Ditentang karena Menolak Ajaran Kesyirikan dan Khurafat

MASJID MUHAMMADIYAH BULUKUMBA. Lahir dari sebuah keprihatinan, Muhammadiyah menjelma menjadi salah satu organisasi Islam paling berpengaruh di Sulawesi Selatan. Sayap-sayap Muhammadiyah diyakini telah ada di Tanah Bugis sejak Portugis mendarat di Makassar. Muhammadiyah sempat tak bisa diterima orang-orang Islam kolot. Muhammadiyah dianggap menyimpang dari adat dan tradisi nenek moyang. (Foto: Asnawin)

 
Muhammadiyah, Titik Tolak Pemurnian Islam di Sulsel (1): 
Ditentang karena Menolak Ajaran Kesyirikan dan Khurafat 

Laporan Arif Situju 
(Wartawan Harian Beritakota Makassar) 
Jumat, 12-08-2011 http://www.beritakotamakassar.com/index.php?option=read&newsid=53660 

LAHIR dari sebuah keprihatinan, Muhammadiyah menjelma menjadi salah satu organisasi Islam paling berpengaruh di Sulawesi Selatan. Sayap-sayap Muhammadiyah diyakini telah ada di Tanah Bugis sejak Portugis mendarat di Makassar. Bagaimana organisasi ini berjuang menjaga integritas selama berabad-abad? 

Muhammadiyah didirikan oleh KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada tahun 1912. Tapi sebenarnya, ideologi dari ajaran ini telah ada di Sulsel dan Tanah Bugis, sejak berabad yang lalu. Sejarah mencatat, ketika Portugis pertama kali memasuki Sulawesi Selatan tahun 1540 M, mereka menemukan telah banyak orang Islam di Gowa, ibukota Kerajaan Makassar. 

Pada masa raja Gowa ke-10 Tunipalangga (1546 – 1565), raja ini memberi izin kepada orang-orang Melayu untuk menetap di Mangalekana (Somba Opu). Raja Gowa ke-12 Tunijallo’ telah mendirikan masjid bagi Muslimin di tempat itu. Inilah masjid pertama yang didirikan di negeri orang Makassar dan Bugis di Sulawesi Selatan. 

Para pedagang Muslim itulah yang banyak memberi pengaruh kepada orang-orang Makassar memeluk Islam. Ideologi mereka diyakini datang dari para gujarat Timur Tengah. Sehingga Islam yang mereka bawa masih murni, tanpa campuran-campuran animisme. 

Dipercaya, inilah cikal bakal lahirnya Muhammadiyah. Islamisasi di Sulawesi Selatan selanjutnya dihubungkan dengan kedatangan dan peranan tiga orang ulama asal Minangkabau, secara khusus dikirim oleh Sultan dari Kerajaan Aceh. 

Ketiga ulama itu adalah Abdul Makmur Khatib Tunggal (Datuk ri Bandang), Khatib Sulaiman (Datuk Patimang), dan Abdul Jawab Khatib Bungsu (Datuk Tiro). Ketiga ulama inilah yang menyebar Islam di Sulsel. 

Akan tetapi waktu itu, ajaran Islam masih sering dicampuradukkan dengan paham-paham tradisional yang menyimpang dari sunnah Rasulullah. Sampai kemudian Muhammadiyah yang didirikan pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912 M oleh KH Ahmad Dahlan turut mendapat sambutan luas dari masyarakat Sulsel. 

Organisasi ini mempelopori gerakan pembaharuan (tajdid) yaitu upaya mengembalikan dan memimpin umat kepada ajaran-ajaran Islam yang murni berdasar Alquran dan sunnah yang shahih. Hanya dalam waktu tiga belas tahun lebih, sesudah berdirinya Muhammadiyah, organisasi ini masuk ke Sulsel. 

Muhammadiyah sempat tak bisa diterima orang-orang Islam kolot. Muhammadiyah dianggap menyimpang dari adat dan tradisi nenek moyang. Waktu itu, Muhammadiyalah yang pertama memperkenalkan Islam salafiah, yakni Islam yang murni yang diajarkan oleh pada Rasulullah dan para sahabat. Mulailah muncul pertentangan di masyarakat. 

Ada kelompok Islam tradisional yang benar-benar tidak mau meninggalkan ajaran nenek moyangnya. Mereka berislam, tapi sesungguhnya mereka masih tetap percaya pada arwah-arwah nenek moyang yang bisa memberi karamah. Mereka tidak sadar bahwa ajaran itu adalah warisan pada penjajah kolonial. Mereka banyak tergelincir dalam perbuatan syirik, khurafat dan bid’ah. Tapi tidak disadarinya sebab kejahilannya terhadap Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW. 

Syirik adalah menyekutukan Allah Subhanawataala atau mensejajarkan zatnya dengan sesuatu. Khurafat adalah kepercayaan-kepercayaan pada cerita-cerita tahayul yang bertentangan dengan sunnah. Sedang bidah adalah hal yang diada-adakan dalam Islam, yang tidak ada tuntunannya. Ketiga hal inilah yang dibersihkan Muhammadiyah dari masyarakat Sulsel selama berabad-abad.  

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://pedomanrakyat.blogspot.com/]

Komentar

Pos populer dari blog ini

Kode Etik Jurnalistik PWI (Persatuan Wartawan Indonesia)

Mengenang Tiga Tahun Wafatnya Pedoman Rakyat