Selasa, 01 Maret 2011

Saat-saat Bahagia di Bulukumba


Saat sedang sedang bercanda, salah seorang adik saya, Asran Faizal yang biasa kami panggil Accang, meminta saya menukar sepeda motornya yang masih tergolong baru dengan sepeda motor saya yang sudah berusia belasan tahun. Selain itu, dia juga langsung mengeluarkan dan memberikan semua uang yang ada padanya kepada saya.


----------------

Saat-saat Bahagia di Bulukumba

Oleh: Asnawin

Salah satu saat-saat bahagia dalam hidupku adalah saat berkumpul dan bercanda bersama keluarga di Bulukumba. Kebahagiaan itu akan menjadi sempurna kalau saat berkumpul itu, tetta dan mama juga ada.

Kemarin, saya berada di Bulukumba dan berkumpul bersama orangtua, saudara-saudara, ipar-ipar, serta para keponakan. Seperti biasa, suasana gembira selalu terlihat dan rasa senang selalu terasa.

Saat sedang bercanda, salah seorang adik saya, Asran Faizal yang biasa kami panggil Accang, meminta saya menukar sepeda motornya yang masih tergolong baru dengan sepeda motor saya yang sudah berusia belasan tahun. Selain itu, dia juga langsung mengeluarkan dan memberikan semua uang yang ada padanya kepada saya.

Saya hanya tersenyum dan berterima-kasih kepadanya. Saya tahu dia ikhlas, tetapi saya juga masih menyukai sepeda motor saya, karena jasanya cukup besar dan hingga kini masih kuat dipakai bolak-balik Makassar-Bulukumba.

Ketika berjalan meninggalkan adik saya yang masih memegang dan menyodorkan uangnya, tiba-tiba saya terbangun. Ternyata saya hanya sedang bermimpi. Saya lalu berucap; ''Astaghfirullah, Allahu akbar.''

Saat berdiri menuju kamar mandi, saya menangis sambil tersenyum bahagia. Saya menangis karena mengenang adik saya, Accang, yang telah mendahului kami dua tahun silam. Saya tersenyum bahagia karena ketika sudah meninggal pun, dia masih ingin membantu dan membahagiakan saya.

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa adik kami. Ampunilah juga dosa-dosa ibu kami. Berikanlah mereka tempat yang mulia di sisi-Mu.

Makassar, 1 Maret 2011

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar