Kamis, 28 Oktober 2010

Serba-serbi Safari Jurnalistik PWI-Pemprov Sulsel (bagian-1)



SERBA-SERBI. Banyak pengalaman menarik selama perjalanan lima hari, 6-10 Oktober 2010, dalam Safari Jurnalistik PWI Sulsel – Pemprov Sulsel, ke sejumlah kabupaten dan kota se-Sulsel. Ada yang merasa ngeri tidur di losmen tua, ada yang berulang tahun, ada yang sakit, ada yang berduka, dan ada pula beberapa wartawan yang terpaksa mendorong mobil di siang bolong karena bus yang mereka tumpangi macet. Berikut serba-serbi perjalanan yang ditulis Ketua Seksi Pendidikan PWI Sulsel, Asnawin.







--------

Serba-serbi Safari Jurnalistik PWI-Pemprov Sulsel (bagian-1):


Pengantar:


Banyak pengalaman menarik selama perjalanan lima hari, 6-10 Oktober 2010, dalam Safari Jurnalistik PWI Sulsel – Pemprov Sulsel, ke sejumlah kabupaten dan kota se-Sulsel. Ada yang merasa ngeri tidur di losmen tua, ada yang berulang tahun, ada yang sakit, ada yang berduka, dan ada pula beberapa wartawan yang terpaksa mendorong mobil di siang bolong karena bus yang mereka tumpangi macet. Berikut serba-serbi perjalanan yang ditulis Ketua Seksi Pendidikan PWI Sulsel, Asnawin.

***

Tidur di Losmen Tua


Setelah mengunjungi dan berdialog dengan Pemkab Gowa, Pemkab Bantaeng, dan Pemkab Sinjai, Rabu, 4 Oktober 2010, rombongan tim Safari Jurnalistik PWI Sulsel-Pemprov Sulsel, akhirnya tiba di Bone, Kamis dini hari, 5 Oktober 2010, sekitar pukul 00.30 Wita.

Setiba di Bone, ternyata tuan rumah Pemkab Bone hanya menyiapkan dua penginapan yang berdekatan di Jalan Mesjid, karena mereka mengira jumlah anggota rombongan hanya berkisar 20 orang.

Malam itu, pengurus PWI Perwakilan Bone bersama staf Pemkab Bone terpaksa mencari penginapan tambahan. Alhasil, seluruh anggota rombongan baru mendapatkan penginapan pada sekitar pukul 02.30 Wita.

Sekitar 20 anggota rombongan menginap di losmen tua yakni Losmen Nasional. Dari arsitektur bangunannya saja sudah terlihat dengan jelas bahwa gedung losmen tersebut merupakan gedung tua, apalagi pencahayaan di bagian luar juga kurang terang, sehingga kesan seram cukup terasa.

Beberapa anggota rombongan baru bisa tidur sekitar pukul 03.00 Wita, tetapi sebagian lainnya sudah langsung tidur sesaat setelah masuk ke losmen tersebut. Beberapa anggota rombongan mengatakan, kalau memang sudah ngantuk, tidur saja, tidak usah berpikir macam-macam.


Penumpang Kloter 3 ''Teler''


Nasib sial menimpa beberapa penumpang ''kloter 3'' rombongan Safari Jurnalistik PWI Sulsel-Pemprov Sulsel dalam perjalanan dari Kabupaten Wajo ke Kabupaten Luwu, Kamis, 7 Oktober 2010.

Para penumpang di kloter 3-istilah yang digunakan untuk mengganti kata bus ke-3 dari tiga bus yang membawa rombongan Safari Jurnalistik PWI Sulsel-Pemprov Sulsel-sempat berguncang setelah menabrak sebuah gundukan di tengah jalan. Akibatnya, beberapa wartawan yang duduk di bagian belakang terlempar dan jatuh dari kursinya. Mereka sempat ''teler'' selama beberapa menit sebelum mampu menguasai dirinya.

Sopir kemudian menghentikan busnya di tepi jalan. Salah seorang wartawan sempat pingsan saat turun dari mobil. Wartawan senior Benyamin Riny, juga sempat oleng alias ''teler'' setelah kepalanya terantuk dan kemudian terlempar dari kursinya.

''Ini pengalaman yang cukup berkesan,'' kata Benyamin yang memang suka berkelakar.


Terjebak Tanah Longsor


Tiga bus dan sebuah mobil kijang yang ditumpangi rombongan Safari Jurnalistik PWI-Pemprov Sulsel terjebak tanah longsor dalam perjalanan dari Kota Palopo ke Kabupaten Toraja Utara, Jumat siang, 8 Oktober 2010.

Sebelum terjebak tanah longsor, anggota rombongan sempat singgah di sebuah tempat di tepi jalan raya yang cukup indah. Kampung yang berada di daerah pegunungan itu bernama Bambalu. Para wartawan foto bersama dan bercengkrama dengan beberapa warga setempat, sebelum melanjutkan perjalanan.

Ketika melanjutkan perjalanan itulah, rombongan terjebak tanah longsor dalam cuaca yang kurang bersahabat, yakni terjadi gerimis yang perlahan berubah menjadi hujan yang cukup deras.

Bus rombongan dan kendaraan lain terpaksa berbelok ke jalan alternatif yang rusak. Mesin bus rombongan yang terdepan (dari tiga bus yang membawa sekitar 60 wartawan, pengurus PWI Sulsel, dan staf Humas Pemprov Sulsel) bahkan sempat mati saat sedang mendaki di jalan menanjak yang berliku dan licin.

Cukup lama dicarikan solusinya sehingga terjadi kemacetan panjang. Bus tersebut terpaksa didorong beramai-ramai sebelum akhirnya bisa berjalan normal di jalanan yang tidak lagi terlalu menanjak.


Sekda adalah ''Penguasa Tinggal''


Penampilannya sederhana dan terkesan biasa-biasa saja. Suaranya pun tergolong pelan untuk ukuran pejabat, tetapi Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Palopo, HM Jaya, ternyata senang juga dengan humor.

Ketika menerima rombongan Safari Jurnalistik PWI-Pemprov Sulsel yang dipimpin langsung Ketua PWI Sulsel Zulkifli Gani Ottoh, Jumat, 8 Oktober 2010, Sekda Palopo meminta maaf atas ketidakhadiran Walikota Palopo HPA Tenriadjeng yang sedang berada di luar kota.

''Konon di era otonomi daerah ini, walikota dan bupati adalah penguasa tunggal di daerahnya masing-masing, sehingga mereka sering pergi-pergi, sedangkan Sekda adalah penguasa tinggal, sehingga dialah yang banyak tinggal jaga kantor,'' kata HM Jaya lalu tertawa.

Mendengar humor tersebut, para wartawan dan pejabat SKPD Palopo yang hadir pun langsung tertawa.


Ketua PWI Pusat Kirim Salam


Sebelum pertemuan antara rombongan Safari Jurnalistik PWI-Pemprov Sulsel, di ruang pola Kantor Bupati Enrekang, Sabtu, 9 Oktober 2010, Ketua PWI Sulsel, Zulkifli Gani Ottoh menerima telepon dari Ketua PWI Pusat Margiono.

''Saya baru saja menerima telepon dari Ketua PWI Pusat, Bapak Margiono. Beliau mengirim salam kepada kita semua dan mengucapkan selamat bekerja,'' ungkap Zulkifli saat berlangsungnya pertemuan.


Zulkifli Gani Ottoh Berduka


Ketua PWI Sulsel, Zulkifli Gani Ottoh, berduka saat memimpin 50 wartawan dalam Safari Jurnalistik PWI-Pemprov Sulsel ke 16 kabupaten dan kota se-Sulsel, 6-10 Oktober 2010.

Saat berada di Kabupaten Bone (setelah berkunjung ke Kabupaten Gowa, Bantaeng, dan Sinjai), Kamis, 7 Oktober 2010, Zulkifli menerima telepon dari keluarganya di Makassar yang mengabarkan bahwa tantenya (saudara dari ibu kandung Zulkifli) meninggal dunia di Makassar.

Berita duka kembali ia terima saat berada di Enrekang, Sabtu, 9 Oktober 2010.

''Saudara sepupu saya meninggal dunia di Makassar,'' katanya kepada beberapa pengurus PWI Sulsel.

Dua berita duka tersebut tidak disampaikan kepada semua anggota rombongan, sehingga hanya segelintir orang yang mengetahuinya.

Ketika pengurus memintanya kembali ke Makassar, Zulkifli mengatakan sudah meminta maaf kepada keluarganya tidak bisa kembali ke Makassar karena sedang memimpin rombongan Safari Jurnalistik.

''Sebagai Ketua PWI Sulsel dan ketua rombongan, saya harus punya tanggungjawab moral. Saya harus menuntaskan memimpin Safari Jurnalistik ini,'' katanya.


- Keterangan: Feature ini dimuat di halaman 12-13 tabloid ''Koran PWI'' edisi 15-30 Oktober 2010, yang diterbitkan oleh PWI Cabang Sulawesi Selatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar