Blog Grup Pedoman Rakyat

Jumat, 21 September 2012

Saya Inging Dikenang sebagai Wartawan



WARTAWAN olahraga senior harian Fajar, Makassar, Piet Heriyadi Sanggelorang, meninggal dunia di Makassar, Selasa, 18 September 2012. Ketika bertemu dan berbincang terakhir kali di rumahnya, Pondok Ayu Lestari, Blok C/5, Banta-bantaeng, Makassar, Selasa, 4 September 2012, Pak Piet mengatakan, profesi wartawan sudah menjadi jalan hidupnya dan dirinya ingin mati serta dikenang sebagai wartawan. (Teks: Asnawin, foto-foto: Tamsir)






In Memorium Piet Heriyadi Sanggelorang:
Saya Inging Dikenang sebagai Wartawan

Oleh: Asnawin
(Pengurus PWI Sulsel/Mantan Wartawan Harian Pedoman Rakyat)

Sebagai wartawan dan kebetulan pernah bertugas sebagai wartawan olahraga, saya cukup dekat dengan Piet Heriyadi Sanggelorang. Kami sering berdiskusi. Beliau sering memuji tulisan-tulisan saya. Sambil tersenyum dan sambil bercanda, beliau juga kerap memberikan masukan dan memberi motivasi.

"Bagaimana bos?", "Win, bagaimana kabar?". Dua sapaan itulah yang sering terlontar dari mulutnya jika kami bertemu.

Sebelum menjadi wartawan pada 1992, saya sudah mengenal Piet Heriyadi Sanggelorang, melalui tulisan-tulisan dan ulasan-ulasannya di harian Fajar. 

Salah satu tulisannya yang sangat berkesan dan sangat jarang dilakukan oleh wartawan lain, yaitu wawancara imajinernya dengan Ramang, pemain sepakbola legendaris. Tidak gampang memang, melakukan wawancara imajiner, apalagi dengan orang yang sudah lama meninggal dunia.

"Om, luar biasa wawancara imajinerta dengan Ramang waktu itu," ujar saya ketika pertama kali berkesempatan ngobrol-ngobrol santai dengan beliau belasan tahun lalu.

Di Sulawesi Selatan, tidak banyak wartawan yang mau dan mampu meluangkan waktu menjadi pengurus KONI Sulsel, tetapi Pak Piet Heriyadi mau dan mampu melakukannya sejak sekitar 30-40 tahun lalu.

"Saya sudah berapa kali PON selalu menjadi ofisial kontingen Sulsel," katanya dalam beberapa kesempatan.

Pada PON XVI di Palembang, 2-14 September 2004, saya juga berangkat sebagai wartawan, tetapi saya diberangkatkan oleh tim karate (saya kebetulan pengurus Forki Sulsel). Saya bersama para tim pendukung (sebagian besar karateka) yang sengaja didatangkan ke Palembang untuk memberikan support kepada tim karateka Sulsel, ditempatkan di sebuah wisma.

Ketika bertemu Pak Piet Heriyadi selaku Humas KONI Sulsel, di arena pertandingan, beliau mengajak saya bergabung bersama wartawan lain yang ditempatkan di sebuah hotel (saya tidak ingat persis, apakah hotel atau wisma). 

"Win, lebih baik kau bergabung dengan teman-teman wartawan lain (dari Sulsel)," katanya.

Saya hanya tersenyum, tidak mengiyakan dan juga tidak menolak, tetapi saya tentu saja tidak bisa memenuhi ajakan itu, karena sangat tidak enak meninggalkan rombongan pendukung tim karatekan Sulsel.

Selasa, 4 September 2012,saya bersama Ketua PWI Sulsel Zulkifli Gani Ottoh, Wakil Ketua PWI Sulsel Hasan Kuba, Bendahara PWI Sulsel Nurhayana Kamar, staf Sekretariat PWI Sulsel H Murtaji, Rina, dan Ira, membesuk Pak Piet Heriyadi Sanggelorang yang sedang sakit, di rumahnya, Pondok Ayu Lestari Blok C/5Banta-bantaeng, Makassar.

Ketika itu, kami baru saja melayat ke rumah almarhum Arfah Lewa, yang meninggal dunia sehari sebelumnya (Senin, 3 September 2012).

Saat tiba di rumah Pak Piet, sekitar pukul 12.00 wita, ternyata beliau sedang tidur. Kami disambut dengan ramah oleh isterinya. Kami meminta isterinya agar Pak Piet tidak perlu dibangunkan, tetapi sang isteri tetap membangunkannya.

Dengan tertatih-tatih, Pak Piet keluar ke ruang tamu menemui kami. Kami berjabat tangan dan berpelukan. Mukanya tampak agak pucat dan terlihat lebih kurus dibandingkan biasanya, tetapi beberapa menit kemudian setelah kami berbincang-bincang dan mencoba memancingnya bercanda, wajahnya sudah tidak pucat lagi dan beliau pun tampak lebih ceria.

"Nah, Om Piet sekarang tidak pucat lagi. Mungkin karena kita semua hadir dan bisa membuat Om Piet gembira," kata Nurhayana.

Saya duduk agak jauh, sehingga tidak banyak bicara. Saya lebih banyak mendengar dan tersenyum sambil menikmati hidangan minuman dan kue-kue yang disajikan tuan rumah. Mungkin karena saya tidak banyak bicara, akhirnya Pak Piet menegur.

"Win, bagaimana?," tegurnya.

"Baik-baik saja om," jawab saya lalu mengingatkan kembali wawancara imajinernya dengan Ramang belasan tahun silam.

Pak Piet tertawa dan kembali mengenang beberapa kebersamaannya dengan Ramang, sang pemain legendaris PSM dan timnas PSSI.

Dengan wajah cerah dan ceria, Pak Piet mengatakan, dirinya terlahir sebagai wartawan dan ingin tetap menjadi wartawan hingga akhir hayatnya.

"Saya ingin mati dan dikenang sebagai wartawan," katanya.

Senin siang, 17 September 2012, Ketua PWI Sulsel Zulkifli Gani Ottoh mengirim sms dan mengabarkan bahwa Pak Piet Heriyadi sedang kritis di ICCU Rumah Sakit Stella Maris, Makassar. Keesokan hari, pada jam yang hampir bersamaan, Pak Zulkifli kembali mengirim sms kepada sejumlah pengurus PWI Sulsel dan juga mungkin kepada banyak orang, dan isinya kali ini berbunyi; "Pak Piet Heriyadi Sanggelorang meninggal dunia hari ini, Selasa, 18 Sept pkl 14:10 di RS Stella Maris. Tk. Zugito."

Selamat tinggal Pak Piet, semoga dirimu tenang di alam sana. Terima kasih atas senyuman, sapaan, dorongan semangat, dan kebersamaanmu selama ini, baik dengan diri saya pribadi, maupun dengan sesama wartawan dan dengan banyak orang lainnya.

Makassar, 19 September 2012


[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan Anda di blog Pedoman Rakyat -- http://pedomanrakyat.blogspot.com]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar