Pilih Cabup Politisi, Birokrat, Praktisi, atau Militer



Pilih Cabup Politisi, Birokrat, Praktisi, atau Militer

Oleh : Asnawin
(Mahasiswa S2 Ilmu Komunikasi Universitas Satria, Makassar)

Manusia selalu diperhadapkan kepada pilihan-pilihan, termasuk dalam memilih calon pemimpinnya. Ada banyak kriteria calon pemimpin, mulai dari kriteria umum sampai kriteria khusus, tetapi tulisan ini tidak membahas masalah kriteria pemimpin,melainkan gaya kepemimpinan dari sudut pandang Ilmu Komunikasi.

Gaya kepemimpinan yang akan dibahas adalah gaya kepemimpinan para bupati dan walikota di Sulawesi Selatan, agar masyarakat tahu dan kelak dapat menentukan pilihannya bila diperlukan.

Dalam teori ilmu komunikasi disebutkan bahwa kepemimpinan adalah proses memengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan tertentu.

Proses ini tentu memerlukan keahlian berkomunikasi yang efektif, yaitu kemampuan menyampaikan makna, sehingga orang lain terpengaruh dan mau mengerjakan suatu kegiatan yang diharapkan. Setiap gaya kepemimpinan diduga akan memiliki gaya komunikasi tertentu pula yang akan memengaruhi efektifitas kelompok atau masyarakat yang dipimpinnya.

Gaya kepemimpinan, bahasa, dan tindakan para bupati dan walikota di Sulawesi Selatan antara lain bisa dilihat dari latar belakang profesi mereka sebelum menjadi bupati atau walikota.

Dari 24 bupati dan walikota di Sulawesi Selatan saat ini, sebanyak 13 orang di antaranya berlatar-belakang birokrat. Sisanya, empat pengusaha, dua jaksa, dua politisi, serta masing-masing satu akademisi, satu pengacara, dan satu militer. Dengan demikian, ada tujuh latar belakang profesi dari 24 bupati dan walikota di Sulawesi Selatan saat ini.

Dikaitkan dengan beberapa gaya kepemimpinan, dapat dikatakan bahwa seorang birokrat biasanya terpengaruh dengan sistem dan pola. Gaya kepemimpinan atau bahasa dan tindakan birokrat kerapkali mengacu kepada sistem dan pola yang sudah ada, sehingga mereka condong mengendalikan, mengarahkan, menjelaskan, dan memberi instruksi.

Pengusaha biasanya senang dengan tantangan dan tidak terlalu peduli dengan proses. Dalam memimpin, pengusaha cenderung lebih mementingkan hasil dibandingkan proses, sehingga gaya kepemimpinannya lebih banyak memberi tantangan dan rangsangan, serta melibatkan atau memberdayakan orang lain. Seorang pengusaha juga tak jarang ‘’menabrak’’ aturan tetapi tidak melanggar, karena aturan yang beku atau kaku kerapkali menghalangi pencapaian hasil.

Jaksa sebenarnya juga seorang birokrat. Selain terpengaruh dengan sistem dan pola, jaksa juga selalu mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang ada. Bahasa dan tindakan jaksa dalam memimpin lebih banyak menjelaskan, memberi instruksi, serta mengganjar orang yang dipimpinnya.

Pengacara adalah seorang praktisi hukum yang sedikit banyaknya selalu mengacu kepada perundang-undangan atau aturan yang ada dalam setiap bahasa dan tindakannya. Namun sebagai seorang praktisi, seorang pengacara juga cenderung lebih mementingkan hasil dibandingkan proses, sehingga gaya kepemimpinannya lebih banyak memberi tantangan dan rangsangan, serta melibatkan atau memberdayakan orang lain.

Politisi selalu berpikir tentang dampak atau implikasi politik dalam setiap ucapan dan tindakan yang dilakukannya, sehingga gaya kepemimpinannya cenderung lebih banyak mendorong atau mendukung orang lain, tetapi tetap melakukan pengendalian dan tidak melepaskan sepenuhnya kepercayaan yang telah diberikan kepada orang lain.

Seorang akademisi tak pernah berhenti berpikir dan selalu membuat perencanaan sebelum melakukan sesuatu. Bahasanya terstruktur dan tindakannya lebih banyak bersifat mendidik. Gaya kepemimpinan seorang akademisi cenderung menggunakan asumsi ‘’Teori Y’’ McGregor (1967), yang memandang manusia (orang yang dipimpin) sebagai organisme biologis yang tumbuh, berkembang, dan melakukan pengendalian terhadap diri mereka sendiri.

Militer biasanya ‘’sedikit bicara banyak bekerja’’, namun ada kecenderungan gaya kepemimpinannya bersifat mengarahkan atau mengendalikan orang lain, serta memberi ganjaran atau memperkuat orang lain, khususnya orang yang dipimpinnya.

Seorang militer cenderung menggunakan asumsi ‘’Teori X’’ McGregor yang memandang manusia sebagai suatu mesin yang amat memerlukan pengendalian dari luar, sehingga menganggap cara terbaik untuk memotivasi pegawai atau bawahannya adalah dengan memberi rasa takut, ancaman, dan hukuman.

Selain ada pengaruh dari latar belakang profesi mereka, gaya kepemimpinan para bupati dan walikota tentu juga dipengaruhi oleh situasi dan kondisi setempat, baik budaya dan kebiasaan yang ada, maupun perkembangan politik yang terjadi di wilayahnya masing-masing. Dengan demikian, mereka menggunakan kombinasi perilaku komunikatif yang berbeda ketika menanggapi keadaan sekelilingnya.

Gaya Kepemimpinan

Watak dan bakat bawaan juga besar andilnya terhadap gaya kepemimpinan bupati dan walikota. Dari berbagai macam pengaruh tersebut, maka lahirlah sejumlah gaya kepemimpinan, antara lain gaya pengalah (improverished style), gaya pemimpin pertengahan (middle-of-the-road style), gaya tim (team style), gaya kerja (task style), dan gaya santai (country club style). (Blake dan Mouton, 1964).

‘’Gaya Pengalah’’ cenderung menerima atau menyetujui keputusan, pendapat, sikap, dan gagasan orang lain, serta menghindari sikap memihak. Jika terjadi konflik, pemimpin gaya pengalah tetap netral dan berdiri di luar masalah, sehingga jarang terlibat.

‘’Gaya Pemimpin Pertengahan’’ berupaya jujur tetapi tegas terhadap pendapat, gagasan, dan sikap yang berbeda dengan yang dianutnya, serta mencari pemecahan masalah yang tidak memihak. Pemimpin seperti ini berupaya memertahankan keadaan agar tetap baik, tetapi jika mendapat tekanan mungkin saja menjadi bimbang dan mencari jalan untuk menghindari ketegangan.

‘’Gaya Tim’’ sangat menghargai keputusan yang logis dan kreatif. Ia senang mendengarkan dan mencari gagasan, pendapat dan sikap yang berbeda dengan yang dianutnya, serta menghargai pekerjaan orang. Ia mampu mengendalikan diri sekalipun dalam keadaan marah, bahkan mampu menampakkan sikap humor meskipun dalam keadaan tertekan. Pemimpin gaya tim selalu mengikutsertakan orang lain untuk ikut bergabung bersamanya, serta menumbuhkan sikap saling memercayai dan saling menghargai. Bila terjadi konflik, mereka mencoba memeriksa alasan-alasan timbulnya perbedaan dan mencari penyebab utamanya.

‘’Gaya Kerja’’ sangat menghargai keputusan yang telah dibuat, dan memberi perhatian besar kepada pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan secara efisien. Pemimpin gaya kerja cenderung memertahankan gagasan, pendapat, dan sikapnya dengan cara menekan orang lain. Jika terjadi konflik, ia cenderung menghentikannya atau memenangkan posisinya dengan cara membela diri, berkeras pada pendiriannya, atau bahkan mengulangi konflik dengan sejumlah argumentasi baru.

‘’Gaya Santai’’ sangat menghargai hubungan baik di antara sesama orang, serta lebih senang menerima pendapat orang lain dari pada memaksakan kehendaknya. Pemimpin gaya santai selalu bersikap hangat dan ramah untuk mengurangi ketegangan yang ditimbulkan oleh adanya gangguan. Ia menghindari terjadinya konflik, tetapi jika tidak bisa menghindari terjadinya konflik, maka ia mencoba melunakkan perasaan orang lain dan menjaga agar orang lain tetap mau bekerja sama.

Mungkin tidak persis sama antara teori dan kenyataan di lapangan, tetapi sedikit banyaknya ada kemiripan, dan dari situ kita kelak dapat menentukan apakah akan memilih calon bupati dari latar belakang politisi, birokrat, praktisi (pengusaha, pengacara), atau militer.

Khusus kepada para bupati dan walikota yang kini tengah mendapat amanah menjadi pemimpin, diharapkan agar ‘’memperlakukan orang lain sebagai kawan’’, serta ‘’membantu anak buah untuk mengembangkan keahlian yang dibutuhkan pekerjaan’’, atau ‘’mengarahkan anak buah untuk menemukan kemampuan-kemampuan yang mereka miliki.’’

keterangan:
- artikel opini ini dimuat di Harian Ujungpandang Ekspres, Makassar, pada halaman 2 (rubrik Opini), Jumat, 12 Februari 2010.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Kode Etik Jurnalistik PWI (Persatuan Wartawan Indonesia)

Mengenang Tiga Tahun Wafatnya Pedoman Rakyat