Rabu, 29 Agustus 2007

Pesta Rakyat dan Pesta Penguasa

Pesta Rakyat dan Penguasa

Oleh : Asnawin
email : asnawin@hotmail.com

Negeri Khatulistiwa tengah diliputi suasana peringatan kemerdekaan. Banyak sekali kegiatan yang dilakukan oleh kerajaan, oleh berbagai lembaga, oleh berbagai organisasi, dan oleh rakyat.

''Saya merasa senang karena masih bisa menyaksikan berbagai kegiatan dalam rangka peringatan proklamasi,'' kata Daeng Tompo, pria berusia 70 tahun lebih, kepada rekannya Daeng Ngawing, yang usianya tidak jauh beda dengannya.

Mereka berdua masih bocah berusia sekitar sepuluh tahun, ketika Negeri Khatulistiwa memerdekaan diri dari penjajahan Negeri Kincir Angin.

Daeng Tompo senang karena berbagai lomba telah dan sedang dilaksanakan di kelurahannya.

Daeng Tompo yang masih dipercaya menjabat Ketua RW, gembira karena di kelurahannya ada lomba mendongeng, lomba senam poco-poco, lomba pidato, lomba karaoke, lomba joget, lomba panjat pinang, pertandingan sepakbola yang pemainnya semua laki-laki tetapi memakai daster, pertandingan domino, dan macam-macam lomba, serta pertandingan lainnya.

Penyerahan hadiah kepada para pemenang akan dilakukan pada acara puncak yang diberi nama Pesta Rakyat Tingkat Kelurahan.

Pesta Rakyat dijadikan puncak pesta peringatan kemerdekaan, sehingga suasananya dibuat semeriah mungkin. Panggung Pesta Rakyat diramaikan oleh spanduk, umbul-umbul, baliho, serta berbagai pernak-pernik untuk menampakkan kemeriahan.

Rakyat yang tidak memiliki kesibukan atau bisa meluangkan waktu di tengah berbagai kesibukannya, banyak yang berupaya terlibat dalam pelaksanaan rangkaian Pesta Rakyat itu.

"Dulu, kita juga turut gembira mendengarkan pekikan merdeka dan melompat-lompat kegirangan," kata Daeng Ngawing sambil mengepulkan asap rokoknya.

"Padahal, kita tidak tahu mengapa kita turut gembira ketika itu, ha...ha...ha...," ujar Daeng Tompo seraya mengulurkan tangan kanannya mengambil cangkir berisi kopi hangat.

"Ya, yang penting turut bergembira, padahal tidak ada lomba. Kita juga bukan juara lomba, dan tidak ada panjat pinang, apalagi pesta rakyat," kata Daeng Ngawing yang penjual kain di pasar.

"Yang penting kita gembira, ha..ha..ha....," kata Daeng Tompo seusai menyeruput kopinya.

"Mungkin anak-anak sekarang juga seperti kita dulu. Mereka gembira tetapi tidak tahu mengapa gembira. Mereka tidak tahu makna di balik kegembiraan itu, makna di balik peringatan kemerdekaan," kata Daeng Ngawing tersenyum.

Pesta Penguasa

Daeng Tompo yang purnawirawan tentara berpangkat Letnan, tiba-tiba sedih. Air matanya meleleh. Dia sedih dan merasa berdosa, karena anak-anak dan generasi muda sekarang banyak yang larut dalam kegembiraan, tetapi tidak tahu makna di balik peringatan kemerdekaan itu.

Daeng Tompo merasa berdosa karena gagal menyampaikan pesan-pesan dan semangat perjuangan kemerdekaan kepada anak-anak dan cucu-cucunya. Daeng Tompo juga sedih, karena Pesta Rakyat tahun ini dimanfaatkan oleh penguasa untuk mencari popularitas.

Sejumlah oknum penguasa telah memanfaatkan Pesta Rakyat untuk berkampanye, karena mereka masih ingin kembali terpilih sebagai penguasa.

"Pesta Rakyat tahun ini sebenarnya juga sudah menjadi Pesta Penguasa. Penguasa atau oknum penguasa turut berpesta untuk mencari popularitas demi kepentingan pribadi," ungkap Daeng Tompo sambil menyeka air matanya.

"Apa boleh buat, daeng. Inilah kondisi negara kita sekarang ini," kata Daeng Ngawing yang juga tak bisa menahan air matanya mengalir di pipi.

Makassar, 26 Agustus 2007

copyright@pedomanrakyat
Senin, 27 Agustus 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar