Kamis, 13 Agustus 2009

Novel Asdar Muis Diluncurkan



Novel Asdar Muis Diluncurkan
-Eksekusi Menjelang Subuh-

Oleh: Asnawin
(penikmati seni dan sastra)

Puluhan seniman, budayawan, wartawan, dan pecinta seni-sastra menghadiri peluncuran novel berjudul "Eksekusi Menjelang Subuh" karya Asdar Muis RMS, di ruang pertemuan Dewan Kesenian Makassar (DKM) Benteng Rotterdam, Makassar, Kamis, 13 Agustus 2009.

Selain meluncurkan novel, Asdar Muis RMS yang mantan Direktur Pemberitaan Harian Pedoman Rakyat, juga merayakan ulang tahunnya yang ke-46. Esais dan monolog itu lahir di Pangkep, 13 Agustus 1963.

Tak heran kalau kemudian Asdar Muis menerima ucapan selamat yang "bertubi-tubi", baik ucapan selamat atas terbitnya novelnya, maupun atas hari ulang tahunnya.

Di antara seniman dan budayawan yang hadir, tampak Ishak Ngeljaratan, AM Mochtar, Syahrial Tato, Nur Alim Djalil, Aslan Abidin, Anil Hukma, dan Anis Kamah.

Acara yang didahului dengan penampilan monolog Asdar Muis tersebut dipandu oleh Dahlan Abubakar (dosen Unhas, penulis buku, wartawan senior) dan menampilkan Ahyar Anwar (dosen Universitas Negeri Makassar, budayawan)sebagai pembedah buku.

Asdar Muis menjelaskan bahwa novel berjudul "Eksekusi Menjelang Subuh" itu murni dongeng, tetapi mengambil tempat kejadian yang nyata (benar-benar ada) yakni di Ternate dan Makassar (Sulawesi Selatan).

Novel tersebut mulanya berupa cerita bersambung yang pernah dimuat di Harian Berita Yudha, Jakarta. Ceritanya diilhami oleh perjalanan Kacong Laranu-seorang pria tereksekusi mati di Palu, tahun 1995-karena membantai keluarga yang menampung hidupnya di hari tua.

"Ini murni karya sastra! Dan, telah diupaya-maksimalkan meletakkan validitas informasi lewat interpretasi dari bahan yang dikumpulkan. Nama-nama yang tidak terkait sejarah, murni imajinasi!" kata Asdar dalam catatan penulis di novel tersebut.

Kisah Cinta

Kisah dalam novel tersebut "dipenggal" dalam 19 bagian, dimulai dari kisah cinta "sembunyi-sembunyi" pemuda Kinau dengan gadis Maemunah di sebuah pulau di Ternate.

Jalinan cinta mereka rupanya tak mendapat restu dari orangtua Kinau dan itu memaksa Kinau nekad mengajak Maemunah pergi meninggalkan pulau tempat tinggal mereka. Sayangnya, Maemunah batal berangkat karena tidak muncul di pantai dan Kinau pun berangkat sendirian.

Kinau terdampar di Makassar dan di sinilah cerita sesungguhnya bermula. Ia tinggal di tengah keluarga Daeng Towa, orang Makassar yang menyelamatkannya dari kematian setelah perahunya diombang-ambingkan ombak di tengah laut saat ia meninggalkan kampung halamannya. Ia kemudian sekolah dan menjadi tentara di Makassar.

Belasan tahun kemudian, saat cuti pulang kampung di Ternate, ternyata ibu dan bapaknya sudah tewas ditembak tentara, karena keduanya dituding sebagai bagian dari pasukan Republik Maluku Selatan (RMS).

Kinau sebenarnya juga rindu dan mencari-cari Maemunah, tetapi kerinduan itu tenggelam setelah mengetahui kabar kematian kedua orangtuanya. Kinau kemudian kembali ke Makassar dalam keadaan sedih dan dendam.

Sebagai lelaki normal, Kinau tentu punya rasa cinta, tetapi cintanya kepada Maemunah terlalu besar, sehingga ia tetap membujang hingga di usia kepala empat. Ia baru menikah saat dipindahtugaskan ke Buton.

Ketika anaknya masih kanak-kanak, Kinau dipindahtugaskan lagi. Kali ini ke Donggala, Sulawesi Tengah. Ia berat menerima tugas tersebut, tetapi sebagai prajurit sejati, perasaan tersebut harus dilawan. Ia pun akhirnya terpaksa berangkat sendirian ke Donggala, karena isterinya tak mau ikut.

Kinau bertugas di Donggala hingga pensiun. Saat pensiun, ia tetap tinggal di Donggala dan ditampung oleh salah satu keluarga petani yang sangat baik.

Kinau senang, tetapi hatinya sunyi. Ia rindu kepada isteri dan anaknya di Buton. Ia juga teringat dengan ibu dan ayahnya yang dibunuh tentara karena fitnah, teringat kepada perempuan cantik bernama Basse di Makassar yang ia tembak mati karena menjadi bagian dari pasukan gerombolan Qahhar Muzakkar, teringat kepada Daeng Towa yang dibunuh oleh tentara Belanda, serta teringat kepada keluarga Daeng Towa yang ditinggalkannya di Makassar karena dipindahtugaskan ke Buton.

Perasaan sunyi, rindu, dan dendam kemudian membangkitkan emosinya. Kinau juga menyesali dirinya karena meninggalkan kedua orangtuanya di Ternate. Tanpa ia sadari, Kinau merasa berada di masa perang. Ia marah dan kemudian mengasah parangnya. Ia mengamuk dan memburu semua musuhnya.

Kinau heran ketika tiba-tiba ia ditangkap polisi, karena dituding membantai sebuah keluarga yang selama ini menampungnya. Kisah ini kemudian berakhir dengan eksekusi menjelang subuh, setelah Kinau menjalani masa tahanan di Lembaga Pemasyarakatan Petobo, Palu, selama beberapa tahun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar