Kamis, 24 Juli 2008

Soppeng Raih Piagam Adipura 2008

Soetomo : Adipura Bukan Tujuan Akhir

-Soppeng Raih Piagam Adipura 2008


Kemenangan bukanlah tujuan akhir. Merebut Piala Adipura yang merupakan lambang kebersihan kota dan kabupaten di Indonesia, juga bukan tujuan akhir. Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat bersama-sama pemerintah menciptakan lingkungan yang bersih, indah, nyaman, dan asri.

Keberhasilan suatu daerah merebut Piala atau Piagam Adipura pada Lomba Bangun Praja, patut disyukuri sebagai buah hasil kerja bersama antara pemerintah dan masyarakat, tetapi kesyukuran itu bukan hanya diucapkan, tetapi disertai dengan tindakan, yakni dengan bersama-sama menjaga kebersihan dan keindahan.

Pernyataan itu diungkapkan Bupati Soppeng, Andi Soetomo, pada acara Syukuran Atas Penganugrahan Piagam Adipura, di Baruga Rumah Jabatan Bupati Soppeng, 7 Juni 2008.

Acara tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Andi Sarimin Saransi, Ketua DPRD Soppeng, Kaswadi Razak, Sekkab H.M. Natsir Husain MSi, Kadis Kebersihan dan Pertamanan, Drs. A. Mamma Uleng MM, serta sejumlah pejabat dan masyarakat, termasuk “pasukang kuning” petugas lapangan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Soppeng.

“Saya mengajak masyarakat Soppeng agar menanam banyak pohon, terutama di sekitar rumah masing-masing, karena pohon adalah paru-parunya sebuah kota,” ujar Soetomo.

Dengan penuh semangat, mantan Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Sulsel itu mengaku optimis tahun 2009 Soppeng akan meraih Piala Adipura.

Untuk itu, ia berharap seluruh unsur masyarakat dan pemerintah di daerah yang dipimpinnya agar turut berpartisipasi.

Khusus kepada anggota DPRD Soppeng yang merupakan refresentasi perwakilan rakyat, Soetomo berharap kerjasamanya dalam menyusun anggaran sehingga alokasi anggaran untuk pencapaian merebut Piala Adipura tahun depan bisa lebih besar dibanding tahun ini.

“Alokasi anggaran untuk Dinas Kebersihan dan Pertamanan tahun 2008 ini hanya sekitar 2% dari APBD. Kalau bisa tahun depan ditingkatkan,” ungkapnya.

Usai memberikan sambutan, Bupati Soppeng mengajak para undangan makan siang bersama dan dilanjutkan dengan nyanyi dan joget. Tanpa segan-segan, Ando Soetomo langsung bergabung dengan “pasukan kuning” petugas kebersihan untuk nyanyi dan joget bersama.

Kedatangan Piagam Adipura disambut langsung oleh pemerintah dan masyarakat setempat di Pintu Gerbang Warue, perbatasan ibukota Kabupaten Soppeng. Puluhan mobil dan ratusan sepeda motor turut menyambut kedatangan Piagam Adipura yang dibawa oleh rombongan Bupati Soppeng.

Saat tiba di perbatasan, rombongan Bupati Andi Soetomo disambut dengan Tari Padduppa yang dibawakan oleh beberapa gadis cantik. Selanjutnya, Andi Soetomo menyerahkan Piagam Adipura kepada Ketua DPRD Soppeng, Kaswadi Razak.

Setelah itu, Piagam Adipura diarak keliling kota Soppeng sebelum dibawa ke Rumah Jabatan Bupati. Di rujab tersebut, Ketua DPRD Soppeng Kaswadi Razak menyerahkan kembali Piagam Adipura kepada Bupati Andi Soetomo untuk disimpan di Kantor Bupati.

Sekkab Soppeng, Drs HM Natsir Husain MSi, kepada wartawan menjelaskan, keberhasilan merebut Piagam Adipura tersebut secara tidak langsung merupakan langkah napak tilas bagi Bupati Andi Soetomo, karena Soppeng pernah merebut Piala Adipura dua tahun berturut-turut pada 1996 dan 1997, ketika Andi Soetomo masih menjabat Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan.

