Rabu, 24 Desember 2008

Jusuf Kalla: ”Ibu Saya Tak Pernah Mengeluh”




Jusuf Kalla:
”Ibu Saya Tak Pernah Mengeluh”

Oleh: Asnawin


Wapres Jusuf Kalla (JK) terharu menceritakan kisah almarhumah ibunya, Hj.Athirah Kalla, kepada tim penyusun buku ”Hj.Athirah Kalla, Melangkah dengan Payung” dari Pemuda Muhammadiyah Sulsel, di Istana Wapres Jakarta, belum lama ini.
JK yang tanpa ditemani isteri ataupun stafnya, beberapa kali terdiam dan memandang ke plafon saat bercerita dan saat menjawab pertanyaan tim penyusun buku tentang ibunya.
”Ibu saya itu tidak pernah mengeluh,” ungkapnya kepada tim penyusun buku, Basti Tetteng dan Asnawin, serta Ketum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Izzul Muslimin, Sekum Gunawan, dan Ketum Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulsel, Rachmat Noer.
Athirah Kalla membesarkan 10 anak-anaknya dengan sabar. Di rumahnya yang luas di Jl. Andalas No.2 Makassar, juga banyak keluarganya yang menetap dan disekolahkan.
Rumahnya pun selalu menjadi tempat rapat pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Sulsel, pengurus Aisyiyah Sulsel, pengurus Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), dan pengurus Senat Fisipol Unhas.
”Jadi rumah saya itu ganti-ganti orang rapat di sana. Hari ini NU, besok Aisyiyah. Kalau HMI tiap hari. Tapi ibu tak pernah mengeluh. Tiap malam ratusan orang yang datang. Ibu saya masak lalu pergi tidur di kamarnya. Teman-teman kalau mau makan langsung saja ke dapur ambil sendiri. Tapi ibu tidak merasa terganggu,” papar JK.
Aktivis HMI Pusat, seperti Nurcholis Madjid (almarhum) dan Fahmi Idris (sekarang Menteri Perindustrian), juga selalu menginap di rumah JK setiap kali datang ke Makassar. Mereka semua mengenal Hj. Athirah karena selalu mendapat pelayanan yang baik dan ikhlas.
”Mereka semua mengenal dan menganggap ibu saya sebagai ibu mereka. Alwi (HM Alwi Hamu, kini staf khusus Wapres), Aksa, Rafiuddin Hamarung, tanya dia kalau mau tahu,” sebutnya.
Selain mengurus anak-anaknya, menyekolahkan banyak keluarganya, aktif berorganisasi dan membantu berbagai organisasi, Athirah Kalla juga aktif dan sukses dalam berbisnis, terutama kain sutera.
Athirah Kalla malah pernah ’menyelamatkan’ perusahaan suaminya, H. Kalla yang mengalami krisis keuangan.
”Ibu juga sangat memperhatikan sekolah kami, bahkan dia selalu mengirim surat kepada adik-adik saya yang sekolah di luar Sulsel, termasuk mengirim surat kepada Halim (Halim Kalla) yang sekolah di Amerika. Dibalas tidak dibalas, dia tetap kirim surat. Isinya itu nasehat-nasehat,” tutur JK.
Jika ada keluarga atau kerabatnya yang sakit, Ibu Athirah selalu menyempatkan diri membesuk mereka, termasuk keluarga atau teman yang tinggal di luar kota Makassar.
”Ibu saya itu tiap dua tahun naik haji, jadi kami gantian menemani, tetapi ibu selalu membayar sendiri. Ibu tidak pernah mau dibayarkan atau diberi uang. Pernah saya bayarkan, tetapi tak lama kemudian dia menyuruh orang mengembalikan uang saya,” ujarnya.
Sebagai isteri pengusaha menengah dan juga dirinya sendiri aktif berbisnis, Ibu Athirah sewajarnyalah tampil ”lebih”, tetapi dirinya justru selalu tampil sederhana dan lebih sering naik becak dibanding naik mobil.
JK memberikan sebuah mobil baru khusus untuk ibunya, tetapi sang ibu jarang memanfaatkannya dan lebih senang naik becak.
”Ibu selalu melihat dari sisi praktisnya. Bagi ibu, naik becak lebih praktis dibanding naik mobil. Ibu juga tidak mau tampil beda dari teman-temannya,” katanya.
Kepada anak-anaknya, Ibu Athirah juga sering mengatakan bahwa kalau mau hidup bahagia, lihatlah ke bawah.
”Ibu bilang, kalau mau bahagia lihatlah ke bawah. Kalau kau naik motor, lihatlah orang yang naik sepeda. Jadi kalian selalu merasa bahagia. Tetapi kalau mau maju, lihatlah yang lebih tinggi,” ungkap JK.
(dimuat di Tabloid Demos, Makassar, I-II Desember 2008)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar