Ilham Menang Aklamasi pada Musda Demokrat Sulsel

Ilham Menang Aklamasi
- Pimpin Demokrat Sulsel


Harian Ujungpandang Ekspres, Makassar
Sabtu, 04-12-2010
http://www.ujungpandangekspres.com/index.php?option=read&newsid=57408

MAKASSAR, UPEKS—Ilham Arief Sirajuddin melenggang tanpa tanding pada pemilihan Ketua DPD Partai Demokrat Sulsel. Pada tahapan pemilihan bakal calon dalam Musyawarah Daerah II DPD Demokrat Sulsel di Hotel Singgasana, Jumat malam, 3 Desember 2010, ia memperoleh suara mayoritas 23 suara dari 26 suara yang diperebutkan.

Sisanya satu suara direbut Andi Nawir Pasinringi, satu suara milik A Reza Ali, dan satu lainnya dinyatakan tidak sah. Dengan demikian Ilham, yang saat ini menjabat Walikota Makassar, dinyatakan menang secara aklamasi.

Pada musda itu juga telah ditetapkan tim formatur, yaitu Ketua Ilham Arief Sirajuddin, Sekretaris Ir Muh Jafar Hafsah (mewakili unsur DPP), Anggota Syamsul Mappareppa (Plt Ketua DPD Sulsel), dan Andi Janwar Jaury Darwis (DPC Makassar), Hamid (DPC Wajo), dan Andi Rahman Rahim (DPC Bone) .

Sementara itu, sebelum proses pemilihan kandidat ketua lainnya, Andry Arief Bulu menerima tawaran koalisi dari Ilham. Ia ditawari posisi sekretaris.

Kubu Andi Nawir Walk Out

Sementara, kandidat ketua lainnya Andi Nawir Pasinringi beserta pendukungnya sempat melakukan walk out. Pasalnya, pada pembahasan tata tertib Musyawarah Daerah (Musda), tiga kabupaten yang memiliki kepengurusan ganda tidak boleh diikutkan. Padahal, pengurus yang tidak diakui oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) itu diklaim sebagai pendukungnya. Sedangkan, pengurus yang diakui DPP berpihak sebagai pendukung Ilham. Tiga kabupaten dengan dualisme kepengurusan itu, antara lain, DPC Gowa, Luwu Timur, dan Toraja.

Kubu Andi Nawir yang walk out, antara lain, DPC Takalar, Bantaeng, Bulukumba, Selayar, Barru, Pinrang, Palopo, Sinjai, Soppeng, Toraja Utara dan Bone. Sehingga, pembahasan tata tertib hanya diikuti oleh 13 DPC yakni Sinjai, Toraja, Sidrap, Lutra, Luwu, Gowa, Pangkep, Wajo, Makassar, Lutim, Maros, Parepare, dan Jeneponto. Disamping itu, adapula DPP dan DPD.

Meskipun 11 DPC kubu Andi Nawir walk out, sidang pembahasan rapat komisi tetap dilanjutkan. Rapat masih kuorum karena telah dihadiri 13 DPC ditambah DPD dan DPP. Sehingga, Musda tetap sah untuk dilanjutkan.

15 pengurus yang tetap mengikuti sidang diklaim sebagai pendukung Ilham. Sedangkan, persyaratan agar calon bisa aklamasi yakni harus mengantongi 14 suara dari 26 suara yang diperebutkan. Sehingga, bisa dipastikan jika Ilham akan memimpin Partai Demokrat.

Ketua DPC Pangkep Luthfi Hanafi, mengatakan, jika Andi Nawir tidak datang hingga pendaftaran kandidat, tentunya hanya Ilham saja yang maju sebagai calon. Andry Arief Bulu tidak akan ikut bertarung karena telah memutuskan untuk berkoalisi dengan Ilham.

“Kalau tidak ada kandidat lain yang maju, tentunya pak Ilham menjadi calon tunggal. Ditambah lagi dukungan sekira 15 suara dari 13 DPC ditambah DPD dan DPP itu sudah memenuhi syarat untuk aklamasi,” ujarnya.
Sementara, Andry mengatakan, ia memiliki visi dan misi yang sama dengan Ilham untuk membesarkan Partai Demokrat. Sehingga, ia memutuskan untuk bekerja secara bersama-sama mewujudkan hasil Kongres Demokrat untuk mencapai 30% perolehan suara di pemilu mendatang.

“Saya rasa sah-sah saja. Yang terpenting di Demokrat bukan siapa menang atau kalah, tapi bagaimana kita mengabdi untuk rakyat,” ujarnya.

Anas Arahkan Mufakat

Sebelumnya, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, mengisyaratkan kepada semua peserta Musyawarah Daerah (Musda) II Demokrat, agar dalam memilih ketua, mengutamakan musyawarah mufakat. Setelah tidak ada kesepakatan untuk aklamasi penuh, barulah mekanisme kedua digunakan. Yakni, masing-masing kandidat maju bertarung.

“Semua kandidat kita ajak bertemu dan diskusi untuk kepentingan partai. Tentunya, harapan kita musyawarah mufakat,” ujarnya usai membuka Musda II DPD Partai Demokrat Sulsel di Hotel Singgasana, Jumat (3/12).

Anas mengungkapkan, sebagai Ketua Umum ia tidak akan mengintervensi proses pemilihan. Ia hanya sekadar memberi masukan, opsi mana yang akan dipilih oleh masing-masing kandidat. Yang terpenting, siapapun yang terpilih nantinya, tidak akan menimbulkan perpecahan di internal partai.

“Masing-masing kandidat silahkan bertemu untuk melakukan pembicaraan khusus, apakah tetap mau opsi satu atau opsi kedua. Kedua opsi itu tetap jalur yang benar dalam proses musda,” terangnya.

Anas berharap, siapapun yang terpilih, harus bisa membawa kepentingan demokrat dan kepentingan bangsa. Sehingga, musda kedua menjadi momentum yang kokoh bagi Partai Demokrat di Sulsel untuk menyongsong masa depan yang makin menjanjikan.

“Sampai saat ini tiga kandidat yang cukup serius untuk maju. Klaim dukungan mereka laporannya sampai ke DPP. Tetapi, kami harapkan bagaimana kolaborasinya sehingga diakhir menyatu dalam tim besar. Saling mendukung dan menopang seperti yang kita harapkan,” urainya.

Menurutnya, Sulsel merupakan daerah yang sangat penting bukan hanya di Kawasan Timur Indonesia (KTI), tapi sangat strategis di seluruh Indonesia. Demokrat di Sulsel mengambil prakarsa, peran, dan tanggungjawab yang makin besar bagi kemajuan daerah.

“Yang terpenting bagaimana kesejahteraan rakyat. Sehingga, Pemilu nanti mendapat tambahan energi berupa dukungan dan kepercayaan rakyat. Itu saya sebut sebagai prestasi awal yang akan menjadi landasan yg kokoh bagi Partai Demokrat,” ungkapnya.

Di samping itu, hasil musda mengambil pilihan yang memastikan Partai Demokrat bisa berperan dan mengambil tanggung jawab serius. Menjaga sungguh-sungguh soliditas internal partai, menampilkan diri sebagai partai yang maju, modern, kuat, dan dicintai rakyat di Sulsel.

“Kami di DPP memang dengan seksama memantau perkembangan persiapan musda. Melihat, musda mendapat perhatian luas dari masyarakat. Rakyat di Sulsel menaruh harapan besar bagi keluarga partai Demokrat untuk memberi warna pembangunan, jalan pemerintah, jalan setiap ikhtiar martabat hidup di Sulsel,” pungkasnya. (mg09-mg2/aka-dul/E)


[Blog http://pedomanrakyat.blogspot.com/ berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Komentar

Pos populer dari blog ini

Kode Etik Jurnalistik PWI (Persatuan Wartawan Indonesia)

Mengenang Tiga Tahun Wafatnya Pedoman Rakyat