Kamis, 01 Desember 2011

Uji Kompetensi Wartawan di Makassar, 7 Tidak Kompeten


UJI KOMPETENSI WARTAWAN. Ketua Dewan Pers, Prof Bagir Manan (kedua dari kanan) didampingi Wakil Ketua PWI Pusat Atal S Depari (kedua dari kiri), Ketua PWI DKI Jaya Kamsul Hasan (paling kiri), dan Ketua PWI Sulsel H Zulkifli Gani Ottoh, memberi pengarahan pada ujian kompetensi wartawan di kampus Universitas Fajar (Unifa), Makassar, Senin, 28 November 2011. (Foto: Idham Ama/Fajar)

Jumat, 04 November 2011

Usai Ngopi dengan Pangdam, Wartawan Langsung Menembak


Wartawan diajari menembak oleh anggota TNI di markas Yon Kavaleri 10 Serbu Kodam VII Wirabuana, jalan Perintis Kemerdekaan, seusai ngopi bareng Pangdam VII Wirabuana, Mayjen TNI M Nizam. Coffee morning ini, juga dihadiri Ketua PWI Sulsel, Zulkifli Gani Ottoh, puluhan wartawan cetak dan elektronik di Makassar. (Foto: Tribun/Mail)

Sabtu, 29 Oktober 2011

Wahai Pemuda, Siapakah Engkau Kini?



Wahai pemuda Indonesia, siapakah engkau kini? Engkaukah yang selalu melakukan aksi unjukrasa secara anarkis, engkaukah yang kini terlibat menjadi pengangguran terdidik, engkaukah yang kini “berselingkuh” dengan birokrat dan politisi mencuri uang negara? Maafkan kalau kami bertanya, karena kami tidak mengenalimu lagi.

Senin, 24 Oktober 2011

Kronik 42 Tahun Khadafi di Tampuk Kekuasaan


Muammar Khadafi adalah seorang pemimpin yang kontroversial. Ia menjadi salah satu ikon anti Amerika serikat (AS) atau barat. Namun, di sisi lain, Khadafi merupakan sosok diktator, khususnya bagi rakyat Libya. Selama 42 tahun, Kolonel Khadafi memusatkan kekuasaan di tangannya. Selama itu pula, banyak peristiwa-peristiwa penting yang menjadi tonggak perjalanan politik Khadafi baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Inilah Wasiat Khadafi



Ini adalah yang keinginanku. Saya, Muammar bin Mohammad bin Abdussalam bi Humayd bin Abu Manyar bin Humayd bin Nayil al Fuhsi Khadafi, bersumpah bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya. Saya bersumpah bahwa saya akan mati sebagai seorang muslim. Jika saya terbunuh, saya ingin dikubur, sesuai ritual Islam, dengan pakaian yang saya pakai pada saat kematian menjemput juga dengan tubuh kotor saya, di pemakaman Sirte, di samping keluarga dan kerabat saya. (Foto: Desliana Carolina)

Rabu, 19 Oktober 2011

Ronny Wijaya Divonis Penjara 1,5 Tahun



Ronny Wijaya alias A Yang (51) divonis satu tahun dan enam bulan penjara dalam sidang di Pengadilan Negeri Makassar, Selasa, 18 Oktober 2011, setelah terbukti dan mengakui perbuatannya menilep uang arisan senilai milyaran rupiah dari puluhan warga keturunan Tionghoa di Makassar. (Foto: ist)

PNS Ramai-ramai Gunakan Pakaian Adat

BAJU BODO. Pemandangan tidak biasa terlihat di kantor Bupati Bulukumba, Rabu, 19 Oktober 2011. Para pegawai tampak tampil beda dengan pakaian adat khas Bugis-Makassar. Yang perempan memakai baju bodo, sedangkan yang laki-laki memakai jas tutup.  (Foto: Humas Pemkab Bulukumba)

Jumat, 14 Oktober 2011

"RW" alias A Yang Dituntut Dua Tahun Penjara



"RW" alias A Yang (51) dituntut dua tahun penjara setelah menilep uang arisan milyaran rupiah dari puluhan warga keturunan Tionghoa di Makassar. Tuntutan itu dibacakan Jaksa Penuntut Umum, Fitriani SH, dalam sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Makassar, Kamis, 13 Oktober 2011, menuntut "RW" alias A Yang dengan pidana penjara dua tahun. (Foto: ist)

Sabtu, 08 Oktober 2011

'RW' Gelapkan Uang Arisan Milyaran Rupiah


Terdakwa "RW" alias A Yang (51) saat keluar dari ruang sidang, di Pengadilan Negeri Makassar, Kamis, 6 Oktober 2011. "RW" menjadi terdakwa setelah menggelapkan uang arisan senilai milyaran rupiah yang diikuti sejumlah peserta dari kalangan keturunan Tionghoa di Makassar. Belakangan terungkap bahwa ternyata uang arisan milyaran rupiah tersebut telah digunakan oleh "RW" untuk membeli beberapa buah mobil angkot dan mobil pribadi, serta untuk bisnis pribadinya.

Rabu, 05 Oktober 2011

Prof Abu Hamid, Antropologi, dan Politik




Sebagai wartawan yang menangani berita-berita pendidikan di harian Pedoman Rakyat, saya cukup sering bertemu dan berdiskusi dengan Prof Abu Hamid, seorang akademisi, budayawan, dan saat itu menjabat Rektor Universitas 45 Makassar. Kami berdiskusi tentang program studi Antropolgi di Unhas, tentang Syech Yusuf, tentang politik, dan tentang budaya. Berikut beberapa serpihan ingatan diskusi saya dengan almarhum Prof Dr Abu Hamid.

Penyakit Rohani yang Berbahaya

 
Ada beberapa penyakit rohani, antara lain: Penyakit pertama adalah rakus. Rakus ini meliputi rakus terhadap kekuasaan/kedudukan dan rakus terhadap harta. Rakus terhadap kekuasaan, maka seseorang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan tersebut. Niccola Machiavelli mengatakan; “untuk berkuasa dan mempertahankan kekuasaan haruslah menggunakan tipu muslihat, licik, dan dusta, digabung dengan penggunaan kekuatan dan penggunaan kekejaman dan mengabaikan pertimbangan moral.”

Sabtu, 01 Oktober 2011

Wartawan Senior Pedoman Rakyat Meninggal Dunia



Puluhan wartawan melepas jenazah wartawan senior harian Pedoman Rakyat Makassar, George Alexander Wacanno dalam pelepasan secara resmi di Gedung PWI Sulsel, Jl AP Pettarani 31, Makassar, Sabtu, 1 Oktober 2011. Acara pelepasan dipimpin Ketua PWI Sulsel H Zulkifli Gani Ottoh, serta dihadiri sejumlah wartawan senior dan keluarga mendiang Pak Alex-sapaan akrab George Alexander Wacanno. (foto: asnawin)

Rabu, 21 September 2011

Pelajaran dari Serangan Terhadap Umat Muslim di Ambon


Mereka sudah menyerang ummat Islam di Hari Raya Idul Fitri 1419H tanggal 19 dan 20 Januari 1999M. Mereka membantai ummat Islam, maka banyak jatuh korban tewas, dan banyak pula yang luka-luka. Setiap kali mereka menyerang selalu dalam keadaan mabuk seperti itu. Senjata mereka adalah panah beracun, panah berapi, parang, tombak, bom molotov, senjata api, bahkan basoka RPG7, senjata Amerika atau NATO.

Senin, 19 September 2011

Mencermati PSSI yang Masih Memprihatinkan



Karena sepak bola adalah olahraga terpopuler di negeri ini, tak heran jika PSSI sering pula menjadi sorotan masyarakat dan media serta ajang perebutan kekuasaan kekuatan politik. Makanya tidaklah salah jika kita mencoba melihat dan menelaah kembali kajian dari fungsi sosial olahraga sebagai bagian dari kerangka berpikir dalam menelaah fenomena sosial olahraga.

Agresivitas dan Fenomena Sosial Dalam Olahraga Sepakbola



Karena agresif itu merupakan serangan-serangan yang dilakukan untuk memenangkan pertandingan tanpa berusaha mencederai lawan, tetapi tindakan brutal dengan merusak berbagai fasilitas yang dilakukan oleh penonton serta pemukulan terhadap wasit dan hal lain yang bersifat negatif adalah bentuk agresivitas.

Jumat, 16 September 2011

Hari Ini, Belanda Mulai Haramkan Cadar



Belanda bakal ikut serta mengharamkan cadar bagi rakyatnya. Negara itu tak memperdulikan sekitar seratus wanita di negaranya yang memakai cadar. Pemerintah Belanda bakal memulai pengharaman itu sejak Jumat, 16 September 2011. Belanda bakal menjadi negara ketiga yang mengharamkan cadar setelah Prancis dan Belgia. Wanita yang masih nekat memakai cadar bakal didenda 330 gulden. (int)

Rabu, 14 September 2011

Al-Qur'an Salah Cetak Menyebar di Arab Saudi




Sebagian Alquran yang dijual di toko-toko buku Saudi salah cetak. Sebagian Alquran tersebut berada di tangan para jamaah umrah di Mekah dan Madinah. Di atas Alquran tersebut tertulis nama pemberi wakaf. Tertulis pula bahwa Alquran tersebut diterbitkan oleh penerbitan Suriah dan Lebanon, yang sebagian karyawannya non-Muslim.

Senin, 12 September 2011

Mau Diapakan Eks Pasar Sentral Bulukumba?


EKS PASAR SENTRAL. Sebuah papan nama bertuliskan "Di Lokasi Ini akan Dibangun Traiding Centre dan Hotel" berdiri di salah satu sudut tanah eks Pasar Sentral Bulukumba (diabadikan pada 28 Maret 2011). Papan nama tersebut sudah ada sejak Patabai Pabokori masih menjabat sebagai Bupati Bulukumba (1995-2000 & 2000-2005), tetapi Bupati Bulukumba (2010-2015) Zainuddin Hasan mengaku akan menjadikan tanah tersebut sebagai hutan kota. (Foto: Asnawin)

Jumat, 09 September 2011

Indonesia Tak Butuh Kalender Hijriah

 
Pemerintah Indonesia tidak butuh Kalender Hijriah, karena kalender Hijriah dibuat berdasarkan hisab (perhitungan matematis), sedangkan pemerintah Indonesia bersama sejumlah Ormas Islam di negara kita, tidak memercayai cara hisab dan lebih memilih cara rukyat (melihat bulan), terutama dalam menentukan awal bulan Ramadhan, awal bulan Syawal, dan awal bulan Dzulhijjah (berkaitan dengan Hari Raya Idul Adha).

Selasa, 16 Agustus 2011

Pengusaha Otobus Makassar Ancam Mogok Massal

CURHAT. Rahman Pina (ujung kiri) menerima aspirasi pengusaha angkutan yang dipimpin Rifai Manangkasi (duduk di samping Rahman Pina) mendatangi kantor DPRD Kota Makassar, Senin 15 Agustus 2011. Seluruh pengusaha otobus di Makassar mengancam akan melakukan mogok massal menjelang Lebaran karena merasa dirugikan dengan kebijakan Pemerintah Kota Makassar yang mengeluarkan kebijakan naik-turun penumpang. (Foto: Jumain Sulaiman/Fajar)  

Survey Calon Gubernur Sulsel 2013-2018

AKRAB. Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin (kiri) tampak akrab dengan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo. Keduanya diprediksi bakal bertarung pada Pemilihan Gubernur Sulsel 2013-2018. Untuk mengetahui aspirasi masyarakat, kami merasa perlu melakukan survey awal, mulai 16 Agustus 2011 sampai dengan 31 Desember 2011. Survey ini murni dari inisiatif pribadi kami sebagai warga negara Indonesia yang lahir dan besar di Sulsel.  

Tetap Kukuh Menjauhkan Diri dari Politik

Dalam perkembangannya, Muhammadiyah tidak lagi konsen semata pada jalur dakwah. Ormas ini memasuki sendi-sendi politik dalam negeri. Tapi masa Orde Baru mengekang kebebasan itu. Kebebasan berpolitik baru terbuka setelah masa Reformasi. Muhammadiyah pun mulai menunjukkan perannya di kancah politik. Secara kelembagaan, Muhammadiyah memang tak pernah mau disebut terlibat dalam politik, tapi banyak sekali kadernya yang kini justru menjadi politisi. (FOTO ANTARA/Sahrul Manda Tikupadang)  

Ditentang karena Menolak Ajaran Kesyirikan dan Khurafat

MASJID MUHAMMADIYAH BULUKUMBA. Lahir dari sebuah keprihatinan, Muhammadiyah menjelma menjadi salah satu organisasi Islam paling berpengaruh di Sulawesi Selatan. Sayap-sayap Muhammadiyah diyakini telah ada di Tanah Bugis sejak Portugis mendarat di Makassar. Muhammadiyah sempat tak bisa diterima orang-orang Islam kolot. Muhammadiyah dianggap menyimpang dari adat dan tradisi nenek moyang. (Foto: Asnawin)

Jumat, 12 Agustus 2011

Nazaruddin, Wartawan, dan Media Massa

Melalui sikap yang skeptis, kebenaran itu dicari untuk kemudian dinyatakan atau diberitakan tanpa ragu. Dengan kata lain, wartawan harus selalu meragukan informasi awal yang diterimanya, agar tidak ragu-ragu dalam menyampaikan berita.  

Sabtu, 06 Agustus 2011

Lima Kali Mutasi dalam Delapan Bulan


Mungkin tak ada yang salah dengan mutasi dan pelantikan pejabat di lingkungan Pemkab Bulukumba, tetapi mungkin juga tidak salah kalau kita membuat catatan tentang mutasi pejabat yang dilakukan Zainuddin Hasan selaku Bupati Bulukumba sejak 9 November 2010. Mudah-mudahan 5 kali mutasi yang telah dilakukannya membawa hasil sesuai yang diharapkan, yaitu kinerja yang baik, hasil kerja yang baik, serta prestasi yang baik dari para pejabat yang telah diberi kepercayaan selaku pelayan masyarakat Bulukumba. - Asnawin -

Senin, 01 Agustus 2011

Gubernur Melaka Diberi Gelar "Puto Limpo Daeng Mabborong"


Suasana pemberian gelar Puto Limpo Daeng Mabborong kepada Gubernur Melaka Tuan Yang Terutama Tun Datuk Seri Utama Mohd Khalil bin Yaakob, di kawasan adat Ammatowa, Kajang, Bulukumba, Senin, 18 Juli 2011. Puto Limpo Daeng Mabborong memiliki makna sebagai pemimpin pemersatu serta orang yang sangat menghargai budaya serta selalu memelihara gotong royong. (foto: http://bulukumbatourism.com/)



Gubernur Melaka Diberi Gelar "Puto Limpo Daeng Mabborong"

Oleh: Asnawin

Dalam beberapa bulan terakhir atau tepatnya sejak Zainuddin Hasan dilantik menjadi Bupati Bulukumba, 9 November 2010, pemangku adat Ammatowa, yang kini dijabat Puto Palasa, telah memberikan gelar puto kepada empat orang. Puto merupakan gelar tertinggi dalam masyarakat adat Tana Towa, di Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba.

keterangan gambar: Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo dengan gelar Puto Salama' (Foto: M Nasir)

Gelar puto pertama diberikan kepada Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo dengan gelar Puto Salama' yang berarti pembawa keselamatan. Gelar puto kedua diberikan kepada Kapolda Sulselbar, Irjen Pol Johny Wainal Usman, dengan gelar Puto Panganro, yang berarti pelindung bagi masyarakat. Keduanya diberi gelar puto saat berkunjung ke kawasan adat Ammatowa, 9 November 2010.

keterangan gambar: Kapolda Sulselbar, Irjen Pol Johny Wainal Usman, dengan gelar Puto Panganro (Foto: M Nasir)

Pada 16 Januari 2011, giliran Bupati Bulukumba Zainuddin Hasan yang mendapat gelar puto, yaitu Puto Pahali Daeng Painro, yang berarti orang yang beruntung kembali ke daerahnya dan diharapkan bisa mengembalikan kejayaan yang pernah dimiliki para pemimpin Bulukumba.

keterangan gambar: Bupati Bulukumba Zainuddin Hasan mendapat gelar Puto Pahali Daeng Painro (Foto: Humas Pemkab Bulukumba)

Orang keempat yang mendapat gelar puto yaitu Gubernur Melaka Tuan Yang Terutama Tun Datuk Seri Utama Mohd Khalil bin Yaakob, saat berkunjung ke Desa Tana Towa, Senin, 18 Juli 2011. Gubernur Melaka mendapat gelar "Puto Limpo Daeng Mabborong" yang memiliki makna sebagai pemimpin pemersatu serta orang yang sangat menghargai budaya serta selalu memelihara gotong royong.

Sayangnya, pemberian gelar puto tidak diserahkan langsung oleh Amma Towa Puto Palasa, melainkan diwakilkan kepada Kepala Desa Tana Towa, karena saat rombongan Gubernur Melaka tiba di Kajang, hari sudah sore dan gelap, sedangkan Ammatowa berpantang keluar kawasan jika hari sudah gelap. Walaupun tidak sempat bertemu dengan Ammatowa, Gubernur Melaka berharap di lain kesempatan dirinya dapat bertemu langsung dengan Ammatowa.

keterangan gambar: Gubernur Melaka Tuan Yang Terutama Tun Datuk Seri Utama Mohd Khalil bin Yaakob. (int)

Dalam berita berjudul "Gubernur Malaka Kunjungi Bulukumba" pada situs web Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Bulukumba, http://bulukumbatourism.com/index.php?option=com_content&view=article&id=99:gubernur-malaka-kunjungi-bulukumba&catid=1:latest-news&Itemid=1, disebutkan bahwa prosesi penerimaan secara adat sebagai penghormatan kepada tamu adat, dilaksanakan dengan pemakaian sarung adat Kajang, serta “passapu” serba hitam yang dikenakan kepada Gubernur Melaka dan kepada Setia Usaha Negeri Melaka.

Setelah diterima secara adat, gubernur serta rombongan disambut di bagian tengah rumah oleh perwakilan pemangku adat Ammatowa dan rombongan dari Dusun Tana Towa. Di sini, Gubernur Malaka mendapat gelar kehormatan yaitu “Puto Limpo Daeng Mabborong” yang memiliki makna sebagai pemimpin pemersatu serta orang yang sangat menghargai budaya serta selalu memelihara gotong royong. Gubernur Melaka dianggap memiliki perhatian dan apresiasi terhadap keteguhan masyarakat Tana Towa dalam memelihara warisan budaya yang telah dipelihara secara turun temurun.

Sebelum berkunjung ke Bulukumba, Gubernur Melaka Tuan Yang Terutama Tun Datuk Seri Utama Mohd Khalil bin Yaakob bersama rombongan terlebih dahulu berkunjung ke Kabupaten Gowa. Rombongan Gubernur Melaka terdiri atas beberapa pejabat Kerajaan Malaka, serta kalangan pengusaha wisata dan staf ahli dari Universitas Negeri Malaka.

Setibanya di Bulukumba, Gubernur Melaka diterima di rumah jabatan Bupati Bulukumba dan disambut dengan tari Padduppa yang dibawakan oleh siswi SMA di Bulukumba dengan iringan alunan musik “Turiolo” yang dibawakan oleh staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bulukumba. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan serah terima cenderamata.


Gubernur Melaka menyerahkan buku “Empayer Melaka” dan keramik khas Malaka yang diterima oleh Wakil Bupati Bulukumba H Syamsuddin serta Sekretaris Daerah Bulukumba Andi Bau Amal, sedangkan pihak Bulukumba menyerahkan miniatur perahu Phinisi yang diserahkan kepada Gubernur Melaka dan Setia Usaha Negeri Melaka (setingkat sekretaris daerah) Datuk Wira Omar bin Kaseh.

Setelah makan siang dan istirahat sejenak di kediaman Bupati Bulukumba, rombongan dari Negeri Melaka melanjutkan perjalanan ke sentra pembuatan perahu tradisional Phinisi di Tana Beru, Kecamatan Bonto Bahari. Rombongan disambut oleh Camat Bonto Bahari, Dra A Pamenery dan staf kecamatan, Lurah Tana Beru, serta perajin perahu Phinisi.

Gubernur Melaka mengaku sangat mengagumi keterampilan masyarakat Bonto Bahari dalam membuat perahu tradisional khas Bulukumba itu. Beliau bahkan ingin menjajaki kerjasama dalam investasi pembuatan perahu tradisional Phinisi di masa yang akan datang.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Desa Darubia yang merupakan pusat pengrajin tenunan khas Bira, rombongan bahkan sempat memborong beberapa sarung tenun yang merupakan ciri khas masyarakat Bonto Bahari. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Restaurant Phinisi di kawasan wisata Pantai Bira. Gubernur Melaka sangat kagum melihat keindahan panorama indah pantai pasir putih Tanjung Bira yang tampak dari balkon Restaurant Phinisi. Di sini rombongan beristirahat sambil menikmati indahnya panorama Bira.

Sekitar pukul 17.30 Wita, rombongan meninggalkan Bira menuju kawasan Adat Ammatowa Kajang. Rombongan diterima oleh kepala desa Tana Towa di kediaman kepala desa. Pertemuan dengan pemangku adat Ammatoa di kawasan adat Ammatowa urung dilaksanakan karena hari telah gelap dan selain penerangan di kawasan yang minim juga Ammatowa berpantang keluar kawasan jika hari sudah gelap.

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://pedomanrakyat.blogspot.com/]

Jumat, 01 Juli 2011

Jiaozhou Bay, Kini Jembatan Terpanjang di Dunia

TERPANJANG DI DUNIA. China telah membuka jembatan terpanjang di dunia yang melintasi laut. Jembatan itu, diberi nama Jiaozhou Bay, memiliki panjang 42 kilometer dan lebar 35 meter. Ia menghubungkan kota pelabuhan Qingdao yang ada di kawasan timur negeri itu dengan pulau Huangdao. Saat dibangun, proyek memakan biaya hingga di atas US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 12,8 triliun. (news24.com)


------------

Jiaozhou Bay, Kini Jembatan Terpanjang di Dunia

Oleh : Muhammad Firman
Jum'at, 1 Juli 2011
http://teknologi.vivanews.com/news/read/230317-jiaozhou-bay--jembatan-terpanjang-di-dunia

VIVAnews - China telah membuka jembatan terpanjang di dunia yang melintasi laut. Jembatan itu, diberi nama Jiaozhou Bay, memiliki panjang 42 kilometer. Ia menghubungkan kota pelabuhan Qingdao yang ada di kawasan timur negeri itu dengan pulau Huangdao.

Menurut China Central Television, stasiun televisi pemerintah China, jembatan dengan lebar 35 meter itu merupakan jembatan terpanjang. Saat dibangun, proyek memakan biaya hingga di atas US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 12,8 triliun.

Dikutip dari CCTV, 1 Juli 2011, jembatan itu berhasil lolos penilaian konstruksi pada Senin, 27 Juni lalu. Jembatan dan juga terowongan bawah tanah segera dibuka untuk lalu-lintas kendaraan, sehari setelahnya.

Untuk dapat berdiri, Jiaozhou Bay ditopang oleh lebih dari 5.000 pilar. Adapun pengerjaan jembatan tersebut baru dapat dituntaskan setelah 4 tahun pembangunan.

Menurut catatan Guinness World Records, pemegang rekor sebelumnya untuk kategori jembatan di atas perairan adalah Lake Pontchartrain Causeway di Louisiana, Amerika Serikat. Dibandingkan dengan jembatan tersebut, jembatan yang baru diresmikan di China ini 4 kilometer lebih panjang. (umi)
• VIVAnews

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://pedomanrakyat.blogspot.com/]

Senin, 06 Juni 2011

Memilih Bertani, Meninggalkan Bangku Kuliah


Megarahman (46) bersama Iffah, salah seorang anaknya, di tangga rumahnya di Dusun Pangi-pangi, Desa Swatani, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, Jumat, 20 Mei 2011. Pria kelahiran 15 Juni 1965 ini meninggalkan bangku kuliah pada semester akhir dan memilih menjadi petani demi menemani orangtuanya. (Foto: Asnawin)

----------------

Megarahman:
Memilih Bertani, Meninggalkan Bangku Kuliah


Oleh : Asnawin

Sekitar dua puluh lima tahun silam, Megarahman terpaksa harus memilih antara melanjutkan kuliah atau menikah dan selanjutnya menjadi petani. Karena tidak yakin akan masa depannya kelak sebagai seorang sarjana, pria kelahiran Bulukumba 15 Juni 1965 itu akhirnya memilih meninggalkan bangku kuliah.

Mungkin pilihan itu dianggap bodoh, apalagi kuliahnya sudah hampir rampung karena dirinya sudah menyusun skripsi, tetapi bagi Megarahman, pilihan itulah yang paling tepat, karena dirinya memang memiliki bakat bertani dan juga agar bisa menemani ibunya, Hj Hawiyah, yang sudah tua di Sampeang, Desa Swatani, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba.

Megarahman kemudian menikah dengan seorang gadis bernama Hasidah pada 1994 dan menetap di tengah kebun pemberian orangtuanya, di Dusun Duning, Desa Swatani, Kecamatan Rilau Ale.

"Waktu itu ibu saya hanya tinggal berdua dengan adik saya, karena ayah (alm Abdul Hamid) dan adik-adik saya yang lain menetap di Jambi," ungkapnya saat berbincang-bincang dengan penulis, di rumahnya yang tidak jauh dari rumah ibunya, Jumat, 20 Mei 2011.


RUMAH PANGGUNG. Inilah rumah panggung milik keluarga Megarahman. Halaman samping dan halaman belakang rumahnya yang cukup luas sekaligus berfungsi sebagai kebun dan tempat menanam sayur-sayuran. Pada malam hari, hawa di dalam rumah ini terasa sangat sejuk alami. (Foto: Asnawin)

Dengan ketekunan dan kerja kerasnya, ayah tiga anak itu kini telah memiliki beberapa hektar tanah perkebunan yang ditanami lada (merica), kopi, coklat, kelapa, dan sayur-sayuran.

Sejak beberapa tahun silam, ia juga terpilih sebagai Ketua Kelompok Tani Mali' Siparappe yang beranggotakan 25 petani.

Kelompok Tani yang dipimpinnya telah beberapa kali mendapat undangan mengikuti pelatihan, mendapatkan bimbingan dan penyuluhan, serta mendapatkan bantuan dana dari pemerintah.

"Kami juga mendapat bantuan pinjaman dana bergerak dengan bunga yang sangat kecil," papar anak pertama dari empat bersaudara itu.

Menyinggung pendapatannya sebagai petani, ayah dari Chicha, Yasser, dan Iffah itu menyebutkan angka Rp 4 juta sampai Rp 5 juta per komoditas per panen.

"Tapi beberapa tahun terakhir ini pendapatan petani menurun, karena cuaca tidak normal," ungkapnya.

Bersama beberapa petani lainnya, Megarahman mengadakan arisan enam bulanan (diundi setiap habis panen) dengan total uang yang diterima Rp 14 juta.

Dalam kegiatan sosial, ia juga aktif menjadi pengurus masjid dan bersama warga setempat melakukan bakti sosial seperti pembersihan saluran air got secara rutin.

Meskipun memiliki uang yang cukup untuk membeli kendaraan dan pakaian bagus, Megarahman bersama isteri dan anak-anaknya lebih memilih hidup sederhana. Ia hanya memiliki sebuah sepeda motor tua dan jarang meninggalkan rumah kalau tidak terlalu penting.

"Saya jarang ke kota (maksudnya ibukota Kabupaten Bulukumba), apalagi ke Makassar, jadi cukuplah saya pakai sepeda motor tua. Yang penting masih bisa jalan, karena kendaraan umum juga sudah banyak dan lancar. Saya hanya berharap, mudah-mudahan kami bisa menyekolahkan anak-anak kami setinggi-tingginya," katanya.

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://pedomanrakyat.blogspot.com/]

Minggu, 15 Mei 2011

Berjemur di Pantai Losari Demi Kesehatan Tulang


BERJEMUR DI LOSARI. Ada pemandangan unik yang saya temukan saat berjalan-jalan bersama keluarga dan tetangga di Pantai Losari, Makassar, Minggu pagi, 15 Mei 2011. Bukan karena Pantai Losari penuh sesak oleh warga yang entah berasal dari mana dan memang kelihatannya banyak sekali kegiatan pada hari itu, melainkan karena ada seorang lelaki bertelanjang dada sedang duduk bersila sambil berjemur di bawah terik matahari pagi. (Foto: Asnawin)

--------------

Berjemur di Pantai Losari Demi Kesehatan Tulang

Oleh: Asnawin

Ada pemandangan unik yang saya temukan saat berjalan-jalan bersama keluarga dan tetangga di Pantai Losari, Makassar, pada Minggu pagi, 15 Mei 2011. Bukan karena Pantai Losari penuh sesak oleh warga yang entah berasal dari mana dan memang kelihatannya banyak sekali kegiatan pada hari itu, melainkan karena ada seorang lelaki bertelanjang dada sedang duduk bersila sambil berjemur di bawah terik matahari pagi.

Pria berkacamata itu tampak tenang membaca buku sambil duduk bersila. Ia hanya memakai celana pendek dan kaos kaki, tanpa baju atau pun topi, padahal pagi itu matahari sedang bersinar terang, sehingga tentu saja hawa terasa cukup panas.

Karena terlihat unik, saya kemudian mendekati pria tersebut lalu menyapa sambil berbasa-basi. Dari obrolan kami, terungkap bahwa pria tersebut bernama Robinson Simamora (47 tahun) dan bekerja di Bank Mandiri Jakarta.

''Saya kebetulan ada tugas selama satu bulan di Makassar,'' jelas ayah tiga anak itu.

Ia mengaku sudah rutin berjemur badan pada pagi hari sejak tahun 2000. Itu dilakukan untuk memperkuat tulang-tulangnya.

''Dari berbagai buku yang saya baca, ternyata pro-vitamin D yang ada dalam tubuh kita bisa berubah menjadi vitamin D, dan kemudian vitamin D itu berubah menjadi kalsium yang berfungsi memperkuat tulang (mencegah osteoporosis) dengan cara berjemur di bawah terik matahari pagi sebelum jam sembilan. Cukup satu jam sehari dan cukup sekali dalam seminggu,'' ungkap Robinson.


Selain berjemur, Robinson juga rutin melakukan joging, yakni minimal tiga kali dalam seminggu.

''Jogingnya minimal 30 menit sehari,'' kata pria yang tampak lebih muda dari usianya itu.

Dengan seizinnya, saya kemudian memotret dua kali dan kemudian membuat tulisan ini di internet. Sebelum berpisah, kami sempat bertukar nomor dan bersalaman.

Rombongan Gubernur

Oh ya, sebelum meninggalkan Pantai Losari, kami sempat berpapasan dengan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo yang melintas bersama sejumlah anggota rombongan komunitas pembalap sepeda. Beberapa anggota rombongan tersebut antara lain Kepala Sekretariat Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sulsel, Annas GS, dua mantan anggota DPRD Sulsel Khaerul Tallu Rahim dan Susilo MT Harahap, serta pengusaha Peter Gozal.

Annas GS yang mantan Karo Humas dan Protokol Pemprov Sulsel sempat menyapa saya sambil tersenyum.

Chelsea Charms Miliki Payudara Seberat 25 Kg


PAYUDARA TERBESAR. Chelsea Charms, seorang wanita asal Minnesota, Amerika Serikat, memiliki payudara yang kabarnya menjadi yang terbesar di dunia. Dengan berat 25 kilogram dan ukuran mencapai 164 XXX, payudaranya itu membuatnya mendadak tenar. Model dan penari telanjang yang memiliki payudara berukuran super jumbo ini memang terlahir dengan ukuran payudara yang tidak biasa. (Foto: John Chennavasin)

-----------------

Chelsea Charms Miliki Payudara Seberat 25 Kg
- Ganti Ukuran Bra Tiap Dua Bulan


Chelsea Charms, seorang wanita asal Minnesota, Amerika Serikat, memiliki payudara yang kabarnya menjadi yang terbesar di dunia. Dengan berat 25 kilogram dan ukuran mencapai 164 XXX, payudaranya itu membuatnya mendadak tenar.

Model dan penari telanjang yang memiliki payudara berukuran super jumbo ini memang terlahir dengan ukuran payudara yang tidak biasa. Ia mengaku aset terpentingnya itu telah mendatangkan banyak perhatian dan ia mencintainya. Charms bahkan menamai payudaranya dengan nama "Itsy dan Bitsy".

Payudara Charms tidak serta-merta besar dengan sendirinya. Proses implan yang dikenal dengan sebutan polypropylene membantunya untuk mendapatkan ukuran payudara yang diinginkannya.

"Aku tidak pernah merencanakan jadi sebesar ini. Aku membesarkan payudaraku karena aku ingin menjadi penari fitur. Penari fitur di mata orang awam adalah seorang penari eksotik profesional dan ukuran payudara merupakan salah satu kualifikasi. Sebelumnya aku berukuran D dan malu untuk mengakuinya semasa sekolah. Setelah lulus aku belajar untuk menghargai bentuk tubuhku," aku Charms.

Meski senang karena mendapatkan banyak perhatian, Charms mengaku sedih karena kesulitan melakukan hal-hal tertentu.

"Aku kesulitan untuk menggunakan toilet pesawat. Makan juga menjadi masalah, karena aku harus duduk begitu jauh dari makananku," imbuhnya.


DIKECAM. Saat tampil pada sesi bincang-bincang, Fan Page, dalam acara This Morning dari kanal ITV, Inggris, Chelsea Charms dan stasiun televisi itu mengundang kecaman karena acara ini ditayangkan pada pagi hari saat anak-anak masih ada di rumah. Fan Page acara bincang-bincang, The Morning, menerima keluhan ada sekitar 4.000 komentar mengenai acara yang dipandu oleh Philip Schofield dan Ruth Langsford. Demikian dilansir Daily Mail, Jumat, 13 Mei 2011. (Foto: Daily Mail)


Dikecam

Chelsea Charms muncul di acara This Morning dari kanal ITV, Inggris, dan mengklaim sebagai perempuan dengan payudara terbesar di dunia. Demikian dilansir Daily Mail, Jumat (13/5/2011).

Namun keputusan ini mengundang kecaman karena acara ini ditayangkan pada pagi hari saat anak-anak masih ada di rumah. Fan Page acara bincang-bincang, The Morning, menerima keluhan ada sekitar 4.000 komentar mengenai acara yang dipandu oleh Philip Schofield dan Ruth Langsford.

Charms mengaku ukuran payudaranya saat ini 164 XXX. Sejumlah komentar itu antara lain; "Anak saya melihatnya, dan itu sungguh buruk. Anak saya mengatakan, ewwww," demikian seorang perempuan menulis di fan page This Morning. Ada sekita 4.000 komentar muncul di halaman fan page Facebook acara This Morning.

Seorang pengguna Twitter bernama Heidi Love men-tweet," Chelsea Charms penipu dan menjijikkan".

Chelsea yang kini berusia 35 tahun asal Minneapolis mengaku melakukan perbesaran payudara secara dengan menggunakan prosedur ilegal yaitu memasukkan implan kawat polypropylene ke payudaranya. Chelsea bekerja sebagai penari erotis dan bintang porno.

Ia mengaku mengalami masalah setelah implan payudara termasuk mengalami gangguan makan, dan sangat sulit masuk ke toilet pesawat. Chelsea juga menambahkan jika ia harus olahraga agar payudaranya yang beratnya masing-masing setara dua buah semangka ini bisa didukung oleh berat tubuhnya.

Chelsea belum mengukur dadanya secara resmi dan Maxi Mounds saat ini masih memegang rekor Guinness Record untuk payudara terbesar di dunia. Saat Philip melihatnya ia berujar," Mengapa Anda tak mendaftarkan rekor itu, kelihatannya milik Anda lebih besar". Chelsea kemudian menjawab," Mereka tidak menelepon saya".


PEMEGANG REKOR DUNIA. Inilah wanita pemegang rekor Guinness Record untuk payudara terbesar di dunia. Maxi Mounds, wanita Amerika Serikat yang lahir pada 25 Oktober 1964, adalah seorang model dan aktris porno, serta penari telanjang dari Long Island, New York. Dalam sertifikat Guinnes Book of World Record, tertulis ''Maxi Mounds (AS) diukur di Sarasota, Florida, Amerika Serikat, pada tanggal 4 Februari 2005, dan ditemukan memiliki ukuran dada bawah 91,44 cm dan dada beserta payudara sekitar 153,67 cm''. (Foto: int)


Tak Terkendali

Normalnya, pertumbuhan payudara akan berhenti di usia 20-an tahun. Namun gara-gara pasang implan, Chelsea Charms harus rela ganti ukuran bra tiap dua bulan, karena payudaranya terus tumbuh hingga melebihi ukuran bola basket.

Bila ditimbang, payudara Chelsea memiliki bobot masing-masing sekitar 12,7 kg dan diperkirakan berisi cairan sebanyak 12 liter di kedua sisinya. Dengan ukuran tersebut, sangat sulit untuk memeluk Chelsea karena lingkar dadanya sudah mencapai 165 cm.

Lingkar dada Chelsea masih akan bertambah besar, sebab hingga saat ini payudaranya masih terus bertambah besar sekitar 2,5 cm/bulan. Dengan laju pertumbuhan yang begitu pesat, tiap dua bulan sekali Chelsea harus mengeluarkan biaya ekstra untuk menyesuaikan ukuran bra.

Kondisi ini dialami Chelsea sejak sekitar tahun 2000, ketika ia memutuskan untuk melakukan modifikasi ekstrem terhadap ukuran payudaranya. Sebelumnya, ia juga sudah dua kali melakukan pemasangan implan berisi cairan saline hingga mencapai ukuran DD dan saat itu belum ada masalah.

Pemasangan implan yang terakhir ini tidak lagi menggunakan cairan saline maupun silikon, melainkan dengan string polypropylene yang terbuat dari semacam polimer plastik. Bahan ini memang hanya ditujukan untuk melakukan perbesaran payudara secara ekstrem sehingga tidak pernah mendapat persetujuan badan pengawas obat di Amerika yakni FDA.

Meski ilegal, Chelsea bukan satu-satunya perempuan yang melakukan pemasangan implan polypropylene. Sejumlah artis porno juga melakukannya untuk tampil di film-film kategori hardcore, yang sengaja dibuat untuk mewujudkan fantasi seksual yang paling tidak realistis.

Namun yang terjadi pada Chelsea sedikit di luar dugaan, sebab implan polypropylene yang digunakannya menyebabkan iritasi pada jaringan internal payudaranya. Akibatnya tubuh Chelsea terus-menerus mengeluarkan serum, yang kemudian membuat ukuran payudaranya membengkak.

Meski saat ini tak ada yang menandingi ukuran payudaranya, Chelsea tidak berminat untuk mendaftarkan rekor dunia untuk buah dadanya tersebut. Namun ia juga tidak ingin melepas implan yang membuat payudaranya tidak berhenti tumbuh, sebab hal itu malah menunjang profesinya sebagai model majalah khusus dewasa.

"Aku tidak merasa malu dengan badanku. Bagiku ini karya seni. Kalian mungkin mengatakan aku gila, tapi aku tidak akan mengubah apapun dari tubuhku saat ini," ungkap Chelsea dalam sebuah wawancara dengan Star Magazine, seperti dikutip dari Mirror, Kamis, 12 Mei 2011.

Tidak berlebihan jika Chlesea menyebut payudaranya sebagai karya seni, sebab pemasangan implan di dalamnya memang dilakukan oleh seniman kontroversial Marc Quinn. Dikutip dari The Guardian, seniman asal Inggris ini terkenal hobi melakukan modifikasi ekstrem pada tubuh manusia.

Salah satu 'karya hidup' paling fenomenal yang dihasilkan Marc Quinn adalah Thomas Beatie yang dijuluki The Pregnant Man alias pria yang hamil. Beatie adalah seorang perempuan yang dirombak total menjadi laki-laki lewat operasi sexual reassignment, namun sistem reproduksinya tetap dipertahankan hingga akhirnya bisa hamil pada tahun 2007.

Sumber:
- http://health.detik.com/read/2011/05/12/085521/1637874/763/payudara-membesar-tak-terkendali-karena-implan-terus-tumbuh?881104755 (
- http://id.berita.yahoo.com/astaga-ada-payudara-berbobot-25-kg-051311850.html
Chelsea Charms Klaim Pemilik Dada Terbesar di Dunia
- http://www.tribunnews.com/2011/05/13/chelsea-charms-klaim-pemilik-dada-terbesar-di-dunia

Senin, 02 Mei 2011

Kopertis IX Sulawesi Miliki 60 Profesor


GURU BESAR BARU. Delapan dari 11 Guru Besar baru Kopertis Wilayah IX Sulawesi yang menerima Surat Keputusan (SK) pada upacara peringatan Hardiknas 2011, di halaman kantor Kopertis IX Sulawesi. Dari kiri ke kanan, Prof Dr Hj Masdar SE MSi, Prof Dr Said Sampara Salman SH MHum, Prof Dr Ir Zulkifli MM, Prof Dr A Baso Amang SE MSi, Prof Dr H Achmad Gani SE MSi, Prof Dr Ir Andi Muhibuddin MP, Prof Dr Syafiuddin MSi, Prof Dr Mariana SE MSi. (Foto: Wahab/Humas Kopertis IX Sulawesi)


---------------

Kopertis IX Sulawesi Miliki 60 Profesor

Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah IX Sulawesi telah memiliki 60 Guru Besar atau profesor (tidak termasuk yang sudah meninggal dunia dan yang sudah pensiun) dari berbagai bidang ilmu, termasuk 11 orang yang menerima Surat Keputusan Pengangkatan Guru Besar dari Mendiknas, pada upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2011, di halaman upacara Kantor Kopertis IX Sulawesi, Jl Bung km-9, Makassar, Senin, 2 Mei 2011.

Ke-11 Guru Besar atau profesor baru tersebut adalah :
1. Prof Dr Mariana SE MSi (bidang ilmu ekonomi, dosen DPK pada STIEM Bongaya, Makassar)
2. Prof Dr Syafiuddin MSi (pertanian, DPK Unismuh Makassar)
3. Prof Dr Ir Andi Muhibuddin MP (pertanian, DPK Universitas 45, Makassar)
4. Prof Dr H Achmad Gani SE MSi (ekonomi, DPK UMI Makassar)
5. Prof Dr A Baso Amang SE MSi (ekonomi, DPK Universitas Indonesia Timur, Makassar)
6. Prof Dr Ir Zulkifli MM (pertanian, DPK Universitas Islam Makassar)
7. Prof Dr Renny Mintje Sumarauw MSi (administrasi publik, DPK Universitas Kristen Tomohon, Sulawesi Utara)
8. Prof Dr Said Sampara Salman SH MHum (ilmu hukum, dosen tetap yayasan UMI Makassar)
9. Prof Dr Hj Masdar SE MSi (ekonomi, DTY UMI Makassar)
10. Prof Dr Hj Jeni Kamase SE MSi (ekonomi, DTY UMI Makassar)
11. Dr Johanis Ohotimur (teologia, DTY STTF Seminari Pineleng, Sulawesi Utara). (asnawin)

Sabtu, 23 April 2011

Briptu Eka Frestya Ingin Jadi Model


Briptu Eka Frestya di NTMC Polri. Brigadir (Polisi) Satu Eka Frestya adalah salah satu duta Kepolisian RI dalam menjalankan tugas mendekatkan korps dengan masyarakat. Melalui televisi, ia dan sejumlah rekannya kerap tampil menyampaikan informasi lalu lintas. (Foto: Yahoo!/Bernard Chaniago)


------------------

Briptu Eka Frestya Ingin Jadi Model

Oleh Fajar Anugrah Putra
| Newsroom Blog – Kamis, 21 April 2011
http://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/briptu-eka-frestya-ingin-jadi-model-.html

Brigadir (Polisi) Satu Eka Frestya adalah salah satu duta Kepolisian RI dalam menjalankan tugas mendekatkan korps dengan masyarakat. Melalui televisi, ia dan sejumlah rekannya kerap tampil menyampaikan informasi lalu lintas.

Paras manis Eka membuat wajahnya mudah diingat orang. Keayuan perempuan 23 tahun itu dilengkapi pula dengan, menurut pengakuan dia, keberanian dan kesukaan pada tantangan.

Yahoo! Indonesia mewawancarai Eka Frestya di kantor National Traffic Management Center Kepolisian Republik Indonesia, Jl MT Haryono, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu. Ia bercerita dari alasannya menjadi polisi hingga tipe cowok impiannya.

Yahoo! Indonesia (Y!): Kenapa Anda mau menjadi polisi?

Eka Frestya: Jadi polisi itu seru. Ada banyak tantangan, dan pekerjaannya pun nggak monoton. Bisa ke sana ke sini juga.

Y!: Apa pengalaman yang paling seru selama menjadi polisi?

Eka: Menangkap penjahat (tersenyum).

Y!: Wow! Bisa cerita seperti apa ketika itu?

Eka: Waktu itu saya bertugas di Kepolisian Resor Bandara Soekarno-Hatta. Kami memang bekerjasama dengan Bea Cukai. Ada laporan, ada TO (Target Operasi—red), lalu kita selidiki. Kemudian didapati ada barang yang dicurigai sebagai narkotika. Lalu kita tangkap saat itu.

Y!: Sebelum di NTMC, Anda sudah pernah bertugas di mana saja?

Eka: Setelah dilantik tahun 2006, saya bertugas di Polda Metro Jaya. Di Direktorat Samapta untuk patroli kendaraan roda empat. Lalu di Polres Bandara, pertama saya dinas di pospol terminal 3 menangani masalah TKI. Kemudian pindah ke pariwisata, pindah lagi ke protokol pejabat Polri dan bagian narkoba. Barulah ke Ditlantas Polda Metro Jaya.

Y!: Kalau boleh memilih, ingin ditugaskan di kesatuan mana lagi selain lalu lintas?

Eka: Kalau disuruh memilih yah, maunya sih di Krimsus (Direktorat Reserse Kriminal Khusus—menangani kejahatan ekonomi dan cyber) atau mau di (Direktorat) Narkoba.

Y!: Kenapa Anda memilih kesatuan yang terkesan penuh dengan kekerasan?

Eka: Saya suka tantangan. Saya juga nggak takut, karena mental kita kan sudah dilatih. Saya memang menikmati bertugas di lapangan.

Y!: Semenjak menjadi presenter di Metro TV, merasa menjadi pusat perhatian ketika jalan di tempat umum, di mal misalnya?

Eka: Kalau saya nggak ya. Karena kalau jalan-jalan kan nggak pakai seragam. Mungkin masyarakat nggak ngeuh.

Y!: Pacar bagaimana menanggapi Anda menjadi presenter TV?

Eka: Saya belum punya pacar lhooo (tertawa).

Y!: Oh, jadi belum punya pacar. Tapi ada yang mendekati, dong?

Eka: Kalau yang PDKT ada sih. Lihat aja, kalau nggak sreg yah kita hanya berteman saja. Nggak ada salahnya kan berteman dulu.

Y!: Cowok impian Briptu Eka yang seperti apa sih?

Eka: Cowok yang baik dan yang bertanggung jawab.

Y!: Hobinya apa jika sedang tidak bertugas?

Eka: Saya senang naik gunung, main jestki juga. Saya biasanya seminggu sekali main jetski.

Y!: Kalau tidak menjadi polisi, ingin memilih profesi apa?

Eka: Saya mau jadi model (tertawa)!

Y!: Sudah ada yang menawarkan untuk menjadi model, main sinetron atau MC?

Eka: Belum ada sih. Kalau ada pun, untuk menunjang tugas nggak apa-apa. Tapi kalau di luar dinas harus izin dengan pimpinan.
_______________
Nama: Eka Frestya
Lahir: 15 Juli
Karier: Dilantik menjadi Polwan pada 2006 dan kini bertugas di Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya

Jumat, 15 April 2011

Seminar Road to Smart Cities Award 2011


SMART CITIES. Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kota Surabaya, Ir Chalid Buhari, tampil sebagai pembicara pada Seminar Road to Smart Cities Award 2011, yang diadakan oleh harian Warta Ekonomi, di Hotel Santika, Makassar, Kamis, 14 April 2011. Seminar diikuti beberapa wartawan, puluhan pejabat dan staf Humas, Infokom, Pengolahan Data Elektronik dari berbagai kabupaten dan kota se-Sulsel, serta beberapa pejabat dari Kalimantan Timur dan Sulawesi Tengah. (Foto & teks: Asnawin)


-------------------

Minggu, 13 Maret 2011

Pertemuan Forum Pembaca Kompas di Makassar


Puluhan pembaca dan penulis menghadiri Forum Pembaca Kompas - Kompas Audience Engagement (FPK-KAE), di Hotel Santika Makassar, Ahad, 13 Maret 2011. Pertemuan diisi dengan dialog dan diselingi acara door prize, serta pemberian hadiah utama. (Foto: Asnawin)


-----------

Pertemuan Forum Pembaca Kompas di Makassar

Oleh: Asnawin

Puluhan pembaca dan penulis menghadiri Forum Pembaca Kompas Kompas Audience Engagement (FPK-KAE), di Hotel Santika Makassar, Ahad, 13 Maret 2011. Wakil Pemimpin Umum Kompas, St Sularto, yang membuka pertemuan mengatakan, Forum Pembaca Kompas merupakan salah satu cara untuk menunjukkan bahwa Kompas berorientasi pada pelanggan.

Dalam acara yang didahului dengan door prize dan serah terima Forum Pembaca Kompas (FPK)-9 kepada FPK-10 Makassar, dilangsungkan dialog yang menampilkan tiga pembicara dari Kompas, yakni St Sularto, Abun Sanda, dan Dedy Pristiwanto. Dialog dipandu Titut Kitot.

Dalam sesi tanya jawab, para penulis yang diundang umumnya mengaku tulisan yang mereka kirim ke Kompas jarang dimuat, bahkan tidak sedikit di antara mereka yang tulisannya belum pernah dimuat.

Mereka mengeritik Kompas yang terlalu sering memuat tulisan opini dari beberapa orang yang sama dan umumnya berasal dari Jakarta dan pulau Jawa, sementara penulis dari luar Jawa, terutama dari kawasan timur Indonesia jarang dimuat tulisannya.

Mereka juga meminta penjelasan dan kiat-kiat agar tulisan opini mereka dapat dimuat di Kompas, serta mengusulkan agar Kompas mengadakan pelatihan khusus bagi penulis.

Dari sisi pelayanan, para anggota FPK Makassar mengaku cukup puas, tetapi ada juga yang mengaku koran mereka kerap terlambat diantar ke rumah atau kerap diantar dua edisi berturut-turut pada hari berikutnya, sehingga mereka merasa dirugikan, karena mereka berharap bisa membaca harian Kompas pada pagi hari sebelum beraktivitas.

Mengenai isi dan rubrik yang disajikan Kompas, para peserta umumnya juga mengaku cukup puas, tetapi mereka berharap ada ruangan atau halaman khusus berita-berita Makassar dan sekitarnya, serta menambah porsi berita-berita pendidikan.

Selain itu, ada juga peserta yang mengemukakan bahwa dirinya beberapa kali menemukan berita yang dimuat di harian Kompas tidak lengkap unsur 5W+1H, terutama berita-berita wawancara.

''Kadang-kadang ada berita Kompas yang tidak menyebutkan kapan dan dimana wawancara dilakukan,'' ungkap peserta yang mengaku berlatarbelakang wartawan tersebut.

Mantan Sekda Provinsi Sulsel HM Parawansa yang mengaku berlangganan Kompas sejak tahun 1971, mengeritik Kompas karena dianggap kurang ''berani'' seperti koran lain.

Esais Asdar Muis RMS juga mengeritik Kompas karena memakai kata ''mirip'' ketika dan bukan memakai ''diduga'' terhadap Gayus Tambunan ketika tertangkap kamera sedang menonton pertandingan tenis di Bali, padahal statusnya waktu itu adalah tahanan.

Asdar Muis juga mengeritik foto-foto yang ditampilkan pada halaman satu, karena menganggap jarang sekali ada foto yang benar-benar berkualitas dari sisi jurnalistik.

Peserta lain mengatakan, Kompas pernah mendapat penghargaan sebagai pengguna bahasa yang baik, tapi kelihatannya ada penurunan dalam beberapa tahun terakhir dari segi kualitas bahasa.

Dosen Unhas, Prof Nurhayati Abbas, yang mengaku membaca kompas sejak akhir tahun 1966, mengusulkan agar Kompas menambah artikel mengenai lingkungan hidup.

Menanggapi pertanyaan, kritikan, dan usulan peserta pertemuan, Wakil Pemimpin Umum Kompas, St Sularso, mengatakan, Kompas sama sekali tidak melihat siapa dan dari daerah mana orang yang mengirim tulisan ke Kompas, jadi tidak unsur pilih kasih dan sebagainya.

''Kompas setiap hari menerima 70 sampai 80 tulisan, tapi yang dimuat hanya 5-6 tulisan,'' ungkapnya.

Dia menambahkan, dalam hal isi pemberitaan, Kompas tidak lagi cover booth side, tapi cover all side. Tentang pemberitaan Kompas yang dinilai ''kurang berani'', Sularso mengatakan Kompas bukan kurang berani, melainkan selalu berhati-hati.

''Kami dalam posisi selalu hati-hati,'' ungkapnya sambil tersenyum.

Abun Sanda yang pernah menjadi wartawan harian Fajar di Makassar dan kini menangani manajemen bisnis Kompas, mengaku pernah bertugas selama 22 tahun di bagian redaksi Kompas.

''Saya sering lihat kerja teman-teman di desk opini. Saya juga sering diskusi dengan penulis-penulis ternama dan mereka mengaku setiap hari membaca artikel opini Kompas. Tulisan yang bagus itu bahasanya sederhana, tapi gagasannya luar biasa. Gagasan itu sangat penting. Kadang-kadang tulisannya bagus, bahasanya sangat bagus, tapi tidak jelas apa idenya. Orang-orang besar sudah tidak lagi berpikir soal gaya menulis, yang penting idenya,'' tutur Abun.

Dia mengungkapkan bahwa manajemen bisnis Kompas kini mencoba menawarkan sistem berlangganan selama 15 tahun ke depan dengan imbalan emas 15 gram.

Selasa, 01 Maret 2011

Saat-saat Bahagia di Bulukumba


Saat sedang sedang bercanda, salah seorang adik saya, Asran Faizal yang biasa kami panggil Accang, meminta saya menukar sepeda motornya yang masih tergolong baru dengan sepeda motor saya yang sudah berusia belasan tahun. Selain itu, dia juga langsung mengeluarkan dan memberikan semua uang yang ada padanya kepada saya.


----------------

Saat-saat Bahagia di Bulukumba

Oleh: Asnawin

Salah satu saat-saat bahagia dalam hidupku adalah saat berkumpul dan bercanda bersama keluarga di Bulukumba. Kebahagiaan itu akan menjadi sempurna kalau saat berkumpul itu, tetta dan mama juga ada.

Kemarin, saya berada di Bulukumba dan berkumpul bersama orangtua, saudara-saudara, ipar-ipar, serta para keponakan. Seperti biasa, suasana gembira selalu terlihat dan rasa senang selalu terasa.

Saat sedang bercanda, salah seorang adik saya, Asran Faizal yang biasa kami panggil Accang, meminta saya menukar sepeda motornya yang masih tergolong baru dengan sepeda motor saya yang sudah berusia belasan tahun. Selain itu, dia juga langsung mengeluarkan dan memberikan semua uang yang ada padanya kepada saya.

Saya hanya tersenyum dan berterima-kasih kepadanya. Saya tahu dia ikhlas, tetapi saya juga masih menyukai sepeda motor saya, karena jasanya cukup besar dan hingga kini masih kuat dipakai bolak-balik Makassar-Bulukumba.

Ketika berjalan meninggalkan adik saya yang masih memegang dan menyodorkan uangnya, tiba-tiba saya terbangun. Ternyata saya hanya sedang bermimpi. Saya lalu berucap; ''Astaghfirullah, Allahu akbar.''

Saat berdiri menuju kamar mandi, saya menangis sambil tersenyum bahagia. Saya menangis karena mengenang adik saya, Accang, yang telah mendahului kami dua tahun silam. Saya tersenyum bahagia karena ketika sudah meninggal pun, dia masih ingin membantu dan membahagiakan saya.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa adik kami. Ampunilah juga dosa-dosa ibu kami. Berikanlah mereka tempat yang mulia di sisi-Mu.

Makassar, 1 Maret 2011

Selasa, 08 Februari 2011

Anak Kucing Unik di Bulukumba


Liputan6.com, Bulukumba: Rumah Dadang, warga Kelurahan Terang-terang, Kecamatan Ujungbulu, Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan, mendadak ramai didatangi warga, Ahad, 30 Januari 2011. Mereka penasaran ingin melihat seekor anak kucing aneh yang ada di rumah tersebut.

Anak Kucing Unik di Bulukumba
- Kaki Enam, Ekor Dua, Kelamin Ganda 


Laporan Fitriani Lestari
Liputan6.com (SCTV)
Minggu, 30 Januari 2011
http://berita.liputan6.com/daerah/201101/318252/Unik.Anak.Kucing.Lahir.dengan.Kelamin.Ganda

Berbeda dengan anak kucing pada umumnya, kucing di rumah Dadang memiliki enam kaki dan berekor dua. Tak hanya itu, kucing itu juga berjenis kelamin ganda. Keanehan lain adalah kucing tersebut hanya mau makan ikan yang sudah digoreng. Itu pun di tempat makan berupa piring kaca.

Menurut Dadang, keanehan ini baru diketahui setelah kucing tersebut berumur dua bulan. Dengan keunikan yang ada, rumah datang selalu dipenuhi warga dari berbagai desa.

Dadang menolak jika ada warga yang ingin membeli kucing peliharaanya itu, meski dengan harga tinggi. Soalnya, anak kucing unik itu membawa kebaikan bagi kehidupan keluarganya.(BJK/ULF)

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://kabupatenbulukumba.blogspot.com/.]

PT Calvindo Produksi Lagi Styrofoam


Setelah setahun vakum, PT Calvindo kini beroperasi kembali di Makassar dengan memproduksi kembali styrofoam (box untuk tempat penyimpanan ikan). Beroperasinya PT Calvindo disambut gembira eksportir ikan segar dan ikan hidup di Makassar. Mereka berharap produk box kemasan oleh pabrik Calvindo akan mengatasi keterbatasan styrofoam selama ini.

Selasa, 25 Januari 2011

Kesehatan Gratis, Murah Tapi tak Mudah


SIAPA yang tidak mau mendapat pelayanan kesehatan gratis? Bagi mereka yang berduit, berobat kemanapun mungkin tidak ada masalah. Tapi, bagi rakyat yang hidup pas-pasan akan bertambah pusing jika keluarganya jatuh sakit. Apalagi penyakit yang diderita butuh penanganan medis yang mahal. Betul, kesehatan itu mahal sekalipun disandingkan dengan emas dan permata.


----------------

Kesehatan Gratis, Murah Tapi tak Mudah

Laporan : Elvianus Kawengian
(Wartawan Tabloid PEDOMAN, Makassar)
-Artikel ini dimuat di Tabloid PEDOMAN, pada Volume II, edisi 75, 20 Oktober 2010

Dalam konteks pelayanan kesehatan gratis di Sulsel, hampir sebagian besar dinas kesehatan daerah mengeluhkan soal anggaran kesehatan gratis itu. Memang ada rumusan yang digunakan untuk menganggarkan budget anggaran bagi warga sakit, namun istilah ''kapitasi'' itu kadang meleset dari yang diperhitungkan. Maka yang terjadi adalah divisit anggaran untuk kesehatan gratis.

Berbeda dengan hitungan dalam hal pendidikan gratis yang jumlah siswanya sudah dapat dipastikan menerima subsidi pendidikan, tapi pada pelayanan kesehatan gratis justeru warga sakit yang datang ke puskesmas dan dirujuk kerumah sakit sulit diprediksi. Kadang sedikit, tapi malah sering tiba-tiba membludak. Ini belum lagi bila di suatu daerah terjadi wabah penyakit yang menyebabkan lebih banyak pasien lagi yang berobat. Tak heran jika puskesmas dan rumah sakit ada yang harus kehabisan obat dan sebagainya.

Inilah dilema kesehatan gratis itu ketika pasien terpaksa mendapat pelayanan terbatas dan pulang dengan membawa obat generik.

Fenomena lain yang biasa terjadi, ketika kepuasaan pelayanan medis dan para medis menjadi sesuatu yang ''mahal'' bagi pasien gratis. Sehingga wajar kalau dikatakan kesehatan gratis itu murah tapi sekaligus mahal dari sisi anggaran biaya.

Program Kesehatan Gratis Pemprov Sulsel ini memang menelan anggaran sangat besar. Selain pelayanan obat dan peralatan yang sudah ditetapkan, jasa dokter dan para medis juga tidak menggunakan dana yang sedikit. Ini karena kata ‘’gratis’’ itu tidak bisa dikonotasikan semuanya gratis, tapi gratis itu juga ada batasannya.

''Yang gratis itu untuk kamar kelas tiga dan obatnya generik. Kalau sudah pengobatan sakit jantung, cuci darah atau bedah diluar hitungan gratis lagi,'' kata Kadis Kesehatan Sulsel, dr H Rachmat Latief, SpPd, MKes ketika memberikan pengarahan kepada 60an wartawan peserta Safari Jurnalistik di Gedung Sangiaseri Gubernuran Makassar,  Rabu  6 Oktober 2010. 

Memang, sudah digariskan bagi para pasien yang berobat dan menginap di kamar kelas tiga tidak dibenarkan untuk membayar apapun. Itu karena sudah menjadi tanggungan pemerintah.

Soal pembiayaan kesehatan gratis memang menjadi bermacam masalah bagi sejumlah daerah di Sulsel. Mulai dari kecukupannya sampai pada alokasi dan pembelanjaannya untuk sektor kesehatan, hitungannya pun harus akurat.

Berapa besar alokasi anggaran, apakah biaya kesehatan itu cukup, apakah biaya tersebut sudah digunakan secara efektif dan efisien, sejauh mana realisasinya, dan hambatan serta kendala apa yang dialami? Pertanyaan inilah yang banyak dilemparkan oleh peserta Safari Jurnalistik PWI kepada  dinas kesehatan Pemkab masing-masing kabupaten/kota yang dikunjungi.

Kabupaten Sinjai misalnya. Meskipun tidak menggunakan dana provinsi namun program kesehatan gratis di daerah ini boleh dikatakan berhasil dengan strategi dan konsep kiat yang diterapkan. Pemkab Sinjai memang memiliki komitmen yang tinggi menggagas dan melaksanakan program pelayanan kesehatan.

Ini dibuktikan dengan disahkannya Perda No 3 tahun 2004 tentang Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Melalui Jamkesda Pemkab berusaha menjamin kesehatan masyarakatnya tanpa membedakan strata ekonomi dan memberi pelayanan mulai dari pustu, puskesmas sampai rumah sakit, maupun dokter keluarga. Semua warga tanpa terkecuali dapat menjadi anggota Jamkesda hanya dengan membayar premi sebesar Rp 10.000 per kepala keluarga setiap bulan. Sedangkan bagi keluarga miskin pembayaran premi ditanggung pemerintah daerah.

Sampai tahun 2010, jumlah keanggotaan Jamkesda di Sinjai telah mencapai 90 persen dari keseluruhan total penduduk. Peserta terbagi tiga, yakni Jamkesda Umum, Askes, dan Jamkesda Gakin. Pelayanan gratis itu bahkan untuk rawat jalan, inap sampai ruang perawtan kelas 2, serta jaminan operasi kecuali operasi plastik. Pelayanan juga menyentuh bagi warga yang berada di daerah terpencil.

Bupati Sinjai, Andi Rudiyanto Asapa mengakui alasan mengapa dana kesehatan gratis provinsi belum diterimanya sampai saat ini karena menghindari  tumpang tindihnya program Jamkesda  yang telah ada di Sinjai sejak tahun 2004. Termasuk overlapping kebijakan pendanaannya jika dana itu digunakan. Di Sinjai pun paket layanannya berbeda sehingga perlu dibicarakan lagi singkronisasinya. Sinjai menyatakan bersedia menerima dana provinsi dalam bentuk hibah sehingga dana yang dikelola dapat digunakan berdasarkan inovasi-inovasi tersendiri yang dapat di atur oleh pemerintah Sinjai secara transparan dan akuntable.

Namun, bagi masyarakat miskin yang jumlahnya mencapai 22.000 orang paska bencana banjir lalu, Pemda Sinjai berusaha memberi pelayanan maksimal.

Dari kondisi obyektif di hampir semua kabupaten, masyarakat kita yang masih tinggi angka kemiskinannya, berdampak pula dimana akses masyarakat terhadap kesehatannya  masih rendah yang kesemuanya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sebesar apapun biaya kesehatan yang diberikan tidak akan pernah cukup apabila dalam mengalokasikan dan membelanjakan anggaran kesehatan itu tidak tepat dan efektif.

Ketepatan alokasi dan efektivitas pembiayaan kesehatan tersebut dan sejauh mana peningkatan derajat kesehatan penduduk setelah program kesehatan gratis ini diluncurkan, itulah yang perlu dievaluasi terus-menerus..

LINTAS DAERAH

Persoalan lain dialami sejumlah kabupaten yang terbilang maju pelayanan rumah sakitnya. Sebut saja misalnya kota Parepare dan Palopo dimana banyak pasien rujukan dari kabupaten tetanggga bahkan dari jauh  yang diterima di rumah sakit ini.

‘’Terkait pelayanan kesehatan gratis, banyak penduduk dari luar Parepare berobat di kota ini. Hal itu bagi kami adalah persoalan tersendiri karena ini tentunya terkait klaim biaya yang akan dibayarkan,’’ kata Kepala Rumah Sakit Umum Parepare.

Dia mengaku dana yang diberikan provinsi sangat kecil jika dibandingkan dengan daerah lain, sehingga nyaris tidak cukup membiayai pelayanan pasien yang masuk atau yang dirujuk dari luar daerah. Hal yang sama juga dialami Pemkot Palopo. Rumah sakit dan puskesmas di kota ini banyak menerima pasien dari daerah perbatasan alias ‘’pasien lintas daerah’’. Kondisi ini membuat puskesmas dan rumah sakit di Palopo serba salah untuk memberikan pelayanan.

"Mau dikasi gratis, kita ada perda yang mengatur dan mereka tidak masuk syarat dalam perda itu. Ada juga orang yang sengaja mengurus KTP di Palopo untuk mendapatkan pelayanan kesehatan gratis. Ini yang membuat biaya kita untuk pelayanan kesehatan gratis terus meningkat.  Perlu solusi agar pelayanan di daerah perbatasan dengan kabupaten lain tetap berjalan normal. Tapi bagaimanapun kesehatan gratis umumnya sudah terlaksana dengan mekanisme atau juknis pemprov,"  ungkap Sekda Palopo, HM Jaya saat dialog dengan peserta Safari Jurnalistik PWI di kantor pemerintah kota setempat.

Hal senada juga diakui kabupaten lainnya, seperti  Wajo, Bone, Pinrang, Pangkep, Maros, Gowa dan Bantaeng.  Pelayanan kesehatan dasar berlangsung mendekati 100% sesuai mekanisme. Pihak dinkes masing-masing mengaku terus melakukan evaluasi untuk meningkatkan pelayanan kesehatan gratis. Untuk realisasi klaim Jamkesda triwulan I tahun 2010 Kabupaten Pangkep pada 10 puskesmas tercatat sebesar Rp 249.377.500.   

Kabupaten Pangkep, Toraja dan Toraja Utara, serta Sinjai misalnya, punya persoalan tersendiri menyangkut jangkauan pelayanan karena banyak penduduk di ke empat daerah ini yang tinggal terpencil—jauh dari pusat pelayanan. Kendati demikian mereka tetap mendapat pelayanan kesehatan gratis yang sama.

Dalam konteks pelayanan, pemerintah memang sudah harus menerapkan sistem jemput bola, dan bukan hanya menunggu bola.  Yang jelas, kebijakan kesehatan gratis pada prinsipnya ditujukan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, dan biasanya diukur dengan angka tingkat partisipasi puskesmas guna mengentaskan program ini.

Sementara untuk Kabupaten Bone sesuai data yang ada, tercatat warga yang mendapat jaminan pelayanan kesehatan gratis sebanyak 185.884 jiwa, yang dijamin jamkesmas 137.214, Askes 48.227, dan Askes komersial 443 jiwa. Adapun alokasi dana tahun 2009 sebesar Rp 4.736.309.896 dengan rincian alokasi dana provinsi Rp 1.276.724.100, sisanya APBD kabupaten. Tahun 2010 total alokasi dana kesehatan Bone mengalami peningkatan yakni Rp 12.417.792.000.

Sedangkan di Kabupaten Pinrang, menurut Kepala Dinas Dr H Rusman Achmad M.Kes, dari jumlah penduduk  345.911 jiwa tercatat jumlah peserta Jamkesda  240.550 jiwa. Angka kesakitan  20 %  x peserta  48110 maka total dana  Rp 5.773.200.000, dengan pembagian  40 %  provinsi dan  60%  kabupaten.

Menyangkut kesehatan gratis, Kabupaten Enrekang punya pengalaman ironis tersendiri. Kepala Rumah Sakit Umum daerah ini mengaku sempat mengalami devisit anggaran, namun sudah dapat diatasi. 

Kendati demikian, Sekda Enrekang, Muh Amiruddin mengakui  kesehatan gratis yang dilaksanakan Provinsi Sulsel telah diterapkan di  Enrekang dengan baik.  ‘’Ini mungkin disebabkan karena program ini sudah dilaksanakan sebelumnya, ” jelas Amiruddin.

Lain Enrekang, lain pula Bantaeng. Kabupaten hijau yang berhasil dengan pertaniannya ini tak mau kalah soal program kesehatan dan pendidikan gratis. Khusus untuk program kesehatan, Bantaeng punya strategi membanggakan soal penanganan bencana alam. Disana disiapkan mobil penanganan kesehatan masyarakat.

"Cukup tekan nomor 123, maka haram hukumnya bagi dokter, perawat dan sopir yang piket tidak segera menangani pasien. Pasti kami langsung menanganinya. Boleh jadi model penanganan bencana alam ini satu-satunya dilaksanakan di Indonesia," aku Kepala Sub Bagian Pelayanan, Drs Cu'la' Daeng.

Pelayanan bencana alam dan penanganan kesehatan darurat merupakan program andalan kesehatan daerah ini.

Memang, dalam teori dan praktik kadang tidak seiring. Tapi indikator keberhasilan program pelayanan kesehatan gratis dapat dilihat dengan meningkatnya akses masyarakat untuk datang memeriksakan kesehatannya di puskesmas yang kian meningkat. Dari data di 14 kabupaten umumnya terlihat peningkatan kunjungan pasien yang datang berobat di puskesmas. Bahkan daerah berusaha mendekatkan akses daerah terpencil dan perbatasan, sehingga masyarakat mendapat pelayanan kesehatan murah, aman, dan cepat namun berkualitas. Tapi bagaimanapun layanan gratis itu harus juga dijelaskan ke masyarakat secara detail supaya diketahui item mana saja yang bisa dinikmati gratis.

Beberapa kepala dinas juga mengakui meningkatnya kunjungan ibu hamil yang datang ke puskesmas atau bidan desa  untuk memeriksakan kehamilannya. Misalnya yang biasanya datang memeriksakan kehamilannya di puskesmas hanya 10 orang, namun dengan adanya kesehatan gratis meningkat sampai 20 orang setiap minggu. Artinya ada peningkatan 100%.  Ini juga terkait kesadaran masyarakat yang mulai membaik tentang pentingnya hidup sehat.

Pelayanan kesehatan gratis di Sulsel diregulasikan melalui Peraturan Gubernur Nomor 13 Tahun 2008 tertanggal 01 Juli 2008. Untuk itu diperlukan sebuah komitmen penuh menyukseskan program unggulan ini secara bertahap.

Kini, sudah dua tahun lebih program kesehatan gratis ini berjalan dan memasuki akhir tahun 2010. Sejauh mana angka kepesertaan, pembiayaan, jenis pelayanan kesehatan dan pengawasan yang mendukung program ini? Disini memang perlu evaluasi terus-menerus. Dari pemantauan di 14 kabupaten, program kesehatan gratis ini boleh dibilang berjalan cukup baik dan perlu pengembangan terus untuk mendekati target sasaran.

Pemprov telah memberikan jaminan akses terhadap kebutuhan dasar rakyatnya, dimana sesungguhnya sudah menjadi komitmen antara pemerintah dan masyarakat, pentingnya keadilan dalam mengakses pelayanan kesehatan bermutu dan maksimal. Dana yang disiapkan pemerintah provinsi sebesar 2,3 triliun menjadikan tidak ada alasan untuk  membela rakyat akan kesehatannya.

”Jangan belenggu energimu untuk menggratiskan kesehatan bagi rakyat,” kata Syahrul Yasin Limpo seperti yang dikutip.

Memang dimana-mana daerah kesehatan gratis menjadi ‘’jualan politik’’ yang sedang trend. Tapi apapun alasannya, program kesehatan gratis sebuah langkah positif dan sangat diharapkan rakyat karena menjadi sebuah kebutuhan yang hakiki.

Untuk mendapatkan pelayanan kesehatan gratis, sekarang ini cukup memperlihatkan KTP. Namun hampir semua kabupaten membuat kartu jaminan pelayanan kesehatan yang diperlihatkan saat berobat.  Tahun ini jumlah masyarakat miskin yang terdata dalam program kesehatan gratis mencapai 4,4 juta orang lebih, jauh lebih besar dibanding data tahun lalu yang hanya sebesar 4,2 juta orang lebih.

Harus diakui pula,  pemerataan tenaga kesehatan di setiap daerah juga masih menjadi kendala, sehingga sering muncul disparitas antar beberapa wilayah yang ada. Soal pelayanan juga masih memprihatinkan bagi daerah-daerah terpencil.

Di sisi lain, penggunaan anggaran memang cukup besar dan perlu kehati-hatian. Beberapa kadis kesehatan dan kepala rumah sakit di daerah malah mengusulkan mekanisme subsidi yang hanya menjamin pelayanan kesehatan di tingkat dasar dialihkan kepada model subsidi silang yang luas antara penduduk melalui pengembangan sistem asuransi/jaminan kesehatan (Askes). Askes memang ahlinya dalam urusan ini, namun seperti yang dikemukakan seorang peserta Safari Jurnalistik bahwa tidak bisa dipungkiri Askes juga mengejar provit.   Karena, seperti diungkapkan seorang peneliti bahwa kebijakan memberikan subsidi hanya pada pelayanan kesehatan tingkat dasar secara luas pada seluruh lapisan masyarakat adalah bertentangan dengan prinsip-prinsip equity egaliter dalam bidang kesehatan.

Mekanisme subsidi yang hanya menjamin pelayanan kesehatan di tingkat dasar harus dialihkan kepada model subsidi silang yang luas. Subsidi pelayanan kesehatan dasar kepada penduduk non-gakin dapat dialihkan untuk mensubsidi pelayanan lanjutan atau mensubsidi premi jaminan kesehatan komprehensif  bagi kelompok penduduk keluarga miskin.

Mungkin itulah yang menyebabkan kesehatan gratis kita murah alias masih terbatas, tapi sesungguhnya juga tak bisa dikatakan mudah untuk mengimplementasikannya. Ini karena pelayanan kesehatan gratis itu masih ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah provinsi dan daerah.  Istilah yang sedikit membingungkan  ‘’murah tapi sekaligus mahal’’ seperti itu barangkali yang dihadapi rakyat kita.

Karena itulah istilah paradigma sakit dan paradigma sehat sepertinya perlu dikedepankan lagi. Bukankah lebih baik mencegah dari pada mengobati.  Nah, pilih yang mana…. (*)

[Blog http://pedomanrakyat.blogspot.com/ berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Pendidikan Gratis Sulsel Bukan Mimpi Lagi


LIMA tahun lalu sekolah gratis masih sekadar wacana, bahkan sebagian kalangan  menilai program itu sebatas mimpi. Tapi, kini mimpi itu sudah terwujud. Dari pemantauaan di 14 kabupaten di Sulsel, pendidikan gratis tampaknya berjalan lancar. Meski anggaran masih menjadi alasan kendala di sebagian kecil kabupaten, tapi program ini boleh dibilang mendekati sukses.


----------------

Pendidikan Gratis Sulsel Bukan Mimpi Lagi

Laporan : Elvianus Kawengian
(Wartawan Tabloid PEDOMAN, Makassar)
-Artikel ini dimuat di Tabloid PEDOMAN, pada Volume II, edisi 75, 20 Oktober 2010

Pendidikan gratis, khususnya bagi anak kurang mampu untuk jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), mulai diberlakukan pada tahun ajaran 2008. Tahun mendatang, pendidikan gratis juga akan berlaku untuk jenjang  Sekolah Menengah Atas (SMA)/ sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah (MA). Meski demikian, beberapa kabupaten di Sulsel bahkan sudah menggratiskan siswanya di tingkat SMA. Sebut saja Kabupaten Sinjai, Pangkep,  Gowa,  Enrekang, dan Parepare.

Sejak program pendidikan gratis dicanangkan di Sulsel tahun 2008, Pemprov Sulsel sudah menyiapkan dana untuk diberikan pada sekitar 1,3 juta siswa SD dan SMP di daerah ini.  Program menggratiskan biaya pendidikan bagi siswa ini tidak sulit dilaksanakan sebab 60 persen anggarannya dari pusat, sisanya 40 persen ditanggung pemerintah provinsi Sulsel dan pemerintah kabupaten/kota melalui APBD Sulsel dan APBD kabupate/kota.

Sebelumnya, memang ada keraguan beberapa kabupaten apakah bisa mewujudkan program ini, dengan dukungan dana yang ada. Sharing dana itu 60 persen APBD Provinsi Sulsel dan 40 persen APBD kabupaten maing-masing. Namun tampaknya semua kabupaten bisa merealisasikan  program pendidikan gratis sebagai komitmen tinggi dari kepala pemerintahan di daerah, yang menginginkan murid SD dan SMP, bahkan SMA dibebaskan dari biaya pendidikan.

Bagi Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, pendidikan dan kesehatan gratis bukanlah program yang sulit untuk diterapkan. Hitung-hitungan itu sudah dirumuskannya dengan matang dan hati-hati sehingga dia optimis program ini berjalan dengan baik.  Secara umum pada program pendidikan gratis, ada 14 item yang dibebaskan kepada siswa.

''Wajib belajar itu merupakan hak dasar rakyat yang diatur dalam amanat UUD 45. Saya ini cuma melaksanakan amanat undang-undang. Ini berarti, pemerintah Sulsel telah menindak-lanjuti UU tersebut dengan menggratiskan biaya pendidikan sembilan tahun khususnya kepada anak didik,'' kata Syahrul Yasin Limpo, di gubernuran sebelum melepas sekitar 60 wartawan peserta Safari Jurnalistik 2010 yang memantau pelaksanaan Pendidikan dan Kesehatan Gratis di 14 kabupaten dari rencana 16 kabupaten di Sulsel yang dikunjungi selama lima hari. Dua kabupaten tidak sempat dikunjungi rombongan karena terbatasnya waktu. Safari jurnalistik ini kerjasama PWI Sulsel dan Pemprov Sulsel.

Reaksi positif dari program pendidikan gratis boleh dikata sungguh luar biasa. Kabupaten mengembangkan program ini dengan kiat dan strategi masing-masing. Di Kabupaten Gowa misalnya,  sudah membuat Perda Nomor 4/2008 soal pendidikan gratis yang dibarengi sanksi. Hukuman denda dan kurungan diberikan kepada orang tua yang tidak bertanggungjawab menyekolahkan anaknya. Kendati belum ada yang menjadi ''korban'' sanksi Perda tersebut, namun ini menjadi ‘warning’ bagi orang tua yang lalai menyekolahkan anaknya.

Di Gowa ada juga Satpol yang menjemput guru-guru yang malas mengajar. Kendati sudah berjalan tiga tahun,  pendidikan gratis di Gowa betul-betul gratis.  ‘’Tidak ada pungutan disini, dan wajib belajar kami malah 15 tahun,’’ kata Sekda Gowa, H Muh Yusuf Sonneng Msi saat menerima peserta Safari Jurnalistik di Kantor Bupati Gowa, Rabu (6/10).

Gowa tampaknya tidak mau ada warganya yang tidak sekolah dengan alasan apapun. Karena itu pada penerimaan siswa baru semuanya bisa terserap.

‘’Kami antisipasi dengan penambahan kelas agar semua bisa tertampung. Jadi tidak ada lagi alasan orang tua tidak menyekolahkan anaknya. Bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi,’’ tambah Yusuf Sonneng.

Tak jauh berbeda dengan Gowa, Kabupaten Sinjai juga merupakan daerah yang getol soal pendidikan gratis. Program gratis ini  telah dilaksanakan di Sinjai sejak tahun 2004 , merupakan aktualisasi dalam memperkokoh tiga pilar pembangunan yaitu agama, pendidikan dan kesehatan.

''Ketiganya merupakan pondasi penting dalam menyukseskan pembanguan,'' kata Bupati Andi Rudiyanto Asapa.

Pendidikan gratis di Sinjai mulai dari SD, SMP dan SMA baik negeri maupun swasta. Untuk menjaga keberlangsungan pendidikan gratis di kabupaten ini telah ditetapkan Perda No 6 tahun 2010 tentang Pembebasan Biaya Pendidikan. Program ini juga dibarengi dengan program peningkatan kompetensi guru, peningktan mutu dan sarana prasarana. Termasuk penyempurnaan kurikulum. Pelaksanaan program pendidikan gratis ini ditunjang pula oleh beberapa program oleh instansi terkait seperti fasilitas perpustakaan malam dan internet gratis.

Menurut Kepala Badan Komunikasi dan Informatika Sinjai,  Drs A Grandiyanto Asapa MSI,  pendidikan gratis dilaksanakan untuk pendidikan 9 tahun yakni mulai dari SD - SMP.

Program ini pertama kali dilakukan oleh Kabupaten Sinjai, jauh sebelum keluarnya Perda Provinsi.  "Program kerja pemerintah sinjai mengenai pendidikan gratis sudah dilaksanakan jauh sebelum perda gubernur dikeluarkan. Kami sudah memulai program ini sejak tahun 2004, sedangkan provinsi baru mencanangkan program tersebut pada tahun 2008,’’ ungkap Asisten II Kabupaten Sinjai, Drs Mukhlis Isma MSi.

Sinjai adalah satu-satunya kabupaten yang sementara ini‘’menolak’’ dana pendidikan dan kesehatan gratis dari Provinsi Sulsel dengan alasan program tersebut sudah berjalan sejak 2004. Namun, Mukhlis Isma menyatakan kedepan sharing dana itu akan dibicarakan kembali dengan pemprov untuk menemukan persamaan persepsi.

‘’Bukan menolak, belum ada persamaan persepsi saja,’’ tuturnya.

Kendati demikian daerah ini cukup berhasil mewujudkan program ini yang terlihat dari kualitas output sekolahnya yang berada di atas standar rata-rata.

‘’Gratis tanpa bermutu, saya kira itu sia-sia,’’ tambah Mukhlis. 

Lain Gowa, lain pula Bantaeng. Kabupaten hijau yang berhasil dengan pertaniannya ini tak mau kalah soal program pendidikan dan kesehatan gratis. Khusus untuk program kesehatan, Bantaeng punya strategi membanggakan soal penanganan bencana alam. Disana disiapkan mobil penanganan kesehatan masyarakat.

"Cukup tekan nomor 123, maka haram hukumnya bagi dokter, perawat dan sopir yang piket tidak segera menangani pasien. Pasti kami langsung menanganinya. Boleh jadi model penanganan bencana alam ini satu-satunya dilaksanakan di Indonesia," aku Kepala Sub Bagian Pelayanan, Drs Cu'la' Daeng.

Pelayanan bencana alam dan penanganan kesehatan darurat, serta  pendidikan gratis merupakan program andalan daerah ini.

Berbicara sekolah gratis, daerah ini memang betul-betul menerapkan sekolah gratis. Ini diakui salah satu siswa SMP yang berdomisili di Pa'jukukang. Sedikit pun uang orang tuanya tidak keluar selama bersekolah di SMP. Namun, ada pula siswa SMKN 3 Bantaeng justeru mengaku dikenakan biaya sekitar Rp 10 ribu sampai Rp 13 ribu untuk pembelian buku paket.

‘’Sarana yang diberikan kepada guru berupa fasilitas pelatihan guna menambah mutu pendidikan guru. Ini terkait SDM. Sementara pendidikan gratis dibiayai oleh pemda masuk dalam 14 item,’’ kata Kadis Pendidikan Bantaeng.

Dalam konteks realisasi pendidikan gratis, hampir semua daerah yang kami kunjungi sudah mencapainya mendekati 100%. Di kabupaten Bone misalnya, pendidikan gratis sebenarnya telah dilaksanakan sejak Januari 2003 sebelum diprogramkan secara khusus di Sulsel. Program ini dilaksanakan dalam bentuk subsidi pendidikan mulai tingkat SD sampai SMA, dimana disinergikan dengan program yang digagas Gubernur Sulsel.

Berdasarkan evaluasi, program ini mendapat respon sangat baik dari masyarakat dan mampu mencapai target yang diharapkan. Ini terlihat meningkatnya angka partisipasi murni dan angka partisipasi kasar anak usia SD, SMP dan SMA yang berarti meningkatnya daya serap sekolah-sekolah dimana SD hampir mencapai 100%, SMP 98% dan SMA 78%.

Sesuai data yang ada, Kabupaten Bone telah mengalokasikan dana pendidikan gratis tahun 2009 sebesar Rp 19.561.210.480 yang bersumber dari alokasi dana Pemprov 40% dan kabupaten 60%. Untuk tahun 2010 dialokasikan dana Rp 31.375.959.000 dan sementara berjalan.

Disamping alokasi dana itu, Kabupaten Bone juga menerima dana DAK dari pemerintah pusat untuk pembangunan unit sekolah baru (USB) yang sejak kurun tiga tahun terakhir mengalami pertumbuhan dimana telah dibangun 112 USB di Bone.

Disana juga ada sekolah satu atap. Bahkan Pemerintah Australia juga membantu dana pembangunan unit sekolah baru itu. Di Bone juga tercatat ada 4000 guru tenaga honorer. Sementara  realisasi dana pendidikan tahun 2009 mencapai Rp 19 miliar atau sekitar 53 persen. Untuk 2010 mencapai Rp 31 miliar.

‘’SMA di Bone belum tersentuh pendidikan gratis. Meski demikian daya serap sekolah mencapai 100 persen,’’ papar Taswin Arifin SPd selaku Kadis Pendidikan.

Soal regulasi sekitar pendidikan gratis ini, Sekteratis Pendidikan Bone berpendapat masih ada ketentuan pasal yang bertentangan dalam UU No 17 dan 15 tahun 2005. Dari aspek yurudis ketentuan itu  kontras dengan Peraturan Gubernur Sulsel.

''Regulasi itu yang perlu direvisi,'' kata Sekretaris Dinas Pendidikan Bone, H Bustam Ramli.

Untuk penuntasan wajib belajar 9 tahun bagi anak putus sekolah, juga dibangun sekolah satu atas (satap) termasuk USB tadi. Realisasi dananya dari Rp 15 miliar itu sudah mencapai 53,33%.

Wakil Bupati Bone, Drs HAM Said Pabokori mengungkapkan, pendidikan gratis sejak tahun 2008 ini membutuhkan waktu untuk mencapai sasaran yang lebih bermutu.  Jumlah anak putus sekolah dan pembenahan faktor sarana dan prasarana pendidikan terus digenjot. Untuk penuntasan wajib belajar 9 tahun bagi anak putus sekolah, juga diupayakan melalui  pendidikan luar sekolah melalui paket A dan C, termasuk mendirikan SMP terbuka.

Dana Alokasi Khusus (DAK) 2010 Kabupaten Bone sampai saat ini belum dilaksanakan karena menunggu juknis.

‘’Saat ini kami fokus pada perpustakaan. Kalau tahun kemarin DAK untuk revitalisasi kelas, dan sekolah yang diberi bantuan ada skala prioritas. Alokasi DAK diberikan sesuai kebutuhan,’’ jelas Taswin Arifin.

Kami juga mendengar keterangan H St Nurhayati Malik—salah seorang  Kepala Sekolah SD di Bone. Nurhayati mengaku sangat berhati-hati menggunakan dana pendidikan gratis ini.  Pemanfaatan dana yang tidak terdapat dalam DBS diberikan sesuai juknis. Ada pemanfaatan dana pendidikan gratis untuk membayar insentif  kepsek, guru dan bendahara yang tidak terdapat dari DBS.

‘’Untuk pengadaan buku tidak dipungut biaya,’’ ucapnya.

Lain Bone, lain pula Kabupaten Wajo. Sekda Wajo, Natsir Taufik justeru mengaku mendapat bantuan JICA untuk pendidikan gratis. Program ini memang tidak statis. Bagai sebuah pertandingan bola, pemkab tidak selalu harus menunggu bola, melainkan juga menjemput bola. Cukup banyak negara dengan dukungan dana Internasional yang peduli dengan pendidikan dunia. Tidak ada salahnya kalau bantuan-bantuan serupa juga dirasakan daerah lain demi meringankan beban anggaran yang ada. Apalagi partisipasi orang tua yang mampu atau pihak ketiga yang ingin membantu sekolah tidak selamanya bisa diharapkan, karena sifatnya insidentil dan tentu terbatas. 

Pendidikan gratis umumnya sudah terlaksana dengan mekanisme atau juknis pemprov dan Pemda Wajo. Alokasi pembiayaan pendidikan gratis di Wajo tahun 2010 total Rp 12.153.555.000 terdiri dana kabupaten Rp 7.292.133.000 dan dana provinsi Rp 4.861.422.000 dari pagu anggaran Rp 24.571.967.000. 

''Kami masih punya sisa anggaran,'' kata Kadis Pendidikan Wajo.

Dana itu antara lain terserap untuk biaya 58.244 siswa SD yang mendapat subsidi Rp 4000 persiswa/bulan. Sedangkan SMA 24.097 siswa dengan biaya Rp 17.600 persiswa/perbulan. Sedangkan untuk tahun 2009, SD sebanyak 47.235 siswa dan SMP 8134 siswa. Mereka mendapat subsidi biaya yang sama setiap bulan.

Pengunaan dana pendidikan gratis ini ditujukan untuk SD-SMP SLB dan masuk dalam 14 item sesuai juknis pemprov. Format atau kegiatan yang terkait dengan tenaga pendidikan dan kependidikan tahun 2009 dibiayai sesuai anggaran pendidikan gratis yang tersedia.

Karena itu, Pemkab Wajo tidak segan-segan menurunkan tim pengawas untuk melihat apakah program pendidikan gratis tersebut berjalan atau tidak di sekolah-sekolah.

‘’Kami berharap program ini sukses dilaksanakan, dan kalau bisa menjadi  contoh secara nasional. Saya kira disini peran kepala sekolah dengan sistem kebijakannya, termasuk disiplin moral para guru sangat menentukan keberhasilan pendidikan gratis yang bermutu,’’ tandas Natsir.

Dari sejumlah pemantauan tatap muka soal pendidikan gratis, Pemkot Palopo satu-satunya kota yang mengklaim diri sebagai kota pendidikan. Wajar saja karena di sana terdapat beberapa perguruan tinggi selain sekolah unggulan yang diminati siswa dan mahasiswa dari luar Palopo. Ada 30.000 mahasiswa mengenyam pendidikan di kota sagu ini. 

Palopo memang dikenal kota damai, indah sejahtera dan aman. Ikon pendidikan gratis sudah menjadi komitmen politik daerah ini--jauh sebelum pemprov menjadikan program unggulan.  Ini merupakan grand strategi yang akan mengangkat Palopo dalam konteks membangun dimensi religi, pendidikan dan kesehatan yang merupakan kebutuhan manusia.

Tidak heran kalau Palopo menjadi kota tujuan pendidikan APM-nya masuk 8 besar se-Indonesia berdasarkan Rapenas.

‘’Ini juga berkat eksistensi pemprov menjadikan pendidikan gratis suatu kewajiban yang harus dilaksanakan, bukan hanya sesaat tapi seterusnya. Walikota, bupati atau gubernur boleh berganti, tapi pendidikan gratis tidak boleh berhenti. Harus terus berjalan,’’ demikian Sekda Kota Polapo, HM Jaya. 

Sejalan program gubernur, dana sharing kota palopo 60% -40% sudah berjalan baik. Memang,  pendidikan gratis tidak menjamin terciptanya pendidikan yang bermutu atau berkualitas. Sebab itu,  menurut HM Jaya, di Indonesia tidak dikenal adanya  pendidikan gratis tetapi pendidikan yang bermutu dan terjangkau. Dan hal ini telah diterapkan di tingkat sekolah dasar. Kewenangan untuk menerapkan format pendidikan seperti itu memang ada pada masing-masing pemerintah kota dan kabupaten.

BANTUAN NATURA

Yang menarik dari program pendidikan gratis ini justeru ada di Toraja dan Toraja Utara. Disana ada sekolah satu atap. SD dan SMP gratis dengan kepala sekolah yang sama dengan rasio siswa yang terbatas pula. Dengan pola satu atap atau regrouping ini, selain memberikan keuntungan dari sisi proses belajar dan mengajar serta optimalisasi sarana dan prasarana pendukungnya, juga terjadi efisiensi anggaran yang sangat besar. Itu karena sekolah hanya membayar gaji untuk satu kepala sekolah.

‘’Partisipasi orang tua dan masyarakat juga terbuka luas dimana masyarakat umumnya memberi sumbangan pada saat pesta kematian (rambu solo) dan pesta syukuran (rambu tuka). Sumbangan untuk sekolah biasanya berupa hewan ternak seperti  babi atau daging kerbau yang kemudian diuangkan untuk kebutuhan sekolah,’’ kata Sekda Toraja Utara, Lewaran L.

Meski  DPRD Torut menolak diterapkannya program pendidikan gratis di tingkat SMA-SMK dengan alasan terbatasnya dana, namun daerah ini lebih mengedepankan pendidikan bermutu. Regulasinya pun sudah diatur dalam Perda.

Boleh jadi ini persoalan istilah saja. Mungkin istilah pendidikan gratis belum cocok diterapkan di Torut dengan alasan mengajak orang tua siswa apatis yang tidak memiliki tanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan.

Namun alasan klasik bisa jadi  karena anggaran APBD Torut sebagai kabupaten baru berdiri setelah pemekaran dengan Toraja induk ini belum mampu membiayai seluruh komponen dalam penyelenggaraan pendidikan gratis di tingkat SMA-SMK. Pendidikan gratis pun  menggunakan istilah subsidi pendidikan bermutu untuk siswa SMA-SMK dan dituangkan melalui perda, meski tujuannya sama.  Berbeda dengan pembiayaan pendidikan gratis yang hanya terdiri 17 komponen, subsisi pendidikan bermutu terdiri 33 komponen pembiayaan.

Soal pendidikan, baik Toraja maupun Toraja Utara adalah daerah yang sangat konsisten dalam hal menelorkan siswa berprestasi. Tidak heran kalau daerah ini tercatat masuk daerah paling banyak melahirkan sarjana di berbagai perguruan tinggi, termasuk alumni Universitas Hasanuddin. Tingginya perhatian pemkab dalam dunia pendidikan karena Torut juga merupakan kota pendidikan yang memiliki sumber daya manusia yang handal.

Meski program pendidikan gratis di Toraja belum berjalan maksimal karena terkendala medan dimana banyak siswa bermukim di pegunungan yang sulit terjangkau, namun Pemkab setempat terus ‘berjuang’ agar target wajar 9 tahun itu dapat tercapai secara optimal.

Sayangnya,  orang tua siswa kerap masih harus membeli buku paket di toko buku untuk kebutuhan belajar siswa. Padahal program pendidikan gratis satu paket dengan komponen pembiayaan tersebut. Namun yang penting bagaimana program pendidikan gratis maupun subsidi pendidikan bermutu ini terus diawasi dalam pelaksanaanya. 

“Kita tidak mau program pendidikan gratis dijadikan ajang bisnis,” tegas  Kadis Pendidikan Torut, MG Sumule.

Di kabupaten tujuan wisata  ini ada 187 sekolah gratis dengan 39.147 siswa. Satu sekolah SD Kristen Rantepao menolak dana gratis.

Menyangkut pendidikan gratis ini juga mendapat reaksi positif daerah-daerah lain seperti Pemkot Parepare, Kabupaten Pinrang, Pangkep dan Maros. Plus-minus program ini hampir sama dialami daerah tersebut. Meski demikian ‘’keluhan’’ yang ada masih bisa diatasi dengan pengalaman yang dimiliki di tingkat daerah masing-masing. Umumnya program pendidikan gratis ini dapat dikatakan berjalan lancar.

Pemkot Parepare bahkan mengaku sudah menerapkan pendidikan gratis sejak lama. Mulai dari SD sampai SMP. Untuk SMA diberi dalam bentuk bantuan, baik dari daerah maupun dari pemerintah pusat diprioritaskan bagi masyarakat tidak mampu.

Gratis bagi wajib belajar 9 tahun penduduk Parepare adalah tidak membayar SPP dan sebagainya, termasuk uang buku, dan uang pangkal. Mungkin karena pembiayaan yang begitu besar, Kadis Pendidikan Parepare mengaku dana pendidikan gratisnya nyaris mengalami devisit. Tapi pengalaman memang guru yang baik, sehingga kendala yang ada bisa diatasi.

Tapi bagi Kabupaten Enrekang, penerapan pendidikan gratis yang mulai dilaksanakan sejak tahun 2004 boleh dikatakan tanpa hambatan. Tidak ada lagi anak-anak yang putus sekolah, atau orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya karena alasan biaya.

Ini juga yang diterapkan Bupati Luwu, H A Muzakkar dimana melibatkan  semua pihak dalam program ini secara maksimal, agar tidak berjalan sia-sia. Meski diakui H A Muzakkar banyak pos dana yang terpaksa dihapus karena desakan masyarakat, namun untuk pendidikan gratis sudah menjadi komitmennya untuk merealisasikan program ini sesukses mungkin.

Lantas bagaimana dengan komponen pendidikan lainnya seperti tenaga pengajar atau guru?  Bagaimanapun kualitas pengajar atau guru akan sangat mempengaruhi kualitas anak didik itu sendiri. Pemerintah Kabupaten Enrekang menyadari betul akan posisi strategis itu. Karenanya, sejak tahun 2009, Pemkab Enrekang telah menggulirkan kebijakan berupa Program Peningkatan Kualitas Guru dan Siswa. Program ini diperuntukkan kepada guru-guru untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sampai menempuh pendidikan di Malaysia.

''Saya minta kepada BKD untuk memberi kemudahan guru untuk sekolah, meski ada aturan yang mengikat bagi guru-guru baru,'' kata Kadis Pendidikan Enrekang, M Arfah Rauf saat menerima rombongan Safari Jurnalistik di kantor daerah tersebut.

Sebanyak 220 guru di Bumi Massenrempulu ini mendapat beasiswa untuk disekolahkan lagi. Beasiswa ini ditujukan bagi para pengajar baik untuk strata satu (S1) maupun program magister.

Arfah Rauf mengatakan pemerintah daerah menyiapkan biaya dalam APBD 2010. Jumlah guru belum berijazah sarjana atau S1 yang akan disekolahkan mulai tahun depan mencapai 200 orang.

Itu sebabnya dia berharap Kepada Badan Kepegawaian Daerah (BKD) agar dapat memberi izin bagi guru yang akan mengikuti pendidikan itu. Karena aturannya izin belajar itu baru bisa dikeluarkan jika yang bersangkutan sudah bertugas minimal dua tahun, sehingga dia berharap ada prioritas khusus bagi guru.

Berkaitan dengan pembebasan biaya pendidikan gratis melalui 12 variabel, umumnya baru teraplikasi pada sekolah-sekolah negeri. Sedangkan sekolah swasta masih sebatas pada alokasi dana BOS.  Beberapa variable kebijakan pendidikan gratis pada sekolah swasta belum diimplementasikan. Karena itu kedepan diupayakan ditingkatkan cakupan sekolah yang menerapkannya.   Kabupaten Enrekang memperoleh alokasi anggaran dari APBD Propinsi Sulsel Rp 5,905.088.400.

Setda Enrekang, Muh Amiruddin mengakui daerahnya memang dikenal sebagai salah satu kabupaten di Sulsel, yang giat melaksanakan program-program gratis, seperti pembuatan KTP gratis, akte kelahiran gratis hingga  menyediakan uang santunan kematian.  Meski demikian dia menilai jika sistem pembagian anggaran masih belum mencukupi.

Memang, berbicara soal dana gratis itu banyak tergantung dari bagaimana daerah mengelolanya dengan sistem, kiat dan strategi yang baik. Berapapun dana yang digelontorlan jika tidak digunakan sebagaimana mestinya maka ujung-ujungnya akan mengalami divisit anggaran. Apalagi dalam penggunaan dana pendidikan gratis ini pihak kejaksaan ikut serta dalam pengawasannya.

Dana pendidikan gratis di Sulsel yang disiapkan pemerintah untuk tahun depan, dinaikkan delapan persen dari dana yang ada tahun ini. Dana yang dianggarkan senilai Rp 443 miliar.

Kadis Diknas Sulsel, A Patabai Pabokori mengungkapkan, dana itu langsung masuk ke kas dinas pendidikan daerah masing-masing, seterusnya ke rekening sekolah.

‘’Dana itu tidak pernah saya lihat karena langsung diterima sekolah-sekolah,’’ kata Patabai kepada puluhan wartawan.

Dana untuk pendidikan dari provinsi terus meningkat, namun peran serta masyarakat untuk mengawasi jalannya pendidikan gratis ini juga sangat diharapkan.

‘’Diharapkan di setiap sekolah juga menghindari pungutan-pungutan yang menambah beban orang tua siswa, meski pemerintah juga tidak melarang adanya bantuan pihak ketiga untuk membantu kelancaran pendidikan,’’ tegasnya..

Untuk merealisasikan program pendidikan gratis itu, Pemprov Sulsel pada 2008 telah mengalokasikan dana senilai Rp 193 miliar. Setahun kemudian alokasi dana itu ditingkatkan lagi menjadi Rp 443 miliar.  Alokasi dana itu menjadi tanggung jawab bersama antara Pemprov Sulsel sekitar 40 persen dan pemkab/pemkot 60 persen.

Harus diakui, keberhasilan Provinsi Sulsel dalam pengelolaan pendidikan dan kesehatan sejak 2008 mampu menerobos peringkat indeks pembangunan manusia (IPM) dari peringkat 23 menjadi tujuh besar nasional, sedangkan tingkat pertumbuhan investasi berada di peringkat enam.

Yang menjadi masalah di sebagian besar daerah karena tidak semua kabupaten/kota mampu mengalokasikan anggaran pendidikan gratisnya. Ada daerah yang juga mempertanyakan anggarannya yang tidak cukup, malah ada yang meminta perbandingan dana sharing itu ditinjau kembali.

Bahkan karena medannya yang sulit, ada daerah yang sulit memantau anak-anak yang tidak bersekolah. Dalam konteks pelayanan itu maka dinas terkait harus melakukan sistem jemput bola, bukan menunggu bola.

Masyarakat memang memerlukan pendidikan yang murah, tetapi pada saat yang sama juga memerlukan pendidikan yang bermutu. Bisakah kedua hal itu berjalan seiring?

Yah! sudah dua tahun lebih gong pendidikan gratis itu ditabuh. Memang, gratisnya anak-anak bukan berarti tidak membayar, tetapi karena  pemerintah yang membayarnya. Namun demikian mungkinkah tidak akan ada lagi pungutan yang dilakukan oleh sekolah maupun komite sekolah dalam konteks pendidikan gratis ini.

Yang jelas, Pemprov Sulsel telah memberikan jaminan akses terhadap pendidikan sebagai kebutuhan dasar masyarakatnya. Kalau lima tahun lalu semuanya itu hanya mimpi, kini mimpi itu telah terwujud. Pendidikan gratis di Sulsel memang bukan mimpi lagi….(*)

[Blog http://pedomanrakyat.blogspot.com/ berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]