Sistem Keras Pendidikan di Zaman Perang



Sistem Keras Pendidikan di Zaman Perang

Oleh : Ali Soekardi

VICE Consul pada Konsulat Jenderal Jepang di Medan, Aya Kumakura, berdecak heran ketika kepadanya saya tunjukkan buku pelajaran bahasa Jepang untuk Sekolah Dasar (masa pendudukan Jepang namanya SRO = Sekolah Rendah Oemoem).

Buku itu berjudul Tadasii Nippongo (Kitab Peladjaran Bahasa Nippon), disusun oleh 1st Lieut. Y.Sakamoto (Letnan Satu) bersama Basir Nasoetion (Goeroe Kepala Langkat, Nippon Syogakko, Pangkalan Berandan)

Buku itu diterbitkan tahun 1942, masa awal pendudukan Jepang (1942-1945), dan dipergunakan di sekolah-sekolah dasar. Isinya sangat sederhana, semacam sistem cepat untuk mempelajari bahasa Jepang ketika itu. Buku tersebut terdiri dari tiga jilid, termasuk pelajaran aksara Jepang. Pada jilid I yang diajarkan aksara Katakana, Jilid II Hirakana, dan Jilid III Kanji dan inilah yang tersulit.

Barangkali sesuai dengan zamannya, yakni zaman perang, pemerintah pendudukan Jepang masa itu, ingin segala-galanya berlangsung serba cepat dan dapat. Termasuk dalam sistem pendidikan yang diterapkan serba agak keras di sekolah-sekolah. Itu sebabnya mata pelajaran di sekolah-sekolah (maksud saya tingkat SD) tidaklah banyak. Hanya beberapa mata pelajaran, seperti bahasa Nippon (Jepang), berhitung, ilmu bumi, sejarah diutamakan sejarah Jepang, juga bernyanyi.

Tapi yang menarik adalah main perang-perangan. Ini mengasyikkan karena sambil belajar juga bisa bermain-main. Selalu dibagi dua, satu kelompok jadi “pasukan Jepang” dan satu kelompok lagi “pasukan teki (musuh, yang ketika itu adalah Belanda, Inggris, Amerika)”. Sampai ada semacam semboyan “Amerika kita setrika, Inggris kita linggis”. Tapi ada peraturan yang aneh, yang menjadi “pasukan musuh” harus tetap kalah. Namun ketika menjelang akhir pendudukan, ketika Jepang mulai terdesak kalah, anak-anak sekolah diajarkan teori dan praktek cara-cara bersembunyi di lobang perlindungan, saat ada pesawat “musuh” yang datang dan menyerang.

Namun satu hal yang sangat penting jika diamalkan sampai sekarang, yaitu setiap pagi setelah lonceng tanda masuk dibunyikan, para murid tidak harus langsung masuk kelas, tapi berkumpul dulu di halaman sekolah (dulu umumnya sekolah mempunyai halaman yang luas) untuk melakukan senam (razio taiso). Lalu ada satu lagi pelajaran yang unik, yaitu bertani dan membuat barang keperluan sehari-hari. Kebetulan di samping sekolah kami, yang terletak di depan kantor polisi, di sampingnya ada tanah kosong yang luas.

Tanah dipetak-petak dan dibagikan kepada murid-murid yang diwajibkan bercocok tanam palawija (sebelum dipraktekkan, teori menanam diajarkan di kelas masing-masing), seperti kacang-kacangan misalnya kedelai, kacang tanah, kacang panjang, kacang hijau, juga sayur-sayuran. Dan satu lagi yang terkenang saya, kepada kami murid-murid diajarkan menanam jarak. Katanya, buah jarak dapat menghasilkan minyak. Katanya lagi, minyak yang dihasilkan bisa untuk pesawat terbang. Entahlah, wallahi’alam. Tapi sekarang ada juga upaya menanam jarak, untuk memproduksi minyak juga.

Sistem Keras

Tapi satu hal yang tak dapat dilupakan, sistem pendidikan ala Jepang ketika itu (zaman perang) memang keras. Terutama pelajaran bahasa Jepang ditekankan harus segera bisa “ber-nippongo”. Misalnya hari ini diberikan sepuluh kata-kata yang harus dihafalkan dan bersama artinya, maka esok harinya sudah harus tahu luar kepala mengulangnya.

Jika tak dapat harus tahan diri menerima hukuman dari sensai (guru). Paling ringan telinga dijewer, atau kena tampar, yang paling berat jika sama sekali “bodoh”, hukumannya lari (kakiyas) keliling halaman sekolah yang cukup luas sampai tujuh kali. Sistem pendidikan seperti ini tentu tidak cocok, bahkan tidak ada lagi di zaman sekarang. Sistem kekerasan memang tak diinginkan.

Tapi aneh, hasil sistem pendidikan yang keras di masa itu memang memberi hasil. Murid-murid yang “tahan banting”, tak kenal kapok meskipun mengalami tindak kekerasan, mereka jadi berhasil. Mereka cepat mampu berbahasa Jepang sederhana, karena mungkin agar tidak mendapat hukuman yang keras, di rumah jadi belajar giat.

Tapi sebaliknya murid yang lemah, yang lembek semangatnya dan selalu ketakutan pada hukuman, mereka jadi yang tidak berhasil. Mereka lebih senang tidak sekolah, dan merasa lebih baik bekerja membantu orangtuanya mencari nafkah. Pada masa pendudukan militer Jepang itu, akibat kurangnya bahan makanan, banyak penduduk yang menjadi petani, menanam padi atau jagung di ladang atau sawah.

Anak-anak mereka dikerahkan membantu. Pada masa itu Gunseibu Nippon (pemerintahan Jepang) melarang semua jenis penerbitan media massa. Kecuali ada yang diizinkannya boleh terbit, yang tentu saja di bawah kontrol ketat. Dan di Medan ada harian Kita Sumatora Shimbun. Setiap hari koran ini dipajang di semacam papantulis di depan sekolah.

Murid-murid diwajibkan membacanya, terutama berita-berita peperangan, yang tentu saja tentara Dai Nippon tidak pernah kalah. Menang terus, padahal yang terjadi adalah sebaliknya, tentara Jepang terdesak terus. Banyak pasukan Heiho (tentara yang terdiri pemuda Indonesia yang diperbantukan pada pasukan Jepang) yang tewas. Itulah kelihaian Sendenbu (Dinas Propaganda) memutar-balikkan berita.

Dukasusi dan Melati

Koran Kita Sumatora Shimbun ini mempunyai ruangan kanak-kanak yang disediakan untuk anak-anak murid sekolah belajar mengarang. Namanya Dukasusi (Dunia Kanak-kanak Sumatora Shimbun. Bagus juga, karena melalui ruangan ini, anak-anak sekolah yang punya minat dan bakat, mulai coba-coba mengarang. Ada puisi, ada ceritapendek, dan yang paling banyak adalah lelucon singkat-singkat. Saya pun pernah coba-coba mengirim karangan pendek, ya leluconlah. Ada yang dimuat, tapi lebih banyak yang tidak.

Dukasusi ini kemudian menjadi lembaran sendiri. Semacam koran kecil-lah. Lantas berobah nama menjadi Melati (Mempertinggi Latihan Timur). Para remaja penulis dan pengasuh Melati kemudian setelah Jepang kalah dan Indonesia merdeka, banyak yang menjadi wartawan bahkan pemimpin redaksi, misalnya H.A.Dahlan, Usman Siregar (keduanya sudah almarhum). Bahkan ada yang menjadi ilmuwan, bahkan menjadi Rektor USU, yaitu Prof.Dr.A.P.Parlindungan.

Zaman penjajahan memang tidak enak. Terutama penjajahan yang dilakukan secara keras, bahkan kejam, seperti pada masa penjajahan Jepang, karena yang berkuasa adalah kaum militer maka mereka bertindak secara militer dan memakai hukum militer . Namun bagaimana pun juga sang militer adalah manusia biasa juga. Sekejam-kejamnya seorang militer, adakalanya timbul rasa kemanusiaannya.

Rasa Hati

Saya masih ingat, bahwa di dekat kampung saya di Tebing Tinggi (Kampung Turi atau sekarang Kampung Persiakan) ada asrama tentara Jepang. Hampir setiap hari ada saja di antara mereka yang masuk ke kampung kami, atau sekadar melintas. Dan di antara mereka ada yang menyayangi anak-anak.

Mereka selalu bersikap dan berbuat manis terhadap anak-anak. Kami yang bersekolah adakalanya diberinya pensil dan buku. Mungkin dia teringat pada anaknya di negerinya, karena mereka ada yang suatu saat pernah menunjukkan poteret anaknya, yang katanya ketika ditinggalkannya pergi perang, masih sebesar atau seusia kami, usia anak murid SD.

Ya, manusia tetaplah manusia yang punya rasa dan hati. Dia bisa kejam tapi kelembutan pasti masih ada di dalam hatinya, walaupun mungkin kadarnya minim sekali. Atau sebaliknya manusia yang lembut, adakalanya berlaku kejam atau katakanlah kasar, manakala emosinya sedang meninggi yang tak tertahankannya, meskipun kekasarannya itu berkadar minim dan biasanya merasa menyesal. Dalam zaman perang hal itu selalu terlihat dan terasa. Tapi yang sebaik-baiknya jangan ada lagi perang !***

Keterangan: artikel ini saya kutip dari www.analisadaily.com, pada Rabu, 2 Desember 2009.

Komentar

  1. saya igin hidup dijaman itu.. mungkin tidak ada kedamaian tapi ada satu hal yg tidak dimiliki di jaman sekarang yaitu cara menghargai waktu dan nyawa, mungkin banyak penderitaan dan tangis tapi saya ingin merasakan indahnya kemerdekaan dan kebebasan.. saya ingin ketemu bung karno dan menceritakan pada beliau tentang masa sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya, perasaan dan pikiran kita ternyata sama....

      Hapus

Poskan Komentar

Pos populer dari blog ini

Kode Etik Jurnalistik PWI (Persatuan Wartawan Indonesia)

Mengenang Tiga Tahun Wafatnya Pedoman Rakyat