Habibie Ungkap Kejengkelannya pada Kofi Annan



Habibie Ungkap Kejengkelannya pada Kofi Annan

Senin, 9 November 2009 18:30 WIB | Peristiwa | Politik/Hankam |

Jakarta (ANTARA News) - Mantan Presiden BJ Habibie mengungkapkan kejengkelennya kepada mantan Sekjen PBB Kofi Annan yang memicu lepasnya Timor Leste dari Indonesia.

"Ini kesalahan Kofi Annan. Saya tidak tahu, dia mengumumkan hasil (jejak pendapat -red), dia konferensi pers. Meledaklah di sana," kata Habibie dalam Temu Kangen dengan para tokoh pers menyambut Hari Ulang Tahun The Habibie Center ke-10 di Jakarta, senin, 9 November 2009.

Padahal, lanjut dia, pihaknya sebelumnya sudah menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia telah menyiapkan pengganti TNI yang bertugas disana dengan TNI yang netral yakni TNI yang pernah bertugas untuk PBB untuk mengawal jejak pendapat itu.

Namun sebelum ia bersama Panglima TNI Jenderal (Purn) Wiranto membawa TNI pengganti, ternyata Sekjen PBB itu sudah mengumumkan kepada dunia bahwa jejak pendapat dimenangkan pihak prokemerdekaan, meskipun jejak pendapat belum selesai, sehingga terjadi kerusuhan.

Dalam menjawab pertanyaan tokoh pers Saur Hutabarat itu, ia mengaku sangat tahu bahwa dengan menyetujui dilakukannya jejak pendapat di Timor-timur maka ada risiko yang harus ditanggung Indonesia yakni berpisahnya Timtim dari NKRI.

Itulah, lanjut dia, mengapa ia sebagai Presiden menyiapkan dua pidato, pidato yang akan disampaikan jika rakyat Timtim mau menjadi bagian NKRI dan pidato jika rakyat Timtim menolak NKRI.

Namun demikian, Habibie mengatakan, jika Timor Leste memilih tidak mau menjadi bagian dari Negara Kesatuan RI (NKRI) maka Indonesia tidak bisa melakukan apa pun, kecuali menerimanya sebagai kawan.

"Timor Leste tidak pernah masuk pada Proklamasi RI, karena yang diproklamasikan adalah Hindia Belanda," katanya yang hadir bersama istrinya Ny Ainun.

Menyinggung soal kerusuhan pascajejak pendapat dan kejengkelannya pada Sekjen PBB kala itu, ia menukas, bahwa ia tidak lagi ingin mengingat dan mengungkap-ungkap.

"Tapi ngapain saya bongkar-bongkar ini. Apa untungnya bagi kita. Kalau saya bilang ini Jerman marah, Eropa marah," katanya.

Ia lantas menyitir kata-kata mutiara, bahwa yang paling jauh dari Anda adalah masa lampau, karena tidak mungkin bertemu masa itu kembali dan makin lama makin jauh.

"Kita lihat ke masa depan yang cerah," kata Habibie yang saat itu memakai baju batik.

Pada kesempatan itu, hadir Chairman The Habibie Center, Muladi yang merupakan mantan Menteri Kehakiman dan Perundang-undangan, mantan Mendiknas Malik Fajar serta para tokoh pers seperti Asro Kamal Rokan (Antara), Muh Assegaf, Aristides Katoppo, Alwi Shahab, Ikhwanul Kiram, Atmakusumah dan lain-lain.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Kode Etik Jurnalistik PWI (Persatuan Wartawan Indonesia)

Mengenang Tiga Tahun Wafatnya Pedoman Rakyat