Blog Grup Pedoman Rakyat

Kamis, 23 Agustus 2012

Napak Tilas ke Masa Silam di Bulukumba (1):



Ahad, 19 Agustus 2012, saya melakukan napak-tilas dengan mengunjungi SD Negeri 10 Ela-ela, Bulukumba. Tiga puluh delapan tahun silam, seorang bocah laki-laki, dengan gembira dan penuh semangat berjalan kaki kurang lebih satu setengah kilometer dari rumahnya ke sekolah. Hari itu adalah hari pertamanya masuk sekolah. (Foto: dok pribadi)




Napak Tilas ke Masa Silam di Bulukumba (1):
Ribuan Pelajar Berjalan Kaki ke Sekolah


Oleh: Asnawin

Tiga puluh delapan tahun silam, seorang bocah laki-laki, dengan gembira dan penuh semangat berjalan kaki kurang lebih satu setengah kilometer dari rumahnya ke sekolah. Hari itu adalah hari pertamanya masuk sekolah, di SD Negeri 10 Ela-ela, Kecamatan Ujungbulu, Kabupaten Bulukumba.

Bocah itu berjalan kaki bersama dua kakaknya yang juga bersekolah di sana. Mereka bertiga berjalan tanpa beban, bahkan suasana hati mereka diliputi kegembiraan, karena ratusan bahkan mungkin ribuan pelajar lainnya juga berjalan kaki ke sekolah.

Ya, ketika itu, anak-anak sekolah lebih banyak berjalan kaki. Sangat jarang anak yang naik sepeda atau naik motor ke sekolah. Maka, bukanlah pemandangan asing kalau setiap pagi terlihat ratusan anak berjalan beriringan berjalan kaki dari rumah ke sekolah. Malah, ada anak yang berjalan kaki sejauh empat atau lima kilometer setiap hari dari rumah ke sekolah, begitu pun sebaliknya dari sekolah ke rumah.

SD Negeri 10 Ela-ela ketika itu, baru sebagian gedungnya yang permanen, selebihnya masih berupa dinding kayu dan berlantai tanah. Pagar depan dihiasi dengan pohon ”kayu cina” yang daunnya sering dijadikan makanan untuk kambing peliharaan.

Halaman depan selalu dijadikan tempat bermain sepakbola setiap jam istirahat (dulu istilahnya ”keluar-main”). Halaman belakang sekolah kami penuh dengan ilalang, tumbuh-tumbuhan, dan pohon-pohon besar. Di sana, sang bocah bersama teman-temannya selalu bermain, berkejar-kejaran, dan kadang-kadang berkelahi.

Para guru menggunakan kapur putih sebagai alat tulis di papan lebar berwarna hitam. Maka tak heran kalau para pahlawan tanpa tanda jasa ketika itu setiap hari mencuci tangannya yang berlumur kapur putih.

Bocah laki-laki berusia tujuh tahun itu tanpa canggung sama sekali, bergabung dengan teman-temannya sesama murid baru. Tak ada beban sama sekali. Di benaknya hanya ada suasana gembira, karena dirinya sudah memakai seragam sekolah dan sudah berada di sekolah bersama ratusan murid SD lainnya.

Selama enam tahun lamanya, bocah itu belajar, bermain, dan bergaul dengan teman-temannya sesama bocah di SD 10 Ela-ela. Selain belajar, bermain, dan bergaul, bocah itu juga beberapa kali mengikuti kegiatan lain seperti pramuka, berkemah, mengikuti lomba baca sajak, mewakili sekolahnya mengikuti lomba cerdas-cermat, dan lomba murid teladan.

Sejak kelas satu sampai dengan kelas empat, ia ditunjuk sebagai ketua kelas, tetapi setelah naik kelas lima, ia meminta kepada guru wali kelasnya agar digantikan oleh temannya yang lain.

Sebagaimana murid SD lainnya, sang bocah juga tentu saja pernah melakukan kesalahan dan mendapat hukuman dari guru atau kepala sekolah, antara lain karena berkelahi atau mengganggu murid lain.

Sang bocah bersekolah di SD Negeri 10 Ela-ela selama enam setengah tahun, karena kebetulan waktu itu pemerintah Indonesia sempat memperpanjang satu semester waktu belajar sekitar tahun 1978. Sang bocah masuk sekolah pada awal Januari 1974 dan tamat pada pertengahan 1980.

Bocah itu tak lain adalah saya sendiri, Asnawin. Teman seangkatan saya waktu itu, antara lain Obet (sekarang di Kendari), James, Daud Kahal (pejabat di lingkup Pemkab Bulukumba), Suryanama (Riri’), Baharuddin (pejabat di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemkab Bulukumba), Ermawati, Rano, Najmiati (Naje’), Rahbiah (Bia), Ambo Masse, Ambo Rappe, Baso, dan Nurdin.

Kepala sekolah waktu itu dijabat Muhammad Saleh BA, tetapi saat kami tamat beliau sudah dipindahkan ke sekolah lain, sehingga ijazah kami ditandatangani oleh penilik (sekarang pengawas sekolah) Drs Ambo Rasyid.

Guru kami waktu itu antara lain, ibu Illang (maaf saya lupa nama aslinya, beliau adalah isteri dari Muhammad Saleh), pak Aminuddin (ayah saya), ibu Nur’aeni, ibu Nurwahidah, ibu Fatimah, pak Paremma, ibu Kamsina, ibu Hamsina, dan ibu Mariyama.

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog Pedoman Rakyat : http://pedomanrakyat.blogspot.com]

1 komentar:

  1. tolong dong dipostingkan budaya politiknya kabupaten bulukumba....
    masalahnya susah bwanget nemuin di internet,,,
    klw bisa secepatnya yah karena initugas kuliah..............

    BalasHapus