Jumat, 31 Juli 2009

Doddy Amiruddin: Menabrak Pohon tetapi Selamat



MENABRAK POHON. Pada malam harinya, dia secara sembunyi-sembunyi mengeluarkan mobil ayahnya dan memacunya dengan kecepatan tinggi, padahal saat itu ia belum mahir mengendarai mobil. Entah darimana datangnya, sebuah sepeda motor melintas dan Doddy berupaya menghindarinya, tetapi naas, mobilnya menabrak pohon. Mobil hancur berantakan dan Doddy bersama saudara sepupunya tidak sadarkan diri.






--------
Doddy Amiruddin


Menabrak Pohon tetapi Selamat


“Kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-pengalaman spiritual. Kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalaman manusiawi.”
Begitulah ucapan seorang ustaz puluhan tahun silam yang masih melekat di benak anggota DPRD Sulsel, Doddy Amiruddin.
Oleh ibu dan bapaknya (Prof Dr A Amiruddin, mantan Rektor Unhas dan mantan Gubernur Sulsel), dia mengaku dididik menjadi orang yang berpikiran logis dan rasional.

Oleh kakek dan pamannya dari pihak bapak, Doddy merasa diisi pikiran dan hatinya dengan hal-hal yang berkaitan dengan budaya (Bugis-Makassar) dan agama.
Salah satu ajaran dari kakek dan pamannya yaitu seorang anak Bugis baru bisa dikatakan laki-laki kalau sudah dapat melakukan tiga hal, yakni berenang, memanjat pohon, dan berkelahi.
Maka Doddy pun berlatih berenang. Hasilnya, dia mampu berenang dari bibir Pantai Losari ke Pulau Lae-lae (Makassar) pulang pergi. Ketika kuliah di Amerika Serikat, ia juga membuat orang terheran-heran karena berhasil berenang menyeberangi danau yang cukup luas.
Oleh pamannya, dia dimasukkan pada tiga perguruan bela diri sekaligus, tetapi ia tidak suka berkelahi. Meskipun demikian, ia sama sekali tidak pernah takut berkelahi.
Dalam hal memanjat pohon, Doddy mengaku termasuk orang takut pada ketinggian sehingga tidak berani melakukannya. Namun ketika kakeknya meninggal, keberanian dan kelaki-lakiannya sebagai anak Bugis-Makassar langsung muncul.
“Sewaktu Attah (panggilan akrabnya kepada sang kakek) berpulang, saya sangat terpukul,” ungkapnya.
Pada malam harinya, dia secara sembunyi-sembunyi mengeluarkan mobil ayahnya dan memacunya dengan kecepatan tinggi, padahal saat itu ia belum mahir mengendarai mobil. Entah darimana datangnya, sebuah sepeda motor melintas dan Doddy berupaya menghindarinya, tetapi naas, mobilnya menabrak pohon. Mobil hancur berantakan dan Doddy bersama saudara sepupunya tidak sadarkan diri.
“Entah apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu. Saya tidak merasakan sakit sedikit pun. Semua terasa senyap dan seakan-akan bayangan wajah kakek yang baru saja meninggal, melintas di hadapan saya. Beliau berpesan, jadilah anak yang baik. Ingat, kamu adalah anak Bugis. Kamu jangan ke mana-mana. Kamu harus berada di sini,” tuturnya.
Semua orang mengira Doddy dan sepupunya meninggal dunia, tetapi keduanya ternyata selamat. Sepupunya mengalami patah tulang hidung dan harus dioperasi, sedangkan Doddy mendapat jahitan yang panjang di kaki kiri dan selama beberapa pekan dirawat karena cedera.
Setelah selamat dari tabrakan maut, Doddy lebih taat beribadah dan tidak takut lagi memanjat pohon. Dia pun memberanikan diri memanjat pohon asam di depan rumahnya. Meskipun kakinya agak menggigil, dia akhirnya mampu mencapai puncak pohon. Karena penasaran, esoknya ia kembali memanjat pohon dan kali ini pohon mangga di belakang rumahnya yang berdiameter 2 meter dan tingginya diperkirakan 15 meter.
“Saya ternyata berhasil memanjat pohon tersebut, tetapi saya tidak dapat turun dari pohon. Seisi rumah heboh dan mereka pun mencoba mencari orang yang dapat menurunkan saya. Setelah beberapa lama, tiba-tiba ayah saya keluar dari dalam rumah. Tidak seperti biasanya, kali ini dia tampak tenang lalu berkata, ayo kamu turun sendiri. Kamu laki-laki. Membutuhkan waktu agak lama, namun akhirnya saya berhasil turun sendiri. Setelah kejadian itu saya sadar bahwa konsep berenang, memanjat, dan berkelahi, rupanya diajarkan secara turun-temurun di keluarga saya,” papar Doddy. (asnawin/pr)

Pedoman Rakyat, 13 September 2006

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar