Pedoman Rakyat Terbit Kembali



Harian Pedoman Rakyat edisi Jumat, 11 Februari 2006.
Setelah melihat model dan isinya, saya langsung menelepon Ardhy Basir dan mengucapkan selamat atas terbitnya kembali 'PR'. Ardhy bercerita bahwa dirinya menerbitkan kembali 'PR' karena ingin menunjukkan kepada masyarakat, khususnya masyarakat Sulsel, bahwa jiwa dan roh 'PR' tidak pernah mati.

''Koran harian Pedoman Rakyat boleh mati alias tidak terbit lagi, tetapi semangat dan keinginan untuk membangkitkan kembali kebersamaan dan persaudaraan di antara para mantan wartawan dan karyawan Pedoman Rakyat, tidak pernah hilang,'' katanya.




Pedoman Rakyat Terbit Kembali
- Setelah 'Wafat' pada 3 Oktober 2010 di Usia 60 Tahun


Oleh Asnawin
(Mantan wartawan harian Pedoman Rakyat)




Surat kabar Pedoman Rakyat terbit kembali. Ucapan sekaligus informasi itu terdengar sejak awal Oktober 2010. Sebagai mantan wartawan harian Pedoman Rakyat, saya tentu senang mendengar kabar itu. Saya lalu mencari tahu kebenaran kabar itu dan mendapat informasi bahwa Pedoman Rakyat diterbitkan oleh Ardhy Basir, salah seorang mantan wartawan harian Pedoman Rakyat.
Senin, 25 Oktober 2010, barulah saya melihat langsung dan membaca isi Pedoman Rakyat (PR). Ternyata memang benar bahwa 'PR' diterbitkan oleh Ardhy Basir, dibantu beberapa mantan wartawan 'PR', yaitu Arief Djasar, Muhammad Amir, dan Wahyudin.

'PR' baru ini terbit 24 halaman dengan ukuran atau format tabloid. Rubrik khas yang ada antara lain Makassar Raya, Sulsel, Sulbar, dan Laporan Khusus. Selebihnya rubrik umum seperti Iptek, Nasional, Ekonomi, dan Ragam.

Setelah melihat model dan isinya, saya langsung menelepon Ardhy Basir dan mengucapkan selamat atas terbitnya kembali 'PR'. Ardhy bercerita bahwa dirinya menerbitkan kembali 'PR' karena ingin menunjukkan kepada masyarakat, khususnya masyarakat Sulsel, bahwa jiwa dan roh 'PR' tidak pernah mati.

''Koran harian Pedoman Rakyat boleh mati alias tidak terbit lagi, tetapi semangat dan keinginan untuk membangkitkan kembali kebersamaan dan persaudaraan di antara para mantan wartawan dan karyawan Pedoman Rakyat, tidak pernah hilang,'' katanya.

Kami kemudian membahas isi 'PR' baru itu dan saya menyampaikan harapan agar ardhy cs memertahankan rutinitas terbitnya 'PR' baru di tangannya.

'Wafat' 3 Oktober 2007

Harian Pedoman Rakyat terbit sejak 1 Maret 1947. Di awal terbitnya, Pedoman Rakyat tentu bukan berbentuk surat kabar harian, namun dengan kerja keras dari para pengelolanya, surat kabar tersebut akhirnya bisa terbit harian.

Surat kabar harian Pedoman Rakyat sempat menjadi koran harian terbesar di Sulawesi Selatan dan kawasan timur Indonesia selama beberapa dekade. Dalam perkembangannya, para pengelola koran ini kemudian tak mampu mengikuti laju perubahan dan perkembangan zaman, sehingga tertinggal dalam banyak hal, terutama dari segi manajemen dan pemanfaatan teknologi.

Beberapa wartawan potensial kemudian keluar dari Pedoman Rakyat, ada yang pindah ke media massa lain, ada juga yang putar haluan beralih ke profesi lain. Pedoman Rakyat kemudian tidak lagi menjadi koran terbesar di Makassar, karena kalah bersaing dengan harian Fajar, apalagi dengan hadirnya harian Tribun Timur.

Pedoman Rakyat sempat mendapat ''suntikan darah segar'' pada tahun 2006, ketika pemegang saham diambil-alih oleh Peter Gozal, tetapi berbagai upaya yang dilakukan tak mampu mengangkat kembali kejatuhan koran ini.

Peter Gozal kemudian mundur sebagai pemegang saham terbesar dan Pedoman Rakyat berhenti terbit selama kurang lebih 40 hari pada sekitar bulan Februari hingga awal April 2007. Setelah itu, Ventje Manuhua menerbitkannya kembali, tetapi hanya mampu bertahan selama beberapa bulan.

Pedoman Rakyat akhirnya 'wafat' pada 3 Oktober 2007 pada usia lebih dari 60 tahun. Edisi terakhir terbit pada 2 September 2007.


[Blog ini berisi berita, artikel, feature, dan beragam informasi. Terima kasih atas kunjungan dan komentar anda.]

Komentar

Pos populer dari blog ini

Kode Etik Jurnalistik PWI (Persatuan Wartawan Indonesia)

Mengenang Tiga Tahun Wafatnya Pedoman Rakyat