Penyakit Rohani yang Berbahaya

 
Ada beberapa penyakit rohani, antara lain: Penyakit pertama adalah rakus. Rakus ini meliputi rakus terhadap kekuasaan/kedudukan dan rakus terhadap harta. Rakus terhadap kekuasaan, maka seseorang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan tersebut. Niccola Machiavelli mengatakan; “untuk berkuasa dan mempertahankan kekuasaan haruslah menggunakan tipu muslihat, licik, dan dusta, digabung dengan penggunaan kekuatan dan penggunaan kekejaman dan mengabaikan pertimbangan moral.”


Penyakit Rohani yang Berbahaya

Oleh: M. Idris Arief

(Guru Besar Fakultas Ekonomi UNM)

Kalau seorang sakit fisik, maka dia berusaha sekuat tenaga untuk sembuh dari penyakit tersebut. Dikeluarkan uang untuk biaya penyembuhannya, tidak peduli berapa besarnya biaya tersebut. Tapi ada penyakit yang sangat berbahaya yang dapat menimpa seseorang tanpa disadari, malahan sangat dinikmatinya. Penyakit tersebut adalah penyakit rohani. Kalau penyakit fisik dampaknya hanya pada orang yang bersangkutan, tapi penyakit rohani yang menimpa seseorang dapat berdampak luas baik terhadap masyarakat luas, maupun lingkungan alam.

Ada beberapa penyakit rohani, antara lain: Penyakit pertama adalah rakus. Rakus ini meliputi rakus terhadap kekuasaan/kedudukan dan rakus terhadap harta. Rakus terhadap kekuasaan, maka seseorang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan tersebut.

Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Niccola Machiavelli dalam bukunya The Prince, beliau menyatakan “untuk berkuasa dan mempertahankan kekuasaan haruslah menggunakan tipu muslihat, licik, dan dusta, digabung dengan penggunaan kekuatan dan penggunaan kekejaman dan mengabaikan pertimbangan moral”. Pendapat beliau ini banyak dipraktikkan para penguasa yang rakus kekuasaan, sehingga sering diibaratkan bahwa nafsu kekuasaan seperti meminum candu, sekali meminum akan minum terus, sekali berkuasa akan berusaha berkuasa terus dan mempertahankan kekuasaannya dengan cara apapun.

Disamping rakus kekuasaan, rakus yang merupakan penyakit rohani adalah rakus akan harta. Manusia yang dihinggapi penyakit ini tidak pernah puas apa yang dimilikinya. Yang merasuk pikirannya adalah bagaimana mendapatkan harta sebanyak-banyaknya. Hal ini menyeret manusia melakukan tindakan tak terpuji (tindakan haram) misalnya korupsi, mengeksploitasi sumber daya alam secara tidak terkendali (over exploitation) tanpa tanggung jawab moral, yang berujung pada hancurnya sumber daya alam dan lingkungan yang pada akhirnya akan menyengsarakan masyarakat.

Nabi Muhammad saw bersabda; “kalau manusia diberikan satu hamparan emas, maka dia mau lagi yang kedua, ketiga dan seterusnya. Nafsu memburu harta ini akan berhenti setelah perutnya dimasuki tanah (mati)”. Manusia jenis ini mencari harta bukan karena didorong kebutuhan (need) tapi didorong oleh kerakusan (greedy). Misalnya para koruptor sesungguhnya apa yang dimilkinya sudah melimpah, sudah jauh melampaui kebutuhannya, tapi didorong oleh sifat kerakusan, maka apa yang dimilikinya dianggap masih belum cukup.

Penyakit kedua adalah bangga terhadap kemewahan. Orang yang dihinggapi penyakit ini merasa terangkat status sosialnya apabila dapat mempertontonkan kemewahan yang dimilkinya. Biasanya orang macam ini kurang peka terhadap penderitaan masyarakat sekitarnya. Malahan terkadang mengisolasi diri dari pergaulan orang sekitarnya. Sering rumahnya yang besar dan mewah dipagari dengan pagar yang mengisolasi diri dengan masyarakat sekitar.

Penyakit yang ketiga adalah dengki (hazad). Penyakit ini ditandai dengan merasa tidak senang terhadap kesuksesan orang lain. Dalam dirinya selalu dirasuki pikiran negatif (negative thinking). Orang jenis ini dapat diumpamakan seperti kayu yang dimakan bubuk, dari luar kelihatannya utuh, tapi di dalam keropos. Sering berusaha melakukan cara-cara yang tak terpuji untuk merusak orang lain, misalnya menciptakan fitnah, menjadi provokator. Dia sangat senang kalau orang menderita, sebaliknya dia sangat kurang senang kalau orang yang didengkinya mendapatkan kesenangan atau kesuksesan. Sering pula terjadi penghianatan terhadap orang yang mengangkat dan memperbaiki nasibnya. Setelah memiliki kedudukan, maka dalam perjalanan waktu berbalik berusaha untuk menghancurkan orang yang telah berjasa memperbaiki nasibnya tersebut.

Penyakit yang keempat adalah riya. Jenis penyakit ini adalah penyakit yang diderita seseorang yang selalu ingin dipuji, ingin dilihat orang dalam beramal. Tidak ada keikhlasan dalam beribadah dan beramal. Apa yang telah disedekahkan harus diumumkan dan harus diketahui masyarakat. Boleh saja sedekah diumumkan dengan niat agar orang lain mengikutinya. Jadi sangat tergantung pada niat.

Penyakit kelima adalah kikir. Seseorang yang dihinggapi penyakit ini sangat susah mengeluarkan hartanya untuk tujuan amal. Dia selalu berpikir bahwa dengan membelanjakan hartanya untuk tujuan amal akan mengurangi hartanya. Khusus orang muslim diajarkan bahwa harta yang kita miliki terdapat hak orang lain, kita menzalimi orang miskin/fakir ketika kita tidak memberikan haknya. Padahal tidak ada orang jatuh miskin karena banyak mengeluarkan harta untuk beramal, malahan hartanya akan bertambah dan berkembang.

Penyakit yang keenam adalah sombong. Orang yang dihinggapi penyakit ini selalu memandang rendah orang lain, dia merasa dirinya saja hebat. Timbulnya penyakit disebabkan beberapa penyebab, antara lain karena kedudukan atau pangkatnya. Sebelum menduduki kedudukan dia sangat ramah terhadap orang, tapi dalam perjalanan waktu setelah menduduki suatu kedudukan, bersamaan dengan itu terjadi perubahan sikap. Senyum dan keramahan yang dulu menghilang. Sahabat yang dulunya akrab karena sama-sama menderita, sekarang diacuhkan, malahan pura-pura tak dikenal.

Penyebab lain dari timbulnya kesombongan adalah kepintaran. Orang yang pintar kadang-kadang dihinggapi penyakit sombong, merasa dia saja yang benar, tidak mau menerima pendapat dan kritikan orang lain.

Penyebab lain adalah kekayaan. Kadang-kadang manusia sebelum menjadi orang kaya dia peramah, tapi setelah menjadi orang kaya sifat peramahnya menghilang apalagi kepada orang yang tidak berpunya. Penyebab lain adalah keturunan. Orang yang berdarah biru misalnya sering merasa lebih mulia dari orang biasa. Hal ini sangat mempengaruhi cara bergaulnya, kurang berintegrasi dengan masyarakat yang bukan kelasnya. Yang paling parah lagi adalah orang yang diberi kekuasaan untuk mengurus kepentingan orang banyak, tapi karena sesuatu hal dia tersinggung secara pribadi menyebabkan dengan enteng meninggalkan tugasnya tanpa memikirkan kebutuhan orang banyak/bangsa. Tindakan ini timbul karena rasa sombong yang menggebu.    

Yang ketujuh adalah munafik, jenis manusia yang hidupnya dipenuhi sifat penuh kepura-puraan. Kalau berjanji mengingkari janji, kalau bersahabat mengkhianati persahabatan, hidupnya penuh kepalsuan. Orang jenis ini sangat berbahaya karena merupakan musuh dalam selimut. Tipe manusia ini adalah tipe manusia oppurtunis. Segala macam pengkhianatan dan dusta dapat ditempuh demi untuk mendapatkan keuntungan buat dirinya atau kelompoknya.

Penyakit-penyakit tersebut di atas berpengaruh kurang baik terhadap kehidupan bermasyarakat, malahan kadang-kadang berdampak sangat merusak baik terhadap manusia maupun terhadap lingkungan. Tapi sayangnya orang yang dihinggapi penyakit ini tidak merasa sakit, malahan merasa bangga terhaddap penyakit tersebut dan dianggap sebagai motivator dalam perjuangan hidupnya.

Keterangan:

- Artikel opini ini dimuat harian Fajar, Makassar, Senin, 03 Oktober 2011 (http://www.fajar.co.id/read-20111003020613-penyakit-rohani-yang-berbahaya-)
- Tulisan ini saya muat ulang di blog ini atas persetujuan Prof Idris Arief, sebagai guru dan teman berdiskusi saya. Kami sering berdiskusi tentang berbagai hal, terutama yang berkaitan dengan pendidikan.    

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://pedomanrakyat.blogspot.com]

Komentar

Pos populer dari blog ini

Kode Etik Jurnalistik PWI (Persatuan Wartawan Indonesia)

Mengenang Tiga Tahun Wafatnya Pedoman Rakyat