Padukan Budaya Tionghoa-Bugis Makassar


Foto: Tawakkal/Fajar

Harian Fajar (www.fajar.co.id)
Minggu, 21 Februari 2010

Padukan Budaya Tionghoa-Bugis Makassar
- Jangan Panggil Aku Cina

MAKASSAR -- Sejumlah atraksi budaya mewarnai malam temu hati di Ballroom Graha Pena Lt II, malam tadi. Acara ini dikemas dalam ajang silaturahmi dan akulturasi budaya Tionghoa-Makassar sebagai rangkaian perayaan Imlek 2561.

Temu hati ini diawali dengan atraksi barongsai yang membuat undangan ikut larut dalam suasana ini. Selain dihadiri sejumlah tokoh Tionghoa seperti Yonggris, Arwan Tjahjadi, Rizal Tandiawan, dan ratusan undangan lainnya, juga turut hadir Komisaris Utama PT Media Fajar HM Alwi Hamu, Dirut PT Media Fajar Syamsu Nur, Direktur Produksi dan SDM Sukriansyah S Latief, Ketua PWI Sulsel, Zulkifli Gani Ottoh, Kepala Kesbang Sulsel Tautoto Tana Ranggina.

Malam temu hati ini juga menampilkan tari Dewi Kwan In dari Vihara Girinaga, tari Tai Ci, Tari Sutra, dan sejumlah pertunjukan budaya lainnya. Tak ketinggalan pembacaan puisi oleh Udhin Palisuri berjudul "Jangan Panggil Aku Cina".

Ketua Panitia Malam Temu Hati Imlek 2561, Yonggris mengatakan, malam temu hati ini merupakan perpaduan budaya Tionghoa dengan etnis Bugis Makassar yang diharapkan bisa meningkatkan komitmen dan solidaritas antara sesama umat beragama.

Karena itu, Yonggris berharap kegiatan seperti ini akan digelar setiap tahun. “Kalau perlu lebih menarik lagi," ujar Yonggris.

Komisaris Utama PT Media Fajar, HM Alwi Hamu mengatakan, malam temu hati yang digelar sebagai rangkaian perayaan Imlek ini patut mendapat respons positif. Apalagi, ini sebagai upaya meningkatkan hubungan silaturahmi antar-sesama pemeluk agama, khususnya di Sulsel.

“Semua agama itu sama. Semua mengajarkan tentang kebaikan dan keselamatan," ujar Alwi.

Secara khusus, Alwi berharap dengan perayaan Imlek yang dilakukan warga Tionghoa ini bisa lebih banyak mendatangkan rezeki, serta rahmat kesehatan.

Kepala Kesbang Sulsel, Tautoto Tana Ranggina mewakili Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo juga mengapresiasi malam temu hati ini. "Kegiatan ini sangat positif, dan harus terus ditumbuhkembangkan. Masyarakat kita harus meningkatkan rasa persaudaraan, persatuan, dan bersama-sama menjaga keutuhan Sulsel," ujar Tautoto.

Malam tadi, tiga warga Tionghoa yang aktif pada cabang olahraga dan pernah mengharumkan nama Sulsel bahkan Indonesia di mata dunia diberi penghargaan berupa pin emas Kesetiaan dari PWI Sulsel. Pin emas tersebut disematkan kepada masing-masing atlet oleh Alwi Hamu.

Yonggris menyebutkan, pemberian pin tersebut sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi mereka mengharumkan nama besar bangsa.

"Jadi bukan sekadar prestasi, tapi mereka banyak berkontribusi," ujar Yonggris.

Ketiga atlet dari cabang olahraga berbeda yang mendapat pin emas itu yakni, Hengky Irawan dari cabang olahraga angkat besi/angkat berat. Hengky tercatat pernah meraih medali perak dan perunggu pada PON 1981 dan 1985.

Atlet kedua yakni, Budi Wijaya dari cabang sepak bola era Ramang, dia pernah membawa PSM juara cup 1965-1966. Serta Selvi Meylowa dari cabang olahraga renang indah, peraih medali emas dan perak Malaysia Open. (sah)

Komentar

Pos populer dari blog ini

Kode Etik Jurnalistik PWI (Persatuan Wartawan Indonesia)

Mengenang Tiga Tahun Wafatnya Pedoman Rakyat