Senin, 29 Oktober 2007

Pada Hari Sumpah Pemuda

Ketika para pejabat
Mengikuti upacara
Peringatan Hari Sumpah Pemuda
Sejumlah pemuda masih ngorok
Setelah semalaman mabuk-mabukan

Di saat para pemuda pelopor
Mengikuti upacara
Peringatan Hari Sumpah Pemuda
Sejumlah pemuda pengangguran
Asyik ngobrol di warung kopi

Pada Hari Sumpah Pemuda
Banyak pemuda yang bingung
Banyak pemuda yang pusing
Banyak pemuda yang teler
Banyak pemuda yang tersenyum kecut

Makassar, 29 Oktober 2007

Selasa, 23 Oktober 2007

Kesedihan Wartawan


(karya: asnawin)

Engkau termasuk makhluk mulia
Engkau ibarat Malaikat Jibril
Yang membawa ayat-ayat Tuhan
Dari langit kepada nabi dan rasul

Engkau termasuk makhluk mulia
Engkau ibarat nabi dan rasul
Yang menyebarkan berita
Dari langit kepada umat manusia

Kesedihanmu adalah kesedihan Malaikat Jibril
Kesedihanmu adalah kesedihan nabi dan rasul
Kesedihanmu adalah kesedihan para pemuka agama
Kesedihanmu adalah kesedihan penyeru kebajikan

Pernahkah engkau bersedih
Kapankah engkau bersedih
Bagaimana bentuk kesedihanmu
Di manakah engkau bersedih

Engkau tak perlu menjawabnya
Engkau tak perlu mengucapkannya
Engkau tak perlu menuliskannya
Karena aku sudah tahu

Engkau bersedih
Ketika tidak lagi
Diberi kepercayaan
Membuat berita

Engkau bersedih
Ketika tidak lagi
Punya kemampuan
Membuat berita

Engkau bersedih
Ketika tidak lagi
Punya media massa
Untuk menyebarkan berita

Makassar, 23 Oktober 2007

Sabtu, 20 Oktober 2007

Buat Pak Amin, Pak Syahrul, dan Pak Aziz

Assalamu alaikum ww......

Pemilihan Gubernur Sulsel secara langsung oleh masyarakat baru akan dilaksanakan pertama kali pada 5 November 2007.
Proses panjang telah dilalui yang diawali dengan munculnya beberapa nama calon gubernur (cagub), calon wakil gubernur (cawagub), kemudian sosialisasi yang dilakukan cagub dan cawagub, pendaftaran cagub dan cawagub secara resmi di KPU, gugurnya beberapa cagub dan cawagub karena tidak memenuhi syarat, serta hari ini, Sabtu, 20 Oktober 2007, sebagai hari pertama masa kampanye.
Banyak kejadian dalam proses penjang tersebut dan juga banyak uang yang berhamburan. Kita belum tahu apa yang akan terjadi hingga berakhirnya masa kampanye pada Rabu, 31 Oktober 2007 nanti. Kita juga belum tahu apa yang akan terjadi hingga hari pencoblosan nanti, apalagi setelah diketahui siapa pemenang Pilkada Gubernur Sulsel periode 2007-2012. Yang pasti, hingga hari pertama masa kampanye, masyarakat yang punya hak pilih belum juga mendapatkan kartu pemilih.
Kepada pak Amin Syam dan Prof Mansyur Ramly, kepada pak Syahrul dan Agus Arifin Nu'mang, serta kepada pak Aziz Qahhar Muzakkar dan Mubyl Handaling, saya ucapkan selamat berkampanye dan selamat berjuang.
, dan selamat

Kebahagiaan Seorang Ibu


Beberapa hari menjelang lebaran, hati Sitti Hajjah Hasnah Bali gembira bercampur gelisah. Gembira karena semua anak dan cucunya akan datang. Anaknya sebenarnya 12 orang, tetapi satu orang sudah meninggal, sehingga yang akan datang berkumpul 11 orang, ditambah 19 cucu.

Rabu, 10 Oktober 2007

Alamat Kantor Redaksi Media Massa


Kantor Harian Pedoman Rakyat, di Jl Arief Rate 29, Makassar, kini sudah tidak lagi difungsikan sebagai kantor, karena harian Pedoman Rakyat tidak lagi terbit sejak 2007. Harian Pedoman Rakyat terbit perdana pada 1 Maret 1947. (Foto: Asnawin)

Rabu, 03 Oktober 2007

Prof Idris Arief, 8 Tahun Menakhodai UNM (3)


Banyak keberhasilan yang diraih UNM saat dipimpin Prof Idris Arief, termasuk keberhasilan mahasiswa dalam berbagai ajang lomba dan kompetisi, tetapi di sisi lain, UNM juga kerap "diganggu" aksi unjukrasa, aksi perusakan, dan tawuran.
Peristiwa yang memilukan terjadi ketika kampus Fakultas Teknik dibakar oleh mahasiswa yang menyebabkan kerugian miliaran rupiah. Peristiwa memalukan lainnya ketika mahasiswa berkelahi dengan sopir pete-pete.
"Kepada Pak Dirjen, saya meminta agar diberhentikan sebagai rektor, karena saya merasa gagal," ungkap Prof Idris Arief.

Selasa, 02 Oktober 2007

Ternyata

Ternyata

Oleh: Asnawin
email : asnawin@hotmail.com

Sebagai "orang baru" di organisasi profesi itu, Sasongko lebih banyak diam dan sesekali memuji "orang lama". Ada beberapa pengurus yang dianggapnya cukup berbobot dan punya visi bagus, salah seorang di antaranya yaitu Baskoro.
Baskoro yang anak mantan bupati, orangnya berani, tegas, serta punya visi yang jelas tentang organisasi, termasuk bagaimana menyejahterakan anggota.
Kebetulan Musyawarah Daerah (Musda) sudah dekat dan akan dipilih pengurus baru. Karena Sasongko orang baru, dia sama sekali tidak berniat menjadi ketua, sekretaris, atau pun bendahara, tetapi dia siap menjadi salah seorang pengurus.
Seperti biasa, terjadilah pengelompokan-pengelompokan di antara pengurus, dan tentu saja tidak sedikit yang bermuka dua.
Singkat cerita Baskoro terpilih menjadi sekretaris umum yang baru, mendampingi ketua umum yang juga anak mantan pejabat tinggi. Sasongko ditempatkan sebagai salah satu anggota bidang.
Karena ketua umum banyak kesibukan, maka Baskoro diberi kepercayaan penuh mengatur segala sesuatunya di organisasi. Kepercayaan itu dijawab dengan menertibkan adiministrasi dan mengontrol keuangan secara ketat. Kas organisasi pun menjadi sehat.
Sasongko makin kagum kepada Baskoro. Ia pun makin sering berdiskusi untuk menimba ilmu dan pengalaman dari Baskoro.
Sekitar satu tahun kemudian, tiba-tiba ada laporan bahwa Baskoro menggelapkan uang organisasi sekitar Rp 80 juta. Ketua umum pun terpaksa memanggil Baskoro untuk meminta penjelasan. Karena desakan pengurus lain, akhirnya ketua umum mengundang seluruh pengurus untuk rapat membahas masalah "penggelapan" uang yang dilakukan Baskoro selaku sekretaris umum.
Di depan pengurus, Baskoro berupaya memberikan penjelasan bahwa uang sekitar Rp 80 juta itu hanya ia pakai sementara dan segera dikembalikan, tetapi penjelasan itu tidak bisa diterima dan Baskoro diminta mengundurkan diri selaku sekretaris.
Kekaguman Sasongko kepada Baskoro pun menjadi sirna.
"Ah, ternyata," kata Sasongko dalam hati.

***

Ahmed yang seorang jaksa muda sangat kagum kepada Fulan bin Fulan. Ahmed kagum karena Fulan bin Fulan yang mantan jaksa senior, cukup disegani sebagai salah satu dari lima anggota Komisi Pengawas Lembaga Peradilan.
Fulan bin Fulan dinilai sebagai "orang bersih" dan selalu bersikap tegas bila ada jaksa atau hakim yang memanfaatkan posisinya untuk kepentingan pribadi.
Ahmed pun berangan-angan suatu saat nanti dirinya menjadi jaksa senior dan disegani. Syukur-syukur kalau kelak dirinya terpilih menjadi anggota Komisi Pengawas Lembaga Peradilan, atau Jaksa Agung Muda.
Ketika membaca koran harian pagi sebelum ke kantor, Ahmed sangat kaget membaca berita ditangkapnya Fulan bin Fulan, karena tertangkap tangan menerima uang ratusan juta rupiah ditambah puluhan ribu dolar AS, dari seseorang. Uang tersebut diduga merupakan "fee" hasil penjualan tanah untuk pembangunan kantor Komisi Pengawas Lembaga Peradilan.
Di dalam rumah tahanan, Fulan bin Fulan berupaya memberikan penjelasan tentang "duduk perkara yang sebenarnya". Pengacaranya pun memperkuat penjelasan tersebut dengan mengatakan bahwa kliennya dijebak, padahal kliennya bermaksud baik.
Ahmed berupaya berbaik sangka kepada Fulan bin Fulan, tetapi ternyata banyak komentar sinis yang bermunculan dan malah Fulan bin Fulan dinonaktifkan sebagai anggota Komisi Pengawas Lembaga Peradilan.
Kekaguman Ahmed kepada Fulan bin Fulan pun menjadi sirna.
"Ah, ternyata," kata Ahmed dalam hati.

***

Luh Kenanga sedang asyik makan bersama suami dan keempat anak-anaknya di restoran kecil di pinggir pantai. Tiba-tiba suaminya mengucapkan salam dan memberi hormat kepada seorang pria yang memakai songkok hitam yang baru masuk bersama seorang wanita muda memakai jilbab.
Pria yang tampak cukup berwibawa dan umurnya berkisar 50 tahun itu, membalas salam yang diucapkan suami Luh Kenanga dan langsung mendatangi mereka. Pria berwibawa itu kemudian berbasa-basi sejenak, sebelum duduk di meja lain.
Tak lama kemudian pemilik restoran datang dan menyapa dengan hormat, lalu menyalami pria berwibawa tersebut. Pemilik restoran kemudian memanggil beberapa karyawannya dan meminta segera menyiapkan makanan dan minuman favorit pria berwibawa tersebut bersama isterinya.
Dalam perjalanan pulang, Luh Kenanga bertanya kepada suaminya tentang pria berwibawa itu.
"Beliau itu seorang anggota parlemen. Rumahnya empat dan mobilnya banyak. Wanita yang dibawanya tadi adalah isteri keempat," jelas suaminya.
"Bapak kenal dimana?," tanya Luh Kenanga setelah menyembunyikan perasaan kagetnya.
"Beberapa tahun lalu saya ke kantornya. Waktu itu, beliau belum menjadi anggota parlemen, tetapi seorang pengusaha yang cukup sukses. Saya datang sekitar jam empat sore. Beliau kaget karena saya datang ketika beliau sedang makan, padahal waktu itu bulan puasa. Tanpa saya minta, beliau langsung menjelaskan bahwa dirinya tidak bisa puasa karena sakit maag," tutur suaminya sambil tersenyum.
Mendengar penuturan suaminya, Luh Kenanga hanya berkomentar singkat; "Ah, ternyata."

***

Amoy tidak tahan juga selalu diledek, apalagi ia akan segera menikah dengan pacarnya. Sang pacar juga kerap meledeknya, meskipun hanya bercanda.
Ya, Amoy yang cantik sering diledek, karena ia selalu mendengkur kalau tidur. Karena takut malu di rumah mertuanya kelak, Amoy pun segera berkonsultasi ke dokter THT.
Kepada dokter yang juga seorang wanita cantik, Amoy mengemukakan keluhannya. Sebaliknya, setelah mendengar keluhan Amoy, sang dokter cantik hanya memberikan penjelasan singkat dan sedikit nasehat.
"Dengkuran itu menandakan adanya penyumbatan di saluran pernapasan saat seseorang sedang tidur. Suara dengkuran berasal dari usaha udara untuk melewati saluran yang menyempit itu. Banyak penyebab orang mendengkur dan percayalah Anda tidak sendiri. Menurut data yang layak dipercaya, mendengkur diderita oleh satu dari lima orang dewasa. Dan jangan bilang-bilang ya, saya juga pendengkur, tetapi suami saya bilang, bunyi dengkur saya agak seksi," papar sang dokter.
Mendengar pemaparan sang dokter, Amoy hanya bilang; "Ah, ternyata."

Makassar, 30 September 2007

copyright@Pedoman Rakyat
Makassar, 1 Oktober 2007


Prof Idris Arief, 8 Tahun Menakhodai UNM (2)

Prof Dr HM Idris Arief MS, 8 Tahun Menakhodai UNM (2):

"Kadang-kadang Saya Menangis"

Ketika terjadi krisis moneter (krismon), harga barang-barang naik dan seharusnya alokasi anggaran juga naik, tetapi Universitas Negeri Makassar (UNM) dan seluruh perguruan tinggi negeri di Indonesia justru terpaksa "gigit jari", karena jatah mereka dikurangi.
UNM yang biasanya menerima anggaran dari pemerintah pusat sekitar Rp 10 miliar, jatahnya dikurangi menjadi hanya sekitar Rp 1,5 miliar pada 1999.
Selain itu, juga ada aturan bahwa PTN tidak boleh membangun gedung baru dan aturan itu masih berlaku sampai sekarang.
Kondisi itu membuat UNM 'menderita' selama beberapa tahun sejak terjadinya krismon, dan terpaksa melakukan 'tambal sulam' dalam memanfaatkan dana yang ada, apalagi SPP mahasiswa juga tergolong paling rendah di antara semua PTN.
"Kadang-kadang saya menangis. Saya memutar otak bagaimana bisa mengendalikan UNM yang begini besar dengan dana yang terbatas," ungkap Idris Arief.
Namun seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman sebagai rektor, Idris Arief pun mencoba melakukan berbagai pendekatan kepada pemerintah pusat, dalam hal ini Dirjen Dikti Depdiknas.
"Berkat pendekatan yang kami lakukan ke pusat, dengan alasan kebutuhan mendesak, UNM akhirnya mendapatkan izin dan dana untuk pembangunan gedung baru," ungkap Idris Arief.
Hingga tahun 2007 ini, UNM memiliki kampus yang tersebar pada enam lokasi, yakni Kampus Gunungsari Baru, Kampus Parangtambung, Kampus Banta-bantaeng, Kampus Tidung, Kampus Parepare, dan Kampus Bone.
Guna menyukseskan program PGSD S1 (sarjana pendidikan guru sekolah dasar) berasrama, UNM telah mendapat persetujuan mengembangkan rusunawa atau rumah susun sederhana sewa).

Mahasiswa dan Dosen

Di sisi lain, minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke UNM juga tidak berkurang dan malah cenderung bertambah, karena UNM bukan lagi sekadar mencetak tenaga kependidikan, melainkan juga mencetak tenaga non-kependidikan alias sarjana ilmu murni.
Ketika Idris Arief terpilih menjadi rektor pada periode pertama 1999, jumlah mahasiswa UNM hanya 8.719 orang, tetapi tahun 2007 ini jumlahnya 17.235 orang.
Program Pascasarjana juga berkembang cukup pesat yang ditandai dengan penambahan program studi yang ditawarkan kepada masyarakat dan semakin banyaknya mahasiswa baru setiap tahunnya.
Jumlah dosen UNM yang berkualifikasi magister (S2) dan doktor (S3) pada 1999, hanya 29% dari total 815 dosen, terdiri atas 265 dosen S2 (32,52%) dan 52 dosen S3 (6,38%).
Delapan tahun kemudian, tepatnya hingga September 2007, dosen UNM yang berkualifikasi S2 tercatat 597 orang (68,62%) dan S3 sebanyak 87 orang (10%) dari total 870 dosen.
"Sampai saat ini, jumlah dosen yang berkualifikasi magister dan doktor berkisar 79 persen, jauh melampaui target nasional yang mengisyaratkan 55 persen. Diperkirakan tahun 2009 nanti, jumlah dosen UNM yang berkualifikasi S2 dan S3 sudah berkisar 90 peren, karena banyak dosen yang sementara studi S2 dan S3, baik di dalam negeri maupun di luar negeri," papar Idris. (asnawin/pr, bersambung)

Prof Idris Arief, 8 Tahun Menakhodai UNM (1)




Prof Dr HM Idris Arief MS, 8 Tahun Menakhodai UNM (1):

Langsung Dihadapkan Berbagai Persoalan

Pengantar:
Delapan tahun bukanlah waktu singkat dalam menakhodai sebuah perguruan tinggi negeri yang cukup ternama. Tentu banyak suka dan dukanya dan itulah yang telah dilalui oleh Prof Dr HM Idris Arief MS selama menjabat Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM).
Bagaimana suka dukanya, berikut wawancara wartawan "PR" dengan Prof Idris Arief, yang dituangkan dalam tulisan bersambung mulai hari ini.

Pada 17 September 2007, Senat UNM telah memilih Prof Dr H Arismunandar MPd sebagai rektor baru menggantikan Idris Arief, tetapi pergantian tersebut baru akan dilakukan setelah terbit Surat Keputusan dari pemerintah pusat.
"Mungkin sekitar Desember baru dilakukan pelantikan dan biasanya dilakukan di Jakarta, bersamaan dengan pelantikan beberapa rektor lainnya," jelas Idris Arief.
Pria kelahiran Sinjai, 1 Februari 1942 itu adalah sarjana UNM (dulu IKIP Ujungpandang), jurusan Ekonomi (1967). Suami dari Prof Dr Hj Rabihatun Idris MS itu pernah menimba ilmu pascasarjana Studi Pembangunan di Universitas Indonesia (1979), ilmu manajemen di Washington State University, AS (1992), serta magister (S2) dan doktor (S3) Ilmu Ekonomi di Unhas.
Sebelum terpilih menjadi rektor pada periode pertama 1999-2003, Idris Arief menjabat Pembantu Rektor II UNM juga selama dua periode (1991-1999).
Penatar nasional manajemen perguruan tinggi dan dosen pascasarjana di beberapa perguruan tinggi itu, juga terlibat dalam beberapa organisasi.
"Tetapi saya tidak punya minat dan bakat di organisasi politik," katanya kepada 'PR' dalam beberapa kesempatan.
Ketika terpilih menjadi rektor pada periode pertama, Idris Arief tentu saja menerima ucapan selamat dari berbagai kalangan, tetapi pada saat bersamaan ia langsung dihadapkan kepada berbagai persoalan dan tantangan.
Persoalan tersebut antara lain memuncaknya krisis moneter (krismon) yang diiringi naiknya harga barang. Anggaran yang diterima dari pemerintah pusat juga menurun drastis, dari biasanya sekitar Rp 10 miliar turun menjadi sekitar Rp 1,5 miliar.
"Bayangkan, saat terjadi krismon, saat harga barang-barang mahal, anggaran untuk perguruan tinggi dipangkas dan tidak boleh ada pembangunan fisik, padahal kebutuhan kampus meningkat," ungkapnya.
Tantangan yang dihadapi antara lain perubahan nama dan status Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Ujungpandang menjadi Universitas Negeri Makassar (UNM).
"Dengan perubahan tersebut, UNM mendapat perluasan mandat, yakni mencetak calon guru dan lulusan ilmu murni atau non-kependidikan," papar Idris Arief.
Tidak mudah mengatasi persoalan dan tantangan itu, tetapi dengan berbagai pengalamannya sebagai pejabat di lingkungan UNM dan pergaulannya yang cukup luas, dia yakin mampu menghadapi dan mengatasinya. (bersambung)