Kampus Unismuh Makassar Bakal Disulap Menjadi “Hotel”



RAPAT PANITIA. Ketua Bidang Protokol Panitia Muktamar ke-47 Muhammadiyah, Syahrir Nur, memberikan penjelasan tentang rencana prosesi pembukaan muktamar Muhammadiyah, pertengahan tahun 2015 mendatang, pada rapat pleno panitia, di Lantai 2 Menara Iqra Kampus Unismuh Makassar, Ahad, 29 Desember 2013. (Foto: Asnawin)




-----------------

Kampus Unismuh Makassar Bakal Disulap Menjadi “Hotel”


Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar yang terletak di Jalan Alauddin, Makassar, akan disulap menjadi “hotel”. Ratusan ruangan yang selama ini digunakan untuk perkuliahan reguler, akan ditata ulang menjadi kamar tidur.

Perubahan itu akan dilakukan pada pertengahan tahun 2015, karena kampus Unismuh Makassar bakal dijadikan sebagai tempat pelaksanaan Muktamar ke-47 Muhammadiyah.

“Ribuan peserta muktamar akan menginap di kampus Unismuh Makassar. Ruangan belajar nantinya akan diubah fungsinya menjadi kamar tidur bagi para peserta muktamar,” kata Wakil Ketua Umum Panitia Penerima Muktamar ke-47 Muhammadiyah, Syaiful Saleh, pada rapat panitia, di Lantai 2 Menara Iqra Kampus Unismuh Makassar, Ahad, 29 Desember 2013.

Syaiful Saleh yang memimpin rapat panitia bersama HA Iskandar Tompo (Wakil Ketua Muhammadiyah Sulsel), dr Furqaan Naiem PhD, dan Syamsuriadi P Salenda, mengatakan, panitia akan menyediakan 3.500 kasur dan ribuan bantal untuk mengisi kamar-kamar tidur tersebut.

Khusus bagi para penggembira Muktamar Muhammadiyah dan Muktamar Aisyiyah, panitia bekerja sama Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Gowa, akan menyediakan ratusan kampus, sekolah, dan rumah warga Muhammadiyah sebagai tempat menginap.

“Muktamar Aisyiyah akan dilaksanakan di Balai Manunggal (Balai Prajurit TNI Jend. M. Jusuf, red), sedangkan para peserta Muktamar Aisyiyah akan menginap di hotel dan wisma yang ada di sekitar Balai Manunggal,” ungkap Syaiful.


--------------
RAPAT Pleno Panitia Penerima Muktamar ke-47 Muhammadiyah, di Lantai 2 Menara Iqra Kampus Unismuh Makassar, Ahad, 29 Desember 2013, dihadiri puluhan panitia, termasuk Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulsel Nurhayati Azis, serta pengurus organisasi otonom (Ortom) Muhammadiyah lainnya. (Foto: Asnawin)
---------------


Biaya Muktamar


Dalam rapat panitia Agustus silam, panitia menyebutkan bahwa biaya pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah dan Muktamar Aisyiyah ditaksir sekitar Rp 63 miliar, terdiri atas Rp 45 miliar untuk perbaikan dan pengembangan infrastruktur tempat pelaksanaan muktamar, serta Rp 18 miliar untuk operasional muktamar.

Khusus biaya pembukaan Muktamar ke-47 Muhammadiyah yang akan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Stadion Mattoanging, Makassar, ditaksir membutuhkan biaya Rp 1.005.000.000.

“Khusus seksi protokol yang mengurusi prosesi pembukaan dan penutupan muktamar, kami memerlukan biaya Rp 2.405.000.000,” ungkap Ketua Bidang Protokol, Syahrir Nur.

Rapat panitia turut dihadiri Wakil Ketua Muhammadiyah Sulsel Prof Ambo Asse dan Dr H Mustari Bosra, Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulsel Nurhayati Azis, Rektor Unismuh Makassar Dr Irwan Akib, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar KH Djalaluddin Sanusi, serta sejumlah panitia dan pengurus organisasi otonom (Ortom) Muhammadiyah.


---------------
WAKIL Ketua Umum Panitia Penerima Muktamar ke-47 Muhammadiyah, Syaiful Saleh (kedua dari kiri), bersama Furqaan Naiem (paling kiri), KH Iskandar Tompo (kedua dari kanan), dan Syahrir Nur, memimpin rapat panitia, di Lantai 2 Menara Iqra Kampus Unismuh Makassar, Ahad, 29 Desember 2013. (Foto: Asnawin)
-------------


Internal dan Eksternal


Ketua Majelis Ekonomi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulsel/Wakil Bendahara Umum Panitia Penerima Muktamar ke-47 Muhammadiyah, Dr Rahman Rahim, pada pertemuan panitia beberapa waktu lalu, menjelaskan bahwa kebutuhan dana pelaksanaan muktamar akan dicari dari internal persyarikatan dan dari eksternal.

"Dalam beberapa kali rapat panitia, akhirnya diputuskan bahwa dana untuk operasional pelaksanaan muktamar dicari dari internal persyarikatan Muhammadiyah se-Sulsel, khususnya dari amal usaha dan perorangan, sedangkan dana untuk infrastruktur pelaksanaan muktamar dicari dari eksternal persyarikatan," papar Rahman yang sehari-hari menjabat Wakil Rektor I Unismuh Makassar. (asnawin)

 -------------
[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan Anda di blog "Pedoman Rakyat"]

Komentar

Pos populer dari blog ini

Kode Etik Jurnalistik PWI (Persatuan Wartawan Indonesia)

Mengenang Tiga Tahun Wafatnya Pedoman Rakyat