Selasa, 03 Juli 2007

Perselingkuhan Politik

Perselingkuhan Politik


(Oleh: Asnawin)

Hampir setiap hari, Gogo Putih ke warkop. Sebagai seorang pengusaha yang juga terjun ke dunia politik, dia merasa perlu bahkan hampir mewajibkan dirinya ke warkop setiap hari. Kalau ada hari yang terlewatkan, itu pasti karena dirinya sedang sibuk.
Suatu pagi, dia berangkat dari rumah menuju kantornya. Dia memang selalu ke kantor terlebih dahulu untuk memberikan pengarahan atau sekadar menyapa karyawannya, sebelum ke warkop. Kalau ada urusan penting, ke warkopnya bisa lebih siang atau lebih sore lagi. Yang pasti, dia selalu meluangkan waktu ke warkop.
Di tengah perjalanan menuju kantornya, Gogo Putih merasakan ada keanehan. Dia merasa jalanan yang di tempuhnya agak berbeda dari biasanya, malahan terlalu asing baginya. Model rumah, model kantor, dan orang-orang yang ditemuinya semuanya begitu berbeda.
Di depan sebuah kafe, dia menghentikan mobilnya dan kemudian masuk. Seorang perempuan pelayan kafe datang menyodorkan daftar menu, tetapi tanpa membaca daftar menu, dia langsung memesan kopi susu, roti bakar kaya, dan telur ayam kampung setengah masak dua butir. Si pelayan tampak heran, tetapi ia segera meninggalkan Gogo Putih yang tampak tenang-tenang saja meskipun diliputi keheranan.
Sebelum pesanannya datang, seseorang berpakaian safari yang di belakangnya menyusul beberapa orang berpakaian hitam-hitam, mendatanginya dan langsung menyapa dengan akrab.
''Sudah lama saya ingin bertemu dengan anda. Apa kabar,'' kata pria bersafari dan memakai kaca mata itu sambil menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Gogo Putih.
Gogo Putih memperkirakan usia pria tanpa kumis itu sekitar 50 tahun dan kuat dugaannya bahwa orang itu adalah pejabat di pemerintahan, karena di kantongnya terpasang pin bundar berwarna kuning keemasan. Dia kemudian melirik ke meja sebelah dan menghitung ada lima pria berpakaian hitam yang mengawal si pejabat.
Meskipun tidak mengenal pria itu, Gogo Putih tetap tenang dan sambil tersenyum menyambut uluran tangan si pejabat dan mereka pun bersalaman erat sambil tersenyum.
''Saya baik-baik saja, tetapi saya heran karena tiba-tiba saja saya sudah berada di kota ini,'' ujar Gogo Putih.
Seorang wanita pelayan datang sambil membawa kopi susu, roti bakar kaya, dan telur setengah matang pesanan Gogo Putih, sekaligus membawa jus durian untuk sang pejabat. Gogo Putih dan si pejabat bersamaan mengucapkan terima kasih sambil tersenyum kepada si pelayan yang kebetulan berwajah manis.
Si pejabat kemudian membuka pembicaraan tentang calon pasangannya dalam pemilihan gubernur (pilgub) beberapa bulan mendatang. Calon pasangannya itu seorang pria yang usianya lebih muda lima tahun, tetapi sudah menjabat ketua dewan perwakilan rakyat dan menduduki jabatan strategis di partainya.
''Banyak yang mendukung kami dan mereka optimis kami akan menang dalam pilgub nanti,'' ujar si pejabat.
''Bagaimana dengan partai pendukung anda?'' tanya Gogo Putih.
''Dari empat parpol pendukung, ada dua yang bersandiwara di media,'' kata si pejabat.
''Bersandiwara bagaimana?'' tanya Gogo Putih lagi.
''Ketuanya bilang tidak bisa menerima calon pasangan saya, karena berasal dari partai lain yang tidak mendukung saya. Tetapi saya yakin keduanya kemungkinan besar akan menerima siapapun yang akan saya pilih untuk menjadi calon wakil saya,'' tutur si pejabat.
''Kelihatannya anda begitu yakin?'' ujar Gogo Putih.
''Karena saya sudah beberapa kali membantu mereka, baik kepada pribadi ketuanya, maupun kepada partainya,'' ungkap si pejabat.
''Saya kira itu belum cukup,'' kata Gogo Putih.
''Kami juga sudah ada 'deal-deal' politik, baik untuk menghadapi Pemilu mendatang, maupun dalam pilkada beberapa kabupaten dan kota,'' papar si pejabat.
''Saya kira itu belum cukup untuk memenangkan pilgub nanti. Anda juga harus menjalin komunikasi yang baik dengan orang-orang KPU, serta para bupati dan walikota,'' kata Gogo Putih.
''Saya bersama tim saya sudah berupaya. Mudah-mudahan ada kesepahaman di antara kami nanti,'' kata si pejabat.
Tiba-tiba ponsel si pejabat berdering.
''Maaf, saya terima telepon dulu,'' kata si pejabat lalu berbicara dengan seseorang di balik telepon.
''Maaf, saya sudah dari tadi ditunggu untuk menghadiri suatu acara. Saya tinggal dulu, nanti kita ketemu lagi,'' kata si pejabat lalu bersalaman dengan Gogo Putih dan kemudian pergi bersama lima pengawalnya.
Tak lama kemudian, ponsel Gogo Putih juga bergetar. Sebelum getarannya hilang dan berubah menjadi bunyi, dia langsung mengangkatnya.
''Warkop menunggu kehadiran anda, teman-teman sudah menunggu,'' terdengar suara seorang pria dari balik telepon.
''Saya memang mau ke warkop, tetapi sekarang saya berada di sebuah kota yang sangat asing,'' kata Gogo Putih.
''Jangan-jangan anda kesasar ke Negeri Antah-berantah,'' kata pria itu sambil tertawa.
''Saya tidak tahu, tetapi saya benar-benar ingin pulang,'' kata Gogo Putih.
''Saran saya, tenangkan diri sejenak lalu berdoa, kemudian anda naik ke mobil dan membawanya dengan santai,'' kata pria itu lagi.
Gogo Putih kemudian mengikuti saran itu dan entah bagaimana tiba-tiba dia sudah berada di jalan menuju warkop tempat pria yang menelepon tadi sedang ngopi dengan beberapa rekannya.

Makassar, 29 April 2007
(Dimuat di Harian Pedoman Rakyat
Makassar, 30 April 2007)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar