Fenomena Ilham dan Syahrul di Sulsel

Fenomena Ilham dan Syahrul di Sulsel




Oleh Asnawin
Mahasiswa S2 Ilmu Komunikasi Universitas Satria, Makassar

(Artikel ini dimuat harian Tribun Timur, Makassar, pada Selasa, 7 Desember 2010, http://www.tribun-timur.com/read/artikel/139980/Fenomena_Ilham_dan_Syahrul_di_Sulsel)

Ada dua nama yang cukup fenomenal di Sulawesi Selatan pada tahun 2010, yaitu Ilham Arief Sirajuddin dan Syahrul Yasin Limpo. Keduanya begitu populer pada tahun 2010. Mereka berdua adalah newsmaker, pembuat berita. Hampir tiada hari tanpa berita tentang Ilham dan Syahrul pada koran-koran harian di Sulawesi Selatan sepanjang tahun 2010.

Terlepas dari berbagai efek yang ditimbulkan, Ilham dan Syahrul telah sukses menjadi komunikator yang baik. Mereka berdua sudah berhasil mengirim pesan yang begitu kuat, baik pesan tersurat dan maupun pesan tersirat kepada masyarakat Sulsel selaku khalayak, bahwa mereka adalah dua putra terbaik Sulsel saat ini dalam bidang politik.

Ilham dan Syahrul mampu menyusun dengan baik isi pesan yang akan disampaikan kepada khalayak, sehingga pesan tersebut mudah dimengerti oleh khalayak. Mereka berdua juga paham betul mana media yang paling tepat untuk mengirimkan pesan kepada khalayak dan tahu bagaimana cara mengantisipasi gangguan yang akan muncul pada proses pengiriman pesan tersebut.

Di penghujung tahun 2010, Ilham Arief Sirajuddin yang tidak lain Walikota Makassar terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Partai Demokrat Sulsel. Setahun lalu, tepatnya pada November 2010, Ilham kalah dari Syahrul dalam pemilihan Ketua Partai Golkar Sulsel. Syahrul yang menjabat Gubernur Sulsel ketika itu juga terpilih secara aklamasi.

Dengan keberhasilan itu, Ilham Arief Sirajuddin telah mencatatkan dirinya sebagai orang pertama yang pernah memimpin dua partai politik besar di Sulawesi Selatan, yaitu Partai Golkar dan Partai Demokrat. Sebelum kalah dari Syahrul, Ilham tercatat sebagai Ketua Partai Golkar Sulsel pengganti antarwaktu menggantikan Amin Syam.

Prestasi Ilham Arief Sirajuddin tersebut dapat dikatakan cukup fenomenal. Tidak banyak orang yang mampu berjuang dan akhirnya berhasil terpilih sebagai ketua umum pada dua partai politik besar di tingkat provinsi.

Sebelumnya, Ilham juga telah mencatat beberapa prestasi yang cukup fenomenal, antara lain berhasil menjadi Walikota Makassar (2004-2009) pada usia 39 tahun (lahir 16 September 1965),  kemudian terpilih kembali sebagai Walikota Makassar periode 2009-2014. Pada usia 36 tahun (2001), dia terpilih sebagai Ketua Partai Golkar Kota Makassar. Dua tahun sebelumnya, Ilham terpilih sebagai anggota DPRD Sulsel dalam usia 34 tahun (1999).

Syahrul Yasin Limpo juga tampil fenomenal sepanjang tahun 2010, baik sebagai Gubernur Sulsel maupun sebagai Ketua Partai Golkar Sulsel. Sebagai Gubernur Sulsel, Syahrul berhasil mengkomunikasikan berbagai kebijakannya melalui berbagai media, sehingga dapat diterima dengan baik oleh berbagai elemen masyarakat.

Kebijakannya yang cukup fenomenal yaitu program pendidikan dan kesehatan gratis. Sebagai Ketua Partai Golkar Sulsel, Syahrul juga sukses memenangkan 70 persen pelaksanaan  pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) pada 10 kabupaten se-Sulsel pada 2010.

Golkar memenangi pemilukada pada tujuh dari 10 kabupaten di Sulsel, yaitu di Selayar (Syahrir Wahab), Gowa (Ichsan Yasin Limpo), Pangkep (Syamsuddin Batara Hamid), Barru (Andi Idris Syukur), Luwu Timur (Andi Hatta Marakarma), Tana Toraja (Theofilus Allolerung), dan Luwu Utara (Arifin Djunaid).

Catatan prestasi Syahrul tentu akan lebih panjang kalau kita membuka lembaran catatan kariernya dalam beberapa tahun sebelumnya, antara lain dia berhasil menjadi Bupati Gowa dua periode berturut-turut, menjadi Wagub Sulsel, dan kemudian menjadi Gubernur Sulsel periode 2008-2013.

Prestasi yang dicatat Ilham dan Syahrul hingga di akhir tahun 2010 ini, sekali lagi, merupakan pesan yang sangat kuat kepada masyarakat Sulsel bahwa mereka berdua adalah dua putra terbaik Sulsel saat ini dalam bidang politik, apalagi keduanya juga adalah "kosong satu" di pemerintahan.

Dua Kubu

Dengan berbagai keberhasilan keduanya di partai politik dan di pemerintahan, mungkin tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa Ilham dan Syahrul Yasin Limpo bukanlah manusia standar. Mereka berdua berada di atas standar atau di atas rata-rata orang Sulawesi Selatan pada umumnya dalam bidang yang digelutinya.

Sebagai ketua umum partai politik, Ilham dan Syahrul tentu banyak berpengaruh  terhadap perilaku Partai Demokrat Sulsel dan Partai Golkar Sulsel dalam menyikapi berbagai situasi dan kondisi untuk menyukseskan program-program organisasi dan agenda yang telah disusun, termasuk situasi dan kondisi yang di luar perkiraan.

Ilham dan Syahrul tentu tidak sendirian dalam mengurus dan membesarkan partainya masing. Di sana banyak individu dan juga ada faksi atau kelompok-kelompok. Bagaimana perilaku individu-individu dan faksi-faksi tersebut, sangat memengaruhi perilaku organisasi Partai Demokrat Sulsel dan Partai Golkar Sulsel ke depan.

Di sinilah kelak akan dilihat bagaimana kemampuan Ilham dalam memimpin Partai Demokrat Sulsel dan Syahrul dalam memimpin Partai Golkar Sulsel, dalam melakukan komunikasi internal, dalam berkomunikasi dengan petinggi parpol lainnya, serta dalam mengatur perilaku organisasi partai politik yang dipimpinnya masing-masing.

Yang pasti, Ilham dan Syahrul selama ini sudah menunjukkan kemampuan dan prestasinya masing-masing. Mereka berdua sukses dalam melakukan komunikasi politik dan komunikasi massa, yang di dalamnya terkandung pesan terselubung yang sangat kuat.

Keberhasilan keduanya mengirim pesan yang kuat tersebut, telah menimbulkan efek yang luar biasa. Masyarakat Sulsel selaku khalayak akhirnya melihat Ilham dan Syahrul sebagai dua kubu yang akan saling berhadap-hadapan dalam Pemilukada Sulsel pada 2013 mendatang.

Kini masyarakat Sulsel telah melihat fenomena Ilham dan Syahrul dalam pemilihan Gubernur Sulsel mendatang.

Bisa Berpasangan

Fenomena berasal dari kata Yunani, phainomenon, yang berarti apa yang terlihat. Kata turunan fenomena, yaitu fenomenal, berarti "sesuatu yang luar biasa". Dalam kamus besar bahasa Indonesia, fenomena dibagi dalam tiga arti.

Pertama, fenomena diartikan sebagai hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindera dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah, seperti fenomena alam atau gejala. Kedua, fenomena juga berarti sesuatu yang luar biasa, keajaiban. Ketiga, fenomena diartikan sebagai fakta.

Ilham dan Syahrul adalah fenomena. Keduanya terlihat apa adanya. Mereka adalah orang-orang yang luar biasa. Mereka dapat menjadi bahan kajian dan bahan penelitian. Mereka adalah selebritis di panggung politik dan pemerintahan lokal Sulsel. Mereka begitu fenomenal. Itulah faktanya.

Itu pula yang membuat wartawan dan media massa, terutama di daerah ini, tidak pernah kehabisan bahan berita, baik berita politik dan pemerintahan, maupun berita-berita ringan, karena Ilham dan Syahrul adalah newsmaker. Apapun yang mereka lakukan, selalu bisa dan layak diberitakan. Masyarakat pun selalu ingin mengetahui apa yang terjadi dan apa yang dilakukan oleh keduanya.

Besar kemungkinan Ilham Arief Sirajuddin dan Syahrul Yasin Limpo akan bersaing memperebutkan kursi "kosong satu" Sulsel, tetapi bukan tidak mungkin keduanya akan berpasangan sebagai calon Gubernur dan Wakil gubernur pada 2013 mendatang. Semua bisa saja terjadi, karena tidak ada lawan abadi dan juga tidak ada kawan abadi dalam politik.***

[Blog http://pedomanrakyat.blogspot.com/ berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Komentar

Pos populer dari blog ini

Kode Etik Jurnalistik PWI (Persatuan Wartawan Indonesia)

Mengenang Tiga Tahun Wafatnya Pedoman Rakyat