Hanya Rp 60 Juta/Tahun

Meskipun berhasil meraih Piagam Adipura, Kadis Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Soppeng, Andi Mamma, mengaku belum puas, karena target utama yang ia canangkan yaitu merebut Piala Adipura.

“Kami akan bekerja lebih giat agar tahun depan Soppeng bisa meraih Piala Adipura,” tegasnya.

Menyinggung tenaga kerja lapangan yang menyapu di jalan dan mengangkut sampah dari Tempat Pembuangan Sampah (TPS) ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau yang akab disebut “pasukan kuning”, dia mengatakan jumlahnya saat ini baru 69 orang, termasuk 10 orang yang sudah diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

Honor yang diberikan kepada anggota “pasukan kuning” berkisar antara Rp 250.000 s/d Rp 500.000 per bulan, tetapi Kadis Kebersihan dan Pertamanan akan berjuang meningkatkannya menjadi Rp 750.000 per bulan.

Tentang anggaran yang diperoleh dari APBD dan retribusi kebersihan, dia mengatakan, anggaran yang diterima dari APBD yaitu sebesar Rp 2 miliar, sedangkan retribusi sampah dari masyarakat hanya Rp 1.500/rumah tangga.

“Dalam sebulan uang yang masuk dari retribusi sampah hanya Rp 60 juta per tahun,” papar Andi Mamma.

Armada mobil pengangkut sampah yang dimiliki saat ini baru 11 buah dan pihak Dinas Kebersihan dan Pertamanan berencana membeli sebuah motor pengangkut sampah untuk melayani pengangkutan sampah di kompleks perumahan dan jalan-jalan sempit.

“Kami juga sedang mengupayakan agar sampah bisa memiliki nilai ekonomis,” katanya.
Caranya, tambah Andi Mamma, sampah tersebut diolah menjadi biogas dan kompos, selebihnya bisa didaur ulang dan diambil oleh para pemulung. Sampah yang tidak bisa diolah atau didaur ulang akan dibakar. (pei-win)

“Lovely December” Pancing Wisman ke Sulsel

“Lovely December” Pancing Wisman ke Sulsel

Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Sulsel sejak peristiwa Bom Bali beberapa tahun silam, turut mengalami penurunan.

Namun dengan berbagai upaya yang dilakukan, baik oleh Pemerintah Provinsi Sulsel dan pemerintah kabupaten/kota se-Sulsel, maupun oleh masyarakat, khususnya yang bergerak di industri pariwisata, jumlah kunjungan wisman kembali mengalami peningkatan.

Tahun 2008 ini, Pemprov Sulsel menargetkan jumlah kunjungan wisman sebesar 28.000 kunjungan. Jumlah tersebut bisa dilampaui jika dan mencapai angka 30.000-an kunjungan, kalau penerbangan langsung dari luar negeri ke Bandara Hasanuddin Makassar dapat direalisasikan dan “travel warning” oleh Amerika Serikat dicabut.

Untuk memancing wisman berkunjung ke Sulsel, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sulsel telah mencanangkan program “Lovely December.”

“Ini adalah gagasan Bapak Gubernur Sulawesi Selatan,” ungkap Kadisbudpar Sulsel, Drs Ama Saing MSi, kepada wartawan di kantornya, belum lama ini.

“Lovely December”, katanya, bertujuan menjadikan Sulawesi Selatan sebagai yang terbaik di antara 10 destinasi atau “South Sulawesi the Best 10 Destination” di Indonesia.

Dalam konsep pengembangannya, “Lovely December” menempatkan Tana Toraja sebagai lokomotif.

“Ini didasarkan atas besarnya potensi daya tarik Toraja pada pasar internasional. Dalam konteks “brand”, Toraja juga merupakan “icon destination” Sulawesi Selatan,” sebut Ama.

Dalam implementasinya, “Lovely December” digerakkan dalam tiga tahapan pada 3 (tiga) cluster wilayah pengembangan pariwisata Sulsel, model pengembangan cluster dengan focus pada sentra pengembangan dengan wilayah sekitar sebagai satelit.

Cluster I, meliputi Toraja, Enrekang, Sidrap, Luwu, Palopo, Luwu Utara, dan Luwu Timur, dengan mengandalkan pariwisata budaya dan ekoturisme.

Cluster II, meliputi Makassar, Pangkep, Gowa, Maros, Takalar, Barru, Parepare, dan Pinrang, dengan andalan wisata MICE dan ekoturisme.

Cluster III, meliputi Selayar, Bulukumba, Bantaeng, Jeneponto, Bone, Soppeng, Wajo, dan Sinjai, dengan mengandalkan wisata marine dan ecotourism.

Ama Saing menjelaskan, tema operasional pengembangan pariwisata Sulawesi Selatan digambarkan dalam peta jalan atau “road map”, yakni fase I dengan “Lovely December yang merupakan “crass program”, fase II sebagai fase periodic lima tahun, serta fase III dengan fase komprehensif periodik.

Pada fase I, katanya, “Lovely December” merupakan “crass program” yang menempatkan Toraja sebagai “trigger” atau momentum bagi pengembangan pariwisata Sulsel.
Fase II merupakan fase periodik lima tahun (jangka menengah) dengan tema : Lovely Toraja from the Highland; Glittering Makassar; Beautiful Selayar to the Island.
Pada fase III yang merupakan fase komprehensif periodic (jangka menengah), lanjut Ama, diharapkan tercipta kondisi kemandirian dalam semua aspek, baik produk, fasilitas, maupun sumber daya manusia.

Penerbangan Langsung

Dalam upaya memudahkan wisman berkunjung ke Sulsel, Pemprov Sulsel berhasil melakukan kerja sama dengan penerbangan “Air Asia”. Dalam kerja sama tersebut disepakati adanya penerbangan langsung Kuala Lumpur-Makassar-Kuala Lumpur, mulai 15 Juli 2008.

“Pada penerbangan perdana nanti, Wakil Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Abdul Razak akan membawa 30 pelaku bisnis dari Malaysia ke Sulawesi Selatan,” sebut Ama Saing.

TIME 2008

Selain adanya penerbangan langsung, Sulsel tahun ini kembali dipercaya menjadi tuan rumah Pasar Pariwisata Internasional Indonesia (TIME). Tahun 2006, Sulsel juga mendapat kepercayaan, sedangkan tahun 2007 pelaksanaan TIME dipercayakan kepada Pemprov Bali.

Ketika menjadi tuan rumah pelaksanaan TIME dua tahun silam, Sulsel berhasil mendatangkan 105 buyers (pembeli paket wisata) dari berbagai negara, dengan transaksi sebesar 15 juta dolar AS.

“Tahun ini kita berharap pencapaiannya minimal sama dengan dua tahun silam,” kata Ama Saing.

Para seller (penjual paket wisata) dari seluruh Indonesia, termasuk dari Sulsel, pasti akan memanfaatkan TIME 2008 untuk memasarkan dan menjual sebanyak-banyaknya paket wisata.

“Kita berharap nama Sulsel akan lebih terangkat dan jumlah kunjungan wisman ke Sulsel akan meningkat dengan adanya pelaksanaan TIME 2008 di daerah ini,” kata Ama Saing. (asnawin)

Ama Saing : Pariwisata adalah Jembatannya

Dari Semiloka di Hotel Clarion Makassar
Pariwisata adalah Jembatannya


Peningkatan kerjasama antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Afrika Selatan, khususnya kerjasama pariwisata antara Pemprov Sulsel dengan Western Cape (Afrika Selatan) terus menerus diupayakan.

Bidang kerjasama yang telah disepakati antara lain kebudayaan, pendidikan dan latihan (training), pariwisata, serta perdagangan dan industri.

Khusus kerjasama bidang pariwisata, meliputi meliputi empat hal, yakni promosi bersama, paket wisata, pertukaran training, serta kunjungan wisata.

Kegiatan yang telah dilaksanakan yaitu berpartisipasi pada TIME 2006 di Makassar, serta kunjungan wisata ke Sulawesi Selatan oleh rombongan delegasi Western Cape sebanyak tiga kali, sedangkan kegiatan yang akan dilaksanakan yakni pertukaran training, menempati outlet promosi wisata bersama, saler mission, serta farm trip.

Hal tersebut diungkapkan Ir H Tan Malaka Guntur MSi, yang mewakili Gubernur Sulsel, saat tampil sebagai salah seorang pemakalah pada Semiloka Pemanfaatan Kemitraan Strategis RI-Afsel Bagi Provinsi Sulawesi Selatan, di Hotel Clarion, Makassar, Rabu, 9 Juli 2008.

Semiloka diadakan oleh Direktorat Afrika Departemen Luar Negeri RI bekerja sama Pemprov Sulsel dan Universitas Hasanuddin Makassar.

Tan Malaka yang membawakan makalah berjudul “Potensi dan Peluang Investasi Sulawesi Selatan dalam kerangka kerja sama RI Afsel” mengatakan, Sulsel memiliki berbagai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan.

Potensi tersebut meliputi potensi geografis (Sulawesi Selatan merupakan pintu gerbang Kawasan Indonesia Timur, pusat lalu lintas udara dan laut antara kawasan barat Indonesia dengan kawasan timur Indonesia-red), potensi sumberdaya manusia (Sulsel pada 2006 berpenduduk 7.629.138 jiwa, penduduk usia kerja 5.257.238 orang, angkatan kerja 3.005.723 orang, serta tenaga kerja 2.738.732 orang.

Selain itu, Sulsel juga memiliki potensi sumberdaya alam, dalam bidang pertanian, perkebunan dan kehutanan, perikanan dan kelautan, pertambangan, serta pariwisata. Potensi sumberdaya infrastruktur yang dimiliki Sulsel terutama Bandar Udara Hasanuddin yang bertaraf internasional di Makassar, dan beberapa bandara perintis di kabupaten.

Sementara potensi pariwisata yang dimiliki dan banyak dikunjungi wisatawa mancanegara, antara lain Benteng Ujungpandang (Fort Rotterdam) di Makassar, obyek wisata budaya di Tana Toraja, serta pembuatan kapal tradisional perahu Phinisi, pantai pasir putih Tanjung Bira, dan wilayah adat Ammatoa Kajang di Bulukumba.
Tan Malaka juga menjelaskan tentang empat bidang kerja sama yang telah terjalin antara pemerintah Afrika Selatan dengan Pemprov Sulsel.

Kerjasama bidang kebudayaan yang telah dilakukan yaitu pengembangan Makam Syech Yusuf dan Museum, sedangkan kegiatan yang telah dilaksanakan yaitu renovasi Makam Syech Yusuf.

“Kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu inventarisasi peninggalan sejarah Syech Yusuf, perluasan kawasan makam Syech Yusuf, tukar menukar koleksi, pameran bersama, penelitian jejak kaki Syech Yusuf di Afrika Selatan, serta membentuk tim kerja,” paparnya.

Kegiatan yang akan dilaksanakan pada Tahun 2008, adalah Culture in Tourism, pembuatan replika benda-benda bersejarah/kerajaan untuk Perpustakaan Balla Lompoa di Cape Town, sedangkan kegiatan untuk Sulsel yaitu kegiatan misi budaya oleh Persatuan Kebudayaan Melayu Afrika Selatan ke Makassar.

Kerja sama bidang pendidikan & pelatihan yang akan dilaksanakan yaitu pelatihan santri di Pesantren IMMIM Makassar dan pertukaran tenaga pengajar dan pelajar antardua provinsi, serta pembentukan Asia Afrika Center.

Kerjasama Perdagangan dan Perindustrian yang akan dilakukan meliputi eksport & tukar informasi di bidang perdagangan, serta mendorong keikutsertaan pada pameran di masing-masing provinsi/negara.

Kegiatan yang telah dilaksanakan yaitu eksport beras, semen, kakao powder, kayu olahan, marmer, batatex, dan dammar, sedangkan kegiatan yang akan dilaksanakan yakni promosi ekspor dan memanfaatkan event promosi dengan membawa Tim Kesenian Sulawesi Selatan untuk Promosi Seni dan Budaya Sulawesi Selatan.

“Pembangunan Sulawesi Selatan harus dipercepat dalam mengejar ketertinggalan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kerja sama Sulawesi Selatan – Western Cape Afrika Selatan harus lebih ditingkatkan dan menguntungkan kedua provinsi dan negara,” tegas Tan Malaka.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulsel, Ama Saing, kepada “Demos” seusai seminar mengatakan, sesuai misinya, pariwisata adalah jembatan untuk berbagai kegiatan kemitraan antarnegara.

“Jadi jembatannya itu adalah pariwisata,” katanya.

Sekretaris PHRI Sulsel yang juga dosen Akademi Pariwisata (Akpar) Makassar, Farid Said, mengharapkan adanya hasil nyata dari upaya peningkatan kerja sama kedua Negara, khususnya antara Pemprov Sulsel dengan pemprov Wertern Cape.

“Hasil nyata itu misalnya terjadinya kunjungan wisata orang-orang Afrika Selatan ke Sulsel dalam jumlah besar, termasuk mengupayakan agar orang-orang kulit putihnya mau mengalihkan kunjungannya dari Eropa ke Sulawesi Selatan, karena mereka itu selalu berlibur ke Eropa pada musim liburan Natal dan Paskah,” sebut Farid.

Hubungan Historis

Mahendra Siregar, Deputi Menko Perekonomian, yang membahas latar belakangJoint Declaration on Strategic Partnership Indonesia-South Africa; mengungkapkan adanya hubungan historis dan budaya yang kuat antara Sulsel dan Afrika Selatan serta sudah banyak bidang kerja sama yang telah terbina.

“Populasi keturunan orang Sulsel di Afsel lebih dari satu juta orang,” ungkapnya.
Sasaran-sasaran utama pengembangan di Afrika Selatan antara lain pembangunan Rumah Makassar di Afsel yang juga menampung trade center, pusat kesenian dan budaya; peningkatan hubungan antara pemerintah, bisnis, akademik, pemuda, dan sebagainya; serta peningkatan ekspor Makassar ke Afsel sebesar 15 persen per tahun.

Sementara pengembangan di Sulsel antara lain mengembangkan angkutan kargo udara dan laut internasional langsung ke Makassar, pengembangan kemitraan yang sinergis dengan berbagai stakeholders; Kadin dan Kadin Sulsel; perbankan yang sudah berpengalaman di Afrika; perusahaan-perusahaan Indonesia yang sudah berhasil di Afsel;KBRI/KJRI dan Kedutaan Besar Afsel.

Untuk pengembengan lebih lanjut, kata Mahendra perlu dirumuskan konsep rencana aksi dengan kerangka waktu dan penanggung jawab setiap kegiatan yang jelas;membentuk tim pemantau; serta melakukan kerjasama dengan pihak-pihak terkait dalam implementasi rencana aksi.

Romantisme Masa

Lalu Deddy T Tikson, dari Fisip Universitas Hasanuddin, mengatakan romantisme (hubungan sejarah dan budaya) masa lalu, hendaknya menjadi dasar optimisme masa depan kedua bangsa, khususnya masyarakat Sulawesi Selatan dan Afrika Selatan.

“Hubungan kedua bangsa perlu dibuat lebih produktif yang dirumuskan melalui forward looking policy, untuk mencapai kesejahteraan,” tandasnya.

Menurut dia, perlu kerjasama masyarakat Afsel dan Sulsel untuk perumusan kebijakan hubungan masa depan yang produktif dan penguatan komitmen dalam berbagai bidang. Kerjasama dapat diwujudkan dalam bidang ekonomi (terutama perdagangan), sosial-budaya, pendidikan, dan Ipteks.

Deddy Tikson juga menyebut bidang-bidang khusus, antara lain pembuatan sekretariat bersama untuk mendukung realisasi dan penguatan kerja sama; pengembangan data-base bersama untuk potensi dan produksi; pengembangan pusat informasi bersama tentang perdagangan, ilmu pengetahuan, budaya dan seni; serta pengembangan organisasi bersama: pemerintah, bisnis dan civil society untuk memajukan kesejahteraan umum kedua bangsa. (asnawin)

Tiga Purek Baru di UNM

Tiga Purek Baru di UNM

Setiap pemimpin memiliki visi dan misi tersendiri dalam menjalankan amanah yang diembannya. Setiap pemimpin pasti punya pengetahuan dan wawasan tentang tugas dan tanggung jawabnya. Setiap pemimpin juga biasanya punya gaya tersendiri dalam memimpin, serta dalam memilih pembantu-pembantunya.

Maka ketika Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM) Prof Dr Arismunandar hanya mempertahankan salah seorang dari empat mantan Pembantu Rektor (Purek) dalam kabinet rector sebelumnya, Prof Dr HM Idris Arief MS, itulah keputusan yang terbaik menurut visi dan misinya, menurut pengetahuan dan wawasannya, serta menurut daya dan seleranya.

Arismunandar yang sebelumnya menjabat Purek II, memilih kembali rekannya, Prof Dr Hamsu Abdul Gani dari Fakultas Teknik,sebagai Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan.

Jabatan Purek I Bidang Akademik, dipercayakan kepada Prof Sofyan Salam MA PhD yang sebelumnya menjabat Direktur Program Pascasarjana (PPs) UNM, sedangkan Purek II Bidang Administrasi Umum dan Keuangan dipercayakan kepada Prof Dr AM Iksan, yang sebelumnya menjabat Pembantu Dekan II Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) UNM.
Sementara jabatan Purek IV Bidang Hubungan Kerja Sama dipercayakan kepada DR Nurdin None MHum yang saat ini masih menjabat Kepala Sisdiksat UNM.

Dari keempat Purek tersebut, hanya Nurdin None dari Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) yang bukan anggota senat UNM.

Arismunandar mengatakan, keputusan tersebut merupakan amanah Senat UNM di mana penentuan pembantu rektor diserahkan kepada rektor terpilih.

“Mereka yang dipercaya sebagai pembantu rektor ini didasarkan atas kompetensi dan profesionalisme di masing-masing bidangnya," jelas guru besar ilmu manajemen pendidikan ini. (asnawin)

Alumni AMI “Laris Manis”

Alumni AMI “Laris Manis”

Permintaan tenaga kerja Ahli Madya Kemaritiman (A.Md.Mar) kini terus mengalir, sehingga alumni AMI Veteran Makassar dapat dikatakan “laris manis” bak kacang goreng.

“Hampir setiap minggu ada permintaan tenaga ahli madya kemaritiman. Mereka meminta kepada kami menginformasikan kalau masih ada alumni AMI Veteran Makassar yang belum bekerja atau sedang tidak bekerja,” papar Direktur AMI Veteran Makassar, Arifin H A Majid SE MT, kepada “Demos” di ruang kerjanya, belum lama ini.

AMI Veteran Makassar kini membuka tiga program studi, yakni program studi Ketatalaksanaan Pelayaran Niaga (KPN), program studi Nautika, serta program studi Teknika.

Alumni program studi Ketatalaksanaan Pelayaran Niaga (KPN) akan mendapatkan ijazah Ahli Madya Kemaritiman (A.Md), alumni program studi Nautika akan mendapatkan dua ijazah yakni Ahli Madya Nautika (A.Md)/Strata “A” dan Ahli Madya Tingkat III (ANT-III) berlaku internasional, sedangkan alumni program studi Teknika juga mendapatkan dua ijazah yakni Ahli Madya Teknika (A.Md)/Strata “A” dan Ahli Teknika Tingkat III (ATT-III) berlaku internasional.

Taruna yang telah mengikuti pendidikan akademi pada program studi KPN memiliki kemampuan atau ahli dalam bidang Ketatalaksanaan Pelayaran Niaga dan Administrasi Kepelabuhanan.

Lulusan program studi Nautika adalah calon Perwira Pelayaran Niaga yang memiliki keahlian dalam melaksanakan navigasi, penanganan muatan dan penataannya, serta mengendalikan operasi kapal dan personil di kapal pada tingkat operasional.

Sementara alumni program studi Teknika telah siap menjadi calon Perwira Pelayaran Niaga yang ahli melaksanakan tugas perwira jaga di kamar mesin yang meliputi pengendalian pengoperasian, perawatan, serta perbaikan mesin di kapal pada tingkat operasional.

“Jadi kami memang mencetak ahli yang sudah siap kerja, karena mereka telah melalui proses belajar teori dan praktek selama kurang lebih tiga tahun, serta lulus ujian negara,” urai Arifin. (asnawin)