Blog Grup Pedoman Rakyat

Sabtu, 16 Mei 2015

Makassar, Senin 15 Juni 1953


Beberapa hari yang lalu saya menerima koran tua dari saudara sayang yang menemukannya dicelah celah kayu lemari peninggalan orangtua. Ada koran Pedoman Rakjat, Suara Merdeka, Kedaulatan, dan Suara Marhaen. Saya kemudian memilih Pedoman Rakjat, karena koran itulah yang akrab di telinga saya. - Suharman Musa -






--------


Makassar, Senin 15 Juni 1953


Oleh: Suharman Musa
http://suharman-musa.blogspot.com/2012/10/makassar-senin-15-juni-1953.html

Beberapa hari yang lalu saya menerima koran tua dari saudara saya yang menemukannya di celah celah kayu lemari peninggalan orangtua. Ada koran Pedoman Rakjat, Suara Merdeka, Kedaulatan, dan Suara Marhaen.

Yang saya ketahui pasti terbitan lokal adalah Pedoman Rakyat, yang lainnya kemungkinan terbitan nasional. Saya gembira dan penasaran untuk mengetahui apa dan bagaimana berita koran tersebut hampir 60 tahun lalu.

Saya kemudian memilih Pedoman Rakjat, karena koran itulah yang akrab di telinga saya, dan bahkan masih sempat saya baca diera 1980-an sampai awal 1990-an. Sepupu saya pernah menjadi wartawan dikoran ini sebelum koran ini berhenti terbit.

Berita apa saja yang ada dikoran Pedoman Rakyat yang terbit pada hari Senin tanggal 15 Juni 1953? Pertama tama, koran ini hanya terdiri dari 4 halaman. Halaman pertama terdapat berita utama. Berita lainnya ada di halaman kedua, dan halaman 3 hanya iklan, begitu juga halaman 4 hanya iklan saja.

Slogan koran tua ini adalah “Pedoman Rakjat, Suara Merdeka Untuk Ke Adilan Sosial”. Berita utamanya adalah bagaimana gerombolan bertempur dengan gerombolan lainnya ditengah tengah persiapan menjelang hari raya Idul Fitri. Judul beritanya, “Tjara2 Makassar menjambut hari Lebaran, Suara takbir diselingi suara2 tembakan, Penduduk dibeberapa bagian kota menjingkir, karena gerombolan bertempur dengan gerombolan?”

Isi beritanya tentang rentetan suara tembakan selama beberapa malam menjelang lebaran. Juga diberitakan tentang Hari Raya Idulfitri 1372 H. yang dilaksanakan di Lapangan Karebosi yang dihadiri sekitar 20.000 jemaah. Tulisan dikoran ini masih menggunakan ejaan lama dan masih banyak menggunakan kosa kata bahasa Belanda. Misalnya pada kolom kedua dan ketiga pada halam pertama: ‘selama minggu2 terachir ini seluruh Chinese Wijk kalau matahari terbenam merupakan kuburan sepi….dst.” Dikolom ketiga ada tulisan, ‘tjatatan kriminaliteit dalam kota Makassar…..dst.’

Membaca berita utama ini saya berkesimpulan bahwa pada waktu itu suasana belum aman. Masih sering terjadi pemberontakan, baik dari sipil maupun dari kalangan tentara sendiri. Di bagian selatan dan timur Makassar yang pada masa itu masih kurang penduduk, masih sering terjadi penculikan dan penembakan.

Masih di halaman pertama juga diberitakan tentang upacara peringatan hari kelahiran Pahlawan Sultan Hasanuddin satu hari sebelumnya yaitu tanggal 14 Juni 1953. Upacara berlangsung di makam Sultan Hasanuddin di Tamalate, Gowa, dihadiri oleh Bupati Abdul Razak, Major Saleh Lahade, Walikota Makassar Syahruddin. Malamnya diadakan pertunjukan sandiwara tentang cara hidupnya Sultan Hasanuddin, di Balai Pertemuan Masyarakat. Juga diadakan Pasar Malam Amal di Sungguminasa dan Makassar.

Ternyata pada tahun 1950-an setiap tanggal 14 Juni diperingati sebagai Hari Pahlawan Sultan Hasanuddin. Entah sejak kapan peringatan itu tidak lagi dilaksanakan. Karena masih suasana lebaran waktu itu, banyak iklan ucapan selamat Idul fitri, misalnya, dari toko “AN LOK” di Jalan Belanda 28, Makassar. Ucapannya berbunyi,

“Dengan djalan ini, kita mengutjap Selamat Hari Raya Aidil Fitri 1 Sjawal 1372 kepada sekalian langganan, sahabat dan kenalan kaum Muslimin”.

Ada juga dari toko “HAP LIE” di Jalan Kemah no. 33, Tilp. 382. Adapula ucapan Idul Fitri dari R. Saleh Sastranegara, Kepala Polisi Provinsi Sulawesi. Yang menjadi pertanyaan saya, apakah nama nama jalan itu sekarang? Karena sudah lebih 20 tahun saya menetap di Makassar, tidak pernah mengetahui dimana letak nama jalan seperti Jl. Kemah, Jl. Belanda, Jl. Walikota, Jl. Maciniayo, Jl. Gowa Utara, Jl. Polongbangkeng dll. Nama nama jalan itu tertera pada iklan iklan perusahaan yang ada pada halaman 3 dan 4.

Pada halaman 1 juga ada beita olahraga, yaitu kedatangan Kesebelasan Philipina yang akan memainkan laga persahabatan dengan kesebelasan di Indonesia. Berita dilengkapi dengan foto kesebelasan Philipina saat tiba di Jakarta. Judul beritanya, “Ke XI Pilipina Digulingkan oleh Tjimahi dan Bogor, Masing2 dengan 4-2 dan 5-1”. Sayang sekali tidak disebutkan nama nama pemain dari kesebelasan tuan rumah.

Kalau saja pertandingan dilaksanakan di Makassar, kemungkinan nama Ramang akan disebut, karena kalau tidak salah, tahun 1950-an adalah masa keemasan Ramang, pemain Sepakbola Indonesia asal Makassar, yang pernah membela Indonesia di Olimpiade 1956 di Melbourne Australia.

Pada halaman kedua ada berita politik dengan judul, “Pres-Ali bitjarakan soal kabinet: PSI-Masjumi tjotjok kalau Ali Formateur”. Yang dimaksudkan adalah Dubes RI di AS Mr. Ali Sastroamidjojo bertemu dengan Presiden Soekarno dan membicarakan tentang formateur. Menurut kabar, beliau dicalonkan menjadi Perdana Menteri dan akan mendapat sambutan yang baik dikalangan PSI dan Masjumi.

Masih di halaman dua, ada berita tentang Nyonya Rasuna Said yang terpilih menjadi ketua umum Panitia Penyelenggara Kongres Perdamaian Seluruh Indonesia. Yang paling menarik bagi saya adalah iklan film film yang diputar dibioskop bioskop di Makassar. Bagian atas iklan tertulis, “GABIMA MEMPERSEMBAHKAN HARI INI”. Gabima adalah singkatan dari Gabungan Bioskop Makassar”. Di iklan tersebut ada 8 bioskop disebutkan tapi dihalaman lain, juga ada beberapa nama bioskop lainnya, seperti, Bioskop Nam Seng Theatre, dan Bioskop Shanghai Theatre.

Di Bioskop CAPITOL diputar film “Jiwa Lara” untuk 17 tahun keatas dimainkan oleh Osman Gumanti dan Rukiah. Di Bioskop CITY, diputar film Hollywood dengan judul “The Barefoot Mailman”. Pemainnya, Robert Cummings, Terry Moore, Jerome Courtland. Ada juga Bioskop EMPRESS yang memutar film “Main2 Djadi Sungguhan” dengan pemeran Rd. Mochtar dan Netty Herawati.

Film “Antara Senjum dan Tangis” yang dimainkan oleh P. Ramlee dan Rukiah diputar di Bioskop MURNI hari itu. Film Hollywood lainnya yang diputar di Bioskop SAMPURNA adalah “King of Jungleland” dengan pemeran Clyde Beatty dan Manuel King.

Bioskop SIRENE memutar film yang sama dengan yang diputar di bioskop CAPITOL yaitu film “Jiwa Lara”. Film “Dewi Murni” diputar di bioskop SULAWESI dengan aktor Osman Gumanti dan Kasma Booty.

Terakhir bioskop TAMAN GEMBIRA memutar film yang sama dengan yang diputar di bioskop MURNI yaitu film “Antara Senjum dan Tangis”. Menarik jika kita menyimak nama nama aktor Indonesia diera 1950-an. Aktor Usman Gumanti dan Rukiah masing masing bermain didua film. Osman Gumanti main dalam film JIWA LARA dan DEWI MURNI, sedangkan Rukiah main difilm JIWA LARA dan ANTARA SENJUM DAN TANGIS.

Saya yakin, mereka adalah aktor terkenal di zaman itu, meskipun jarang disebut sebut oleh media. Nama Rd. Mochtar dan Netty Herawati masih kadang kadang saya dengar disebut diera 1980an tapi Kasma Booty?

Tak pernah sama sekali terlintas di pikiran saya, siapa sebenarnya bintang film ini. Namanya seperti nama bintang film India. Kalau P. Ramlee yang saya ingat adalah bintang film dari Malaysia. Atau aktor Indonesia yang terkenal di Malaysia? Entahlah. Mungkin jawabannya ada di ….GOOGLE….. Saya akan mencari gambar aktor aktor itu. (Gambar: Koleksi Pribadi)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar