Wahai Pemuda, Siapakah Engkau Kini?



Wahai pemuda Indonesia, siapakah engkau kini? Engkaukah yang selalu melakukan aksi unjukrasa secara anarkis, engkaukah yang kini terlibat menjadi pengangguran terdidik, engkaukah yang kini “berselingkuh” dengan birokrat dan politisi mencuri uang negara? Maafkan kalau kami bertanya, karena kami tidak mengenalimu lagi.


———–
 
Wahai Pemuda, Siapakah Engkau Kini?

Asnawin
(Mantan Pengurus KNPI Sulsel)

Tribun Timur - Selasa, 25 Oktober 2011
http://makassar.tribunnews.com/2011/10/25/wahai-pemuda-siapakah-engkau-kini

SEBENARNYA kurang enak membanding-bandingkan antara pemuda Indonesia zaman dulu dengan pemuda Indonesia zaman sekarang, tetapi apa boleh buat, kita harus melakukannya, karena pemuda zaman dulu dengan pemuda zaman sekarang memang berbeda.

Kalau diperhatikan secara seksama, kemudian dilakukan pengelompokan, maka pemuda Indonesia dapat dikelompokkan dalam lima generasi.

Generasi pertama, yaitu pemuda Indonesia yang baru belajar berorganisasi di akhir abad ke-19 hingga pemuda Indonesia yang mulai membentuk organisasi pada awal abad ke-20. Organisasi yang mereka bentuk masih bersifat lokal dan namanya hampir seragam.

Organisasi pemuda yang cukup besar dan disebut-sebut sebagai organisasi pemuda nasional pertama di Indonesia, berdiri pada 1908, dengan nama Boedi Oetomo (Budi Utomo = Budi Utama).

Boedi Oetomo adalah organisasi pemuda yang didirikan oleh pemuda bernama Soetomo pada tanggal 20 Mei 1908. Berdirinya Budi Utomo menjadi awal gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia.

Boedi Oetomo lahir dari pertemuan-pertemuan dan diskusi yang sering dilakukan di perpustakaan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) oleh beberapa mahasiswa, antara lain Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman.

Mereka memikirkan nasib bangsa yang sangat buruk, selalu dianggap bodoh dan tidak bermartabat oleh bangsa lain (Belanda), serta memikirkan bagaimana cara memperbaiki keadaan yang amat buruk dan tidak adil itu.

Pada hari Minggu, 20 Mei 1908, pada pukul sembilan pagi, bertempat di salah satu ruang belajar STOVIA, Soetomo menjelaskan gagasannya. Dia menyatakan bahwa hari depan bangsa dan Tanah Air ada di tangan mereka. Maka lahirlah Boedi Oetomo.

Namun, para pemuda juga menyadari bahwa tugas mereka sebagai mahasiswa kedokteran masih banyak, jadi bukan hanya berorganisasi. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa “kaum tua”-lah yang harus memimpin Budi Utomo, sedangkan para pemuda sendiri akan menjadi motor yang akan menggerakkan organisasi itu.

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah kemudian menetapkan tanggal 20 Mei (hari berdirinya organisasi Boedi Oetomo) sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas).
 
Sumpah Pemuda

Generasi kedua, yaitu para pemuda Indonesia yang mengadakan “Kongres Pemuda II”, yang melahirkan lagu Indonesia Raya, dan yang mencetuskan Sumpah Pemuda, di Waltervreden (sekarang Jakarta), pada Oktober 1928 atau 20 tahun setelah terbentuknya Boedi Oetomo.

Puluhan pemuda Indonesia dari berbagai provinsi mengikuti pertemuan itu. Mereka berasal dari berbagai suku, agama, dan ras. Perbedaan dan kepentingan pribadi maupun golongan, telah lebur menjadi satu jiwa yaitu persatuan dan kesatuan menuju terciptanya sebuah negara dan bangsa merdeka yang dicita-citakan.

Gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda Kedua berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggotakan pelajar dari seluruh Indonesia.

Kongres berlangsung selama dua hari, yakni pada tanggal 27-28 Oktober 1928. Para perwakilan pemuda yang hadir antara lain Ketua panitia: Soegondo Djojopoespito (PPPI), Wakil Ketua RM Djoko Marsaid (Jong Java), Sekretaris Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond), dan Bendahara Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond).

Selanjutnya Pembantu I Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond), Pembantu II R Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia), Pembantu III Senduk (Jong Celebes), Pembantu IV Johanes Leimena (yong Ambon), serta Pembantu V Rochjani Soe’oed (Pemoeda Kaoem Betawi).

Puluhan pemuda lainnya juga aktif sebagai peserta. Pertemuan tersebut juga dihadiri Van der Plaas yang mewakili Pemerintah Belanda. Selain itu, juga hadir Golongan Timur Asing Tionghoa sebagai peninjau Kongres Pemuda pada waktu pembacaan teks Sumpah Pemuda. Mereka berjumlah empat orang, Kwee Thiam Hong, Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok, dan Tjio Djien kwie.

Pada Kongres Pemuda II inilah lahir gagasan kepanduan (sekarang gerakan Pramuka), kemudian lagu “Indonesia Raya” karya Wage Rudolf Soepratman pertama kali dinyanyikan (dengan biola), serta dibacakan Sumpah Pemuda.

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah kemudian menetapkan tanggal 28 Oktober sebagai “Hari Sumpah Pemuda.”
 
1945, 1966, 1998

Generasi ketiga, yaitu pemuda Indonesia yang sudah semakin berani berorganisasi, yang melahirkan banyak organisasi, dan yang kemudian memaksa Sorkarno dan Mohammad Hatta membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945. Merekalah yang disebut sebagai Angkatan 1945.

Generasi keempat, yaitu pemuda Indonesia yang didominasi mahasiswa, yang berhasil menumbangkan pemerintahan Orde Lama di bawah kepemimpinan Soekarno dan juga mengenyahkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dari Bumi Nusantara.

Mahasiswa yang berasal dari berbagai organisasi mengadakan pertemuan di bawah koordinasi Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pendidikan (PTIP) Mayjen dr. Syarief Thayeb, membentuk Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) pada 25 Oktober 1966. Tujuan pendiriannya, terutama agar para aktivis mahasiswa dalam melancarkan perlawanan terhadap PKI menjadi lebih terkoordinasi dan memiliki kepemimpinan.

Setelah KAMI, muncul pula Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI), dan lain-lain. Pemuda dan mahasiswa Indonesia ketika itu banyak terlibat dalam perjuangan yang ikut mendirikan Orde Baru. Gerakan ini dikenal dengan istilah Angkatan ‘66, yang menjadi awal kebangkitan gerakan mahasiswa secara nasional.

Angkatan ‘66 mengangkat isu Komunis sebagai bahaya laten negara. Gerakan ini berhasil membangun kepercayaan masyarakat untuk mendukung mahasiswa menentang Komunis yang ditukangi oleh PKI.

Generasi kelima, yaitu pemuda Indonesia yang bersama sejumlah tokoh nasional-antara lain Amien Rais-berhasil menumbangkan pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, pada Mei 1998. Aksi para pemuda ini disebut sebagai Gerakan Reformasi.

Setelah lima generasi pemuda Indonesia berlalu, masih akan lahirkan pemuda Indonesia generasi keenam? Waktu jualah yang akan menjawabnya nanti. Namun, yang perlu ditanyakan kepada para pemuda zaman sekarang, siapakah mereka kini.

Wahai pemuda Indonesia, siapakah engkau kini? Masihkan engkau memiliki jiwa kejuangan, semangat persatuan dan kesatuan, serta motivasi membangun dan mengisi kemerdekaan?

Wahai pemuda Indonesia, siapakah engkau kini? Engkaukah yang selalu melakukan aksi unjukrasa secara anarkis, engkaukah yang kini terlibat menjadi pengangguran terdidik, engkaukah yang kini “berselingkuh” dengan birokrat dan politisi mencuri uang negara?

Maafkan kalau kami bertanya, karena kami tidak mengenalimu lagi. Semoga engkau bisa mewujudkan dirimu secara sempurna, sehingga kami bisa mengenalimu dirimu lagi seperti dulu. (*)

Keterangan:
- Artikel opini ini dimuat di harian Tribun Timur, Makassar, Selasa, 25 Oktober 2011.
- Artikel opini ini sudah saya copas ke :
- http://asnawin-aminuddin.blogspot.com/2011/10/wahai-pemuda-siapakah-engkau-kini.html
- http://edukasi.kompasiana.com/2011/10/29/wahai-pemuda-siapakah-engkau-kini/

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://pedomanrakyat.blogspot.com]

Komentar

Pos populer dari blog ini

Kode Etik Jurnalistik PWI (Persatuan Wartawan Indonesia)

Mengenang Tiga Tahun Wafatnya Pedoman Rakyat