Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Agustus 2024

Jejak Si Polan


Nama Si Polan menjulang tinggi / Di ibu kota, di pentas nasional / Dipuja, diandalkan / Di balik kesederhanaan yang ia pertahankan // Tiba-tiba badai datang / Si Polan tersandung korupsi / Terjerat kasus dan jatuh ke bumi / Nama yang dahulu harum / Kini rusak, terkoyak, hancur
 

Senin, 29 Juli 2024

Kenangan Terakhir

Suatu hari, kala kupulang ke desa

Engkau membawaku ke pasar

Membelikanku sepatu, sepasang penuh makna

Yang kupakai dalam setiap langkah kerja

Rabu, 28 Januari 2015

Legislator dan Parpol



Setelah Pemilu
sebagian dari kalian
terpilih menjadi legislator
sebagian masuk daftar tunggu

Kini...
kalian saling memaki
yang legislator seolah lupa sekretariat
yang daftar tunggu bosan di sekretariat

Sabtu, 11 Juli 2009

Puisi Buat Si Polan

Puisi Buat Si Polan

Karya: Asnawin

Ketika masih kuliah
Si Polan....
Biasa-biasa saja

Ketika masih kuliah
Si Polan....
Tidak terlalu dikenal

Ketika masih kuliah
Si Polan....
Bukan mahasiswa berprestasi

Ketika masih kuliah
Si Polan....
Bukanlah siapa-siapa

Setelah meraih gelar sarjana
Si Polan....
Menjadi pegawai negeri sipil

Setelah meraih gelar sarjana
Si Polan....
Aktif berorganisasi

Setelah meraih sarjana
Si Polan....
Memimpin sebuah perusahaan

Setelah meraih gelar sarjana
Si Polan....
Menjadi terkenal

Si Polan muncul
Sebagai wakil dari generasi muda
Yang cukup menonjol

Si Polan dianggap sukses
Mengelola dan membesarkan
Perusahaan titipan banyak orang

Si Polan pun dianggap sukses
Memimpin
Sebuah organisasi kepemudaan

Si Polan kemudian
Memimpin
Sebuah organisasi olahraga

Si Polan berhasil
Mengangkat prestasi
Tim olahraga yang dipimpinnya

Si Polan menjadi publik figur
Kemudian
Terpilih menjadi anggota parlemen

Si Polan lalu muncul
Sebagai orang yang berkiprah
Di Ibukota Negara

Di tingkat nasional
Si Polan lagi-lagi
Mendapat kepercayaan

Di tingkat nasional
Si Polan terpilih memimpin
Perusahaan milik orang banyak

Di tingkat nasional
Si Polan terpilih memimpin
Organisasi olahraga

Nama Si Polan melambung
Nama Si Polan terkenal
Nama Si Polan menjadi buah bibir

Tapi, Si Polan biasa-biasa saja
Tapi, Si Polan tetap tampil sederhana
Tapi, Si Polan tetap rajin beribadah

Si Polan kaya raya
Si Polan punya kedudukan
Si Polan tetap Si Polan

Banyak orang
Yang....
Memuji Si Polan

Banyak orang
Yang....
Bergantung kepada Si Polan

Banyak orang
Yang....
Memanfaatkan Si Polan

Tiba-tiba...
Si Polan tersandung
Dan jatuh

Tiba-tiba...
Si Polan terjerat
Kasus korupsi

Tiba-tiba...
Si Polan sakit
Dan mendapat perawatan

Kemudian...
Si Polan diadili
Dan masuk bui

Kemudian...
Nama Si Polan
Rusak

Kemudian...
Nama Si Polan
Hancur

Banyak orang yang kaget
Banyak orang yang heran
Banyak orang yang bertanya-tanya

Benarkah...
Si Polan...
Korupsi...?

Benarkah...
Si Polan...
Jahat...?

Benarkah...
Si Polan...
Pendusta...?

Jawablah Polan!
Benarkah semua itu?
Benarkah mereka?

Jawablah Polan!
Benarkah kamu korupsi?
Benarkah kamu jahat?

Jawablah Polan!
Benarkah kamu pendusta?
Benarkah kamu pembohong?

Dulu.....
Aku.....
Mengagumimu

Dulu.....
Aku.....
Menyayangimu

Dulu.....
Aku.....
Mencintaimu

Aku ingin
Tetap....
Mengagumimu

Aku ingin
Tetap....
Menyayangimu

Aku ingin
Tetap....
Mencintaimu

Makassar, 16 September 2007

Terlindas Perubahan

Perubahan adalah kepastian yang tak terbantahkan

Tapi jangan biarkan dirimu terlindas oleh arusnya

Hingga menjadi hina di mata zaman

 

Hadapilah hidup ini dengan tegar

Sambutlah perubahan dengan iman di dada

Dan takwa sebagai cahaya yang memandu langkahmu

Rabu, 08 Juli 2009

Mereka Tak Ada Apa-apanya

Mereka Tak Ada Apa-apanya
(Buat Alifian Mallarangeng)

Karya: Asnawin

Ah, kita tidak perlu khawatir
Mereka terlalu kecil
Tak mungkin
Mampu melawan kita

Ah, mereka tak ada apa-apanya
Optimisme mereka
Tingkah polah mereka
Semuanya semu

Ah, sudahlah
Biarkan saja mereka
Bicara dan berbuat
Kita pasti menang

Makassar, 8 Juli 2009
(Hari ”H” Pemilu Presiden 2009)

Belum Saatnya

Belum Saatnya
(Buat Alifian Mallarangeng)

Karya : Asnawin

Kalian hanya etnis kecil
Jumlah kalian sedikit
Apa yang bisa kalian andalkan

Negeri ini terlalu besar
Bagi kalian
Jangan bermimpi jadi pemimpin

Etnis tertentu terlalu besar
Kalian tak akan mampu
Melawan mereka

Berhentilah bermimpi
Belum saatnya
Kalian jadi pemimpin

Makassar, 8 Juli 2009
(Hari ”H” Pemilu Presiden 2009)

Kegelisahan Seorang Wartawan



Kegelisahan Seorang Wartawan

(Sajak Buat Pengurus dan Anggota PWI Sulsel)

Oleh : Asnawin

Ada kegelisahan
Ada kesesakan
Ada kesedihan
Ada kemauan

Wartawan gelisah
Wartawan sesak
Wartawan sedih
Wartawan mau

Gelisah ingin maju dan berkualitas
Sesak sebagai anggota organisasi kewartawanan
Sedih melihat sebagian rekan wartawan lain
Mau mengangkat harkat dan martabat korps wartawan

Wahai para pengurus organisasi kewartawanan
Wahai para wartawan senior
Wahai para pemilik media massa
Wahai para wartawan muda

Masih adakah kegelisahan di tubuh kita
Masih adakah kesesakan di dada kita
Masih adakah kesedihan di hati kita
Masih adakah kemauan di diri kita

Semarang, 29 Agustus 2007

(puisi ini dimuat di Harian Fajar, Makassar, pada 17 Februari 2008)

Aku Tidak Mau Terjatuh

Aku Tidak Mau Terjatuh

Karya : Asnawin

Ranting tua itu hampir patah
Badanku terlalu berat baginya
Sudah terlalu lama aku bergelantungan
Kakiku sudah hampir mencapai tanah

Aku harus segera melompat
Aku harus pindah ke ranting lain
Aku tidak mau terjatuh
Aku tidak mau terjerembab

Karena tanah di bawah sana becek
Karena tanah di bawah sana berbau
Karena tanah di bawah sana berlumpur
Karena tanah di bawah sana kotor

Makassar, 9 November 2007

Kepekaan

Kepekaan

Karya : Asnawin

Seorang perempuan setengah baya
Duduk di tepi jalan raya depan hotel berbintang
Pakaiannya lusuh
Rambutnya acak-acakan
Di pangkuannya ada seorang bayi perempuan
Sedang tidur
Lelap
Di depan kedua perempuan itu
Tergeletak sebuah mangkok
Beberapa recehan dan lembar seribuan terlihat di sana

Seorang lelaki setengah baya
Berjalan melewati kedua perempuan itu
Pakaiannya bersih dan rapi
Rambutnya tersisir rapi
Di tangan kirinya terjinjing tas hitam
Tangan kanan memegang handphone
Dia asyik berbicara entah dengan siapa di balik telepon
Sambil tertawa-tawa
Dia berlalu begitu saja
Seolah tak melihat keberadaan kedua perempuan itu

Jakarta, 15 Mei 2008

Tanpa Kata-kata

Tanpa Kata-kata
(Buat Kakanda Putra Jaya)

Karya : Asnawin

Seorang pemuda setengah pengangguran
Menemui seorang pengusaha media
Di sebuah warung kopi
Mereka pun asyik ngobrol
Tertawa-tawa
Bersama beberapa orang dalam satu meja

Menjelang magrib
Sang pengusaha media pamit
Dia diantar beberapa orang
Si pemuda setengah pengangguran
Hanya menyalami sambil tersenyum
Lalu duduk kembali di kursinya

Tak lama kemudian
Seorang pemuda berbadan tegap
Mendatangi si pemuda pengangguran
Sambil tersenyum tangannya langsung bekerja
Menyelipkan beberapa lembar uang seratus ribu
Ke kantong si pemuda dan langsung pergi tanpa kata-kata

Jakarta, 15 Mei 2008

Jangan Jadi Wartawan

Asnawin

Jangan Jadi Wartawan

Karya : Asnawin

Jangan menjadi wartawan kalau niatnya mencari uang
Jangan menjadi wartawan kalau hanya ingin cari teman
Jangan menjadi wartawan kalau tak punya minat
Jangan menjadi wartawan kalau tak punya bakat

Jangan menjadi wartawan kalau hanya ingin cari nama
Jangan menjadi wartawan kalau hanya berbekal idealisme
Jangan menjadi wartawan kalau hanya ikut-ikutan
Jangan menjadi wartawan kalau tidak jelas masa depanmu

Jadilah wartawan karena minat, bakat, dan niat yang baik
Jadilah wartawan cerdas dan punya obsesi
Jadilah wartawan profesional
Jadilah wartawan yang disegani dan dihormati

Jakarta, 19 Mei 2008

Ternyata Tidak Mudah

Asnawin

Ternyata Tidak Mudah

Karya : Asnawin

Ketika tertumbuk pada satu persoalan
Aku ingin segera melakukan perubahan
Tetapi ternyata tidak mudah
Karena melakukan perubahan butuh keberanian

Setelah membuat konsep yang seolah-olah sudah matang
Aku ingin segera merealisasikannya
Tetapi ternyata tidak mudah
Karena merealisasikan konsep butuh modal dana

Teman-teman memberikan saran dan solusi
Aku ingin segera menempuhnya
Tetapi ternyata tidak mudah
Karena teman lain meragukannya dan menyuruhku berpikir ulang

Aku kemudian berada di persimpangan
Aku ingin segera mengakhiri semua ini
Tetapi itu juga ternyata tidak mudah
Karena aku harus tetap hidup

Makassar, 5 Juni 2008

Rabu, 24 Juni 2009

Yang Terakhir



Yang Terakhir

Oleh: Asnawin

Suatu hari ketika pulang kampung
Adik saya mengajak ke pasar
Dia membelikan saya sepasang sepatu
Sepatu itu lalu kupakai beraktivitas sehari-hari

Suatu hari seusai berobat
Adik saya mengajak makan siang
Kami makan nasi kuning di tepi jalan
Sambil berbincang-bincang

Suatu hari menjelang magrib
Adik saya berkunjung
Dia datang bersama seorang kawannya
Mereka berdua menginap di rumah kontrakanku

Suatu hari ibuku menelepon
Adik saya menanyakan kabarku
Dia bertanya mengapa aku
Tak pernah meneleponnya

Suatu hari di bulan November
Adik saya itu meninggal dunia
Dan aku tak sempat melihat jenazahnya
Karena terlambat pulang kampung

Rupanya sepatu yang ia beli untukku
Rupanya makan nasi kuning di tepi jalan
Rupanya kedatangannya menginap di rumahku
Rupanya telepon adikku melalui ibuku

Adalah yang terakhir
Yang terakhir untukku
Kenangan terakhir
Yang terakhir

Adikku....
Maafkan aku....
Maafkan karena tak mampu menangkap....
Isyarat darimu....

Semoga di alam sana....
Engkau tenang....
Semoga Sang Maha Pengasih....
Mengampuni dosa-dosamu....

Rabu, 24 Desember 2008

Puisi-puisi Nursam di Harian Pedoman Rakyat



keterangan gambar: Nursam (kiri) foto bersama Nur Alim Jalil (Redaktur Seni-Budaya Harian Fajar, Makassar)

Puisi-puisi Nursam
(yang pernah dimuat di harian Pedoman rakyat)


Suara Hati Seorang Da’i
[Pedoman Rakyat. Minggu, 3 Februari 2002]

seruan da’wah indah terdengar
membangkitkan hati yang sedang terkapar
sedang saat itu hari telah malam
malam, dimana aku mencari ketenangan alam
namun...
hatiku
jiwaku
dan seluruh jazadku
bertekad mendengar nyanyian da’wah
membesarkan umat lewat da’wah
demi tegaknya asma Allah


Noda dan Dosa
[Pedoman Rakyat. Minggu, 3 Februari 2002]

aku penuh noda
aku masih menampung limbah dosa
hendak kubersihkan
namun apa yang mesti kugunakan?
kucoba dengan sabun keimanan
namun noda itu tetap melekat di dada
kucoba dengan sapu keikhlasan
namun limbah dosa masih menumpuk adanya
kucoba dan tetap kucoba
namun apa hendak dikata
tiada daya aku menghindar
noda dan dosa tetap menyebar
Makassar, Agustus 2000

TUKANG KORAN*
[Pedoman Rakyat. Minggu, 7 Juli 2002]
saat malam telah usai
sebelum mentari mengintip bumi
sang alam menghembuskan angin deras
serta awan-awan terhempas

saat itu cuaca teramat dingin
menggigillah tubuhku
suara azan terbawa angin
menghangatkan jiwaku
akupun berwudhu
mengendarai sobat setiaku
menuju sumber suara itu

setelah melaksanakan kewajiban
kuantar lembaran milik pelanggan
dan menjual lembaran eceran
kulintasi tiap lorong penghidupan
kugapailah rezki di jalan

kini kusadari
setiap rezki
adalah karunia Ilahi

[Pedoman Rakyat, 10 Maret 2002]
NASIB MALANG
hujan deras mengguyur
menghunjam di antara lahan-lahan subur
air bah meluap
hasil alam pun turut dilahap

sungguh malang nasib pak taniku
tak berdaya oleh bencana yang membelenggu
dilihatnya kebun
padi dan jagung hanyut tertimbun

dilihatnya tambak
ikan dan udang lenyap tak tertebak
dipandanginya rumah
semua roboh oleh badai menerpa
dipandanginya anak dan istri
mereka tenggelam dan mati

itulah sebab
muncul tanya tiada jawab
mengapa pak taniku menanggung beban berat
padahal merekalah penyedia pangan rakyat
mengapa pejabat kotor menuai nikmat
padahal merekalah pemeras uang rakyat

kini...
pak taniku duduk di antara tenda-tenda pengungsi
termenung lesu sambil menggendong kisah sedih
mengharap welas asih
menanti pertolongan Ilahi
Januari 2002

Name : Nursam
Address : Jl. Serka Munir No.51 Karuwisi, Makassar, Sulawesi Selatan 902323, Indonesia
Phone : 0411-439306, 085299964946
Blog : http://muhnursam.multiply.com

Sabtu, 01 Maret 2008

Koran Perjuangan

Koran Perjuangan

(Mengenang Harian Pedoman Rakyat)

Oleh : Asnawin

Hari ini 61 tahun lalu
Engkau hadir
Di tengah masa pergolakan
Di saat rakyat Indonesia sedang berjuang
Mempertahankan kemerdekaan

Hari ini 61 tahun lalu
Engkau hadir
Sebagai koran perjuangan
Media penghubung
Antara rakyat dengan penguasa

Hari ini 61 tahun lalu
Engkau hadir
Memberikan pencerahan
Kepada rakyat
Kepada bangsa Indonesia

Hari ini 61 tahun lalu
Engkau hadir
Memberikan pedoman
Kepada rakyat
Kepada bangsa Indonesia

Hari ini 61 tahun lalu
Engkau hadir
Sebagai cahaya terang
Di tengah kegelapan dan kesamaran
Ketika rakyat membutuhkanmu

Hari ini 61 tahun kemudian
Engkau tak hadir lagi
Engkau menghilang
Entah kemana
Entah sampai kapan

Makassar, 1 Maret 2008

Senin, 18 Februari 2008

Kesedihan Wartawan

Kesedihan Wartawan

Oleh : asnawin

Engkau termasuk makhluk mulia
Engkau ibarat Malaikat Jibril
Yang membawa ayat-ayat Tuhan
Dari langit kepada nabi dan rasul

Engkau termasuk makhluk mulia
Engkau ibarat nabi dan rasul
Yang menyebarkan berita
Dari langit kepada umat manusia

Kesedihanmu adalah kesedihan Malaikat Jibril
Kesedihanmu adalah kesedihan nabi dan rasul
Kesedihanmu adalah kesedihan para pemuka agama
Kesedihanmu adalah kesedihan penyeru kebajikan

Pernahkah engkau bersedih
Kapankah engkau bersedih
Bagaimana bentuk kesedihanmu
Di manakah engkau bersedih

Engkau tak perlu menjawabnya
Engkau tak perlu mengucapkannya
Engkau tak perlu menuliskannya
Karena aku sudah tahu

Engkau bersedih
Ketika tidak lagi
Diberi kepercayaan
Membuat berita

Engkau bersedih
Ketika tidak lagi
Punya kemampuan
Membuat berita

Engkau bersedih
Ketika tidak lagi
Punya media massa
Untuk menyebarkan berita

Makassar, 23 Oktober 2007




Kegelisahan Seorang Wartawan

Oleh : Asnawin

Ada kegelisahan
Ada kesesakan
Ada kesedihan
Ada kemauan

Wartawan gelisah
Wartawan sesak
Wartawan sedih
Wartawan mau

Gelisah ingin maju dan berkualitas
Sesak sebagai anggota organisasi kewartawanan
Sedih melihat sebagian rekan wartawan lain
Mau mengangkat harkat dan martabat korps wartawan

Wahai para pengurus organisasi kewartawanan
Wahai para wartawan senior
Wahai para pemilik media massa
Wahai para wartawan muda

Masih adakah kegelisahan di tubuh kita
Masih adakah kesesakan di dada kita
Masih adakah kesedihan di hati kita
Masih adakah kemauan di diri kita

Semarang, 29 Agustus 2007

(dua puisi ini dimuat di Harian Fajar, pada 17 Februari 2008)

Senin, 29 Oktober 2007

Pada Hari Sumpah Pemuda

Ketika para pejabat
Mengikuti upacara
Peringatan Hari Sumpah Pemuda
Sejumlah pemuda masih ngorok
Setelah semalaman mabuk-mabukan

Di saat para pemuda pelopor
Mengikuti upacara
Peringatan Hari Sumpah Pemuda
Sejumlah pemuda pengangguran
Asyik ngobrol di warung kopi

Pada Hari Sumpah Pemuda
Banyak pemuda yang bingung
Banyak pemuda yang pusing
Banyak pemuda yang teler
Banyak pemuda yang tersenyum kecut

Makassar, 29 Oktober 2007

Selasa, 23 Oktober 2007

Kesedihan Wartawan


(karya: asnawin)

Engkau termasuk makhluk mulia
Engkau ibarat Malaikat Jibril
Yang membawa ayat-ayat Tuhan
Dari langit kepada nabi dan rasul

Engkau termasuk makhluk mulia
Engkau ibarat nabi dan rasul
Yang menyebarkan berita
Dari langit kepada umat manusia

Kesedihanmu adalah kesedihan Malaikat Jibril
Kesedihanmu adalah kesedihan nabi dan rasul
Kesedihanmu adalah kesedihan para pemuka agama
Kesedihanmu adalah kesedihan penyeru kebajikan

Pernahkah engkau bersedih
Kapankah engkau bersedih
Bagaimana bentuk kesedihanmu
Di manakah engkau bersedih

Engkau tak perlu menjawabnya
Engkau tak perlu mengucapkannya
Engkau tak perlu menuliskannya
Karena aku sudah tahu

Engkau bersedih
Ketika tidak lagi
Diberi kepercayaan
Membuat berita

Engkau bersedih
Ketika tidak lagi
Punya kemampuan
Membuat berita

Engkau bersedih
Ketika tidak lagi
Punya media massa
Untuk menyebarkan berita

Makassar, 23 Oktober 2007