Blog Grup Pedoman Rakyat

Selasa, 20 Oktober 2009

Profil Susilo Bambang Yudhoyono (4)



SBY-Kristiani Herawati (4)
Keluarga Harmonis dan Relijius


Duduk di tingkat empat sebagai Komandan Divisi Korps Prajurit Taruna (Dankorpratar) Akabri, Magelang, Jawa Tengah, taruna Susilo Bambang Yudhoyono suatu waktu harus menghadap melapor ke Gubernur Akabri, Mayor Jenderal TNI Sarwo Edhie Wibowo. Saat itu untuk pertama kali di rumah dinas sedang berkunjung putri ketiga yang paling disayangi Sarwo Edhie, Kristiani Herrawati, atau Ani.

Ani memilih menetap tinggal di Jakarta tak ikutan penunjukan sang ayah hijrah sebagai Gubernur Akabri ke Magelang. Pandangan mata antara Susilo dan Ani tak terhindarkan. Jantung Susilo berdetak kencang pipi Ani tersipu malu. Keduanya menyempatkan diri berkenalan.

“Dia dewasa sekali,” kenang Ani tentang pria muda berpostur tinggi besar tampak gagah berpakaian dinas taruna memikat hatinya. Ani adalah wanita muda berparas cantik. Susilo ingin mengenal Ani lebih dekat. “Itu, saya kira jalan Tuhan,” sebut Susilo mengenang pertemuan pertama mereka.

Hubungan kedua sejoli kian dekat. Ani tetap tinggal di Jakarta, tahun 1973 dia sudah tingkat tiga kuliah di Universitas Kristen Indonesia (UKI). Dengan Susilo yang masih taruna di Magelang dia merajut tali kasih melalui surat-menyurat.

Ani kemudian berencana tinggal menetap sementara di Seoul kali ini mengikuti jejak sang ayah Sarwo Edhie Wibowo yang pasca Gubernur Akabri ditugaskan menjadi Duta Besar dan Berkuasa Penuh RI di Korea Selatan, berkededukan di Seoul.

Sebelum berangkat, pada Februari 1974 Susilo dan Ani menyempatkan diri bertunangan. Dan satu setengah tahun kemudian Ani sudah kembali berada ke tanah air. Sayang, Susilo justru sedang tugas belajar pendidikan Airborne dan Ranger di Amerika Serikat. Baru setelah Susilo kembali dari Negeri Paman Sam, pada 30 Juli 1976 keduanya sepakat menikah membina rumahtangga baru.

Hanya sempat berbulan madu beberapa hari Susilo sudah harus menyusul anggota pasukannya ke Timor Timur menjalankan tugas. Ani sudah siap untuk hal itu. Sepuluh tahun kemudian kejadian sama berulang. Susilo ke daerah Timor Timur, yang pada tahun 1986-1988 masih belum sepenuhnya aman. “No news is a good news,” atau jika tidak ada berita itu berarti adalah berita bagus, pesan Susilo, menenangkan hati istri untuk tidak perlu mengkhawatirkan keselamatannya.

Ketika pada bulan Desember 1977 Herrawati diidentifikasi hamil kegembiraan Susilo luar biasa senang. Susilo adalah anak tunggal semata wayang. Ada rasa takut padanya jika istrinya susah hamil. Rumahtangga harmonis itu akhirnya dikaruniai dua orang putra. Agus Harimurti Yudhoyono, kini seorang letnan satu infantri, dan si bungsu Edhie Baskoro Yudhoyono yang sedang menyelesaikan pendidikan sekolah bisnis S-2 di Australia.

Selalu musyawarah
Sebelum memutuskan sesuatu keluarga Susilo selalu mengedepankan musyawarah. Susilo tak pernah mengambil keputusan, apalagi jika tentang rumah tangga, sebelum berbicara dengan istrinya. Kehidupan keluarga ini berjalan harmonis.

Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY punya pelajaran politik sangat berharga. Pada 25 Juli 2001 dia kalah dalam pemilihan wakil presiden hanya karena tak punya kendaraan politik berupa partai. Sebagai demokrat sejati dia lalu menyadari tak mungkin mengandalkan anugerah atau priviledge diberikan oleh kekuasaan.

Terjun ke politik harus menjunjung norma dan etika demokrasi. Untuk meraih kekuasaan dituntut berjuang melalui partai politik. Siapapun jika ingin mencalonkan diri sebagai presiden atau wakil presiden harus memiliki basis partai politik tersendiri.

SBY lantas membidani kelahiran Partai Demokrat sebagai jalan yang sah, adil, dan fair berkompetisi dalam proses penyelenggaraan berbangsa dan bernegara. Orang baru bisa dikatakan berkeringat jika sudah berjuang melalui partai politik sebagai pemimpin, pengurus, atau anggota partai.

Pengunduran diri SBY sebagai Menko Polsoskam dari Kabinet Persatuan Nasional pimpinan Gus Dur, pada 1 Juni 2001, memberinya banyak waktu membentuk partai, mempersiapkan rumusan anggaran dasar/anggaran rumah tangga partai, garis perjuangan, bendera, lambang, mars, dan beragam piranti lunak lainnya.

Sedang berada di puncak kesibukan itu SBY menerima telepon dari Megawati Soekarnoputri, yang sudah naik menjadi Presiden menggantikan Gus Dur sejak 23 Juli 2001. “Saya meminta Mas untuk membantu saya lagi, dengan jabatan seperti dulu, sebagai Menko Polkam,” suara merdu Megawati di telepon.

“Bu, kalau ini memang kepercayaan, kemudian untuk tujuan yang baik, untuk pemerintahan kita, saya siap mengemban tugas itu,” jawab SBY singkat menerima.

Pengelolaan partai berlambang segitiga merah putih kemudian dia serahkan kepada Prof. Subur Budhisantoso, mantan rektor Universitas Indonesia (UI), dan Prof. Dr. Irzan Tandjung, gurubesar Fakultas Ekonomi UI (FE-UI) sebagai ketua umum dan sekretaris jenderal, dan kawan-kawan lainnya. Partai yang diberi nama Partai Demokrat didaftarkan ke Departemen Kehakiman & HAM pada 9 September 2001, tepat pada usia SBY ke-52.

Partai Demokrat dideklarasikan oleh 99 tokoh pendiri pada 17 Oktober 2002 di Jakarta, dihadiri pengurus 29 DPD Propinsi. Esoknya, 18 Oktober 2002 berlangsung Rapat Kerja Nasional I di Jakarta. Platform partai ditetapkan nasionalis religius, humanisme, dan pluralisme.

Tujuan jangka pendek partai ikut Pemilu 2004, jangka panjang partai memiliki garis ideologi yang nyaman tanpa menyisakan pengkotak-kotakan istilah partai agama, nasionalis, apalagi sekuler. SBY sangat ingin muncul partai yang mampu menyatukan kaum nasionalis dengan kaum agama, yang mayoritas Islam, dalam satu wadah.

Ideologi Partai Demokrat dirumuskannya nasionalis religius. Kaum beragama tetap mencintai bangsanya dan kaum nasionalis taat dalam beragama. “Dalam 10 hingga 15 tahun mendatang, Partai Demokrat harus menjadi partai kader yang terus disempurnakan,” kata SBY.

Partai Demokrat bukan hanya bisa ikut Pemilu Legislatif 5 April 2004. Fantastis, Partai Demokrat mampu lolos electoral threshold, masuk lima besar meraih suara di atas tujuh persen, berhak mengajukan Calon Presiden yaitu Susilo Bambang Yudhoyono dan Calon Wakil Presiden M Jusuf Kalla atau SBY-JK, bahkan mampu meraih 57 kursi parlemen.

Partai Demokrat adalah kekuatan alternatif baru yang memiliki konsep bagus mengelola negara melalui figur SBY-JK. Jika Partai Demokrat dijuluki “Bintang Pemilu 5 April 2004”, demikian pula SBY-JK “Bintang Bersinar Pemilu Presiden 5 Juli 2004”, pasti halnya demikian pula pada 20 September 2004. Keluarga harmonis SBY-Ani akan menjadi sebuah Keluarga Presiden yang harmonis. ►ht

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar