Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Desember 2025

Cerpen yang Tidak Lazim dan Nyentrik

 

Irwan AR (kanan) menerima hadiah buku kumpulan cerpen “Ibu, Gaib!” dari Ketum DPP IPMI Muhammad Amir Jaya pada peringatan HUT ke-3 IPMI dan Diskusi Buku, di Kafebaca, Jalan Adhyaksa, No 2, Makassar, Rabu, 24 Desember 2025. (Foto: Arwan Awing)

Sabtu, 27 Desember 2025

Kepompong dan Benang-benang Sutra dalam Cerpen “Ibu”

Ketua Umum DPP IPMI Muhammad Amir Jaya (kiri) menyerahkan buku kumpulan cerpen “IBU” kepada Prof Kembong Daeng, pada acara peringatan HUT ke-3 Ikatan Penulis Muslim Indonesia, yang dirangkaikan peluncuran buku dan diskusi buku , di Kafebaca, Jalan Adhyaksa, Makassar, Rabu, 24 Desember 2025. (Foto: Arwan Awing)    

Jumat, 26 Desember 2025

Empat Desember Berturut-turut Diskusi Buku

 

HUT DAN DISKUSI BUKU. Ketua Umum DPP IPMI Muhammad Amir Jaya (berdiri) memberikan sambutan pada Acara Peringatan HUT ke-3 IPMI dirangkaikan launching dan diskusi Buku Kumpulan Cerpen “Ibu”, karya Anggota IPMI, dan Buku Kumpulan Cerpen “Ibu, Gaib!” karya Muhammad Amir Jaya, di Kafebaca, Jalan Adhyaksa, No 2, Makassar, Rabu, 24 Desember 2025. (Foto: Asnawin Aminuddin)

Senin, 28 November 2022

Pedang dan Kain Kafan Hanya Simbol, Bukan Mahar

Mahrus Andis (kiri) dan Lily Rachim berbincang sejenak sebelum tampil sebagai pembahas buku “Maharku; Pedang dan kain Kafan (Jilid 2)” yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Jl Sultan Alauddin, Makassar, Rabu, 23 November 2022. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)

Jumat, 25 November 2022

Dinamika Plot Novel “Maharku; Pedang dan Kain Kafan” Terasa Datar

TERASA DATAR. Mahrus Andis (kanan) dan Yudhistira Sukatanya tampil sebagai pembicara pada Peluncuran dan Bedah Buku “Maharku; Pedang dan Kain Kafan (Jilid 2)”, di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Jl Sultan Alauddin, Makassar, Rabu, 23 November 2022. (Foto: Asnawin Aminuddin)

Mencintai adalah Menerima Apa Adanya Orang yang Kita Cintai

BELUM LELAH MENCINTAI. Sastrawan dan sutradara teater, Yudhistira Sukatanya (kanan) didampingi Rahman Rumaday, tampil sebagai salah satu pembicara pada acara Peluncuran dan Diskusi Buku “Maharku; Pedang dan Kain Kafan (Jillid 2)”, di Kantor Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Jl Sultan Alauddin, Makassar, Rabu, 23 November 2022. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)

Kamis, 24 November 2022

Hidup Tak Hanya Berkisah Hari Ini, Di Sini, Lalu Mati

 

PELUNCURAN DAN DISKUSI BUKU. Rahman Rumaday (kedua dari kiri) menyerahkan buku “Maharku: Pedang dan Kain Kafan, Jilid 2”, kepada tiga pembicara yakni Yudhistira Sukatanya (kedua dari kanan), Mahrus Andis (paling kanan), dan Lily Rachim, pada acara peluncuran dan diskusi buku, di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Jl Sultan Alauddin, Makassar, Rabu, 23 November 2022. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)

Rabu, 23 November 2022

Bedah Buku “Ngopi Rongg” Jadi Ajang Reuni Wartawan Sulsel

AJANG REUNI. Sejumlah wartawan, seniman, sastrawan, penulis, serta pegiat literasi foto bersama pada acara Bedah Buku “Ngopi Rongg” karya Usdar Nawawi, yang diadakan Dinas Perpustakaan Kota Makassar, di Ballroom Hotel Best Western Plus Makassar, Jl Botolempangan, Makassar, Rabu, 23 November 2022. (ist)

Sabtu, 11 Januari 2014

Rumah Putih, Antologi Puisi Terunik di Dunia


Pada hari ini di dataran ide, inilah yang “tergila” sepanjang sejarah sastra Indonesia bahkan dunia. Tujuh orang penulis dari satu keluarga dan serumah di Bulukumba bersepakat mengabadikan puluhan karyanya ke dalam satu buku antologi puisi.

Rabu, 21 September 2011

Pelajaran dari Serangan Terhadap Umat Muslim di Ambon


Mereka sudah menyerang ummat Islam di Hari Raya Idul Fitri 1419H tanggal 19 dan 20 Januari 1999M. Mereka membantai ummat Islam, maka banyak jatuh korban tewas, dan banyak pula yang luka-luka. Setiap kali mereka menyerang selalu dalam keadaan mabuk seperti itu. Senjata mereka adalah panah beracun, panah berapi, parang, tombak, bom molotov, senjata api, bahkan basoka RPG7, senjata Amerika atau NATO.

Senin, 01 Desember 2008

Indonesia dalam Pantun

KRITIK bisa dilakukan lewat berbagai medium. Hal ini juga kemudian menggoda Mustam Arif, seorang jurnalis dan pengelola lembaga swadaya masyarakat di Makassar. Alasannya sederhana. Selain ingin memanfaatkan pantun sebagai ‘alat’ melakukan kritik sosial, juga melestarikan tradisi nusantara tersebut di tengah-tengah berkembangnya kesusastraan modern.

Jumat, 07 November 2008

Pemuda Muhammadiyah Sulsel Temui Kalla


Buku biografi Hj Athirah dibuat oleh 6 tim penulis yang dibentuk oleh Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulsel, masing-masing Basti Teteng, Asnawin, Muh Yahya, Ilham Hamid, Muh Ihsan dan A Baetal Mukaddas. Buku biografi tersebut dilaunching pertama kali di acara Sidang Tanwir Pemuda Muhammadiyah bulan Agustus lalu di Makassar. (int)