Minggu, 01 Juli 2007

Dulu Berwibawa, Aman, dan Damai

Dulu Berwibawa, Aman, dan Damai


Oleh Asnawin
---------------------
email:
asnawin@hotmail.com

MANTAN Raja Negeri Angin, Suka Batuk, sedang nonton tivi sambil tidur-tiduran. Di usianya yang sudah lebih 80 tahun, ia banyak menghabiskan waktu dengan membaca koran, nonton tivi, dan beribadah. Sesekali ia bercanda dengan cucu-cucu dan cicitnya.
Ketika asyik nonton tivi, tiba-tiba ada berita sekilas info bahwa sejumlah penari 'liar' tampil di luar agenda acara peringatan Hari Keluarga Kerajaan Negeri Angin.
Mereka bukan hanya tampil menari, melainkan juga mengibarkan bendera Republik Negeri Angin Selatan (RNAS) di depan Raja Negeri Angin, Pangeran Suka Baca, sejumlah pejabat kerajaan, dan sejumlah Duta Besar kerajaan-kerajaan sahabat.
Mantan Raja Negeri Angin, Suka Batuk, langsung terbatuk-batuk dan mencak-mencak melihat berita sekilas info itu.
''Seharusnya ini tidak terjadi,'' katanya.
Pada malam hari, Suka Batuk kemudian melihat berita selengkapnya tentang kejadian pengibaran bendera RNAS di hadapan Raja Negeri Angin.
Kehadiran lebih 20 orang penari 'liar' itu mengagetkan semua orang, terutama karena tiba-tiba mereka mengibarkan bendera RNAS.
Raja Negeri Angin, Pangeran Suka Baca, yang jarang bicara, jarang menanggapi berbagai kritikan terhadap dirinya, dan juga jarang marah, kali ini langsung murka.
Pangeran Suka Baca sangat murka. Mukanya merah. Matanya merah. Tangannya gemetar. Tetapi meskipun murka, Pangeran Suka Baca ternyata masih mampu mengendalikan diri.
Setelah aparat keamanan menggiring para penari 'liar' itu keluar dari lapangan upacara, Raja Suka Baca kemudian tampil ke podium memberikan sambutan.
Semua orang tegang dan menunggu apa yang akan dititahkan Raja, namun Raja Suka Baca hanya mengatakan bisa memahami kejadian tersebut dan memerintahkan agar insiden itu diusut tuntas.
"Kasus ini harus diinvestigasi. Jangan sampai orang lain yang bikin, semua kena getahnya," tandasnya sebelum membacakan naskah sambutannya.

Bungkam, Tangkap, Tembak

Setelah melihat tayangan berita tersebut, Suka Batuk yang nonton tivi bersama beberapa anak, menantu, dan cucu-cicitnya, hanya batuk-batuk kecil. Di bibirnya tersungging senyuman, tetapi dadanya berdebar menahan amarah.
Ketika masih menjabat sebagai Raja, tidak ada orang atau pihak yang berani melakukan hal-hal yang bisa membuat dirinya malu apalagi marah.
Kalau ada yang berani, mereka pasti 'dihabisi'. Ada yang ditembak, ada yang diculik, dan ada yang hilang entah kemana.
Kalau Raja batuk sambil menutup mulut, maka itu berarti perintah untuk 'bungkam orang itu'. Kalau Raja batuk tanpa menutup mulut, maka itu berarti 'tangkap orang itu'. Kalau Raja batuk sambil memegang dada, maka itu berarti 'tembak orang itu.'
Jangankan rakyat biasa, anggota parlemen pun 'dihabisi' kalau mencoba melawan atau mengeritik dirinya. Seorang anggota parlemen yang agak vokal, pernah merasakan akibatnya dengan di-'recall' dari kursi parlemen ketika mengeritik Sang Raja.
Suka Batuk yang mantan Panglima Keamanan Kerajaan Negeri Angin, memang bertangan besi, tetapi wibawa kerajaan dan wibawa Raja menjadi terjaga. Kerajaan lain pun hormat kepada Suka Batuk.
Rakyat memang banyak yang tidak puas atas kepemimpinannya yang bertangan besi, tetapi di sisi lain rakyat bisa menghirup udara bebas dan aman di Negeri Angin.
Tidak ada aksi unjuk rasa yang memacetkan jalanan. Tidak ada isu terorisme. Tidak ada perang antaretnis atau antarkelompok. Tidak ada pembantaian besar-besaran. Tidak ada bom yang meledak di tengah keramaian dan menewaskan orang banyak. Tidak ada orang atau pihak yang berani mengibarkan bendera selain bendera kerajaan di depan Raja.
Rakyat memang banyak yang tidak puas atas kepemimpinan Raja Suka Batuk yang konon korup dan menganakemaskan militer, tetapi di sisi lain rakyat bisa bernafas lega karena harga barang-barang kebutuhan sehari-hari tetap terjangkau, biaya sekolah tidak terlalu mahal, dan biaya pengobatan pun masih normal.
''Saya memang melakukan banyak kesalahan selama kurang lebih 30 tahun menjadi raja, tetapi semua orang kini mengenang masa-masa damai dan aman ketika saya menjadi raja,'' kata Suka Batuk dalam hatinya.

Makassar, 1 Juli 2007

(Dimuat di Harian Pedoman Rakyat
Makassar, 2 Juli 2007)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar