Tampilkan postingan dengan label Pedoman Rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pedoman Rakyat. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 16 Mei 2015
Makassar, Senin 15 Juni 1953
Beberapa hari yang lalu saya menerima koran tua dari saudara sayang yang menemukannya dicelah celah kayu lemari peninggalan orangtua. Ada koran Pedoman Rakjat, Suara Merdeka, Kedaulatan, dan Suara Marhaen. Saya kemudian memilih Pedoman Rakjat, karena koran itulah yang akrab di telinga saya. - Suharman Musa -
Senin, 23 Februari 2015
Reuni Mantan Wartawan Harian Pedoman Rakyat
JELANG HUT. Menjelang Hari Ulang Tahun ke-68 Harian Pedoman Rakyat, pada 1 Maret 2015 mendatang, sejumlah mantan wartawan dan mantan karyawan harian Pedoman Rakyat, mengadakan reuni dan foto bersama, di Kafebaca, Jl Adhyaksa, Makassar, Sabtu, 21 Februari 2015. (Foto: Ahriyanti Hamid)
Rabu, 22 Oktober 2014
Reuni Mantan Wartawan Harian Pedoman Rakyat
REUNI. Puluhan mantan wartawan dan mantan karyawan Harian Pedoman Rakyat, Makassar, mengadakan reuni di Makassar, Selasa, 21 Oktober 2014. Reuni diadakan sekalian membicarakan kemungkinan pemberian pesangon dari para pemegang saham. (ist)
Selasa, 14 Oktober 2014
Nasib Mantan Wartawan Harian "Pedoman Rakyat"
GEDUNG Kantor Harian "Pedoman Rakyat" di Jalan Arief Rate, Nomor 31, Makassar, masih berdiri megah, tetapi aktivitas perusahaan pers sudah tidak ada lagi sejak 2007. Kini nasib mantan wartawan dan mantan karyawan "Pedoman Rakyat" tidak jelas, padahal konon sudah ada putusan pengadilan tentang pembayaran pesangon. (Foto: Asnawin)
Sabtu, 01 Maret 2014
Selamat Ulang Tahun Harian "Pedoman Rakyat"
Tahun 1992, harian Pedoman Rakyat membuka penerimaan calon wartawan dan saya (Asnawin) pun mendaftar bersama lebih dari seratus pelamar lainnya. Setelah melalui beberapa tahapan tes, saya bersama enam teman lainnya akhirnya dinyatakan lulus. Keenam teman lain itu ialah Mustam Arif, Rusdy Embas, Elvianus Kawengian, Indarto (alm), Mohammad Yahya Mustafa, dan Ely Sambominanga. (dok. pribadi)
Sabtu, 02 Maret 2013
Ultah ke-66 Harian Pedoman Rakyat
ULTAH. Sejumlah mantan wartawan dan mantan karyawan harian Pedoman Rakyat, merayakan ulang tahun ke-66 harian Pedoman Rakyat, di Kafe Baca, Jl Adhyaksa, Makassar, 1 Maret 2013. Duduk dari kiri ke kanan: Asnawin, Wahyudin, Yahya Mustafa, Mahyudin, Laode Arumahi, Hafsah Maharani, Ros. Berdiri dari kiri ke kanan: Rusdy Embas, Warta sally, George, Supriadi Syarifuddin, Arif Rombo, Yusuf Sirajang, Elvianus Kawengian, Yusuf Akib, Mohammad Arafah, Rusli Kadir, dan Rusdi Suddin. (dok. Asnawin)
Sabtu, 03 Maret 2012
HUT ke-65 Harian Pedoman Rakyat
HUT Ke-65. Sejumlah mantan wartawan dan mantan karyawan harian Pedoman Rakyat, Makassar, foto bersama seusai makan malam di VIP Room Restoran Kozy Cosi, Karebosi Link, Makassar, 1 Maret 2012. Berdiri dari kiri ke kanan : Asnawin, Alfian Ali Nompo, Arif Rombo, Mahyudin, Moh Arafah, M Rusdin Suddin, Hafsah Maharani, Abdulo Manaf Rahman, anak kandung Manaf Rahman, Wahyuddin Al Takalari, Muh Rusli. Duduk dari kiri: James wehantouw, HM Dahlan Abubakar, Ardhy Bashir, dan HL Arumahi. (ist)
[Terima kasih atas kunjungan, komentar, saran, dan kritikan anda di blog: http://pedomanrakyat.blogspot.com]
Sabtu, 01 Oktober 2011
Wartawan Senior Pedoman Rakyat Meninggal Dunia
Puluhan wartawan melepas jenazah wartawan senior harian Pedoman Rakyat Makassar, George Alexander Wacanno dalam pelepasan secara resmi di Gedung PWI Sulsel, Jl AP Pettarani 31, Makassar, Sabtu, 1 Oktober 2011. Acara pelepasan dipimpin Ketua PWI Sulsel H Zulkifli Gani Ottoh, serta dihadiri sejumlah wartawan senior dan keluarga mendiang Pak Alex-sapaan akrab George Alexander Wacanno. (foto: asnawin)
Rabu, 10 November 2010
Wartawan Senior Pedoman Rakyat Meninggal Dunia
Sesungguhnya kita berasal dari Allah dan sesungguhnya kita akan kembali kepada-Nya. Salah seorang mantan wartawan harian Pedoman Rakyat, Abdul Djabbar Pattisahusiwa atau lebih akrab dipanggil Abu Pattisahusiwa, meninggal dunia dalam usia 73 tahun di Makassar, Senin malam, 8 November 2010, dan dimakamkan keesokan harinya di Pemakaman Islam Sudiang, Makassar.
Kamis, 04 Maret 2010
Mengenang Tiga Tahun Wafatnya Pedoman Rakyat
GEDUNG PEDOMAN RAKYAT. Tanggal 1 Maret adalah hari ulang tahun Harian Pedoman Rakyat, Makassar. Harian yang sempat berjaya selama beberapa dekade di Kota Makassar dan sekitarnya itu, tidak lagi terbit menemui pembacanya sejak 3 Oktober 2007. Meskipun demikian, sejumlah mantan wartawan dan karyawan harian Pedoman Rakyat tetap selalu merayakan ulang tahunnya dengan acara yang sangat sederhana. (Foto: Asnawin)
Selasa, 26 Januari 2010
SKU Pedoman Sudah 36 Edisi
SKU Pedoman Sudah 36 Edisi
Makassar, 26 Januari 2010
Surat Kabar Umum (SKU) Pedoman yang diterbitkan oleh sejumlah mantan wartawan harian Pedoman Rakyat, Makassar, sudah memasuki edisi nomor 36 pada 18 Januari 2010. Terbit 24 halaman dengan motto ''Selangkah Menuju Perubahan'', SKU Pedoman mengandalkan berita-berita daerah Sulawesi Selatan.
Pada edisi ke-36, SKU menampilkan berita utama berjudul ''Isu Bakal Dibui, Sejumlah Pimpinan SKPD Bone Resah''. Rubrik lain yaitu Lipsus atau Liputan Khusus (2 halaman), Daerah (7 halaman), Dari Redaksi (1 halaman), Selebritis (1 halaman), Teknologi (1 halaman), Pilkada (3 halaman), Metropolitan (1 halaman), Aktivitas (1 halaman), Hukum Kriminal (2 halaman), Kesehatan (1 halaman), serta Ragam (1 halaman).
''SKU Pedoman terbit rutin sekali sepekan dan wartawan kami tersebar pada hampir seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat,'' jelas Wakil Redaktur Pelaksana, Elvianus Kawengian, kepada pengelola blog ini, Asnawin, di Press Club PWI Sulsel, Makassar, belum lama ini.
Kantor SKU Pedoman beralamat di Jl. Asoka B/9 Panakkukang Mas, Makassar, telepon : (0411) 456836, 2998545, fax : (0411) 830373, email: pedomanku@yahoo.co.id, pedomanmakassar@yahoo.co.id.
[Berita & Pendidikan]
Makassar, 26 Januari 2010
Surat Kabar Umum (SKU) Pedoman yang diterbitkan oleh sejumlah mantan wartawan harian Pedoman Rakyat, Makassar, sudah memasuki edisi nomor 36 pada 18 Januari 2010. Terbit 24 halaman dengan motto ''Selangkah Menuju Perubahan'', SKU Pedoman mengandalkan berita-berita daerah Sulawesi Selatan.
Pada edisi ke-36, SKU menampilkan berita utama berjudul ''Isu Bakal Dibui, Sejumlah Pimpinan SKPD Bone Resah''. Rubrik lain yaitu Lipsus atau Liputan Khusus (2 halaman), Daerah (7 halaman), Dari Redaksi (1 halaman), Selebritis (1 halaman), Teknologi (1 halaman), Pilkada (3 halaman), Metropolitan (1 halaman), Aktivitas (1 halaman), Hukum Kriminal (2 halaman), Kesehatan (1 halaman), serta Ragam (1 halaman).
''SKU Pedoman terbit rutin sekali sepekan dan wartawan kami tersebar pada hampir seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat,'' jelas Wakil Redaktur Pelaksana, Elvianus Kawengian, kepada pengelola blog ini, Asnawin, di Press Club PWI Sulsel, Makassar, belum lama ini.
Kantor SKU Pedoman beralamat di Jl. Asoka B/9 Panakkukang Mas, Makassar, telepon : (0411) 456836, 2998545, fax : (0411) 830373, email: pedomanku@yahoo.co.id, pedomanmakassar@yahoo.co.id.
[Berita & Pendidikan]
Selasa, 10 November 2009
Wartawan Senior Pedoman Rakyat Meninggal Dunia
Wartawan Senior Pedoman Rakyat Meninggal Dunia
Wartawan foto senior harian Pedoman Rakyat, Makassar, Boet Philipe Manuel Rompas atau lebih dikenal dengan nama Buce Rompas, meninggal dunia di Makassar, Rabu, 4 November 2009, dalam usia 77 tahun.
Dengan meninggalnya Buce Rompas, maka dalam dua tahun terakhir atau sejak harian Pedoman Rakyat tidak terbit lagi pada 3 Oktober 2007, sudah enam wartawan dan karyawan harian Pedoman Rakyat yang meninggal dunia.
Ke-6 wartawan dan karyawan tersebut yaitu Usman Sanaki (karyawan), Arthur Kuse (wartawan), Abdul Latif (karyawan), Indarto (wartawan), L.F. Sahertian (karyawan), dan B. Ph. Rompas.
Buce Rompas adalah mantan Kepala Cabang Indonesia Press Photo Service (IPPHOS) di Makassar untuk Indonesia Timur dan mantan redaktur foto surat kabar harian Pedoman Rakyat (terbit di Makassar sejak 1 Maret 1947).
Almarhum yang telah menjadi anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sejak 1959, juga tetap setia dan aktif di PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Cabang Sulawesi Selatan hingga akhir hayatnya.
Buce Rompas yang namanya sering disingkat B.Ph.M.Rompas, meniti karier wartawan pada tahun 1955 di majalah IPPHOS Report, Jakarta. Empat tahun kemudian, ia dipindahkan ke Makassar. Tahun 1963, Buce berhenti di IPPHOS, lalu menjadi wartawan freelance (wartawan lepas).
Tak lama setelah keluar dari IPPHOS dan masih di tahun 1963, Buce tercatat sebagai anggota redaksi majalah Hasanuddin yang diterbitkan Dinas Penerangan Kodam XIV Sulselra. Melalui majalah itu, Buce Rompas pun kian dekat dengan kalangan pemerintah dan militer.
Dua tahun sebelum keluar dari IPPHOS, atau tepatnya tahun 1960, Buce memang sudah membantu harian Pedoman Rakyat, karena dia cukup dekat dengan pemimpin umum harian Pedoman Rakyat, L E Manuhua. Buce baru resmi menjadi wartawan harian Pedoman Rakyat pada tahun 1975. (asnawin)
Wartawan foto senior harian Pedoman Rakyat, Makassar, Boet Philipe Manuel Rompas atau lebih dikenal dengan nama Buce Rompas, meninggal dunia di Makassar, Rabu, 4 November 2009, dalam usia 77 tahun.
Dengan meninggalnya Buce Rompas, maka dalam dua tahun terakhir atau sejak harian Pedoman Rakyat tidak terbit lagi pada 3 Oktober 2007, sudah enam wartawan dan karyawan harian Pedoman Rakyat yang meninggal dunia.
Ke-6 wartawan dan karyawan tersebut yaitu Usman Sanaki (karyawan), Arthur Kuse (wartawan), Abdul Latif (karyawan), Indarto (wartawan), L.F. Sahertian (karyawan), dan B. Ph. Rompas.
Buce Rompas adalah mantan Kepala Cabang Indonesia Press Photo Service (IPPHOS) di Makassar untuk Indonesia Timur dan mantan redaktur foto surat kabar harian Pedoman Rakyat (terbit di Makassar sejak 1 Maret 1947).
Almarhum yang telah menjadi anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sejak 1959, juga tetap setia dan aktif di PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Cabang Sulawesi Selatan hingga akhir hayatnya.
Buce Rompas yang namanya sering disingkat B.Ph.M.Rompas, meniti karier wartawan pada tahun 1955 di majalah IPPHOS Report, Jakarta. Empat tahun kemudian, ia dipindahkan ke Makassar. Tahun 1963, Buce berhenti di IPPHOS, lalu menjadi wartawan freelance (wartawan lepas).
Tak lama setelah keluar dari IPPHOS dan masih di tahun 1963, Buce tercatat sebagai anggota redaksi majalah Hasanuddin yang diterbitkan Dinas Penerangan Kodam XIV Sulselra. Melalui majalah itu, Buce Rompas pun kian dekat dengan kalangan pemerintah dan militer.
Dua tahun sebelum keluar dari IPPHOS, atau tepatnya tahun 1960, Buce memang sudah membantu harian Pedoman Rakyat, karena dia cukup dekat dengan pemimpin umum harian Pedoman Rakyat, L E Manuhua. Buce baru resmi menjadi wartawan harian Pedoman Rakyat pada tahun 1975. (asnawin)
Rabu, 04 November 2009
Wartawan Foto Senior Meninggal Dunia

Wartawan foto senior Boet Philipe Manuel Rompas atau lebih dikenal dengan nama Buce Rompas, meninggal dunia di Makassar, Rabu, 4 November 2009, dalam usia 77 tahun. Buce Rompas adalah mantan Kepala Cabang Indonesia Press Photo Service (IPPHOS) di Makassar untuk Indonesia Timur dan mantan redaktur foto surat kabar harian Pedoman Rakyat (terbit di Makassar sejak 1 Maret 1947).
Sabtu, 03 Oktober 2009
Mengenang Dua Tahun Wafatnya Pedoman Rakyat

Mudah-mudahan inilah tragedi terakhir kematian sebuah koran tua di Indonesia. Semoga koran tua sekelas Kompas (Jakarta), Pikiran Rakyat (Bandung), Kedaulatan Rakyat (Yogyakarta), dan lain-lain dapat tetap eksis untuk selamanya. Bertahanlah kalian dan janganlah mati di tengah kepungan dan persaingan dengan koran-koran baru, radio, televisi, internet, dan berbagai bentuk media massa lainnya.
Kepada para mantan wartawan dan mantan karyawan Harian Pedoman Rakyat, saya yakin tragedi kematian Pedoman Rakyat dua tahun silam pasti ada hikmahnya. Mungkin Tuhan akan memberikan yang lebih baik. Semoga.
Jumat, 31 Juli 2009
Pimpinan Pedoman Rakyat Lagi-lagi Tidak Hadir
Pimpinan Pedoman Rakyat Lagi-lagi Tidak Hadir
Pimpinan Harian Pedoman Rakyat, Ventje S Manuhua lagi-lagi tidak hadir dalam sidang gugatan wartawan dan karyawan di Pengadilan Tata Niaga Makassar, Jumat, 31 Juli 2009. Ini untuk ketiga kalinya ia mengabaikan panggilan pengadilan.
Pada sidang ketiga tersebut, dua saksi ditampilkan, yakni Asnawin dan Ignatius. Keduanya ditanyai beberapa hal dan disaksikan sejumlah pengunjung, termasuk para penggugat.
Penggugat yang terdiri atas 23 orang tersebut menuntut Pimpinan PT Media Pedoman Jaya (Harian Pedoman Rakyat) untuk menyelesaikan kewajibannya kepada wartawan dan karyawan, karena sejak tidak beroperasi lagi (harian Pedoman Rakyat tidak terbit lagi sejak 3 Oktober 2007) hingga kini, belum ada pernyataan resmi bahwa perusahaan tersebut pailit. Kalau pun sudah dinayatakan pailit, maka perusahaan harus membayar pesangon karyawan.
Pimpinan Harian Pedoman Rakyat, Ventje S Manuhua lagi-lagi tidak hadir dalam sidang gugatan wartawan dan karyawan di Pengadilan Tata Niaga Makassar, Jumat, 31 Juli 2009. Ini untuk ketiga kalinya ia mengabaikan panggilan pengadilan.
Pada sidang ketiga tersebut, dua saksi ditampilkan, yakni Asnawin dan Ignatius. Keduanya ditanyai beberapa hal dan disaksikan sejumlah pengunjung, termasuk para penggugat.
Penggugat yang terdiri atas 23 orang tersebut menuntut Pimpinan PT Media Pedoman Jaya (Harian Pedoman Rakyat) untuk menyelesaikan kewajibannya kepada wartawan dan karyawan, karena sejak tidak beroperasi lagi (harian Pedoman Rakyat tidak terbit lagi sejak 3 Oktober 2007) hingga kini, belum ada pernyataan resmi bahwa perusahaan tersebut pailit. Kalau pun sudah dinayatakan pailit, maka perusahaan harus membayar pesangon karyawan.
Kamis, 30 Juli 2009
Pedoman Rakyat Terbit Lagi?
Pedoman Rakyat Terbit Lagi?
Saat menghadiri sebuah acara di salah satu hotel, kebetulan saya membawa tabloid Pedoman yang diterbitkan oleh beberapa mantan wartawan harian Pedoman Rakyat. Saat mengeluarkannya dari dalam tas laptop, seorang teman tiba-tiba berteriak.
"Pedoman Rakyat terbit lagi? Kenapa ukurannya jadi kecil?," tanyanya sambil meraih tabloid tersebut.
Saya kemudian menjelaskan bahwa tabloid tersebut hanya menggunakan nama Pedoman dan tidak pakai Rakyat, tetapi bukan harian Pedoman Rakyat yang dulu. Tabloid Pedoman terbit mingguan.
"Tetapi teman-teman memakai karakter huruf yang sama dengan karakter huruf harian Pedoman Rakyat," jelas saya.
"Eh, kenapa bisa Pedoman Rakyat mati?" tanyanya lagi.
"Wah, kalo itu panjang ceritanya," jawsab saya.
Pertanyaan itu sudah sering diajukan orang kepada saya. Kalau cukup waktu dan situasinya memungkinkan, maka biasanya saya akan menjelaskan, tetapi lebih sering saya hanya memberikan senyuman.
Saat menghadiri sebuah acara di salah satu hotel, kebetulan saya membawa tabloid Pedoman yang diterbitkan oleh beberapa mantan wartawan harian Pedoman Rakyat. Saat mengeluarkannya dari dalam tas laptop, seorang teman tiba-tiba berteriak.
"Pedoman Rakyat terbit lagi? Kenapa ukurannya jadi kecil?," tanyanya sambil meraih tabloid tersebut.
Saya kemudian menjelaskan bahwa tabloid tersebut hanya menggunakan nama Pedoman dan tidak pakai Rakyat, tetapi bukan harian Pedoman Rakyat yang dulu. Tabloid Pedoman terbit mingguan.
"Tetapi teman-teman memakai karakter huruf yang sama dengan karakter huruf harian Pedoman Rakyat," jelas saya.
"Eh, kenapa bisa Pedoman Rakyat mati?" tanyanya lagi.
"Wah, kalo itu panjang ceritanya," jawsab saya.
Pertanyaan itu sudah sering diajukan orang kepada saya. Kalau cukup waktu dan situasinya memungkinkan, maka biasanya saya akan menjelaskan, tetapi lebih sering saya hanya memberikan senyuman.
Minggu, 26 Juli 2009
Mantan Pimpinan Perusahaan Pedoman Rakyat Meninggal Dunia
Mantan Pimpinan Perusahaan Pedoman Rakyat Meninggal Dunia
Mantan Pimpinan Perusahaan Harian Pedoman Rakyat, Lamberth Frederik Sahertian (L. F. Sahertian) meninggal dunia di Rumah Sakit Labuang Baji, Makassar, Sabtu, 25 Juli 2009. Almarhum meninggalkan seorang isteri, Anna Sahertian (70), lima anak, serta sejumlah cucu dan cicit.
"Bapak sakit mulai bulan Maret (2009) dan pernah diopname kurang lebih 20 hari di rumah sakit. Sakitnya seperti ada kelainan darah dan juga kurang darah," jelas Anna, kepada Asnawin (pengelola pedomanrakyat.blogspot.com) di rumah duka Jl. Tamalate 1/Tidung 4, Makassar, Minggu, 26 Juli 2009.
Lamberth dan Anna menikah pada tahun 1976. Dari pernikahan itu, mereka dkaruniai dua anak. Dari perkawinan sebelumnya, almarhum memiliki tiga anak.
Lamberth menjadi karyawan Harian Pedoman Rakyat pada tahun 1979. Sebelumnya, almarhum pernah bekerja sebagai karyawan Harian Tegas.
Di masa mudanya, Lamberth adalah salah seorang atlet andalan Sulsel di cabang olahraga judo.
"Bapak beberapa kali mewakili Sulsel di PON dan di berbagai kejuaraan nasional," jelas Anna.
Abdul Malik, mantan Pimpinan Perusahaan Harian Pedoman Rakyat, mengatakan, selama bekerja di Pedoman Rakyat, almarhum telah menduduki beberapa jabatan, mulai dari tata usaha, keuangan, hingga pimpinan perusahaan.
Dengan meninggalnya Bapak LF Sahertian, maka dalam dua tahun terakhir atau sejak harian Pedoman Rakyat tidak terbit lagi pada 3 September 2007, sudah lima wartawan dan karyawan harian Pedoman Rakyat yang meninggal, yaitu Usman Sanaki (karyawan), Arthur Kuse (wartawan), Abdul Latif (karyawan), Indarto (wartawan), dan LF Sahertian (karyawan).
Mantan Pimpinan Perusahaan Harian Pedoman Rakyat, Lamberth Frederik Sahertian (L. F. Sahertian) meninggal dunia di Rumah Sakit Labuang Baji, Makassar, Sabtu, 25 Juli 2009. Almarhum meninggalkan seorang isteri, Anna Sahertian (70), lima anak, serta sejumlah cucu dan cicit.
"Bapak sakit mulai bulan Maret (2009) dan pernah diopname kurang lebih 20 hari di rumah sakit. Sakitnya seperti ada kelainan darah dan juga kurang darah," jelas Anna, kepada Asnawin (pengelola pedomanrakyat.blogspot.com) di rumah duka Jl. Tamalate 1/Tidung 4, Makassar, Minggu, 26 Juli 2009.
Lamberth dan Anna menikah pada tahun 1976. Dari pernikahan itu, mereka dkaruniai dua anak. Dari perkawinan sebelumnya, almarhum memiliki tiga anak.
Lamberth menjadi karyawan Harian Pedoman Rakyat pada tahun 1979. Sebelumnya, almarhum pernah bekerja sebagai karyawan Harian Tegas.
Di masa mudanya, Lamberth adalah salah seorang atlet andalan Sulsel di cabang olahraga judo.
"Bapak beberapa kali mewakili Sulsel di PON dan di berbagai kejuaraan nasional," jelas Anna.
Abdul Malik, mantan Pimpinan Perusahaan Harian Pedoman Rakyat, mengatakan, selama bekerja di Pedoman Rakyat, almarhum telah menduduki beberapa jabatan, mulai dari tata usaha, keuangan, hingga pimpinan perusahaan.
Dengan meninggalnya Bapak LF Sahertian, maka dalam dua tahun terakhir atau sejak harian Pedoman Rakyat tidak terbit lagi pada 3 September 2007, sudah lima wartawan dan karyawan harian Pedoman Rakyat yang meninggal, yaitu Usman Sanaki (karyawan), Arthur Kuse (wartawan), Abdul Latif (karyawan), Indarto (wartawan), dan LF Sahertian (karyawan).
Minggu, 12 Juli 2009
Mengenali dan Mengembangkan Harian Pedoman Rakyat
Beberapa puluh tahun lalu, LE Manuhua mampu meneruskan penerbitan, membesarkan, dan turut menjadi besar bersama Pedoman Rakyat. Kita mungkin tidak sehebat almarhum LE Manuhua, tetapi semangatnya bisa kita pakai untuk meneruskan dan membesarkan kembali harian ini.
Semangat almarhum Lazarus Eduard Manuhua ada pada anak-anaknya. Semangat almarhum Lazarus Eduard Manuhua ada para keluarganya. Semangat almarhum Lazarus Eduard Manuhua ada pada kita semua.
Kamis, 28 Mei 2009
Wartawan Pedoman Rakyat Terbitkan "Koran Pedoman"
Wartawam Pedoman Rakyat Terbitkan "Koran Pedoman"
Sejumlah wartawan dan karyawan Harian Pedoman Rakyat Makassar kembali menerbitkan media cetak. Kali ini media cetak tersebut berbentuk tabloid dengan nama "Koran Pedoman" dan terbit perdana pada pekan pertama Mei 2009.
"Koran Pedoman" terbit 24 halaman, dengan mengusung motto "Selangkah Menuju Perubahan". Rubrik-rubrik yang disediakan, yaitu Metropolitan, Liputan Khusus, Debat, Kupas, Daerah, Selebritis, Technology, Politik, Hukum dan Kriminal, Sport, Nusantara, Kesehatan, dan Ragam.
Tabloid mingguan tersebut diawaki Drs H Luthfi Qadir (Pemimpin Umum, Penanggungjawab, dan Pemimpin Redaksi), M Arief Djasar (Redaktur Pelaksana), dan Elvianus Kawengian SH (Wakil Redaktur Pelaksana).
Di jajaran reporter, ada beberapa mantan wartawan harian Pedoman Rakyat, yaitu Muhammad Amir, Drs M Supriadi Syarifuddin, Drs Wahyuddin MPd, Moh. Sumardy (Koresponden Soppeng), Ir Muh. Rizal Bakri (Koresponden Sidrap), H. Benny Latanrang SH (Koresponden Parepare), HM Syarifuddin Ibrahim (Koresponden Pinrang), Muh. Agus Burhan (Koresponden Enrekang0, dan Musa Andani Rio (Koresponden Polman).
Koran Pedoman beralamat di Jl. Lanto Daeng Pasewang No. 55, Makassar, Telepon (0411) 2998545, fax (0411) 830373, e-mail : pedomanku@yahoo.com, dan pedomanmakassar@yahoo.co.id.
Pemred "Koran Pedoman", Luthfi Qadir, adalah mantan wartawan harian Pedoman Rakyat yang juga pernah menjabat salah satu direktur di PT Media Pedoman Jaya. Arief Djasar dan Elvianus Kawengian juga mantan wartawan Pedoman Rakyat.
Tabloid dan Majalah
Sebelum terbitnya "Koran Pedoman", sejumlah wartawan Pedoman Rakyat sudah pernah menerbitkan beberapa media cetak berupa tabloid dan majalah, antara lain tabloid "Jurnal Intim", tabloid "Suara Rakyat", tabloid "Sorot", tabloid "Solusi", majalah "Profiles", serta tabloid "Lacak."
Selamat kepada teman-teman alumni harian Pedoman Rakyat. Semoga teman-teman bisa tetap eksis bersama penerbitan masing-masing. (asnawin)
Sejumlah wartawan dan karyawan Harian Pedoman Rakyat Makassar kembali menerbitkan media cetak. Kali ini media cetak tersebut berbentuk tabloid dengan nama "Koran Pedoman" dan terbit perdana pada pekan pertama Mei 2009.
"Koran Pedoman" terbit 24 halaman, dengan mengusung motto "Selangkah Menuju Perubahan". Rubrik-rubrik yang disediakan, yaitu Metropolitan, Liputan Khusus, Debat, Kupas, Daerah, Selebritis, Technology, Politik, Hukum dan Kriminal, Sport, Nusantara, Kesehatan, dan Ragam.
Tabloid mingguan tersebut diawaki Drs H Luthfi Qadir (Pemimpin Umum, Penanggungjawab, dan Pemimpin Redaksi), M Arief Djasar (Redaktur Pelaksana), dan Elvianus Kawengian SH (Wakil Redaktur Pelaksana).
Di jajaran reporter, ada beberapa mantan wartawan harian Pedoman Rakyat, yaitu Muhammad Amir, Drs M Supriadi Syarifuddin, Drs Wahyuddin MPd, Moh. Sumardy (Koresponden Soppeng), Ir Muh. Rizal Bakri (Koresponden Sidrap), H. Benny Latanrang SH (Koresponden Parepare), HM Syarifuddin Ibrahim (Koresponden Pinrang), Muh. Agus Burhan (Koresponden Enrekang0, dan Musa Andani Rio (Koresponden Polman).
Koran Pedoman beralamat di Jl. Lanto Daeng Pasewang No. 55, Makassar, Telepon (0411) 2998545, fax (0411) 830373, e-mail : pedomanku@yahoo.com, dan pedomanmakassar@yahoo.co.id.
Pemred "Koran Pedoman", Luthfi Qadir, adalah mantan wartawan harian Pedoman Rakyat yang juga pernah menjabat salah satu direktur di PT Media Pedoman Jaya. Arief Djasar dan Elvianus Kawengian juga mantan wartawan Pedoman Rakyat.
Tabloid dan Majalah
Sebelum terbitnya "Koran Pedoman", sejumlah wartawan Pedoman Rakyat sudah pernah menerbitkan beberapa media cetak berupa tabloid dan majalah, antara lain tabloid "Jurnal Intim", tabloid "Suara Rakyat", tabloid "Sorot", tabloid "Solusi", majalah "Profiles", serta tabloid "Lacak."
Selamat kepada teman-teman alumni harian Pedoman Rakyat. Semoga teman-teman bisa tetap eksis bersama penerbitan masing-masing. (asnawin)
Minggu, 10 Mei 2009
Wartawan Harian Pedoman Rakyat Meninggal Dunia
Wartawan Pedoman Rakyat Meninggal Dunia
Bertambah lagi seorang wartawan harian Pedoman Rakyat, Makassar, meninggal dunia. Rekan kami yang meninggal tersebut adalah Indarto (45). Bujangan asal Pacitan, Jawa Timur, tersebut meninggal dunia diduga karena serangan jantung pada hari Minggu, 10 Mei 2009, di Kompleks Perumahan Maizonet, Makassar.
Puluhan wartawan dan karyawan harian Pedoman Rakyat berkumpul di rumah duka yang juga merupakan kantor Majalah Profiles, mulai dari wartawan angkatan terbaru sampai wartawan senior.
Mereka antara lain HM Dahlan Abubakar, Yasmin Tendan, Syafruddin Tang, HL Arumahi, M Arief Djasar, James Wehantouw, Norma Djidding, Insan Ikhlas Jalil, Asdar Muis RMS, Mahyudin, Asnawin, Arafah, Yahya Mustafa, Mustam Arief, Rusdi Embas, Elvianus Kawengian, Sultan Darampa, dan Rusli Kadir.
Para wartawan dan karyawan, serta sejumlah kerabat, semula hendak memakamkan almarhum di Taman Pemakaman Umum Islam Sudiang atau di Pemakaman Wartawan Sudiang, namun atas permintaan keluarga, maka almarhum akhirnya dibawa ke Lamasi, Palopo.
Dalam tiga tahun terakhir, sudah lima wartawan dan karyawan harian Pedoman Rakyat yang meninggal dunia. Mereka adalah Hasanuddin alias Hanter (Hasanuddin asal Ternate) yang meninggal di kampung halamannya Ternate, Arthur Kuse (wartawan), Usman Sanaki (karyawan), Abdul Latief Sikki (karyawan), serta Indarto.
Indarto masuk di harian Pedoman Rakyat pada 1992 dan terangkat menjadi wartawan penuh (definitif) pada bulan Mei 1993. Ia terangkat bersama enam wartawan lainnya yakni Rusdi Embas SE (sekarang Sekretaris Redaksi Harian “TRIBUN TIMUR”), Drs Moh Yahya Mustafa (sekarang menjadi dosen dan penulis buku), Elvianus Kawengian (sekarang Redaktur Pelaksana “KORAN PEDOMAN”).
Drs Asnawin (sekarang Pemred Tabloid Pendidikan “CERDAS”, Redpel “KORAN PWI”, Humas Kopertis Wilayah IX Sulawesi, dan dosen mata kuliah jurnalistik), Ely Sambominanga SH (terakhir menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum Daerah Kabupaten Mamasa), serta Drs Mustam Arief (wartawan majalah “PROFILES”, aktivis LSM, dan sering menulis artikel di media massa).
Almarhum Indarto saat meninggal dunia masih menjabat Pemimpin Redaksi Majalah “PROFILES” (media aktualisasi dan prmosi), Makassar. Ketika menjadi wartawan harian Pedoman Rakyat, Indarto pernah menjadi wartawan kriminal, hukum, hiburan, dan olahraga.
Dalam pergaulan sehari-hari, Indarto tergolong orang yang jarang bicara. Almarhum sebenarnya senang bergaul dan juga kerap membuat humor, tetapi dia lebih sering mendengar dan atau tersenyum ketimbang bicara.
Hingga akhir hayatnya, almarhum tetap membujang. Alasannya, dia tidak ingin menyusahkan anak orang lain.
“Bagaimana mau menikah, kalau kondisi keuangan seperti ini,” ujarnya dalam beberapa kesempatan.
Ya, itulah almarhum Indarto, satu-satunya wartawan harian Pedoman Rakyat yang dipanggil ''mas" karena memang hanya dia yang berasal dari Jawa (Pacitan, Jawa Timur). Dia tidak ingin membuat susah orang lain, sehingga hampir tidak pernah ia bermasalah dengan orang lain.
Selamat jalan kawan. Semoga arwahmu diterima dengan baik di sisi-Nya dan semoga engkau tenang di alam sana. Aamiinn……
Makassar, 10 Mei 2009
Asnawin
Bertambah lagi seorang wartawan harian Pedoman Rakyat, Makassar, meninggal dunia. Rekan kami yang meninggal tersebut adalah Indarto (45). Bujangan asal Pacitan, Jawa Timur, tersebut meninggal dunia diduga karena serangan jantung pada hari Minggu, 10 Mei 2009, di Kompleks Perumahan Maizonet, Makassar.
Puluhan wartawan dan karyawan harian Pedoman Rakyat berkumpul di rumah duka yang juga merupakan kantor Majalah Profiles, mulai dari wartawan angkatan terbaru sampai wartawan senior.
Mereka antara lain HM Dahlan Abubakar, Yasmin Tendan, Syafruddin Tang, HL Arumahi, M Arief Djasar, James Wehantouw, Norma Djidding, Insan Ikhlas Jalil, Asdar Muis RMS, Mahyudin, Asnawin, Arafah, Yahya Mustafa, Mustam Arief, Rusdi Embas, Elvianus Kawengian, Sultan Darampa, dan Rusli Kadir.
Para wartawan dan karyawan, serta sejumlah kerabat, semula hendak memakamkan almarhum di Taman Pemakaman Umum Islam Sudiang atau di Pemakaman Wartawan Sudiang, namun atas permintaan keluarga, maka almarhum akhirnya dibawa ke Lamasi, Palopo.
Dalam tiga tahun terakhir, sudah lima wartawan dan karyawan harian Pedoman Rakyat yang meninggal dunia. Mereka adalah Hasanuddin alias Hanter (Hasanuddin asal Ternate) yang meninggal di kampung halamannya Ternate, Arthur Kuse (wartawan), Usman Sanaki (karyawan), Abdul Latief Sikki (karyawan), serta Indarto.
Indarto masuk di harian Pedoman Rakyat pada 1992 dan terangkat menjadi wartawan penuh (definitif) pada bulan Mei 1993. Ia terangkat bersama enam wartawan lainnya yakni Rusdi Embas SE (sekarang Sekretaris Redaksi Harian “TRIBUN TIMUR”), Drs Moh Yahya Mustafa (sekarang menjadi dosen dan penulis buku), Elvianus Kawengian (sekarang Redaktur Pelaksana “KORAN PEDOMAN”).
Drs Asnawin (sekarang Pemred Tabloid Pendidikan “CERDAS”, Redpel “KORAN PWI”, Humas Kopertis Wilayah IX Sulawesi, dan dosen mata kuliah jurnalistik), Ely Sambominanga SH (terakhir menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum Daerah Kabupaten Mamasa), serta Drs Mustam Arief (wartawan majalah “PROFILES”, aktivis LSM, dan sering menulis artikel di media massa).
Almarhum Indarto saat meninggal dunia masih menjabat Pemimpin Redaksi Majalah “PROFILES” (media aktualisasi dan prmosi), Makassar. Ketika menjadi wartawan harian Pedoman Rakyat, Indarto pernah menjadi wartawan kriminal, hukum, hiburan, dan olahraga.
Dalam pergaulan sehari-hari, Indarto tergolong orang yang jarang bicara. Almarhum sebenarnya senang bergaul dan juga kerap membuat humor, tetapi dia lebih sering mendengar dan atau tersenyum ketimbang bicara.
Hingga akhir hayatnya, almarhum tetap membujang. Alasannya, dia tidak ingin menyusahkan anak orang lain.
“Bagaimana mau menikah, kalau kondisi keuangan seperti ini,” ujarnya dalam beberapa kesempatan.
Ya, itulah almarhum Indarto, satu-satunya wartawan harian Pedoman Rakyat yang dipanggil ''mas" karena memang hanya dia yang berasal dari Jawa (Pacitan, Jawa Timur). Dia tidak ingin membuat susah orang lain, sehingga hampir tidak pernah ia bermasalah dengan orang lain.
Selamat jalan kawan. Semoga arwahmu diterima dengan baik di sisi-Nya dan semoga engkau tenang di alam sana. Aamiinn……
Makassar, 10 Mei 2009
Asnawin
Langganan:
Postingan (Atom)









