Blog Grup Pedoman Rakyat

Senin, 01 Agustus 2011

Gubernur Melaka Diberi Gelar "Puto Limpo Daeng Mabborong"


Suasana pemberian gelar Puto Limpo Daeng Mabborong kepada Gubernur Melaka Tuan Yang Terutama Tun Datuk Seri Utama Mohd Khalil bin Yaakob, di kawasan adat Ammatowa, Kajang, Bulukumba, Senin, 18 Juli 2011. Puto Limpo Daeng Mabborong memiliki makna sebagai pemimpin pemersatu serta orang yang sangat menghargai budaya serta selalu memelihara gotong royong. (foto: http://bulukumbatourism.com/)



Gubernur Melaka Diberi Gelar "Puto Limpo Daeng Mabborong"

Oleh: Asnawin

Dalam beberapa bulan terakhir atau tepatnya sejak Zainuddin Hasan dilantik menjadi Bupati Bulukumba, 9 November 2010, pemangku adat Ammatowa, yang kini dijabat Puto Palasa, telah memberikan gelar puto kepada empat orang. Puto merupakan gelar tertinggi dalam masyarakat adat Tana Towa, di Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba.

keterangan gambar: Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo dengan gelar Puto Salama' (Foto: M Nasir)

Gelar puto pertama diberikan kepada Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo dengan gelar Puto Salama' yang berarti pembawa keselamatan. Gelar puto kedua diberikan kepada Kapolda Sulselbar, Irjen Pol Johny Wainal Usman, dengan gelar Puto Panganro, yang berarti pelindung bagi masyarakat. Keduanya diberi gelar puto saat berkunjung ke kawasan adat Ammatowa, 9 November 2010.

keterangan gambar: Kapolda Sulselbar, Irjen Pol Johny Wainal Usman, dengan gelar Puto Panganro (Foto: M Nasir)

Pada 16 Januari 2011, giliran Bupati Bulukumba Zainuddin Hasan yang mendapat gelar puto, yaitu Puto Pahali Daeng Painro, yang berarti orang yang beruntung kembali ke daerahnya dan diharapkan bisa mengembalikan kejayaan yang pernah dimiliki para pemimpin Bulukumba.

keterangan gambar: Bupati Bulukumba Zainuddin Hasan mendapat gelar Puto Pahali Daeng Painro (Foto: Humas Pemkab Bulukumba)

Orang keempat yang mendapat gelar puto yaitu Gubernur Melaka Tuan Yang Terutama Tun Datuk Seri Utama Mohd Khalil bin Yaakob, saat berkunjung ke Desa Tana Towa, Senin, 18 Juli 2011. Gubernur Melaka mendapat gelar "Puto Limpo Daeng Mabborong" yang memiliki makna sebagai pemimpin pemersatu serta orang yang sangat menghargai budaya serta selalu memelihara gotong royong.

Sayangnya, pemberian gelar puto tidak diserahkan langsung oleh Amma Towa Puto Palasa, melainkan diwakilkan kepada Kepala Desa Tana Towa, karena saat rombongan Gubernur Melaka tiba di Kajang, hari sudah sore dan gelap, sedangkan Ammatowa berpantang keluar kawasan jika hari sudah gelap. Walaupun tidak sempat bertemu dengan Ammatowa, Gubernur Melaka berharap di lain kesempatan dirinya dapat bertemu langsung dengan Ammatowa.

keterangan gambar: Gubernur Melaka Tuan Yang Terutama Tun Datuk Seri Utama Mohd Khalil bin Yaakob. (int)

Dalam berita berjudul "Gubernur Malaka Kunjungi Bulukumba" pada situs web Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemkab Bulukumba, http://bulukumbatourism.com/index.php?option=com_content&view=article&id=99:gubernur-malaka-kunjungi-bulukumba&catid=1:latest-news&Itemid=1, disebutkan bahwa prosesi penerimaan secara adat sebagai penghormatan kepada tamu adat, dilaksanakan dengan pemakaian sarung adat Kajang, serta “passapu” serba hitam yang dikenakan kepada Gubernur Melaka dan kepada Setia Usaha Negeri Melaka.

Setelah diterima secara adat, gubernur serta rombongan disambut di bagian tengah rumah oleh perwakilan pemangku adat Ammatowa dan rombongan dari Dusun Tana Towa. Di sini, Gubernur Malaka mendapat gelar kehormatan yaitu “Puto Limpo Daeng Mabborong” yang memiliki makna sebagai pemimpin pemersatu serta orang yang sangat menghargai budaya serta selalu memelihara gotong royong. Gubernur Melaka dianggap memiliki perhatian dan apresiasi terhadap keteguhan masyarakat Tana Towa dalam memelihara warisan budaya yang telah dipelihara secara turun temurun.

Sebelum berkunjung ke Bulukumba, Gubernur Melaka Tuan Yang Terutama Tun Datuk Seri Utama Mohd Khalil bin Yaakob bersama rombongan terlebih dahulu berkunjung ke Kabupaten Gowa. Rombongan Gubernur Melaka terdiri atas beberapa pejabat Kerajaan Malaka, serta kalangan pengusaha wisata dan staf ahli dari Universitas Negeri Malaka.

Setibanya di Bulukumba, Gubernur Melaka diterima di rumah jabatan Bupati Bulukumba dan disambut dengan tari Padduppa yang dibawakan oleh siswi SMA di Bulukumba dengan iringan alunan musik “Turiolo” yang dibawakan oleh staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bulukumba. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan serah terima cenderamata.


Gubernur Melaka menyerahkan buku “Empayer Melaka” dan keramik khas Malaka yang diterima oleh Wakil Bupati Bulukumba H Syamsuddin serta Sekretaris Daerah Bulukumba Andi Bau Amal, sedangkan pihak Bulukumba menyerahkan miniatur perahu Phinisi yang diserahkan kepada Gubernur Melaka dan Setia Usaha Negeri Melaka (setingkat sekretaris daerah) Datuk Wira Omar bin Kaseh.

Setelah makan siang dan istirahat sejenak di kediaman Bupati Bulukumba, rombongan dari Negeri Melaka melanjutkan perjalanan ke sentra pembuatan perahu tradisional Phinisi di Tana Beru, Kecamatan Bonto Bahari. Rombongan disambut oleh Camat Bonto Bahari, Dra A Pamenery dan staf kecamatan, Lurah Tana Beru, serta perajin perahu Phinisi.

Gubernur Melaka mengaku sangat mengagumi keterampilan masyarakat Bonto Bahari dalam membuat perahu tradisional khas Bulukumba itu. Beliau bahkan ingin menjajaki kerjasama dalam investasi pembuatan perahu tradisional Phinisi di masa yang akan datang.

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Desa Darubia yang merupakan pusat pengrajin tenunan khas Bira, rombongan bahkan sempat memborong beberapa sarung tenun yang merupakan ciri khas masyarakat Bonto Bahari. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Restaurant Phinisi di kawasan wisata Pantai Bira. Gubernur Melaka sangat kagum melihat keindahan panorama indah pantai pasir putih Tanjung Bira yang tampak dari balkon Restaurant Phinisi. Di sini rombongan beristirahat sambil menikmati indahnya panorama Bira.

Sekitar pukul 17.30 Wita, rombongan meninggalkan Bira menuju kawasan Adat Ammatowa Kajang. Rombongan diterima oleh kepala desa Tana Towa di kediaman kepala desa. Pertemuan dengan pemangku adat Ammatoa di kawasan adat Ammatowa urung dilaksanakan karena hari telah gelap dan selain penerangan di kawasan yang minim juga Ammatowa berpantang keluar kawasan jika hari sudah gelap.

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://pedomanrakyat.blogspot.com/]

1 komentar:

  1. Tabe'. Ada sesiapa tahu atau merupakan keturunan Daeng Mabborong @Andi Wittoing anak kpd Dg Manyeppek anak kepada Dg Mabela to Pammana. Dg Maborrong lahir circa 1850 merupakan seorang nakhoda (captain) kapal dagang yang berulang antara Sulsel dan Tanjung Periok, Pontianak, Singapura.

    BalasHapus