Senin, 19 September 2011

Mencermati PSSI yang Masih Memprihatinkan



Karena sepak bola adalah olahraga terpopuler di negeri ini, tak heran jika PSSI sering pula menjadi sorotan masyarakat dan media serta ajang perebutan kekuasaan kekuatan politik. Makanya tidaklah salah jika kita mencoba melihat dan menelaah kembali kajian dari fungsi sosial olahraga sebagai bagian dari kerangka berpikir dalam menelaah fenomena sosial olahraga.



Mencermati PSSI yang Masih Memprihatinkan  

Oleh : Wahyudin, S. Pd., M. Pd
(Dosen Sosiologi Olahraga FIK UNM)   

Satu hari setelah Timnas dikanvaskan 2-0 oleh tim Bahrain pada lanjutan Pra Piala Dunia 2014, tepatnya di Stadion Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu, ratusan juta rakyat Indonesia menjadi sangat kecewa, terutama para suporter fanatik timnas Indonesia yang rela mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah demi menyaksikan langsung tim kesayangannya. Namun saya sebagai penonton yang hanya bisa menyaksikan timnas berjibaku lewat televisi, tidak berniat untuk menyalahkan terus PSSI. Hanya saja seharusnya PSSI juga harus tahu diri bahwa sesungguhnya masyarakat Indonesia belum sepenuhnya menerima hasil tersebut.

Artinya apa? Bahwa Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) sebagai organisasi tertinggi penyelenggara dan pembinaan sepak bola di Indonesia tentu saja menjadi harapan kita semua untuk bisa menjadi lebih baik dari masa lalu yang suram akan prestasi meskipun memang memiliki tanggung jawab yang tidak ringan. Kalau begitu kita bisa berkesimpulan bahwa PSSI bertanggung jawab menyelenggarakan kompetisi dalam negeri pada semua level yang tentu saja muaranya ialah tim nasional yang tangguh dan berprestasi.

Karena sepak bola adalah olahraga terpopuler di negeri ini, tak heran jika PSSI sering pula menjadi sorotan masyarakat dan media serta ajang perebutan kekuasaan kekuatan politik. Makanya tidaklah salah jika kita mencoba melihat dan menelaah kembali kajian dari fungsi sosial olahraga sebagai bagian dari kerangka berpikir dalam menelaah fenomena sosial olahraga.

Oleh pakar sosiologi olahraga, Nixon dan Stevenson pernah mengatakan bahwa olahraga adalah sebuah pranata sosial yang mengandung potensi untuk menjalankan beberapa fungsi, yaitu fungsi sosial emosional, fungsi sosialisasi, fungsi integratif, fungsi politik dan fungsi mobilitas sosial. Akan tetapi jika PSSI dan timnas terus-terusan berbuat blunder yang memprihatinkan maka dari beberapa unsur tersebut yang notabene sebagai fungsi instrumental olahraga dengan berpangkal pada partisipasi dalam kegiatan itu sendiri khususnya pada olahraga sepak bola akan menjadi kabur jadinya.

Meski kita semua tahu dan bahkan seluruh dunia pun mengetahui bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang sangat luas dan berpenduduk lebih dari 220 juta orang, Akan tetapi prestasi PSSI dan sepak bola nasional masih sangat memprihatinkan. Coba kita lihat dari peringkat dunia terbaru yang dirilis oleh FIFA, Indonesia menduduki peringkat 131 dunia, dan  kita mesti malu karena masih berada di bawah Thailand (120) dan Singapura bahkan Vietnam (129).

Keprihatinan kita semua terhadap PSSI tentu saja sangatlah beralasan dengan berbagai pencapaiannya, padahal jujur saja kita akui bahwa dukungan masyarakat tidak pernah surut untuk tim nasional Indonesia. Ditambah dengan pemain bintang pun selalu saja bermunculan di setiap zamannya, mulai era Ronny Pattinarasani, Rusdy Bahalwan, Danurwindo, Iswadi Idris, Bambang Nurdiansyah, Ruly Nere, Ricky Yakobi, Kurniawan Dwi Yulianto hingga Bambang Pamungkas dan Irfan Bachdim. Tidak hanya sebatas itu akan tetapi roda kompetisi pun sudah bergulir di tanah air sejak akhir 1970-an lewat kompetisi Perserikatan, Galatama sampai Liga Super Indonesia (LSI).

Hanya saja tetap saja hasilnya nol besar! Lalu muncullah pertanyaan, apa sebenarnya yang kurang? Ternyata sebenarnya jika ditelusuri satu persatu tentu penyakit sepak bola Indonesia sangatlah banyak. Mulai dari fasilitas lapangan sepak bola, stadion, sekolah/akademi sampai sumber daya manusianya yang jumlah dan mutunya masih rendah.

Stadion Gelora Bung Karno Senayan dalam kurung waktu 30 tahun ini menjadi satu-satunya stadion berstandar FIFA yang senantiasa menjadi andalan Indonesia dan masyarakatnya. Sulit kita membayangkan jika dibandingkan dengan sejumlah negara lain di dunia yang saat ini menjadikan sepakbola sebagai sebuah industri di negaranya.

Maka dari itu, pengurus PSSI pimpinan Djohar Arifin Husin dan Farid Rahman memiliki tugas yang sesungguhnya 'sama' dengan pengurus-pengurus sebelumnya yakni menghasilkan kompetisi yang profesional dan bermutu, sekaligus Tim nasional Indonesia dengan talenta prestasi membanggakan mulai dari level junior hingga senior.

Perubahan Orientasi

Pada sejumlah federasi sepak bola di Eropa, Amerika Latin sampai beberapa negara Asia, mereka itu memiliki jabatan Direktur Teknik. Direktur Teknik bertanggung jawab merumuskan konsep dan landasan tim nasional akan seperti apa dalam lima, sepuluh, lima belas  atau bahkan 1000  tahun ke depan. Baik untuk di level sepakbola Tarkam (antar kampung), senior sampai tingkat junior (kelompok umur). Demikian halnya pola pembinaan dan pembibitan pemain muda, kaderisasi jenjang karier pemain di tim nasional, gaya permainan tim nasional, sampai pada turnamen besar yang menjadi target juara, dan pola pemusatan pelatihan tim nasional sampai formasi saat bermain.

Jika saja PSSI memiliki dan menjalankan fungsi Direktur Teknik dengan konsep positifnya, maka kasus 'asal pecat' yang menimpa pelatih Alfred Riedl tidak akan terjadi. Oleh karena penunjukan dan pemecatan pelatih beserta stafnya didasarkan oleh kebutuhan tim dan analisis dari tim Direktur Teknik. Sehingga Ketua Umum PSSI dan anggota komite eksekutif hanya bisa membuat keputusan yang berkaitan dengan tim nasional berdasarkan rekomendasi dari Direktur Teknik.

Selanjutnya mesti diikuti dengan susunan konsep dan menjalankan roda kompetisi yang juga profesional. Mulai dari aturan main, sisi bisnis, sarana dan prasarana, sumber daya manusia sampai pembinaan pada pemain muda. Buatlah kompetisi Liga Indonesia berjalan dengan penuh profesionalisme, tanpa pengaturan skor dan mementingkan pembinaan pemain muda. Hanya saja kompetisi harus punya kesepahaman, visi dan misi yang sama mengenai pola pembinaan pemain muda yang berkualitas. Karena kita tahu bahwa hal tersebut  selama bertahun-tahun selalu dilupakan oleh para pengurus PSSI.

Di era Nurdin Halid ada Badan Tim Nasional (BTN) dan Badan Liga Indonesia (BLI). Sayangnya dua lembaga ini, harus diakui, diisi oleh orang-orang yang 'dekat' dengan pengurus atau 'pemodal' PSSI. Bukan orang-orang yang berprestasi, paham atau berpengalaman lama di sepak bola. Makanya lihatlah hasilnya, masyarakat bisa menilainya sendiri.

Sudah saatnya PSSI di era Djohar Arifin menggunakan tenaga-tenaga profesional, berpengalaman dan berprestasi yang akan ditugasi mengurusi pembinaan pemain muda, timnas senior, timnas junior, stamina pemain, mental, gizi, urusan medis sampai sport science.

Namun untuk merealisasikan hal-hal seperti di atas tentu butuh dana yang banyak. Karena mempekerjakan tenaga-tenaga yang profesional tidaklah murah apalagi jika memilih orang asing seperti yang saat ini banyak dipakai klub-klub di Indonesia sebagai pelatih. Makanya hal inilah yang menjadi tugas PSSI untuk mencari sponsor dan mempertanggungjawabkan secara terbuka penggunaan dananya. Semua stakeholder di negara ini khususnya pemerintah tak boleh menutup mata untuk, oleh karena menyediakan dana dan sarana pendukung membutuhkan peran pemerintah.

Kita semua juga harus mengakui kalau kualitas dan integritas sebagian pelaku sepak bola di tanah air masih tidak bermutu. Sebagai catatan buruk baru-baru saat menjamu Bahrain, lagi-lagi suporter berbuat ulah dengan petasannya hal ini menunjukkan bahwa sebagian dari mereka lebih mengedepankan emosional ketimbang menjaga keutuhan yang ada, belum lagi jika seandainya masih ada yang mengutamakan kepentingan kelompok , partai politik sampai memperkaya diri sendiri pada tataran pengurus sepakbola Indonesia.

Makanya jika ingin sepak bola Indonesia berprestasi internasional maka sangatlah dibutuhkan pengorbanan yang banyak, termasuk harus bekerja keras menekan ego pribadi, serta kelompok dan partai politik sehingga sepakbola Indonesia tidaklah terus-terusan memprihatinkan. Semoga ! (*)

Keterangan:
- Artikel Opini ini dimuat di harian Cakrawala, Makassar, edisi Selasa, 23 Agustus 2011
- Wahyudin adalah mantan wartawan harian Pedoman Rakyat.

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://pedomanrakyat.blogspot.com]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar