Blog Grup Pedoman Rakyat

Minggu, 31 Maret 2013

Kopertis Wilayah IX Sulawesi: Siapa Koordinator ke-10?


JUMPA PERS. Ketua Umum APTISI Pusat Prof Dr Edy Suandi Hamid MEc (tengah) didampingi Sekjen APTISI Pusat Prof Dr H Suyatno (kiri), dan Ketua APTISI Wilayah IX-A Makassar Prof Dr Hambali Thalib SH MH, saat jumpa pers terkait usulan calon Koordinator Kopertis dari kalangan dosen PTS, termasuk pencalonan Prof Hambali Thalib sebagai calon Koordinator Kopertis Wilayah IX Sulawesi, di Hotel Sahid Makassar, Jumat, 15 Februari 2013. (Foto: Asnawin)




Kopertis Wilayah IX Sulawesi:
Siapa Koordinator ke-10?


Sejak terbentuk pada 1968, Kopertis Wilayah IX Sulawesi sudah dipimpin 10 Koordinator, mulai dari Letkol Dr Muhammad Natzir Said SH, sampai Prof Dr H Muhammad Basri Wello MA.

Pertanyaannya, siapa Koordinator ke-11 Kopertis Wilayah IX Sulawesi? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita menengok sejenak ke belakang, sejarah dibentuknya Kopertis Wilayah IX Sulawesi dan Koordinatornya sejak terbentuk sampai sekarang.

Dasar dibentuknya Kopertis Wilayah IX adalah untuk membantu Direktur Jenderal Perguruan Tinggi dalam mengemban otoritas, wewenang, dan tanggung jawab terhadap Universitas /Institut dan Sekolah Tinggi sebagai pelaksana program pembinaan terhadap perguruan tinggi dalam rangka pelaksanaan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1961 dan produk perundang-undangan lainnya.

Kedudukan, tugas, dan wewenang Koordinator Perguruan Tinggi ditetapkan dengan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 170b/ 1967, tanggal 10 Oktober 1967 walaupun wilayah kerjanya akan ditetapkan kemudian.

Untuk melaksanakan tugas dan wewenang, diterbitkan pula keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 1/PK/1968 tanggal 17 Februari 1968, tentang Kantor Koordinator Perguruan Tinggi sekaligus menetapkan wilayah kerjanya.

Dalam Diktum pertama Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini, ditetapkan pembukaan Kantor Koordinasi Perguruan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Direktur Perguruan Tinggi di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya.

Dari Diktum tersebut ternyata bahwa untuk wilayah Indonesia Bagian Timur, belum mencakup kelima Koordinator yang sudah dibentuk, tetapi untuk pembentukannya sudah ada.

Dominasi Unhas

Karena itulah, melalui Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 4/ PK/1968, tanggal 5 Desember 1968, diangkatlah Lektor Dr Muhammad Natsir Said SH, Rektor Universitas Hasanuddin, sebagai Koordinator Perguruan Tinggi Daerah Sulawesi dan Maluku.

Tahun 1972, terjadi perubahan nama dan perluasan wilayah kerja (Kepmendiknas RI Nomor 054/1972, tanggal 25 Maret 1972) menjadi Koordinasi Perguruan Tinggi (Koperti) Wilayah VII, yang meliputi wilayah kerja meliputi Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya.

Jabatan Koordinator Koperti juga diserah-terimakan dari Dr Muhammad Natsir Said, kepada Prof Dr Zaenal Abidin Farid SH (dosen Unhas).

Tahun 1974, kembali dilakukan perubahan nama dari Koperti menjadi Kopertis, yang merupakan singkatan dari Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Keputusan Presiden Nomor 44 dan Nomor 45 tahun 1974, serta Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 079/0/1975, tanggal 17 Pebruari 1974 Jo. Nomor 094/0/1975).

Tahun 1976, Prof Zainal Abidin Farid diberhentikan dengan hormat dari jabatannya selaku Koordinator Kopertis Wilayah VII dan digantikan oleh Rektor Unhas, Prof Dr Ahmad Amiruddin (Kepmendikbud RI No. 84266/C/1/1976 tanggal 12 Maret 1976).

Tahun 1980-an, Koordinator Kopertis Wilayah VII berubah menjadi Koordinator Kopertis Wilayah IX, dengan wilayah kerja yang tetap yaitu Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya, sedangkan jabatan Koordinator kemudian diserahkan kepada Ridwan Saleh Mattayang SH (dosen Unhas).

Tahun 1990-an, wilayah kerja Koordintor Perguruan Tinggi Swasta Wilayah IX berubah meliputi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara (Kepmendikbud RI Nomor 0135/0/1990, tanggal 15 Maret 1990), sedangkan jabatan diserah-terimakan dari Ridwan Saleh Mattayang, kepada Prof Dr HA Rahman Rahim (dosen Unhas).

Tahun 1995, jabatan Koordinator Kopertis Wilayah IX Sulawesi diserah-terimakan dari Prof Rahman Rahim kepada Prof Drs H Ahmad R Hafidz MS (dosen Unhas).

Selanjutnya pada 1999, Prof Ahmad R Hafidz digantikan oleh Dr H Abdul Rauf Patong (dosen Unhas).
Pada tahun 2004, jabatan Koordinator Kopertis Wilayah IX Sulawesi kembali diserah-terimakan. Kali ini dari Dr Abdul Rauf Patong kepada Prof Dr H Aminuddin Salle SH MH (dosen Unhas).

Dominasi Unhas selaku pemasok Koordinator Kopertis Wilayah IX Sulawesi, akhirnya terpatahkan dengan terpilihnya Prof Dr H Muhammad Basri Wello MA sebagai pengganti Aminuddin Salle.

Basri Wello adalah dosen Universitas Negeri Makassar (UNM), yang pernah menjabat Pembantu Rektor III dan Pembantu Rektor IV UNM.

Sulit Ditebak

Kembali ke pertanyaan di atas, siapa Koordinator ke-10 Kopertis Wilayah IX Sulawesi? Mengacu kepada pengalaman lima tahun lalu, tampaknya sulit menebak siapa calon Koordinator ke-10, karena boleh jadi ada nama yang santer disebut-sebut sebagai calon kuat, tetapi ternyata Mendikbud menetapkan nama lain yang jarang disebut.

Yang pasti, dari berbagai informasi yang berhasil kami himpun, ada lebih dari 10 nama yang diusulkan oleh beberapa perguruan tinggi negeri se-Sulawesi, dan APTISI Wilayah IX-A Makassar, kepada Mendikbud, sebagai calon Koordinator Kopertis Wilayah IX Sulawesi.

Boleh jadi, Mendikbud kembali menunjuk salah seorang dosen Unhas sebagai pengganti Prof Basri Wello, tetapi tidak menutup kemungkinan yang ditunjuk adalah usulan dari PTN lain di Sulawesi atau usulan dari APTISI Wilayah IX-A Makassar. (asnawin, dari berbagai sumber)


@copyright Tabloid Almamater, Makassar, Edisi ke-4, Maret 2013.
http://tabloid-almamater.blogspot.com/2013/03/kopertis-wilayah-ix-sulawesi-siapa.html

3 komentar:

  1. Kopretis butuh pemimpin dari kaumnya sendiri agar pengabdiannya sesuai dengan asprirasi kaumnya.... bukan pemimpin inport dari PTN. Bagimanapun hebtanya Obama kita sepakat tdk rela mempimpin indonesia, kita hanya ingin dipimpin oleh org indonesia sendiri, begitu logikanya.... ya kan... ?

    BalasHapus
  2. dosen2 kopertis and swasta sdh pinter2 and sdh dewasa, jd sdh saatnya mereka sendiri yg memimpin kopertis bukan dosen inport dari PTN

    BalasHapus