Blog Grup Pedoman Rakyat

Sabtu, 25 Mei 2013

Penyusunan Risalah Islam Muhammadiyah Perlu Lebih Komprehensif


RAIH DOKTOR. Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel KH Alwi Uddin (keempat dari kiri) foto bersama tim penguji, antara lain Prof Din Syamsuddin (penguji eksternal/paling tengah) dan Prof Qadir Gassing (ketiga dari kiri), seusai mengikuti ujian promosi doktor, di Gedung PPs UIN Alauddin Makassar, Senin, 20 Mei 2013. (Foto: http://www.umm.ac.id)






Penyusunan Risalah Islam Muhammadiyah Perlu Lebih Komprehensif

- Ketua Muhammadiyah Sulsel Raih Gelar Doktor


Makassar, Muhammadiyah Sulsel.
Permasalahan tajdid gerakan dakwah Muhammadiyah semakin kompleks. Karena itulah, penyusunan risalah Islam Muhammadiyah perlu lebih komprehensif dan digali dari ide-ide dan pengalaman yang selama ini dimiliki oleh Muhammadiyah dengan tetap berorientasi pada masa depan yang modernis dan berkemajuan.

Upaya solutif untuk itu adalah dengan penguatan militansi pimpinan kader Muhammadiyah, menyiapkan kader ulama dan muballigh, serta pembinaan dan pemberdayaan amal usaha Muhammadiyah.

Permasalahan yang dihadapi Muhammadiyah dan tawaran solusi tersebut dikemukakan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel Dr KH Muhammad Alwi Uddin MAg, saat memertahankan disertasinya pada ujian promosi doktor, di Gedung PPs Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Senin, 20 Mei 2013.

Dalam disertasinya yang berjudul "Tajdid Gerakan, Studi Kritis Gerakan Dakwah Muhammadiyah Sulsel Tahun 2005-2011", ustadz Alwi (sapaan akrab KH Alwi Uddin) juga menyampaikan bahwa Muhammadiyah di Sulsel tidak terlepas dari misinya sebagai Gerakan Tajdid Gerakan Dakwah, sehingga aktualisasi aktivitas warga Muhammadiyah di daerah dirasakan penting melalui gerakan dakwah.

"Terutama gerakan dakwah di tengah masyarakat," kata mantan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar yang sehari-hari mengajar sebagai dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin.

Belum Optimal


Prof Din Syamsuddin (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah) dalam kapasitasnya sebagai Guru Besar Ilmu Politik Islam UIN Syarfif Hidayatullah Jakarta dan tampil sebagai penguji eksternal, mengatakan, Muhammad Alwi Uddin telah berhasil mengambil jarak dalam mengkritik Muhammadiyah dengan menggunakan metodologi ilmiah, namun belum optimal mengambil jarak antara dirinya dengan Muhammadiyah, terutama dilihat dari faktor pendukung dan penghambat, khususnya yang terkait dengan analisis SWOT.

Selain Din Syamsuddin, tim penguji lainnya yaitu Prof Dr H A Qadir Gassing HT MS (Rektor UIN Alauddin / Pimpinan Sidang Ujian), Prof Dr H Moh Natsir Mahmud MA, Prof Dr H Ahmad M Sewang MA, Prof Dr H Natsir A Baqi MA, Prof Dr Darussalam Syamsuddin MAg, Dr Hj Muliaty Amin MAg, dan Prof Dr H Baso Midong MA.

Dihadiri Ratusan Kader


Ujian promoso doktor KH Alwi Uddin dihadiri ratusan kader dan simpatisan Muhammadiyah se-Sulsel, antara lain Syaiful Saleh, H Andi Iskandar Tompo, KH Baharuddin Pagim, Mawardi Pewangi, Prof Ambo Asse, Abdullah Renre, dan Dahlan Yusuf, serta sejumlah Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Sulsel, dan pimpinan Ortom Muhammadiyah.

Selain itu, juga hadir Rektor Unismuh Makassar Dr Irwan Akib, Rektor Universitas Muhammadiyah Parepare Syarifuddin Yusuf, Ketua STKIP Bone Jufri Rasyid, Ketua STKIP Bulukumba Dr Sumrah AP, Ketua STKIP Muhammadiyah Sidrap Rasyid Yunus, Ketua STISIP Muhammadiyah Sidrap Dr Jamaluddin, serta sejumlah pimpinan perguruan tinggi Muhammadiyah se-Sulsel. (asnawin)
 

 Sumber berita:
- http://www.uin-alauddin.ac.id/uin-2809-din-syamsuddin-alwi-belum-maksimal-kritik-muhammadiyah.html
- http://www.uin-alauddin.ac.id/uin-2808-muhammad-alwi-raih-gelar-doktor.html
- http://www.umm.ac.id/id/berita-muhammadiyah-2671-studi-kritis-terhadap-gerakan-dakwah-muhammadiyah-sulsel-antar-ketua-pwm-sulsel-raih-gelar-doktor.html

[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan Anda di blog "Pedoman Rakyat"]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar