Blog Grup Pedoman Rakyat

Senin, 31 Oktober 2016

Pendiri Muhammadiyah Pernah Disebut Kafir


PEMBUKAAN. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr Haedar Nashir, membuka Rakornas Lembaga Pengembangan Pondok Pesantren Muhammadiyah (LP3M), di Balai Sidang Muktamar 47, Kampus Unismuh Makassar, Jumat malam, 28 Oktober 2016. (Foto: Asnawin Aminuddin)



--------



Pendiri Muhammadiyah Pernah Disebut Kafir


            Pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, ternyata pernah disebut kafir ketika mengubah kebiasaan pola pendidikan di pondok pesantren, yakni guru mengajar sambil berdiri dan murid-murid duduk di kursi.
“KH Dahlan mengajar sambil berdiri, sedangkan murid-muridnya duduk di kursi, sehingga ketika itu KH Dahlan disebut kafir. Lama kelamaan, mereka mengadopsi model pendidikan yang dikembangkan KH Ahmad Dahlan,” ungkap Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr Haedar Nashir.
Hal tersebut diungkapkan pada pembukaan Rakornas Lembaga Pengembangan Pondok Pesantren Muhammadiyah (LP3M), di Balai Sidang Muktamar 47, Kampus Unismuh Makassar, Jumat malam, 28 Oktober 2016.
            Haedar Nashir mengatakan, KH Ahmad Dahlan mendirikan Madrasah Diniyah Al-Islamiyah pada 1 Desember 1911, atau sekitar satu tahun sebelum mendirikan Muhammadiyah pada 18 November 1912. Setelah Muhammadiyah berdiri, KH Ahmad Dahlan mendirikan Madrasah Muallimin Muhammadiyah.
            “KH Dahlan melakukan banyak perubahan dari kebiasaan pola pendidikan di pondok pesantren, antara lain para santri tidak harus mondok di pesantren. Esensinya yaitu sistem pendidikan Islam moder yang belakangan kita sebut sebagai sistem pendidikan Islam berkemajuan,” tutur Haedar.
Para pengelola Pondok Pesantren Muhammadiyah, lanjutnya, diharapkan meneguhkan kembali spirit yang dibawa oleh pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, yakni mengembangkan sistem pendidikan Islam berkemajuan.
            “Masa lampau kita jadikan khazanah, tetapi jangan sampai kita kembali masa lampau,” kata Haedar.
Pembukaan Rakornas Lembaga Pengembangan Pondok Pesantren Muhammadiyah turut dihadiri Gubernur Sulsel diwakili Asisten III Sidik Salam, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel yang juga Ketua Badan Pembina Harian Unismuh Makassar, Dr HM Syaiful Saleh, Rektor Unismuh Makassar Dr Abdul Rahman Rahim, mantan Rektor Unismuh Makassar Prof Irwan Akib, Ketua Harian Partai Golkar Pusat yang juga Pelaksana Tugas Ketua Partai Golkar Sulsel Nurdin Halid, serta sejumlah undangan. (win)



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar