Agresivitas dan Fenomena Sosial Dalam Olahraga Sepakbola



Karena agresif itu merupakan serangan-serangan yang dilakukan untuk memenangkan pertandingan tanpa berusaha mencederai lawan, tetapi tindakan brutal dengan merusak berbagai fasilitas yang dilakukan oleh penonton serta pemukulan terhadap wasit dan hal lain yang bersifat negatif adalah bentuk agresivitas.


Agresivitas dan Fenomena Sosial Dalam Olahraga Sepakbola
(Catatan Menjelang Putaran ISL dan LPI Tahun 2011-2012)

Oleh : Wahyudin, S. Pd., M.Pd
Dosen FIK UNM

Lebih awal penulis perlu  menegaskan bahwa dalam dunia olahraga ada dikenal dengan istilah agresif dan agresivitas, dan tentu saja hal ini telah lama dikenal dan didengar oleh publik. Tetapi sayangnya, terkadang kedua hal tersebut tidak lagi ditempatkan pada tempat yang sesungguhnya, sehingga jangan heran kalau konflik yang berkepanjangan dalam rangka memperbaiki kualitas prestasi olahraga di negara kita tercinta, masih sering muncul menghiasi pemberitaan di berbagai media, baik media cetak maupun media elektronik.

Aksi tawuran antar-suporter dalam dunia sepak bola di tanah air kita, juga antar-pemain, antar-pelatih bahkan sampai pada aksi pemukulan kepada Sang Pengadil di lapangan hijau (wasit) masih saja kerap terjadi, sehingga dengan kejadian itu, tentu saja sangat menyedihkan dan juga memalukan.

Kasus yang sering terjadi tersebut merupakan bagian dari tindakan agresivitas sekaligus menjadi suatu sifat yang berusaha melakukan serangan dengan mengarah pada mencederai lawan atau pun pemain, baik itu penonton, tim atau pemain lawan bahkan atlet itu sendiri terhadap lawannya.

Penulis perlu menyampaikan bahwa agresivitas dan agresif adalah dua hal yang berbeda dalam pemaknaan sifatnya, tetapi sebagian bahkan kebanyakan orang menempatkan hal ini pada posisi yang sama. Padahal memang beda. Karena agresif itu merupakan serangan-serangan yang dilakukan untuk memenangkan pertandingan tanpa berusaha mencederai lawan, tetapi tindakan brutal dengan merusak berbagai fasilitas yang dilakukan oleh penonton serta pemukulan terhadap wasit dan hal lain yang bersifat negatif adalah bentuk agresivitas.

Spanduk yang bertuliskan Fair Play yang biasanya terpasang di setiap sudut stadion serta pernyataan menjunjung tinggi nilai sportivitas hanya menjadi retorika belaka saja tanpa ada aplikasi yang nyata. Olehnya itu, tulisan ini sebenarnya berupaya untuk menambah wawasan kita semua terlebih lagi bagi para pelaku olahraga baik itu pelatih, atlet, wasit, penonton atau siapa pun juga yang terlibat dalam dunia olahraga agar kiranya dapat tercipta suasana kegembiraan, keakraban dan kejujuran, sehingga implikasinya di dunia olahraga senantiasa dapat membiasakan atlet atau pemain bermain dalam suasana jujur, benar, menghargai, sekaligus mentaati keputusan wasit dan juga menghargai lawan serta  menguasai diri sehingga tidak terseret untuk bermain kasar dan curang tetapi bersikap baik dalam menerima kemenangan maupun kekalahan pada setiap pertandingan.

Agresivitas saat ini telah menjadi persoalan dan permasalahan yang sangat urgen untuk dibenahi dalam dunia olahraga kita, terutama di persepakbolaan Indonesia. Kenapa tidak? Sebab pelaku agresivitas tidak saja terjadi bagi atlet, namun mulai merambah antara suporter bahkan antar sesama pelatih.

Sebagai sebuah bukti konkret sekali lagi adalah dalam dunia persepakbolaan di tanah air tercinta dengan terjadinya tindkan agresivitas antar pemain, antar suporter yang akhirnya merusak segala fasilitas yang ada seperti alat transportasi, gedung-gedung, pertokoan dan lainnya. Ini disebabkan oleh ambisi untuk memperoleh kemenangan kerap kali terlalu berlebihan sehingga memberikan kecenderungan sekaligus mendorong atlet, pelatih, manajer, penonton, dan wasit berusaha melakukan berbagai macam cara yang tidak sepantasnya dilakukan.

Kita tentu sangat menyesalkan jika dalam suatu event olahraga kerap terjadi keributan, keonaran, sifat pura-pura, kesombongan, yang menurut kita semua bahwa hal tersebut jika dilakukan berarti bukan lagi sebagai sifat olahragawan yang sejati dan jika hal tersebut tetap berlanjut maka fungsi dari olahraga sebagai alat komunikasi akan semakin merosot.

Fenomena Sosial

Olahraga tentu saja sangat bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat, karena olahraga juga dapat memperluas hubungan sosial sekaligus menjadi jembatan antara berbagai lapisan masyarakat. Oleh karena itu, melalui olahraga tentu saja akan memberikan kesempatan yang lebih luas untuk berhubungan dengan orang lain antara yang individu atau kelompok yang satu dengan yang lainnya dan pada akhirnya akan menjadi lebih dekat dan akrab.

Olahraga juga telah menjadi fenomena sosial yang tersebar diseluruh pelosok tanah air Indonesia bahkan seluruh dunia yang telah berakar di hati sanubari setiap orang mulai dari orang muda, dewasa, hingga orang tua baik laki-laki maupun perempuan. Itu disebabkan karena olahraga dapat digunakan sebagai sarana mengajarkan nilai-nilai, mengembangkan kepribadian dan perilaku yang baik, menguasai keterampilan, memelihara dan meningkatkan kesegaran jasmani. Olahraga juga mendorong untuk saling mengakui kemampuan dalam suasana kegembiraan, keakraban, dan kejujuran.

Sehingga dengan demikian hubungannya antara agresivitas dengan fenomena sosial, penonton, serta kaitannya dengan penampilan para pemain atau atlet pada setiap pertandingan olahraga, bahwa seorang atau tim tidak hanya berhadapan dengan lawan, tetapi juga berhadapan dengan penonton baik yang mendukung maupun yang tidak memberikan dukungan. Dengan kondisi tersebut, sering sifat agresif seorang atlet atau tim dan juga suporter berubah total menjadi agresivitas sehingga mutu dan kualitas pertandingan menjadi hilang dan permainan tidak lagi fair play tetapi menjadi sesuatu yang kacau dan anarkis.

Tindakan agresif yang menjurus pada agresivitas tidak mustahil terjadi hanya karena pengaruh penonton (massa). Apalagi jika kita mencoba mengutip pendapat Sudibyo (1993:136 ) yang menyatakan bahwa : Irasional (Bertindak yang tidak sesuai dengan akal sehat dan norma), sering bertindak penuh dengan kekerasan, mudah dipengaruhi, tidak terorganisasi, tidak ada saling pengertian yang mendalam, lebih implusif, mudah tersinggung, banyak dipengaruhi perasaan, dan mudah meniru ini akan mempengaruhi para pemain dan mungkin juga suporter yang pada akhirnya tidak dapat mengontrol emosinya sehingga dapat menimbulkan agresivitas.

Sifat-sifat massa tersebut terutama yang tidak mendukung dengan sportiv tentu saja akan mempengaruhi penampilan atlet terutama atlet pemula yang dapat terpengaruh yang pada akhirnya atlet tersebut tidak dapat mengontrol emosinya sehingga dapat menimbulkan agresivitas. Dan ini pula yang terjadi pada sebagian penonton sepakbola kita di tanah air ini. Salah satu  bukti nyata dipentas persepakbolaan nasional kita saat ini, suporter para "Bonek" yang sering kali berulah. Misalnya tepat pada hari itu, Minggu , 24 Januari 2010 tahun lalu, meski sudah mendapatkan perlakuan istimewa, tetapi para suporter Surabaya yang dikenal dengan sebutan ‘bondo nekat’ alias Bonek ini tetap saja berbuat ulah. Mereka tidak saja berbuat keributan, tetapi juga mengakibatkan hampir 90 persen kaca kereta api luar biasa yang mereka tumpangi rusak.

Saat melintasi wilayah DI Yogyakarta, kereta api luar biasa sempat disambut suporter PSS Slemania. Mereka memberi para bonek minuman kemasan, rambutan, dan semangka. Namun, Minggu sekitar pukul 09.15, kereta yang memuat para bonek dihadang massa di Stasiun Purwosari dan Jebres, Jawa Tengah, dengan lemparan batu.

Di Jebres, polisi harus mengeluarkan tembakan peringatan untuk menghalau massa. Kereta berhenti di Jebres sehingga mengakibatkan mereka kepanasan, bahkan ada di antara mereka yang pingsan karena pengap. Akibat lemparan massa, sedikitnya 67 bonek harus mendapat layanan medis. Sejumlah kalangan berpendapat bahwa perilaku suporter yang tidak sportif dengan menjarah, melempar batu, berkelahi, dan membuat keributan adalah sesuatu yang tidak bisa dibiarkan lagi. Alasannya karena sangat meresahkan dan merugikan. Ini hanya sebagian kasus yang penulis sempat gambarkan sebagai sebuah bukti keganasan para suporter.

Oleh sebab itu, untuk mengurangi ataupun menghindari agresivitas dari penonton pada setiap pertandingan sangatlah perlu kita mengantisipasi dengan senantiasa membatasi jumlah karcis serta harganya, memeriksa minuman yang dibawa para penonton agar kiranya jangan membawa minuman beralkohol. Dan yang terpenting lagi adalah semua media yang ada harus tetap berada pada posisi bertanggungjawab untuk menayangkan gambar peristiwa agresivitas yang terjadi serta kerugian yang dialami. Sehingga dengan rekaman ini, dapat diketahui penonton yang melakukan agresivitas. Atau kah media berusaha untuk tidak menayangkan hasil liputan berupa keributan yang terjadi antara kedua tim karena dengan hal itu pula ada kemungkinan dapat memicu kerusuhan antar pendukung di luar arena pertandingan.

Yang terakhir, sebaiknya para pelatih harus mampu mengendalikan perilaku para penggemar dengan berupaya mencegah terjadinya tindak kekerasan dengan tidak mengucapkan kata-kata kotor dan acungan tinju kepada pemain atau atlet yang sedang bertanding. Selanjutnya, sedapat mungkin pelatih juga mampu membangun hubungan emosional dengan para wartawan ataupun penyiar olahraga dan menekankan supaya menghindari publikasi yang berlebihan terkait tentang kekerasan.

Makanya untuk mengembalikan semangat fair play dalam kehidupan olahraga maka hendaknya pihak Jurnalis baik elektronik (radio, televisi, jaringan internet) maupun media cetak (koran, tabloid, jurnal, majalah, buletin, dan sebagainya), senantiasa menyuguhkan pemberitaan yang cover both side dengan menjelaskan, mengembangkan, sekaligus menanamkan semangat fair play di kalangan masyarakat. Semoga ! (*) 

Keterangan:
- Artikel Opini ini dimuat di harian Cakrawala, Makassar, edisi Selasa, 23 Agustus 2011
- Wahyudin adalah mantan wartawan harian Pedoman Rakyat.

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://pedomanrakyat.blogspot.com]

Komentar

Pos populer dari blog ini

Kode Etik Jurnalistik PWI (Persatuan Wartawan Indonesia)

Mengenang Tiga Tahun Wafatnya Pedoman Rakyat