomi dan sosial budaya kedua negara.
2. Kesepakatan yang telah dituangkan dalam MoU kerjasama provinsi kembar antara Pemprov Sulsel dan Pemprov Western Cape maupun kesepakatan kerjasama-kerjasama lainnya perlu segera ditindaklanjuti pelaksanaannya antara kedua provinsi.
3. Segera menyusun rencana aksi untuk lima tahun (2008-2013) bagi setiap bidang kerjasama yang telah disepakati.
4. Pemprov Sulsel segera membentuk Task Force yang bersifat lintas sektoral yang berfungsi sebagai perencana dan pelaksana action plan kerjasama antara kedua provinsi, serta berfungsi sebagai advocacy dari kerjasama-kerjasama yang akan maupun yang telah dilaksanakan.
5. Menunjuk utusan khusus (special envoy) provinsi Sulsel yang berfungsi sebagai wakil kepentingan masyarakat Sulsel.
6. Mengusulkan penunjukan Konsul Kehormatan pemerintah Afrika Selatan berkedudukan di Sulawesi Selatan.
7. Pemberdayaan keberadaan Pusat Kajian Studi Afrika sebagai pusat data dan informasi Afrika Selatan, serta pengembangan pokok-pokok pemikiran baru terhadap peningkatan hubungan bilateral Indonesia dan negara-negara Afrika.
8. Merealisasikan pendirian Trade Centre Afrika Selatan di Makassar. (asnawin)-- Tabloid Demos, Juli 2008. (asnawin)-- Tabloid Demos, Juli 2008

Olimpiade Beijing 2008 : Lagi-lagi Bulutangkis Jadi penyelamat

Olimpiade Beijing 2008:
Lagi-lagi Bulutangkis Jadi Penyelamat


Cabang olahraga bulutangkis lagi-lagi menjadi penyelamat wajah Indonesia di ajang Olimpiade. Pada Olimpiade Beijing, China, 8 s/d 24 Agustus 2008, hanya cabang bulutangkis yang berhasil meraih medali emas, dari tujuh cabang olahraga yang diikuti kontingen Indonesia.
Medali emas tersebut dipersembahkan oleh duet ganda putra, Markis Kido dan Hendra Setiawan.
Bulutangkis juga menyumbang satu medali perak dari duet ganda campuran Nova Widianto/Lilyana Natsir, serta satu perunggu dari tunggal putri Maria Kristin.
Cabang bulutangkis juga menyumbang dua medali perunggu yakni oleh Eko Yuli Irawan (angkat berat 56 kg putra), dan Triyatno (angkat berat 62 kg putra).
Dengan demikian, Indonesia berhasil meraih satu medali emas, satu perak, dan satu perunggu.
Indonesia pada Olimpiade Beijing, membawa 24 atlet dan mengikuti tujuh cabang olahraga, yakni atletik (2 atlet), angkat besi (5), menembak (1), renang (2), bulutangkis (11), panahan (2), dan layar (1).

Olimpiade 2004

Pada Olimpiade Athena 2004 (Yunani), Indonesia merebut satu medali emas, satu perak, dan dua perunggu.
Cabang bulutangkis menjadi penyelamat dengan merebut medali emas melalui tunggal putra, Taufik Hidayat.
Bulutangkis juga mempersembahkan dua perunggu melalui hasil perjuangan Sony Dwi Kuncoro (tunggal putra), dan duet Eng Hian/Flandy Limpele (ganda putra).
Satu medali perak untuk Indonesia pada Olimpiade empat tahun lalu itu, disumbangkan oleh atlet putri Raema Lisa Rumbewas (angkat berat, 53 kg).

Olimpiade 2000

Di Olimpiade Sydney 2000 (Australia), Indonesia meraih satu emas, tiga perak, dan dua perunggu.
Medali emas dipersembahkan cabang pebulutangkis ganda putra Tony Gunawan/Candra Wijaya.
Medali perak direbut oleh Hendrawan (bulutangkis tunggal putra), Tri Kusharyanto/Minarti Timur (bulutangkis ganda campuran), dan Raema Lisa Rumbewas (angkat berat 48 kg putri).
Sementara medali perunggu diraih oleh Sri Indriyani (angkat berat 48 kg putri), dan Winarni Binti Slamet (angkat berat 53 kg putri)

Olimpiade Atlanta 1996

Ganda putra bulutangkis menyumbang medali emas satu-satunya bagi Indonesia pada Olimpiade Atlanta 1996, Amerika Serikat, yaitu dari hasil perjuangan duet Ricky Subagja/Rexy Mainaky.
Medali perak yang juga satu-satunya bagi kontingen Indonesia dipersembahkan oleh Mia Audina dari bulutangkis tunggal putrid, sedangkan dua medali perunggu direbut oleh Susi Susanti (bulutangkis tunggal putri), dan Denny Kantono/Antonius Iriantho (bulutangkis ganda putra).

Olimpiade Barcelona 1992

Indonesia menorehkan hasil bagus pada Olimpiade Barcelona 1992 (Spanyol) dengan merebut dua medali emas, dua perak, dan satu perunggu. Sayangnya, semua medali tersebut direbut dari cabang bulutangkis, sedangkan cabang lain gagal menyumbangkan medali.
Dua medali emas direbut Susi Susanti (bulutangkis tunggal putri), dan Alan Budikusuma (bulutangkis tunggal putra). Belakangan, kedua atlet tersebut akhirnya menikah.
Medali perak dipersembahkan oleh Ardy Bernardus Wiranata (bulutangkis tunggal putra), dan duet Eddy Hartono/Rudy Gunawan (bulutangkis ganda putra).
Sementara medali perunggu direbut oleh Hermawan Susanto (bulutangkis tunggal putra).

Olimpiade Seoul 1988

Tonggak sejarah prestasi medali bagi kontingen Indonesia pada ajang Olimpiade diawali pada Olimpiade Seoul 1988, Korea Selatan.
Inilah untuk pertama kalinya Indonesia merebut medali dan itu dipersembahkan oleh trio pemanah Nurfitriyana Saiman, Kusuma Wardhani, dan Lilies Handayani (panahan beregu putri).
Indonesia Indonesia pertama kali mengikuti Olimpiade pada tahun 1952 di Helsinki, Finlandia. Tim 'Merah Putih' sempat dua kali tak ikut, yaitu pada tahun 1964 dan 1980 (boikot).
Setelah merebut medali pertama (perunggu) di Olimpiade Seoul 1988. Indonesia kemudian merebut medali emas pertama di Olimpiade Barcelona 1992, dan sejak itu Indonesia selalu merebut medali emas. (asnawin)-- Tabloid Demos, Agustus 2008

Olimpiade Beijing 2008: Tekad Indonesia Terlalu Lemah

Olimpiade Beijing 2008:
TEKAD INDONESIA TERLALU LEMAH

Pernyataan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Adhyaksa Dault, bahwa Indonesia bertekad mempertahankan medali emas pada Olimpiade Beijing 2008, bisa dibaca sebagai sebuah tekad yang lemah.
Betapa rendah target yang dicanangkan tersebut. Target dan pernyataan itu sekaligus juga “merendahkan” atlet Indonesia dari cabang olahraga lain yang turut berpartisipasi kali ini. Adhyaksa menyebut cabang olahraga bulutangkis yang paling berpeluang dan sama sekali tidak menyebut satu pun cabang olahraga lain yang berpeluang merebut medali emas.
Target tersebut mungkin realistis, tetapi tidaklah bagus “merendahkan” cabang olahraga lain. Meskipun demikian, kita juga perlu melihat dari sisi lain bahwa pernyataan Adhyaksa itu mungkin saja bagian dari cara untuk “mencambuk” semangat atlet dari cabang olahraga selain bulutangkis.
"Ya kita akan mempertahankan emas lah," kata Adhyaksa saat ditanya target Indonesia di Olimpiade Beijing 2008 pada suatu kesempatan.
Menyinggung bonus disediakan pemerintah bagi atlet Indonesia peraih medali di Olimpiade 2008, Adhyaksa mengatakan bonus tersebut akan dibicarakan kemudian, tetapi pada kesempatan lain Adhyaksa mengatakan bahwa bonus peraih medali emas tidak di bawah Rp 1 miliar.
Pada Olimpiade 2004 di Athena, Yunani, Indonesia meraih satu emas disumbangkan cabang bulutangkis melalui tunggal putra Taufik Hidayat.
Secara total pada Olimpiade 2004, Indonesia meraih satu emas, satu perak dan dua perunggu. Perak disumbangkan lifter angkat besi putri, Lisa Rumbewas.
Dua perunggu diraih atlet bulutangkis yakni tunggal putra Sonny Dwi Kuncoro dan gada putra, Flandy Limpele/Eng Hian.

Bulutangkis

Cabang bulutangkis, selalu menyumbang medali bagi kontingen Indonesia sejak Olimpiade 1992.
Pada Olimpiade 1992 di Barcelona, Spanyol, bulutangkis menyumbang dua emas, dua perak dan satu perunggu. Emas diraih tunggal putra, Alan Budi Kusuma dan tunggal putri Susi Susanti.
Di Olimpade 1996 Atlanta, Amerika Serikat, bulutangkis menyumbang satu emas lewat ganda putra Ricky Subagja/Rexy Mainaky.
Kemudian Olimpiade 2000 di Sydney, Australia, bulutangkis meraih satu emas dan dua perak. Emas disumbangkan ganda putra, Chandra Wijaya/Tony Gumawan.

24 Atlet

Indonesia pada Olimpiade ke-29 di Beijing, 8 s/d 24 Agustus 2008, mengirimkan 24 atlet dan akan mengikuti tujuh cabang olahraga, yakni atletik (2 atlet), angkat besi (5), menembak (1), renang (2), bulutangkis (11), panahan (2), dan layar (1).
Meneg Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault mengatakan, pemerintah telah menfasilitasi segala persiapan dan program untuk mencapai prestasi yang tertinggi bagi kontingen Indonesia di arena Olimpiade Beijing 2008.
“Para atlit telah memasuki Pelatnas sejak akhir Januari 2008 lalu, dengan harapan mampu berkompetisi dengan atlit negara lain,” katanya.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ibu Negara, pada acara pelepasan, di Istana Negara, meminta agar seluruh atlet berjuang dan memberikan yang terbaik untuk mengharumkan nama bangsa dan negara.
”Kibarkan Sang Merah Putih tinggi-tinggi pada arena pertandingan tingkat dunia itu. Doa seluruh rakyat Indonesia mengiringi perjuangan saudara-saudara ,” tandasnya.
Presiden juga berharap agar para atlit dapat memperjuangkan kehormatan dan nama baik bangsa dan negara.
”Saudara-saudara adalah putra terbaik bangsa dalam bidang olahraga yang telah dipilih. Saudara telah dilatih dan dipersiapkan dengan baik. Oleh karena itu Saudara harus yakin dan percaya diri untuk keberhasilan dalam perjuangan dan pelaksanaan tugas ini,” kata SBY.
Presiden SBY juga menyampaikan penghargaan atas kerja keras Kementerian Pemuda dan Olahraga, KONI Pusat dan Daerah, Pimpinan Pelatnas Olimpiade dan seluruh pengurus, pembina, official, yang telah mempersiapkan kontingen Indonesia untuk ikut bertanding dalam Olimpiade Beijing.
”Lanjutkan terus tugas yang penting, yang menentukan dan akan membawa nama baik bangsa dan negara kita di arena pertandingan dunia itu. Sekali lagi selamat bertugas, selamat berjuang, Tuhan beserta kita,” ujarnya.
Usai memberikan sambutan, SBY menyerahkan bendera Merah Putih kepada Ketua KONI, Rita Subowo, yang selanjutnya menyerahkan kepada Ketua Kontingen Indonesia, Rosihan Arsyad. (asnawin)-- Tabloid Demos, Agustus 2008

Sulsel Diharapkan Lima Besar di Riau

Sulsel Diharapkan Lima Besar di Riau

Setelah menembus peringkat ke-6 pada PON XVII Kalimantan Timur, Sulsel kini diharapkan bisa masuk lima besar pada PON XVIII di Riau, pekan Baru empat tahun mendatang.
Harapan tersebut dikemukakan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo pada acara penerimaan dan pemberian bonus total Rp 4,3 miliar, di Gubernuran, belum lama ini, kepada atlet Sulsel yang telah berjuang pada PON XVII Kaltim 2008.
Untuk merealisasikan harapan tersebut, Syahrul meminta KONI melakukan persiapan.
“Saya titip ke KONI untuk mempertahankan prestasi ini. Jangan sampai turun. Kalau perlu di Riau, kita target lima besar,” katanya.
Syahrul mengaku tidak akan tinggal diam. Dia akan membicarakan mengenai pembinaan olahraga dengan sejumlah pengusaha.
“Saya hanya berharap atlet, pelatih, serta pengurus KONI jangan terlena dengan hasil sekarang. Saya sendiri akan memperhatikan olahraga,” tandasnya.
Secara khusus, Syahrul berpesan pada atlet agar membuang jauh-jauh pikiran dan keinginan hengkang ke provinsi lain. Dia mengatakan, uang bukanlah segalanya dalam olahraga.
“Uang itu tidak menjanjikan kebahagiaan. Tapi yang utama adalah rasa kebanggaan. Untuk saat ini, kami baru bisa memberi bonus Rp70 juta untuk peraih emas perorangan, namun jangan lihat jumlahnya. Sebab rasa kebanggaan membela Sulsel itu lebih penting. Kita keluarga besar Sulsel sangat bangga nama besar Sulsel dipulihkan,” paparnya.
Pada malam penyerahan bonus tersebut, perenang indah Sulsel, Shelvy Melowa mendapat kehormatan pertama menerima bonus langsung dari Syahrul. Shelvy sukses meraih empat medali emas dan satu perak. Total bonus yang didapatkan Shelvy adalah Rp 270 juta.

Bertambah 19 Medali

Kontingen Sulsel pada PON XVII Kaltim bertengger di posisi ke-6 dengan meraih 25 medali emas, 24 perak, serta 28 perunggu.
Dengan jumlah medali 25 emas, maka Sulsel berhasil memenuhi target 25 emas. Sedangkan secara peringkat, Sulsel melampaui target yang hanya mengincar posisi delapan sebelum PON XVII.
Dengan hasil 25 emas, 24 perak, serta 28 perunggu atau total keseluruhan 77 medali, Sulsel juga sukses menaikkan jumlah medalinya sebanyak 19 keping. Pada PON XVI di Sumatera Selatan empat tahun lalu, Sulsel hanya meraih 17 emas, 22 perak, serta 19 perunggu dengan menempati peringkat 10.
Target awal KONI Sulsel sebelum berangkat ke Kaltim, yaitu adalah 25 emas, 35 perak, serta 30 perunggu.
Belum tercapainya target medali perak dan perunggu ini karena 21 cabang dan nomor olahraga tak mampu menyumbang medali.
Ke-21 cabang dan nomor tersebut adalah aeromodeling, gantole, loncat indah, angkat berat, atletik, balap motor, voli pantai, boling, bridge, bulutangkis, golf, hoki, menembak, panahan, selam, ski air, sofbol, taekwondo, tenis meja, wushu, serta sepak bola. (asnawin)-- Tabloid Demos, Juli 2008

PON XVII Kaltim: Mampukah Sulsel Naik Peringkat

PON XVII Kaltim:
Mampukah Sulsel Naik Peringkat

Sebanyak 276 atlet Sulsel, kini tengah bertanding di arena Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII 2008 di Balikpapan, Kaltim. Mereka mengikuti 38 dari 43 cabang olahraga yang dipertandingkan.
Jumlah atlet itu cukup banyak, apalagi ditambah pelatih, mekanik, panitia, ofisial, dan wartawan yang totalnya tercatat 440 orang. Butuh miliaran rupiah untuk membiayai mereka, mulai dari persiapan hingga usainya pesta olahraga terbesar di tanah air itu.
Pertanyaannya sekarang, mampukah Sulsel naik peringkat dibandingkan pada PON empat tahun lalu di Palembang? Sekadar diketahui, pada PON XVI, Sulsel bertengger di peringkat ke-10.
Ke-277 atlet Sulsel yang kini tengah berada di Kaltim itu mengikuti 38 cabang olahraga. Pada PON XVI di Palembang, kontingen Sulsel meraih 25 medali emas, sedangkan pada PON V di Jatim, Sulsel meraup 17 medali emas.
Ada beberapa cabang olahraga yang menjadi andalan Sulsel, yaitu karate, anggar, tinju, dayung, kempo, pencak silat, selancar angin, sepaktakraw, dan judo. Selain itu, Sulsel juga berharap atlet dari cabang lain bisa menyumbangkan medali, seperti panjat tebing yang pada PON lalu .

Target 8 Besar

Apa target Sulsel pada PON kali ini? Saat pertanyaan itu diajukan, Wakil Ketua III KONI Sulsel, H Andi Ilhamsyah Mattalatta, mengatakan, Sulsel menargetkan masuk dalam 8 besar perolehan medali.
"Target Sulsel memperbaiki rangking, minimal rangking delapan, karena dari data yang ada kita mampu meraup sekitar 30 emas, kita kuat di beberapa cabang olahraga seperti Karate, Dayung, Anggar, Kempo, Tinju, Renang, dan lainnya," ujarnya Senin (19/5).
Untuk itu Ilham mengharapkan dukungan dari masyarakat Sulsel agar kontingen Sulsel mampu mewujudkan targetnya.
"Kami mengharapkan dukungan dari pengusaha dan masyarakat Sulsel, setidaknya dukungan moril kepada kontingen," katanya.
Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, saat bertemu dan berjoget ria dengan para atlet Sulsel sebelum berlaga di PON XVII Kaltim, beberapa waktu lalu memberikan spirit dengan gayanya yang khas.
"Memenangkan pertandingan harus punya arti bagi atlet maupun kontingen Sulsel. Atlet tidak boleh loyo menghadapi lawan tapi bersemangat dan mempunyai spirit untuk merebut medali," katanya.
Syahrul yang juga Ketua Umum Forki Sulsel itu mengatakan, atlet yang loyo dan tidak meledak menghadapi setiap pertandingan itu karena hatinya ciut sebelum bertanding.
"Karena itu, disiplin, kemauan dan semangat membara dalam diri setiap atlet harus ditanamkan sebab tanpa sikap seperti itu medali akan jauh dari diri atlet," ujarnya membakar semangat atlet.
Gubernur Syahrul Yasin Limpo juga mengharapkan para pelatih, official dan Pengurus Koni Sulsel harus selalu resah atau gelisah memikirkan para atlet yang berlaga di PON XVII agar bias tampil sebagai juara pada setiap cabang olahraga yang dipertandingkan.
Usai berjoget bersama, Gubernur Sulsel memberikan uang perangsang kepada para atlet.
Sementara Ketua Kontingen Sulsel, HM Roem, menjawab lebih realistis ketika ditanyakan tentang target Sulsel pada PON kali ini. Mantan Bupati Sinjai yang kini menjabat Ketua DPRD Sulsel itu mengatakan Sulsel menargetkan 25 emas, 35 perak, dan 30 perunggu.

Bonus Lebih Besar

Untuk membakar semangat bertanding para atlet, Gubernur Sulsel menjanjikan bonus yang lebih besar kepada atlet Sulsel yang meraih medali di PON XVII Kalimantan Timur. Namun, para atlet diminta tidak memikirkan bonus lebih dahulu.
Sebagai gambaran, pada PON XVI Palembang 2004, setiap peraih medali emas mendapat bonus rumah senilai Rp40 juta.
"Kontingen MTQ Sulsel berhasil masuk lima besar. Kami beri bonus lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Hal sama dilakukan bagi atlet PON jika berhasil. Bonusnya juga akan lebih tinggi dari PON lalu. Itu janji saya," katanya.
Tetapi, Syahrul berharap atlet tak terlalu berpikir soal bonus. Ia ingin atlet merealisasikan target medali dan rangking yang lebih baik dari PON XVI.
"Saya yakin itu (rangking naik, Red). Saya berharap atlet dan ofisial mampu mengangkat martabat dan gengsi Sulsel," tambahnya.
Pada kesempatan itu, Syahrul menitip pesan kepada atlet. Menurutnya, semua atlet harus berangkat ke PON dengan kemenangan. "Kita harus membangun mimpi dari sekarang. Kita harus bermimpi untuk juara," katanya membakar semangat atlet.
Semangat juang bagi atlet juga menjadi penekanan khusus gubernur.
"Intinya semua harus siap menang. Baik atlet, ofisial maupun semua yang terlibat dalam kontingen ini. Saya juga sudah meminta ke kepala biro keuangan untuk mengkoordinasi 100 suporter ke Kaltim," ungkap Syahrul. (asnawin)—Tabloid Demos, Juli 2008

Emha Ainun Nadjib : Semoga Allah Mencoblos pada Pilpres 2009



keterangan gambar: Emha Ainun Nadjib

Emha Ainun Nadjib :
Semoga Allah Mencoblos pada Pilpres 2009


Oleh: Asnawin

Indonesia dewasa ini benar-benar butuh pertolongan untuk diselamatkan dari kehancuran. Malah tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa butuh “campur tangan” atau intervensi dari Allah SWT untuk menyelamatkan Indonesia.
Khusus untuk mencari pemimpin Indonesia di masa datang, sebaiknya rakyat Indonesia berdoa agar Allah SWT mau mencoblos pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009 mendatang.
“Semoga beliau mau ikut mencoblos. Kalau Allah mencoblos, pasti tidak mau kalah,” kata budawayan Emha Ainun Nadjib saat tampil dalam Diskusi Publik “Selamatkan Indonesia” Menelaah Pemikiran Prof Dr M Amien Rais, di Auditorium Al-Amien Kampus Unismuh Makassar, 21 Juli 2008.
Dia mengatakan, presiden kita sekarang ini sangat pintar, tetapi yang dibangun bukan pembangunan, melainkan anggapan-anggapan tentang dirinya.
Untuk melihat kondisi Indonesia secara keseluruhan dewasa ini, katanya, cukup dengan membaca buku terbaru Amien Rais yang berjudul “Agenda Mendesak Bangsa, Selamat Indonesia.”
“Seandainya ada malaikat yang singgah untuk mempelajari Indonesia, cukup sodorkan bukunya Pak Amien,” ujarnya sambil tersenyum.
Indonesia sekarang ini, kata Emha, sedang di-Bilal-kan. Bilal, katanya, adalah seorang anak raja dari Afrika yang pergi ke Arab Saudi untuk menemui Nabi Muhammad.
Bilal yang tinggal di Afrika sudah mendengar tentang datangnya seorang yang mulia bernama Muhammad dan tinggal di Tanah Arab. Bilal kemudian melakukan perjalanan jauh dan bertemu dengan kabilah yang akan berangkat ke Tanah Arab.
Dalam perjalanan itulah ia mengalami banyak cobaan dan setelah tiba di Tanah Arab, dirinya sudah diperjualbelikan dan dijadikan budak oleh orang-orang kaya dan berkuasa. Abubakar yang sahabat dekat Rasulullah kemudian tampil membebaskan Bilal dari perbudakan.
“Jadilah seperti Abubakar yang menebus Bilal, karena Indonesia sekarang ini sedang di-Bilal-kan,” ujarnya.
(Dimuat di Tabloid Demos, Makassar, Juli 2008)

Amien Rais: Pemimpin Tak Boleh Bermental Jongos



keterangan gambar: Prof Amien Rais

Amien Rais:
Pemimpin Tak Boleh Bermental Jongos

Oleh: Asnawin


Sedikitnya ada tiga hal yang perlu dimiliki seorang pemimpin, khususnya pemimpin Indonesia, yakni tidak lagi bermental jongos tetapi berani berhadapan pemimpin negara-negara adidaya, berorientasi kerakyatan, serta berani mengambil risiko dan bertaqwa kepada Allah SWT.
Hal tersebut diungkapkan mantan Ketua MPR RI yang juga mantan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Amien Rais, pada Diskusi Publik “Selamatkan Indonesia” Menelaah Pemikiran Prof Dr M Amien Rais, di Auditorium Al-Amien Kampus Unismuh Makassar, 21 Juli 2008.
Indonesia, kata Amien, butuh pemimpin alternatif. Khusus pemimpin Indonesia yang ada sekarang, lanjutnya, sebaiknya dijaga dan “dirawat” saja sampai dengan tahun 2009.
“Setelah itu, kita ucapkan terima kasih. Mudah-mudahan amal ibadahnya diterima dan dosa-dosanya diampuni,” ujarnya yang langsung disambut tepuk tangan dan senyum dari para peserta diskusi.
Menurut dia, Indonesia sesungguhnya mendapatkan tiga mcam kutukan, yakni kutukan minyak dan sumber daya alam, kutukan sulit bangkit dan sulit berjalan tegak, serta kutukan dari Allah SWT.
Pendiri dan mantan Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) itu berharap nasib Indonesia tidak seperti Uni Sovyet yang awalnya sebuah negara adidaya tetapi kemudian pecah menjadi beberapa negara.
Diskusi publik tersebut diadakan oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) PP Muhammadiyah dan MPM PW Muhammadiyah Sulsel, bekerja sama Pusat Pengkajian Strategis & Kebijakan (PPSK) dan Unismuh Makassar.
Diskusi yang dipandu Harwanto Dahlan dari PPSK itu menghadirkan tiga pembicara, yakni Emha Ainun Nadjib (budawayan), Haedar Nashir (pakar politik/wakil ketua PP Muhammadiyah) dan Drajad H Wibowo (pakar ekonomi/anggota DPR RI).
Ketua MPM PP Muhammadiyah, Said Tuhulelei menjelaskan, pihaknya mengundang seluruh Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Sulsel, Sulbar, Sultra, Maluku dan Papua.

Selamatkan Indonesia

Rektor Unismuh Makassar, Dr Irwan Akib MPd, mengatakan, bangsa Indonesia seharusnya bersyukur karena di tengah karut-marutnya kondisi bangsa kita dewasa ini masih ada putra-putra terbaik yang punya kepedulian untuk menyelamatkan bangsa dan Negara Indonesia, yakni Amien Rais yang membuat buku “Agenda Mendesak bangsa, Selamatkan Indonesia.”
Haedar Nashir mengatakan, buku yang ditulis Amien Rais bukan sekadar naskah yang lengkap dengan data, melainkan juga lengkap dengan agenda ke depan yang sangat penting.
“Buku ini mengandung kegelisahan,” katanya.
Drajad H Wibowo yang pernah mengajar ilmu ekonomi selama beberapa tahun di Australia, mengatakan, kalau dicermati dengan seksama, Indonesia sesungguhnya makin “turun tangga.”
Tahun 70-an, Indonesia masih lebih bagus dibanding Korea, tetapi sekarang Korea jauh lebih maju bahkan mulai mensejajarkan diri dengan negara-negara maju.
Tahun 80-an, Indonesia masih lebih bagus dibanding China, tetapi China sekarang juga sudah jauh lebih maju dan bahkan menjadi saingan negara-negara maju.
Tahun 90-an, Indonesia masih lebih bagus dibanding Vietnam, tetapi sekarang Vietnam jauh berkembang dan pelan-pelan mulai meninggalkan Indonesia.
Awal tahun 2000-an Indonesia masih lebih dibanding Bangladesh, tetapi sekarang Banglandesh pun sudah mulai mengejar.
“Mudah-mudahan tahun 2010 nanti, Bangladesh tidak menyalip kita, tetapi sebaliknya kita kejar Vietnam, China, dan Korea,” tandas Drajad.
Dia kemudian mengungkapkan data bahwa sekitar 28% penduduk Indonesia bekerja di sector formal dan sekitar 72% bekerja di sector informal.
“Pemerintah sudah ‘berhasil’ meningkatkan kemiskinan, sehingga orang berdesak-desakan bekerja di sector informal. Bekerja apa saja mau asal bisa makan,” ungkapnya.
Menurut dia, masih banyak sumber-sumber uang di negara kita yang bisa digali dan dioptimalkan untuk membayar utang negara, dan adalah sebuah kebohongan besar kalau dikatakan Indonesia tidak punya uang untuk membangun sekolah dan lain-lain
“Makanya saya sangat mendorong penggunaan Hak Angket di DPR,” tegas politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu.
Rusia pada awal tahun 90-an, lanjutnya, memiliki utang hampir sama besar dengan utang Indonesia, tetapi ketika Vladimir Putin berkuasa, semua utang Negara Rusia lunas terbayar, di mana laju pertumbuhan ekonominya mencapai 6-7 persen dan cadangan devisanya mencapai 277 miliar dolar AS.
(Dimuat di Tabloid Demos, Makassar, Juli 2008)

Sulsel Miliki 19 Dinas dan 12 Biro

Sulsel Miliki 19 Dinas dan 12 Biro

Pemprov Sulsel di bawah duet kepemimpinan Syahrul Yasin Limpo – Agus Arifin Nu’mang, akan memiliki 19 Dinas dan 12 Biro. Selain itu, Sekretaris Provinsi (Sekprov) akan didampingi empat asisten.
Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) mengenai Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Provinsi Sulawesi Selatan, dan Ranperda tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Provinsi Sulawesi Selatan, telah disetujui semua fraksi di DPRD Sulsel untuk ditetapkan menjadi Perda.
Sehubungan dengan persetujuan tersebut, anggota Fraksi PAN DPRD Sulsel, HM Ramli Haba meminta kepada Pemprov Sulsel agar segera melakukan sosialisasi.
“Kami minta kepada Pemprov Sulsel agar segera melakukan sosialisasi secara menyeluruh kepada SKPD Pemda Sulsel, Pemda Kabupaten Kota dan masyarakat, jangan terkesan Perda-perda yang terbit hanya dipahami oleh eksekutif dan legislatif,” tandasnya
Selain itu, dia juga meminta Peraturan Daerah tersebut diundangkan dalam Lembaran Daerah Propinsi Sulawesi Selatan dan ditindaklanjuti dengan Peraturan Gubernur paling lambat satu tahun sejak Perda tersebut ditetapkan.
Menyinggung kemungkinan banyaknya pejabat yang kehilangan ‘kursi’, Ramli Haba mengatakan, dampak psikologis lahirnya suatu Peraturan Daerah yang bersangkut paut dengan jabatan memang sulit dihindari.
“Perda yang memangkas beberapa jabatan strategis yang ada sebelum Perda tersebut, akan sangat berpengaruh. Untuk itu perlu pemahaman menyeluruh bahwa jabatan bukanlah segalanya, jabatan adalah amanah,” katanya.

19 Dinas Lingkup Pemprov Sulsel :

1. Dinas Kesehatan
2. Dinas Pendidikan
3. Dinas Olahraga dan Pemuda
4. Dinas Sosial
5. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi
6. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
7. Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura
8. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan
9. Dinas Kelautan dan Perikanan
10. Dinas Perkebunan
11. Dinas Kehutanan
12. Dinas Perindustrian dan Perdagangan
13. Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
14. Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air
15. Dinas Bina Marga
16. Dinas Tata Ruang dan Pemukiman
17. Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral
18. Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika
19. Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah.
(asnawin)- Tabloid Demos, Juli 2008