Wartawan Harian Pedoman Rakyat Meninggal Dunia

Wartawan Pedoman Rakyat Meninggal Dunia

Bertambah lagi seorang wartawan harian Pedoman Rakyat, Makassar, meninggal dunia. Rekan kami yang meninggal tersebut adalah Indarto (45). Bujangan asal Pacitan, Jawa Timur, tersebut meninggal dunia diduga karena serangan jantung pada hari Minggu, 10 Mei 2009, di Kompleks Perumahan Maizonet, Makassar.

Puluhan wartawan dan karyawan harian Pedoman Rakyat berkumpul di rumah duka yang juga merupakan kantor Majalah Profiles, mulai dari wartawan angkatan terbaru sampai wartawan senior.

Mereka antara lain HM Dahlan Abubakar, Yasmin Tendan, Syafruddin Tang, HL Arumahi, M Arief Djasar, James Wehantouw, Norma Djidding, Insan Ikhlas Jalil, Asdar Muis RMS, Mahyudin, Asnawin, Arafah, Yahya Mustafa, Mustam Arief, Rusdi Embas, Elvianus Kawengian, Sultan Darampa, dan Rusli Kadir.

Para wartawan dan karyawan, serta sejumlah kerabat, semula hendak memakamkan almarhum di Taman Pemakaman Umum Islam Sudiang atau di Pemakaman Wartawan Sudiang, namun atas permintaan keluarga, maka almarhum akhirnya dibawa ke Lamasi, Palopo.

Dalam tiga tahun terakhir, sudah lima wartawan dan karyawan harian Pedoman Rakyat yang meninggal dunia. Mereka adalah Hasanuddin alias Hanter (Hasanuddin asal Ternate) yang meninggal di kampung halamannya Ternate, Arthur Kuse (wartawan), Usman Sanaki (karyawan), Abdul Latief Sikki (karyawan), serta Indarto.

Indarto masuk di harian Pedoman Rakyat pada 1992 dan terangkat menjadi wartawan penuh (definitif) pada bulan Mei 1993. Ia terangkat bersama enam wartawan lainnya yakni Rusdi Embas SE (sekarang Sekretaris Redaksi Harian “TRIBUN TIMUR”), Drs Moh Yahya Mustafa (sekarang menjadi dosen dan penulis buku), Elvianus Kawengian (sekarang Redaktur Pelaksana “KORAN PEDOMAN”).

Drs Asnawin (sekarang Pemred Tabloid Pendidikan “CERDAS”, Redpel “KORAN PWI”, Humas Kopertis Wilayah IX Sulawesi, dan dosen mata kuliah jurnalistik), Ely Sambominanga SH (terakhir menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum Daerah Kabupaten Mamasa), serta Drs Mustam Arief (wartawan majalah “PROFILES”, aktivis LSM, dan sering menulis artikel di media massa).

Almarhum Indarto saat meninggal dunia masih menjabat Pemimpin Redaksi Majalah “PROFILES” (media aktualisasi dan prmosi), Makassar. Ketika menjadi wartawan harian Pedoman Rakyat, Indarto pernah menjadi wartawan kriminal, hukum, hiburan, dan olahraga.

Dalam pergaulan sehari-hari, Indarto tergolong orang yang jarang bicara. Almarhum sebenarnya senang bergaul dan juga kerap membuat humor, tetapi dia lebih sering mendengar dan atau tersenyum ketimbang bicara.

Hingga akhir hayatnya, almarhum tetap membujang. Alasannya, dia tidak ingin menyusahkan anak orang lain.

“Bagaimana mau menikah, kalau kondisi keuangan seperti ini,” ujarnya dalam beberapa kesempatan.

Ya, itulah almarhum Indarto, satu-satunya wartawan harian Pedoman Rakyat yang dipanggil ''mas" karena memang hanya dia yang berasal dari Jawa (Pacitan, Jawa Timur). Dia tidak ingin membuat susah orang lain, sehingga hampir tidak pernah ia bermasalah dengan orang lain.

Selamat jalan kawan. Semoga arwahmu diterima dengan baik di sisi-Nya dan semoga engkau tenang di alam sana. Aamiinn……

Makassar, 10 Mei 2009
Asnawin

Komentar

Pos populer dari blog ini

Kode Etik Jurnalistik PWI (Persatuan Wartawan Indonesia)

Mengenang Tiga Tahun Wafatnya Pedoman Rakyat