Blog Grup Pedoman Rakyat

Selasa, 26 November 2013

Prostitusi di Bira dan Fisolofi Hidup Suku Kajang


KEINDAHAN objek wisata pantai Tanjung Bira Bulukumba "tercemar" oleh praktek prostitusi terselubung. Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan kehidupan masyarakat kawasan adat Suku Kajang Bulukumba, yang tetap menjaga fisolofi hidup menyatu dengan alam. Dua hal inilah yang menjadi objek penelitian mahasiswa S3 Sosiologi Program Pascasarjana (PPs) Universitas Negeri Makassar (UNM), 22-25 November 2013. (ist)


----------------

Prostitusi di Bira dan Fisolofi Hidup Suku Kajang


Praktek prostitusi di kawasan wisata pantai Tanjung Bira Bulukumba dan fisolofi hidup warga kawasan suku adat Kajang Ammatoa, di Bulukumba, menjadi objek penelitian mahasiswa program doktoral (S3) Sosiologi, Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar, 22-25 November 2013.

Dari penelitian tersebut, mahasiswa menemukan fakta bahwa kawasan wisata Tanjung Bira kini sudah "tercemar" dengan maraknya praktek prostitusi dan sesk bebas. Praktek prostitusi dibungkus dengan pembukaan kafe dan tempat hiburan malam (THM).

Kondisi berbeda terjadi di kawasan wisata Suku Kajang Ammatoa, Bulukumba. Warga yang menetap dalam kawasan tanah adat dan dipimpin seorang kepala suku bergelar Ammatoa, tetap survive dan bertahan hidup dengan perilaku hidup menyatu dengan alam, walau setiap saat dikepung dengan gempuran modernisasi dan kapitalisasi.

Kordinator Riset Lapangan, Andi Asri SKM MKes, mengatakan, riset di kawasan wisata Tanjung Bira, lebih pada praktek prostitusi yang dibungkus dengan cafe serta hiburan, sedangkan untuk di tanah adat Kajang, lebih kepada filosofi para warga Kajang yang memertahankan adat dan budaya untuk menyatu dengan alam.

Selama berada di lokasi, katanya, para mahasiswa yang dominan dosen itu dibagi dalam delapan kelompok untuk melakukan observasi beberapa masalah di antaranya, perilaku komunitas.

Observasi juga dilakukan pula terhadap jaringan institusi yang terlibat, pola inter-relasi jaringan-jaringan sosial, alat-alat produksi/kehidupan yang digunakan, infrastruktur konsumerisme, kelanggenan dominasi, peristiwa menggambarkan adanya perubahan sosial serta potensi pemberdayaan.

"Fakta dan data lapangan yang diperoleh selama observasi, kemudian disusun dalam bentuk laporan. Di antara delapan masalah, beberapa akan dipilih kemudian diseminarkan pada akhir tahun 2013 di kampus PPs UNM," papar Andi Asri.

Dia menambahkan, rekomendasi dari seminar akan menjadi bahan masukan bagi para pengambil kebijakan di tingkat Pemerintah Kabupaten Bulukumba dan Pemerintah Provinsi Sulsel.

Ketua Prodi S3 Sosiologi PPs-UNM, Prof Andi Agustang, mengatakan, program riset sosial dengan terjun langsung ke lapangan, baru pertama kali dilakukan dan akan menjadi bagian dari pengembangan kurikulum mulai tahun akademik 2013/2014 dan seterusnya.

"Kegiatan ini pada dasarnya untuk lebih mendekatkan mahasiswa dengan masalah dan fakta sosial yang ada. Bukan zamannya lagi mahasiswa mencari fenomena dan masalah hanya di belakang meja atau di perpustakaan," imbuhnya.

Berita ini diolah Asnawin dari:
http://www.republika.co.id/berita/trendtek/sains/13/11/24/mwrsqf-mahasiswa-prodi-doktor-riset-kawasan-wisata-tanjung-bira

------------------

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar