Media massa sesungguhnya banyak yang sangat responsif gender. Itu dibuktikan dengan banyaknya acara atau rubrik yang mengekspos keterampilan dan kepiawaian perempuan, antara lain perempuan yang terampil memasak, perempuan ustadza, perempuan yang hebat sebagai politisi, perempuan yang aktivis, dan perempuan yang sukses menjadi pejabat publik.
Banyak Media yang Responsif Gender
Media massa sesungguhnya banyak yang sangat responsif gender. Itu dibuktikan dengan banyaknya acara atau rubrik yang mengekspos keterampilan dan kepiawaian perempuan, antara lain perempuan yang terampil memasak, perempuan ustadza, perempuan yang hebat sebagai politisi, perempuan yang aktivis, dan perempuan yang sukses menjadi pejabat publik.
Selain itu,
perempuan juga sejak dulu banyak yang tampil dengan gagasan dan tulisan yang
cemerlang. Mereka melawan kekuasaan laki-laki dengan berbicara.
Itulah yang
dilakukan perempuan pengarang novel populer era 1970-an. Mereka bukan lagi “subjek
dari pernyataan”, melainkan menjadi “subjek yang berbicara.”
Sebut saja Ike
Soepomo, Mira W, Titie Said, La Rose, Marga T, serta sederet nama lainnya.
“Mereka mencoba
bersikap dinamis dan mengembangkan idealisme sebagai perempuan bebas dan
mandiri,” kata Direktur Perpustakaan Pers PWI Sulsel, Asnawin.
Hal tersebut
diungkapkan saat tampil membawakan materi pada Pelatihan Jurnalisme Perempuan
yang diadakan oleh Kementerian Pemberdayaan Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa
Universitas Muhammadiyah (Unismuh) bekerja sama Pimpinan Cabang Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Makassar.
Novelis tahun
60-an, Nh. Dini, pernah mengakui gairah menulis itu menyeruak karena suatu
alasan. Bila dulu menulis cuma energi laten, kini mereka menemukan
"pelataran aspirasi", yang tersedia seiring munculnya majalah-majalah
wanita, seperti Femina, Kartini, Famili, dan Sarinah.
Para pengarang
novel pop itu mulai belajar mengarang dalam rubrik cerpen di majalah perempuan
yang tengah tumbuh subur.
Tak cuma
mengekspresikan gaya hidup, majalah-majalah itu memang telah mencetak para
penulis wanita. Disadari atau tidak, mereka mencoba merebut kekuasaan sekaligus
menolak untuk dikuasai. Para perempuan novelis itu memecah "kebisuan
teks" dengan berbicara dan menulis.
“Mungkin mereka
terinspirasi keampuhan medium epistolaire alias surat-menyurat RA Kartini.
Sampai sekarang juga masih banyak perempuan yang sering tampil dengan
tulisan-tulisan dan gagasan-gagasannya di media massa,” kata Asnawin.
Perempuan
Indonesia di era reformasi ini, sungguh telah memperoleh ruang yang begitu
besar dan luas. Perempuan kini bisa memilih dan melakukan apa saja. Perempuan
bisa memilih menjadi ibu rumah tangga, bisa memilih menjadi wanita karier,
sastrawan, politisi, artis, dan berbagai macam profesi lainnya.
Dengan pilihannya
tersebut, perempuan kini dapat membuat dirinya dilihat dan “dinikmati” semua
orang, dielu-elukan, dihormati, atau dicaci-maki.
Sebagian perempuan
memilih menjadi bagian dari yang tidak terpisahkan dari media massa dan
industri hiburan.
Ada yang menjadi
artis sinetron, ada yang menjadi model dan pragawati, ada yang menjadi Putri
Indonesia, ada yang menjadi penyanyi, dan ada yang menjadi bintang iklan.
Sayangnya, kata
Asnawin, sebagian dari mereka lebih sering dijadikan atau digambarkan dalam
bentuk komoditas atau pelaris produk atau pun pendongkrak penjualan produksi
barang-barang tertentu.
Tidak lengkap dan
menarik suatu acara, berita, atau pun iklan tanpa menampilkan daya tarik
perempuan. Ironisnya, banyak iklan yang sangat tidak mendidik dan sebenarnya
tidak ada hubungan langsung antara produk yang diiklankan dengan perempuan yang
ditampilkan.
Apa hubungan
antara mie pedas dengan pinggul seorang perempuan, apa pula hubungan antara
handphone mungil dengan lekuk tubuh perempuan, dan apa hubungan minuman dengan
getaran dada Ratu Gergaji dan goyangan pantat Ratu ngebor, kalau tidak untuk
mengeksposenya sebagai komoditas iklan murahan.
Perkembangan
perekonomian menjadikan perempuan sebagai ujung tombak promosi, pemanis cover
majalah, penarik pembeli pastagigi, deodorant, minuman, makanan, kompor, alat
elektronik, mobil, rokok, rumah bahkan traktor pun menggunakan perempuan
sebagai daya tarik jual.
Ada perempuan
mengkomersilkan traktor berpose dengan pusar dan payudara setengah kelihatan,
paha pun demikian. Ketika mengendarai mobil ia tidak tahu menjalankannya dan
mogok. Dengan bermodal kaki, paha yang setengah terbuka sambil membusungkan
dada yang menantang, maka serombongan laki-laki beramai-ramai membantunya.
Film dan sinetron
juga selalu menampilkan perempuan yang cantik dan seksi, serta tak jarang
mengumbar kemolekan dan keindahan tubuh mereka.
“Mengapa media
massa menampilkan iklan dan sinetron yang mengekspos kecantikan dan kemolekan
tubuh perempuan?” tanya Asnawin.
Menurut dia, itu
terjadi karena media massa antara lain memang memiliki fungsi menghibur. Selain
itu, media massa kini telah menjelma menjadi industri yang berorientasi kepada
keuntungan finansial.
“Sayangnya,
sebagian media massa kerap melanggar fungsinya yang lain yakni mendidik. Selain
menghibur dan mendidik, media massa juga berfungsi memberikan informasi (yang
benar) dan berfungsi melakukan kontrol sosial,” katanya. (mn)
– Tabloid Demos, edisi Minggu III-IV September 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar