Wartawan Senior Pedoman Rakyat Meninggal Dunia



Puluhan wartawan melepas jenazah wartawan senior harian Pedoman Rakyat Makassar, George Alexander Wacanno dalam pelepasan secara resmi di Gedung PWI Sulsel, Jl AP Pettarani 31, Makassar, Sabtu, 1 Oktober 2011. Acara pelepasan dipimpin Ketua PWI Sulsel H Zulkifli Gani Ottoh, serta dihadiri sejumlah wartawan senior dan keluarga mendiang Pak Alex-sapaan akrab George Alexander Wacanno. (foto: asnawin)


Wartawan Senior Pedoman Rakyat Meninggal Dunia

Puluhan wartawan melepas jenazah George Alexander Wacanno dalam pelepasan secara resmi di Gedung PWI Sulsel, Jl AP Pettarani 31, Makassar, Sabtu, 1 Oktober 2011. Acara pelepasan dipimpin Ketua PWI Sulsel H Zulkifli Gani Ottoh, serta dihadiri sejumlah wartawan senior dan keluarga mendiang Pak Alex-sapaan akrab George Alexander Wacanno.

Pak Alex yang menjadi wartawan harian Pedoman Rakyat meninggal dunia pada hari Kamis, 29 September 2011, dalam usia 70 tahun, dengan meninggalkan enam anak dan 16 cucu. Pria berdarah Ambon kelahiran Serang, Banten, 16 Oktober 1941, terdaftar sebagai anggota PWI Sulsel sejak 1966, dengan nomor Kartu Tanda Anggota 23.00.0922.66.

Dalam acara pelepasan di Gedung PWI Sulsel yang juga dihadiri sejumlah wartawan harian Pedoman Rakyat, Piet Heriyadi Sanggelorang yang mewakili wartawan senior, mengatakan, dirinya seangkatan dengan mendiang.

"Saya menjadi wartawan di harian Marhaen sejak 1964, dan mendiang Pak Alex juga menjadi wartawan harian Pedoman Rakyat pada tahun 1964. Kami sering meliput bersama-sama, khususnya berita-berita pengadilan," ungkap Piet yang kini menjadi Redaktur Senior di harian Fajar Makassar dan anggota Dewan Kehormatan Daerah (DKD) PWI Sulsel.

Wakil Sekretaris PWI Sulsel, Anwar Mahendra, yang membacakan biodata Pak Alex, mengemukakan bahwa mendiang telah mengikuti pendidikan dan latihan kewartawanan di PWI Sulsel sejak 1970 di Makassar, kemudian mengikuti Karya Latihan Wartawan (KLW) di Cibutan, Bogor (1976).


Selain itu, lanjut Anwar, mendiang Pak Alex juga pernah mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran TNI AD Kodam VI Siliwangi, di Ciuyah, Bandung (1980), Kursus Orientasi Wartawan Unit Polri Angkatan I di Megamendung, Bogor (1981), Penataran P-4 di Makassar (1980), Orientasi Kewaspadaan Nasional (Orpadnas) di Makassar (1988), serta Pembekalan Keamanan Laut (Kamla) di Seskowal, Jakarta (1994).

Dengan meninggalnya Alex Wacanno, maka jumlah mantan wartawan dan mantan karyawan harian Pedoman Rakyat yang meninggal dunia sudah lebih dari 10 orang.

Mereka adalah LE Manuhua (25 November 2003), Buce Rompas (4 November 2009), dan Petrus Beda (2010), Abdul Djabbar (Abu) Pattisahusiwa (8 November 2010), Hasanuddin alias Hanter (wartawan), Usman Sanaki (karyawan), Arthur Kuse (wartawan), Abdul Latif (karyawan), Indarto (wartawan / 10 Mei 2009), LF Sahertian (karyawan / 25 Juli 2009), dan J B Pinontoan (mantan Direktur Utama PT Media Pedoman Jaya / 19 April 2010).

Reuni Mantan Wartawan PR

Sejumlah mantan wartawan harian Pedoman Rakyat turut melepas jenazah mendiang Alexander Wacanno, antara lain HM Dahlan Abubakar, Ardhy Basir, Jacobus Camarlow, Manaf Rahman, Mahyudin, Supriadi, Asnawin, Muhammad Arafah, Rusdi Sudding, dan Moh Yahya Mustafa.

"Momentum ini sekaligus merupakan reuni bagi mantan wartawan harian Pedoman Rakyat," kata Dahlan Abubakar.

Beberapa mantan wartawan yang tidak sempat hadir mengirimkan salam lewat telepon atau sms kepada penulis.

"Salam sama teman-teman. Saya tidak bisa hadir, karena sekarang saya ada di Kalimantan," kata Syafruddin Tang (mantan fotografer yang kini beralih menjadi pengusaha) via telepon kepada penulis.

"Saya di Sidrap bos," kata Mas'ud Muhammadiyah (mantan wartawan era 80-an yang kini beralih menjadi dosen Universitas 45 Makassar) via sms.

Harian Pedoman Rakyat terbit sejak 1 Maret 1947 dan terbit terakhir pada 2 Oktober 2007). Mantan wartawan Pedoman Rakyat ada yang tetap berprofesi wartawan, ada yang beralih profesi, serta ada pula yang beralih profesi sambil tetap menjadi wartawan.

Selain itu, ada juga beberapa mantan wartawan Pedoman menerbitkan media cetak, antara lain Ardhy Basir menerbitkan tabloid New Pedoman Rakyat, serta Lutfi Qadir yang menerbitkan tabloid Pedoman. (asnawin)

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://pedomanrakyat.blogspot.com]

Komentar

Pos populer dari blog ini

Kode Etik Jurnalistik PWI (Persatuan Wartawan Indonesia)

Mengenang Tiga Tahun Wafatnya Pedoman Rakyat