Selasa, 02 Oktober 2007

Prof Idris Arief, 8 Tahun Menakhodai UNM (2)

Prof Dr HM Idris Arief MS, 8 Tahun Menakhodai UNM (2):

"Kadang-kadang Saya Menangis"

Ketika terjadi krisis moneter (krismon), harga barang-barang naik dan seharusnya alokasi anggaran juga naik, tetapi Universitas Negeri Makassar (UNM) dan seluruh perguruan tinggi negeri di Indonesia justru terpaksa "gigit jari", karena jatah mereka dikurangi.
UNM yang biasanya menerima anggaran dari pemerintah pusat sekitar Rp 10 miliar, jatahnya dikurangi menjadi hanya sekitar Rp 1,5 miliar pada 1999.
Selain itu, juga ada aturan bahwa PTN tidak boleh membangun gedung baru dan aturan itu masih berlaku sampai sekarang.
Kondisi itu membuat UNM 'menderita' selama beberapa tahun sejak terjadinya krismon, dan terpaksa melakukan 'tambal sulam' dalam memanfaatkan dana yang ada, apalagi SPP mahasiswa juga tergolong paling rendah di antara semua PTN.
"Kadang-kadang saya menangis. Saya memutar otak bagaimana bisa mengendalikan UNM yang begini besar dengan dana yang terbatas," ungkap Idris Arief.
Namun seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengalaman sebagai rektor, Idris Arief pun mencoba melakukan berbagai pendekatan kepada pemerintah pusat, dalam hal ini Dirjen Dikti Depdiknas.
"Berkat pendekatan yang kami lakukan ke pusat, dengan alasan kebutuhan mendesak, UNM akhirnya mendapatkan izin dan dana untuk pembangunan gedung baru," ungkap Idris Arief.
Hingga tahun 2007 ini, UNM memiliki kampus yang tersebar pada enam lokasi, yakni Kampus Gunungsari Baru, Kampus Parangtambung, Kampus Banta-bantaeng, Kampus Tidung, Kampus Parepare, dan Kampus Bone.
Guna menyukseskan program PGSD S1 (sarjana pendidikan guru sekolah dasar) berasrama, UNM telah mendapat persetujuan mengembangkan rusunawa atau rumah susun sederhana sewa).

Mahasiswa dan Dosen

Di sisi lain, minat masyarakat untuk melanjutkan pendidikan ke UNM juga tidak berkurang dan malah cenderung bertambah, karena UNM bukan lagi sekadar mencetak tenaga kependidikan, melainkan juga mencetak tenaga non-kependidikan alias sarjana ilmu murni.
Ketika Idris Arief terpilih menjadi rektor pada periode pertama 1999, jumlah mahasiswa UNM hanya 8.719 orang, tetapi tahun 2007 ini jumlahnya 17.235 orang.
Program Pascasarjana juga berkembang cukup pesat yang ditandai dengan penambahan program studi yang ditawarkan kepada masyarakat dan semakin banyaknya mahasiswa baru setiap tahunnya.
Jumlah dosen UNM yang berkualifikasi magister (S2) dan doktor (S3) pada 1999, hanya 29% dari total 815 dosen, terdiri atas 265 dosen S2 (32,52%) dan 52 dosen S3 (6,38%).
Delapan tahun kemudian, tepatnya hingga September 2007, dosen UNM yang berkualifikasi S2 tercatat 597 orang (68,62%) dan S3 sebanyak 87 orang (10%) dari total 870 dosen.
"Sampai saat ini, jumlah dosen yang berkualifikasi magister dan doktor berkisar 79 persen, jauh melampaui target nasional yang mengisyaratkan 55 persen. Diperkirakan tahun 2009 nanti, jumlah dosen UNM yang berkualifikasi S2 dan S3 sudah berkisar 90 peren, karena banyak dosen yang sementara studi S2 dan S3, baik di dalam negeri maupun di luar negeri," papar Idris. (asnawin/pr, bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar